Jumat, 12 Juli 2024

Safar dan Silaturahmi

Kamis menjelang sore saya, Nova dan ustadz Efri sengaja berkunjung ke Masjid Abu Darda. Penasaran saja selama ini dengan mesjid yang iconik dan sering dibicarakan orang. Selama ini kami belum pernah mampir meskipun sering berkunjung ke kota Pekanbaru. Sebelum sampai ke tujuan kami mampir sejenak ke rumah Efri, mengambil sesuatu yang tertinggal.


Dalam perjalanan menuju ke Abu Darda dapat kabar untuk berkunjung ke UIN Sultan Syarif Kasim di Panam. Ajakan mampir ini oleh Edi Erwan sahabat lama saya. Jadilah kami ke sana terlebih dahulu disebabkan waktu dinasnya yang mulai mepet.


Sebuah perjalanan persahabatan yang dulu terbina di antara saya dan Bung Eron ini. Sama sama "Budak Melayu" yang kuliah di Unand beda fakultas, meskipun satu angkatan. Sama sama berproses di HMI. Sama sama pernah mendapat amanah sebagai ketua umum komisariat pada era yang sama saat itu. Sama sama juga mengikuti Up Grading Kepemimpinan di HMI Cabang Padang. Sama sama wisuda juga di bulan Maret 1997. 


Setelah wisuda dan menjadi alumni, kami tak pernah bertemu lagi. Hanya berkabar di medsos dan chat WA saja.


Dalam pertemuan yang singkat kemarin, kami baru bercerita perjalanan hidup masing-masing. Saya yang ditemani oleh adik sepupu ini, beberapa waktu lalu wisuda magisternya di UIN Suska dan kenal nama saja dengan Prof. Edi Erwan. Allah takdirkan kami bertemu dan bisa ngobrol santai.


Oh ya Efri ini adalah seorang ustadz lulusan S1 nya di Islamic University of Madinah dan saat ini mengajar Ma'had Tahfiz Abu Darda. Tetapi orang umum, lebih banyak mengenal Masjid Abu Darda, yang memang berdampingan langsung dengan Ma'had nya. Masjid yang selalu viral di setiap bulan Ramadhannya. Masjid yang dibangun utuh oleh satu orang saja, dan setiap harinya selama bulan Ramadhan selalu menyediakan "pabukoan" antara 1 000-1.500 paket. Plus dimalam itikaf, sahur dan berbuka puasa.


Masjid yang tidak menerima sumbangan dari para jamaah dan donatur manapun. Pemiliknya adalah pak Dasrul, pemilik PT Wahana. Orang yang humble, yang hasil usahanya juga digunakan untuk dakwah. Kabarnya saat ini juga sedang membangun masjid lainnya setara di Masjid Abu Darda ini di pinggiran kota Pekanbaru.

Jadi kami ke UIN ini adalah bonus. Bonus bagi siapa saja yang mau menjalin silaturahmi. Alhamdulillah Edi Erwan, Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan ini ada keluangan waktu dan atas izin Allah kami bisa bersilaturahmi kembali. Rasanya kami sudah tidak pernah bertemu hampir  27 tahun lamanya. Namun suasana pertemuan kemarin tak mengurangi kehangatan kami seperti dulu.


Perjalanan hidup beliau mungkin bisa menjadi pelajaran bagi adik-adik alumni Unand ataupun alumni dari mana saja, yang baru tamat. Izin saya sampaikan secara ringkas sebagai berikut.


Sejak tamat beliau bekerja sebentar di koperasi Pertamina di Dumai, sempat juga mengikuti WAMIL juga di Dumai. Lolos tes hingga akhir, tetapi kalah bersaing akibat titipan ORDAL waktu itu.


Tak puas di Dumai, beliau back to Padang. Ada kabar buka lowongan dosen waktu itu di Unand dan Jambi. Dengan segala pertimbangan, termasuk bukan "urang awak" dia memilih untuk menjadi dosen di Jambi. 


