Selasa, 30 Desember 2025

Jajannya Buku

Setelah beberapa hari ini di rumah di rumah saja, akhirnya dia minta untuk diajak keluar. Sebelumnya kalo diajak sama saudara yang lain hanya sekedar memenuhi syarat saja, jika tidak dianggap terpaksa. Baik di Duri ataupun di Pekanbaru.


Di Duri bersama Yuni dan Fatur hanya pengen beli ice cream dan jajanan lainnya, buat ngemil di kamarnya. Di Pekanbaru sempat bertiga dengan sepupunya, Affan dan kak Aira nginap di hotel sehari dan kulineran ke Sate Ocu Ijep di Rimbo Panjang bersama saya, Esi dan suaminya beserta anak minantu nya serta satu cucu. Dengan Wiza dan keluarga ke Living World sekali. Hanya itu saja dia keluar rumah.


Tetapi hari ini dia minta di antar ke Gramedia. Ke Mall bukan dunia dia. Dia merasa risih jika ke sana, kecuali kalo di sana ada toko bukunya. 


Setelah zuhur tadi, cuaca agak bersahabat kami motoran dari rumah di jalan Piranha menuju Gramedia di jalan Sudirman kota Pekanbaru. Lewat jalan belakang saja. Alhamdulillah sedikit gerimis halus dalam perjalanan tak menghentikan langkah walau untuk sekedar berteduh. 

Sesampai di Gramedia dia asyik mencari 3 buku buat dia dan satu pesanan kakaknya. Saya menikmati suasana ini dengan video call bersama Bunda, Imam dan Kakak serta nenek. Saling berkabar dan bercerita dengan kondisi masing-masing yang terbentang jarak yang cukup jauh.  Bentangan jarak tak menghalangi kami berkomunikasi saat ini, begitu juga dengan teman teman tentunya.


Selama berkomunikasi tersebut tak terasa empat buku sudah selesai dia pilih. Totalnya Rp 457.000 untuk empat buku pilihannya. Sempat saya ledekin tadi, kalo di fried chicken, "Dengan satu lembar seratus ribu sudah kenyang banget kita Nak." 

Nah dia ini emang beda. Biarlah tidak ke outlet fried chicken atau yang sejenisnya. Biarlah tidak makan di sana, kalo hanya sekedar mengisi perut. Tak mengapa. Yang penting jangan tidak beli buku. Buku adalah segalanya bagi dia. Buku adalah jajannya.


Dan dari total pembelian buku tadi, saya hanya mengambil dua ratus ribu saja yang dia. Sisanya saya suruh simpan. Tadinya dia mau bayar semuanya. Dia merasa punya uang sendiri dan mau membeli buku dari uangnya sendiri. Begitulah dia. Ada prinsip tidak mau tergantung orang lain, kalo dia mau, dia siapkan uang tabungannya untuk belanja. Lumayan keren menurut saya mah. :)


Sayang ketika mau keluar dari Gramedia hari hujan. Lumayan deras dan lumayan lama. Sembari hujan reda, tulisan ini saya tuntaskan. Menulis itu indah. Menulislah sebisanya dengan memanfaatkan waktu yang ada, seperti saya .


Pekanbaru Depan Gramedia 

28 Desember 2025, 15.20.

Jumat, 26 Desember 2025

TAM: Japura Pekanbaru (6)

Alhamdulillah sekitar jam 7 malam kami sampai di rehat ketiga atau rehat terakhir sebelum sampai di tujuan akhir, kota Pekanbaru. Rumah Makan Simpang Raya Japura. Bus satu-satunya PO TAM yang landing. 

Turun lebih awal saya sempat diskusi dengan bang Doris sejenak, sebelum bersama Imam dan Dhifa mencari toilet dan selanjutnya mushola buat sholat jamak qashar Maghrib dan Isya. Mushola terletak terpisah di sebelah kiri rumah makan sementara toiletnya berada di dalam rumah makan bagian belakang.


Saya sholat duluan, imam menyusul belakangan. Agak lama dia di kamar mandi. Sementara Dhifa telah menunggu di rumah makan ketika saya selesai sholat. 


Kami memesan dua porsi makan dengan lauknya gulai ayam, plus dua nasi "tambuah" yang disertakan dan buat Dhifa seporsi soto tanpa nasi. Serta satu cup "raga-raga". Total yang kami bayar sejumlah Rp 108.000,- saja. Sotonya oke punya. Gulai ayam nya enak banget. Sengaja pesan langsung begini ketimbang dihidang. Harganya pasti berbeda.

Alhamdulillah kenyang, kami langsung ke bus yang sudah menunggu. Dan ketika keluar dari rumah, sudah ada dua unit PO TAM lainnya. Satu unit yang dari Bandung menuju Pekanbaru baru dan satu unit lagi dari Pekanbaru menuju Bandung. Jam 19.30 perjalanan dilanjutkan.


Oh ya, unit yang dari Bandung mendahului kami ketika mengisi solar terakhir dan kemudian gantian kami yang menyusul dia ketika dia nyolar di SPBU menjelang masuk Japura tadi. Meskipun kami berangkat duluan, sepertinya nanti bisa iring-iringan masuk ke kota Pekanbaru nantinya.


Tak banyak yang bisa dinikmati dalam perjalanan malam seperti ini, apalagi perut sudah rada kenyang. Perkiraan masuk nanti di kota Pekanbaru sekitar tengah malam.


Namun dalam perjalanan tadi, ada satu penumpang yang pindah ke PO Rapi, dengan tujuan Medan. Supir dan kernet TAM ini sangat baik, sengaja menghentikan bus Rapi agar penumpang ini bisa langsung dapat bus yang ke Medan. Andai datang tengah malam nanti di Pekanbaru akan susah mencarikan bus yang langsung ke Medan. Berkemungkinan besar akan berangkat esok hari, tertunda semalam.


Penumpang yang ke Medan ini sama sama saling kenal ketika di terminal Poris. Kami sama sama saling cerita. Alhamdulillah ada kemudahan juga. Awalnya perkiraan sampai di terminal Payung Sekaki Pekanbaru ini sekitar jam 8 malam. Tetapi agak meleset. Maklum perjalanan jauh susah ditebak. Banyak faktor yang bisa saja terjadi.


Ternyata selepas dari rumah makan Simpang Raya tadi sudah mulai berkurang jumlah penumpangnya. Bagian depan sudah mulai longgar, demikian juga sebagian yang di belakang. Menjelang sampai di pool PO TAM ada lagi yang turun di jalan sudah memasuki kota Pekanbaru.


Dan saat akan pergantian hari kami pun sampai di pool PO TAM ini. Driver menyarakan kami turun di pool ketimbang di simpang Arengka. "Jauh lebih amanbdan juga lebih gampang jika memesan grab", katanya. 


Ternyata apa yang beliau sarankan itu benar adanya. Segala koper dan barang bawaan penumpang yang tersisa di bus, dibantu turun oleh bang Doris, kernet yang sangat ramah. Dipastikan semuanya aman, bus mencari posisi yang tepat untuk "dimandikan" juga malam itu. Sesuai protap yang ada, ternyata. Dan didekat bus yang kami tumpangi, terlihat sebuah unit PO TAM tronton, khusus buat pariwisata. "Unit keren ini mah", kata saya dalam hati.

Saya segera memesan grabcar yang ada di aplikasi, dan kurang lebih sekitar 7 menit kemudian kami pun beranjak menuju jl. Piranha gang Piranha 2. Perjalanan sekitar 15 menit, dengan Agya merah, akhirnya sampai di rumah Mak Dang. 


Mak Dang dan Amai sudah menunggu kami. Mereka berdua memantau kedatangan kami bertiga. Bergiliran mereka tidur sehabis isya. Bercengkrama sebentar, sebelum kami gantian mandi dan akhirnya tidur dengan lelapnya. Meluruskan badan di kasur adalah kebutuhan utama saat itu.


Jum'at, 26 Desember 2025

08.12 WIB

Rabu, 17 Desember 2025

TAM: RM Simpang Raya (5)

Setelah rehat kedua di RM Simpang Raya Pijoan ini selama lebih kurang 40 menit, perjalanan dilanjutkan lagi. Rumah makan yang baru seminggu ini beroperasi adalah langkah strategis pak Haji, sang owner untuk mensiasati dan ekspansi bisnisnya. Dan ini adalah rumah makan ketiga dengan nama yang sama. Rehat berikut nya masih di rumah makan beliau juga. Dengan nama yang sama, tapi di daerah Japura Riau.

Dan dari obrolan dengan sang driver utama, bahwa rumah pak haji ini ada di samping kanan rumah makan Simpang Raya yang di Japura. Rumah putih bertingkat, yang ada aksesnya ke area rumah makan. Saya juag tahu sebelumnya karena info dari para youtuber yang sering meliput acara trip mereka di RM Simpang Raya Japura ini. Sebuah bisnis yang susah untuk merawatnya dengan para pemilik armada di lintas Sumatra, apalagi dalam rentang waktu yang sangat lama. Sama halnya dengan RM Umega di Pulau Punjuang Dharmasraya. Membangunnya tidak gampang, tetapi merawatnya jauh lebih susah. Nah usaha pak Haji ini perlu kita puji.


Selepas rumah makan ini sejenak saya memilih duduk di depan, disamping bang Doris sambil "maota lamak" dengan pak Edy, eks driver PO Handoyo. Bersama Handoyo beliau berkarir selama 7 tahun, sebelum bergabung dengan PO TAM enam bulan yang lalu. Beliau dengan posisi yang sama memegang line yang sangat jauh, Blitar Pekanbaru. Bukan orang sembarangan ternyata. Jam terbangnya sudah sangat tinggi sekali. 


