Kamis, 30 Juli 2026

TAM (2): Menuju Solok

Meninggalkan kota Padang penuh dengan kepuasan, karena segala yang direncanakan berjalan sesuai harapan. Bahkan kadang ada hal yang di luar perkiraan. Jadwal yang padat, alhamdulillah terbantu dengan stamina yang prima.


Di dalam bus, siang ini mengingatkan kenangan puluhan tahun yang lalu ketika merantau ke Jakarta ataupun pasca pernikahan. Lain daripada itu, perjalanan menggunakan bus dari ranah Minang ini, semuanya di mulai dari kota Bukittinggi.


Banyak kenangan sepanjang jalan. Terutama ketika awal merantau setelah lulus sebagai sarjana Kimia Unand. Ke Jakarta waktu itu naik di jalan, di kawasan Semen Padang. Daerah Indarung. Naik bus ANS kelas ekonomi dengan harga tiket waktu itu Rp 25.000,-. Harga yng lazim waktu itu. Bus ekonomi dengan konfigurasi bangku 2-3.


Namun sekarang jalan yang ditempuh, masih sama, armada bus nya sudah jauh berubah. Mengikuti zamannya. Apalagi unit PO TAM dengan Grand Captain Seat ini, duduk di bagian depan, di atas posisi driver dan crew nya, memiliki pemandangan yang sangat luas. Sangat memanjakan mata. Tanpa penghalang.


Alam indah, suasana pegunungan dan perbukitan, jurang yang dalam tampak dengan jelasnya. Area pembangunan flyover Sitinjau Lauik termasuk yang jadi perhatian. Terbayang bagaimana ini nanti jadinya. Kemacetan ataupun kecelakaan yang sering terjadi selama ini, semoga akan berkurang 


Pembangunan itu berlanjut lagi, setelah sempat heboh dengan demo dari segelintir orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat setempat. Harapannya tak ada lagi demo yang demikian di ranah Minang. Semoga setiap persoalan bisa diselesaikan dengan damai tanpa menggangu pembangunan yang sedang berjalan.


Tanjakan Sitinjau Lauik, tikungannya yang viral sangat indah dinikmati dari atas bus dengan seat tinggi ini. Tak puas mata memandangnya.


Alam yang indah akan terpampang hingga masuk ke kabupaten dan kota Solok. Bagi yang hobby jalan-jalan seperti saya, Grand Captain nya TAM ini kayak dicoba. Kalo di PO Miyor, posisi ini disebut President Seat. Harganya sedikit lebih mahal daripada Grand Captain ini. Maklum secara keseluruhan class nya Miyor memang yang teratas 


Suasana yang dingin ketika memasuki kota Solok sempat membuat saya tertidur. Terbangun ketika ada macet panjang di sekitar daerah Talang. Ada pengecoran jalan. Buka tutup pun diberlakukan. Ini menjadi penyebab telat masuk ke terminal Bareh Solok.


Biasanya jam 12.00 - 14.00 bus Padang masuk TBS ini, tetapi kali ini kami sampai di terminal ini sekitar jam 15.30. Agennya PO TAM ini ada di pojok terminal menuju pintu keluar.


Alhamdulillah, waktu yang pas untuk melaksanakan sholat qashar Zuhur dan Ashar. Ada toilet dan musholla di seberang agen TAM ini. Toilet lumayan bersih dan musholla nya juga lumayan bersih dan wangi. Dua rakaat sholat Zuhur dan Ashar tak terasa tunai sudah. Ada kepuasan setelah menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya ini. Ada ketenangan tentunya.


Sambil menunggu penumpang yang naik di sini, saya sempat beliau dua potong nenas. Nenas buah yang sarat dengan vitamin C ini, sangat cocok bagi kita yang melakukan perjalanan jauh buat jaga stamina. Dua potong dengan harga Rp 4.000,-.


Dalam kemacetan di Sijunjung 

30 Juli 2026

19.00

TAM (1): Padang


Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua bersama TAM setelah akhir tahun lalu menikmatinya dengan jalur Tangerang Pekanbaru.


