Senin, 28 September 2020

Menepi, Bukan Pergi

By. Satria Hadi Lubis 


Kekecewaan Abu Dzhar Al Ghifari ra atas gaya hidup Khalifah Utsman ra yg berbeda dgn dua khalifah sebelumnya membuat beliau menyingkir dan menyendiri ke Rabadzah sampai akhir hayatnya. Beliau memilih menjadi "oposisi" pemerintahan Utsman bin Affan ra tanpa pernah berniat mengangkat senjata atau keluar dari jama'ah kaum muslimin. Bahkan suatu ketika ia pernah berkata, “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”


Hal yang sama dilakukan Khalid bin Walid ra, ketika diberhentikan Khalifah Umar  dari jabatan panglima perang. Khalid tentu kecewa  atas keputusan Umar ra, namun kekecewaan tersebut tidak membuat beliau membelot dan melawan Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra. Padahal kalau ia mau, ia bisa memobilisir para prajurit yang masih setia kepadanya untuk melawan pemerintahan Umar ra. 


Khalid si pedang Allah tetap ikut berperang sampai akhir hayatnya walau hanya sebagai prajurit biasa. Suatu ketika ia ditanya mengapa tetap berperang walau sudah diberhentikan sebagai panglima perang, beliau menjawab dgn tegas, "Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Allah!".


Lain halnya dengan kisah Wahsyi yang pernah membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Wahsyi akhirnya masuk Islam dan meminta maaf kepada Nabi saw atas perbuatannya yang pernah membunuh Hamzah ra. Nabi memaafkan Wahsyi, namun beliau berkata, "Jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini karena setiap melihatmu terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu saat itu”


Wahsyi merasa kecewa di dalam hatinya, namun ia tidak membelot dan melawan Nabi. Wahsyi sadar akan kedudukannya, ridha menerima ketentuan itu. Dia memperbaiki dirinya dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah.


Sebagai penebus atas dosa-dosanya beliau bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah yaitu Muhammad saw. Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.


Begitulah sikap para sahabat jika mereka kecewa terhadap jama'ah kaum muslimin, menepi tapi tidak pergi dari jama'ah. Mereka tetap mengakui kepemimpinan jamaah, tetap taat dan ikhlas beramal untuk jamaah, walau sadar tidak memiliki peran yang signifikan lagi dalam jama'ah.


Sikap semacam inilah yang perlu ditiru aktivis dakwah jika mereka kecewa dengan kepemimpinan jama'ah. Jika tausiyah sudah diberikan, namun qiyadah tetap pada kebijakannya, maka menepi sajalah dan jangan pergi (keluar). Tetaplah bekerja dalam dakwah. Tidak usah membentuk gerakan baru. Selain menguras sumber daya dan waktu, toh rezim kepemimpinan jama'ah juga  bisa berubah. Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Yang tadinya memimpin sekarang tidak lagi memimpin, begitu pun sebaliknya yang tadinya tidak memimpin sekarang menjadi pemimpin.


Pergi dari jama'ah bukan solusi, malah menimbulkan masalah baru dan mengusik pertanyaan baru : Begitu rapuhkah kita dengan janji kebersamaan yang selama ini telah membesarkan kita?


"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)" (Surat Al-Ahzab, Ayat 23).

Kamis, 24 September 2020

Merah Menantang


 


Duo Kuliner Minangkabau ini selalu dirindukan. Dua duanya berwarna merah. 

Merahnya menantang. 


Merahnya itu.... 

merah yang mampu menyejukkan mata,

merah yang mampu menggoda hidung, 

merah yang mampu memanjakan lidah, 

merah yang mampu menentramkan hati, 

merahnya yang mampu mengisi lambung,

merahnya yang mampu meningkatkan imunitas.


### 


Dengan dendeng dan jariang balado ini mampu meningkatkan stamina dan imun tubuh. Karbohidratnya silakan sesuaikan dengan kapasitas usus masing masing. Yang jelas, dengan dua menu ini mampu membuat tubuh mengeluarkan keringat, layaknya berolahraga. 