Alhamdulillah diterima di sana dengan ijazah S1 nya. Tujuh tahun mengajar dan istri beliau tetap bekerja di Telkom Padang, dan akhirnya baru bisa pindah ke UIN Suska tahun 2007. Di UIN diamanahi sebagai sekretaris Jurusan, hanya sekitar empat bulan dia langsung dapat kesempatan studi S2 ke Malaysia. Tamat 2010 langsung lanjut lagi S3 nya di Jepang. 


Mungkin karena terasah sebagai seorang aktivis dan juga seorang pembelajar ketika mahasiswa, karirnya menanjak selepas pulang dari Jepang. Menjadi Dekan Fakultas Peternakan dan menyandang gelar Profesor dalam usia relatif muda di UIN Suska dan sekarang menjadi Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan.


Sebuah perjalanan bertemu dengan seorang sahabat yang tetap humble sedari dulu. Senyumannya khas, tak ada kesan kesombongan dari apa yang telah beliau nikmati dan raih saat ini.


Anak-anak beliau empat orang, lelaki semuanya. Dua orang kuliah di Universitas Brawijaya Malang dan dua orang masih di sekolah lanjutan di kota Pekanbaru. Sejak beliau di UIN Suska, istri beliau fokus mengurus keluarga. Sebuah keluarga yang harmonis, insyaallah.



Selesai silaturahmi kami pun berpisah. Sholat ashar kami dahulu di lantai dasar gedung rektorat ini, sebelum ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke mesjid Abu Darda sesuai niat semula.




Di kawasan abu Darda saya dan Nova bisa merasakan aura yang berbeda dari suatu keseriusan dalam mengelola institusi pendidikan secara swasta yang berkelas dan berkelanjutan. Sejak dari TK hingga SMA dan Ma'had Tahfiz Alquran. Suatu kawasan yang membutuhkan lahan yang luas dan sebuah mesjid yang sangat besar dan megah, terintegrasi. Dan itu dapat kami temui di kawasan terpadu Abu Darda ini. Oh ya,  perumahan untuk pengurus yayasan, ustadz juga disediakan jika ada yang berminat menempati.


Demikian sekedar catatan lagi ini atas safari ke Bumi Melayu kemarin, menjelang sore dalam waktu yang sangat singkat dan namun berkesan.


Hidup akan terus mengalir, semoga mengalirnya selalu ke tempat tempat kebaikan dan tempat tempat terbaik. Tempat terbaik di muka bumi ini adalah rumah Allah dan rumah tangga 


Demikian, semoga bermanfaat.


Kapau, 6 Juli 2024

22.20 WIB

Sabtu, 06 Juli 2024

Hamparan Permadani Alam

Menjelang jam 7 pagi tadi sengaja keluar rumah untuk kembali olahraga jalan kaki, untuk ketiga kalinya selama sampai di Kapau sejak Minggu malam. Dua hari pertama, Senin dan Selasa kami jalan kaki berdua bersama Bundo. Namun pagi tadi saya jalan sendiri. Rabu Kamis hingga Jum'at rehat jalan kaki, karena ada aktivitas lainnya.


Setelah sampai tadi malam dari Pekanbaru, jam 00.30 dini hari, tidur dan tetap subuh di Surau, Alhamdulillah kondisi tubuh tetap prima, seperti tidak ada capeknya. Makanya pagi ini saya usahakan kembali berolahraga.


Keluar dari rumah, cuaca hangat. Beda dengan hari hari sebelumnya yang berkabut dan dingin tentunya. Pagi cerah, Singgalang dan Marapi kelihatan jelas dari kejauhan. Tak ada kabut atau awan yang menutupi mereka.


Baru saja melangkah keluar dari rumah, saya "kodak-lah" hamparan sawah yang ada di sekitaran rumah. Kodak rancak tentunya. Alhamdulillah empat gambar pertama yang saya posting di awal melangkah, ternyata mendapat respon yang luar biasa dari para sahabat FB saya. Bagaikan lukisan alam. Saya pun takjub sebenarnya.


