Jumat, 31 Juli 2026

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika masih naik bus ANS ekonomi tahun 90-an, sampai di sini mah mesti mandi. Karena gerah selama dalam perjalanan. Apalagi bus non-AC sudah pasti debu masuk ke dalam bus. Sekarang mah beda. AC nya dingin banget. Apalagi menjelang sore dan malam hari. Saya terpaksa di atur sedemikian rupa, kalo ditutup habis takut nanti ngembun. So tetap di rest area ataupun di rumah makan dimana bus mampir, jarang sekali penumpang yang mandi sekarang ini.


Jam 21.40 bus beranjak meninggalkan rumah makan legend ini. Dua PO TAM ranah Minang beriringan lari malam ini. Yang dari Payakumbuh Bukittinggi menunggu kami. Dia datang lebih duluan. 


Di jalur malam menuju Jambi umumnya bus ranah minang selalu konvoi, baik sesama PO ataupun beda. Untuk menjaga keamanan bersama selama dalam perjalanan. Biasanya kendaraan pribadi biasanya suka mengiringi perjalanan bus ini. Jauh lebih aman membersamai bus ketimbang jalan sendirian meskipun sebenarnya kendaraan pribadi tersebut bisa dipacu. Tetapi antara Bungo hingga ke Jambi banyak melalui hutan sawit ataupun hutan karet, jalannya sepi, berbelok-belok dan banyak tikungan yang tajam. Pindah jalur dari tengah ke timur, angkatan enaknya bersama, kecuali di siang hari. Malam kurang aman lah.


Dan entah mengapa saya bisa bisanya tertidur pulas selama perjalanan ini. Entah karena perut yang kenyang, atau karena bus nya yang nyaman ya. Jujur saya nggak tahu sama sekali. Tahu tahu nya terbangun sudah di Pijoan.


Sudah di jalur dua, mendekati pintu tol. Ajib memang. Dan ketika masuk RM Simpang Raya, sudah ada satu lagi PO TAM yang berasal dari Pekanbaru parkir di depan rumah makan. So ada tiga armada TAM menjelang subuh di sini rehat. Plus di tambah satu lagi NPM.


Segera saya ke kamar mandi, buang air besar dan berwudhu. Wudhu aja meskipun waktu sholat masih sekitar 27 menit lagi. Andai bus jalan kita sudah bersuci. Setelah itu saya ke ke depan sambil mikir mau makan berat atau yang ringan saja. Satenya juga terlihat nikmat, tetapi bukan daging. Saya tak begitu minat dengan sate ayam ini. Dan akhirnya jatuh pilihan pada Indomie rebus saja. Cukuplah untuk menghangatkan perut. Sambil makan tak terasa waktu berjalan.



Selesai makan crew mempersilahkan kami untuk sholat subuh di sini saja. Sudah makin dekat waktunya. Saya segera menuju musholla tak perlu wudhu lagi. Pas adzan. Masih sempat sholat Sunnah. Alhamdulillah.


Adzan, iqomah serta imamnya orang yang sama. Anak muda, suaranya bagus, bacaan sholatnya juga mantap. Anak muda begini mah langka. Jauh lebih baik daripada orang tua yang suka nyindir orang dengan Nye Nye Nye... Yang keluar dari mulutnya adalah kebaikan, bukan sindiran ataupun usiran. Ha-ha-ha.


Dan ketika selesai sholat, ternyata sudah ada dua Miyor, satu Al Hijrah, satu Palala, satu lagi NPM dan satu Aerobus yang gagah. Salah satu bus yang menggunakan pemesanan tiketnya full melalui aplikasi. PO ini agak beda.


RM Simpang Raya termasuk rumah padang favorit bagi banyak armada bus saat ini. Dekat dengan exit tol Pijoan, masakannya enak dan WC serta musholla baru dan bersih.


Pangkalan Balai

Jum'at 31 Juli 2026

10.40 WIB

TAM (3) Gunung Medan

Ketika bus sampai di terminal Bareh Solok crew nya mempersilahkan penumpang untuk ke kamar mandi dan menunaikan sholat di area terminal. Suatu kelaziman dalam perjalanan bagi tiap-tiap PO Sumatra Barat dalam urusan ibadah ini. 