Dan dari management PO TAM ini ternyata ada bonus yang sangat menarik, bila membawa bus PP, trip bolak balik full penumpang. Bonus dengan nominal menarik bagi crew bis. Sayang dari Pekanbaru ke Sukabumi dan sekarang dari Sukabumi ke Pekanbaru, terisi 27 penumpang. Bonusnya setengahnya, kata beliau.

Jam 10.30 bus mampir ke terminal Jambi, sesuai aturannya. Tak lama, sejenak saja, sekedar laporan saja. Dan kemudian sempat menurunkan penumpang di agent TAM Jambi yang berada pas di depan terminal tersebut. Penumpang tak turun di terminal, tetapi di kantor agen perwakilan TAM ini. Menurut saya memang lebih aman di sini, di jalan utama.


Dalam perjalanan sempat berhenti sejenak ketika crew bis membeli dulu di pinggir jalan. Dan diikuti beberapa penumpang lainnya termasuk saya yang terakhir. 3kg dulu manis seharga Rp 50.000,-. Baru musim kayaknya.

Dan ternyata mata supir itu memang sangat jeli. Ada celah sedikit, bisa menyibak antrian di SPBU, beliau langsung sigap berhenti sejenak mengambil posisi mencari celah kosong dalam antrian solar yang memang langka di Lintas Sumatra ini. Ada tiga kendaraan di depan. Dan momen ini saya sempatkan untuk sholat jamak qashar, Zuhur dan Ashar. Jam sudah menunjukan setengah dua lewat. Ini adalah nyolar kedua, yang cukup untuk sampai di Pekanbaru Kota Bertuah.


Ngantuk terasa saya pindah ke belakang, ke posisi semula. Menjelang jam tujuh malam, bis pun sampai di rehat ketiga, rehat terakhir di RM Simpang Raya Japura, propinsi Riau.


Japura 20.00 WIB 

17 Desember 2025

TAM: Kalianda Jambi (4)

Setelah rehat pertama di RM Siang Malam Kalianda dan dilanjutkan nyolar di SPBU yang tak jauh dari rumah makan tersebut, perjalanan malam ini benar benar saya nikmati dengan tidur nyenyak. Mungkin karena badan yang capek dan perut yang kenyang serta suspensi yang empuk dan bawaan supir yang halus, saya sudah tertidur menjelang bus masuk ke pintu tol.


Sempat tersentak sejenak ketika bus keluar tol mengambil penumpang berikutnya. Selepas itu saya benar benar tidur lagi. Bener bener nyenyak. Bangun bangun sudah sampai di pool PO TAM di kota Palembang.


Dan dari bang Doris saya tahu bahwa bus wajib lapor di sini. Aturan dan management PO TAM sangat ketat, katanya. Pakaian crew harus rapi dan lengkap. Dan diwajibkan yang lapor di sini adalah supir utama atau supir satu nya. Dan pergantian tugas driver terjadi disini.


Dan ketika menuju Betung, arah ke Palembang sangatlah macetnya, sebaliknya kami yang menuju Betung sangatlah lancarnya. Lepas kemacetan di sisi kanan, saya kembali tertidur. Lelap lagi. Bangun bangun ketika bang Doris menyampaikan ke penumpang yang mau menunaikan sholat subuh dipersilahkan turun. Alhamdulillah ini session yang saya takuti sebenarnya. Saya segera turun dan langsung menuju toilet. Kebutuhan biologis menjelang sholat subuh sudah menjadi alarm rutin. Ini yang saya cemaskan, jika harus antri. He-he-he. Paham ya maksudnya...

Setelah selesai urusan kebelakang, segera wudhu dan menunaikan sholat Sunnah dua rakaat. Sholat Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah karena nilainya yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Alhamdulillah kemudian dilanjutkan sholat wajibnya. Sunnahnya saja sudah sedemikian besar pahalanya, apalagi sholat wajibnya. Rugilah rasanya kalo meninggalkan amalan subuh seperti ini.

Kami menjadi penumpang yang terakhir naik PO ini, yang kemudian bus melanjutkan perjalanan ke rest area selanjutnya di RM Simpang Raya. 


Ada sedikit error di aplikasi hp saya. Lokasi photo jelas di Sumatra Selatan tetapi tertera di gambar settingan lokasinya di Kabupaten Kediri. Sebuah kota yang belum kesampaian bagi saya untuk mampir di sana. Aneh. Dan menjadi buah pikir bagi saya dan Imam. Akhirnya ya give up.


Jam 6 kami sudah melewati pasar sungai Lilin, yang pagi ini tetap saja macet selepas jembatan dekat pasar tersebut. Pasar Sungai Lilin selalu begitu, mulai pagi hingga siang harinya. Muacet as always.

Sekitar dua jam berikutnya masuk Bayung Lencir dan tak berapa lama setelah itu masuk pintu tol menuju kota Jambi. Exit tol nya di Pijoan. Jalur tol baru yang masih gratisan, katanya.


Dan dari Doris juga saya baru tahu bahwa RM Simpang Raya sudah buka cabang baru di dekat pintu tol Pijoan. Dan itu sangat menguntungkan bagi PO PO yang menjadi langganan mereka. Pilihan cerdas dari sang owner. RM Simpang Raya ini sekitar 1km dari pintu tol. Lokasinya sangat strategis. Selain PO NPM dan ANS, hampir semua armada yang menuju Sumbar mampir di sini, begitu juga dengan PO TAM trayek ke Pekanbaru ini.

Rumah Makan ini baru seminggu beroperasi, punya mushola yang rapi dan bersih. Toilet yang banyak dan berdekatan antara wanita dan pria, tetapi terpisah oleh bangunan permanen nya. Memudahkan koordinasi bagi penumpang yang berkeluarga untuk saling tunggu.

Bangunan barunya ini keren. Sama dengan standar RM di lintas Jawa. Bersih dan terawat dengan baik, tidak mengapa lah harus membayar R 2000 per orang. Sangat wajar menurut saya. Lokasi yang lama masih ada, hanya untuk truk truk saja lagi. 


Inilah pintarnya sang owner RM Simpang Raya ini. Pintar membaca peluang dan mencari lokasi yang sangat strategis untuk keberlangsungan usaha dan juga expansi usaha. Andai tidak begini, tentu RM ini akan ditinggalkan oleh PO yang melintas yang sudah menjadi pelanggannya selama ini. Saya rasa RM Minang Wisata, langganan PO ANS dan NPM juga akan merelokasi rumah makan mereka juga nantinya.


Kami makan nasi bungkus dari rumah makan sebelumya, dengan menambah dua porsi Indomie Telor, dua gelas teh telor dan satu gelas teh manis. Totalnya Rp 72.000,- saja. Lumayan buat ngirit. Di Kalianda sebelumnya hanya Rp 12.000. So sampai dua kali rehat kami baru mengeluarkan biaya 84.000 rupiah. Alhamdulillah. Dan masih ada lauk yang tersisa buat rehat ketiga nantinya di Japura, Riau.


Jalan jauh harus bisa mensiasati pengeluaran. Tetapi bukan berarti pelit ya... 


Jambi, 11.23 WIB

17 Desember 2025

Selasa, 16 Desember 2025

TAM:: Bakauheni Kalianda (3)

Ternyata prediksi bakalan sampai di Bakauheni molor. Baru landing jam 19.10 WIB. Faktor yang mempengaruhi jelas cuaca yang kurang bersahabat. Mendung dan hujan selama perjalanan serta ombak yang sangat besar di sepanjang Selat Sunda.


Ketika adzan Maghrib berkumandang, dari dek dua ke dek tiga, dimana mushola berada, kami berjalan sangat hati hati sekali. Bagian luar kapal basah, air yang tergenang bergerak ke kiri dan ke kanan. Kecipratan sudah pasti.


Begitu juga ketika naik tangga, harus berpegangan ke railing nya. Angin bertiup sangat kencang, menyebabkan kaos oblong yang saya gunakan selain kena hujan, juga sempat tersimgkap ke atas karena tiupannya.


Alhamdulillah meskipun basah, bisa berwudhu dan sholat berjamaah Maghrib dan dilanjutkan sholat isya yang diqashar. Jamak qashar. Alhamdulillah sholat tidak tertinggal dan masih sempat berjamaah. Dan ketika sholat pun harus hati-hati, agak goyang juga akibat guncangan ombak di KMP Batu Mandi ini.


Selesai sholat langsung kembali ke ruangan dimana Dhifa tetap menunggu kami. Jelas kapal tidak sekencang biasanya. Tak lama berselang kami pun kembali ke dalam bus. Agak "berselingkit" penumpang yang turun, karena hujan gerimis dan jalan agak licin. Dan sempat mengamati juga di dek kendaraan pribadi tak begitu rame ini. Hanya sepertiga yang terisi.

Keluar dari lambung kapal, kendaraan pun pelan-pelan. Agak tersendat hingga akhirnya bisa keluar kapal dan segera menuju pintu tol menuju rumah makan Siang Malam dimana ini akan menjadi rest area pertama yang kami jalani.


Voucher makan yang ada di tiket, bisa ditukarkan di sini. Sekali makan saja dan itu wajib di sini, begitu penjelasan bang Doris. Makannya prasmanan. 


Namun karena kami masih ada bekal yang tadi belum sempat dimakan di atas kapal, akhirnya 3 voucher tersebut kami jadikan 3 nasi bungkus. Kami makan bekal yang disiapkan oleh sang bundo dengan lauknya Ikan sapek tempe balado, tuna balado dan oseng-oseng tahu tempe. Plus dua gelas teh manis hangat kami pesan, penghangat tenggorokan, seharga Rp 6.000 per gelasnya.