Setelah memosting, langkah kaki saya teruskan ke jorong Baringin Koto Tangah. Memilih rute berbeda dari dua rute sebelumnya juga berbeda. 

Memasuki gapura Jorong Baringin, sebelah kanan jalan kita akan diperlihatkan rambu rambu yang bertuliskan Asmaul Husna sepanjang jalan. Sebuah rambu yang langka yang mungkin tidak kita temui di jalan pedesaan seperti ini. Jorong yang luar biasa. Semuanya jelas terbaca. Bertuliskan Allah Yang Maha Esa di atas setiap nama-nama Allah yang ada di sepanjang jalan itu. Saya akui ini keren. Wali Jorong dan masyarakat nya hebat hebat. Mengingatkan 99 nama nama Allah bagi setiap yang melewati.


Beberapa view rumah gadang, mushola dan bentangan sawah yang luas sepanjang mata memandang. Apalagi ketika keluar dari jorong Baringin, belok ke kiri menuju Jorong Tambuo Nagari Koto Tangah. 



Di sebelah kiri kita, hamparan permadani yang Allah titipkan di nagari ini menghadap ke dua gunung yang tegak menjulang. Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang sangat kokoh berdiri. Begitu juga di sebelah kanan, hamparan yang sama jelas kelihatan. Batasnya bukit barisan yang berjejeran. Hijaunya menyegarkan dan udaranya segar tak terkirakan. Oksigen bebas yang tak berbayar, bebas dihirup memenuhi rongga paru paru kita. Udara nya bersih.



Hamparan permadani yang berwarna hijau dan kuning, yang menjadi sumber ekonomi bagi para petani. Negeri ini memang menjadi salah satu  lumbung pangan bagi Sumatra Barat ataupun propinsi tetangga. Dengan nama berasnya Kuruik Kusuik, Sokan dan Anak Daro menjadi beras primadona bagi rumah makan yang ada di ranah Minang atau pun yang ada di perantauan. Beras premium dengan harga nya juga di atas rata-rata.


Kembali ke laptop, hamparan sawah yang kuning dan hijau ini, berbatasan gunung dan bukit yang juga hijau serta beratapkan langit yang biru, seakan-akan mata ini tak puas memandang anugerah yang Allah titipkan kepada Nagari Koto Tangah dan Kapau ini.

Masya Allah, nikmat mana lagi yang kau dustai.


Di ujung jalan, di perempatan, langkah saya arahkan ke kiri menuju Pakan Kamih. Sepanjang jalan rada banyak kendaraan. Motor dan mobil agak berpacu di sini, membuat saya harus berhati-hati dalam melangkah. Waktu telah menunjukan jam 7.50. Hampir satu jalan saya berjalan dan teringat pesan yang dijanjikan Nova bahwa jam 8-an usahakan sudah sampai di rumah karena ada hal lainnya yang akan kami kerjakan. Marandang.


Langkah kaki makin saya cepatkan. Di pertigaan Simpang Gobah, belok ke kiri menuju Dangau Baru. Di sini pun sama. Sawah kiri dan kanan jalan terhampar. Beda dengan jalan di Pakan Kamih tadi yang banyak berisikan rumah dan "kadai" di sepanjang jalannya. Di sini puas memandang alam yang terbentang sepanjang jalan menuju rumah di perbatasan antara Nagari Koto Tangah dan nagari Kapau.


Allah telah titipkan negeri yang subur ini untuk kita nikmati. Untuk dikelola dengan sebaik mungkin. Padinya menjadi, ladangnya pun ada di sana sini. Ternak pun bisa berkembang dengan baik sekali. Nikmat Allah SWT ini harus disyukuri. Bukan untuk dikufuri.


Jam 8.30 sampai di rumah. Satu setengah jam berjalan dengan jarak tempuh diperkirakan sekitar 7-8 km.