Tak berapa lama menjelang jam empat sore bus meninggalkan terminal. Empat sampai lima jam lagi menuju rehat berikutnya di RM Umega Gunung Medan. Untung nya tadi saya sempat beli nasi di sekitaran Indarung ketika bus berhenti dan saya lihat driver assisten turun untuk beliau nasi bungkus. Ikutan pula lah saya, insting saja. Dan ternyata insting saya benar. Jadwal makan malam masih lama. 


Perjalanan sore selama di Solok hingga ke Sijunjung akan menikmati alam yang indah. Balutan antara sawah, hutan dan bukit barisan. Sayang untuk ditinggal tidur.


Bus berhenti sebentar di pusat oleh oleh, sebagai syarat sebelum lanjutkan perjalanan. Namun tak ada penumpang yang turun, saya lihat. Hanya sesaat disini bus lanjutkan perjalanan. Mungkin para penumpang sudah lengkap segala oleh-oleh yang akan dibawa ke perantauan. 


Sama halnya dengan yang di Talang, sepanjang jalan menuju Dharmasraya ada beberapa titik pengecoran jalan. Pengecoran jalan yang cukup panjang dan menyebabkan antrian yang panjang dari kedua arah. Ini yang menyebabkan keterlambatan perjalanan bus Sumbar akhir-akhir ini. Terlambat sampai di ranah ataupun sampai di rantau.


Namun di setiap kemacetan, ada rezeki bagi masyarakat tempatan. Ibu ibu memanfaatkan suasana ini untuk berjualan. Seperti yang kami nikmati sore ini. Ada yang jualan dengan paket komplitnya, ada yang secukupnya saja. Dengan tentang keranjang ataupun gantungan. Satu paket nasi goreng, mie goreng dengan harga Rp 10.000,-. Gorengan dan onde-onde satu bundling, dua paket, seharga Rp 15.000,-. Ada juga yang jual pargedel jagung, kacang tojin dan tahu Sumedang nya.


Dan crew bus pun bersahabat dengan mereka. Saling pengertian. Dan ketika ada yang terjual, pedagang ini pun memberi beberapa paket buat crew bus. Simbiosis mutualisme kah? Entahlah. Yang jelas penumpang dalam kondisi begini juga terbantu. Litak litak dalam perjalanan pasti lah ada. Yang bawa anak-anak tentu senang. Balanjo di ateh bus. Candu jajan dapat. He-he-he 


Ketika lepas dari Sungai Lasi, saya berkabar ke sobat yang belum pernah bertatap muka selama ini. Sobat yang selalu berkabar kalo saya dalam perjalanan melewati Silungkang. Namanya Ipe Rasoki . Seorang youtuber yang selalu memantau dan melaporkan jika ada gangguan laka dalam perjalanan bus di sekitaran Silungkang, Sawahlunto dan Sijunjung. Tetapi setiap bus yang viral selalu tayang di FB beliau. Nah ketika di Sungai Lasi tadi saya kirim tulisan pertama saya dan ternyata quick respon. Beliau langsung tanya posisi saya.


Tak berapa lama bus TAM yang saya tumpangi beliau videokan dan di photo juga. Langsung kirim tak menunggu saya minta. Keren lah pokoknya. Moga dengan bang Ipe suatu waktu nanti saya bisa bertemu langsung. Moga dengan Terios nanti bisa mampir di tokonyo. Tokonya persis sama dengan namanya. Ipe Rosaki, yang berada di daerah kebun Jeruk Silungkang.


Sawah Lunto terlewati, masuk kabupaten Sijunjung sudah menjelang Maghrib. Tak banyak yang bisa dinikmati. Bus pun berjalan pelan. Tak bisa dipacu juga. Buka tutup jalan tetap terjadi.



Dan akhirnya baru sampai di RM Umega jam 20.50 WIB. Saya yang menahan pipis sedari tadi langsung turun, ke kamar mandi dan segera berwudhu setelah itu. Sholat jamak Maghrib dan Isya dulu. Sekali jalan.


