Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika masih naik bus ANS ekonomi tahun 90-an, sampai di sini mah mesti mandi. Karena gerah selama dalam perjalanan. Apalagi bus non-AC sudah pasti debu masuk ke dalam bus. Sekarang mah beda. AC nya dingin banget. Apalagi menjelang sore dan malam hari. Saya terpaksa di atur sedemikian rupa, kalo ditutup habis takut nanti ngembun. So tetap di rest area ataupun di rumah makan dimana bus mampir, jarang sekali penumpang yang mandi sekarang ini.
Jam 21.40 bus beranjak meninggalkan rumah makan legend ini. Dua PO TAM ranah Minang beriringan lari malam ini. Yang dari Payakumbuh Bukittinggi menunggu kami. Dia datang lebih duluan.
Di jalur malam menuju Jambi umumnya bus ranah minang selalu konvoi, baik sesama PO ataupun beda. Untuk menjaga keamanan bersama selama dalam perjalanan. Biasanya kendaraan pribadi biasanya suka mengiringi perjalanan bus ini. Jauh lebih aman membersamai bus ketimbang jalan sendirian meskipun sebenarnya kendaraan pribadi tersebut bisa dipacu. Tetapi antara Bungo hingga ke Jambi banyak melalui hutan sawit ataupun hutan karet, jalannya sepi, berbelok-belok dan banyak tikungan yang tajam. Pindah jalur dari tengah ke timur, angkatan enaknya bersama, kecuali di siang hari. Malam kurang aman lah.
Dan entah mengapa saya bisa bisanya tertidur pulas selama perjalanan ini. Entah karena perut yang kenyang, atau karena bus nya yang nyaman ya. Jujur saya nggak tahu sama sekali. Tahu tahu nya terbangun sudah di Pijoan.
Sudah di jalur dua, mendekati pintu tol. Ajib memang. Dan ketika masuk RM Simpang Raya, sudah ada satu lagi PO TAM yang berasal dari Pekanbaru parkir di depan rumah makan. So ada tiga armada TAM menjelang subuh di sini rehat. Plus di tambah satu lagi NPM.
Segera saya ke kamar mandi, buang air besar dan berwudhu. Wudhu aja meskipun waktu sholat masih sekitar 27 menit lagi. Andai bus jalan kita sudah bersuci. Setelah itu saya ke ke depan sambil mikir mau makan berat atau yang ringan saja. Satenya juga terlihat nikmat, tetapi bukan daging. Saya tak begitu minat dengan sate ayam ini. Dan akhirnya jatuh pilihan pada Indomie rebus saja. Cukuplah untuk menghangatkan perut. Sambil makan tak terasa waktu berjalan.
Selesai makan crew mempersilahkan kami untuk sholat subuh di sini saja. Sudah makin dekat waktunya. Saya segera menuju musholla tak perlu wudhu lagi. Pas adzan. Masih sempat sholat Sunnah. Alhamdulillah.
Adzan, iqomah serta imamnya orang yang sama. Anak muda, suaranya bagus, bacaan sholatnya juga mantap. Anak muda begini mah langka. Jauh lebih baik daripada orang tua yang suka nyindir orang dengan Nye Nye Nye... Yang keluar dari mulutnya adalah kebaikan, bukan sindiran ataupun usiran. Ha-ha-ha.
Dan ketika selesai sholat, ternyata sudah ada dua Miyor, satu Al Hijrah, satu Palala, satu lagi NPM dan satu Aerobus yang gagah. Salah satu bus yang menggunakan pemesanan tiketnya full melalui aplikasi. PO ini agak beda.
RM Simpang Raya termasuk rumah padang favorit bagi banyak armada bus saat ini. Dekat dengan exit tol Pijoan, masakannya enak dan WC serta musholla baru dan bersih.
Pangkalan Balai
Jum'at 31 Juli 2026
10.40 WIB



Tidak ada komentar:
Posting Komentar