Kapau, 6 Juli 2024

18.06 WIB

Kamis, 04 Juli 2024

Galuang Sungai Pua

Sore kemarin jam setengah empat saya dan Bundo naik motor menuju jorong Galuang nagari Sungai Pua. Bermotoran berdua menikmati suasana sore yang telah lepas dari terik nya mentari. Di beberapa spot masih terasa hangat tetapi menjelang jalur mendaki ke Sungai Pua terasa sejuk. Mungkin angin yang berembus dari Gunung yang berkabut di sebagian puncaknya mengantarkan kesejukan bagi bagi.


Galuang adalah jorong yang termasuk parah ketika terjadinya Banjir Lahar Dingin pada bulan Mei lalu. Banjir yang hanya sekitar 15 menit di Galuang meluluhlantakkan segala jalur yang dilalui. Di Galuang sembilan orang yang meninggal. Ada banyak rumah, masjid dan sekolah diterjang air dan menyisakan lumpur di dalamnya. Ada rumah yang roboh dan hanyut. Lima belas menit menyisakan nestapa yang mendalam di pertengahan bulan Mei lalu.


Dan ketika adzan ashar terdengar kami sudah sampai di Masjid Jami' Galuang. Masjid yang tak terlalu besar, tetapi sangat kokoh berdiri. Masjid yang bersih dan interior nya sangat luar biasa indahnya. Allah SWT menjaga rumahnya ini saat kejadian banjir lahar dingin ini terjadi. Begitulah kuasa Allah. Air masuk, ada kaca jendela yang pecah dan ada satu pintu yang jebol. Tetapi ketika kami sholat ashar di sini, boleh dikatakan tak ada tanda bahwa ada banjir terjadi di sini. Semuanya sudah bersih kembali. Jamaah nya pun terisi satu saf dibagian depan. 


Tetapi ketika melihat dibagian luar, di sisi kiri mesjid, masih tampak sisa bangunan yang telah hanyut ataupun rubuh sebagian. Ada tukang yang lagi bekerja selepas sholat ashar. 


Di seberang mesjid ada tiga rumah berjejer. Rumah lama, rumah yang baru selesai dibangun dan rumah yang sedang dibangun. Rumah lama milik ortu Meri Susanti , rumahnya Meri dan Iwan Mulyawan dan satu lagi rumahnya saudari Meri. Meri adik kami di Kimia Unand angkatan 97 dan suaminya Iwan kimia 95, yang juga satu angkatan dengan Nova di SMA 1 Bukittinggi.


Ketiga rumah ini dihantam banjir lahar dingin. Air masuk setinggi satu meter dan lumpur yang tersisa pasca kejadian sekitar 30cm. Mobil Terios dan motor milik keluarga Meri ini sampai terjun ke jurang yang ada di belakang rumah. 


Mendengar kisah langsung dari orang yang mengalami sangat berbeda rasanya dengan apa yang kita baca dan video yang kita tonton. Penuturan dan Mak Cin, mama dan papa serta adiknya Meri, membuat saya merinding. Banyak hal yang susah untuk dituliskan.


Tetapi atas setiap kejadian tentu menjadi bagan instrospeksi bagi kita bersama. Fenomena alam yang terjadi sejak November tahun lalu, erupsi gunung Marapi yang hampir tiap hari dan banjir lahar dingin menjadi bukti bahwa Allah SWT adalah pemilik kuasa atas segalanya. Yang tersisa masih Allah sayangi, Allah beri kesempatan untuk hidup dan menjadi hikmah di kemudahan hari.


Kerjasama segala pihak dalam pemulihan keadaan pasca kejadian sangat membantu bagi para korban menata kembali kehidupan nya masing masing. Dan Alhamdulillah hingga saat ini Gunung Marapi sudah kembali tenang. Boleh dikatakan erupsi sudah tak tampak lagi, meskipun "Batuk-nya Marapi" sesekali terdengar. Anggap saja sebagai pengingat bagi kita semuanya.


Dan di rumah Meri, kami mengantarkan sedikit amanat alumni ketika Reuni Akbar Alumni FIPIA pada tanggal 19 Mei lalu. Amanat yang harus disampaikan, meskipun tak banyak, tetapi anggaplah ada keterikatan bahwa kita satu almamater. Menjaga ukhuwah Islamiyyah. Amanat yang ditekankan oleh adinda Humahera Daniel, yang telah kami tunaikan.


