Kamis, 08 Oktober 2026

Ayah Sebagai Kepala Keluarga

Tanggung jawab seorang ayah dalam Islam bukan hanya mencari nafkah, tapi ia adalah pemimpin, pendidik, pelindung, dan teladan pertama bagi keluarganya. Kelak di hari kiamat, seorang ayah akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.


Berikut rinciannya berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist shahih:


1. Tanggung Jawab Aqidah dan Agama — Menyelamatkan Keluarga dari Neraka


Ini tanggung jawab paling utama.


Al-Qur'an:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)


Para ulama tafsir menjelaskan makna "peliharalah" adalah dengan mengajarkan mereka tauhid, sholat, akhlak, dan menjauhkan dari maksiat.


"Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan sholat dan bersabarlah dalam mengerjakannya." *(QS. Thaha: 132)


Hadist Shahih:

Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka." (HR. Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829)


2. Tanggung Jawab Nafkah — Memberi Makan, Pakaian, dan Tempat Tinggal yang Halal


Nafkah adalah kewajiban, bukan pilihan. Dan nafkah yang diberikan kepada keluarga nilainya lebih besar dari sedekah di jalan lain.


Al-Qur'an:

"Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut." (QS. Al-Baqarah: 233)

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 34)


Hadist Shahih:

Rasulullah bersabda:

"Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu." (HR. Muslim No. 995)


Bahkan Rasulullah mengancam keras ayah yang melalaikan nafkah:

"Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Daud No. 1692, Hadist Hasan Shahih)


3. Tanggung Jawab Pendidikan dan Akhlak


Ayah wajib mengajarkan adab, Al-Qur'an, dan akhlak mulia. Bukan diserahkan sepenuhnya kepada ibu atau sekolah.


Hadist Shahih:

"Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan akhlak yang baik." *L(HR. Tirmidzi No. 1952, Hadist Hasan)


"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan mendidik) jika mereka meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka." (HR. Abu Daud No. 495, Hadist Shahih)


4. Tanggung Jawab Kasih Sayang, Kelembutan, dan Keadilan


Islam melarang ayah bersikap kasar dan pilih kasih.


Contoh Rasulullah SAW:

Rasulullah adalah ayah dan kakek yang sangat lembut, padahal beliau adalah pemimpin negara.


- Mencium anak dan cucu:*l Seorang sahabat bernama Al-Aqra' bin Habis melihat Rasulullah mencium Hasan dan Husain. Ia berkata, "Saya punya 10 anak, tidak pernah saya cium satu pun." Rasulullah menjawab: "Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari No. 5997, Muslim No. 2318)


- Bermain dan menggendong: Rasulullah sering menggendong cucunya Umamah binti Zainab saat sholat. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya, jika berdiri, beliau menggendongnya lagi. *(HR. Bukhari No. 516, Muslim No. 543)*. Beliau juga berlomba lari dengan Aisyah RA untuk menyenangkan istri.


- Membantu pekerjaan rumah: Aisyah RA ditanya, "Apa yang dilakukan Rasulullah di rumah?" Beliau menjawab, "Beliau membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu sholat, beliau keluar untuk sholat." *(HR. Bukhari No. 676)*


- Adil kepada istri dan anak: Rasulullah menggilir waktu dengan adil kepada istri-istrinya dan selalu berpesan untuk berlaku adil kepada anak.


5. Contoh dari Sahabat Rasulullah


*MAbu Bakar Ash-Shiddiq RA: Meski menjadi Khalifah, beliau tetap menjadi ayah yang mengajarkan kejujuran. Ketika putrinya Aisyah RA sakit karena fitnah, beliau mendidik dengan sabar dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, tidak dengan emosi.


Umar bin Khattab RA:*l Sangat tegas dalam pendidikan agama. Umar berkata: "Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan berkuda, serta ajarilah mereka syair-syair yang baik." Beliau juga pernah menghukum anaknya sendiri karena melanggar aturan minum khamr, menunjukkan keadilan seorang ayah tidak boleh pilih kasih, bahkan kepada anaknya.