Lepas itu langsung masuk ke dalam rumah makan. Bingung antara soto atau makan prasmanan. Akhirnya memilih prasmanan karena penasaran dengan rendangnya yang viral. Viral karena rendang di sini selalu jadi pilihan YouTube bisser mania. 


Dan ternyata emang benar. Rendangnya lembut, bumbunya tadi terambil banyak. Juga enak. Nasi putih dua "cup" cukup besar buat porsi saya. Sayurnya yang ada hanya lobak yang ditumis. Cocoklah itu. Dah itu saja yang saya makan, minumnya air mineral gelas yang tersedia di meja. Total nya Rp 38.000,-. Menggunakan voucher dengan memperlihatkan tiket online, saya hanya menambah Rp 13.000,- saja. Lainnya sudah dipotong otomatis dari bagian servis bus. Alhamdulillah.


Sholat sudah, makan sudah. Sejenak sebelum berangkat ambil gambar sejenak. Memanfaatkan waktu sebelum berangkat bus menuju Pijoan.


Sungai Lilin Palembang 

31 Juli 2026

08.40

Kamis, 30 Juli 2026

TAM (2): Menuju Solok

Meninggalkan kota Padang penuh dengan kepuasan, karena segala yang direncanakan berjalan sesuai harapan. Bahkan kadang ada hal yang di luar perkiraan. Jadwal yang padat, alhamdulillah terbantu dengan stamina yang prima.


Di dalam bus, siang ini mengingatkan kenangan puluhan tahun yang lalu ketika merantau ke Jakarta ataupun pasca pernikahan. Lain daripada itu, perjalanan menggunakan bus dari ranah Minang ini, semuanya di mulai dari kota Bukittinggi.


Banyak kenangan sepanjang jalan. Terutama ketika awal merantau setelah lulus sebagai sarjana Kimia Unand. Ke Jakarta waktu itu naik di jalan, di kawasan Semen Padang. Daerah Indarung. Naik bus ANS kelas ekonomi dengan harga tiket waktu itu Rp 25.000,-. Harga yng lazim waktu itu. Bus ekonomi dengan konfigurasi bangku 2-3.


Namun sekarang jalan yang ditempuh, masih sama, armada bus nya sudah jauh berubah. Mengikuti zamannya. Apalagi unit PO TAM dengan Grand Captain Seat ini, duduk di bagian depan, di atas posisi driver dan crew nya, memiliki pemandangan yang sangat luas. Sangat memanjakan mata. Tanpa penghalang.


Alam indah, suasana pegunungan dan perbukitan, jurang yang dalam tampak dengan jelasnya. Area pembangunan flyover Sitinjau Lauik termasuk yang jadi perhatian. Terbayang bagaimana ini nanti jadinya. Kemacetan ataupun kecelakaan yang sering terjadi selama ini, semoga akan berkurang 


Pembangunan itu berlanjut lagi, setelah sempat heboh dengan demo dari segelintir orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat setempat. Harapannya tak ada lagi demo yang demikian di ranah Minang. Semoga setiap persoalan bisa diselesaikan dengan damai tanpa menggangu pembangunan yang sedang berjalan.


Tanjakan Sitinjau Lauik, tikungannya yang viral sangat indah dinikmati dari atas bus dengan seat tinggi ini. Tak puas mata memandangnya.


Alam yang indah akan terpampang hingga masuk ke kabupaten dan kota Solok. Bagi yang hobby jalan-jalan seperti saya, Grand Captain nya TAM ini kayak dicoba. Kalo di PO Miyor, posisi ini disebut President Seat. Harganya sedikit lebih mahal daripada Grand Captain ini. Maklum secara keseluruhan class nya Miyor memang yang teratas 


Suasana yang dingin ketika memasuki kota Solok sempat membuat saya tertidur. Terbangun ketika ada macet panjang di sekitar daerah Talang. Ada pengecoran jalan. Buka tutup pun diberlakukan. Ini menjadi penyebab telat masuk ke terminal Bareh Solok.


Biasanya jam 12.00 - 14.00 bus Padang masuk TBS ini, tetapi kali ini kami sampai di terminal ini sekitar jam 15.30. Agennya PO TAM ini ada di pojok terminal menuju pintu keluar.