Alhamdulillah. Semoga ada hikmah. Semoga ada berkah.


Kapau, 4 Juli 2024

Minggu, 30 Juni 2024

Satu Tiket Dua Armada (part 7)


Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Menikmati dua armada dalam sekali perjalanan dari Jakarta ke ranah Minang dengan kelas premiumnya PO Al Hijrah.

Di terminal Bareh Solok kami transit. Berpindah dari Suite Family atau sleeper bus ke Royal Platinum nya Al Hijrah. Alhamdulillah dapat lagi bus tronton nya. Sesuai permintaan adinda Endry Masril di status wall Facebook saya sebelumnya. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Sekali beli tiket, dua armada terbaru dari PO Al Hijrah ternikmati. Warbiyasa. Saya sangat bersyukur.


Dan bagi Bundo ini menjadi komparasi yang menguntungkan. Kami sudah punya pengalaman dengan yang sleeper maupun royal class. Bundo senang, tentunya saya juga senang. Alhamdulillah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami berdua.

Sayang melewati danau Singkarak malam hari tak banyak yang bisa dinikmati. Rumah Makan Pongek Sasau yang kami lewati, diingatkan Bundo. Begitu berkesannya kami waktu itu, mampir di bulan Ramadhan. Rehat, tiduran, sahur dan subuh berjamaah di sini. 

Singkarak malam hari begitu syahdunya. Banyak juga kulineran dan pasar Ombilin masih saja rame. Memang kalo untuk refreshing keluarga tempat ini sangat mengasyikkan. Makanan enak semuanya. Banyak pilihan. Moga lain waktu kami sekeluarga bisa melipir lagi ke sini.

Pitalah. Ada satu penumpang yang turun di sini. Dari Pitalah ini lah saya  direkomendasikan dan diajak makan siang oleh kanda Sisfa Yonaldi. Beliau orang pitalah asli. Saya bersyukur bisa berkenalan juga dengan kakak-kakak beliau saat berkunjung Desember tahun lalu. Wow. Banyak yang dikenang. Mengenal dan mengenang kebaikan beliau.


Di Padang Panjang Al Hijrah Ombak Sunua ini nyolar dulu. Kebetulan dapat yang tak panjang antriannya. Solar masih saja susah selama perjalanan di lintas Sumatra. Supir bus harus pintar mencari SPBU yang kosong buat "minum" busnya sekalian menghemat waktunya. Apalagi esok pagi bus ini akan berangkat lagi menuju Rantau.

Sebentar di sini langsung menuju Panyalaian. Ada janji saya dengan Liza di sini. Ada produk kuliner nya yang saya pesan sebelumnya. Sebuah kolaborasi sesama alumni FMIPA Unand yang telah terjalin selama ini. 

Liza juga menjadi customer Dapur Bundo Nova. Dia sering berpesan gulai tambunsu ataupun tambunsu goreng lado hijau buat adik laki-laki nya di daerah Kebayoran. Alhamdulillah, bus berhenti sejenak, mengambil pesanan kami yang sudah disiapkan oleh Liza.

Dan bus selanjutnya menuju kota Bukittinggi. Mungkin tidak akan berhenti karena penumpang yang tertinggal hanya kami saja. Kami akan turun nantinya di Simpang Tanjung Alam dan bus akan lanjut ke Kota Batiah, Payakumbuh. Rehat semalam disana untuk kembali ke Jabodetabek esok pagi.

Sebuah trip yang menyenangkan. Menjalin silaturahmi dengan banyak orang. Berkenalan dengan orang kepercayaan almarhum Pak Nasrul Chas, sahabat perjalanan sejak dari Jakarta bersama Al Hijrah Suite Family. Almarhum pak Nasrul ini adalah kakak kandung dari Uda Ardi Chas. Beliau dan istri serta anak semata wayangnya turun di terminal Bungo propinsi Jambi. Sebuah trip sarat makna bagi kami berdua.

