Kamis, 05 Februari 2026

In Memoriam: Ummu Fifi

Mendadak sore tadi mendapat kabar dari si kakak di Pakistan. Kabar duka. Wafatnya Ummu Fifi, sohibnya, yang juga tak jauh rumahnya dari rumah kami. Hanya sekitar 8 menit kabar dari Islamabad datang lebih cepat ketimbang dari Pondok Aren ataupun Tangerang.


Begitulah Allah berkehendak. Kedekatan mereka berdua yang mengikat kedekatan kami juga, sejak mereka berdua sama sama jadi santriwati di Gontor Putri 3 Mantingan Ngawi hingga lulus menjadi ustadzah. Terbukti bahwa Gontor tidak hanya mempersaudarakan santri nya, tetapi juga kami selaku walisantrinya.


Dengan Ummu Fifi ini kami sudah kenal dekat. Beliau sering berkunjung ke rumah, begitu juga kami sering mampir di rumahnya. Selain dengan Ummu, kami juga dekat dengan ustadz Mahruroji Roji, Abu Fifi ini. Saling titip saat mudifah ke pondok, baik makanan ataupun uang, ataupun pesan tempat strategis di Bapenta.


Ummu kalo berkunjung ke rumah selalu membawakan peyek kacang, kesukaan kami. Beliau sangat baik orangnya. Ramah dan cekatan serta suka membantu.


Tetapi setahun belakangan, kami sudah jarang bertemu dengan beliau, karena sakit yang lumayan berat. Kesabaran Ummu dan ustadz Roji sedang Allah uji, sering ke rumah sakit untuk perawatan dan kontrol sakitnya secara berkala. 


Tetapi sore tadi, jam 17.15 Ummu Fifi dipanggil Allah SWT. Ummu wafat. Sakit yang Ummu sudah tiada lagi. Ummu wafat dalam lingkup kasih  sayang keluarga. Di rumah. Ummu sempat bersyahadat. Ummu di-talkin-kan olah sang suami tercinta. Insyaallah Ummu kembali keharibaan Allah SWT dalam keadaan Husnul khatimah.


Menjelang jam 6 sore saya dan om Susilo sudah sampai di rumah duka. Banyak yang melayat. Tak henti hentinya orang yang datang. Silih berganti. Ini sudah cukup sebagai bukti bagaimana kebaikan Ummu di lingkup tetangga dan juga sebagai istri dari Ustadz Roji yang merupakan kepala sekolah di SD IT Cordoba, yang tak jauh dari rumah beliau. Mereka berdua sama sama alumni pondok pasantren. Mengabdi sebagai guru. Tetapi Ummu mengajar di TPA yang ada di rumahnya sendiri. Meskipun dalam keadaan sakit ummu tetap mengajar anak anak mengaji.


Ummu insyaallah akan dimakamkan sekitar jam 8 pagi. Masih menunggu buah hati Ummu yang belajar di luar kota, di pondok pesantren. Insyaallah malam ini anak ini sudah berada di rumah.


Kesabaran dan keikhlasan dari ustadz Roji dan juga Fifi memang luar biasa. Setahun mereka dan keluarga besar merawat Ummu. Allah SWT lebih menyayangi hamba-Nya. Allah SWT akhiri sakit yang Ummu derita, dengan caranya. Dan bagi orang yang beriman, sakit itu adalah penggugur dosa. Mendengar proses wafatnya Ummu dari ustadz Roji, banyak hikmah yang saya ambil. Sakit sakaratul maut itu memang dahsyat, hanya dengan keimanan segalanya akan jadi ringan. 


Begitu juga dari ustadz Roji, saya mendapat hikmah bagaimana semestinya peran sebagai suami dan sebagai ayah, serta bagaimana peran sebagai "sumando" di depan keluarga istri. Dan semuanya telah saya saksikan. Ummu pasti bangga dengan suaminya. Saya hanya bisa mendoakan semoga kelak mereka kembali berkumpul di Jannah Nya, Insyaallah.


Selamat jalan Ummu. Ummu orang baik. Punya suami juga orang baik. Anak-anak Ummu insyaallah jadi anak yang baik juga.


Ciledug Tangerang 

2 Februari 2026, 21.56 WIB

Kamis, 01 Januari 2026

Fokus Pada Tujuan Akhir

Jika diibaratkan mobil, ada tiga buah spion dan satu kaca yang besar. Tiga spion kiri dan kanan dan satu dibagian atas.


Meskipun tiga spion, perjalanan utama tetap fokus pada kaca mobil yang sangat besar. Kaca besar inilah yang akan menjadi tujuan kita, dimana dan kemana akan berakhir nantinya. Jika akhirat fokus kita, maka tiga spion yang ada sangat membantu agar kita agar selamat dalam perjalanan. Spion ini meskipun tiga buah, hanya sesekali dilihat tetapi sangat menentukan. 

Begitu juga dengan masa lalu, hanya sesekali dilihat sebagai pengingat sudah sampai dimana tahapan yang kita lalui. Seberapa kebermanfaatan kita bagi sesama. Jika masih kurang, mari tingkatkan.


Sementara kaca besar tetap menjadi fokus utama dalam perjalanan. Terutama perjalanan akhirat kita. Berharap diakhir kehidupan sampai dengan selamat, dengan titel Husnul khatimah. Baik diakhirnya.

Meskipun dalam perjalanan penuh lika-liku nya, penuh lumpur, terjerembab dalam lubang yang dalam, tetapi tetap berusaha sampai diakhir dengan selamat sebagai pemenang. Sebagai hamba-Nya yang bermanfaat bagi sesama.


Pekanbaru 1 Januari 2026

08.18 WIB 

🙏

Selasa, 30 Desember 2025

Jajannya Buku

Setelah beberapa hari ini di rumah di rumah saja, akhirnya dia minta untuk diajak keluar. Sebelumnya kalo diajak sama saudara yang lain hanya sekedar memenuhi syarat saja, jika tidak dianggap terpaksa. Baik di Duri ataupun di Pekanbaru.


Di Duri bersama Yuni dan Fatur hanya pengen beli ice cream dan jajanan lainnya, buat ngemil di kamarnya. Di Pekanbaru sempat bertiga dengan sepupunya, Affan dan kak Aira nginap di hotel sehari dan kulineran ke Sate Ocu Ijep di Rimbo Panjang bersama saya, Esi dan suaminya beserta anak minantu nya serta satu cucu. Dengan Wiza dan keluarga ke Living World sekali. Hanya itu saja dia keluar rumah.


Tetapi hari ini dia minta di antar ke Gramedia. Ke Mall bukan dunia dia. Dia merasa risih jika ke sana, kecuali kalo di sana ada toko bukunya. 


Setelah zuhur tadi, cuaca agak bersahabat kami motoran dari rumah di jalan Piranha menuju Gramedia di jalan Sudirman kota Pekanbaru. Lewat jalan belakang saja. Alhamdulillah sedikit gerimis halus dalam perjalanan tak menghentikan langkah walau untuk sekedar berteduh. 

Sesampai di Gramedia dia asyik mencari 3 buku buat dia dan satu pesanan kakaknya. Saya menikmati suasana ini dengan video call bersama Bunda, Imam dan Kakak serta nenek. Saling berkabar dan bercerita dengan kondisi masing-masing yang terbentang jarak yang cukup jauh.  Bentangan jarak tak menghalangi kami berkomunikasi saat ini, begitu juga dengan teman teman tentunya.


Selama berkomunikasi tersebut tak terasa empat buku sudah selesai dia pilih. Totalnya Rp 457.000 untuk empat buku pilihannya. Sempat saya ledekin tadi, kalo di fried chicken, "Dengan satu lembar seratus ribu sudah kenyang banget kita Nak." 

Nah dia ini emang beda. Biarlah tidak ke outlet fried chicken atau yang sejenisnya. Biarlah tidak makan di sana, kalo hanya sekedar mengisi perut. Tak mengapa. Yang penting jangan tidak beli buku. Buku adalah segalanya bagi dia. Buku adalah jajannya.


Dan dari total pembelian buku tadi, saya hanya mengambil dua ratus ribu saja yang dia. Sisanya saya suruh simpan. Tadinya dia mau bayar semuanya. Dia merasa punya uang sendiri dan mau membeli buku dari uangnya sendiri. Begitulah dia. Ada prinsip tidak mau tergantung orang lain, kalo dia mau, dia siapkan uang tabungannya untuk belanja. Lumayan keren menurut saya mah. :)


Sayang ketika mau keluar dari Gramedia hari hujan. Lumayan deras dan lumayan lama. Sembari hujan reda, tulisan ini saya tuntaskan. Menulis itu indah. Menulislah sebisanya dengan memanfaatkan waktu yang ada, seperti saya .