Selamat berbuka, bagi yg melaksanakannya. 


#DupurBundoNova

#DendengLambok

#JariangBalado


Parung Serab Ciledug, 14/09/2020

Kamis, 03 September 2020

Taburlah Kebaikan di Jalan Allah

Selasa malam, saya berkesempatan hadir dalam rapat DKM Mushola Hidayatul Ikhwan bersama dengan para pengurus RW dan RT serta tokoh masyarakat lainnya. Pokok bahasan adalah menyikapi keinginan jamaah/warga untuk mengubah mushola menjadi masjid sehingga jamaah bisa melaksanakan sholat jumat secara berkala dan berkelanjutan. Kesepakatan diambil secara bulat setelah mempertimbangkan segala hal. 


Di dalam forum tersebut saya menawarkan diri untuk menghimpun donatur buat khotib di dua kali pertemuan awal. Dengan harapan bahwa tromol jumat yang ada nanti bisa digunakan buat melengkapi kebutuhan masjid dan biaya khotib di minggu selanjutnya. 


Hari Rabu pagi, tim sudah menyusun daftar khotib jumat hingga Desember 2021. Sesuatu banget menurut saya semangat pengurus DKM dkk yang terlibat. 


Sampai saat ini sudah hampir terisi 70 persen slot khotib jumat. Saya bersyukur juga bahwa tawaran saya untuk mengajakserta Ustadz Alumni GONTOR yang ada di Tangerang Raya disetujui. Kebetulan saya kenal akrab dengan ketua IKPM tersebut dan juga membaca ada keinginan IKPM bahwa ustadz ustadz Gontor harus diberdayakan sebagai juru dakwah di Tangerang Raya. 


Atas izin Allah semuanya berjalan lancar. Ada kemudahan bagi kami dalam mengisi khotib jumat ini. InsyaAllah IKPM pun berkenan mencarikan ustadz pengganti bila ada yang berhalangan nantinya. Sinergi dan kolaborasi untuk kebaikan, apalagi untuk tegaknya Syariah Allah, selalu ada jalan keluarnya. 


####


Kamis siang, selepas dari urusan kantor, saya baru ingat akan janji untuk mencarikan donatur buat khotib jumat. Di WAG jamaah Hidayatul Ikhwan, saya langsung share keinginan saya. Saya yakin ada donatur donatur yang akan tergerak hatinya. Alhamdulillah selama ini, selalu ada kemudahan dalam menghimpun dana buat mushola kami ini. 


MasyaAllah, apa yang saya lakukan setelah menyampaikan permohonan donasi buat khotib jumat esok, balasan yang Allah berikan sangatlah cepat. Saya ceritakan begini, supaya ada hikmah buat kita semuanya. 


Baru saja saya menyampaikan donasi perdana, sejumlah 300.000 dari jamaah kita, telpon saya berdering. Dari salah seorang sahabat saya, owner RM Putra Minang. 


"Da, bisa antarkan Ufia buat hari sabtu nanti?" tanya beliau. 

"Berapa banyak Ji", tanya saya. 

"Masing masing 10 dus ya da", jawabnya. 

"Ukuran berapa Ji?", tanya saya memastikan. 

"Kalo uda ada yang gelas, botol mini dan yang 600, silakan semuanya da?", mintanya. 

"InsyaAllah, ada semuanya Ji", jawab saya. 


MasyaAllah, semuanya berkat izin Allah. Saya yakin, begini cara Allah membalas kebaikan yang saya lakukan. Cara Allah, kadang kadang di luar pemikiran kita. Apalagi ini untuk memakmurkan masjid Allah, demi memudahkan DKM dalam mewujudkan keinginan jamaah melaksanakan sholat jumat di tengah pandemi Covid ini. 


Keterkejutan saya masih berlanjut, ada lagi telpon yang masuk untuk pesanan kuliner buat menantunya di Pondok Gede. 