Dan sebentar lagi kami akan sampai di tujuan. Begitu juga dengan tulisan ini akan saya akhiri. Tujuh segmen bersama Al Hijrah. Luar biasa.

Jam 10 malam kami sampai di simpang tanjung alam. Bagasi dibantu turunkan oleh crew Al Hijrah yang ramah. Dan sebelum sampai dirumah, sejenak saya menikmati segelas teh telur pinang dan Bundo menikmati Sate Danguang-Danguang seporsi dimakan ditempat dan seporsi buat Ama di rumah. Alhamdulillah, segala syukur hanya milik Allah SWT semata. Semoga dengan kesyukuran kami ini, nikmat ini Allah tambah. Kami yakin itu. Dan terakhir semoga kelak undian umroh tiga orang dari PO Al Hijrah ini, kami salah satu pemenangnya. Aamiin ya Rabb 'alamin.

Wassalam 

Bukittinggi 30/06/2024
23.25 WIB

Menuju Terminal Bareh Solok (part 6)

Selesai sholat dan makan di RM Umega, Al Hijrah yang kami tumpangi kembali melaju di Lintasan Pacu Lintas Tengah Sumatra. Dua Transport Express sudah bergerak lebih dahulu, kami bus terakhir yang meninggalkan rumah makan ini. Sebelumnya sudah berjalan lebih dahulu dua buah NPM dan satu Miyor Dream Class.


Terlihat juga empat MPM menuju terminal Bareh Solok yang rehat nya berbeda dengan kami. Mereka punya rumah makan sendiri, RM Mulia Putri Minang.

Tak banyak yang bisa saya ambil gambar ataupun video selama dalam perjalanan ini. Karena posisi saya di tengah, ada Bundo di sebelah kanan. Dan di bagian depan penuh dengan penumpang dan crew Al Hijrah. Para "ahli isap" bergantian menikmati ruang sempit itu untuk memuaskan candunya. Saya merasa kurang sreg duduk disana walau sebentar saja untuk mengambil gambar dan video. Sayang dengan paru-paru saya tentunya. Biarlah cerita ini mengalir tanpa gambar selama dalam perjalanan.


Dream Class kami lewati ketika bus ini berhenti di check point nya di Muaro Kalaban. Sedangkan kami pacu bapacu dengan NPM dan MPM. ALS terlewati. Transport tak tampak lagi.


Di Silungkang kami mendapatkan video kiriman dari Bang Ipe Rasoki. Beliau sempat memvideokan ketika MPM take over NPM yang diikuti Al Hijrah yang kami tumpangi di belakangnya. Bang Ipe ini ternyata memantau perjalanan saya bersama Al Hijrah ini melalui FB saya. Dan akhirnya kami saling berkirim no WA. Alhamdulillah, batambah dunsanak di lintas Sumatra ini. Beliau seorang content creator juga. Selain pemilik toko di lintas pacu Silungkang ini.


Dan akhirnya sampai juga kami di Terminal Bareh Solok jam 18.10, sesuai dengan google map yang saya pantau sebelumnya. Di terminal ini kami akhirnya transit. 


Al Hijrah Royal Platinum yang bergelar "Ombak Sunua" sudah menanti kedatangan kami. Segera saya menghubungi kedua crew bis untuk memastikan kepindahan. Alhamdulillah saya masih dapat kesempatan memberikan yang terbaik buat Bundo. Ombak Sunua ternyata kosong menuju Payakumbuh dan akhirnya seat depan kembali kami dapatkan.


Saya pastikan seat ini, kemudian saya bergerak cepat untuk mengambil satu koper dan dua karton lainnya untuk dipindahkan. Alhamdulillah semuanya dibantu oleh crew Al Hijrah yang sangat ramah 


Setelah semuanya selesai, Bundo mengajak minum "aia aka" yang ada di dekat bus kami. Dua gelas kami nikmati dan masih sempat juga saya ke toilet. Setelah selesai minum dan membayarnya kami kembali ke bus. Dan izin sejenak kepada crew bus Ombak Sunua untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib dan Isya.

