Kamis, 30 Oktober 2025

DPP IKA FMIPA: Sosialisasi dan Konsolidasi

Alhamdulillah tadi malam sesuai undangan yang disampaikan bisa hadir lebih awal di Basuo Cafe and Space miliknya da Nuh dan ni Rika Anggraini Zein. Lepas jam kantor saya langsung bablas ke sana, dalam gerimis hujan di beberapa spot tol Bintaro Cibubur. Insyaallah hujan yang penuh keberkahan. Dalam hujan dianjurkan untuk berdoa. Disunnahkan untuk berdoa. 


Hampir satu jam perjalanan, saya sampai di sana. Gerimis masih turun halus. Saya disambut 'crew' yang ada di sana, yang mungkin di antara mereka sudah hapal dengan wajah saya. Sejenak saya ke kamar mandi dan keluar dari sana saya diantar ke ruangan kaca tempat kami akan berkumpul. Dipayungi. MasyaAllah. 


Menunggu yang lain datang, saya pesan secangkir kopi tanpa gula. Menikmati kesendirian di sudut kota Jakarta, dalam keheningan menjelang malam, sesekali diperlukan. Berkontemplasi. Mengingat betapa waktu memang cepat berlalu. Minggu lalu dimana, sekarang dimana, dan esok mau ke mana. Adakah kebaikan dan kebermanfaatan dalam setiap waktu yang Allah SWT berikan kepada kita? Sebuah pertanyaan yang perlu renungan yang mendalam.


Belum habis setengah cangkir menikmati kopi, adzan Maghrib berkumandang. Mengingatkan diri waktu malam sudah datang. Hak Allah wajib ditunaikan. 


Da Nuh pun datang. Kemudian disusul oleh Donal SSi. Bertiga kami ngobrol ringan sambil menikmati minuman yang telah dipesan sebelumya. Tak lama berselang tim formatur yang sengaja datang dari Padang turun dari mobil. Bertiga mereka. Da Niswan, Sutan Rusman dan Edo. Disusul kemudian oleh Hery Yusamandra dan keluarganya dan Dedi Harliyansyah Harliyansyah dengan keluarganya juga. Masing-masing mereka dengan istri dan satu anak bungsunya. Da Jekvy Hendra, ketua DPP terpilih kami akhirnya datang bersama da Amrizal Nur Tanjung . Sebuah keterwakilan dari pengurus DPP IKA FMIPA Unand yang akan dibentuk bersama dengan pengurus IKA FMIPA Unand Jabodetabek. Sebuah koordinasi organisasi pusat dan wilayah. Suatu awalan yang baik tentunya.


Dan sudah menjadi kebiasaan di ranah Minang, barundiang sesudah makan. Alhamdulillah itu juga yang kami lakukan. Hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya, siap disantap bersama. Ada sapek kentang balado, gurame bakar, aneka aneka sayuran yang direbus dan sop dagingnya. Makan malam pilihan da Nuh, ala kampung tanpa santan ini, pas banget. Sabana lamak. Dan ini suatu bukti juga bahwa masakan Padang, ada juga tanpa santan. Walaupun tanpa santan, tetapi tetap enak dimakan. Tetap membuat lidah berdecak dan berucap, "Lamak Bana". 


Dan sesuai gurauan da Jekvy kepada da Nuh, sehabis makan selama "sharing session" antara sesama pengurus, tamu kami yang dari Padang, dilarang lapar. Harus full servis.


Dan ini dijawab oleh Da Nuh dengan adanya pisang sebagai cemilan segar. Ada lagi singkong crispy bertabur coklat dan martabak Kubang yang siap santap. Belum lagi kopi ataupun jus sesuai selera. 


Jadi selama diskusi antara sesama pengurus ini penuh dengan kehangatan. Ada langkah kerja yang akan dilakukan. Ada tahapan sosialisasi dan konsolidasi organisasi. Dan yang terpenting adalah adanya keinginan dari DPP IKA FMIPA yang baru ini untuk mendengar aspirasi dari bawah. 


Insyaallah setelah pertemuan tadi malam, akan dilanjutkan lagi dengan pertemuan DPP ini dengan alumni lainnya di hari Minggu, masih di Basuo Cafe and Space.


Mungkin ini sekedar catatan atas apa yang kami diskusikan tadi malam. Notulensi dicatat oleh "Sekjen" Edo, alumni Fisika angkatan 2006. Bagi saya tadi malam adalah pertemuan yang kedua kalinya bersama Edo, yang kebetulan juga duduknya pas di sebelah kiri saya. Edo termasuk salah satu mide formatur, yang juga menjadi pimpinan sidang saat Mubes Alumni FMIPA bulan lalu di Dekanat FMIPA Unand Padang. Notulensi Edo ini yang mungkin akan dishare juga di hari Minggu nanti, insyaallah.