Layanan prima diberikan karyawan rumah makan ini. Meskipun kami makan dengan bekal kami sendiri, kami tetap disuguhi minuman air putih hangat, untuk bertiga. Namun tetap setelah makan, kotak mika tempat kami makan dan satu kotak lauk yang habis tetap kami rapikan. Kami tumpuk semuanya di tengah meja, sehingga karyawan rumah makan tinggal ambil saja. Sebuah kebiasaan yang telah lama kami lakukan. Meringankan dan membantu kerja orang lain.


Kami terakhir penumpang yang dipanggil ke dalam bus. Dan saat bus berjalan, singgah sebentar di SPBU terdekat sebelum masuk tol Sumatra lagi. Nyolar dulu mumpung sepi dan tak perlu antri panjang.


Alhamdulillah, saat ini kami sudah di tol trans Sumatra. Jalan malam sendirian. Tak tampak ada bus lainnya yang membersamai kami. Insyaallah sebentar lagi saya akan menikmati perjalanan ini dengan tidur sebisanya. Semaksimalnya. 


Syukurnya hujan telah reda. Kecepatan bus lebih terasa. Mungkin juga karena kondisi jalan yang rada sepi.


JTTS, 21.08 WIB 

16 Desember 2025.

TAM: Merak Bakauheni (2)

Jujur, saya merasakan kenyamanan dalam perjalanan dari Terminal Poris Plawad hingga ke Pelabuhan Merak. Dua orang, anak bujang dan gadis saya tertidur, sementara saya asyik menulis. Dan jarak yang biasanya ditempuh selama sekitar dua jam, tertempuh selama 1 jam 40 menit. Tak terasa memang. Suspensi bus ini sangat oke. Nyaman banget.

Sampai di Merak tak lama menunggu langsung masuk pelabuhan. Antri sebentar kemudian masuk ke dermaga eksekutif dan siap siap masuk ke lambung kapal, menunggu kendaraan yang keluar dari KMP Batu Mandi. Di sini antrian masuk ke dalam kapal lebih lama.


Selama waktu tunggu itu saya sempat melihat besarnya ombak yang ada. "Agak ngeri ngeri sedap", kata Bang Doris kernet TAM yang ternyata orang Simabua. Alhamdulillah suspensi PO ini bisa dinaikkan sehingga biasanya aman ketika masuk ke lambung kapal meskipun ombak besar. Namun tetap saja penuh kehati-hatian karena ombak sangat besar sore ini, ram yang ada antara kapal dan dermaga selalu bergerak-gerak.


Hangat nya obrolan saya dengan bang Doris ini sama hangatnya denga sang drivernya. Pak Mawardi. Beliau sudah setahun lamanya di PO TAM ini, yang artinya sama dengan trayek Jakarta Pekanbaru ini. Ya, PO TAM ini sudah setahun melayani trayek gemuk ini, Jakarta Pekanbaru. Dan kebetulan juga beliau urang Tanah Datar juga. Makin asyiklah lah kita ngobrol bertiga di depan. Dan tak lama kemudian ketika saya memvideokan saat bus masuk kapal, Imam pun datang di belakang saya, ikut nimbrung.

Bang Doris turun dari bus, membantu mengarahkan saat yang tepat bagi pak Mawardi untuk masih ke dalam kapal. Ombak tetap besar. Memang ngeri ngeri sedap juga saya lihat.


Namun akhirnya bus masuk ke dalam kapal dengan selamat, aman dan terus masuk dibagian depan. Di depan kami ada beberapa truk besar dan kecil. Dan di samping kami disusul oleh bus NPM tujuan Sumbar. Saya kira tadinya itu NPM tujuan Pekanbaru. Unitnya sama yakni Sutan Class juga. Biar ada teman lari malam ini bersama PO TAM yang saya tumpangi.

Tak lama kemudian kami segera masuk ke dek atas KMP Batu Mandi ini. Mencari posisi yang nyaman untuk satu jam atau satu setengah jam perjalanan ke depan, menuju pelabuhan Bakauheni. KMP ini sudah beberapa kali kami naiki, dan rasanya yang terakhir itu ketika konvoy dengan Nanik dari Sumbar menuju rantau. Saya masih melihat tempat duduk yang sama, cuma suasananya tidak seramai dulu ketika kami naiki. 


Sekitar jam 17.15 WIB kapal mulai bergerak menuju pulau Andalas. Suasana mendung, sama ketika gerimis dan hujan saat di tol menuju pelabuhan Merak tadi. Sore ini tak terlihat cahaya Mentari. Tak ada sunset yang terlihat. Hanya mendung dan gerimis halus ketika melintasi Selat Sunda di sore ini.


Insyaallah diperkirakan sekitar jam 18.15 - 18.30 WIB nanti akan kami sampai di Bakauheni. Dan setelah itu menuju rumah makan sebagai rehat pertama dalam perjalanan menuju Kota Pekanbaru. Rehat pertama nanti di daerah Kalianda Kampung.

Alhamdulillah meskipun ombak agak terasa, KMP Batu Mandi ini berlayar dengan tenangnya. Beberapa pulau kecil menjelang pulau Sumatra samar terlihat. Cuaca mendung dan gerimis halus masih menemani perjalanan kami.


Selat Sunda, 17.50 WIB 

16 Desember 2025

TAM: Tangerang Pekanbaru (1)

Alhamdulillah, jam 2 siang tadi kami sudah memulai perjalanan safar bersama PO TAM. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di terminal Poris Plawad. Sekitar jam 10 an sudah dikabari oleh agen nya agar kami standby di terminal jam 12 siang. Namun kami yakin bahwa sesuai aplikasi tetap akan berangkat sesuai waktunya, untuk line pertama PO TAM hari ini. Line kedua nya jam 16.00.



Sengaja berangkat lebih awal juga, karena tak mau menganggu aktivitas Bundo yang juga akan memberi materi KMO bagi siswa siswa nya jam 1 siang. Dia juga tidak mau datang ke sekolah sebelum kami berangkat. Memang begitulah seharusnya, keluarga tetap yang utama. So ada win win solution juga bagi kami. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 11.40, Bundo juga langsung ke sekolahnya di daerah Pinang. Sekitar setengah jam perjalanan, sedangkan kami sekitar 40 menit ke terminal Poris via tol Bintaro Kunciran.


Datang lebih awal di terminal juga ada manfaatnya bagi kami. Selain konfirmasi kepastian keberangkatan ke agen, karena pemesanan tiket kami secara online melalui aplikasi REDBUS. Tiket per orang 700.000 rupiah.


Selesai konfirmasi ke agen, mencari lokasi duduk yang nyaman karena lumayan juga barang bawaannya, saya dan Imam bergantian sholatnya, sambil salah seorang dari kami menemani Dhifa tentunya. Sholat nya jamak takdim, Zuhur dan Ashar di waktu Zuhur.


Saya pun tak lupa membuka komunikasi dengan para agen yang ada di sana. Bukan saya yang memulai, tetapi apara agen yang ramah menyapa saya. Mungkin begini cara mereka mencari penumpang yang prospek, meskipun mereka tahu saya sudah memiliki tiket TAM. 


Beberapa agen yang menyapa antara lain PO NPM, Miyor, Gumarang Jaya, ANS dan lain-lainnya bus PO ke Sumsel. Namun yang berkesan adalah agen Miyor, yang sekalian menyerahkan kartu namanya setelah lama diskusi mengenai PO Miyor ini, termasuk yang akan membuka trayek Jakarta Pekanbaru pertangahan bulan ini dengan kelas tertinggi nya, yakni Dream Class, Sleeper Class. Satu armada setiap harinya. Sebagai komparasi harganya ke Padang dengan kelas tersebut 950.000 per seat nya. Semoga ada harga promosi atau diskon di awal pembukaan trayek nantinya sehingga bisa menikmati armada keren dan termasuk rating tertinggi di lintas Sumatra. 


Obrolan lainnya dengan agen TAM juga menarik. Line pertama hari ini tersisa 3 seat dan line ke dua tersisa 6 seat. Artinya PO ini cukup diminati penumpang yang menuju Jambi dan Pekanbaru. Dua unit setiap hari. Line pertama dari Sukabumi dan line kedua dari Bandung. Oh ya sebagai tambahan info NPM dengan Sutan Class nya menuju ke Pekanbaru hari ini pun full seat. Cuma satu unit saja yang berangkat setiap harinya, dengan harga Rp 675.000.


Dari agen ini kami juga mendapat info tentang rencana owner TAM yang akan membuka trayek Jakarta ke Sumbar di akhir tahun ini, dan setelah itu akan diikuti pembukaan trayek baru Pekanbaru - Medan. Lumayan juga ekspansi TAM akhir akhir ini, yang bermula dari bus pariwisata dan cargo. 


Obrolan lainnya dengan agen ANS, yang mengabarkan belum ada rencana PO ini untuk kembali membuka trayek Jakarta Pekanbaru. Dulu ketika masih bujang, saya masih sempat menikmati PO ANS ini dari Duri menuju Jakarta. Entah kenapa belum ada keinginan dari owner untuk mengaktifkan kembali jalur ini. Padahal potensi penumpang nya masih besar, karena fanatisme urang awak sangat tinggi terhadap PO ini. Apalagi bila nanti jalur toll Sumatra akan terbentuk sempurna dari Bakauheni Lampung hingga ke Pekanbaru Duri dan Dumai yang akan memangkas waktu tempuh. PO lain sudah ancar ancar, karena ini adalah jalur gemuk sebenarnya.


Demikian pula dulu pengantar tulisan ini, sbil menunggu kapal masuk kapal di dermaga eksekutif.


Semoga nanti sampai di Pekanbaru sesuai harapan. Selamat, aman dan lancar serta sehat penuh kebugaran. Aamiin yaa Rabb


Merak, 16.07 WIB

16 Desember 2025.

Minggu, 14 Desember 2025

Nyali dan Hobby

Tak terasa hampir setahun yang lalu, 14 Desember 2024 memiliki kenangan yang luar biasa. Berdua dengan si Bundo, kami merambah lintas Sumatra untuk pertama kalinya berdua-an. Benar benar berdua saja.


Berangkat malam sehabis sholat Maghrib sekitar jam 19.00 dari rumah dengan Terios kami, keluaran tahun 2013. Berangkat mendadak, tanpa pemberitahuan kepada sesiapa pun di kampung halaman. Hanya anak anak saja yang tahu perjalanan kami ini. Mereka dikasih tahu karena trip perjalanan mereka ke kampung halaman menyusul kami dengan moda transportasi yang berbeda, darat dan udara, diatur sedemikian rupa secara cermat. Mereka juga berdua, dari dua kota yang berbeda, Tasikmalaya dan Kudus.


Bagi kami inilah perjalanan yang sangat sangat berbeda. Beda dari segalanya nuansa dan pengalaman sebelumnya. Keputusan ini mendadak demi membahagiakan orang tua dan sanak keluarga yang ada di Kapau sana.


Jalan malam, melintasi selat Sunda dengan kapal reguler sehingga bisa tidur selama dua tiga jam. Subuh sudah mau memasuki kota Palembang. Sarapan dengan stok yang ada di kendaraan saja, tidak mampir seperti biasanya di kota Palembang.


Jalan santai menjelang siang, hingga akhirnya benar benar lapar ketika sudah sampai di Betung menjelang perbatasan Sumsel dan Jambi. Dan akhirnya kami berhenti di RM Pincuran Gadang dimana di sini banyak truk dan kendaraan pribadi yang parkir. Dan salah satu ciri rumah makan yang enak dan harga terjangkau ya ini, banyak disinggahi oleh supir truk.


Alhamdulillah "makan lamak" lah kami di sini. Lauknya enak terutama gulai kepala kakapnya. Ada juga gulai jengkolnya. Benar benar kenyang.


Dan selanjutnya sehabis makan siang perjalanan dilanjutkan menuju Bungo. Ada permen karet yang saya kunyah kunyah ketika mata mulai ngantuk. Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik.


Sampai di Muaro Bungo menjelang Maghrib kami pun rehat di sini. Bundo melarang untuk melanjutkan. Apa yang dicari? Kita jalan santai saja lah, katanya.


Bermalam di sini, makan malamnya juga ada di dekat penginapan dengan menu khas Payakumbuh. Urang awak juo.


Esok subuh kita lanjutkan perjalanan, dan sampai di Kapau selepas sholat Zuhur. Saat orang sedang rami rami nya mamasak "marandang untuak baralek". Semuanya terkaget-kaget dengan kedatangan kami ini. Berdua saja, tanpa anak-anak. Perjalanan seperti urang nan "pulang pokok" saja.


Namun ada beberapa hal dalam perjalanan berdua ini yang bisa kami jadikan patokan sebelumnya, antara lain:

1. Kesiapan fisik baik kendaraan maupun supir dan penumpangnya.

2. Nyali dan Hobby. Ini adalah faktor utama juga. Biasanya  terasah dengan sendirinya. 

3. Pengalaman berkendara dan jam terbangnya.

4.Perhitungan. Ini berdasarkan pengalaman seberapa sering jalur tersebut sudah ditempuh. Begitu juga perhitungan kapan akan memulai, kapan akan sampai. Hitungannya harus matang. Begitu juga kapan akan rehat dan target rehat nya dimana.

4. Pendamping atau co driver sangat menentukan. 

5. Doa sebelum, selama dan selesai perjalanan. Ini adalah faktor utama juga. Memohon perlindungan kepada Allah SWT selalu dan senantiasa. Dia lah yang akan melindungi selama kita memohon kepadanya. Kadang dalam perjalanan jauh banyak hal hal diluar nulir yang bisa saja terjadi. Pertolongan sering hadir tanpa kita sadari. Semuanya tentu karena pertolongan dari Allah SWT. So jangan tinggalkan sholat Dan doa selama perjalanan.


Demikian sekedar sharing, flash back perjalanan setahun yang lalu. Dan akhir tahun ini, adakah cerita lainnya?

Penasaran? Saya pun demikian. 



Gambar hanya sekedar pemanis tulisan


Graha Raya

10 Desember 2025

20.40 WIB

Kamis, 30 Oktober 2025

DPP IKA FMIPA: Sosialisasi dan Konsolidasi

Alhamdulillah tadi malam sesuai undangan yang disampaikan bisa hadir lebih awal di Basuo Cafe and Space miliknya da Nuh dan ni Rika Anggraini Zein. Lepas jam kantor saya langsung bablas ke sana, dalam gerimis hujan di beberapa spot tol Bintaro Cibubur. Insyaallah hujan yang penuh keberkahan. Dalam hujan dianjurkan untuk berdoa. Disunnahkan untuk berdoa. 


Hampir satu jam perjalanan, saya sampai di sana. Gerimis masih turun halus. Saya disambut 'crew' yang ada di sana, yang mungkin di antara mereka sudah hapal dengan wajah saya. Sejenak saya ke kamar mandi dan keluar dari sana saya diantar ke ruangan kaca tempat kami akan berkumpul. Dipayungi. MasyaAllah. 


Menunggu yang lain datang, saya pesan secangkir kopi tanpa gula. Menikmati kesendirian di sudut kota Jakarta, dalam keheningan menjelang malam, sesekali diperlukan. Berkontemplasi. Mengingat betapa waktu memang cepat berlalu. Minggu lalu dimana, sekarang dimana, dan esok mau ke mana. Adakah kebaikan dan kebermanfaatan dalam setiap waktu yang Allah SWT berikan kepada kita? Sebuah pertanyaan yang perlu renungan yang mendalam.


Belum habis setengah cangkir menikmati kopi, adzan Maghrib berkumandang. Mengingatkan diri waktu malam sudah datang. Hak Allah wajib ditunaikan. 


Da Nuh pun datang. Kemudian disusul oleh Donal SSi. Bertiga kami ngobrol ringan sambil menikmati minuman yang telah dipesan sebelumya. Tak lama berselang tim formatur yang sengaja datang dari Padang turun dari mobil. Bertiga mereka. Da Niswan, Sutan Rusman dan Edo. Disusul kemudian oleh Hery Yusamandra dan keluarganya dan Dedi Harliyansyah Harliyansyah dengan keluarganya juga. Masing-masing mereka dengan istri dan satu anak bungsunya. Da Jekvy Hendra, ketua DPP terpilih kami akhirnya datang bersama da Amrizal Nur Tanjung . Sebuah keterwakilan dari pengurus DPP IKA FMIPA Unand yang akan dibentuk bersama dengan pengurus IKA FMIPA Unand Jabodetabek. Sebuah koordinasi organisasi pusat dan wilayah. Suatu awalan yang baik tentunya.


Dan sudah menjadi kebiasaan di ranah Minang, barundiang sesudah makan. Alhamdulillah itu juga yang kami lakukan. Hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya, siap disantap bersama. Ada sapek kentang balado, gurame bakar, aneka aneka sayuran yang direbus dan sop dagingnya. Makan malam pilihan da Nuh, ala kampung tanpa santan ini, pas banget. Sabana lamak. Dan ini suatu bukti juga bahwa masakan Padang, ada juga tanpa santan. Walaupun tanpa santan, tetapi tetap enak dimakan. Tetap membuat lidah berdecak dan berucap, "Lamak Bana". 


Dan sesuai gurauan da Jekvy kepada da Nuh, sehabis makan selama "sharing session" antara sesama pengurus, tamu kami yang dari Padang, dilarang lapar. Harus full servis.


Dan ini dijawab oleh Da Nuh dengan adanya pisang sebagai cemilan segar. Ada lagi singkong crispy bertabur coklat dan martabak Kubang yang siap santap. Belum lagi kopi ataupun jus sesuai selera. 


Jadi selama diskusi antara sesama pengurus ini penuh dengan kehangatan. Ada langkah kerja yang akan dilakukan. Ada tahapan sosialisasi dan konsolidasi organisasi. Dan yang terpenting adalah adanya keinginan dari DPP IKA FMIPA yang baru ini untuk mendengar aspirasi dari bawah. 


Insyaallah setelah pertemuan tadi malam, akan dilanjutkan lagi dengan pertemuan DPP ini dengan alumni lainnya di hari Minggu, masih di Basuo Cafe and Space.


Mungkin ini sekedar catatan atas apa yang kami diskusikan tadi malam. Notulensi dicatat oleh "Sekjen" Edo, alumni Fisika angkatan 2006. Bagi saya tadi malam adalah pertemuan yang kedua kalinya bersama Edo, yang kebetulan juga duduknya pas di sebelah kiri saya. Edo termasuk salah satu mide formatur, yang juga menjadi pimpinan sidang saat Mubes Alumni FMIPA bulan lalu di Dekanat FMIPA Unand Padang. Notulensi Edo ini yang mungkin akan dishare juga di hari Minggu nanti, insyaallah.


Poris, Tangerang 


25 Oktober 2025

07.55 WIB



Minggu, 07 September 2025

Rizal Fahmi

Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rektor Universitas Andalas. Saya ragu yang mana orangnya, karena lama tak bertemu.