Alhamdulillah, waktu yang pas untuk melaksanakan sholat qashar Zuhur dan Ashar. Ada toilet dan musholla di seberang agen TAM ini. Toilet lumayan bersih dan musholla nya juga lumayan bersih dan wangi. Dua rakaat sholat Zuhur dan Ashar tak terasa tunai sudah. Ada kepuasan setelah menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya ini. Ada ketenangan tentunya.


Sambil menunggu penumpang yang naik di sini, saya sempat beliau dua potong nenas. Nenas buah yang sarat dengan vitamin C ini, sangat cocok bagi kita yang melakukan perjalanan jauh buat jaga stamina. Dua potong dengan harga Rp 4.000,-.


Dalam kemacetan di Sijunjung 

30 Juli 2026

19.00

TAM (1): Padang


Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua bersama TAM setelah akhir tahun lalu menikmatinya dengan jalur Tangerang Pekanbaru.


Ada bedanya dengan unit sebelumnya. Unit ke Sumatra Barat armada baru semuanya dengan seat andalannya adalah Grand Captain. Yakni dua seat yang posisinya berada pas di atas driver. Harga seat nya Rp 850.000,-. Seat yang menjadi incaran saya selama ini. Tidak semua armada bus Sumatra yang menggunakan dua seat seperti ini. Yang ada baru PO Al Hijrah dan Miyor, dengan nama yang berbeda. Selain seat yang ini, lainnya adalah executive class dengan leg rest. Harga tiketnya Rp 700.000,-.


Alhamdulillah, sebuah keberuntungan ketika membeli tiket melalui aplikasi Redbus beberapa hari sebelumnya, ketika masih di Pekanbaru. Satu seat Grand Captain yang tersisa, sementara satu seat nya sudah dipesan satu bulan sebelumnya oleh penumpang yang ada di samping saya.


Dan pagi ini, jam 7.30 saya sudah dijemput oleh Dinda Fajar Rusvan di penginapan di daerah Belanti Raya. Sudah dijanjikan tadi malam setelah meet up dengan kanda Hendra FJ, prof Aldri Gaul menjelang tengah malam, menjelang pergantian hari. Dan ternyata bro Kadir juga ngajak sarapan pagi. Jadilah kami sarapan bareng di VII Koto Talago Alai. Saya dan Fajar memilih nasi goreng dengan segelas teh Talua, sebagaimana hobby kami yang sama. Bro Kadir dengan nasi supnya, plus Buya  yang datang kemudian dengan sup tanpa nasi dan telor setengah matangnya. 


Obrolan ringan hingga yang berat mengalir begitu saja, sambil tertawa penuh keceriaan. Berempat kami berbeda jurusan dan kampus tapi terikat dalam satu himpunan, bisa cair dalam membahas apa saja. Yang berat jadi ringan. Yang kaku jadi cair. Itulah hebatnya anak anak himpunan ini. Anak-anak Hang Tuah 158. Dan di ujungnya, bro Kadir yang mentraktir sarapan pagi ini. Berkah silaturahmi.


Menjelang jam 10 kami berpisah, Fajar mengantar saya ke PO TAM. Tak berapa lama setelah itu, saya memastikan keberangkatan dengan melapor kepada agen yang ada. Fix berangkat, fix juga dengan Grand Captain Seat nya. Alhamdulillah. Dan Fajar pun melanjutkan aktivitasnya.


Sayang bus yang dijanjikan datang jam 11.00 terlambat datang karena terjebak antrian solar di SPBU Khatib Sulaiman setelah perjalanan dari Pariaman. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya. Tapi bagi saya, tak ada yang sia-sia. Saya bisa menikmati seporsi sate lokan tanpa ketupat dan bercengkrama dengan pedagangnya yang juga kocak. Setiap pagi dia dagang di agen PO TAM dan PO Epa Star ini. Orangnya supel, ceria. Banyak ketawa nya.


Ketika bus datang, koper saya masuk ke dalam bagasi bus, saya segera masuk dan duduk di seat yang saya idamkan. Menunggu bus jalan, meninggalkan kota Padang. 


Tuntas sudah segala amanah dan trip ke Sumatra kali ini. Kembali ke rantau dengan tugas lainnya.


Talang Solok

30 Juli 2026

15.00

Senior Tak Pernah Salah

Satu kebahagiaan ketika bertemu dengan Desi Eka Putri yang masih ingat dengan saya, sebagai seniornya dalam ujian doktoral kanda Hendra FJ kemarin di Gedung Farmasi Unand. Dan atas izinnya kami berkodak bersama, ditemani oleh kak Dewi Wuwuh S, istri da Hendra FJ.


Alhamdulillah nya Desi ini ingat akan hal-hal yang baik baik saja tentang saya. Terlepas itu karena bertatap muka langsung, tetapi itu sudah menjadikan saya bahagia. Tetapi saya juga langsung minta maaf jika ada yang salah dari saya selama ini. Terhadap dia, angkatannya Farmasi 95, ataupun secara luas kepada angkatan lainnya, selama saya berinteraksi sebagai senior yang melakukan pembinaan di awal perkuliahan mereka dulu, maupun ketika menjadi asisten Fisika Dasar ketika mereka mengambil matkul Praktikum Fisika Dasar selama dua semester.


Sekali lagi, tulisan ini saya peruntukan untuk semuanya adik adik kelas saya sejak tahun 1993-1997, selama saya berstatus mahasiswa. Saya takut sedikit dosa, kesalahan ataupun kekhilafan dulunya akan sangat berpengaruh nantinya di Yaumil Akhir. Di saat hisab di hadapan Allah SWT kelak. Saya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.


Mengapa???


Karena ketika jadi mahasiswa selalu ada dua pasal yang diterapkan kepada mahasiswa baru. Dan kedua pasal ini wajib hapal. Pasal tersebut adalah sebagai berikut:


1. Senior tidak pernah salah

2. Jika senior salah, lihat pasal satu.


Jujur, kemarin saya melihat dan mengingat ada kejanggalan dalam kedua pasal tersebut. Dulu bolehlah kita bangga dengan kedua pasal ini. Tetapi ketika sudah mulai senja usia, harusnya ini menjadi introspeksi bagi diri pribadi. 


Bisa jadi setiap kedongkolan, kekesalan junior dulunya masih ada sedikit dendam, ada hati yang terluka oleh ucapan, tindakan dan perbuatan kita, pasti akan Allah mintakan pertanggungjawabannya. Ketika diminta di Yaumil Akhir, pastilah berat. Makanya ketika masih hidup, minta maaflah.


Orang yang meminta maaf adalah mulia. Dan orang yang mau memberikan maaf lebih mulia. Sehingga yang meminta maaf dan yang memberi maaf, di mata Allah SWT sama sama orang yang MULIA.


Namun jika ada kebaikan yang tertanam selama pembinaan ataupun kebaikan di dalam praktikum Fisika Dasar semoga menjadi ladang amal bagi kita semuanya.


Terimakasih Desi, atas sapaan pagi kemarin kepada da Jeje, terhadap kenangan yang dulu ada saat awal perkuliahan Desi di tahun 1995. Atas pertemuan kemarin, lahirlah tulisan ini.


Semoga ini juga merupakan keberkahan bagi kita semua yang hadir dalam sidang doktoral kanda Hendra FJ kemarin. Merawat silaturahmi, merajut kebersamaan sesama alumni. 


Belanti Barat Padang

Kamis, 30 Juli 2026

07.24 WIB

Rabu, 22 Juli 2026

Jambi Pekanbaru

Meninggalkan kota Jambi sore itu di tengah sesaknya kendaraan di tengah kota memberi kesempatan bagi saya untuk mengingat kembali dimana posisi rumah senior da O, alumni farmasi Unand angkatan 83. Rasanya dulu pernah melewati daerah ini. Memori kembali berputar-putar kenangan sekitar 4 tahun yang lalu. Raso raso ka iyo, tapi indak Lo yakin. Begitulah, dan akhirnya bus masuk ke rute yang sepi ditingkahi hujan ringan yang turun sore itu.


Menyusuri kebon kebon sawit di sepanjang jalan. Kontur jalan up and down dan relatif lurus, agak berbeda bila kita dari kota Jambi ke Muaro Bungo yang penuh dengan tikungan-tikungan tajam. Sesekali macet terasa ketika di tanjakan mengiringi truk truk berat yang nafasnya ngos-ngosan menanjak.