Tak lama sesudah itu, telpon lagi dari seorang jamaah, "Pak Andi, besok untuk khotib jumat uangnya dari saya ya. Saya amplopin langsung. Tapi jangan dituliskan di list donatur", mintanya. 


"Emang kenapa nggak boleh saya tuliskan di grup? Kan buat transparansi laporan?", pancing saya. 

"Hehehe, pokoknya begitu deh pak Andi", elaknya. 

Saya pun tersenyum. Alhamdulillah, banyak cara orang untuk berbuat untuk kebaikan, termasuk bagaimana menyampaikannya. Tetapi yang jelas, maksudnya, keinginannya tersampaikan. 


Tak lama berselang, di WA pun ada bukti yang transfer yang masuk, ada juga mau kasih cash. MasyaAllah. 


Kadang dalam hal hal seperti ini, di luar logika kita. Rencana penggalangan dana untuk khotib ini hanya dua kali pertemuan di awal, ternyata mencukupi untuk sebulan alias untuk empat kali pertemuan. 


Biarlah tromol jumat besok untuk pembangunan dan dana cadangan buat khotib di waktu lainnya. 


Matematika Allah di luar logika kita. Begitu pula imbalan yang Allah berikan kepada saya, yang hanya sebagai "tukang sorak" saja, Allah bukakan juga pintu rezeki.


Kadang ini yang membuat saya sadar bahwa jangan hitung hitungan dengan Allah, apalagi untuk memakmurkan masjidnya. 


Sebagai penutup, esok adalah hari Jumat. Jumat perdana bagi kami di Masjid Hidayatul Ikhwan, *_mari siapkan infak terbaik dari kita semuanya_*. Niatkan, niatkan karena Allah lalu berharap dan berdoa bahwa Allah akan mengganti lebih banyak dan lebih berkah atas apa yang kita infakkan. 


Semoga esok Jumat yang penuh barokah bagi kita, keluarga kita dan lingkungan kita. Aamiin 3x ya Rab.


PBH Parung Serab Ciledug 

10.34

Jumat, 28 Agustus 2020

Jalan Sepi Bapak Gambar Anom (sebuah kesederhanaan tokoh HMI)

 JALAN SEPI BAPAK GAMBAR ANOM


Tomi Lebang


Rasa sedih dan kehilangan masih memenuhi pikiran saya tatkala mengetikkan tulisan ini. Baru kemarin, Kamis 27 Agustus pukul lima pagi, kami tersentak oleh kepergian Bapak Gambar Anom bin Makruf Harjosaputro, ayah mertua saya, ayah istri saya, eyang dari anak saya. Ia berpulang dalam damai dan tenang di sisi mama, Ibu Warnida Wahab, di rumah di Depok. 


Dan kepergiannya yang damai dan tenang itu jugalah bagian dari karakternya semasa hidup: senantiasa memberi kemudahan dan tidak pernah merepotkan orang-orang di sekitarnya. Pada wajahnya masih terlihat tarikan senyum dan tangannya bersedekap sempurna -- sejak helaan napasnya yang terakhir. Bapak Gambar Anom seolah tak ingin membuat kami semua ikut merasakan pergulatannya menghadapi sakit dan sakaratul maut, tak hendak melihat istri dan anak-anaknya tersaruk-saruk untuk mengurusinya meski kami semua begitu ingin tetap menunaikan bakti kepadanya, tak mau terlalu lama membawa kemuraman pada orang-orang yang ditinggalkannya.


Maka, segala proses pemulasaran jenazah, dari memandikan jenazah sampai ke pemakaman, berlangsung dengan lancar dan cepat. 


Kini Bapak Gambar Anom telah bersemayam di sebuah pemakaman di Jalan Jawa, Depok. Dan tinggallah kami anak-anaknya, dengan segala kenangan dan suri tauladan yang tertinggal oleh almarhum di setiap jejak kehidupannya.


