Rabu, 22 Juli 2026

Jambi Pekanbaru

Meninggalkan kota Jambi sore itu di tengah sesaknya kendaraan di tengah kota memberi kesempatan bagi saya untuk mengingat kembali dimana posisi rumah senior da O, alumni farmasi Unand angkatan 83. Rasanya dulu pernah melewati daerah ini. Memori kembali berputar-putar kenangan sekitar 4 tahun yang lalu. Raso raso ka iyo, tapi indak Lo yakin. Begitulah, dan akhirnya bus masuk ke rute yang sepi ditingkahi hujan ringan yang turun sore itu.


Menyusuri kebon kebon sawit di sepanjang jalan. Kontur jalan up and down dan relatif lurus, agak berbeda bila kita dari kota Jambi ke Muaro Bungo yang penuh dengan tikungan-tikungan tajam. Sesekali macet terasa ketika di tanjakan mengiringi truk truk berat yang nafasnya ngos-ngosan menanjak.


Tak lama berselang, bus mampir ketika menjelang adzan isya di sebuah mesjid di pinggir jalan. Mesjid pertama yang terlihat setelah adzan Maghrib. Mesjid yang tak terlalu besar di sebelah kiri jalan, namun terlihat bersih, penuh cahaya yang terang benderang di tengah kegelapan di hamparan hutan.


Segera penumpang turun, untuk sekedar buang air dan sebagian besar berwudhu menunaikan kewajiban sholat Maghrib dan Isya. Selesai berwudhu saya langsung ke dalam mesjid, dan ternyata semburan AC nya sangat dingin. Lebih dingin daripada AC yang ada di dalam bus. Wow keren, kata saya. Bahkan ketika sholat saya sempat menggigil, bahkan bergetar hebat hampir dua rakaat pertama di sholat Maghrib tersebut. Hembusan angin AC langsung menerpa tubuh yang masih basah oleh bekas wudhu.


Selesai sholat Maghrib lanjut ke isya, saya pindah tempat. Menghindari AC yang langsung ke tubuh. Dua rakaat sholat isya yang di-qashar, segera tuntas. Zikir sejenak dan kembali ke luar mesjid. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus. Lega, ketika kewajiban sudah dilaksanakan. Alhamdulillah, bus berhenti pada saat yang tepat. Saat sebagian penumpang nya butuh menunaikan kewajibannya kepada Khaliq-nya.


Pas adzan isya mulai berkumandang bus pun bergerak menuju perbatasan Jambi dan Riau. Saya pun terlelap kembali.


Bangun bangun ketika bus berhenti di RM Bintang Raya. Nah ini baru rumah makan yang bersih yang ada sepanjang lintasan Lampung Pekanbaru yang saya temui selama ini. Rumah makannya bersih, lauknya banyak pilihan, harganya pun relatif murah. Dan yang penting kamar mandinya bersih banget. Airnya bening.


Nasinya diambilkan oleh pelayan yang bertugas, sementara lauknya kita ambil sendiri yang ada di etalase besarnya. Banyak pilihan dan tidak pelit untuk mengambil bumbu ataupun kuah yang kita inginkan. Harganya pun jelas terpampang di banner yang ada, di dalam rumah makan tersebut. Selintas terlihat untuk ukuran SOP daging hanya Rp 35.000. Jika dibandingkan di salah satu rumah makan di kisaran Palembang tarif dengan menu yang sama sudah di angka Rp 60.000.


Lauk yang saya ambil ayam goreng, yang ukurannya besar, kuah gulai ayam, bumbu rendang dan serundeng serta sayur daun singkong. Dan minumannya segelas teh susu. Total harganya hanya Rp 40.000 sudah berikut dengan sepiring nasi "tambuah" nya.


Dan ketika membayar, obrolan ringan dengan sang kasir yang juga tadi turun membantu pelanggan yang banyak, ternyata dia asli orang Batusangkar. Urang Dobok, Piliang. Rumahnya di belakang panti Asuhan Ade Irma Suryani, dekat simpang Pincuran Tujuh Batusangkar.


Alhamdulillah, hampir semua penumpang memuji rumah makan ini. Rumah makan terbaiklah di sepanjang lintas Timur Sumatra.


Pekanbaru masih jauh. Talago Lambuang di Sorek sebagai rumah makan yang wajib disinggahi PO NPM pun masih jauh. Pilihan tepat untuk makan malam di rumah makan Bintang Raya tersebut. 