Tak lama berselang, bus mampir ketika menjelang adzan isya di sebuah mesjid di pinggir jalan. Mesjid pertama yang terlihat setelah adzan Maghrib. Mesjid yang tak terlalu besar di sebelah kiri jalan, namun terlihat bersih, penuh cahaya yang terang benderang di tengah kegelapan di hamparan hutan.


Segera penumpang turun, untuk sekedar buang air dan sebagian besar berwudhu menunaikan kewajiban sholat Maghrib dan Isya. Selesai berwudhu saya langsung ke dalam mesjid, dan ternyata semburan AC nya sangat dingin. Lebih dingin daripada AC yang ada di dalam bus. Wow keren, kata saya. Bahkan ketika sholat saya sempat menggigil, bahkan bergetar hebat hampir dua rakaat pertama di sholat Maghrib tersebut. Hembusan angin AC langsung menerpa tubuh yang masih basah oleh bekas wudhu.


Selesai sholat Maghrib lanjut ke isya, saya pindah tempat. Menghindari AC yang langsung ke tubuh. Dua rakaat sholat isya yang di-qashar, segera tuntas. Zikir sejenak dan kembali ke luar mesjid. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus. Lega, ketika kewajiban sudah dilaksanakan. Alhamdulillah, bus berhenti pada saat yang tepat. Saat sebagian penumpang nya butuh menunaikan kewajibannya kepada Khaliq-nya.


Pas adzan isya mulai berkumandang bus pun bergerak menuju perbatasan Jambi dan Riau. Saya pun terlelap kembali.


Bangun bangun ketika bus berhenti di RM Bintang Raya. Nah ini baru rumah makan yang bersih yang ada sepanjang lintasan Lampung Pekanbaru yang saya temui selama ini. Rumah makannya bersih, lauknya banyak pilihan, harganya pun relatif murah. Dan yang penting kamar mandinya bersih banget. Airnya bening.


Nasinya diambilkan oleh pelayan yang bertugas, sementara lauknya kita ambil sendiri yang ada di etalase besarnya. Banyak pilihan dan tidak pelit untuk mengambil bumbu ataupun kuah yang kita inginkan. Harganya pun jelas terpampang di banner yang ada, di dalam rumah makan tersebut. Selintas terlihat untuk ukuran SOP daging hanya Rp 35.000. Jika dibandingkan di salah satu rumah makan di kisaran Palembang tarif dengan menu yang sama sudah di angka Rp 60.000.


Lauk yang saya ambil ayam goreng, yang ukurannya besar, kuah gulai ayam, bumbu rendang dan serundeng serta sayur daun singkong. Dan minumannya segelas teh susu. Total harganya hanya Rp 40.000 sudah berikut dengan sepiring nasi "tambuah" nya.


Dan ketika membayar, obrolan ringan dengan sang kasir yang juga tadi turun membantu pelanggan yang banyak, ternyata dia asli orang Batusangkar. Urang Dobok, Piliang. Rumahnya di belakang panti Asuhan Ade Irma Suryani, dekat simpang Pincuran Tujuh Batusangkar.


Alhamdulillah, hampir semua penumpang memuji rumah makan ini. Rumah makan terbaiklah di sepanjang lintas Timur Sumatra.


Pekanbaru masih jauh. Talago Lambuang di Sorek sebagai rumah makan yang wajib disinggahi PO NPM pun masih jauh. Pilihan tepat untuk makan malam di rumah makan Bintang Raya tersebut. 


Menjelang jam 10 malam bus bergerak kembali ke trek lintas Timur menuju Pekanbaru. Sebagian besar penumpang pun kembali tidur. Perut kenyang, alunan tembang jadul karya Pance Pondaag era 80-an sebagai tembang pengantarnya.


Bangun bangun sudah di RM Talago Lambuang daerah Sorek. Bus hanya sekedar mampir. Sebagian penumpang ke kamar mandi. Hanya seorang penumpang yang makan di sini. Mungkin tadi yang naik di jalan. 