Poris, Tangerang 


25 Oktober 2025

07.55 WIB



Minggu, 07 September 2025

Rizal Fahmi

Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rektor Universitas Andalas. Saya ragu yang mana orangnya, karena lama tak bertemu.


Dan ketika ada kesempatan bertemu, saya menyampaikan permintaan maaf. Permintaan maaf saya secara personal yang belum sempat saya laksanakan sejak Pak Rizal meninggal dunia. Padahal itu sudah lama sekali. Belum ada kesempatan.


Saya sampaikan permohonan maaf jika dulu saya sering berhadir di kontrakan mereka hingga tengah malam. Pak Rizal Fahmi adalah dosen pembimbing penelitian saya. Beliau pembimbing kedua, sementara pembimbing satunya adalah Prof. Yunazar Manjang. Tetapi dengan beliau saya sangat intens. Beliau lah langsung mewakili pak Yun yang memang super sibuk. Pak Yun waktu itu menjabat sebagai Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan. Semua urusan anak bimbingan penelitiannya hampir di-handle oleh pembimbing dua, yang memang orang kepercayaannya. Selain pak Rizal ada juga pak Adlis Santoni.


Pak Rizal ini lah yang totalitas membimbing saya, mengoreksi dan mengedit apa apa yang ada dalam draft skripsi saya secara sempurna. Bolak bolak kekediaman hingga tengah malam adalah hal yang lumrah. Juga ketika pulang dari laboratorium Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) sering kami lakukan sehabis Maghrib. Berjalan kaki adalah hal yang biasa karena bus kota sudah tak ada lagi. Bahkan kalo pun ada bus kota, sering kali beliau yang membayarkan ongkos kami. Umumnya mahasiswa tingkat akhir sangat dekat dengan beliau.


Yang penelitian dengan beliau umumnya dua katagori saja. Pertama Mahasiswa yang pengen penelitian dengan biaya murah, artinya relatif "pandai", pengen cepat tamat dengan mengharapkan adanya proyek penelitian, sehingga sebagian besar yang bahannya disediakan atau dibelikan dari proyek tersebut. Yang kedua adalah mahasiswa mahasiswa bermasalah. Bermasalah dengan masa study yang harus segera diakhiri. Harus segera jadi sarjana. Yang kedua inilah yang banyak beliau bantu. Dengan kesabaran dan kemurahan hati beliau. Jiwa kebapakannya sangat dirasakan, walau kadang mahasiswa sering memanggil beliau dengan sebutan Uda, atau da Rizal.


Kondisi beliau yang sebenarnya pas-pasan, dengan anak dua orang masih kecil, rumah masih ngontrak, kemana-mana naik bus kota, saya akhirnya merenungi. Bahwa saya tentu sangat menganggu "dapur" nya, yang otomatis ni Sur juga harus lebih sabar lagi dibandingkan pak Rizal ini dalam mengatur keuangan keluarga. Makanya ketika bertemu dengan ni Sur kemarin saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya tentu termasuk salah satu mahasiswa almarhum yang menggangu "dapurnya" Ni Sur.


Tetapi dari ni Sur juga saya tahu, bahwa almarhum wafat dalam kondisi sholat. Wafat di hari baik, hari yang mulia, Jum'at 12 Mei 2012. Saya mendapatkan kabar waktu itu banyak sekali yang ikut menshalatkan beliau di madjid kampus "Nurul Ilmi", mesjid Kampus Universitas Andalas, Limau Manih. 


Alhamdulillah, beliau ternyata telah menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali. Walau begitu beliau sempat "drop" ketika Al Hadid, anak laki-laki yang beliau sayangi wafat di waktu kecil. Tetapi dalam doa beliau ketika berhaji, setelah Hadid wafat, doa tersebut Allah kabulkan. Allah hadirkan sebagai ganti dengan anak ketiga mereka. Madina namanya putrinya ini. Nama yang beliau lekatkan karena doa yang beliau panjatkan ketika berada di Madinah.


Alhamdulillah, dua putri nya, Titan dan Dina, sudah menjadi dokter. Uni Sur pun sudah menjadi Guru Besar di Kimia Unand.


Saya yakin ini adalah keberkahan yang Allah tampakkan setelah beliau tiada. Kadang balasan kebaikan kita tak selalu Allah SWT tampakkan ketika kita masih hidup, tetapi Allah tunda setelah kita tiada, atau ganti di akhirat kelak. Sekecil apapun kebaikan, pasti Allah siapkan balasannya. Janji Allah adalah pasti.


Kesabaran beliau yang luar biasa. Kebaikan beliau terhadap mahasiswa nya tak berbatas. Ilmu yang beliau sampaikan penuh keberkahan. Beliau mengajarkan ilmu kimia berdasarkan nilai nilai keislaman, nilai-nilai kejujuran. Dan banyak lagi ilmu bersosial, bermasyarakat yang beliau praktekkan dalam keseharian. 


Beliau tidak hanya dekat dengan mahasiswa, tetapi beliau juga dengan masyarakat golongan menengah ke bawah. Beliau bisa akrab dengan supir dan stokar bus kota, dengan pedagang pasar dan pedagang asongan. Beliau salah satu dosen Kimia yang sangat low profile.


Semoga tulisan ini, yang saya tulis di atas pesawat dalam perjalanan ke Soekarno Hatta, di atas pulau Sumatera, menjadi sebuah testimoni saya pribadi terhadap almarhum dan keluarga beliau. Terimakasih ni Sur yang sudah memaafkan saya. Walau saya belum bertemu dengan Titan dan Dina, sampaikan juga maaf saya kepada buah hati almarhum. Saya yakin beliau bangga punya dua anaknya ini. Insyaallah mereka menjadi anak yang sholehah, yang senantiasa mendoakan Ayah nya.


Semoga tulisan ini ada

manfaatnya. Menjadi sebuah catatan amal sholeh bagi almarhum pak Rizal dan ada hikmah bagi kita semuanya, terutama anak bimbingan beliau selama ini.


7 September 2025

09.15 WIB

Pelita Air

Sabtu, 16 Agustus 2025

Sepedaan

Hari ini olahraga nya agak beda. Di awali dengan olahraga jalan kaki dari rumah lebih kurang satu jam, akhirnya dilanjutkan dengan sepedaan. Sesuatu yang di luar rencana.


Tadinya naik sepeda hanya sekedar mencari pangkas rambut yang buka. Dua tempat cukur yang didatangi ternyata masih tutup. Akhirnya baru sadar, waktu baru sekitar jam 7 an awal. Mau sarapan juga malas. 


Akhirnya dilanjutkan sepedaan saja. Tadinya mau yang dekat dekat saja, eh akhirnya bablas hingga ke Cipadu. Awalnya sih agak ngos-ngosan juga, maklum sudah lama banget nggak naik sepeda. Dulu mah masih bisa ikut fun bike. Dari rumah ke GBK dan ikut lomba di sana. Pulang pergi masih kuat. Berangkat pagi bada subuh, balik balik menjelang siang. Sekarang? Entahlah. Masa itu dah lama berlalu. Sepeda yang dulu pun entah kemana, nggak tahu siapa yang beruntung memiliki nya. Saya lupa kasih ke siapa.

Dan sekarang sepeda ini adalah sepeda yang saya beli tiga tahun yang lalu. Pemiliknya awalnya adalah bule di kantor, expatriat. Dia habis kontrak di BSJ, entah kenapa saya tertarik membelinya. Mustang S.I.S Raleigh mereknya. Asli buatan sono, UK, katanya. Bawaan aslinya, saya hanya menambah standar nya saja. Lama sepeda ini tergeletak, jarang saya pake. Ehh ternyata, kemarin anak gadis kami mengantarkan ke.bengkel. Ada bannya yang kempes dan sedikit servis di standarnya. Biayanya hanya 10.000,-.  Dua hari yang lalu.


Dan pagi ini, saya mau ke tukang cukur memilih sepeda ini ketimbang naik motor. Sekalian "test drive" saja maksudnya. Eh ternyata enak juga dibawa. Kang servis nya kemarin oke rupanya. Lumayan juga lah ini buat olahraga, dirutinkan lagi nampaknya bersepeda ini. Sekalian tetap olahraga jalan kaki tentunya.

Dan tadi sempat terlintas juga, kenapa nggak sekalian aja ya sepedaan hingga ke ranah Minang, ke kampung halaman. Caranya?

Pasti ada. 


Cipadu, 16 Agustus 2025.

08.28

Sambil seruput teh Talua Ajo Das.

Minggu, 02 Februari 2025

SilaturaHMI dengan Ajo Duta Mardin

Alhamdulillah siang menjelang sore tadi bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh di milis rantau net, di kediamannya di daerah Pinang Tangerang Kota.


Datang bersama Bundo Nova sehabis kondangan di daerah sekitar situ situ juga, dan beliau berkenan menerima kehadiran kami. Beliau adalah pak Dutamardin Umar, yang dulu biasa di sapa Ajo Duta di milis urang awak yang menjangkau banyak diaspora Minang di banyak negara, selain anggota terbanyak nya tentu dari Indonesia juga. Saya bergabung di milis tersebut sekitar tahun 2000-an dan sejak itulah saya mengenal nama beliau.


