Selasa, 28 Januari 2025

Mudik Desember 2024 (part 1)

Trip Report Tangerang Bukittinggi

Sabtu 14 Desember 2024


Sehabis sholat Maghrib Sabtu malam, sekitar jam 7-an kami berdua meninggalkan rumah menuju tol Bintaro. Segala urusan hari itu sudah selesai. Rencana semula untuk berangkat pagi tertunda karena ada hal lain yang harus didelegasikan. Hal yang lebih penting tentunya. Alhamdulillah menjelang sore semuanya clear. Meninggalkan rumah dengan perasaan lega, bahagia dan siap memulai perjalanan berdua menuju kampung halaman di Bukittinggi.


Ini adalah kali pertama kami trip ke kampung halaman berduaan dengan Terios yang kami miliki. Sejak April tahun 2013 ini adalah penumpang Terios paling minim. Biasanya kami anak beranak, berlima, terus berkurang menjadi berempat, bertiga dan kini tinggal kami saja yang pulang pokok. Pulang ke kampung berdua saja.

Dan pulang kali ini sudah direncanakan, tetapi tidak dikabarkan. Tidak berkabar kepada siapapun dan tidak memposting apapun di media sosial yang kami miliki.


Rencana semula kami akan menunggu anak anak libur. Dhifa selesai ujiannya di Kudus dan Imam libur juga dari pondoknya di Tasikmalaya. Dan dalam planning kami berempat akan pulang pada Jumat, 21 Desember 2024. Hal ini sudah kami sampaikan ke Ama Asma Yati sebelumnya. Kami mohon maaf tidak bisa hadir pada nikahan Vivi karena kondisi anak anak yang masih berada di pondoknya masing-masing, Kudus dan Tasikmalaya.


Tetapi beberapa hari sebelum tanggal 14 Desember itu, menjelang maghrib, Ante Nelti Jamaah menelpon Bundo Nova Yanti. Panjang ceritanya, tetapi poin yang kami tangkap adalah pesan tegas beliau, "Tidak terima alasan apapun, pokoknya harus pulang. Iko adalah alek panutuik. Urang dari Malaysia, dari Pekanbaru lai tibo, masak awak nan acok pulang, indak ka pulang di alek Vivi ko. Harus pulang". 


Saya yang mendengar obrolan ini, senyum senyum saja sambil bersegera ke mesjid. Tawakal tingkat dewa pun mulai dimainkan. Perbanyak doa pada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


Rumit, tetapi tetap yakin bahwa ada solusi. Ada jalan keluarnya nanti apabila permintaan orangtua kita itu dituruti, diikuti. Ada plan A, B, C and D dst. Mengenai anak anak yang di Kudus dan Tasikmalaya pun sudah tergambarkan jalannya, dari beberapa plan yang ada. Pokoknya pulang dulu. Yang lain ada pula tahapannya. Dan keputusan diambil.


Dalam perjalanan menuju tol Bintaro, HP supir pun berbunyi. Dari om Susilo, sang Juragan Baso. Sore tadi sengaja mampir ke rumah dia untuk membeli 20 bungkus baso buat Ama di kampung. Dan ternyata panggilan telpon ini untuk menanyakan dimana posisi saya. Dia sudah sampai di depan rumah, tetapi mobil tidak ada dan rumah terkunci. Saya bilang bahwa saya sudah dalam perjalanan ke tol Bintaro. Dia bilang, "Tunggu pak Andi, saya susul". Dan akhirnya memang beliau susul saya yang sengaja menunggu di SPBU Pondok Aren. Saya kira ada apa ya, segitu pentingnya. Dan ternyata pas adzan isya berkumandang dia datang dengan sekantong cemilan buat kami nikmati dalam perjalanan. Alhamdulillah, ada tambahan, kata saya sambil mengucapkan terimakasih kepada om Susilo ini.


Dan selama menunggu beliau tadi saya sempatkan juga untuk memesan tiket kapal melalui aplikasi ferizy. Alhamdulillah semuanya ready, kapal saya pesan untuk keberangkatan jam 12 tengah malam, antisipasi juga bila ada halangan di jalan nanti. Prediksi ke merak maksimal sekitar dua jam saja dari Bintaro.


Dan pas jam 20.00 kami pamit pada om Susilo, saya belok ke kanan, dia ke kiri. Saya langsung masuk tol Bintaro menuju pelabuhan Merak. Jalanan agak sepi dan lancar. Alhamdulillah jam 21.30 masuk dermaga dan langsung diarahkan petugas masuk ke kapal, tanpa antri.  Total perjalanan tadi satu setengah jam saja.


Mobil langsung diarahkan ke dek bawah dan dapat di deretan ke dua di pintu keluarnya. Banyak kendaraan pribadi yang masuk ke lambung kapal. Dan di dermaga tadi kami lihat truk banyak terparkir. Artinya kendaraan pribadi mendapatkan prioritas dalam musim libur akhir tahun ini.

Setelah mobil terparkir sempurna, saya dan Bundo segera ke atas kapal. Tak banyak yang kami bawa, hanya botol minuman dan cemilan ringan sekedarnya. Kami segera mencari tempat lesehan yang ada di kapal tersebut. Kapal regular yang akan mengantarkan kami ke pulau Sumatra dalam jangka waktu tiga jam ke depan.


Kapal dengan tarif Rp. 481.000 ini jauh lebih bermanfaat ketimbang kapal express yang harganya lebih mahal. Ada beda sekitar 160.000an ribu bedanya. Walau waktunya lebih cepat, tetapi yang saya butuhkan adalah kesempatan untuk tidur selama dalam penyeberangan selat Sunda ini. Tidur adalah obat. Obat agar fit selama berkendara malan di sepanjang tol Sumatera.


Dan Alhamdulillah setelah dapat tempat yang nyaman saya langsung tidur pulas. Berselimut syal palestina di bagian mata. Bundo yang stand by di samping saya pun ada teman ngobrolnya. Seorang ibu yang berprofesi sebagai guru, aslinya Betawi, bersuamikan orang Padang, hendak menuju Lampung.


Bintaro 28 Januari 2025

13.16 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SilaturaHMI dengan Ajo Duta Mardin

Alhamdulillah siang menjelang sore tadi bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh di milis rantau net, di kediamannya di da...