Halamannya luas, kapasitas ruang makannya besar. Hanya satu yang menjadi catatan di sini adalah kamar mandinya yang perlu diperhatikan. Kalo untuk menu makanan saya tidak bisa memberi testimoni karena memang tidak makan di sini.


Dua setengah jam lagi menuju kota Pekanbaru dari rumah makan ini. Bus bergerak kembali. Insyaallah menjelang subuh nanti kami bisa sampai di Kota Bertuah. Doakan ya, selamat sampai di tujuan.


Pangkalan kerinci 

22 Juli 2026

03.15 WIB

Selasa, 21 Juli 2026

Betung Jambi

Setelah sarapan menjelang pertigaan simpang Betung, jalan relatif lancar. Sesekali di beberapa titik dalam perjalanan, "rinai" pun turun. Hal yang sangat dirindukan selama ini. Hujan yang sangat jarang di Jakarta.


Suasana adem dalam perjalanan pagi itu, membuat mata agak berat. Beberapa kali tertidur dan terbangun. 


Dan sejauh itu perjalanan dari Jawa, baru pertama terlihat kecelakaan yang menimpa sebuah truk. Bagian depannya lumayan hancur. Ini juga yang menyebabkan macet yang lumayan panjang tadinya. Bergantian buka tutup jalan. Macet dari dua arah, menuju Jambi dan menuju Palembang. Dua kali sesudah itu truk cold diesel, "rabah" di kiri dan kanan jalan dalam jarak yang lumayan. Tidak berdekatan. Memanglah dalam perjalanan itu perlu kehati-hatian dan doa agar terhindar dari musibah kecelakaan.


NPM yang kami tumpangi tidak masuk ke jalur tol Bayung Lencir Pijoan. Mereka menuju rumah makan kedua, yakni  RM Wisata Minang. Masih satu grup dengan yang di Kalianda Lampung.


Menjelang turun dari bus, telpon masuk dari Hendra Sutra, sohib yang ada di Duri. Sambil menuju ke kamar mandi dan berwudhu komunikasi tetap jalan meski menggunakan speaker. Namun ketika akan sholat jamak qashar, terpaksa dihentikan dahulu obrolan kami ini. Tetapi inti dari pembicaraan sudah kami dapatkan bersama.


Selesai sholat, segera kembali ke rumah makan untuk memberi nutrisi tubuh. Seporsi nasi yang ditakar oleh pelayan rumah makan, saya lanjut ambil sepotong ayam gulai yang menarik. Soto tak menjadi pilihan. Begitu juga dengan asam padeh ikan ataupun gulai ikannya. Sayurnya habis. Hanya ditambah cabe ijau sekedarnya saja.


Sambil makan, saya lanjutkan berkomunikasi dengan da Nisfwan Guchiano. Tadi sempat masuk panggilan dari beliau setelah obrolan dengan Hendra selesai. Ternyata ada pesan WA yang masuk dari Mamak ini yang perlu direspon segera. Ada undangan acara Jumat malam di sebuah hotel di Pekanbaru. Insyaallah kami berdua akan menyempatkan juga untuk hadir. Acara Unand dengan DPP IKA Unand. Undangan terbatas.


Selesai makan, selesai pula obrolan dengan Mamak ini. Dan saya segera menyelesaikan pembayaran atas makan dan minum yang dinikmati. Nasi dengan da ayam gulai plus segelas es teh manis totalnya Rp 45.000,-. Digenapi 50.000 dengan menambah satu botol air mineral 600ml. Komplit lah sudah, nutrisi siang itu. Ayam gulainya enak.


Tak berapa lama kemudian bus melanjutkan perjalanan ke kota Jambi. Agak tersendat karena jalan mulai rame memasuki pusat kota. Ada penumpang turun dan naik di terminal Alang Barajo, kota Jambi. 


Begitu juga da seorang Ibu yang naik menjual dagangannya. Saya beli sekotak dadar gulung seharga 10.000 dan dua kotak lainnya untuk driver dan kru yang ada di depan. Hitung-hitung untuk menolong si ibu tersebut atas usahanya mencari nafkah buat keluarga. Dadar gulungnya enaknya juga. Tak terlalu manis.


Merlung 

21 Juli 2026

19.17 WIB

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...