Dan sekarang ini kami juga satu komunitas, yakni di WAG Jalinsum Lovers, suatu komunitas pecinta Jalan Lintas Sumatra, yang dikunceni oleh pak Mulyadi Dt MB.


Dalam obrolan perdana kami dengan Ajo Duta ini juga ditemani oleh kanda Taufani Tasmin Sutan Saiyidi yang juga satu kompleks dan juga satu jama'ah masjid di Pinang Griya Permai. Obrolan ringan kami yang sarat dengan makna, berakhir menjelang adzan ashar berkumandang.


Ajo Duta ini dulunya kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan di Jakarta yang juga aktif di HMI cabang Jakarta pada zamannya. Tahun 1990 beliau hijrah ke USA dan menetap di sana hingga sekarang. Saat ini dalam rangka liburan musim dingin, Ajo Duta ke Indonesia.


Kami akhiri obrolan di rumah Ajo Duta dan kami sama sama menunaikan ibadah sholat ashar berjamaah di masjid Uswatun Hasanah. Setelah selesai sholat kami pun berpisah. Berpisah untuk bertemu kembali, insyaAllah.


Alhamdulillah bangga bisa bertemu dengan salah satu tokoh Minang yang lama di negeri paman Sam.


Parung Serab Ciledug 

Sabtu malam, 1 Februari 2025


Sabtu, 01 Februari 2025

Bakureh

Bakureh adakah salah satu tradisi gotong royong di daerah Solok, negeri yang termasuk dalam wilayah budaya Minangkabau dengan sistem kekerabatan matrilineal. Tetapi bisa juga diartikan Bakarajo Kareh alias kerja keras.


Setelah sampai Senin siang, 16 Desember 2024 di Kapau, di saat "urang sadang marandang" dengan penuh kejutan bagi Ama Asma Yati, ante Nelti Jamaah dan sanak famili lainnya, kami ditawarkan lagi untuk makan siang. Tawaran yang tak bisa ditolak tentunya, meskipun perut masih kenyang akibat makan lamak di RM Aroma Pagaruyung Batusangkar sebelumnya. Maklumlah "sambanyo lamak", karena hasil gotong royong para ahli Amak Amak di nagari Kapau ini.


Makan baselo yo sabana sero. Sambil makan tentu banyak juga obrolan yang menyenangkan, penuh kebahagiaan atas kedatangan kami ini. Apalagi Anda Yolanda melengkapinya dengan kedatangan yang juga bersifat mendadak juga untuk hari Kamis nanti.  Padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang di akhir tahun ini. Sudah bulat niat mereka untuk pulang kampung menjelang lebaran tahun depan. Allah SWT yang membolak-balikkan hati, Allah yang memberi rezeki, Allah jua lah yang mungkin mengabulkan doa dan permintaan orangtua yang ada di kampung halaman. Tentu dalam "Alek Panutuik" harapannya bisa barami rami. 


Menjelang ashar kami pulang ke rumah, Ama ikut naik Terios bersama kami, bertiga. Meskipun jaraknya tak berapa jauh. Namun kami senang, Terios ini sangat terasa dibutuhkan dan banyak memberikan manfaat.


Menjelang sore itu sebuah travel berhenti di depan rumah. Dan ternyata Om Ide, adik Ama yang di Kuala Lumpur, juga baru datang. Sendirian. Dia diantarkan oleh travel yang pemiliknya juga orang Kapau dari Bandara Internasional Minangkabau. Bertambah kebahagiaan Ama hari itu.


Dan di malam hari selepas sholat isya, menjelang rehat malam kami sudah mendapatkan "pesan" dari Ama apa yang akan dilakukan esok hari. "Pesan" yang harus dilakukan sesegera mungkin, mumpung orang belum rame.


#####


Selasa, 17 Desember 2024.


Setelah selesai sholat subuh di mesjid Pandam Basasak, saya segera pulang ke rumah dan mengajak Bundo Nova Yanti  untuk malapeh taragak. Selera kami sama. Pengen sarapan pagi yang berkuah.

Dan dengan motor berdua, kami segera meluncur ke kadai Dewi, sahabat SMP juga dengan Nova. Di sana kami makan Mieso. Mieso Daging. Mieso adalah makanan jadul asli ranah Minang yang sudah jarang ada. Selain Mieso Daging ada juga Mieso Ayam. Kedua Mieso ini sudah tergerus oleh baso dan mie ayam dari Jawa. 


Setelah makan di sana, kami membawa juga buat Ama dan Om Ide. Selain Mieso juga kami bawakan katan goreng buat bersama pagi ini di rumah.


Dan setelah sarapan, "pesan" Ama tadi malam segera kami lakukan. Beberes di rumah utama, paviliun dan di rumah lama Ama yang ada di seberang jalan. Membersihkan rumah, menyapu dan mengepel, menata sofa dan meja makan, agar terlihat luas. Rumah utama akan penuh sesak oleh anak minantu dan cucu. Paviliun buat keluarga dari Malaysia. Dan rumah lama buat keluarga yang dari Pekanbaru. Rumah lama ini masih kosong, karena selama ini dikontrakkan. Nah yang terberat adalah mengangkat kasur, karpet dan selimut ke rumah lama ini. Yo sabana bakureh kami baduo. Namun semuanya dilakukan dengan seneng hati. Walau belum bersih sepenuhnya namun yang berat berat ini selesai juga dalam hampir tiga jam pagi itu. Lainnya bisa diangsur nanti secara bertahap.

Jam 9 saya mengantarkan om Ide ke plaza Telkom di Stasiun, jln Muhammad Sya'fei. Mengganti SIM card om Ide sehingga bisa berkomunikasi dengan anak dan cucunya di Malaysia. "Berpisah dengan cucu adalah hal yang berat", katanya. Tetapi menjadi ringan ketika bisa video call. 


Setelah selesai, saya ajak Om mampir sejenak di salah satu "kadai" di depan Plasa Telkom tersebut. Menikmati Teh Talua Malimpah yang sempat viral sejak tahun yang lalu. Selain itu kami juga mencoba dengan apa yang namanya Mie Bangladesh. Mie ini intinya Indomie goreng juga, tetapi diolah dengan setengah becek dan ditambah dengan telor setengah matang. Ok juga rasanya.

Setelah itu kami pulang, dan sesampai di rumah tak lama berselang om Ir dan Alan, anak bujangnya juga sudah sampai di rumah. Mereka berdua juga dari Malaysia. Pesawat pagi dari sana.


Ama masih di rumah Ante. Urang kampuang masih bakureh. Memasak buat persiapan baralek. Nova ternyata sudah selesai dengan tugasnya. Karpet di rumah lama ini sudah terbentang. Kasur dan selimut sudah tertata dengan baik. 


Dan sorenya pun saya kembali lagi ke Plaza Telkom untuk mengganti SIM card Alan, sedangkan om Ir tak begitu perlu karena bisa sharing nantinya. Pulang dari sana kami mampir membeli beberapa porsi sate. Sate Mak Ngulu tentunya. Sate yang disukai oleh Ama.

Alhamdulillah menjelang Maghrib kami.makan sate bersama. Plus karupuak Laweh yang dibeli om Ide satu kantong.


Dan hari ini anggota di rumah Ama kembali bertambah. Dan akan bertambah lagi tentunya. Esok, Kamis dan Jumat akan makin rame.


Bintaro, 31 Januari 2024

11.00 WIB

Rabu, 29 Januari 2025

Mudik Desember 2024 (part 3)

 Trip Report Tangerang Bukittinggi

Senin 16 Desember 2024


Jam empat dini hari saya terbangun dari tidur. Benar benar pulas tidur semalam. Lelah yang kemarin terbayar sudah. Namun ternyata Bundo Nova sudah bangun lebih awal dari saya.


Walau tadi malam menjelang tidur sudah mandi, pagi ini saya tetap mandi lagi. Mandi buat menjaga kesegaran di pagi hari ini. Mandi menjelang sholat subuh juga. Dan sesuai rencana sehabis subuh nanti kami akan lanjutkan perjalanan. 


Setelah mandi, menunaikan sholat sunah dan menunggu adzan subuh berkumandang. Sholat sendirian di kamar yang cukup luas ini. Sementara saya sholat, Bundo berkemas kemas. Merapikan kamar yang akan kami tinggalkan dan mempersiapkan apa yang akan kami bawa kembali ke dalam mobil.


Lepas sholat saya ke meja resepsionis. Kosong. Tak ada orang di sana. Saya kembali ke kamar dan segera membawa koper dan kantong makanan yang ada ke mobil. Bundo menyusul di belakang.


Tak lama berselang, si Abang yang jaga penginapan menyambangi kami. Menyapa dan mengajak ke meja resepsionis. Kemudian memberikan kembali KTP yang dititipkan tadi malam. Sewa kamar kami hanya Rp 200.000,- sudah dibayar di awal. Untuk sewa segitu dengan fasilitas yang ada, cukup murah.


Ketika mesin mobil saya hidupkan, si Abangnya sudah membukakan pintu gerbang buat kami keluar. Dan breakfast yang tadi malam kami pesankan, ternyata tak bisa dipenuhi. Hal ini karena kami berangkat terlalu pagi. Namun sebagai gantinya kami diberikan pop mie dua buah. Tak mengapa. Lumayan buat anak anak nantinya. Sarapan kami pagi itu cukup dengan cemilan yang masih ada. Masih cukup banyak buat berdua.


Kami keluar dari penginapan sekitar jam 5.30. Terios segera meluncur ke jalan raya yang tak jauh dari penginapan kami tadi, menuju Jalan Lintas Tengah Sumatra Muaro Bungo.


Jalan ini merupakan trek lurus menuju Sumatra Barat. Boleh dikatakan trek ini sangat disenangi oleh para driver. Up and Down. Mendaki dan menurun saja umumnya. Kecepatan bisa dipacu semaksimalnya. Namun tetap harus hati-hati. Kadang kala di ujung pendakian, tak nampak ada mobil dari arah berlawanan karena saking tingginya tanjakan. Begitu juga harus hati hati terhadap "penguasa wilayah" yang ada di sepanjang lintasan. Mereka adalah para sapi yang dibiarkan bebas berkeliaran mencari makan.


Dan pagi itu saya mengendarai Terios santai saja. AC sengaja tak dihidupkan. Udara sejuk berhamburan masuk di sela sela jendela mobil yang dibuka sedikit saja. Dinginnya mengalah AC.


Tak banyak bus ataupun truk yang lewat pagi itu. Yang lebih dominan adalah kendaraan pribadi dengan berbagai macam plat nomornya. Beberapa mobil dengan plat dari Jawa, "bercilaput". Penuh dengan tanah dan debu Sumatra yang menempel di body nya. Sedangkan yang berplat BH terlihat bersihnya.


Sesekali saya coba juga mencari teman lari pagi itu. Sekedar mengusik kesepian. Alhamdulillah lancar semua perjalanan yang kami tempuh pagi itu. Tak ada macet ataupun antrian panjang yang kami rasakan. Lancar jaya.


Di Tanah Badantuang kami belok kanan. Menuju Sijunjung, Lintau, Batusangkar dan Bukittinggi. Ini adalah jalan yang sering kami lalui dan merupakan jalan pintas, jalan tercepat. Dibandingkan via Solok dan Danau Singkarak, jalur ini lebih cepat sekitar dua jam.


Jalan masih sepi dan kecepatan bisa agak dipacu. Terkendala sedikit di sekitar Ampalu, karena hari Senin adalah hari pasarnya. Aksesnya dialihkan ke jalan yang sempit dan kembali nanti ke jalan utama dekat jembatan batang Ampalu.

Di sekitaran sini sudah mulai tampak orang berjualan durian. Pemandangan yang sangat menggoda tentunya. Dan akhirnya kamipun berhenti. Jam menunjukkan angka 08.50 pagi waktu itu.


Ada pondokan di pertigaan jalan. Makan durian di tempat dengan harga Rp 25.000,- saja. Sarapan kami pagi itu dengan durian plus ketan yang disediakan. Satu durian untuk berdua. Saya pake satu bungkus katan, bunda tidak. Dan itu sangat memuaskan. Rasanya mantap. 

Disebabkan rasanya yang oke, kami percayakan kepada si Ibu penjual untuk memilihkan 9 buah lagi buat kami bawa sebagai oleh-oleh. Namun kepercayaan seperti ini, jika anda dalam perjalanan, janganlah sesekali. Jangan sampai ada sesalan di belakangan, seperti yang kami alami. Tak sampai setengahnya yang bisa dimakan. Ini jadi pelajaran bagi kami.


Sekitar setengah jam rehat kami di sini, perjalanan dilanjutkan menuju Lintau dan kota Batusangkar, ibukota kabupaten Tanah Datar, kampung halaman saya.


Udara yang segar, alam yang indah merupakan pesona tersendiri bagi kami berdua. Obrolan kami selama perjalanan sangat mengasyikkan. Banyak hal yang terceritakan.


Dan akhirnya rasa lapar kembali menggoda si Bundo. Maklum sudah hampir dua puluh dua jam belum bertemu dengan nasi lagi. Dan RM Aroma Pagaruyung pilihan kami. Lokasinya sebelah kiri jika kita dari Istano Basa Pagaruyung.

Kami sampai di sini sekitar jam 10.30. Saat yang pas untuk makan, sebelum ramai pengunjung. Masakan nya juga baru matang. Dan di sini makanan dihidangkan dengan nasi satu bakul untuk berdua. 


Alhamdulillah lagi lagi kami makan lamak. Lauk yang kami pilih adalah ikan bakar, dendeng balado, gulai tunjang, sayur pucuak ubi dan Anyang plus teh talua. Totalnya hampir 90 ribu rupiah. Kami puas makan di sini dan kami sangat rekomendasi buat teman teman yang lainnya. Lamak lah pokoknyo.


Setelah makan kami lanjutkan perjalanan menuju Kapau Bukittinggi. Tak lama lagi kami akan sampai. Perjalanan Batusangkar hingga Kapau Bukittinggi butuh waktu sekitar satu jam-an.