Ada bedanya dengan unit sebelumnya. Unit ke Sumatra Barat armada baru semuanya dengan seat andalannya adalah Grand Captain. Yakni dua seat yang posisinya berada pas di atas driver. Harga seat nya Rp 850.000,-. Seat yang menjadi incaran saya selama ini. Tidak semua armada bus Sumatra yang menggunakan dua seat seperti ini. Yang ada baru PO Al Hijrah dan Miyor, dengan nama yang berbeda. Selain seat yang ini, lainnya adalah executive class dengan leg rest. Harga tiketnya Rp 700.000,-.


Alhamdulillah, sebuah keberuntungan ketika membeli tiket melalui aplikasi Redbus beberapa hari sebelumnya, ketika masih di Pekanbaru. Satu seat Grand Captain yang tersisa, sementara satu seat nya sudah dipesan satu bulan sebelumnya oleh penumpang yang ada di samping saya.


Dan pagi ini, jam 7.30 saya sudah dijemput oleh Dinda Fajar Rusvan di penginapan di daerah Belanti Raya. Sudah dijanjikan tadi malam setelah meet up dengan kanda Hendra FJ, prof Aldri Gaul menjelang tengah malam, menjelang pergantian hari. Dan ternyata bro Kadir juga ngajak sarapan pagi. Jadilah kami sarapan bareng di VII Koto Talago Alai. Saya dan Fajar memilih nasi goreng dengan segelas teh Talua, sebagaimana hobby kami yang sama. Bro Kadir dengan nasi supnya, plus Buya  yang datang kemudian dengan sup tanpa nasi dan telor setengah matangnya. 


Obrolan ringan hingga yang berat mengalir begitu saja, sambil tertawa penuh keceriaan. Berempat kami berbeda jurusan dan kampus tapi terikat dalam satu himpunan, bisa cair dalam membahas apa saja. Yang berat jadi ringan. Yang kaku jadi cair. Itulah hebatnya anak anak himpunan ini. Anak-anak Hang Tuah 158. Dan di ujungnya, bro Kadir yang mentraktir sarapan pagi ini. Berkah silaturahmi.


Menjelang jam 10 kami berpisah, Fajar mengantar saya ke PO TAM. Tak berapa lama setelah itu, saya memastikan keberangkatan dengan melapor kepada agen yang ada. Fix berangkat, fix juga dengan Grand Captain Seat nya. Alhamdulillah. Dan Fajar pun melanjutkan aktivitasnya.


Sayang bus yang dijanjikan datang jam 11.00 terlambat datang karena terjebak antrian solar di SPBU Khatib Sulaiman setelah perjalanan dari Pariaman. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya. Tapi bagi saya, tak ada yang sia-sia. Saya bisa menikmati seporsi sate lokan tanpa ketupat dan bercengkrama dengan pedagangnya yang juga kocak. Setiap pagi dia dagang di agen PO TAM dan PO Epa Star ini. Orangnya supel, ceria. Banyak ketawa nya.


Ketika bus datang, koper saya masuk ke dalam bagasi bus, saya segera masuk dan duduk di seat yang saya idamkan. Menunggu bus jalan, meninggalkan kota Padang. 


Tuntas sudah segala amanah dan trip ke Sumatra kali ini. Kembali ke rantau dengan tugas lainnya.


Talang Solok

30 Juli 2026

15.00

Senior Tak Pernah Salah

Satu kebahagiaan ketika bertemu dengan Desi Eka Putri yang masih ingat dengan saya, sebagai seniornya dalam ujian doktoral kanda Hendra FJ kemarin di Gedung Farmasi Unand. Dan atas izinnya kami berkodak bersama, ditemani oleh kak Dewi Wuwuh S, istri da Hendra FJ.


Alhamdulillah nya Desi ini ingat akan hal-hal yang baik baik saja tentang saya. Terlepas itu karena bertatap muka langsung, tetapi itu sudah menjadikan saya bahagia. Tetapi saya juga langsung minta maaf jika ada yang salah dari saya selama ini. Terhadap dia, angkatannya Farmasi 95, ataupun secara luas kepada angkatan lainnya, selama saya berinteraksi sebagai senior yang melakukan pembinaan di awal perkuliahan mereka dulu, maupun ketika menjadi asisten Fisika Dasar ketika mereka mengambil matkul Praktikum Fisika Dasar selama dua semester.