Pekanbaru Depan Gramedia 

28 Desember 2025, 15.20.

Jumat, 26 Desember 2025

TAM: Japura Pekanbaru (6)

Alhamdulillah sekitar jam 7 malam kami sampai di rehat ketiga atau rehat terakhir sebelum sampai di tujuan akhir, kota Pekanbaru. Rumah Makan Simpang Raya Japura. Bus satu-satunya PO TAM yang landing. 

Turun lebih awal saya sempat diskusi dengan bang Doris sejenak, sebelum bersama Imam dan Dhifa mencari toilet dan selanjutnya mushola buat sholat jamak qashar Maghrib dan Isya. Mushola terletak terpisah di sebelah kiri rumah makan sementara toiletnya berada di dalam rumah makan bagian belakang.


Saya sholat duluan, imam menyusul belakangan. Agak lama dia di kamar mandi. Sementara Dhifa telah menunggu di rumah makan ketika saya selesai sholat. 


Kami memesan dua porsi makan dengan lauknya gulai ayam, plus dua nasi "tambuah" yang disertakan dan buat Dhifa seporsi soto tanpa nasi. Serta satu cup "raga-raga". Total yang kami bayar sejumlah Rp 108.000,- saja. Sotonya oke punya. Gulai ayam nya enak banget. Sengaja pesan langsung begini ketimbang dihidang. Harganya pasti berbeda.

Alhamdulillah kenyang, kami langsung ke bus yang sudah menunggu. Dan ketika keluar dari rumah, sudah ada dua unit PO TAM lainnya. Satu unit yang dari Bandung menuju Pekanbaru baru dan satu unit lagi dari Pekanbaru menuju Bandung. Jam 19.30 perjalanan dilanjutkan.


Oh ya, unit yang dari Bandung mendahului kami ketika mengisi solar terakhir dan kemudian gantian kami yang menyusul dia ketika dia nyolar di SPBU menjelang masuk Japura tadi. Meskipun kami berangkat duluan, sepertinya nanti bisa iring-iringan masuk ke kota Pekanbaru nantinya.


Tak banyak yang bisa dinikmati dalam perjalanan malam seperti ini, apalagi perut sudah rada kenyang. Perkiraan masuk nanti di kota Pekanbaru sekitar tengah malam.


Namun dalam perjalanan tadi, ada satu penumpang yang pindah ke PO Rapi, dengan tujuan Medan. Supir dan kernet TAM ini sangat baik, sengaja menghentikan bus Rapi agar penumpang ini bisa langsung dapat bus yang ke Medan. Andai datang tengah malam nanti di Pekanbaru akan susah mencarikan bus yang langsung ke Medan. Berkemungkinan besar akan berangkat esok hari, tertunda semalam.


Penumpang yang ke Medan ini sama sama saling kenal ketika di terminal Poris. Kami sama sama saling cerita. Alhamdulillah ada kemudahan juga. Awalnya perkiraan sampai di terminal Payung Sekaki Pekanbaru ini sekitar jam 8 malam. Tetapi agak meleset. Maklum perjalanan jauh susah ditebak. Banyak faktor yang bisa saja terjadi.


Ternyata selepas dari rumah makan Simpang Raya tadi sudah mulai berkurang jumlah penumpangnya. Bagian depan sudah mulai longgar, demikian juga sebagian yang di belakang. Menjelang sampai di pool PO TAM ada lagi yang turun di jalan sudah memasuki kota Pekanbaru.


Dan saat akan pergantian hari kami pun sampai di pool PO TAM ini. Driver menyarakan kami turun di pool ketimbang di simpang Arengka. "Jauh lebih amanbdan juga lebih gampang jika memesan grab", katanya. 


Ternyata apa yang beliau sarankan itu benar adanya. Segala koper dan barang bawaan penumpang yang tersisa di bus, dibantu turun oleh bang Doris, kernet yang sangat ramah. Dipastikan semuanya aman, bus mencari posisi yang tepat untuk "dimandikan" juga malam itu. Sesuai protap yang ada, ternyata. Dan didekat bus yang kami tumpangi, terlihat sebuah unit PO TAM tronton, khusus buat pariwisata. "Unit keren ini mah", kata saya dalam hati.

Saya segera memesan grabcar yang ada di aplikasi, dan kurang lebih sekitar 7 menit kemudian kami pun beranjak menuju jl. Piranha gang Piranha 2. Perjalanan sekitar 15 menit, dengan Agya merah, akhirnya sampai di rumah Mak Dang. 