*MAbdullah bin Umar RA: Sangat meniru Rasulullah dalam mendidik anak dengan kelembutan. Ia tidak pernah memukul anaknya untuk urusan dunia, hanya untuk urusan sholat dan akhlak.


Ringkasan Tugas Ayah Menurut Islam:


1.  Qawwam (Pemimpin): Mengambil keputusan dengan musyawarah, melindungi dari bahaya fisik dan bahaya aqidah.

2.  Mu'allim (Pendidik): Mengajarkan tauhid, sholat, Qur'an, dan adab sebelum orang lain mengajarkannya.

3.  Munfiq (Pemberi Nafkah): Mencari rezeki yang halal dan tidak kikir kepada keluarga.

4.  Qudwah (Teladan): Menjadi contoh jujur, rajin ibadah, lembut, dan bertanggung jawab. Anak akan meniru apa yang ayah lakukan, bukan hanya apa yang ayah katakan.


Seorang ayah yang baik di mata Allah bukan yang hanya meninggalkan harta warisan yang banyak, tapi yang meninggalkan anak-anak yang sholeh yang mendoakannya.


"Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya." (HR. Muslim No. 1631)


Semoga Allah memudahkan kita semua menjadi ayah yang bertanggung jawab.

Aamiin 


Bintaro 12.10 WIB

Kamis 8 Oktober 2026

Rabu, 07 Oktober 2026

Terimakasih MK


Terimakasih MK, untuk palu yang kau ketuk tadi malam

Di ruang sidang yang terang, di bawah sorot kamera

Kau bicara jujur, tak lagi menyembunyikan


Kau katakan apa yang lama kami tanya

Tak ditemukan bukti yang meyakinkan

Tak ada ijazah, tak ada diploma

Yang setara SMA, atau yang sederajat dengannya


Terimakasih MK,

Kau sebut namanya jelas, Wakil Presiden RI saat ini

Gibran Rakabuming Raka

Yang certificate of attendance bukan bukti tamat

Yang catatan nilai bukan tanda lulus


Kau katakan: tak ada ijazah setara SMA

Meski kau juga berkata: tak bisa diskualifikasi

Karena status cawapres telah selesai

Saat sumpah dilantik 20 Oktober lalu


Terimakasih MK,

Setidaknya malam ini rakyat tahu

Kebenaran itu akhirnya dibacakan.


#####


Kau katakan juga tadi malam,

Dengan suara yang berat:

"Mahkamah tidak dapat membatalkan"


Bukan karena ijazah itu ada,

Tapi karena pintu mu sudah tertutup

Perkara PHPU Pilpres telah usai

Saat pelantikan telah lewat.


Lalu kemana ini akan bermuara?

Kata mu sendiri, wahai MK,

Ini ranah lembaga lain yang berwenang

Menilai sah tidaknya syarat calon

Sebagaimana diatur UUD 1945.


Maka bermuaranya bukan di jalanan

Bukan dengan caci dan fitnah

Bermuaranya di lembaga yang sah

Di DPR, di MPR, di PTUN, di MA

Di jalur yang konstitusional


Apa yang harus dilakukan bangsa yang taat hukum ini?


Taatlah pada hukum, seperti kau taat tadi malam

Jangan main hakim sendiri

Bawalah bukti itu ke sidang yang berwenang

Uji surat keterangan penyetaraan No. 9149/D.D1/KS/2019 itu

Uji certificate of attendance itu

Apakah ia bisa disetarakan menjadi SMA?


Biarkan hukum bicara dengan hukum

Biarkan dokumen dilawan dokumen

Bukan dengan amarah.