Sekali lagi, tulisan ini saya peruntukan untuk semuanya adik adik kelas saya sejak tahun 1993-1997, selama saya berstatus mahasiswa. Saya takut sedikit dosa, kesalahan ataupun kekhilafan dulunya akan sangat berpengaruh nantinya di Yaumil Akhir. Di saat hisab di hadapan Allah SWT kelak. Saya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.


Mengapa???


Karena ketika jadi mahasiswa selalu ada dua pasal yang diterapkan kepada mahasiswa baru. Dan kedua pasal ini wajib hapal. Pasal tersebut adalah sebagai berikut:


1. Senior tidak pernah salah

2. Jika senior salah, lihat pasal satu.


Jujur, kemarin saya melihat dan mengingat ada kejanggalan dalam kedua pasal tersebut. Dulu bolehlah kita bangga dengan kedua pasal ini. Tetapi ketika sudah mulai senja usia, harusnya ini menjadi introspeksi bagi diri pribadi. 


Bisa jadi setiap kedongkolan, kekesalan junior dulunya masih ada sedikit dendam, ada hati yang terluka oleh ucapan, tindakan dan perbuatan kita, pasti akan Allah mintakan pertanggungjawabannya. Ketika diminta di Yaumil Akhir, pastilah berat. Makanya ketika masih hidup, minta maaflah.


Orang yang meminta maaf adalah mulia. Dan orang yang mau memberikan maaf lebih mulia. Sehingga yang meminta maaf dan yang memberi maaf, di mata Allah SWT sama sama orang yang MULIA.


Namun jika ada kebaikan yang tertanam selama pembinaan ataupun kebaikan di dalam praktikum Fisika Dasar semoga menjadi ladang amal bagi kita semuanya.


Terimakasih Desi, atas sapaan pagi kemarin kepada da Jeje, terhadap kenangan yang dulu ada saat awal perkuliahan Desi di tahun 1995. Atas pertemuan kemarin, lahirlah tulisan ini.


Semoga ini juga merupakan keberkahan bagi kita semua yang hadir dalam sidang doktoral kanda Hendra FJ kemarin. Merawat silaturahmi, merajut kebersamaan sesama alumni. 


Belanti Barat Padang

Kamis, 30 Juli 2026

07.24 WIB

Rabu, 22 Juli 2026

Jambi Pekanbaru

Meninggalkan kota Jambi sore itu di tengah sesaknya kendaraan di tengah kota memberi kesempatan bagi saya untuk mengingat kembali dimana posisi rumah senior da O, alumni farmasi Unand angkatan 83. Rasanya dulu pernah melewati daerah ini. Memori kembali berputar-putar kenangan sekitar 4 tahun yang lalu. Raso raso ka iyo, tapi indak Lo yakin. Begitulah, dan akhirnya bus masuk ke rute yang sepi ditingkahi hujan ringan yang turun sore itu.


Menyusuri kebon kebon sawit di sepanjang jalan. Kontur jalan up and down dan relatif lurus, agak berbeda bila kita dari kota Jambi ke Muaro Bungo yang penuh dengan tikungan-tikungan tajam. Sesekali macet terasa ketika di tanjakan mengiringi truk truk berat yang nafasnya ngos-ngosan menanjak.


Tak lama berselang, bus mampir ketika menjelang adzan isya di sebuah mesjid di pinggir jalan. Mesjid pertama yang terlihat setelah adzan Maghrib. Mesjid yang tak terlalu besar di sebelah kiri jalan, namun terlihat bersih, penuh cahaya yang terang benderang di tengah kegelapan di hamparan hutan.


Segera penumpang turun, untuk sekedar buang air dan sebagian besar berwudhu menunaikan kewajiban sholat Maghrib dan Isya. Selesai berwudhu saya langsung ke dalam mesjid, dan ternyata semburan AC nya sangat dingin. Lebih dingin daripada AC yang ada di dalam bus. Wow keren, kata saya. Bahkan ketika sholat saya sempat menggigil, bahkan bergetar hebat hampir dua rakaat pertama di sholat Maghrib tersebut. Hembusan angin AC langsung menerpa tubuh yang masih basah oleh bekas wudhu.


Selesai sholat Maghrib lanjut ke isya, saya pindah tempat. Menghindari AC yang langsung ke tubuh. Dua rakaat sholat isya yang di-qashar, segera tuntas. Zikir sejenak dan kembali ke luar mesjid. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus. Lega, ketika kewajiban sudah dilaksanakan. Alhamdulillah, bus berhenti pada saat yang tepat. Saat sebagian penumpang nya butuh menunaikan kewajibannya kepada Khaliq-nya.


