Minggu, 14 Desember 2025

Nyali dan Hobby

Tak terasa hampir setahun yang lalu, 14 Desember 2024 memiliki kenangan yang luar biasa. Berdua dengan si Bundo, kami merambah lintas Sumatra untuk pertama kalinya berdua-an. Benar benar berdua saja.


Berangkat malam sehabis sholat Maghrib sekitar jam 19.00 dari rumah dengan Terios kami, keluaran tahun 2013. Berangkat mendadak, tanpa pemberitahuan kepada sesiapa pun di kampung halaman. Hanya anak anak saja yang tahu perjalanan kami ini. Mereka dikasih tahu karena trip perjalanan mereka ke kampung halaman menyusul kami dengan moda transportasi yang berbeda, darat dan udara, diatur sedemikian rupa secara cermat. Mereka juga berdua, dari dua kota yang berbeda, Tasikmalaya dan Kudus.


Bagi kami inilah perjalanan yang sangat sangat berbeda. Beda dari segalanya nuansa dan pengalaman sebelumnya. Keputusan ini mendadak demi membahagiakan orang tua dan sanak keluarga yang ada di Kapau sana.


Jalan malam, melintasi selat Sunda dengan kapal reguler sehingga bisa tidur selama dua tiga jam. Subuh sudah mau memasuki kota Palembang. Sarapan dengan stok yang ada di kendaraan saja, tidak mampir seperti biasanya di kota Palembang.


Jalan santai menjelang siang, hingga akhirnya benar benar lapar ketika sudah sampai di Betung menjelang perbatasan Sumsel dan Jambi. Dan akhirnya kami berhenti di RM Pincuran Gadang dimana di sini banyak truk dan kendaraan pribadi yang parkir. Dan salah satu ciri rumah makan yang enak dan harga terjangkau ya ini, banyak disinggahi oleh supir truk.


Alhamdulillah "makan lamak" lah kami di sini. Lauknya enak terutama gulai kepala kakapnya. Ada juga gulai jengkolnya. Benar benar kenyang.


Dan selanjutnya sehabis makan siang perjalanan dilanjutkan menuju Bungo. Ada permen karet yang saya kunyah kunyah ketika mata mulai ngantuk. Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik.


Sampai di Muaro Bungo menjelang Maghrib kami pun rehat di sini. Bundo melarang untuk melanjutkan. Apa yang dicari? Kita jalan santai saja lah, katanya.


Bermalam di sini, makan malamnya juga ada di dekat penginapan dengan menu khas Payakumbuh. Urang awak juo.


Esok subuh kita lanjutkan perjalanan, dan sampai di Kapau selepas sholat Zuhur. Saat orang sedang rami rami nya mamasak "marandang untuak baralek". Semuanya terkaget-kaget dengan kedatangan kami ini. Berdua saja, tanpa anak-anak. Perjalanan seperti urang nan "pulang pokok" saja.


Namun ada beberapa hal dalam perjalanan berdua ini yang bisa kami jadikan patokan sebelumnya, antara lain:

1. Kesiapan fisik baik kendaraan maupun supir dan penumpangnya.

2. Nyali dan Hobby. Ini adalah faktor utama juga. Biasanya  terasah dengan sendirinya. 

3. Pengalaman berkendara dan jam terbangnya.

4.Perhitungan. Ini berdasarkan pengalaman seberapa sering jalur tersebut sudah ditempuh. Begitu juga perhitungan kapan akan memulai, kapan akan sampai. Hitungannya harus matang. Begitu juga kapan akan rehat dan target rehat nya dimana.

4. Pendamping atau co driver sangat menentukan. 

5. Doa sebelum, selama dan selesai perjalanan. Ini adalah faktor utama juga. Memohon perlindungan kepada Allah SWT selalu dan senantiasa. Dia lah yang akan melindungi selama kita memohon kepadanya. Kadang dalam perjalanan jauh banyak hal hal diluar nulir yang bisa saja terjadi. Pertolongan sering hadir tanpa kita sadari. Semuanya tentu karena pertolongan dari Allah SWT. So jangan tinggalkan sholat Dan doa selama perjalanan.


Demikian sekedar sharing, flash back perjalanan setahun yang lalu. Dan akhir tahun ini, adakah cerita lainnya?

Penasaran? Saya pun demikian. 



Gambar hanya sekedar pemanis tulisan


Graha Raya

10 Desember 2025

20.40 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fokus Pada Tujuan Akhir

Jika diibaratkan mobil, ada tiga buah spion dan satu kaca yang besar. Tiga spion kiri dan kanan dan satu dibagian atas. Meskipun tiga spion,...