Karena jika negara ini taat hukum,

Kebenaran yang kau bacakan tadi malam

Tak akan berhenti di ruang sidang MK

Ia harus diuji sampai tuntas,

Sampai rakyat benar-benar tahu,

Siapa yang layak memimpin,

Dan dengan ijazah apa ia berdiri di sana.


Dan sekali lagi terimakasih MK.


Bintaro 7 Oktober 2026


Ayah



Inilah tugas paling berat sekaligus paling berpahala bagi seorang ayah. Allah tidak berfirman "Wahai Ibu jagalah anakmu", tapi:


> *يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا*

> "Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6)


Ulama tafsir mengatakan, khitab ayat ini pertama kali untuk *ayah sebagai Qawwam* — pemimpin yang akan ditanya Allah langsung tentang sholat, aqidah, dan akhlak anaknya.


Mendidik secara Islami itu bukan sekadar menyuruh anak sholat, tapi ada 4 pilar yang dicontohkan Rasulullah SAW dan Sahabat:


1. AYAH SEBAGAI SUMBER CINTA — Bukan Sumber Takut


Anak tidak akan menerima nasehat dari ayah yang tidak dia cintai.


Contoh Rasulullah SAW:

Rasulullah tidak pernah malu menunjukkan cinta fisik. Beliau sering mencium cucu beliau Hasan-Husain di depan para sahabat. Bahkan ada sahabat kaget: "Ya Rasulullah, saya punya 10 anak tidak pernah saya cium!" Rasulullah menjawab: "Barangsiapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi." (HR. Bukhari)


Saat putri beliau Fatimah Az-Zahra datang — padahal beliau pemimpin negara — Rasulullah berdiri, menyambut, mencium keningnya, dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Itulah yang membuat Fatimah tumbuh menjadi wanita paling kuat imannya.


Pelajaran: Anak perempuan yang sudah dewasa pun masih butuh ciuman di kening dari ayahnya. Anak laki-laki butuh tepukan bangga di pundak. Itu bukan manja, itu sunnah.


2. AYAH SEBAGAI GURU AQIDAH — Sejak Dini, Dengan Kalimat Pendek


Pendidikan Islam dimulai bukan dengan fiqih, tapi dengan tauhid.


Contoh Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas:

Ibnu Abbas masih anak kecil 10 tahun, dibonceng di belakang unta Rasulullah. Rasulullah tidak cerita panjang, hanya berwasiat pendek yang menghujam seumur hidup:


> "Ya Ghulam, Ihfazhillaha yahfazhka... Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jika meminta, mintalah kepada Allah..." (HR. Tirmidzi)


Kalimat pendek, tapi menjadi kurikulum aqidah seumur hidup Ibnu Abbas hingga jadi ulama besar.


Contoh Luqman — Teladan Ayah di Al-Quran (QS Luqman 13-19):

Luqman tidak mengajar anaknya matematika dulu, tapi: 

1. Laa tusyrik billah — Jangan syirik

2. Aqimis sholah — Dirikan sholat

3. Wa'mur bil ma'ruf — Berani amar ma'ruf nahi munkar


Untuk anak yang sudah remaja/dewasa, metode Luqman ini masih relevan: ajak diskusi tauhid di meja makan, bukan ceramah. Misal: "Nak, menurutmu rezeki itu dari bos atau dari Allah yang gerakkan hati bos?"


3. AYAH SEBAGAI PELATIH ADAB & TANGGUNG JAWAB — Bukan Pemarah


Rasulullah tidak pernah memukul anak untuk pendidikan.


Contoh dengan Anas bin Malik:

Anas menjadi pembantu Rasulullah sejak umur 10 tahun selama 10 tahun. Kata Anas: "Demi Allah, Rasulullah tidak pernah sekalipun berkata 'ah' kepadaku, tidak pernah berkata 'kenapa kamu lakukan ini?' atau 'kenapa tidak kamu lakukan ini?'" (HR. Bukhari)


Bagaimana Rasulullah melatih? Dengan memberi amanah. Usamah bin Zaid umur 18 tahun sudah diangkat Rasulullah jadi Panglima Perang memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar! Ayah yang Islami melatih anak laki-lakinya dengan kepercayaan, bukan dengan makian.


Contoh Sahabat Umar bin Khattab kepada anaknya Abdullah bin Umar:

Umar pernah menemukan anaknya Abdullah membeli unta kurus lalu digemukkan dan dijual mahal karena memanfaatkan nama ayahnya sebagai Khalifah. Umar tidak memuji pintar bisnis. Umar berkata: "Kalau orang tahu ini unta anak Khalifah, rumputnya akan digratiskan! Kembalikan modalnya saja, kelebihannya masuk Baitul Mal!"


Pelajaran: Ayah mendidik integritas, bukan sekadar untung.


4. AYAH SEBAGAI PENJAGA IBADAH HINGGA AKHIR HAYAT


Tugas ayah tidak selesai saat anak wisuda atau menikah.


Contoh Rasulullah di akhir hayat:

Di detik-detik sakit keras, beliau panggil Fatimah dan berbisik. Beliau tetap mendidik anaknya tentang surga dan pertemuan di akhirat.


Contoh Abu Bakar Ash-Shiddiq:

Abu Bakar mendidik Aisyah menjadi wanita paling cerdas dalam sejarah Islam — perawi 2.210 hadits. Caranya? Beliau biasakan Aisyah duduk di majelis ilmu sejak kecil.


RUMUS PRAKTIS DI RUMAH - Metode Rasulullah (3S Sunnah)


1. Sentuh (Physical Touch): Minimal 1x sehari — salaman erat sambil tatap mata setelah sholat. Untuk anak perempuan, usap kepala. Untuk anak laki-laki, rangkul pundak.


2. Sapa dengan Doa (Bukan Perintah): Ganti "Sholat sana!" menjadi "Nak, sudah adzan, yuk kita kejar shaf pertama bareng Ayah." Rasulullah selalu pakai kata "Ya Bunayya — Wahai anakku sayangku" sebelum menyuruh.


3. Sujudkan Nama Mereka: Ini yang paling sering ayah lupa. Rasulullah sujud lama mendoakan Hasan-Husain. Mulai malam ini, di tahajud, sebut nama anak satu per satu: "Ya Allah, jadikan anak-anakku qurrata a'yun bagiku."


Ayah yang Islami bukan ayah yang tidak pernah salah. Tapi ayah yang kalau salah, berani minta maaf ke anaknya.




Jumat, 31 Juli 2026

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika masih naik bus ANS ekonomi tahun 90-an, sampai di sini mah mesti mandi. Karena gerah selama dalam perjalanan. Apalagi bus non-AC sudah pasti debu masuk ke dalam bus. Sekarang mah beda. AC nya dingin banget. Apalagi menjelang sore dan malam hari. Saya terpaksa di atur sedemikian rupa, kalo ditutup habis takut nanti ngembun. So tetap di rest area ataupun di rumah makan dimana bus mampir, jarang sekali penumpang yang mandi sekarang ini.


Jam 21.40 bus beranjak meninggalkan rumah makan legend ini. Dua PO TAM ranah Minang beriringan lari malam ini. Yang dari Payakumbuh Bukittinggi menunggu kami. Dia datang lebih duluan. 


Di jalur malam menuju Jambi umumnya bus ranah minang selalu konvoi, baik sesama PO ataupun beda. Untuk menjaga keamanan bersama selama dalam perjalanan. Biasanya kendaraan pribadi biasanya suka mengiringi perjalanan bus ini. Jauh lebih aman membersamai bus ketimbang jalan sendirian meskipun sebenarnya kendaraan pribadi tersebut bisa dipacu. Tetapi antara Bungo hingga ke Jambi banyak melalui hutan sawit ataupun hutan karet, jalannya sepi, berbelok-belok dan banyak tikungan yang tajam. Pindah jalur dari tengah ke timur, angkatan enaknya bersama, kecuali di siang hari. Malam kurang aman lah.


Dan entah mengapa saya bisa bisanya tertidur pulas selama perjalanan ini. Entah karena perut yang kenyang, atau karena bus nya yang nyaman ya. Jujur saya nggak tahu sama sekali. Tahu tahu nya terbangun sudah di Pijoan.


Sudah di jalur dua, mendekati pintu tol. Ajib memang. Dan ketika masuk RM Simpang Raya, sudah ada satu lagi PO TAM yang berasal dari Pekanbaru parkir di depan rumah makan. So ada tiga armada TAM menjelang subuh di sini rehat. Plus di tambah satu lagi NPM.


Segera saya ke kamar mandi, buang air besar dan berwudhu. Wudhu aja meskipun waktu sholat masih sekitar 27 menit lagi. Andai bus jalan kita sudah bersuci. Setelah itu saya ke ke depan sambil mikir mau makan berat atau yang ringan saja. Satenya juga terlihat nikmat, tetapi bukan daging. Saya tak begitu minat dengan sate ayam ini. Dan akhirnya jatuh pilihan pada Indomie rebus saja. Cukuplah untuk menghangatkan perut. Sambil makan tak terasa waktu berjalan.



Selesai makan crew mempersilahkan kami untuk sholat subuh di sini saja. Sudah makin dekat waktunya. Saya segera menuju musholla tak perlu wudhu lagi. Pas adzan. Masih sempat sholat Sunnah. Alhamdulillah.


Adzan, iqomah serta imamnya orang yang sama. Anak muda, suaranya bagus, bacaan sholatnya juga mantap. Anak muda begini mah langka. Jauh lebih baik daripada orang tua yang suka nyindir orang dengan Nye Nye Nye... Yang keluar dari mulutnya adalah kebaikan, bukan sindiran ataupun usiran. Ha-ha-ha.


Dan ketika selesai sholat, ternyata sudah ada dua Miyor, satu Al Hijrah, satu Palala, satu lagi NPM dan satu Aerobus yang gagah. Salah satu bus yang menggunakan pemesanan tiketnya full melalui aplikasi. PO ini agak beda.


RM Simpang Raya termasuk rumah padang favorit bagi banyak armada bus saat ini. Dekat dengan exit tol Pijoan, masakannya enak dan WC serta musholla baru dan bersih.


Pangkalan Balai

Jum'at 31 Juli 2026

10.40 WIB

TAM (3) Gunung Medan

Ketika bus sampai di terminal Bareh Solok crew nya mempersilahkan penumpang untuk ke kamar mandi dan menunaikan sholat di area terminal. Suatu kelaziman dalam perjalanan bagi tiap-tiap PO Sumatra Barat dalam urusan ibadah ini. 


Tak berapa lama menjelang jam empat sore bus meninggalkan terminal. Empat sampai lima jam lagi menuju rehat berikutnya di RM Umega Gunung Medan. Untung nya tadi saya sempat beli nasi di sekitaran Indarung ketika bus berhenti dan saya lihat driver assisten turun untuk beliau nasi bungkus. Ikutan pula lah saya, insting saja. Dan ternyata insting saya benar. Jadwal makan malam masih lama. 


Perjalanan sore selama di Solok hingga ke Sijunjung akan menikmati alam yang indah. Balutan antara sawah, hutan dan bukit barisan. Sayang untuk ditinggal tidur.


Bus berhenti sebentar di pusat oleh oleh, sebagai syarat sebelum lanjutkan perjalanan. Namun tak ada penumpang yang turun, saya lihat. Hanya sesaat disini bus lanjutkan perjalanan. Mungkin para penumpang sudah lengkap segala oleh-oleh yang akan dibawa ke perantauan. 