Pas adzan isya mulai berkumandang bus pun bergerak menuju perbatasan Jambi dan Riau. Saya pun terlelap kembali.


Bangun bangun ketika bus berhenti di RM Bintang Raya. Nah ini baru rumah makan yang bersih yang ada sepanjang lintasan Lampung Pekanbaru yang saya temui selama ini. Rumah makannya bersih, lauknya banyak pilihan, harganya pun relatif murah. Dan yang penting kamar mandinya bersih banget. Airnya bening.


Nasinya diambilkan oleh pelayan yang bertugas, sementara lauknya kita ambil sendiri yang ada di etalase besarnya. Banyak pilihan dan tidak pelit untuk mengambil bumbu ataupun kuah yang kita inginkan. Harganya pun jelas terpampang di banner yang ada, di dalam rumah makan tersebut. Selintas terlihat untuk ukuran SOP daging hanya Rp 35.000. Jika dibandingkan di salah satu rumah makan di kisaran Palembang tarif dengan menu yang sama sudah di angka Rp 60.000.


Lauk yang saya ambil ayam goreng, yang ukurannya besar, kuah gulai ayam, bumbu rendang dan serundeng serta sayur daun singkong. Dan minumannya segelas teh susu. Total harganya hanya Rp 40.000 sudah berikut dengan sepiring nasi "tambuah" nya.


Dan ketika membayar, obrolan ringan dengan sang kasir yang juga tadi turun membantu pelanggan yang banyak, ternyata dia asli orang Batusangkar. Urang Dobok, Piliang. Rumahnya di belakang panti Asuhan Ade Irma Suryani, dekat simpang Pincuran Tujuh Batusangkar.


Alhamdulillah, hampir semua penumpang memuji rumah makan ini. Rumah makan terbaiklah di sepanjang lintas Timur Sumatra.


Pekanbaru masih jauh. Talago Lambuang di Sorek sebagai rumah makan yang wajib disinggahi PO NPM pun masih jauh. Pilihan tepat untuk makan malam di rumah makan Bintang Raya tersebut. 


Menjelang jam 10 malam bus bergerak kembali ke trek lintas Timur menuju Pekanbaru. Sebagian besar penumpang pun kembali tidur. Perut kenyang, alunan tembang jadul karya Pance Pondaag era 80-an sebagai tembang pengantarnya.


Bangun bangun sudah di RM Talago Lambuang daerah Sorek. Bus hanya sekedar mampir. Sebagian penumpang ke kamar mandi. Hanya seorang penumpang yang makan di sini. Mungkin tadi yang naik di jalan. 


Halamannya luas, kapasitas ruang makannya besar. Hanya satu yang menjadi catatan di sini adalah kamar mandinya yang perlu diperhatikan. Kalo untuk menu makanan saya tidak bisa memberi testimoni karena memang tidak makan di sini.


Dua setengah jam lagi menuju kota Pekanbaru dari rumah makan ini. Bus bergerak kembali. Insyaallah menjelang subuh nanti kami bisa sampai di Kota Bertuah. Doakan ya, selamat sampai di tujuan.


Pangkalan kerinci 

22 Juli 2026

03.15 WIB

Selasa, 21 Juli 2026

Betung Jambi

Setelah sarapan menjelang pertigaan simpang Betung, jalan relatif lancar. Sesekali di beberapa titik dalam perjalanan, "rinai" pun turun. Hal yang sangat dirindukan selama ini. Hujan yang sangat jarang di Jakarta.


Suasana adem dalam perjalanan pagi itu, membuat mata agak berat. Beberapa kali tertidur dan terbangun. 


Dan sejauh itu perjalanan dari Jawa, baru pertama terlihat kecelakaan yang menimpa sebuah truk. Bagian depannya lumayan hancur. Ini juga yang menyebabkan macet yang lumayan panjang tadinya. Bergantian buka tutup jalan. Macet dari dua arah, menuju Jambi dan menuju Palembang. Dua kali sesudah itu truk cold diesel, "rabah" di kiri dan kanan jalan dalam jarak yang lumayan. Tidak berdekatan. Memanglah dalam perjalanan itu perlu kehati-hatian dan doa agar terhindar dari musibah kecelakaan.


NPM yang kami tumpangi tidak masuk ke jalur tol Bayung Lencir Pijoan. Mereka menuju rumah makan kedua, yakni  RM Wisata Minang. Masih satu grup dengan yang di Kalianda Lampung.


Menjelang turun dari bus, telpon masuk dari Hendra Sutra, sohib yang ada di Duri. Sambil menuju ke kamar mandi dan berwudhu komunikasi tetap jalan meski menggunakan speaker. Namun ketika akan sholat jamak qashar, terpaksa dihentikan dahulu obrolan kami ini. Tetapi inti dari pembicaraan sudah kami dapatkan bersama.


Selesai sholat, segera kembali ke rumah makan untuk memberi nutrisi tubuh. Seporsi nasi yang ditakar oleh pelayan rumah makan, saya lanjut ambil sepotong ayam gulai yang menarik. Soto tak menjadi pilihan. Begitu juga dengan asam padeh ikan ataupun gulai ikannya. Sayurnya habis. Hanya ditambah cabe ijau sekedarnya saja.


Sambil makan, saya lanjutkan berkomunikasi dengan da Nisfwan Guchiano. Tadi sempat masuk panggilan dari beliau setelah obrolan dengan Hendra selesai. Ternyata ada pesan WA yang masuk dari Mamak ini yang perlu direspon segera. Ada undangan acara Jumat malam di sebuah hotel di Pekanbaru. Insyaallah kami berdua akan menyempatkan juga untuk hadir. Acara Unand dengan DPP IKA Unand. Undangan terbatas.


Selesai makan, selesai pula obrolan dengan Mamak ini. Dan saya segera menyelesaikan pembayaran atas makan dan minum yang dinikmati. Nasi dengan da ayam gulai plus segelas es teh manis totalnya Rp 45.000,-. Digenapi 50.000 dengan menambah satu botol air mineral 600ml. Komplit lah sudah, nutrisi siang itu. Ayam gulainya enak.


Tak berapa lama kemudian bus melanjutkan perjalanan ke kota Jambi. Agak tersendat karena jalan mulai rame memasuki pusat kota. Ada penumpang turun dan naik di terminal Alang Barajo, kota Jambi. 


Begitu juga da seorang Ibu yang naik menjual dagangannya. Saya beli sekotak dadar gulung seharga 10.000 dan dua kotak lainnya untuk driver dan kru yang ada di depan. Hitung-hitung untuk menolong si ibu tersebut atas usahanya mencari nafkah buat keluarga. Dadar gulungnya enaknya juga. Tak terlalu manis.


Merlung 

21 Juli 2026

19.17 WIB

"Landing" di Pulau Andalas

Setelah ada informasi bahwa kapal akan "mendarat" di Bakauheni semua penumpang yang ada di kapal Jatra III ini bersegera balik ke kendaraan nya masing-masing. Memang tak banyak penumpang bus malam ini. Tidak berdesakan seperti biasanya yang saya alami selama ini di setiap kapal di lintas Jawa dan Sumatra ini. Sepi.


Namun ketika kembali ke dalam bus mestilah hati-hati juga. Apalagi ketika melihat genangan air yang ada di sepanjang jalur yang dilalui. Kadang ada saja aliran "urine" dari bus, yang nanti bisa mengotori pakaian yang kita gunakan. Saya sangat hati-hati dalam hal ini. Meskipun sudah ada larangan menggunakan toilet di mibil yang berhenti, tetapi tetap ada aja yang nggak mau tahu. Kebelet atau "tasasak" lah alasannya.


Menunggu antrian kendaraan untuk keluar dari lambung kapal, saya tertidur. Baru tersadar ketika bus sudah keluar dari tol, menuju rumah makan Wisata Minang yang ada di Kalianda. Istirahat pertama nya di sini.


Dan di RM Wisata Minang ini adalah tempat penukaran voucher makan dari setiap penumpang PO NPM ini. Dengan voucher yang ada, penumpang tinggal makan, dengan pilihan menu yang sudah disediakan. Nasinya boleh ambil bebas. Minumnya pun tinggal pilih air putih atau teh hangat.


Saya yang masih kenyang, tak mau juga memaksakan makan. Maklum sudah hampir tengah malam. Akhirnya saya memilih menukarkan voucher ini dengan roti yang ada. Daripada hangus dan roti itupun harganya Rp. 30.000 dan hanya harus nambah Rp. 5.000 Sambil menunggu waktu, saya juga pesan segelas kopi susu. Sudah lama nggak minum kopi susu urang awak ini. Segelas harganya Rp 13.000,. Menikmatinya sambil sesekali dicelupin sedikit demi sedikit potongan roti yang tadi dibeli. 


Jam 00.05 bus kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu tol dan tak lama berselang saya pun tertidur. Bangun bangun sudah di KM 340 menuju pintu keluar di Kramasan. Qadarullah ketika terbangun, HP saya terjatuh di sisi kiri sebelah jendela. Bingung juga bagaimana mengambilnya. Celahnya sangat sempit. Di kanan saya, si Albert masih tidur. Di bagian belakang dua penumpangnya juga nyenyak tidurnya. Mau minta tolong, nggak enak hati juga. Penumpang umumnya pada tidur. Hanya satu dua orang yang masih pegang HP nya mencari berita atau hanya sekedar scroll-an.


HP berbunyi karena stelan ya begitu. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 5. Akhirnya dengan segala cara, berhasil juga dijangkau. Ditarik dengan jari tengah dan telunjuk, diangkat perlahan dan diambil lagi dengan tangan kiri. Alhamdulillah akhirnya berhasil juga.


Dan tak lama kemudian keluar dari tol Kramasan, mampir sejenak di loket PO NPM. Ada satu penumpang dengan no seat 30 yang dalam perjalanan ke loket hendak ke Pekanbaru. Bus ini emang full. Banyak yang turun sekedar buang air di loket ini. 


Setelah penumpang tersebut datang, bus juga bergerak kembali menuju mesjid terdekat untuk memberi kesempatan bagi penumpangnya menunaikan sholat subuh. Sesuai khasnya bus ranah Minang, memberikan kesempatan bagi penumpang untuk melaksanakan sholat subuh atau Maghrib dengan mampir di mesjid terdekat yang dilaluinya.


Tak lama kemudian bus jalan lagi. Ngantuk masih terasa. Tidur lagi. Masuk jalan Pemda Banyuasin saya terbangun, hingga akhirnya mampir sejenak untuk sarapan pagi di Betung.


Awalnya agak macet juga, supir bis mengambil inisiatif mampir di lokasi yang pada bulan ramadhan lalu saya singgahi bersama keluarga menjelang subuh. Tempat yang sama, cuma suasananya saja yang berbeda. Dulu rame sekali di sini walaupun jam tiga dinihari. Macet parah menjelang simpang Betung. Banyak kendaraan pribadi yang parkir di sini, suasana hujan pula. 


Dan lagi tadi saya pesan Intel dan teh telor. Total dua mami ini, makanan dan minuman, hanya Rp 26.000-' saja. Murah banget. Tiga belas ribu rupiah masing-masing nya.


Hampir semua penumpang sarapan di sini. Ada juga yang cuci muka dan gosok gigi. Sayang saya lupa untuk hal begini. Biasanya istri yang suka ngingatin setiap pagi jika dalam perjalanan seperti ini. Pagi ini, lali aku.


Sei Lilin

Selasa 21 Juli 2026

10.48 WIB

Menyeberang Selat Sunda

Memang beda rasanya dalam perjalanan malam bersama bus ini. Bisa menulis. Bisa menikmati pemandangan yang ada. Lebih menikmati perjalanan ketimbang mengendarai kendaraan sendiri. Saat ini lebih santuy. Dalam kegelapan malam, menikmati lampu lampu dari kejauhan selama perjalanan hingga masuk pelabuhan, pesonanya beda. Kepengen memotret, tetapi hasilnya nggak maksimal, apalagi terhalang oleh kaca atau jendela bus. Kena pantulan cahaya.


Kondisi ini juga membawa nuansa ke tahun 90-an, ketika naik bus. Meskipun bus nya belum senyaman sekarang ini. Ketika tol belum ada. Masuk pelabuhan menjelang malam, menyeberangi selat Sunda hingga rehat pertama di rumah makan di Bagadang V ataupun di sekitarannya, sepanjang Kalianda menuju Bandar Lampung, sudah tengah malam. Meskipun waktu itu berangkat dari terminal rawamangun siang juga, sampai di pelabuhan Merak nya malam juga. Kondisi itu saya alami malam ini. Dejavu.