Kami berhenti sejenak di SPBU Biaro mengisi BBM sejumlah Rp 300.000,- Untuk pertalite. Selesai ngisi BBM adzan Zuhur berkumandang, saya sholat di mushola yang ada di SPBU ini. Di sisi kiri Mushola terpampang sawah yang luas dan Gunung Marapi yang berdiri dengan kokohnya. Lagi lagi alam yang indah terhampar.


Menjelang jam satu siang kami pun sampai di Kapau. Terios parkir di depan rumahnya Ante Nelti Jamaah, saya masih di mobil dan Nova pun segera turun dari mobil. Nova menuju orang yang masih sibuk di dapur belakang, memberikan kejutan bagi semua orang. Surprise tentunya. Tak ada kabar, tak ada berita, tiba tiba datang di saat orang sedang "marandang". Marandang artinya prosesi membuat rendang yang umumnya dalam skala besar.


Saya menyusul kemudian. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari sanak saudara yang ada, terutama Ama Asma Yati . Bergetar suara Ama, bercerita bahwa beliau tak menyangka bahwa kami sedang dalam perjalanan di daerah Jambi ketika beliau menelpon kami kemarin.


Tak lama berselang, Ama dapat suprise yang kedua. Anda Yolanda yang ada Batam berkabar bahwa dia, Mustafa Kemal F dan dua putri mereka akan pulang kampung juga. Tiket sudah di tangan untuk keberangkatan Kamis pagi dari Batam menuju Bandara Internasional Minangkabau Padang. Lengkap sudah kebahagiaan Ama, ante dan keluarga besar semuanya. Berkah Alek Vivi yang direncanakan. Anak anak Ama semuanya pada pulang. 



Parung Serab Ciledug, 28 Januari 2025

22.22 WIB

Selasa, 28 Januari 2025

Mudik Desember 2024 (part 2)

Trip Report Tangerang Bukittinggi

Minggu 15 Desember 2024


Alhamdulillah sempat tertidur selama kapal berlayar, sekitar tiga jam lebih, saya dibangunkan oleh Bundo Nova. Bener bener pulas tidur saya dan ini mungkin adalah tidur terlambat saya di kapal selama dalam perjalanan. Bisa jadi karena berdua saja, tanpa anak-anak dan Bundo pun ada teman ngobrolnya, tak ada lagi yang saya pikirkan. Dapat tidur pulas saya.


Sebelum turun ke dek kapal, saya ke kamar mandi dulu. Sekedar BAK saja. Bundo pun sabar menunggu. Tak terlihat lelah di matanya, tetapi saya yakin nanti akan gantian. Giliran dia yang tidur selama dalam perjalanan.


Menjelang jam 1 dini hari, Terios kami pun keluar dari lambung kapal. Perlahan lahan ramp door kapal saya lewati. Namun ombak yang tenang, membuat semuanya lancar. Agak berbeda saat memasuki kapal di Merak tadi, ombak lumayan besar sehingga sangat hati-hati ketika melewati ramp door kapal.


Keluar dari kapal, kendaraan mulai saya pacu secara bertahap menuju gerbang tol. Perjalanan malam yang untuk ke sekian kalinya yang saya alami. Dan jalan malam kali ini sangat saya senangi karena ada bulan purnama yang menerangi gelapnya malam. Alhamdulillah hujan pun tiada.


Suasana santai selama perjalanan malam ini membuat Bundo tertidur dengan nyenyaknya. Saya tak terlalu memacu kendaraan. Membiarkan Bundo lelap dengan mimpi mimpinya.


Dan akhirnya menjelang subuh kami rehat di rest area KM 234 Mesuji. Dan rest area ini termasuk salah satu rest area terbaik. Mobil terparkir dan Bundo pun bangun perlahan. Gerimis halus pun datang.


Adzan belum berkumandang namun beberapa kendaraan pribadi sudah ada yang datang sebelum kami, dan obrolan penumpang dengan bahasa minangnya pun sayup sayup terdengar di telinga kami. Banyak urang awak nan pulang kampuang ruponyo. Kawan "sairiang" dalam perjalanan.


Perlahan turun, menuju kamar mandi dan segera berwudhu. Hanya saya saja yang sholat, Bundo sedang berhalangan. Saya ke mesjid, Bundo menunggu di mobil.


Tak lama berselang, selesai sholat kami lanjutkan perjalanan. Tak lupa mengisi BBM dahulu di SPBU yang ada. Rp 400 ribu Terios kami "minum pagi" di sini dengan Pertamax. Agak mahal dikit minum nya. Namun akselerasi berkendara jauh lebih ringan dibandingkan pertalite. Sesekali boleh lah, apalagi bedanya sekarang hanya sekitar dua ribuan. Beda dengan harga sebelumnya, Rp 14.000 per liter.


Tak terasa pagi menyambut kami ketika keluar dari tol Kramasan Palembang. Semburat pagi secerah semangat kami melintasi jalan lintas timur Sumatra ini. Lancar dalam perjalanan kami pagi itu.


Sedikit ada gangguan yang terjadi sebelum Betung, sekitar jam 7 pagi. Ada truk yang keluar dari badan jalan, nyaris terbalik. Truk besar berisikan kendaraan roda dua di atasnya, yang menyebabkan sedikit macet. 

Begitu juga di sekitaran Sungai Lilin. Ada pasar pagi yang menyebabkan macet dua arah. Beringsut kendaraan selama melewati pasar tersebut. Lain daripada itu jalanan agak sepi dan lancar.


Menjelang siang, perut mulai keroncongan . Bundo sudah mulai bertanya, kapan makan. Akhirnya kami mampir di RM Pincuran Gadang. Ada dua tiga kendaraan pribadi yang terparkir di sini, namun lainnya halaman yang luas diisi oleh banyak truk. Nah ini adalah pilihan yang tepat. Biasanya kalo banyak truk yang parkir, rumah makan itu pasti enak dan murah. Itu kuncinya.


Dan benar saja. Kami makan di sana dengan kepala kakap, tunjang, gulai jengkol, sayur "pucuak ubi" dan segelas teh telor. Nasi sebakul, nyaris habis. Benar benar makan "lamak" kami berdua. Biasanya saya agak menahan porsi nasi selama dalam perjalanan, karena takut efek ngantuk nya. Tetapi kali ini saya lupakan. Lauknya "iyo bana lamak". Harga kepala kakapnya saja 65.000 rupiah. Mantap rasanya. Hampir sekitar satu jam kami makan dan rehat di sini. 

Dan akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Tak jauh dari rumah makan Pincuran Gadang, pintu tol pertama di propinsi Jambi sudah terpampang. Tol yang masih gratis di akhir tahun ini. Tol Muaro Sebapo namanya.

Keluar pintu tol, segera masuk ke jalan lintas timur lagi. Google map mengarahkan saya ke jalan simpang Ness. Alhamdulillah selama dalam perjalanan ini, ada permen karet "Long Bar" yang menemani saya. Menghilangkan rasa kantuk yang muncul siang itu. Perman karet itu saja yang saya kunyah kunyah bisa kantu menyerang. 


Dan Bundo kembali larut dalam tidurnya. Bagaimana tidak akan ngantuk? Makan tadi banyak dan lamak, makannya pas di waktu lapar, hari siang terang benderang, Sepoi AC mobil yang dingin memanjakan pelupuk mata. Alhamdulillah perjalanan kami senantiasa ditemani senandung murotal Al Qur'an. Ada ketenangan dalam berkendara tentunya.


Menjelang sore, di waktu ashar, saya mampir di sebuah mesjid di daerah Tebo. Sholat jamak qashar saya agak terlambat. Hal ini disebabkan karena kondisi kurang memungkinkan untuk sholat di RM Pincuran Gadang tadi. 


Selesai sholat lanjutkan lagi perjalanan dan sekalian sore itu mengisi BBM lagi. Kali ini dengan pertalite saja, Rp. 400.000_-. 


Menjelang maghrib kami memasuki kabupaten Bungo. Sempat berdiskusi dengan Bundo lanjut atau nginap. Saya masih yakin dan merasa masih kuat untuk melanjutkan perjalanan, tetapi Bundo bersikeras untuk nginap saja. "Ngapain buru buru, nggak ada juga yang dikejar", katanya.


Dan akhirnya saya yang mengalah. Kita cari penginapan yang murah meriah di Muaro Bungo ini. Ada dua titik yang berdekatan, tetapi akhirnya jatuh pada pilihan kedua. Tempatnya bersih, besar dan nyaman, harganya pun relatif sama. 


Adzan isya pun kami rehat di penginapan. Dan titip pesan kepada resepsionis yang berjaga, bahwa pagi esok sehabis subuh kami akan lanjutkan perjalanan dan kalo bisa breakfast nya dipercepat.


Di sini kami bermalam setelah menempuh 24 jam perjalanan dari rumah hingga ke Muaro Bungo ini. Makan malam kami abaikan karena perut masih terasa kenyang. Tidur yang nyaman yang kami butuhkan.


Bintaro 28 Januari 2025

14.25 WIB

DPP IKA FMIPA: Sosialisasi dan Konsolidasi

Alhamdulillah tadi malam sesuai undangan yang disampaikan bisa hadir lebih awal di Basuo Cafe and Space miliknya da Nuh dan ni Rika Anggrain...