Mak Dang dan Amai sudah menunggu kami. Mereka berdua memantau kedatangan kami bertiga. Bergiliran mereka tidur sehabis isya. Bercengkrama sebentar, sebelum kami gantian mandi dan akhirnya tidur dengan lelapnya. Meluruskan badan di kasur adalah kebutuhan utama saat itu.


Jum'at, 26 Desember 2025

08.12 WIB

Rabu, 17 Desember 2025

TAM: RM Simpang Raya (5)

Setelah rehat kedua di RM Simpang Raya Pijoan ini selama lebih kurang 40 menit, perjalanan dilanjutkan lagi. Rumah makan yang baru seminggu ini beroperasi adalah langkah strategis pak Haji, sang owner untuk mensiasati dan ekspansi bisnisnya. Dan ini adalah rumah makan ketiga dengan nama yang sama. Rehat berikut nya masih di rumah makan beliau juga. Dengan nama yang sama, tapi di daerah Japura Riau.

Dan dari obrolan dengan sang driver utama, bahwa rumah pak haji ini ada di samping kanan rumah makan Simpang Raya yang di Japura. Rumah putih bertingkat, yang ada aksesnya ke area rumah makan. Saya juag tahu sebelumnya karena info dari para youtuber yang sering meliput acara trip mereka di RM Simpang Raya Japura ini. Sebuah bisnis yang susah untuk merawatnya dengan para pemilik armada di lintas Sumatra, apalagi dalam rentang waktu yang sangat lama. Sama halnya dengan RM Umega di Pulau Punjuang Dharmasraya. Membangunnya tidak gampang, tetapi merawatnya jauh lebih susah. Nah usaha pak Haji ini perlu kita puji.


Selepas rumah makan ini sejenak saya memilih duduk di depan, disamping bang Doris sambil "maota lamak" dengan pak Edy, eks driver PO Handoyo. Bersama Handoyo beliau berkarir selama 7 tahun, sebelum bergabung dengan PO TAM enam bulan yang lalu. Beliau dengan posisi yang sama memegang line yang sangat jauh, Blitar Pekanbaru. Bukan orang sembarangan ternyata. Jam terbangnya sudah sangat tinggi sekali. 


Dan dari management PO TAM ini ternyata ada bonus yang sangat menarik, bila membawa bus PP, trip bolak balik full penumpang. Bonus dengan nominal menarik bagi crew bis. Sayang dari Pekanbaru ke Sukabumi dan sekarang dari Sukabumi ke Pekanbaru, terisi 27 penumpang. Bonusnya setengahnya, kata beliau.

Jam 10.30 bus mampir ke terminal Jambi, sesuai aturannya. Tak lama, sejenak saja, sekedar laporan saja. Dan kemudian sempat menurunkan penumpang di agent TAM Jambi yang berada pas di depan terminal tersebut. Penumpang tak turun di terminal, tetapi di kantor agen perwakilan TAM ini. Menurut saya memang lebih aman di sini, di jalan utama.


Dalam perjalanan sempat berhenti sejenak ketika crew bis membeli dulu di pinggir jalan. Dan diikuti beberapa penumpang lainnya termasuk saya yang terakhir. 3kg dulu manis seharga Rp 50.000,-. Baru musim kayaknya.

Dan ternyata mata supir itu memang sangat jeli. Ada celah sedikit, bisa menyibak antrian di SPBU, beliau langsung sigap berhenti sejenak mengambil posisi mencari celah kosong dalam antrian solar yang memang langka di Lintas Sumatra ini. Ada tiga kendaraan di depan. Dan momen ini saya sempatkan untuk sholat jamak qashar, Zuhur dan Ashar. Jam sudah menunjukan setengah dua lewat. Ini adalah nyolar kedua, yang cukup untuk sampai di Pekanbaru Kota Bertuah.


Ngantuk terasa saya pindah ke belakang, ke posisi semula. Menjelang jam tujuh malam, bis pun sampai di rehat ketiga, rehat terakhir di RM Simpang Raya Japura, propinsi Riau.


Japura 20.00 WIB 

17 Desember 2025

TAM: Kalianda Jambi (4)

Setelah rehat pertama di RM Siang Malam Kalianda dan dilanjutkan nyolar di SPBU yang tak jauh dari rumah makan tersebut, perjalanan malam ini benar benar saya nikmati dengan tidur nyenyak. Mungkin karena badan yang capek dan perut yang kenyang serta suspensi yang empuk dan bawaan supir yang halus, saya sudah tertidur menjelang bus masuk ke pintu tol.


Sempat tersentak sejenak ketika bus keluar tol mengambil penumpang berikutnya. Selepas itu saya benar benar tidur lagi. Bener bener nyenyak. Bangun bangun sudah sampai di pool PO TAM di kota Palembang.


Dan dari bang Doris saya tahu bahwa bus wajib lapor di sini. Aturan dan management PO TAM sangat ketat, katanya. Pakaian crew harus rapi dan lengkap. Dan diwajibkan yang lapor di sini adalah supir utama atau supir satu nya. Dan pergantian tugas driver terjadi disini.


Dan ketika menuju Betung, arah ke Palembang sangatlah macetnya, sebaliknya kami yang menuju Betung sangatlah lancarnya. Lepas kemacetan di sisi kanan, saya kembali tertidur. Lelap lagi. Bangun bangun ketika bang Doris menyampaikan ke penumpang yang mau menunaikan sholat subuh dipersilahkan turun. Alhamdulillah ini session yang saya takuti sebenarnya. Saya segera turun dan langsung menuju toilet. Kebutuhan biologis menjelang sholat subuh sudah menjadi alarm rutin. Ini yang saya cemaskan, jika harus antri. He-he-he. Paham ya maksudnya...

Setelah selesai urusan kebelakang, segera wudhu dan menunaikan sholat Sunnah dua rakaat. Sholat Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah karena nilainya yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Alhamdulillah kemudian dilanjutkan sholat wajibnya. Sunnahnya saja sudah sedemikian besar pahalanya, apalagi sholat wajibnya. Rugilah rasanya kalo meninggalkan amalan subuh seperti ini.

Kami menjadi penumpang yang terakhir naik PO ini, yang kemudian bus melanjutkan perjalanan ke rest area selanjutnya di RM Simpang Raya. 


Ada sedikit error di aplikasi hp saya. Lokasi photo jelas di Sumatra Selatan tetapi tertera di gambar settingan lokasinya di Kabupaten Kediri. Sebuah kota yang belum kesampaian bagi saya untuk mampir di sana. Aneh. Dan menjadi buah pikir bagi saya dan Imam. Akhirnya ya give up.


Jam 6 kami sudah melewati pasar sungai Lilin, yang pagi ini tetap saja macet selepas jembatan dekat pasar tersebut. Pasar Sungai Lilin selalu begitu, mulai pagi hingga siang harinya. Muacet as always.

Sekitar dua jam berikutnya masuk Bayung Lencir dan tak berapa lama setelah itu masuk pintu tol menuju kota Jambi. Exit tol nya di Pijoan. Jalur tol baru yang masih gratisan, katanya.


Dan dari Doris juga saya baru tahu bahwa RM Simpang Raya sudah buka cabang baru di dekat pintu tol Pijoan. Dan itu sangat menguntungkan bagi PO PO yang menjadi langganan mereka. Pilihan cerdas dari sang owner. RM Simpang Raya ini sekitar 1km dari pintu tol. Lokasinya sangat strategis. Selain PO NPM dan ANS, hampir semua armada yang menuju Sumbar mampir di sini, begitu juga dengan PO TAM trayek ke Pekanbaru ini.

Rumah Makan ini baru seminggu beroperasi, punya mushola yang rapi dan bersih. Toilet yang banyak dan berdekatan antara wanita dan pria, tetapi terpisah oleh bangunan permanen nya. Memudahkan koordinasi bagi penumpang yang berkeluarga untuk saling tunggu.

Bangunan barunya ini keren. Sama dengan standar RM di lintas Jawa. Bersih dan terawat dengan baik, tidak mengapa lah harus membayar R 2000 per orang. Sangat wajar menurut saya. Lokasi yang lama masih ada, hanya untuk truk truk saja lagi. 


Inilah pintarnya sang owner RM Simpang Raya ini. Pintar membaca peluang dan mencari lokasi yang sangat strategis untuk keberlangsungan usaha dan juga expansi usaha. Andai tidak begini, tentu RM ini akan ditinggalkan oleh PO yang melintas yang sudah menjadi pelanggannya selama ini. Saya rasa RM Minang Wisata, langganan PO ANS dan NPM juga akan merelokasi rumah makan mereka juga nantinya.


Kami makan nasi bungkus dari rumah makan sebelumya, dengan menambah dua porsi Indomie Telor, dua gelas teh telor dan satu gelas teh manis. Totalnya Rp 72.000,- saja. Lumayan buat ngirit. Di Kalianda sebelumnya hanya Rp 12.000. So sampai dua kali rehat kami baru mengeluarkan biaya 84.000 rupiah. Alhamdulillah. Dan masih ada lauk yang tersisa buat rehat ketiga nantinya di Japura, Riau.


Jalan jauh harus bisa mensiasati pengeluaran. Tetapi bukan berarti pelit ya... 


Jambi, 11.23 WIB

17 Desember 2025

Selasa, 16 Desember 2025

TAM:: Bakauheni Kalianda (3)

Ternyata prediksi bakalan sampai di Bakauheni molor. Baru landing jam 19.10 WIB. Faktor yang mempengaruhi jelas cuaca yang kurang bersahabat. Mendung dan hujan selama perjalanan serta ombak yang sangat besar di sepanjang Selat Sunda.


Ketika adzan Maghrib berkumandang, dari dek dua ke dek tiga, dimana mushola berada, kami berjalan sangat hati hati sekali. Bagian luar kapal basah, air yang tergenang bergerak ke kiri dan ke kanan. Kecipratan sudah pasti.


Begitu juga ketika naik tangga, harus berpegangan ke railing nya. Angin bertiup sangat kencang, menyebabkan kaos oblong yang saya gunakan selain kena hujan, juga sempat tersimgkap ke atas karena tiupannya.


Alhamdulillah meskipun basah, bisa berwudhu dan sholat berjamaah Maghrib dan dilanjutkan sholat isya yang diqashar. Jamak qashar. Alhamdulillah sholat tidak tertinggal dan masih sempat berjamaah. Dan ketika sholat pun harus hati-hati, agak goyang juga akibat guncangan ombak di KMP Batu Mandi ini.


Selesai sholat langsung kembali ke ruangan dimana Dhifa tetap menunggu kami. Jelas kapal tidak sekencang biasanya. Tak lama berselang kami pun kembali ke dalam bus. Agak "berselingkit" penumpang yang turun, karena hujan gerimis dan jalan agak licin. Dan sempat mengamati juga di dek kendaraan pribadi tak begitu rame ini. Hanya sepertiga yang terisi.

Keluar dari lambung kapal, kendaraan pun pelan-pelan. Agak tersendat hingga akhirnya bisa keluar kapal dan segera menuju pintu tol menuju rumah makan Siang Malam dimana ini akan menjadi rest area pertama yang kami jalani.


Voucher makan yang ada di tiket, bisa ditukarkan di sini. Sekali makan saja dan itu wajib di sini, begitu penjelasan bang Doris. Makannya prasmanan. 


Namun karena kami masih ada bekal yang tadi belum sempat dimakan di atas kapal, akhirnya 3 voucher tersebut kami jadikan 3 nasi bungkus. Kami makan bekal yang disiapkan oleh sang bundo dengan lauknya Ikan sapek tempe balado, tuna balado dan oseng-oseng tahu tempe. Plus dua gelas teh manis hangat kami pesan, penghangat tenggorokan, seharga Rp 6.000 per gelasnya.

Layanan prima diberikan karyawan rumah makan ini. Meskipun kami makan dengan bekal kami sendiri, kami tetap disuguhi minuman air putih hangat, untuk bertiga. Namun tetap setelah makan, kotak mika tempat kami makan dan satu kotak lauk yang habis tetap kami rapikan. Kami tumpuk semuanya di tengah meja, sehingga karyawan rumah makan tinggal ambil saja. Sebuah kebiasaan yang telah lama kami lakukan. Meringankan dan membantu kerja orang lain.


Kami terakhir penumpang yang dipanggil ke dalam bus. Dan saat bus berjalan, singgah sebentar di SPBU terdekat sebelum masuk tol Sumatra lagi. Nyolar dulu mumpung sepi dan tak perlu antri panjang.


Alhamdulillah, saat ini kami sudah di tol trans Sumatra. Jalan malam sendirian. Tak tampak ada bus lainnya yang membersamai kami. Insyaallah sebentar lagi saya akan menikmati perjalanan ini dengan tidur sebisanya. Semaksimalnya. 


Syukurnya hujan telah reda. Kecepatan bus lebih terasa. Mungkin juga karena kondisi jalan yang rada sepi.


JTTS, 21.08 WIB 

16 Desember 2025.

In Memoriam: Ummu Fifi

Mendadak sore tadi mendapat kabar dari si kakak di Pakistan. Kabar duka. Wafatnya Ummu Fifi, sohibnya, yang juga tak jauh rumahnya dari ruma...