Dan ketika ada kesempatan bertemu, saya menyampaikan permintaan maaf. Permintaan maaf saya secara personal yang belum sempat saya laksanakan sejak Pak Rizal meninggal dunia. Padahal itu sudah lama sekali. Belum ada kesempatan.


Saya sampaikan permohonan maaf jika dulu saya sering berhadir di kontrakan mereka hingga tengah malam. Pak Rizal Fahmi adalah dosen pembimbing penelitian saya. Beliau pembimbing kedua, sementara pembimbing satunya adalah Prof. Yunazar Manjang. Tetapi dengan beliau saya sangat intens. Beliau lah langsung mewakili pak Yun yang memang super sibuk. Pak Yun waktu itu menjabat sebagai Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan. Semua urusan anak bimbingan penelitiannya hampir di-handle oleh pembimbing dua, yang memang orang kepercayaannya. Selain pak Rizal ada juga pak Adlis Santoni.


Pak Rizal ini lah yang totalitas membimbing saya, mengoreksi dan mengedit apa apa yang ada dalam draft skripsi saya secara sempurna. Bolak bolak kekediaman hingga tengah malam adalah hal yang lumrah. Juga ketika pulang dari laboratorium Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) sering kami lakukan sehabis Maghrib. Berjalan kaki adalah hal yang biasa karena bus kota sudah tak ada lagi. Bahkan kalo pun ada bus kota, sering kali beliau yang membayarkan ongkos kami. Umumnya mahasiswa tingkat akhir sangat dekat dengan beliau.


Yang penelitian dengan beliau umumnya dua katagori saja. Pertama Mahasiswa yang pengen penelitian dengan biaya murah, artinya relatif "pandai", pengen cepat tamat dengan mengharapkan adanya proyek penelitian, sehingga sebagian besar yang bahannya disediakan atau dibelikan dari proyek tersebut. Yang kedua adalah mahasiswa mahasiswa bermasalah. Bermasalah dengan masa study yang harus segera diakhiri. Harus segera jadi sarjana. Yang kedua inilah yang banyak beliau bantu. Dengan kesabaran dan kemurahan hati beliau. Jiwa kebapakannya sangat dirasakan, walau kadang mahasiswa sering memanggil beliau dengan sebutan Uda, atau da Rizal.


Kondisi beliau yang sebenarnya pas-pasan, dengan anak dua orang masih kecil, rumah masih ngontrak, kemana-mana naik bus kota, saya akhirnya merenungi. Bahwa saya tentu sangat menganggu "dapur" nya, yang otomatis ni Sur juga harus lebih sabar lagi dibandingkan pak Rizal ini dalam mengatur keuangan keluarga. Makanya ketika bertemu dengan ni Sur kemarin saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya tentu termasuk salah satu mahasiswa almarhum yang menggangu "dapurnya" Ni Sur.


Tetapi dari ni Sur juga saya tahu, bahwa almarhum wafat dalam kondisi sholat. Wafat di hari baik, hari yang mulia, Jum'at 12 Mei 2012. Saya mendapatkan kabar waktu itu banyak sekali yang ikut menshalatkan beliau di madjid kampus "Nurul Ilmi", mesjid Kampus Universitas Andalas, Limau Manih. 


Alhamdulillah, beliau ternyata telah menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali. Walau begitu beliau sempat "drop" ketika Al Hadid, anak laki-laki yang beliau sayangi wafat di waktu kecil. Tetapi dalam doa beliau ketika berhaji, setelah Hadid wafat, doa tersebut Allah kabulkan. Allah hadirkan sebagai ganti dengan anak ketiga mereka. Madina namanya putrinya ini. Nama yang beliau lekatkan karena doa yang beliau panjatkan ketika berada di Madinah.


Alhamdulillah, dua putri nya, Titan dan Dina, sudah menjadi dokter. Uni Sur pun sudah menjadi Guru Besar di Kimia Unand.


Saya yakin ini adalah keberkahan yang Allah tampakkan setelah beliau tiada. Kadang balasan kebaikan kita tak selalu Allah SWT tampakkan ketika kita masih hidup, tetapi Allah tunda setelah kita tiada, atau ganti di akhirat kelak. Sekecil apapun kebaikan, pasti Allah siapkan balasannya. Janji Allah adalah pasti.


Kesabaran beliau yang luar biasa. Kebaikan beliau terhadap mahasiswa nya tak berbatas. Ilmu yang beliau sampaikan penuh keberkahan. Beliau mengajarkan ilmu kimia berdasarkan nilai nilai keislaman, nilai-nilai kejujuran. Dan banyak lagi ilmu bersosial, bermasyarakat yang beliau praktekkan dalam keseharian. 


Beliau tidak hanya dekat dengan mahasiswa, tetapi beliau juga dengan masyarakat golongan menengah ke bawah. Beliau bisa akrab dengan supir dan stokar bus kota, dengan pedagang pasar dan pedagang asongan. Beliau salah satu dosen Kimia yang sangat low profile.


Semoga tulisan ini, yang saya tulis di atas pesawat dalam perjalanan ke Soekarno Hatta, di atas pulau Sumatera, menjadi sebuah testimoni saya pribadi terhadap almarhum dan keluarga beliau. Terimakasih ni Sur yang sudah memaafkan saya. Walau saya belum bertemu dengan Titan dan Dina, sampaikan juga maaf saya kepada buah hati almarhum. Saya yakin beliau bangga punya dua anaknya ini. Insyaallah mereka menjadi anak yang sholehah, yang senantiasa mendoakan Ayah nya.


Semoga tulisan ini ada

manfaatnya. Menjadi sebuah catatan amal sholeh bagi almarhum pak Rizal dan ada hikmah bagi kita semuanya, terutama anak bimbingan beliau selama ini.


7 September 2025

09.15 WIB

Pelita Air

Sabtu, 16 Agustus 2025

Sepedaan

Hari ini olahraga nya agak beda. Di awali dengan olahraga jalan kaki dari rumah lebih kurang satu jam, akhirnya dilanjutkan dengan sepedaan. Sesuatu yang di luar rencana.


Tadinya naik sepeda hanya sekedar mencari pangkas rambut yang buka. Dua tempat cukur yang didatangi ternyata masih tutup. Akhirnya baru sadar, waktu baru sekitar jam 7 an awal. Mau sarapan juga malas. 


Akhirnya dilanjutkan sepedaan saja. Tadinya mau yang dekat dekat saja, eh akhirnya bablas hingga ke Cipadu. Awalnya sih agak ngos-ngosan juga, maklum sudah lama banget nggak naik sepeda. Dulu mah masih bisa ikut fun bike. Dari rumah ke GBK dan ikut lomba di sana. Pulang pergi masih kuat. Berangkat pagi bada subuh, balik balik menjelang siang. Sekarang? Entahlah. Masa itu dah lama berlalu. Sepeda yang dulu pun entah kemana, nggak tahu siapa yang beruntung memiliki nya. Saya lupa kasih ke siapa.

Dan sekarang sepeda ini adalah sepeda yang saya beli tiga tahun yang lalu. Pemiliknya awalnya adalah bule di kantor, expatriat. Dia habis kontrak di BSJ, entah kenapa saya tertarik membelinya. Mustang S.I.S Raleigh mereknya. Asli buatan sono, UK, katanya. Bawaan aslinya, saya hanya menambah standar nya saja. Lama sepeda ini tergeletak, jarang saya pake. Ehh ternyata, kemarin anak gadis kami mengantarkan ke.bengkel. Ada bannya yang kempes dan sedikit servis di standarnya. Biayanya hanya 10.000,-.  Dua hari yang lalu.


Dan pagi ini, saya mau ke tukang cukur memilih sepeda ini ketimbang naik motor. Sekalian "test drive" saja maksudnya. Eh ternyata enak juga dibawa. Kang servis nya kemarin oke rupanya. Lumayan juga lah ini buat olahraga, dirutinkan lagi nampaknya bersepeda ini. Sekalian tetap olahraga jalan kaki tentunya.

Dan tadi sempat terlintas juga, kenapa nggak sekalian aja ya sepedaan hingga ke ranah Minang, ke kampung halaman. Caranya?

Pasti ada. 


Cipadu, 16 Agustus 2025.

08.28

Sambil seruput teh Talua Ajo Das.

Minggu, 02 Februari 2025

SilaturaHMI dengan Ajo Duta Mardin

Alhamdulillah siang menjelang sore tadi bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh di milis rantau net, di kediamannya di daerah Pinang Tangerang Kota.


Datang bersama Bundo Nova sehabis kondangan di daerah sekitar situ situ juga, dan beliau berkenan menerima kehadiran kami. Beliau adalah pak Dutamardin Umar, yang dulu biasa di sapa Ajo Duta di milis urang awak yang menjangkau banyak diaspora Minang di banyak negara, selain anggota terbanyak nya tentu dari Indonesia juga. Saya bergabung di milis tersebut sekitar tahun 2000-an dan sejak itulah saya mengenal nama beliau.


Dan sekarang ini kami juga satu komunitas, yakni di WAG Jalinsum Lovers, suatu komunitas pecinta Jalan Lintas Sumatra, yang dikunceni oleh pak Mulyadi Dt MB.


Dalam obrolan perdana kami dengan Ajo Duta ini juga ditemani oleh kanda Taufani Tasmin Sutan Saiyidi yang juga satu kompleks dan juga satu jama'ah masjid di Pinang Griya Permai. Obrolan ringan kami yang sarat dengan makna, berakhir menjelang adzan ashar berkumandang.


