Selasa, 21 Juli 2026

"Landing" di Pulau Andalas

Setelah ada informasi bahwa kapal akan "mendarat" di Bakauheni semua penumpang yang ada di kapal Jatra III ini bersegera balik ke kendaraan nya masing-masing. Memang tak banyak penumpang bus malam ini. Tidak berdesakan seperti biasanya yang saya alami selama ini di setiap kapal di lintas Jawa dan Sumatra ini. Sepi.


Namun ketika kembali ke dalam bus mestilah hati-hati juga. Apalagi ketika melihat genangan air yang ada di sepanjang jalur yang dilalui. Kadang ada saja aliran "urine" dari bus, yang nanti bisa mengotori pakaian yang kita gunakan. Saya sangat hati-hati dalam hal ini. Meskipun sudah ada larangan menggunakan toilet di mibil yang berhenti, tetapi tetap ada aja yang nggak mau tahu. Kebelet atau "tasasak" lah alasannya.


Menunggu antrian kendaraan untuk keluar dari lambung kapal, saya tertidur. Baru tersadar ketika bus sudah keluar dari tol, menuju rumah makan Wisata Minang yang ada di Kalianda. Istirahat pertama nya di sini.


Dan di RM Wisata Minang ini adalah tempat penukaran voucher makan dari setiap penumpang PO NPM ini. Dengan voucher yang ada, penumpang tinggal makan, dengan pilihan menu yang sudah disediakan. Nasinya boleh ambil bebas. Minumnya pun tinggal pilih air putih atau teh hangat.


Saya yang masih kenyang, tak mau juga memaksakan makan. Maklum sudah hampir tengah malam. Akhirnya saya memilih menukarkan voucher ini dengan roti yang ada. Daripada hangus dan roti itupun harganya Rp. 30.000 dan hanya harus nambah Rp. 5.000 Sambil menunggu waktu, saya juga pesan segelas kopi susu. Sudah lama nggak minum kopi susu urang awak ini. Segelas harganya Rp 13.000,. Menikmatinya sambil sesekali dicelupin sedikit demi sedikit potongan roti yang tadi dibeli. 


Jam 00.05 bus kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu tol dan tak lama berselang saya pun tertidur. Bangun bangun sudah di KM 340 menuju pintu keluar di Kramasan. Qadarullah ketika terbangun, HP saya terjatuh di sisi kiri sebelah jendela. Bingung juga bagaimana mengambilnya. Celahnya sangat sempit. Di kanan saya, si Albert masih tidur. Di bagian belakang dua penumpangnya juga nyenyak tidurnya. Mau minta tolong, nggak enak hati juga. Penumpang umumnya pada tidur. Hanya satu dua orang yang masih pegang HP nya mencari berita atau hanya sekedar scroll-an.


HP berbunyi karena stelan ya begitu. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 5. Akhirnya dengan segala cara, berhasil juga dijangkau. Ditarik dengan jari tengah dan telunjuk, diangkat perlahan dan diambil lagi dengan tangan kiri. Alhamdulillah akhirnya berhasil juga.


Dan tak lama kemudian keluar dari tol Kramasan, mampir sejenak di loket PO NPM. Ada satu penumpang dengan no seat 30 yang dalam perjalanan ke loket hendak ke Pekanbaru. Bus ini emang full. Banyak yang turun sekedar buang air di loket ini. 


Setelah penumpang tersebut datang, bus juga bergerak kembali menuju mesjid terdekat untuk memberi kesempatan bagi penumpangnya menunaikan sholat subuh. Sesuai khasnya bus ranah Minang, memberikan kesempatan bagi penumpang untuk melaksanakan sholat subuh atau Maghrib dengan mampir di mesjid terdekat yang dilaluinya.


Tak lama kemudian bus jalan lagi. Ngantuk masih terasa. Tidur lagi. Masuk jalan Pemda Banyuasin saya terbangun, hingga akhirnya mampir sejenak untuk sarapan pagi di Betung.


