Memang beda rasanya dalam perjalanan malam bersama bus ini. Bisa menulis. Bisa menikmati pemandangan yang ada. Lebih menikmati perjalanan ketimbang mengendarai kendaraan sendiri. Saat ini lebih santuy. Dalam kegelapan malam, menikmati lampu lampu dari kejauhan selama perjalanan hingga masuk pelabuhan, pesonanya beda. Kepengen memotret, tetapi hasilnya nggak maksimal, apalagi terhalang oleh kaca atau jendela bus. Kena pantulan cahaya.
Kondisi ini juga membawa nuansa ke tahun 90-an, ketika naik bus. Meskipun bus nya belum senyaman sekarang ini. Ketika tol belum ada. Masuk pelabuhan menjelang malam, menyeberangi selat Sunda hingga rehat pertama di rumah makan di Bagadang V ataupun di sekitarannya, sepanjang Kalianda menuju Bandar Lampung, sudah tengah malam. Meskipun waktu itu berangkat dari terminal rawamangun siang juga, sampai di pelabuhan Merak nya malam juga. Kondisi itu saya alami malam ini. Dejavu.
Sebelum masuk pelabuhan bus berhenti sejenak, kru dan beberapa penumpang turun membeli nasi bungkus. Dan ketika masuk pelabuhan Merak, di dermaga executive kami harus menunggu kapal berikutnya. Kapal yang yang ada sudah mau lepas jangkar. Dan kami di urutan pertama untuk type bus yang akan menyeberang, ada 3 engkel kecil di samping NPM yang kami tumpangi.
Turun dari bus adalah kenikmatan tersendiri. Menikmati kapal yang menjauh dan yang mau merapat ke dermaga. Begitu juga dengan angin dingin yang berembus, pelan-pelan menusuk tulang. Tetapi ombak cukup tenang, setenang hati ini untuk menapak ke Sumatra, penuh keyakinan.
Pop mie adalah pilihan pertama penghangat tenggorokan. Harganya hanya 10.000 rupiah saja. Naik 5.000 ketika kita belanja di kapal saat menyebrangi selat Sunda. Lumayan lah bedanya. Bagi yang berhemat, seperti saya, pilihan beli tetap di dermaga.
Setelah bongkaran dari lambung kapal Jatra 3 selesai, perlahan kendaraan bergantian masuk ke dalam kapal yang akan kembali ke selat Sunda. Satu per satu masuk, tak ada antrian yang panjang terlihat di belakang. Suasana adem, membuat para supir santuy. Begitu juga dengan petugas kapal dan ASDP tenang mereka bekerja.
Area pertama yang saya cari setelah sampai di kapal adalah tempat yang nyaman untuk makan malam. Menghabiskan nasi bungkus yang tadi dibeli sebelum menyebrang. Harga 25.000 sebungkus dengan lauknya gulai ikan dan satu pergedel. Lumayanlah. Makan kenyang dengan harga standar. Alhamdulillah dapat suasana yang relatif sepi, sofa sofa nyaman banyak yang kosong di dek 2 nya. Saya langsung makan, karena memang sudah lapar juga. Sayang kuah gulainya agak kurang sehingga nasinya terasa agak keras meskipun masih hangat. Dedak rendang lupa pula kita mintakan. Kalo tidak, wow nikmatlah pastinya.
Dan di dermaga tadi, juga ada juga yang dagang nasi uduk dengan harganya 13.000 rupiah saja sebungkus. Pedagangnya masuk ke dalam bus. "Bajojo nasi", bahasa Minangnya. Nasi uduk dengan orek tempe, bihun dan telornya. Ternyata peminatnya buaaanyak banget. Sampai sampai yang dagang kembali ke rumah, menemui istrinya untuk dibungkuskan lagi sekitar 15 bungkus. Saudara kita dari Jawa, yang berombongan tadi mesan 11 bungkus. Begitu juga dari penumpang lainnya. Nasi uduk ini jauh lebih bergizi daripada MBG yang dijalankan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Yang ketua BGN nya tertuduh korupsi.
Makan nasi bungkus di kapal itu nikmat. Terutama bagi yang bawa kendaraan pribadi, bisa lebih hemat waktu. Harganya pun terasa lebih ringan di kantong ketimbang makan di RM setelah menyeberang nantinya.
Lepas makan, rehat sejenak, menyapa saudara-saudara yang satu bus dalam perjalanan ke Sumatra. Hingga ketika agak luang waktu, segera mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat wajib. Jamak qashar Maghrib dan Isya.
Kapal Jatra 3 ini relatif sepi. Truk dan engkel menuju Lampung saja yang banyak. Bus tak banyak, sehingga kapal terasa lebih sepi. Ada dua anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari di dekat tempat saya duduk. Mereka bebas berlarian, sebebas-bebasnya. Namun tetap dalam pantauan ibu dan nanny nya.
Dan tulisan ini pun diakhir dulu ya. Karena kami akan menuju bus untuk segera "landing" di Pulau Andalas.
Jatra 3, selat Sunda
20 Juli 2026
22.32 WIB





Saya menikmati lapper ini. Terimakasih Sutan JJ
BalasHapus