Sebelum masuk pelabuhan bus berhenti sejenak, kru dan beberapa penumpang turun membeli nasi bungkus. Dan ketika masuk pelabuhan Merak, di dermaga executive kami harus menunggu kapal berikutnya. Kapal yang yang ada sudah mau lepas jangkar. Dan kami di urutan pertama untuk type bus yang akan menyeberang, ada 3 engkel kecil di samping NPM yang kami tumpangi.


Turun dari bus adalah kenikmatan tersendiri. Menikmati kapal yang menjauh dan yang mau merapat ke dermaga. Begitu juga dengan angin dingin yang berembus, pelan-pelan menusuk tulang. Tetapi ombak cukup tenang, setenang hati ini untuk menapak ke Sumatra, penuh keyakinan.


Pop mie adalah pilihan pertama penghangat tenggorokan. Harganya hanya 10.000 rupiah saja. Naik 5.000 ketika kita belanja di kapal saat menyebrangi selat Sunda. Lumayan lah bedanya. Bagi yang berhemat, seperti saya, pilihan beli tetap di dermaga. 


Setelah bongkaran dari lambung kapal Jatra 3 selesai, perlahan kendaraan bergantian masuk ke dalam kapal yang akan kembali ke selat Sunda. Satu per satu masuk, tak ada antrian yang panjang terlihat di belakang. Suasana adem, membuat para supir santuy. Begitu juga dengan petugas kapal dan ASDP tenang mereka bekerja. 


Area pertama yang saya cari setelah sampai di kapal adalah tempat yang nyaman untuk makan malam. Menghabiskan nasi bungkus yang tadi dibeli sebelum menyebrang. Harga 25.000 sebungkus dengan lauknya gulai ikan dan satu pergedel. Lumayanlah. Makan kenyang dengan harga standar. Alhamdulillah dapat suasana yang relatif sepi, sofa sofa nyaman banyak yang kosong di dek 2 nya. Saya langsung makan, karena memang sudah lapar juga. Sayang kuah gulainya agak kurang sehingga nasinya terasa agak keras meskipun masih hangat. Dedak rendang lupa pula kita mintakan. Kalo tidak, wow nikmatlah pastinya.


Dan di dermaga tadi, juga ada juga yang dagang nasi uduk dengan harganya 13.000 rupiah saja sebungkus. Pedagangnya masuk ke dalam bus. "Bajojo nasi", bahasa Minangnya. Nasi uduk dengan orek tempe, bihun dan telornya. Ternyata peminatnya buaaanyak banget. Sampai sampai yang dagang kembali ke rumah, menemui istrinya untuk dibungkuskan lagi sekitar 15 bungkus. Saudara kita dari Jawa, yang berombongan tadi mesan 11 bungkus. Begitu juga dari penumpang lainnya. Nasi uduk ini jauh lebih bergizi daripada MBG yang dijalankan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Yang ketua BGN nya tertuduh korupsi.


Makan nasi bungkus di kapal itu nikmat. Terutama bagi yang bawa kendaraan pribadi, bisa lebih hemat waktu. Harganya pun terasa lebih ringan di kantong ketimbang makan di RM setelah menyeberang nantinya.


Lepas makan, rehat sejenak, menyapa saudara-saudara yang satu bus dalam perjalanan ke Sumatra. Hingga ketika agak luang waktu, segera mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat wajib. Jamak qashar Maghrib dan Isya.


Kapal Jatra 3 ini relatif sepi. Truk dan engkel menuju Lampung saja yang banyak. Bus tak banyak, sehingga kapal terasa lebih sepi. Ada dua anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari di dekat tempat saya duduk. Mereka bebas berlarian, sebebas-bebasnya. Namun tetap dalam pantauan ibu dan nanny nya.


Dan tulisan ini pun diakhir dulu ya. Karena kami akan menuju bus untuk segera "landing" di Pulau Andalas.


Jatra 3, selat Sunda 

20 Juli 2026 

22.32 WIB

TAM (2): Menuju Solok

Meninggalkan kota Padang penuh dengan kepuasan, karena segala yang direncanakan berjalan sesuai harapan. Bahkan kadang ada hal yang di luar ...