Sudah tujuh belas tahun saya menjadi menantu pertama Bapak Gambar Anom, dan selama itu pula saya tak pernah merasa sebagai menantu, tapi sebagai anak pertama. Karena begitu pulalah Bapak Gambar memperlakukan saya.


Dan almarhum adalah seorang ayah, seorang lelaki, dan muslim, yang sungguh patut menjadi teladan. Senyum tak pernah lekang dari bibirnya, senyum yang sungguh-sungguh tulus, karena tergambarkan bersama seluruh tarikan garis wajahnya. Dengannya, yang kita rasakan hanya kedamaian dan kelembutan, tiada kecemasan dan kekhawatiran, bahkan tak ada ketergesa-gesaan. Semuanya telah berjalan di atas takdirNya, melangkah di atas kehendakNya, dan mengayun dalam irama yang wajar dan alami seperti telah diatur oleh Yang Maha Kuasa.  


Di keseharian, Bapak Gambar Anom tak sekali pun berbicara dengan meninggikan suara, senantiasa berbicara dalam kehalusan, pilihan kata yang menjadi sebaik-baik kalimat, dan selalu mendahulukan kebaikan lawan bicara. Ia lebih banyak mendengar, ketimbang berbicara. Mendengar orang berbicara sikapnya takzim, seolah tak ingin kehilangan satu kabar baik pun, dan segera menanggapinya dengan kegembiraan bahkan lebih sering dengan ucapan syukur: Alhamdulillah.


Almarhum nyaris tanpa cela, kecuali satu hal di mata saya: ia nyaris kehilangan selera memenuhi segala kehendak pribadi yang bersifat duniawi. Kadang-kadang saya gregetan, mengapa Pak Gambar Anom tak pernah menginginkan sesuatu yang besar untuk dirinya? (Tapi tentu saja ini bukanlah cela. Sayalah yang kadang menganggapnya sebagai kekurangan karena saya masih memikirkan begitu banyak urusan duniawi.)


Selama 17 tahun menjadi bagian dari keluarga besar Bapak Gambar Anom, saya akhirnya tahu: almarhum memilih kebahagiaan dan kesenangan dalam pengertian yang lebih dalam, yang lebih ikhlas, lebih murni. Bukan kebahagiaan yang ditopang oleh segala atribut, bukan kesenangan yang diumbar dengan iringan tepuk tangan khalayak. Ia bahagia dan senang dalam ketenangan, tak perlu embel-embel jabatan, kekayaan, ketenaran. 


Jika ia mau, apa yang tak bisa diraihnya? Hendak masuk ke kekuasaan, tak sedikit kawan akrabnya sedari muda adalah para petinggi dan penentu negeri ini. Di saat sahabat-sahabatnya itu, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Mar’ie Muhammad, Abdul Malik Fajar,  Ismet Abdullah, Abdullah Hehamahua, dll menjadi tokoh negeri, Bapak Gambar Anom memilih jalan sepi. Jalan yang tenang. 


Dan saya mengetahuinya tanpa sengaja di awal tahun 2000-an, melalui air mata putri almarhum, Andari Karina Anom, calon istri saya ketika itu. 


* * * * *


Alkisah, semasa Akbar Tanjung menjadi Ketua Umum Golkar (1998-2004), partai penguasa Orde Baru itu didera skandal, diduga menerima dana Bulog. Skandal ini digali dan diberitakan dalam beberapa edisi oleh majalah TEMPO di mana saya menjadi jurnalis. 


Majalah ini bahkan menjadikan tokoh Golkar, Akbar Tandjung sebagai gambar sampul pada edisi 26 November 2001 dengan judul utama “Akbar, Permainan Apa Lagi”. Gambarnya adalah wajah Akbar Tandjung dengan hidung yang dipanjangkan seperti Pinokio -- tokoh dongeng anak yang jika berbohong hidungnya bertambah panjang.


Di setiap berita tentang Golkar itu, TEMPO selalu mendapatkan konfirmasi -- cenderung eksklusif -- dari sang ketua umum, