Meninggalkan kota Jambi sore itu di tengah sesaknya kendaraan di tengah kota memberi kesempatan bagi saya untuk mengingat kembali dimana posisi rumah senior da O, alumni farmasi Unand angkatan 83. Rasanya dulu pernah melewati daerah ini. Memori kembali berputar-putar kenangan sekitar 4 tahun yang lalu. Raso raso ka iyo, tapi indak Lo yakin. Begitulah, dan akhirnya bus masuk ke rute yang sepi ditingkahi hujan ringan yang turun sore itu.
Menyusuri kebon kebon sawit di sepanjang jalan. Kontur jalan up and down dan relatif lurus, agak berbeda bila kita dari kota Jambi ke Muaro Bungo yang penuh dengan tikungan-tikungan tajam. Sesekali macet terasa ketika di tanjakan mengiringi truk truk berat yang nafasnya ngos-ngosan menanjak.
Tak lama berselang, bus mampir ketika menjelang adzan isya di sebuah mesjid di pinggir jalan. Mesjid pertama yang terlihat setelah adzan Maghrib. Mesjid yang tak terlalu besar di sebelah kiri jalan, namun terlihat bersih, penuh cahaya yang terang benderang di tengah kegelapan di hamparan hutan.
Segera penumpang turun, untuk sekedar buang air dan sebagian besar berwudhu menunaikan kewajiban sholat Maghrib dan Isya. Selesai berwudhu saya langsung ke dalam mesjid, dan ternyata semburan AC nya sangat dingin. Lebih dingin daripada AC yang ada di dalam bus. Wow keren, kata saya. Bahkan ketika sholat saya sempat menggigil, bahkan bergetar hebat hampir dua rakaat pertama di sholat Maghrib tersebut. Hembusan angin AC langsung menerpa tubuh yang masih basah oleh bekas wudhu.
Selesai sholat Maghrib lanjut ke isya, saya pindah tempat. Menghindari AC yang langsung ke tubuh. Dua rakaat sholat isya yang di-qashar, segera tuntas. Zikir sejenak dan kembali ke luar mesjid. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus. Lega, ketika kewajiban sudah dilaksanakan. Alhamdulillah, bus berhenti pada saat yang tepat. Saat sebagian penumpang nya butuh menunaikan kewajibannya kepada Khaliq-nya.
Pas adzan isya mulai berkumandang bus pun bergerak menuju perbatasan Jambi dan Riau. Saya pun terlelap kembali.
Bangun bangun ketika bus berhenti di RM Bintang Raya. Nah ini baru rumah makan yang bersih yang ada sepanjang lintasan Lampung Pekanbaru yang saya temui selama ini. Rumah makannya bersih, lauknya banyak pilihan, harganya pun relatif murah. Dan yang penting kamar mandinya bersih banget. Airnya bening.
Nasinya diambilkan oleh pelayan yang bertugas, sementara lauknya kita ambil sendiri yang ada di etalase besarnya. Banyak pilihan dan tidak pelit untuk mengambil bumbu ataupun kuah yang kita inginkan. Harganya pun jelas terpampang di banner yang ada, di dalam rumah makan tersebut. Selintas terlihat untuk ukuran SOP daging hanya Rp 35.000. Jika dibandingkan di salah satu rumah makan di kisaran Palembang tarif dengan menu yang sama sudah di angka Rp 60.000.
Lauk yang saya ambil ayam goreng, yang ukurannya besar, kuah gulai ayam, bumbu rendang dan serundeng serta sayur daun singkong. Dan minumannya segelas teh susu. Total harganya hanya Rp 40.000 sudah berikut dengan sepiring nasi "tambuah" nya.
Dan ketika membayar, obrolan ringan dengan sang kasir yang juga tadi turun membantu pelanggan yang banyak, ternyata dia asli orang Batusangkar. Urang Dobok, Piliang. Rumahnya di belakang panti Asuhan Ade Irma Suryani, dekat simpang Pincuran Tujuh Batusangkar.
Alhamdulillah, hampir semua penumpang memuji rumah makan ini. Rumah makan terbaiklah di sepanjang lintas Timur Sumatra.
Pekanbaru masih jauh. Talago Lambuang di Sorek sebagai rumah makan yang wajib disinggahi PO NPM pun masih jauh. Pilihan tepat untuk makan malam di rumah makan Bintang Raya tersebut.
Menjelang jam 10 malam bus bergerak kembali ke trek lintas Timur menuju Pekanbaru. Sebagian besar penumpang pun kembali tidur. Perut kenyang, alunan tembang jadul karya Pance Pondaag era 80-an sebagai tembang pengantarnya.
Bangun bangun sudah di RM Talago Lambuang daerah Sorek. Bus hanya sekedar mampir. Sebagian penumpang ke kamar mandi. Hanya seorang penumpang yang makan di sini. Mungkin tadi yang naik di jalan.
Halamannya luas, kapasitas ruang makannya besar. Hanya satu yang menjadi catatan di sini adalah kamar mandinya yang perlu diperhatikan. Kalo untuk menu makanan saya tidak bisa memberi testimoni karena memang tidak makan di sini.
Dua setengah jam lagi menuju kota Pekanbaru dari rumah makan ini. Bus bergerak kembali. Insyaallah menjelang subuh nanti kami bisa sampai di Kota Bertuah. Doakan ya, selamat sampai di tujuan.
Pangkalan kerinci
22 Juli 2026
03.15 WIB






Tidak ada komentar:
Posting Komentar