Sama halnya dengan yang di Talang, sepanjang jalan menuju Dharmasraya ada beberapa titik pengecoran jalan. Pengecoran jalan yang cukup panjang dan menyebabkan antrian yang panjang dari kedua arah. Ini yang menyebabkan keterlambatan perjalanan bus Sumbar akhir-akhir ini. Terlambat sampai di ranah ataupun sampai di rantau.


Namun di setiap kemacetan, ada rezeki bagi masyarakat tempatan. Ibu ibu memanfaatkan suasana ini untuk berjualan. Seperti yang kami nikmati sore ini. Ada yang jualan dengan paket komplitnya, ada yang secukupnya saja. Dengan tentang keranjang ataupun gantungan. Satu paket nasi goreng, mie goreng dengan harga Rp 10.000,-. Gorengan dan onde-onde satu bundling, dua paket, seharga Rp 15.000,-. Ada juga yang jual pargedel jagung, kacang tojin dan tahu Sumedang nya.


Dan crew bus pun bersahabat dengan mereka. Saling pengertian. Dan ketika ada yang terjual, pedagang ini pun memberi beberapa paket buat crew bus. Simbiosis mutualisme kah? Entahlah. Yang jelas penumpang dalam kondisi begini juga terbantu. Litak litak dalam perjalanan pasti lah ada. Yang bawa anak-anak tentu senang. Balanjo di ateh bus. Candu jajan dapat. He-he-he 


Ketika lepas dari Sungai Lasi, saya berkabar ke sobat yang belum pernah bertatap muka selama ini. Sobat yang selalu berkabar kalo saya dalam perjalanan melewati Silungkang. Namanya Ipe Rasoki . Seorang youtuber yang selalu memantau dan melaporkan jika ada gangguan laka dalam perjalanan bus di sekitaran Silungkang, Sawahlunto dan Sijunjung. Tetapi setiap bus yang viral selalu tayang di FB beliau. Nah ketika di Sungai Lasi tadi saya kirim tulisan pertama saya dan ternyata quick respon. Beliau langsung tanya posisi saya.


Tak berapa lama bus TAM yang saya tumpangi beliau videokan dan di photo juga. Langsung kirim tak menunggu saya minta. Keren lah pokoknya. Moga dengan bang Ipe suatu waktu nanti saya bisa bertemu langsung. Moga dengan Terios nanti bisa mampir di tokonyo. Tokonya persis sama dengan namanya. Ipe Rosaki, yang berada di daerah kebun Jeruk Silungkang.


Sawah Lunto terlewati, masuk kabupaten Sijunjung sudah menjelang Maghrib. Tak banyak yang bisa dinikmati. Bus pun berjalan pelan. Tak bisa dipacu juga. Buka tutup jalan tetap terjadi.



Dan akhirnya baru sampai di RM Umega jam 20.50 WIB. Saya yang menahan pipis sedari tadi langsung turun, ke kamar mandi dan segera berwudhu setelah itu. Sholat jamak Maghrib dan Isya dulu. Sekali jalan.


Lepas itu langsung masuk ke dalam rumah makan. Bingung antara soto atau makan prasmanan. Akhirnya memilih prasmanan karena penasaran dengan rendangnya yang viral. Viral karena rendang di sini selalu jadi pilihan YouTube bisser mania. 


Dan ternyata emang benar. Rendangnya lembut, bumbunya tadi terambil banyak. Juga enak. Nasi putih dua "cup" cukup besar buat porsi saya. Sayurnya yang ada hanya lobak yang ditumis. Cocoklah itu. Dah itu saja yang saya makan, minumnya air mineral gelas yang tersedia di meja. Total nya Rp 38.000,-. Menggunakan voucher dengan memperlihatkan tiket online, saya hanya menambah Rp 13.000,- saja. Lainnya sudah dipotong otomatis dari bagian servis bus. Alhamdulillah.


Sholat sudah, makan sudah. Sejenak sebelum berangkat ambil gambar sejenak. Memanfaatkan waktu sebelum berangkat bus menuju Pijoan.