Ternyata dalam perjalanan menuju mushola kami bertemu dengan Kadir, sahabat saya yang sudah lama sekali tak bertemu. Beliau di TBS ini rehat sejenak hendak menuju Bandung bersama ANS yang terparkir dekat mushola yang kami tuju. Kami bertemu sejenak untuk berpisah lagi. Alhamdulillah masih sempat ber-kodak color sebelum berpisah dengan tujuan yang berbeda.


Setelah sholat kami segera ke bus yang sudah siap untuk berangkat menuju Bukittinggi dan Payakumbuh. Hanya empat orang penumpang. Tiga pindahan, satu "pribumi".


Pinggiran Danau Singkarak 

30/06/2024 19.32

Rehat II RM Umega

Jam 13.40 bus sampai di rumah makan Umega. Saya dibangunkan oleh tetangga untuk segera turun, rehat makan. Entah mengapa saya dan Bundo bisa terlelap menjelang rehat kedua ini.


Saya segera turun duluan, Bundo menyusul. Maklum agak beberes dulu dan agak bersabar karena sebagian penumpang turun dibagian depan. Kami langsung menuju kamar mandi dan sholat jama' qashar.


Palala, Transport Express dan Al Hijrah yang bergelar Pantai Sunua sudah duluan sampai. Sambil menunggu Bundo selesai sholat saya mengambil gambar di beberapa spot di bagian sekitaran mushola Umega ini. 



Bagi yang punya kenangan dengan era 80-90 trip Sumbar Jakarta, pasti bagian belakang tempat wudhu dan kamar mandi jadul ini adalah tempat rutin yang digunakan. Biasanya dulu sampai di sini malam hari dari Padang atau Bukittinggi. Sangat jarang yang sampai di sini sore hari. Begitu juga bila dari Jakarta. Beda dengan sekarang.


Meskipun sudah ada kamar mandi dan tempat wudhu yang baru serta ada mesjid di bagian belakang, area lama ini masih tetap dijaga dan digunakan. Entah mengapa pihak RM Umega tidak mau merenovasi total. Padahal jika diperbaiki dan dikembangkan dengan baik, mushola dan tempat wudhu pria dan wanita tentu bisa dipisahkan. Musholla bisa dibuat lebih besar, bergranit dan berkarpet bagus serta ber-AC. Bagian kiri dan kanan bisa dijadikan tempat wudhu pria dan wanita, terpisah. Tentu ini menjadi keren sekali. Akan memanjakan para jamaah dan customer Umega yang tak pernah berkurang sedari dulu. Tidak akan pernah rugi berinvestasi untuk akhirat. Benarkan?


Bundo selesai sholat kami berdua menuju rumah makan. Bundo dengan pilihan soto tanpa nasi, saya memilih Babek dan satu telor gulai. Minum dengan teh tawar dan teh manis hangat. Bundo ternyata membawa nasi bungkus daun yang masih awet, palai bada dan dendeng lambok. Saya lupa dengan lauk yang dibawa Bundo ini. Seharusnya saya tidak mengambil Babek, cukup dengan satu telor gulai saja. Tapi apa boleh buat. Total yang kami makan disini Rp. 72.000,-.


Oh ya sepanjang jalan dari Tempino beberapa bagian jalan ada yang berlubang dan ada yang dalam perbaikan. Di jalan yang berlubang supir Al Hijrah hati hati banget memilih jalannya. Jalan ini sepanjang Bajubang hingga Tebo. 


Begitu juga di lintas tengah Sumatra, ada dua titik perbaikan jalan yang membuat sistem buka tutup. Selama antrian ini ada banyak pedagang yang naik, menjajakan dagangannya. Saya dan Bundo menikmati apa yang mereka jual, antara lain onde-onde, kacang tojin dan pergedel jagung. Lumayan buat ngisi lambung.


Sekian dulu trip report part 5 ini.