Menjelang jam 10 malam bus bergerak kembali ke trek lintas Timur menuju Pekanbaru. Sebagian besar penumpang pun kembali tidur. Perut kenyang, alunan tembang jadul karya Pance Pondaag era 80-an sebagai tembang pengantarnya.


Bangun bangun sudah di RM Talago Lambuang daerah Sorek. Bus hanya sekedar mampir. Sebagian penumpang ke kamar mandi. Hanya seorang penumpang yang makan di sini. Mungkin tadi yang naik di jalan. 


Halamannya luas, kapasitas ruang makannya besar. Hanya satu yang menjadi catatan di sini adalah kamar mandinya yang perlu diperhatikan. Kalo untuk menu makanan saya tidak bisa memberi testimoni karena memang tidak makan di sini.


Dua setengah jam lagi menuju kota Pekanbaru dari rumah makan ini. Bus bergerak kembali. Insyaallah menjelang subuh nanti kami bisa sampai di Kota Bertuah. Doakan ya, selamat sampai di tujuan.


Pangkalan kerinci 

22 Juli 2026

03.15 WIB

Selasa, 21 Juli 2026

Betung Jambi

Setelah sarapan menjelang pertigaan simpang Betung, jalan relatif lancar. Sesekali di beberapa titik dalam perjalanan, "rinai" pun turun. Hal yang sangat dirindukan selama ini. Hujan yang sangat jarang di Jakarta.


Suasana adem dalam perjalanan pagi itu, membuat mata agak berat. Beberapa kali tertidur dan terbangun. 


Dan sejauh itu perjalanan dari Jawa, baru pertama terlihat kecelakaan yang menimpa sebuah truk. Bagian depannya lumayan hancur. Ini juga yang menyebabkan macet yang lumayan panjang tadinya. Bergantian buka tutup jalan. Macet dari dua arah, menuju Jambi dan menuju Palembang. Dua kali sesudah itu truk cold diesel, "rabah" di kiri dan kanan jalan dalam jarak yang lumayan. Tidak berdekatan. Memanglah dalam perjalanan itu perlu kehati-hatian dan doa agar terhindar dari musibah kecelakaan.


NPM yang kami tumpangi tidak masuk ke jalur tol Bayung Lencir Pijoan. Mereka menuju rumah makan kedua, yakni  RM Wisata Minang. Masih satu grup dengan yang di Kalianda Lampung.


Menjelang turun dari bus, telpon masuk dari Hendra Sutra, sohib yang ada di Duri. Sambil menuju ke kamar mandi dan berwudhu komunikasi tetap jalan meski menggunakan speaker. Namun ketika akan sholat jamak qashar, terpaksa dihentikan dahulu obrolan kami ini. Tetapi inti dari pembicaraan sudah kami dapatkan bersama.


Selesai sholat, segera kembali ke rumah makan untuk memberi nutrisi tubuh. Seporsi nasi yang ditakar oleh pelayan rumah makan, saya lanjut ambil sepotong ayam gulai yang menarik. Soto tak menjadi pilihan. Begitu juga dengan asam padeh ikan ataupun gulai ikannya. Sayurnya habis. Hanya ditambah cabe ijau sekedarnya saja.


Sambil makan, saya lanjutkan berkomunikasi dengan da Nisfwan Guchiano. Tadi sempat masuk panggilan dari beliau setelah obrolan dengan Hendra selesai. Ternyata ada pesan WA yang masuk dari Mamak ini yang perlu direspon segera. Ada undangan acara Jumat malam di sebuah hotel di Pekanbaru. Insyaallah kami berdua akan menyempatkan juga untuk hadir. Acara Unand dengan DPP IKA Unand. Undangan terbatas.


Selesai makan, selesai pula obrolan dengan Mamak ini. Dan saya segera menyelesaikan pembayaran atas makan dan minum yang dinikmati. Nasi dengan da ayam gulai plus segelas es teh manis totalnya Rp 45.000,-. Digenapi 50.000 dengan menambah satu botol air mineral 600ml. Komplit lah sudah, nutrisi siang itu. Ayam gulainya enak.


Tak berapa lama kemudian bus melanjutkan perjalanan ke kota Jambi. Agak tersendat karena jalan mulai rame memasuki pusat kota. Ada penumpang turun dan naik di terminal Alang Barajo, kota Jambi. 


Begitu juga da seorang Ibu yang naik menjual dagangannya. Saya beli sekotak dadar gulung seharga 10.000 dan dua kotak lainnya untuk driver dan kru yang ada di depan. Hitung-hitung untuk menolong si ibu tersebut atas usahanya mencari nafkah buat keluarga. Dadar gulungnya enaknya juga. Tak terlalu manis.


Merlung 

21 Juli 2026

19.17 WIB

"Landing" di Pulau Andalas

Setelah ada informasi bahwa kapal akan "mendarat" di Bakauheni semua penumpang yang ada di kapal Jatra III ini bersegera balik ke kendaraan nya masing-masing. Memang tak banyak penumpang bus malam ini. Tidak berdesakan seperti biasanya yang saya alami selama ini di setiap kapal di lintas Jawa dan Sumatra ini. Sepi.


Namun ketika kembali ke dalam bus mestilah hati-hati juga. Apalagi ketika melihat genangan air yang ada di sepanjang jalur yang dilalui. Kadang ada saja aliran "urine" dari bus, yang nanti bisa mengotori pakaian yang kita gunakan. Saya sangat hati-hati dalam hal ini. Meskipun sudah ada larangan menggunakan toilet di mibil yang berhenti, tetapi tetap ada aja yang nggak mau tahu. Kebelet atau "tasasak" lah alasannya.


Menunggu antrian kendaraan untuk keluar dari lambung kapal, saya tertidur. Baru tersadar ketika bus sudah keluar dari tol, menuju rumah makan Wisata Minang yang ada di Kalianda. Istirahat pertama nya di sini.


Dan di RM Wisata Minang ini adalah tempat penukaran voucher makan dari setiap penumpang PO NPM ini. Dengan voucher yang ada, penumpang tinggal makan, dengan pilihan menu yang sudah disediakan. Nasinya boleh ambil bebas. Minumnya pun tinggal pilih air putih atau teh hangat.


Saya yang masih kenyang, tak mau juga memaksakan makan. Maklum sudah hampir tengah malam. Akhirnya saya memilih menukarkan voucher ini dengan roti yang ada. Daripada hangus dan roti itupun harganya Rp. 30.000 dan hanya harus nambah Rp. 5.000 Sambil menunggu waktu, saya juga pesan segelas kopi susu. Sudah lama nggak minum kopi susu urang awak ini. Segelas harganya Rp 13.000,. Menikmatinya sambil sesekali dicelupin sedikit demi sedikit potongan roti yang tadi dibeli. 


Jam 00.05 bus kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu tol dan tak lama berselang saya pun tertidur. Bangun bangun sudah di KM 340 menuju pintu keluar di Kramasan. Qadarullah ketika terbangun, HP saya terjatuh di sisi kiri sebelah jendela. Bingung juga bagaimana mengambilnya. Celahnya sangat sempit. Di kanan saya, si Albert masih tidur. Di bagian belakang dua penumpangnya juga nyenyak tidurnya. Mau minta tolong, nggak enak hati juga. Penumpang umumnya pada tidur. Hanya satu dua orang yang masih pegang HP nya mencari berita atau hanya sekedar scroll-an.


HP berbunyi karena stelan ya begitu. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 5. Akhirnya dengan segala cara, berhasil juga dijangkau. Ditarik dengan jari tengah dan telunjuk, diangkat perlahan dan diambil lagi dengan tangan kiri. Alhamdulillah akhirnya berhasil juga.


Dan tak lama kemudian keluar dari tol Kramasan, mampir sejenak di loket PO NPM. Ada satu penumpang dengan no seat 30 yang dalam perjalanan ke loket hendak ke Pekanbaru. Bus ini emang full. Banyak yang turun sekedar buang air di loket ini. 


Setelah penumpang tersebut datang, bus juga bergerak kembali menuju mesjid terdekat untuk memberi kesempatan bagi penumpangnya menunaikan sholat subuh. Sesuai khasnya bus ranah Minang, memberikan kesempatan bagi penumpang untuk melaksanakan sholat subuh atau Maghrib dengan mampir di mesjid terdekat yang dilaluinya.


Tak lama kemudian bus jalan lagi. Ngantuk masih terasa. Tidur lagi. Masuk jalan Pemda Banyuasin saya terbangun, hingga akhirnya mampir sejenak untuk sarapan pagi di Betung.


Awalnya agak macet juga, supir bis mengambil inisiatif mampir di lokasi yang pada bulan ramadhan lalu saya singgahi bersama keluarga menjelang subuh. Tempat yang sama, cuma suasananya saja yang berbeda. Dulu rame sekali di sini walaupun jam tiga dinihari. Macet parah menjelang simpang Betung. Banyak kendaraan pribadi yang parkir di sini, suasana hujan pula. 


Dan lagi tadi saya pesan Intel dan teh telor. Total dua mami ini, makanan dan minuman, hanya Rp 26.000-' saja. Murah banget. Tiga belas ribu rupiah masing-masing nya.


Hampir semua penumpang sarapan di sini. Ada juga yang cuci muka dan gosok gigi. Sayang saya lupa untuk hal begini. Biasanya istri yang suka ngingatin setiap pagi jika dalam perjalanan seperti ini. Pagi ini, lali aku.


Sei Lilin

Selasa 21 Juli 2026

10.48 WIB

Menyeberang Selat Sunda

Memang beda rasanya dalam perjalanan malam bersama bus ini. Bisa menulis. Bisa menikmati pemandangan yang ada. Lebih menikmati perjalanan ketimbang mengendarai kendaraan sendiri. Saat ini lebih santuy. Dalam kegelapan malam, menikmati lampu lampu dari kejauhan selama perjalanan hingga masuk pelabuhan, pesonanya beda. Kepengen memotret, tetapi hasilnya nggak maksimal, apalagi terhalang oleh kaca atau jendela bus. Kena pantulan cahaya.


Kondisi ini juga membawa nuansa ke tahun 90-an, ketika naik bus. Meskipun bus nya belum senyaman sekarang ini. Ketika tol belum ada. Masuk pelabuhan menjelang malam, menyeberangi selat Sunda hingga rehat pertama di rumah makan di Bagadang V ataupun di sekitarannya, sepanjang Kalianda menuju Bandar Lampung, sudah tengah malam. Meskipun waktu itu berangkat dari terminal rawamangun siang juga, sampai di pelabuhan Merak nya malam juga. Kondisi itu saya alami malam ini. Dejavu.


Sebelum masuk pelabuhan bus berhenti sejenak, kru dan beberapa penumpang turun membeli nasi bungkus. Dan ketika masuk pelabuhan Merak, di dermaga executive kami harus menunggu kapal berikutnya. Kapal yang yang ada sudah mau lepas jangkar. Dan kami di urutan pertama untuk type bus yang akan menyeberang, ada 3 engkel kecil di samping NPM yang kami tumpangi.


Turun dari bus adalah kenikmatan tersendiri. Menikmati kapal yang menjauh dan yang mau merapat ke dermaga. Begitu juga dengan angin dingin yang berembus, pelan-pelan menusuk tulang. Tetapi ombak cukup tenang, setenang hati ini untuk menapak ke Sumatra, penuh keyakinan.


Pop mie adalah pilihan pertama penghangat tenggorokan. Harganya hanya 10.000 rupiah saja. Naik 5.000 ketika kita belanja di kapal saat menyebrangi selat Sunda. Lumayan lah bedanya. Bagi yang berhemat, seperti saya, pilihan beli tetap di dermaga. 


Setelah bongkaran dari lambung kapal Jatra 3 selesai, perlahan kendaraan bergantian masuk ke dalam kapal yang akan kembali ke selat Sunda. Satu per satu masuk, tak ada antrian yang panjang terlihat di belakang. Suasana adem, membuat para supir santuy. Begitu juga dengan petugas kapal dan ASDP tenang mereka bekerja. 


Area pertama yang saya cari setelah sampai di kapal adalah tempat yang nyaman untuk makan malam. Menghabiskan nasi bungkus yang tadi dibeli sebelum menyebrang. Harga 25.000 sebungkus dengan lauknya gulai ikan dan satu pergedel. Lumayanlah. Makan kenyang dengan harga standar. Alhamdulillah dapat suasana yang relatif sepi, sofa sofa nyaman banyak yang kosong di dek 2 nya. Saya langsung makan, karena memang sudah lapar juga. Sayang kuah gulainya agak kurang sehingga nasinya terasa agak keras meskipun masih hangat. Dedak rendang lupa pula kita mintakan. Kalo tidak, wow nikmatlah pastinya.


Dan di dermaga tadi, juga ada juga yang dagang nasi uduk dengan harganya 13.000 rupiah saja sebungkus. Pedagangnya masuk ke dalam bus. "Bajojo nasi", bahasa Minangnya. Nasi uduk dengan orek tempe, bihun dan telornya. Ternyata peminatnya buaaanyak banget. Sampai sampai yang dagang kembali ke rumah, menemui istrinya untuk dibungkuskan lagi sekitar 15 bungkus. Saudara kita dari Jawa, yang berombongan tadi mesan 11 bungkus. Begitu juga dari penumpang lainnya. Nasi uduk ini jauh lebih bergizi daripada MBG yang dijalankan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Yang ketua BGN nya tertuduh korupsi.


Makan nasi bungkus di kapal itu nikmat. Terutama bagi yang bawa kendaraan pribadi, bisa lebih hemat waktu. Harganya pun terasa lebih ringan di kantong ketimbang makan di RM setelah menyeberang nantinya.


Lepas makan, rehat sejenak, menyapa saudara-saudara yang satu bus dalam perjalanan ke Sumatra. Hingga ketika agak luang waktu, segera mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat wajib. Jamak qashar Maghrib dan Isya.


Kapal Jatra 3 ini relatif sepi. Truk dan engkel menuju Lampung saja yang banyak. Bus tak banyak, sehingga kapal terasa lebih sepi. Ada dua anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari di dekat tempat saya duduk. Mereka bebas berlarian, sebebas-bebasnya. Namun tetap dalam pantauan ibu dan nanny nya.


Dan tulisan ini pun diakhir dulu ya. Karena kami akan menuju bus untuk segera "landing" di Pulau Andalas.


Jatra 3, selat Sunda 

20 Juli 2026 

22.32 WIB

Senin, 20 Juli 2026

Menuju Pekanbaru Bersama NPM

Alhamdulillah, sesuai rencana awal sore ini saya menuju kota Pekanbaru. Kota Bertuah. Semula pengen mencoba naik Aerobus yang lagi viral, ternyata tiketnya yang dijual secara online melalui aplikasinya, full book hingga 26 Juli. 


Dan akhirnya pilihan jatuh ke PO NPM. Hal ini disebabkan rasa penasaran saja. PO ranah Minang yang sangat legend dengan kelas tertinggi nya Sutan Class. Konfigurasi seatnya 2-2 dengan total penumpang 30 orang. Terakhir naik ke PO ini ketika masih lajang dari Jakarta menuju Padang. Dan untuk trayek ke Pekanbaru unit unit yang ada, relatif lebih baru. Ini nanti bisa dibuktikan dengan nomor unit yang ada di setiap armadanya. 


Dan dengan no bangku bagian depan kiri, saya merasakan kenyamanan. View yang lapang terlihat dari kacanya yang single glass tanpa tameng. 


Menunggu bus ini dari siang tadi dengan selalu mendapatkan info terbaru dari agen yang ada di terminal bayangan di daerah Kreo Larangan. Hanya satu unit yang jalan menuju Pekanbaru Duri Dumai hari ini. Dan unit yang saya tumpangi berasal dari kota Bandung. Biasanya dua uni, satu dari Bandung dan satu lagi dari Bogor. Dari Bogor selalu berangkat lebih awal karena lebih dekat. Tetapi saat ini, dua unit dijadikan satu. Agak telat, tetapi agennya selalu berkabar.


Saya menunggu di rumah, dan setelah bus sampai di Petukangan, agen mengabari saya. Agennya mas Gambuh. Orang Jawa asli. Jam 16.20 sampai di sana, bus sudah standby. Menunggu saya yang membawa motor dari rumah dengan barang dibantu pegang oleh Nova. Sejenak setelah barang naik ke bagasi, saya menuju bangku yang sudah dipesan, Nova pun pulang ke rumah. 

Ini yang agak lain saat ini.


Pertama: Biasanya saya yang menunggu bus. Dan sekarang bus yang menunggu saya. Alhamdulillah hubungan saya dengan mas Gambuh sangat baik. Sebelum saya naik bis, masih sempat diskusi, bagaimana rombongan pak Marjon kemarin ke Pekanbaru, tanya nya Saya bilang, Alhamdulillah dengan PO TAM jadinya. Awalnya rombongan atlet Woodball yang berjumlah 27 orang ini akan menyewa satu unit NPM melalui mas Gambuh. Ternyata unitnya kosong. Maklum musim liburan. Dan akhirnya rombongan ini kembali lagi ke Riau menggunakan PO TAM lagi. Tadinya pengen cari suasana yang berbeda. 