Awalnya agak macet juga, supir bis mengambil inisiatif mampir di lokasi yang pada bulan ramadhan lalu saya singgahi bersama keluarga menjelang subuh. Tempat yang sama, cuma suasananya saja yang berbeda. Dulu rame sekali di sini walaupun jam tiga dinihari. Macet parah menjelang simpang Betung. Banyak kendaraan pribadi yang parkir di sini, suasana hujan pula. 


Dan lagi tadi saya pesan Intel dan teh telor. Total dua mami ini, makanan dan minuman, hanya Rp 26.000-' saja. Murah banget. Tiga belas ribu rupiah masing-masing nya.


Hampir semua penumpang sarapan di sini. Ada juga yang cuci muka dan gosok gigi. Sayang saya lupa untuk hal begini. Biasanya istri yang suka ngingatin setiap pagi jika dalam perjalanan seperti ini. Pagi ini, lali aku.


Sei Lilin

Selasa 21 Juli 2026

10.48 WIB

Menyeberang Selat Sunda

Memang beda rasanya dalam perjalanan malam bersama bus ini. Bisa menulis. Bisa menikmati pemandangan yang ada. Lebih menikmati perjalanan ketimbang mengendarai kendaraan sendiri. Saat ini lebih santuy. Dalam kegelapan malam, menikmati lampu lampu dari kejauhan selama perjalanan hingga masuk pelabuhan, pesonanya beda. Kepengen memotret, tetapi hasilnya nggak maksimal, apalagi terhalang oleh kaca atau jendela bus. Kena pantulan cahaya.


Kondisi ini juga membawa nuansa ke tahun 90-an, ketika naik bus. Meskipun bus nya belum senyaman sekarang ini. Ketika tol belum ada. Masuk pelabuhan menjelang malam, menyeberangi selat Sunda hingga rehat pertama di rumah makan di Bagadang V ataupun di sekitarannya, sepanjang Kalianda menuju Bandar Lampung, sudah tengah malam. Meskipun waktu itu berangkat dari terminal rawamangun siang juga, sampai di pelabuhan Merak nya malam juga. Kondisi itu saya alami malam ini. Dejavu.


Sebelum masuk pelabuhan bus berhenti sejenak, kru dan beberapa penumpang turun membeli nasi bungkus. Dan ketika masuk pelabuhan Merak, di dermaga executive kami harus menunggu kapal berikutnya. Kapal yang yang ada sudah mau lepas jangkar. Dan kami di urutan pertama untuk type bus yang akan menyeberang, ada 3 engkel kecil di samping NPM yang kami tumpangi.


Turun dari bus adalah kenikmatan tersendiri. Menikmati kapal yang menjauh dan yang mau merapat ke dermaga. Begitu juga dengan angin dingin yang berembus, pelan-pelan menusuk tulang. Tetapi ombak cukup tenang, setenang hati ini untuk menapak ke Sumatra, penuh keyakinan.


Pop mie adalah pilihan pertama penghangat tenggorokan. Harganya hanya 10.000 rupiah saja. Naik 5.000 ketika kita belanja di kapal saat menyebrangi selat Sunda. Lumayan lah bedanya. Bagi yang berhemat, seperti saya, pilihan beli tetap di dermaga. 


Setelah bongkaran dari lambung kapal Jatra 3 selesai, perlahan kendaraan bergantian masuk ke dalam kapal yang akan kembali ke selat Sunda. Satu per satu masuk, tak ada antrian yang panjang terlihat di belakang. Suasana adem, membuat para supir santuy. Begitu juga dengan petugas kapal dan ASDP tenang mereka bekerja. 


Area pertama yang saya cari setelah sampai di kapal adalah tempat yang nyaman untuk makan malam. Menghabiskan nasi bungkus yang tadi dibeli sebelum menyebrang. Harga 25.000 sebungkus dengan lauknya gulai ikan dan satu pergedel. Lumayanlah. Makan kenyang dengan harga standar. Alhamdulillah dapat suasana yang relatif sepi, sofa sofa nyaman banyak yang kosong di dek 2 nya. Saya langsung makan, karena memang sudah lapar juga. Sayang kuah gulainya agak kurang sehingga nasinya terasa agak keras meskipun masih hangat. Dedak rendang lupa pula kita mintakan. Kalo tidak, wow nikmatlah pastinya.


Dan di dermaga tadi, juga ada juga yang dagang nasi uduk dengan harganya 13.000 rupiah saja sebungkus. Pedagangnya masuk ke dalam bus. "Bajojo nasi", bahasa Minangnya. Nasi uduk dengan orek tempe, bihun dan telornya. Ternyata peminatnya buaaanyak banget. Sampai sampai yang dagang kembali ke rumah, menemui istrinya untuk dibungkuskan lagi sekitar 15 bungkus. Saudara kita dari Jawa, yang berombongan tadi mesan 11 bungkus. Begitu juga dari penumpang lainnya. Nasi uduk ini jauh lebih bergizi daripada MBG yang dijalankan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Yang ketua BGN nya tertuduh korupsi.


Makan nasi bungkus di kapal itu nikmat. Terutama bagi yang bawa kendaraan pribadi, bisa lebih hemat waktu. Harganya pun terasa lebih ringan di kantong ketimbang makan di RM setelah menyeberang nantinya.


Lepas makan, rehat sejenak, menyapa saudara-saudara yang satu bus dalam perjalanan ke Sumatra. Hingga ketika agak luang waktu, segera mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat wajib. Jamak qashar Maghrib dan Isya.


Kapal Jatra 3 ini relatif sepi. Truk dan engkel menuju Lampung saja yang banyak. Bus tak banyak, sehingga kapal terasa lebih sepi. Ada dua anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari di dekat tempat saya duduk. Mereka bebas berlarian, sebebas-bebasnya. Namun tetap dalam pantauan ibu dan nanny nya.


Dan tulisan ini pun diakhir dulu ya. Karena kami akan menuju bus untuk segera "landing" di Pulau Andalas.


Jatra 3, selat Sunda 

20 Juli 2026 

22.32 WIB

Senin, 20 Juli 2026

Menuju Pekanbaru Bersama NPM

Alhamdulillah, sesuai rencana awal sore ini saya menuju kota Pekanbaru. Kota Bertuah. Semula pengen mencoba naik Aerobus yang lagi viral, ternyata tiketnya yang dijual secara online melalui aplikasinya, full book hingga 26 Juli. 


Dan akhirnya pilihan jatuh ke PO NPM. Hal ini disebabkan rasa penasaran saja. PO ranah Minang yang sangat legend dengan kelas tertinggi nya Sutan Class. Konfigurasi seatnya 2-2 dengan total penumpang 30 orang. Terakhir naik ke PO ini ketika masih lajang dari Jakarta menuju Padang. Dan untuk trayek ke Pekanbaru unit unit yang ada, relatif lebih baru. Ini nanti bisa dibuktikan dengan nomor unit yang ada di setiap armadanya. 


Dan dengan no bangku bagian depan kiri, saya merasakan kenyamanan. View yang lapang terlihat dari kacanya yang single glass tanpa tameng. 


Menunggu bus ini dari siang tadi dengan selalu mendapatkan info terbaru dari agen yang ada di terminal bayangan di daerah Kreo Larangan. Hanya satu unit yang jalan menuju Pekanbaru Duri Dumai hari ini. Dan unit yang saya tumpangi berasal dari kota Bandung. Biasanya dua uni, satu dari Bandung dan satu lagi dari Bogor. Dari Bogor selalu berangkat lebih awal karena lebih dekat. Tetapi saat ini, dua unit dijadikan satu. Agak telat, tetapi agennya selalu berkabar.


Saya menunggu di rumah, dan setelah bus sampai di Petukangan, agen mengabari saya. Agennya mas Gambuh. Orang Jawa asli. Jam 16.20 sampai di sana, bus sudah standby. Menunggu saya yang membawa motor dari rumah dengan barang dibantu pegang oleh Nova. Sejenak setelah barang naik ke bagasi, saya menuju bangku yang sudah dipesan, Nova pun pulang ke rumah. 

Ini yang agak lain saat ini.


Pertama: Biasanya saya yang menunggu bus. Dan sekarang bus yang menunggu saya. Alhamdulillah hubungan saya dengan mas Gambuh sangat baik. Sebelum saya naik bis, masih sempat diskusi, bagaimana rombongan pak Marjon kemarin ke Pekanbaru, tanya nya Saya bilang, Alhamdulillah dengan PO TAM jadinya. Awalnya rombongan atlet Woodball yang berjumlah 27 orang ini akan menyewa satu unit NPM melalui mas Gambuh. Ternyata unitnya kosong. Maklum musim liburan. Dan akhirnya rombongan ini kembali lagi ke Riau menggunakan PO TAM lagi. Tadinya pengen cari suasana yang berbeda. 


Kedua: Baru kali ini saya berangkat sore ke Sumatra menggunakan bus. Biasanya pagi atau siang. Pengalaman baru lagi ini bagi saya. Meninggalkan kota Jakarta yang alhamdulilah tak begitu macet dengan kenyamanan bus yang oke punya, beda juga rasanya. Relatif lancar dalam perjalanan menuju terminal Poris Plawad. Mungkin karena beberapa kampus masih libur juga ya. Agak macet sedikit terasa di perlintasan kerata api dari jalan Daan Mogot menuju Poris. Biasalah kereta lewat sore itu.


Ketiga: Penumpang nya sangat heterogen. Biasanya kalo ke Sumatra umumnya adalah orang Minang. Tetapi kali ini adalah saudara kita yang dari Jawa, rombongannta naik di terminal Poris. Banyak bawaannya, baik berupa cangkul, aneka ukuran ember, alat tukang lainnya. Dan dari Kreo sudah terdengar percakapan bahasa Sunda di bangku bagian belakang. Ini unik. Ternyata Pekanbaru menjadi kota yang yang sangat majemuk. Segala suku ada di sana. Makanya banyak PO bus asal Sumatra berani buka trayek selain ke Bandung, juga ke Sukabumi, Tasikmalaya, dll. Segmen penumpangnya banyak, baik yang dari Sunda ataupun dari Jawa. War biyasa. 


Hampir satu setengah jam dari Kreo menuju Poris Plawad melewati tol dalam kota. Hanya sekedar lewat dan tidak mampir di terminal Kalideres. Banyak juga yang naik di terminal Poris dan menjelang Maghrib keluar dari terminal, mengisi BBM dulu di SPBU terdekat. Setelah itu unit NPM ini menuju pelabuhan merak, berbarengan dengan satu unit Miyor suit combinya. Dugaan saya Miyor inipun dari Bandung juga.


Jalan malam menuju ujung Banten, pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Sumatra sangatlah lancar. Adem banget. Biasanyakan terik. Matahari masih di ubun-ubun. Alhamdulillah sekarang nyaman pake banget dah.


Semoga semuanya lancar ya. Mohon doa restunya untuk saya dan penumpang lainnya yang akan menuju propinsi Riau malam ini. Prediksi awal saya akan sampai di kota Bertuah dini hari, di hari Rabu nanti.


Demikian dulu, catatan pertama dalam trip kali ini.


Tol Merak Banten.

Senin 20 Juli 2026

18.42 WIB

"Landing" di Pulau Andalas

Setelah ada informasi bahwa kapal akan "mendarat" di Bakauheni semua penumpang yang ada di kapal Jatra III ini bersegera balik ke ...