Selasa, 16 Desember 2025

TAM:: Bakauheni Kalianda (3)

Ternyata prediksi bakalan sampai di Bakauheni molor. Baru landing jam 19.10 WIB. Faktor yang mempengaruhi jelas cuaca yang kurang bersahabat. Mendung dan hujan selama perjalanan serta ombak yang sangat besar di sepanjang Selat Sunda.


Ketika adzan Maghrib berkumandang, dari dek dua ke dek tiga, dimana mushola berada, kami berjalan sangat hati hati sekali. Bagian luar kapal basah, air yang tergenang bergerak ke kiri dan ke kanan. Kecipratan sudah pasti.


Begitu juga ketika naik tangga, harus berpegangan ke railing nya. Angin bertiup sangat kencang, menyebabkan kaos oblong yang saya gunakan selain kena hujan, juga sempat tersimgkap ke atas karena tiupannya.


Alhamdulillah meskipun basah, bisa berwudhu dan sholat berjamaah Maghrib dan dilanjutkan sholat isya yang diqashar. Jamak qashar. Alhamdulillah sholat tidak tertinggal dan masih sempat berjamaah. Dan ketika sholat pun harus hati-hati, agak goyang juga akibat guncangan ombak di KMP Batu Mandi ini.


Selesai sholat langsung kembali ke ruangan dimana Dhifa tetap menunggu kami. Jelas kapal tidak sekencang biasanya. Tak lama berselang kami pun kembali ke dalam bus. Agak "berselingkit" penumpang yang turun, karena hujan gerimis dan jalan agak licin. Dan sempat mengamati juga di dek kendaraan pribadi tak begitu rame ini. Hanya sepertiga yang terisi.

Keluar dari lambung kapal, kendaraan pun pelan-pelan. Agak tersendat hingga akhirnya bisa keluar kapal dan segera menuju pintu tol menuju rumah makan Siang Malam dimana ini akan menjadi rest area pertama yang kami jalani.


Voucher makan yang ada di tiket, bisa ditukarkan di sini. Sekali makan saja dan itu wajib di sini, begitu penjelasan bang Doris. Makannya prasmanan. 


Namun karena kami masih ada bekal yang tadi belum sempat dimakan di atas kapal, akhirnya 3 voucher tersebut kami jadikan 3 nasi bungkus. Kami makan bekal yang disiapkan oleh sang bundo dengan lauknya Ikan sapek tempe balado, tuna balado dan oseng-oseng tahu tempe. Plus dua gelas teh manis hangat kami pesan, penghangat tenggorokan, seharga Rp 6.000 per gelasnya.

Layanan prima diberikan karyawan rumah makan ini. Meskipun kami makan dengan bekal kami sendiri, kami tetap disuguhi minuman air putih hangat, untuk bertiga. Namun tetap setelah makan, kotak mika tempat kami makan dan satu kotak lauk yang habis tetap kami rapikan. Kami tumpuk semuanya di tengah meja, sehingga karyawan rumah makan tinggal ambil saja. Sebuah kebiasaan yang telah lama kami lakukan. Meringankan dan membantu kerja orang lain.


Kami terakhir penumpang yang dipanggil ke dalam bus. Dan saat bus berjalan, singgah sebentar di SPBU terdekat sebelum masuk tol Sumatra lagi. Nyolar dulu mumpung sepi dan tak perlu antri panjang.


Alhamdulillah, saat ini kami sudah di tol trans Sumatra. Jalan malam sendirian. Tak tampak ada bus lainnya yang membersamai kami. Insyaallah sebentar lagi saya akan menikmati perjalanan ini dengan tidur sebisanya. Semaksimalnya. 


Syukurnya hujan telah reda. Kecepatan bus lebih terasa. Mungkin juga karena kondisi jalan yang rada sepi.


JTTS, 21.08 WIB 

16 Desember 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fokus Pada Tujuan Akhir

Jika diibaratkan mobil, ada tiga buah spion dan satu kaca yang besar. Tiga spion kiri dan kanan dan satu dibagian atas. Meskipun tiga spion,...