Ajo Duta ini dulunya kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan di Jakarta yang juga aktif di HMI cabang Jakarta pada zamannya. Tahun 1990 beliau hijrah ke USA dan menetap di sana hingga sekarang. Saat ini dalam rangka liburan musim dingin, Ajo Duta ke Indonesia.


Kami akhiri obrolan di rumah Ajo Duta dan kami sama sama menunaikan ibadah sholat ashar berjamaah di masjid Uswatun Hasanah. Setelah selesai sholat kami pun berpisah. Berpisah untuk bertemu kembali, insyaAllah.


Alhamdulillah bangga bisa bertemu dengan salah satu tokoh Minang yang lama di negeri paman Sam.


Parung Serab Ciledug 

Sabtu malam, 1 Februari 2025


Sabtu, 01 Februari 2025

Bakureh

Bakureh adakah salah satu tradisi gotong royong di daerah Solok, negeri yang termasuk dalam wilayah budaya Minangkabau dengan sistem kekerabatan matrilineal. Tetapi bisa juga diartikan Bakarajo Kareh alias kerja keras.


Setelah sampai Senin siang, 16 Desember 2024 di Kapau, di saat "urang sadang marandang" dengan penuh kejutan bagi Ama Asma Yati, ante Nelti Jamaah dan sanak famili lainnya, kami ditawarkan lagi untuk makan siang. Tawaran yang tak bisa ditolak tentunya, meskipun perut masih kenyang akibat makan lamak di RM Aroma Pagaruyung Batusangkar sebelumnya. Maklumlah "sambanyo lamak", karena hasil gotong royong para ahli Amak Amak di nagari Kapau ini.


Makan baselo yo sabana sero. Sambil makan tentu banyak juga obrolan yang menyenangkan, penuh kebahagiaan atas kedatangan kami ini. Apalagi Anda Yolanda melengkapinya dengan kedatangan yang juga bersifat mendadak juga untuk hari Kamis nanti.  Padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang di akhir tahun ini. Sudah bulat niat mereka untuk pulang kampung menjelang lebaran tahun depan. Allah SWT yang membolak-balikkan hati, Allah yang memberi rezeki, Allah jua lah yang mungkin mengabulkan doa dan permintaan orangtua yang ada di kampung halaman. Tentu dalam "Alek Panutuik" harapannya bisa barami rami. 


Menjelang ashar kami pulang ke rumah, Ama ikut naik Terios bersama kami, bertiga. Meskipun jaraknya tak berapa jauh. Namun kami senang, Terios ini sangat terasa dibutuhkan dan banyak memberikan manfaat.


Menjelang sore itu sebuah travel berhenti di depan rumah. Dan ternyata Om Ide, adik Ama yang di Kuala Lumpur, juga baru datang. Sendirian. Dia diantarkan oleh travel yang pemiliknya juga orang Kapau dari Bandara Internasional Minangkabau. Bertambah kebahagiaan Ama hari itu.


Dan di malam hari selepas sholat isya, menjelang rehat malam kami sudah mendapatkan "pesan" dari Ama apa yang akan dilakukan esok hari. "Pesan" yang harus dilakukan sesegera mungkin, mumpung orang belum rame.


#####


Selasa, 17 Desember 2024.


Setelah selesai sholat subuh di mesjid Pandam Basasak, saya segera pulang ke rumah dan mengajak Bundo Nova Yanti  untuk malapeh taragak. Selera kami sama. Pengen sarapan pagi yang berkuah.

Dan dengan motor berdua, kami segera meluncur ke kadai Dewi, sahabat SMP juga dengan Nova. Di sana kami makan Mieso. Mieso Daging. Mieso adalah makanan jadul asli ranah Minang yang sudah jarang ada. Selain Mieso Daging ada juga Mieso Ayam. Kedua Mieso ini sudah tergerus oleh baso dan mie ayam dari Jawa. 


Setelah makan di sana, kami membawa juga buat Ama dan Om Ide. Selain Mieso juga kami bawakan katan goreng buat bersama pagi ini di rumah.


Dan setelah sarapan, "pesan" Ama tadi malam segera kami lakukan. Beberes di rumah utama, paviliun dan di rumah lama Ama yang ada di seberang jalan. Membersihkan rumah, menyapu dan mengepel, menata sofa dan meja makan, agar terlihat luas. Rumah utama akan penuh sesak oleh anak minantu dan cucu. Paviliun buat keluarga dari Malaysia. Dan rumah lama buat keluarga yang dari Pekanbaru. Rumah lama ini masih kosong, karena selama ini dikontrakkan. Nah yang terberat adalah mengangkat kasur, karpet dan selimut ke rumah lama ini. Yo sabana bakureh kami baduo. Namun semuanya dilakukan dengan seneng hati. Walau belum bersih sepenuhnya namun yang berat berat ini selesai juga dalam hampir tiga jam pagi itu. Lainnya bisa diangsur nanti secara bertahap.

Jam 9 saya mengantarkan om Ide ke plaza Telkom di Stasiun, jln Muhammad Sya'fei. Mengganti SIM card om Ide sehingga bisa berkomunikasi dengan anak dan cucunya di Malaysia. "Berpisah dengan cucu adalah hal yang berat", katanya. Tetapi menjadi ringan ketika bisa video call. 


Setelah selesai, saya ajak Om mampir sejenak di salah satu "kadai" di depan Plasa Telkom tersebut. Menikmati Teh Talua Malimpah yang sempat viral sejak tahun yang lalu. Selain itu kami juga mencoba dengan apa yang namanya Mie Bangladesh. Mie ini intinya Indomie goreng juga, tetapi diolah dengan setengah becek dan ditambah dengan telor setengah matang. Ok juga rasanya.

Setelah itu kami pulang, dan sesampai di rumah tak lama berselang om Ir dan Alan, anak bujangnya juga sudah sampai di rumah. Mereka berdua juga dari Malaysia. Pesawat pagi dari sana.


Ama masih di rumah Ante. Urang kampuang masih bakureh. Memasak buat persiapan baralek. Nova ternyata sudah selesai dengan tugasnya. Karpet di rumah lama ini sudah terbentang. Kasur dan selimut sudah tertata dengan baik. 


Dan sorenya pun saya kembali lagi ke Plaza Telkom untuk mengganti SIM card Alan, sedangkan om Ir tak begitu perlu karena bisa sharing nantinya. Pulang dari sana kami mampir membeli beberapa porsi sate. Sate Mak Ngulu tentunya. Sate yang disukai oleh Ama.

Alhamdulillah menjelang Maghrib kami.makan sate bersama. Plus karupuak Laweh yang dibeli om Ide satu kantong.


Dan hari ini anggota di rumah Ama kembali bertambah. Dan akan bertambah lagi tentunya. Esok, Kamis dan Jumat akan makin rame.


Bintaro, 31 Januari 2024

11.00 WIB

Rabu, 29 Januari 2025

Mudik Desember 2024 (part 3)

 Trip Report Tangerang Bukittinggi

Senin 16 Desember 2024


Jam empat dini hari saya terbangun dari tidur. Benar benar pulas tidur semalam. Lelah yang kemarin terbayar sudah. Namun ternyata Bundo Nova sudah bangun lebih awal dari saya.


Walau tadi malam menjelang tidur sudah mandi, pagi ini saya tetap mandi lagi. Mandi buat menjaga kesegaran di pagi hari ini. Mandi menjelang sholat subuh juga. Dan sesuai rencana sehabis subuh nanti kami akan lanjutkan perjalanan. 


Setelah mandi, menunaikan sholat sunah dan menunggu adzan subuh berkumandang. Sholat sendirian di kamar yang cukup luas ini. Sementara saya sholat, Bundo berkemas kemas. Merapikan kamar yang akan kami tinggalkan dan mempersiapkan apa yang akan kami bawa kembali ke dalam mobil.


Lepas sholat saya ke meja resepsionis. Kosong. Tak ada orang di sana. Saya kembali ke kamar dan segera membawa koper dan kantong makanan yang ada ke mobil. Bundo menyusul di belakang.


Tak lama berselang, si Abang yang jaga penginapan menyambangi kami. Menyapa dan mengajak ke meja resepsionis. Kemudian memberikan kembali KTP yang dititipkan tadi malam. Sewa kamar kami hanya Rp 200.000,- sudah dibayar di awal. Untuk sewa segitu dengan fasilitas yang ada, cukup murah.


Ketika mesin mobil saya hidupkan, si Abangnya sudah membukakan pintu gerbang buat kami keluar. Dan breakfast yang tadi malam kami pesankan, ternyata tak bisa dipenuhi. Hal ini karena kami berangkat terlalu pagi. Namun sebagai gantinya kami diberikan pop mie dua buah. Tak mengapa. Lumayan buat anak anak nantinya. Sarapan kami pagi itu cukup dengan cemilan yang masih ada. Masih cukup banyak buat berdua.


Kami keluar dari penginapan sekitar jam 5.30. Terios segera meluncur ke jalan raya yang tak jauh dari penginapan kami tadi, menuju Jalan Lintas Tengah Sumatra Muaro Bungo.


Jalan ini merupakan trek lurus menuju Sumatra Barat. Boleh dikatakan trek ini sangat disenangi oleh para driver. Up and Down. Mendaki dan menurun saja umumnya. Kecepatan bisa dipacu semaksimalnya. Namun tetap harus hati-hati. Kadang kala di ujung pendakian, tak nampak ada mobil dari arah berlawanan karena saking tingginya tanjakan. Begitu juga harus hati hati terhadap "penguasa wilayah" yang ada di sepanjang lintasan. Mereka adalah para sapi yang dibiarkan bebas berkeliaran mencari makan.


Dan pagi itu saya mengendarai Terios santai saja. AC sengaja tak dihidupkan. Udara sejuk berhamburan masuk di sela sela jendela mobil yang dibuka sedikit saja. Dinginnya mengalah AC.


Tak banyak bus ataupun truk yang lewat pagi itu. Yang lebih dominan adalah kendaraan pribadi dengan berbagai macam plat nomornya. Beberapa mobil dengan plat dari Jawa, "bercilaput". Penuh dengan tanah dan debu Sumatra yang menempel di body nya. Sedangkan yang berplat BH terlihat bersihnya.


Sesekali saya coba juga mencari teman lari pagi itu. Sekedar mengusik kesepian. Alhamdulillah lancar semua perjalanan yang kami tempuh pagi itu. Tak ada macet ataupun antrian panjang yang kami rasakan. Lancar jaya.


Di Tanah Badantuang kami belok kanan. Menuju Sijunjung, Lintau, Batusangkar dan Bukittinggi. Ini adalah jalan yang sering kami lalui dan merupakan jalan pintas, jalan tercepat. Dibandingkan via Solok dan Danau Singkarak, jalur ini lebih cepat sekitar dua jam.


Jalan masih sepi dan kecepatan bisa agak dipacu. Terkendala sedikit di sekitar Ampalu, karena hari Senin adalah hari pasarnya. Aksesnya dialihkan ke jalan yang sempit dan kembali nanti ke jalan utama dekat jembatan batang Ampalu.

Di sekitaran sini sudah mulai tampak orang berjualan durian. Pemandangan yang sangat menggoda tentunya. Dan akhirnya kamipun berhenti. Jam menunjukkan angka 08.50 pagi waktu itu.


Ada pondokan di pertigaan jalan. Makan durian di tempat dengan harga Rp 25.000,- saja. Sarapan kami pagi itu dengan durian plus ketan yang disediakan. Satu durian untuk berdua. Saya pake satu bungkus katan, bunda tidak. Dan itu sangat memuaskan. Rasanya mantap. 

Disebabkan rasanya yang oke, kami percayakan kepada si Ibu penjual untuk memilihkan 9 buah lagi buat kami bawa sebagai oleh-oleh. Namun kepercayaan seperti ini, jika anda dalam perjalanan, janganlah sesekali. Jangan sampai ada sesalan di belakangan, seperti yang kami alami. Tak sampai setengahnya yang bisa dimakan. Ini jadi pelajaran bagi kami.


Sekitar setengah jam rehat kami di sini, perjalanan dilanjutkan menuju Lintau dan kota Batusangkar, ibukota kabupaten Tanah Datar, kampung halaman saya.


Udara yang segar, alam yang indah merupakan pesona tersendiri bagi kami berdua. Obrolan kami selama perjalanan sangat mengasyikkan. Banyak hal yang terceritakan.


Dan akhirnya rasa lapar kembali menggoda si Bundo. Maklum sudah hampir dua puluh dua jam belum bertemu dengan nasi lagi. Dan RM Aroma Pagaruyung pilihan kami. Lokasinya sebelah kiri jika kita dari Istano Basa Pagaruyung.

Kami sampai di sini sekitar jam 10.30. Saat yang pas untuk makan, sebelum ramai pengunjung. Masakan nya juga baru matang. Dan di sini makanan dihidangkan dengan nasi satu bakul untuk berdua. 


Alhamdulillah lagi lagi kami makan lamak. Lauk yang kami pilih adalah ikan bakar, dendeng balado, gulai tunjang, sayur pucuak ubi dan Anyang plus teh talua. Totalnya hampir 90 ribu rupiah. Kami puas makan di sini dan kami sangat rekomendasi buat teman teman yang lainnya. Lamak lah pokoknyo.


Setelah makan kami lanjutkan perjalanan menuju Kapau Bukittinggi. Tak lama lagi kami akan sampai. Perjalanan Batusangkar hingga Kapau Bukittinggi butuh waktu sekitar satu jam-an.


Kami berhenti sejenak di SPBU Biaro mengisi BBM sejumlah Rp 300.000,- Untuk pertalite. Selesai ngisi BBM adzan Zuhur berkumandang, saya sholat di mushola yang ada di SPBU ini. Di sisi kiri Mushola terpampang sawah yang luas dan Gunung Marapi yang berdiri dengan kokohnya. Lagi lagi alam yang indah terhampar.


Menjelang jam satu siang kami pun sampai di Kapau. Terios parkir di depan rumahnya Ante Nelti Jamaah, saya masih di mobil dan Nova pun segera turun dari mobil. Nova menuju orang yang masih sibuk di dapur belakang, memberikan kejutan bagi semua orang. Surprise tentunya. Tak ada kabar, tak ada berita, tiba tiba datang di saat orang sedang "marandang". Marandang artinya prosesi membuat rendang yang umumnya dalam skala besar.


Saya menyusul kemudian. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari sanak saudara yang ada, terutama Ama Asma Yati . Bergetar suara Ama, bercerita bahwa beliau tak menyangka bahwa kami sedang dalam perjalanan di daerah Jambi ketika beliau menelpon kami kemarin.


Tak lama berselang, Ama dapat suprise yang kedua. Anda Yolanda yang ada Batam berkabar bahwa dia, Mustafa Kemal F dan dua putri mereka akan pulang kampung juga. Tiket sudah di tangan untuk keberangkatan Kamis pagi dari Batam menuju Bandara Internasional Minangkabau Padang. Lengkap sudah kebahagiaan Ama, ante dan keluarga besar semuanya. Berkah Alek Vivi yang direncanakan. Anak anak Ama semuanya pada pulang. 



Parung Serab Ciledug, 28 Januari 2025

22.22 WIB

Selasa, 28 Januari 2025

Mudik Desember 2024 (part 2)

Trip Report Tangerang Bukittinggi

Minggu 15 Desember 2024


Alhamdulillah sempat tertidur selama kapal berlayar, sekitar tiga jam lebih, saya dibangunkan oleh Bundo Nova. Bener bener pulas tidur saya dan ini mungkin adalah tidur terlambat saya di kapal selama dalam perjalanan. Bisa jadi karena berdua saja, tanpa anak-anak dan Bundo pun ada teman ngobrolnya, tak ada lagi yang saya pikirkan. Dapat tidur pulas saya.


Sebelum turun ke dek kapal, saya ke kamar mandi dulu. Sekedar BAK saja. Bundo pun sabar menunggu. Tak terlihat lelah di matanya, tetapi saya yakin nanti akan gantian. Giliran dia yang tidur selama dalam perjalanan.


Menjelang jam 1 dini hari, Terios kami pun keluar dari lambung kapal. Perlahan lahan ramp door kapal saya lewati. Namun ombak yang tenang, membuat semuanya lancar. Agak berbeda saat memasuki kapal di Merak tadi, ombak lumayan besar sehingga sangat hati-hati ketika melewati ramp door kapal.


Keluar dari kapal, kendaraan mulai saya pacu secara bertahap menuju gerbang tol. Perjalanan malam yang untuk ke sekian kalinya yang saya alami. Dan jalan malam kali ini sangat saya senangi karena ada bulan purnama yang menerangi gelapnya malam. Alhamdulillah hujan pun tiada.


Suasana santai selama perjalanan malam ini membuat Bundo tertidur dengan nyenyaknya. Saya tak terlalu memacu kendaraan. Membiarkan Bundo lelap dengan mimpi mimpinya.


Dan akhirnya menjelang subuh kami rehat di rest area KM 234 Mesuji. Dan rest area ini termasuk salah satu rest area terbaik. Mobil terparkir dan Bundo pun bangun perlahan. Gerimis halus pun datang.


Adzan belum berkumandang namun beberapa kendaraan pribadi sudah ada yang datang sebelum kami, dan obrolan penumpang dengan bahasa minangnya pun sayup sayup terdengar di telinga kami. Banyak urang awak nan pulang kampuang ruponyo. Kawan "sairiang" dalam perjalanan.


Perlahan turun, menuju kamar mandi dan segera berwudhu. Hanya saya saja yang sholat, Bundo sedang berhalangan. Saya ke mesjid, Bundo menunggu di mobil.


Tak lama berselang, selesai sholat kami lanjutkan perjalanan. Tak lupa mengisi BBM dahulu di SPBU yang ada. Rp 400 ribu Terios kami "minum pagi" di sini dengan Pertamax. Agak mahal dikit minum nya. Namun akselerasi berkendara jauh lebih ringan dibandingkan pertalite. Sesekali boleh lah, apalagi bedanya sekarang hanya sekitar dua ribuan. Beda dengan harga sebelumnya, Rp 14.000 per liter.


Tak terasa pagi menyambut kami ketika keluar dari tol Kramasan Palembang. Semburat pagi secerah semangat kami melintasi jalan lintas timur Sumatra ini. Lancar dalam perjalanan kami pagi itu.


Sedikit ada gangguan yang terjadi sebelum Betung, sekitar jam 7 pagi. Ada truk yang keluar dari badan jalan, nyaris terbalik. Truk besar berisikan kendaraan roda dua di atasnya, yang menyebabkan sedikit macet. 

Begitu juga di sekitaran Sungai Lilin. Ada pasar pagi yang menyebabkan macet dua arah. Beringsut kendaraan selama melewati pasar tersebut. Lain daripada itu jalanan agak sepi dan lancar.


Menjelang siang, perut mulai keroncongan . Bundo sudah mulai bertanya, kapan makan. Akhirnya kami mampir di RM Pincuran Gadang. Ada dua tiga kendaraan pribadi yang terparkir di sini, namun lainnya halaman yang luas diisi oleh banyak truk. Nah ini adalah pilihan yang tepat. Biasanya kalo banyak truk yang parkir, rumah makan itu pasti enak dan murah. Itu kuncinya.


Dan benar saja. Kami makan di sana dengan kepala kakap, tunjang, gulai jengkol, sayur "pucuak ubi" dan segelas teh telor. Nasi sebakul, nyaris habis. Benar benar makan "lamak" kami berdua. Biasanya saya agak menahan porsi nasi selama dalam perjalanan, karena takut efek ngantuk nya. Tetapi kali ini saya lupakan. Lauknya "iyo bana lamak". Harga kepala kakapnya saja 65.000 rupiah. Mantap rasanya. Hampir sekitar satu jam kami makan dan rehat di sini. 

Dan akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Tak jauh dari rumah makan Pincuran Gadang, pintu tol pertama di propinsi Jambi sudah terpampang. Tol yang masih gratis di akhir tahun ini. Tol Muaro Sebapo namanya.

Keluar pintu tol, segera masuk ke jalan lintas timur lagi. Google map mengarahkan saya ke jalan simpang Ness. Alhamdulillah selama dalam perjalanan ini, ada permen karet "Long Bar" yang menemani saya. Menghilangkan rasa kantuk yang muncul siang itu. Perman karet itu saja yang saya kunyah kunyah bisa kantu menyerang. 


Dan Bundo kembali larut dalam tidurnya. Bagaimana tidak akan ngantuk? Makan tadi banyak dan lamak, makannya pas di waktu lapar, hari siang terang benderang, Sepoi AC mobil yang dingin memanjakan pelupuk mata. Alhamdulillah perjalanan kami senantiasa ditemani senandung murotal Al Qur'an. Ada ketenangan dalam berkendara tentunya.


Menjelang sore, di waktu ashar, saya mampir di sebuah mesjid di daerah Tebo. Sholat jamak qashar saya agak terlambat. Hal ini disebabkan karena kondisi kurang memungkinkan untuk sholat di RM Pincuran Gadang tadi. 


Selesai sholat lanjutkan lagi perjalanan dan sekalian sore itu mengisi BBM lagi. Kali ini dengan pertalite saja, Rp. 400.000_-. 


Menjelang maghrib kami memasuki kabupaten Bungo. Sempat berdiskusi dengan Bundo lanjut atau nginap. Saya masih yakin dan merasa masih kuat untuk melanjutkan perjalanan, tetapi Bundo bersikeras untuk nginap saja. "Ngapain buru buru, nggak ada juga yang dikejar", katanya.


Dan akhirnya saya yang mengalah. Kita cari penginapan yang murah meriah di Muaro Bungo ini. Ada dua titik yang berdekatan, tetapi akhirnya jatuh pada pilihan kedua. Tempatnya bersih, besar dan nyaman, harganya pun relatif sama. 


Adzan isya pun kami rehat di penginapan. Dan titip pesan kepada resepsionis yang berjaga, bahwa pagi esok sehabis subuh kami akan lanjutkan perjalanan dan kalo bisa breakfast nya dipercepat.


Di sini kami bermalam setelah menempuh 24 jam perjalanan dari rumah hingga ke Muaro Bungo ini. Makan malam kami abaikan karena perut masih terasa kenyang. Tidur yang nyaman yang kami butuhkan.


Bintaro 28 Januari 2025

14.25 WIB

Mudik Desember 2024 (part 1)

Trip Report Tangerang Bukittinggi

Sabtu 14 Desember 2024


Sehabis sholat Maghrib Sabtu malam, sekitar jam 7-an kami berdua meninggalkan rumah menuju tol Bintaro. Segala urusan hari itu sudah selesai. Rencana semula untuk berangkat pagi tertunda karena ada hal lain yang harus didelegasikan. Hal yang lebih penting tentunya. Alhamdulillah menjelang sore semuanya clear. Meninggalkan rumah dengan perasaan lega, bahagia dan siap memulai perjalanan berdua menuju kampung halaman di Bukittinggi.


Ini adalah kali pertama kami trip ke kampung halaman berduaan dengan Terios yang kami miliki. Sejak April tahun 2013 ini adalah penumpang Terios paling minim. Biasanya kami anak beranak, berlima, terus berkurang menjadi berempat, bertiga dan kini tinggal kami saja yang pulang pokok. Pulang ke kampung berdua saja.

Dan pulang kali ini sudah direncanakan, tetapi tidak dikabarkan. Tidak berkabar kepada siapapun dan tidak memposting apapun di media sosial yang kami miliki.


Rencana semula kami akan menunggu anak anak libur. Dhifa selesai ujiannya di Kudus dan Imam libur juga dari pondoknya di Tasikmalaya. Dan dalam planning kami berempat akan pulang pada Jumat, 21 Desember 2024. Hal ini sudah kami sampaikan ke Ama Asma Yati sebelumnya. Kami mohon maaf tidak bisa hadir pada nikahan Vivi karena kondisi anak anak yang masih berada di pondoknya masing-masing, Kudus dan Tasikmalaya.


Tetapi beberapa hari sebelum tanggal 14 Desember itu, menjelang maghrib, Ante Nelti Jamaah menelpon Bundo Nova Yanti. Panjang ceritanya, tetapi poin yang kami tangkap adalah pesan tegas beliau, "Tidak terima alasan apapun, pokoknya harus pulang. Iko adalah alek panutuik. Urang dari Malaysia, dari Pekanbaru lai tibo, masak awak nan acok pulang, indak ka pulang di alek Vivi ko. Harus pulang". 


Saya yang mendengar obrolan ini, senyum senyum saja sambil bersegera ke mesjid. Tawakal tingkat dewa pun mulai dimainkan. Perbanyak doa pada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


Rumit, tetapi tetap yakin bahwa ada solusi. Ada jalan keluarnya nanti apabila permintaan orangtua kita itu dituruti, diikuti. Ada plan A, B, C and D dst. Mengenai anak anak yang di Kudus dan Tasikmalaya pun sudah tergambarkan jalannya, dari beberapa plan yang ada. Pokoknya pulang dulu. Yang lain ada pula tahapannya. Dan keputusan diambil.


Dalam perjalanan menuju tol Bintaro, HP supir pun berbunyi. Dari om Susilo, sang Juragan Baso. Sore tadi sengaja mampir ke rumah dia untuk membeli 20 bungkus baso buat Ama di kampung. Dan ternyata panggilan telpon ini untuk menanyakan dimana posisi saya. Dia sudah sampai di depan rumah, tetapi mobil tidak ada dan rumah terkunci. Saya bilang bahwa saya sudah dalam perjalanan ke tol Bintaro. Dia bilang, "Tunggu pak Andi, saya susul". Dan akhirnya memang beliau susul saya yang sengaja menunggu di SPBU Pondok Aren. Saya kira ada apa ya, segitu pentingnya. Dan ternyata pas adzan isya berkumandang dia datang dengan sekantong cemilan buat kami nikmati dalam perjalanan. Alhamdulillah, ada tambahan, kata saya sambil mengucapkan terimakasih kepada om Susilo ini.


Dan selama menunggu beliau tadi saya sempatkan juga untuk memesan tiket kapal melalui aplikasi ferizy. Alhamdulillah semuanya ready, kapal saya pesan untuk keberangkatan jam 12 tengah malam, antisipasi juga bila ada halangan di jalan nanti. Prediksi ke merak maksimal sekitar dua jam saja dari Bintaro.


Dan pas jam 20.00 kami pamit pada om Susilo, saya belok ke kanan, dia ke kiri. Saya langsung masuk tol Bintaro menuju pelabuhan Merak. Jalanan agak sepi dan lancar. Alhamdulillah jam 21.30 masuk dermaga dan langsung diarahkan petugas masuk ke kapal, tanpa antri.  Total perjalanan tadi satu setengah jam saja.


Mobil langsung diarahkan ke dek bawah dan dapat di deretan ke dua di pintu keluarnya. Banyak kendaraan pribadi yang masuk ke lambung kapal. Dan di dermaga tadi kami lihat truk banyak terparkir. Artinya kendaraan pribadi mendapatkan prioritas dalam musim libur akhir tahun ini.

Setelah mobil terparkir sempurna, saya dan Bundo segera ke atas kapal. Tak banyak yang kami bawa, hanya botol minuman dan cemilan ringan sekedarnya. Kami segera mencari tempat lesehan yang ada di kapal tersebut. Kapal regular yang akan mengantarkan kami ke pulau Sumatra dalam jangka waktu tiga jam ke depan.


Kapal dengan tarif Rp. 481.000 ini jauh lebih bermanfaat ketimbang kapal express yang harganya lebih mahal. Ada beda sekitar 160.000an ribu bedanya. Walau waktunya lebih cepat, tetapi yang saya butuhkan adalah kesempatan untuk tidur selama dalam penyeberangan selat Sunda ini. Tidur adalah obat. Obat agar fit selama berkendara malan di sepanjang tol Sumatera.


Dan Alhamdulillah setelah dapat tempat yang nyaman saya langsung tidur pulas. Berselimut syal palestina di bagian mata. Bundo yang stand by di samping saya pun ada teman ngobrolnya. Seorang ibu yang berprofesi sebagai guru, aslinya Betawi, bersuamikan orang Padang, hendak menuju Lampung.


Bintaro 28 Januari 2025

13.16 WIB

Fokus Pada Tujuan Akhir

Jika diibaratkan mobil, ada tiga buah spion dan satu kaca yang besar. Tiga spion kiri dan kanan dan satu dibagian atas. Meskipun tiga spion,...