Sungai Lilin Palembang 

31 Juli 2026

08.40

Kamis, 30 Juli 2026

TAM (2): Menuju Solok

Meninggalkan kota Padang penuh dengan kepuasan, karena segala yang direncanakan berjalan sesuai harapan. Bahkan kadang ada hal yang di luar perkiraan. Jadwal yang padat, alhamdulillah terbantu dengan stamina yang prima.


Di dalam bus, siang ini mengingatkan kenangan puluhan tahun yang lalu ketika merantau ke Jakarta ataupun pasca pernikahan. Lain daripada itu, perjalanan menggunakan bus dari ranah Minang ini, semuanya di mulai dari kota Bukittinggi.


Banyak kenangan sepanjang jalan. Terutama ketika awal merantau setelah lulus sebagai sarjana Kimia Unand. Ke Jakarta waktu itu naik di jalan, di kawasan Semen Padang. Daerah Indarung. Naik bus ANS kelas ekonomi dengan harga tiket waktu itu Rp 25.000,-. Harga yng lazim waktu itu. Bus ekonomi dengan konfigurasi bangku 2-3.


Namun sekarang jalan yang ditempuh, masih sama, armada bus nya sudah jauh berubah. Mengikuti zamannya. Apalagi unit PO TAM dengan Grand Captain Seat ini, duduk di bagian depan, di atas posisi driver dan crew nya, memiliki pemandangan yang sangat luas. Sangat memanjakan mata. Tanpa penghalang.


Alam indah, suasana pegunungan dan perbukitan, jurang yang dalam tampak dengan jelasnya. Area pembangunan flyover Sitinjau Lauik termasuk yang jadi perhatian. Terbayang bagaimana ini nanti jadinya. Kemacetan ataupun kecelakaan yang sering terjadi selama ini, semoga akan berkurang 


Pembangunan itu berlanjut lagi, setelah sempat heboh dengan demo dari segelintir orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat setempat. Harapannya tak ada lagi demo yang demikian di ranah Minang. Semoga setiap persoalan bisa diselesaikan dengan damai tanpa menggangu pembangunan yang sedang berjalan.


Tanjakan Sitinjau Lauik, tikungannya yang viral sangat indah dinikmati dari atas bus dengan seat tinggi ini. Tak puas mata memandangnya.


Alam yang indah akan terpampang hingga masuk ke kabupaten dan kota Solok. Bagi yang hobby jalan-jalan seperti saya, Grand Captain nya TAM ini kayak dicoba. Kalo di PO Miyor, posisi ini disebut President Seat. Harganya sedikit lebih mahal daripada Grand Captain ini. Maklum secara keseluruhan class nya Miyor memang yang teratas 


Suasana yang dingin ketika memasuki kota Solok sempat membuat saya tertidur. Terbangun ketika ada macet panjang di sekitar daerah Talang. Ada pengecoran jalan. Buka tutup pun diberlakukan. Ini menjadi penyebab telat masuk ke terminal Bareh Solok.


Biasanya jam 12.00 - 14.00 bus Padang masuk TBS ini, tetapi kali ini kami sampai di terminal ini sekitar jam 15.30. Agennya PO TAM ini ada di pojok terminal menuju pintu keluar.


Alhamdulillah, waktu yang pas untuk melaksanakan sholat qashar Zuhur dan Ashar. Ada toilet dan musholla di seberang agen TAM ini. Toilet lumayan bersih dan musholla nya juga lumayan bersih dan wangi. Dua rakaat sholat Zuhur dan Ashar tak terasa tunai sudah. Ada kepuasan setelah menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya ini. Ada ketenangan tentunya.


Sambil menunggu penumpang yang naik di sini, saya sempat beliau dua potong nenas. Nenas buah yang sarat dengan vitamin C ini, sangat cocok bagi kita yang melakukan perjalanan jauh buat jaga stamina. Dua potong dengan harga Rp 4.000,-.


Dalam kemacetan di Sijunjung 

30 Juli 2026

19.00

TAM (1): Padang


Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua bersama TAM setelah akhir tahun lalu menikmatinya dengan jalur Tangerang Pekanbaru.


Ada bedanya dengan unit sebelumnya. Unit ke Sumatra Barat armada baru semuanya dengan seat andalannya adalah Grand Captain. Yakni dua seat yang posisinya berada pas di atas driver. Harga seat nya Rp 850.000,-. Seat yang menjadi incaran saya selama ini. Tidak semua armada bus Sumatra yang menggunakan dua seat seperti ini. Yang ada baru PO Al Hijrah dan Miyor, dengan nama yang berbeda. Selain seat yang ini, lainnya adalah executive class dengan leg rest. Harga tiketnya Rp 700.000,-.


Alhamdulillah, sebuah keberuntungan ketika membeli tiket melalui aplikasi Redbus beberapa hari sebelumnya, ketika masih di Pekanbaru. Satu seat Grand Captain yang tersisa, sementara satu seat nya sudah dipesan satu bulan sebelumnya oleh penumpang yang ada di samping saya.


Dan pagi ini, jam 7.30 saya sudah dijemput oleh Dinda Fajar Rusvan di penginapan di daerah Belanti Raya. Sudah dijanjikan tadi malam setelah meet up dengan kanda Hendra FJ, prof Aldri Gaul menjelang tengah malam, menjelang pergantian hari. Dan ternyata bro Kadir juga ngajak sarapan pagi. Jadilah kami sarapan bareng di VII Koto Talago Alai. Saya dan Fajar memilih nasi goreng dengan segelas teh Talua, sebagaimana hobby kami yang sama. Bro Kadir dengan nasi supnya, plus Buya  yang datang kemudian dengan sup tanpa nasi dan telor setengah matangnya. 


Obrolan ringan hingga yang berat mengalir begitu saja, sambil tertawa penuh keceriaan. Berempat kami berbeda jurusan dan kampus tapi terikat dalam satu himpunan, bisa cair dalam membahas apa saja. Yang berat jadi ringan. Yang kaku jadi cair. Itulah hebatnya anak anak himpunan ini. Anak-anak Hang Tuah 158. Dan di ujungnya, bro Kadir yang mentraktir sarapan pagi ini. Berkah silaturahmi.


Menjelang jam 10 kami berpisah, Fajar mengantar saya ke PO TAM. Tak berapa lama setelah itu, saya memastikan keberangkatan dengan melapor kepada agen yang ada. Fix berangkat, fix juga dengan Grand Captain Seat nya. Alhamdulillah. Dan Fajar pun melanjutkan aktivitasnya.


Sayang bus yang dijanjikan datang jam 11.00 terlambat datang karena terjebak antrian solar di SPBU Khatib Sulaiman setelah perjalanan dari Pariaman. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya. Tapi bagi saya, tak ada yang sia-sia. Saya bisa menikmati seporsi sate lokan tanpa ketupat dan bercengkrama dengan pedagangnya yang juga kocak. Setiap pagi dia dagang di agen PO TAM dan PO Epa Star ini. Orangnya supel, ceria. Banyak ketawa nya.


Ketika bus datang, koper saya masuk ke dalam bagasi bus, saya segera masuk dan duduk di seat yang saya idamkan. Menunggu bus jalan, meninggalkan kota Padang. 


Tuntas sudah segala amanah dan trip ke Sumatra kali ini. Kembali ke rantau dengan tugas lainnya.


Talang Solok

30 Juli 2026

15.00

Ayah Sebagai Kepala Keluarga

Tanggung jawab seorang ayah dalam Islam bukan hanya mencari nafkah, tapi ia adalah pemimpin, pendidik, pelindung, dan teladan pertama bagi k...