30/06/2024 15.23

Rehat I di RM Simpang Raya

Setelah tulisan part 3 tadi malam, sekitar jam 8 malam otomatis sepanjang perjalanan di tol Trans Sumatera saya rehat. Suasana di dalam mobil relatif hening. Hanya musik yang terdengar menemani supir dan crew Al Hijrah yang mengendarai bus dengan stabilnya. Sesekali terasa ada goncangan karena jalan yang berlubang.

Sempat terbangun tengah malam untuk urusan ke kamar mandi. Selebihnya tidur lagi. Menjelang jam setengah empat pagi terbangun lagi. Mulai utak Atik HP lagi untuk melihat perkiraan sampai jam berapa nantinya di RM Simpang Raya. Dering alarm di HP dua kali saya matikan.

Jam 4.40 bus memasuki area rumah makan. Rehat pertama di RM Simpang Raya ini. Biasanya ini selalu menjadi rehat kedua bagi armada bus Sumbar baik dari ranah ataupun dari rantau. Sekali ini menjadi yang pertama kalinya. 


Turun dari bus kami langsung menuju kamar mandi. Bagi saya ini adalah timing yang pas. Rutinitas saya menjelang subuh pas banget. Salah satu tanda sehat itu adalah BAB rutin setelah bangun dari tidur dan bagi saya pribadi itu selalu menjelang subuh. Segala ampas di lambung, yang mungkin juga sumber penyakit, dikeluarkan rutin pagi itu sebelum diisi lagi. Pembaca pahamkan? Semoga paham, saya doakan. 

Selesai BAB saya langsung menuju mushola yang ada di sisi kiri rumah makan. Musholanya kecil. Adzan subuh sudah berkumandang dari mesjid yang ada di sekitaran rumah makan ini. Selesai berwudhu saya langsung mengikuti sholat bersama jamaah lainnya yang lebih dahulu. 

Sedikit masukan bagi pemilik RM Simpang Raya ataupun pemilik rumah makan lainnya sepanjang lintas Sumatra. Rumah makan adalah unit usaha anda, investasi dunia bagi anda, tetapi tempat sholat, masjid ataupun mushola yang anda bangun dalam memfasilitasi customer anda beribadah adalah investasi akhirat bagi anda. Mohon kiranya fasilitas ini diperhatikan dengan baik. Jika kebersihan dan kenyamanan didapatkan para penumpang ketika beribadah di sana, insyaallah rezeki anda akan bertambah dan lebih berkah. Begitu juga seharusnya PO bus yang bekerjasama dengan pemilik rumah makan, seharusnya bisa menekan pemilik rumah makan agar memfasilitasi tempat ibadah yang layak, bersih dan aman. Karena secara ekonomis keuntungan yang didapat pemilik rumah makan ini sangatlah besar. Semoga hal ini menjadi perhatian bersama. 

Selesai sholat saya dan Bundo makan sate Padang. Sate ayam dengan kuahnya yang tidak begitu panas. Kuahnya enak, sayang dingin. Ditambah dengan satu kerupuk kulit dan satu keripik singkong balado, total yang kami bayar seharga Rp. 26.000 rupiah. Sate saja Rp. 20.000.

Dan di warung kecil yang ada di dekat rumah makan saya membeli sepasang sandal swalow seharga Rp. 15.000 dan air mineral 1.5 liter Rp 8.000. Total pengeluaran saya di rehat pertama ini Rp. 49.000, plus uang kecil di kamar mandi. Dan Bundo jajan juga tetapi saya tidak tahu berapa uang yang dia keluarkan. Dia jajan dengan makanan khas masa kecilnya dulu. Jajan yang suka dibelikan almarhum papanya. 

Dan entah kenapa pula pagi ini air di dispenser Al Hijrah kosong. Semoga nanti terisi lagi ya crew Al Hijrah, karena ini adalah fasilitas musti ada. 

Musik lembut mengiringi tulisan yang akan saya akhiri ini. Pagi telah menyapa, meskipun embun yang menempel di sisi luar bis masih saja menempel.

Al Hijrah lari pagi bersama NPM dan MPM 
30/06/2024 06.23 WIB

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...