Kedua: Baru kali ini saya berangkat sore ke Sumatra menggunakan bus. Biasanya pagi atau siang. Pengalaman baru lagi ini bagi saya. Meninggalkan kota Jakarta yang alhamdulilah tak begitu macet dengan kenyamanan bus yang oke punya, beda juga rasanya. Relatif lancar dalam perjalanan menuju terminal Poris Plawad. Mungkin karena beberapa kampus masih libur juga ya. Agak macet sedikit terasa di perlintasan kerata api dari jalan Daan Mogot menuju Poris. Biasalah kereta lewat sore itu.


Ketiga: Penumpang nya sangat heterogen. Biasanya kalo ke Sumatra umumnya adalah orang Minang. Tetapi kali ini adalah saudara kita yang dari Jawa, rombongannta naik di terminal Poris. Banyak bawaannya, baik berupa cangkul, aneka ukuran ember, alat tukang lainnya. Dan dari Kreo sudah terdengar percakapan bahasa Sunda di bangku bagian belakang. Ini unik. Ternyata Pekanbaru menjadi kota yang yang sangat majemuk. Segala suku ada di sana. Makanya banyak PO bus asal Sumatra berani buka trayek selain ke Bandung, juga ke Sukabumi, Tasikmalaya, dll. Segmen penumpangnya banyak, baik yang dari Sunda ataupun dari Jawa. War biyasa. 


Hampir satu setengah jam dari Kreo menuju Poris Plawad melewati tol dalam kota. Hanya sekedar lewat dan tidak mampir di terminal Kalideres. Banyak juga yang naik di terminal Poris dan menjelang Maghrib keluar dari terminal, mengisi BBM dulu di SPBU terdekat. Setelah itu unit NPM ini menuju pelabuhan merak, berbarengan dengan satu unit Miyor suit combinya. Dugaan saya Miyor inipun dari Bandung juga.


Jalan malam menuju ujung Banten, pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Sumatra sangatlah lancar. Adem banget. Biasanyakan terik. Matahari masih di ubun-ubun. Alhamdulillah sekarang nyaman pake banget dah.


Semoga semuanya lancar ya. Mohon doa restunya untuk saya dan penumpang lainnya yang akan menuju propinsi Riau malam ini. Prediksi awal saya akan sampai di kota Bertuah dini hari, di hari Rabu nanti.


Demikian dulu, catatan pertama dalam trip kali ini.


Tol Merak Banten.

Senin 20 Juli 2026

18.42 WIB

Kamis, 05 Februari 2026

In Memoriam: Ummu Fifi

Mendadak sore tadi mendapat kabar dari si kakak di Pakistan. Kabar duka. Wafatnya Ummu Fifi, sohibnya, yang juga tak jauh rumahnya dari rumah kami. Hanya sekitar 8 menit kabar dari Islamabad datang lebih cepat ketimbang dari Pondok Aren ataupun Tangerang.


Begitulah Allah berkehendak. Kedekatan mereka berdua yang mengikat kedekatan kami juga, sejak mereka berdua sama sama jadi santriwati di Gontor Putri 3 Mantingan Ngawi hingga lulus menjadi ustadzah. Terbukti bahwa Gontor tidak hanya mempersaudarakan santri nya, tetapi juga kami selaku walisantrinya.


Dengan Ummu Fifi ini kami sudah kenal dekat. Beliau sering berkunjung ke rumah, begitu juga kami sering mampir di rumahnya. Selain dengan Ummu, kami juga dekat dengan ustadz Mahruroji Roji, Abu Fifi ini. Saling titip saat mudifah ke pondok, baik makanan ataupun uang, ataupun pesan tempat strategis di Bapenta.


Ummu kalo berkunjung ke rumah selalu membawakan peyek kacang, kesukaan kami. Beliau sangat baik orangnya. Ramah dan cekatan serta suka membantu.


Tetapi setahun belakangan, kami sudah jarang bertemu dengan beliau, karena sakit yang lumayan berat. Kesabaran Ummu dan ustadz Roji sedang Allah uji, sering ke rumah sakit untuk perawatan dan kontrol sakitnya secara berkala. 


Tetapi sore tadi, jam 17.15 Ummu Fifi dipanggil Allah SWT. Ummu wafat. Sakit yang Ummu sudah tiada lagi. Ummu wafat dalam lingkup kasih  sayang keluarga. Di rumah. Ummu sempat bersyahadat. Ummu di-talkin-kan olah sang suami tercinta. Insyaallah Ummu kembali keharibaan Allah SWT dalam keadaan Husnul khatimah.


Menjelang jam 6 sore saya dan om Susilo sudah sampai di rumah duka. Banyak yang melayat. Tak henti hentinya orang yang datang. Silih berganti. Ini sudah cukup sebagai bukti bagaimana kebaikan Ummu di lingkup tetangga dan juga sebagai istri dari Ustadz Roji yang merupakan kepala sekolah di SD IT Cordoba, yang tak jauh dari rumah beliau. Mereka berdua sama sama alumni pondok pasantren. Mengabdi sebagai guru. Tetapi Ummu mengajar di TPA yang ada di rumahnya sendiri. Meskipun dalam keadaan sakit ummu tetap mengajar anak anak mengaji.


Ummu insyaallah akan dimakamkan sekitar jam 8 pagi. Masih menunggu buah hati Ummu yang belajar di luar kota, di pondok pesantren. Insyaallah malam ini anak ini sudah berada di rumah.


Kesabaran dan keikhlasan dari ustadz Roji dan juga Fifi memang luar biasa. Setahun mereka dan keluarga besar merawat Ummu. Allah SWT lebih menyayangi hamba-Nya. Allah SWT akhiri sakit yang Ummu derita, dengan caranya. Dan bagi orang yang beriman, sakit itu adalah penggugur dosa. Mendengar proses wafatnya Ummu dari ustadz Roji, banyak hikmah yang saya ambil. Sakit sakaratul maut itu memang dahsyat, hanya dengan keimanan segalanya akan jadi ringan. 


Begitu juga dari ustadz Roji, saya mendapat hikmah bagaimana semestinya peran sebagai suami dan sebagai ayah, serta bagaimana peran sebagai "sumando" di depan keluarga istri. Dan semuanya telah saya saksikan. Ummu pasti bangga dengan suaminya. Saya hanya bisa mendoakan semoga kelak mereka kembali berkumpul di Jannah Nya, Insyaallah.


Selamat jalan Ummu. Ummu orang baik. Punya suami juga orang baik. Anak-anak Ummu insyaallah jadi anak yang baik juga.


Ciledug Tangerang 

2 Februari 2026, 21.56 WIB

Kamis, 01 Januari 2026

Fokus Pada Tujuan Akhir

Jika diibaratkan mobil, ada tiga buah spion dan satu kaca yang besar. Tiga spion kiri dan kanan dan satu dibagian atas.


Meskipun tiga spion, perjalanan utama tetap fokus pada kaca mobil yang sangat besar. Kaca besar inilah yang akan menjadi tujuan kita, dimana dan kemana akan berakhir nantinya. Jika akhirat fokus kita, maka tiga spion yang ada sangat membantu agar kita agar selamat dalam perjalanan. Spion ini meskipun tiga buah, hanya sesekali dilihat tetapi sangat menentukan. 

Begitu juga dengan masa lalu, hanya sesekali dilihat sebagai pengingat sudah sampai dimana tahapan yang kita lalui. Seberapa kebermanfaatan kita bagi sesama. Jika masih kurang, mari tingkatkan.


Sementara kaca besar tetap menjadi fokus utama dalam perjalanan. Terutama perjalanan akhirat kita. Berharap diakhir kehidupan sampai dengan selamat, dengan titel Husnul khatimah. Baik diakhirnya.

Meskipun dalam perjalanan penuh lika-liku nya, penuh lumpur, terjerembab dalam lubang yang dalam, tetapi tetap berusaha sampai diakhir dengan selamat sebagai pemenang. Sebagai hamba-Nya yang bermanfaat bagi sesama.


Pekanbaru 1 Januari 2026

08.18 WIB 

🙏

Jambi Pekanbaru

Meninggalkan kota Jambi sore itu di tengah sesaknya kendaraan di tengah kota memberi kesempatan bagi saya untuk mengingat kembali dimana pos...