Trip Report Tangerang Bukittinggi
Minggu 15 Desember 2024
Alhamdulillah sempat tertidur selama kapal berlayar, sekitar tiga jam lebih, saya dibangunkan oleh Bundo Nova. Bener bener pulas tidur saya dan ini mungkin adalah tidur terlambat saya di kapal selama dalam perjalanan. Bisa jadi karena berdua saja, tanpa anak-anak dan Bundo pun ada teman ngobrolnya, tak ada lagi yang saya pikirkan. Dapat tidur pulas saya.
Sebelum turun ke dek kapal, saya ke kamar mandi dulu. Sekedar BAK saja. Bundo pun sabar menunggu. Tak terlihat lelah di matanya, tetapi saya yakin nanti akan gantian. Giliran dia yang tidur selama dalam perjalanan.
Menjelang jam 1 dini hari, Terios kami pun keluar dari lambung kapal. Perlahan lahan ramp door kapal saya lewati. Namun ombak yang tenang, membuat semuanya lancar. Agak berbeda saat memasuki kapal di Merak tadi, ombak lumayan besar sehingga sangat hati-hati ketika melewati ramp door kapal.
Keluar dari kapal, kendaraan mulai saya pacu secara bertahap menuju gerbang tol. Perjalanan malam yang untuk ke sekian kalinya yang saya alami. Dan jalan malam kali ini sangat saya senangi karena ada bulan purnama yang menerangi gelapnya malam. Alhamdulillah hujan pun tiada.
Suasana santai selama perjalanan malam ini membuat Bundo tertidur dengan nyenyaknya. Saya tak terlalu memacu kendaraan. Membiarkan Bundo lelap dengan mimpi mimpinya.
Dan akhirnya menjelang subuh kami rehat di rest area KM 234 Mesuji. Dan rest area ini termasuk salah satu rest area terbaik. Mobil terparkir dan Bundo pun bangun perlahan. Gerimis halus pun datang.
Adzan belum berkumandang namun beberapa kendaraan pribadi sudah ada yang datang sebelum kami, dan obrolan penumpang dengan bahasa minangnya pun sayup sayup terdengar di telinga kami. Banyak urang awak nan pulang kampuang ruponyo. Kawan "sairiang" dalam perjalanan.
Perlahan turun, menuju kamar mandi dan segera berwudhu. Hanya saya saja yang sholat, Bundo sedang berhalangan. Saya ke mesjid, Bundo menunggu di mobil.
Tak lama berselang, selesai sholat kami lanjutkan perjalanan. Tak lupa mengisi BBM dahulu di SPBU yang ada. Rp 400 ribu Terios kami "minum pagi" di sini dengan Pertamax. Agak mahal dikit minum nya. Namun akselerasi berkendara jauh lebih ringan dibandingkan pertalite. Sesekali boleh lah, apalagi bedanya sekarang hanya sekitar dua ribuan. Beda dengan harga sebelumnya, Rp 14.000 per liter.
Tak terasa pagi menyambut kami ketika keluar dari tol Kramasan Palembang. Semburat pagi secerah semangat kami melintasi jalan lintas timur Sumatra ini. Lancar dalam perjalanan kami pagi itu.
Sedikit ada gangguan yang terjadi sebelum Betung, sekitar jam 7 pagi. Ada truk yang keluar dari badan jalan, nyaris terbalik. Truk besar berisikan kendaraan roda dua di atasnya, yang menyebabkan sedikit macet.
Begitu juga di sekitaran Sungai Lilin. Ada pasar pagi yang menyebabkan macet dua arah. Beringsut kendaraan selama melewati pasar tersebut. Lain daripada itu jalanan agak sepi dan lancar.
Menjelang siang, perut mulai keroncongan . Bundo sudah mulai bertanya, kapan makan. Akhirnya kami mampir di RM Pincuran Gadang. Ada dua tiga kendaraan pribadi yang terparkir di sini, namun lainnya halaman yang luas diisi oleh banyak truk. Nah ini adalah pilihan yang tepat. Biasanya kalo banyak truk yang parkir, rumah makan itu pasti enak dan murah. Itu kuncinya.
Dan benar saja. Kami makan di sana dengan kepala kakap, tunjang, gulai jengkol, sayur "pucuak ubi" dan segelas teh telor. Nasi sebakul, nyaris habis. Benar benar makan "lamak" kami berdua. Biasanya saya agak menahan porsi nasi selama dalam perjalanan, karena takut efek ngantuk nya. Tetapi kali ini saya lupakan. Lauknya "iyo bana lamak". Harga kepala kakapnya saja 65.000 rupiah. Mantap rasanya. Hampir sekitar satu jam kami makan dan rehat di sini.
Dan akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Tak jauh dari rumah makan Pincuran Gadang, pintu tol pertama di propinsi Jambi sudah terpampang. Tol yang masih gratis di akhir tahun ini. Tol Muaro Sebapo namanya.
Keluar pintu tol, segera masuk ke jalan lintas timur lagi. Google map mengarahkan saya ke jalan simpang Ness. Alhamdulillah selama dalam perjalanan ini, ada permen karet "Long Bar" yang menemani saya. Menghilangkan rasa kantuk yang muncul siang itu. Perman karet itu saja yang saya kunyah kunyah bisa kantu menyerang.
Dan Bundo kembali larut dalam tidurnya. Bagaimana tidak akan ngantuk? Makan tadi banyak dan lamak, makannya pas di waktu lapar, hari siang terang benderang, Sepoi AC mobil yang dingin memanjakan pelupuk mata. Alhamdulillah perjalanan kami senantiasa ditemani senandung murotal Al Qur'an. Ada ketenangan dalam berkendara tentunya.
Menjelang sore, di waktu ashar, saya mampir di sebuah mesjid di daerah Tebo. Sholat jamak qashar saya agak terlambat. Hal ini disebabkan karena kondisi kurang memungkinkan untuk sholat di RM Pincuran Gadang tadi.
Selesai sholat lanjutkan lagi perjalanan dan sekalian sore itu mengisi BBM lagi. Kali ini dengan pertalite saja, Rp. 400.000_-.
Menjelang maghrib kami memasuki kabupaten Bungo. Sempat berdiskusi dengan Bundo lanjut atau nginap. Saya masih yakin dan merasa masih kuat untuk melanjutkan perjalanan, tetapi Bundo bersikeras untuk nginap saja. "Ngapain buru buru, nggak ada juga yang dikejar", katanya.
Dan akhirnya saya yang mengalah. Kita cari penginapan yang murah meriah di Muaro Bungo ini. Ada dua titik yang berdekatan, tetapi akhirnya jatuh pada pilihan kedua. Tempatnya bersih, besar dan nyaman, harganya pun relatif sama.
Adzan isya pun kami rehat di penginapan. Dan titip pesan kepada resepsionis yang berjaga, bahwa pagi esok sehabis subuh kami akan lanjutkan perjalanan dan kalo bisa breakfast nya dipercepat.
Di sini kami bermalam setelah menempuh 24 jam perjalanan dari rumah hingga ke Muaro Bungo ini. Makan malam kami abaikan karena perut masih terasa kenyang. Tidur yang nyaman yang kami butuhkan.
Bintaro 28 Januari 2025
14.25 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar