Minggu pagi sehabis pengajian dan sholat Sunnah, HP yang saya bawa berdering. Saya segera keluar dari mesjid menuju teras, dan menjawab telpon yang masuk. Ternyata dari ni Lin Yendri Surlini SSi. Pasti penting ini, gumam saya dalam hati.
Dan benar saja bahwa uni saya ini sudah otw menuju Sentul katanya. Kaget juga saya, ternyata acara yang diinginkan jadi juga. Seingat saya di reschedule. Segera saya berkabar ke Nova Yanti , untuk segera bersiap-siap. Dan saya manfaatkan waktu pagi ini sesegera mungkin menyelesaikan sarapan pagi sehabis kajian bersama ustadz Umar Faqih dan jamaah lainnya. Sarapan pagi ini adalah ketan dengan bubur kacang hijau, yang diantarkan oleh Bundo Nova sebelumnya. Hidangan sudah siap, tinggal santap saja. Obrolan ringan bersama jamaah dan ustadz ini cepat sekali rasanya selesai, secepat santapan saya juga.
Tak lama berselang, saya segera pulang dan membantu persiapan untuk berangkat. Alhamdulillah mobil sudah dalam keadaan ready, full tank. Begitu juga dengan e-toll yang ada, cukup isinya.
Segera kami meluncur menuju pintu toll Bintaro menuju Sentul. Lokasi titik kumpul pun sudah dikirim oleh ni Lin. Begitu juga dengan da Hendra FJ, kak Dewi Wuwuh S dan Puti juga sudah dalam perjalanan juga. Semuanya dikondisikan oleh ni Lin.
"Bagageh" kami pagi itu menuju titik kumpul. Terlambat tentu saja karena tidak sesuai dengan rencana semula. Tetapi untuk sebuah kebersamaan dan memperkuat ukhuwah semangat kami takkan kendor. Apalagi ini trekking bersama, 3 keluarga dengan total 8 orang. Trekking yang pertama kalinya kami lakukan. Full semangat pastinya.
Jam 8 lewat beberapa menit saya sampai di titik kumpul. Da Hen dan keluarga sudah menunggu kami, langsung naik ke Terios kami. Sementara da Nirwan Satria, Ni Lin dan Syifa standby di mobil Opel Blazer antiknya. Seorang guide yang dipercaya oleh ni Lin pun sudah standby di motornya. Mobil sedan da Hen, tertinggal di sini. Dua mobil cukup untuk mengantarkan kami ke lokasi awal trekking.
Jalan yang lebar di Sentul city kami tinggalkan, masuk ke jalan perkampungan dengan sempit, penuh dengan tanjakan dan turunan serta tikungan tajam di beberapa titik. Agak ngeri juga awalnya melihatnya, apalagi di beberapa spot jalan, jalannya tidak lagi mulus. Berbatu dan berpasir.
Alhamdulillah tak sampai setengah jam akhirnya kami sampai juga di lokasi. Sudah banyak kendaraan roda dua dan roda empat di sana. Mungkin kami rombongan trekking yang terakhir. Ada satu rombongan yang tersisa, sedang melakukan stretching ketika kami sampai di sana.
Dengan segera kami manfaatkan waktu untuk berkumpul, melakukan stretching dan doa bersama. Cuaca yang cerah, secerah hari kami melakukan trekking ini.
Melintasi jalan kampung, pematang sawah, sungai yang mengalir dengan airnya yang bening. Ada bekal sebotol air mineral dan sebungkus bengbeng buat cemilan di jalan diberikan oleh pemandu kami.
Obrolan seger diantara kami pun mengalir diantara sesekali dengusan nafas yang sesak ketika menanjak. Pemandu kami selalu mengambil spot spot terbaik yang kami lalui. HP saya ada di tangan dia. Saya serahkan sepenuhnya, karena saya sangat menikmati trip dengan alam yang sangat indah ini. Saya percayakan sepenuhnya. Dan HP itu pun paket data nya saya off kan, sehingga tak ada gangguan bagi saya dalam perjalanan seperti ini dan juga tidak menggangu pemandu juga tentunya.
Alam yang indah ini, tentu tak kalah dengan yang ada di Sumatra Barat. Tetapi seingat saya belum ada yang mengelola seperti yang ada di Sentul dan sebagian lokasi lainnya Jawa Barat. Sebenarnya ini bisa mendatangkan cuan, bagi kelompok penyelenggara. Untuk kegiatan ini kami harus membayar RP 175.000 per orang. Dan yang hadir di sini bukan kami saja, banyak kelompok lainnya. Belum lagi di beberapa spot Curug lainnya. Bisa dibayangkan berapa uang yang beredar di lokasi wisata alam seperti ini, mengalir ke masyarakat tempatan. Belum lagi bagi para penjual makanan yang ada di spot spot yang kami lalui.
Ada dua kali kami rehat. Rehat pertama sebelum masuk lokasi Curug. Kami rehat sejenak melepas penat sambil minum air kelapa dan cemilan yang ada. Yang kedua di lokasi Curug Cibingbin, menikmati gorengan dan buah manggis serta kopi yang ada di warung dekat Curug tersebut.
Kami nikmati Curug Cibingbin ini sepuasnya. Namun kami tak lagi sempat menikmati tiga Curug lagi yang lebih tinggi posisi nya dari Cibingbin ini. Tiga Curug yang sangat berdekatan. Kami memilih cukup di sini saja. Pertama karena sudah capek dan kedua karena waktu sudah menunjukkan "tengah hari".
Puas dari sini kami pun pulang dengan rute jalan yang berbeda. Nova, kak Dewi dan Ni Lin sempat belanja ulekan. Ulekan asli dari batu, bukan semen-an.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena umumnya menurun dan hati sudah puas. Alam yang indah, udara yang segar dan semuanya ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 6 kilometer. Memupuk kebersamaan, memperkuat ukhuwah yang sudah terjalin di antara kami sejak tahun 90-an. Persahabatan ini insyaallah mengalir juga ke anak anak kami kelak. Insyaallah.
Setelah semuanya sampai di titik kumpul semula kami pamit kepada pemandu yang telah menemani selama hampir empat jam. Dan kami pun mengisi " Lambuang" di RM Little Minang yang masih ada di Sentul City ini
Kami sholat, bebersih dan makan siang di sini sebelum kembali ke rumah masing masing. Sebuah kebersamaan yang indah. Dan insyaallah akan kami lakukan lagi di kemudian hari secara berkala. Bagageh adalah WAG yang sengaja dibentuk untuk itu.
Bintaro 21 Januari 2025
15.30 WIB
Masya allah tabarakallah next trip new curug ...semoga anggota bagageh bertambah...tambah banyak tambah seru
BalasHapus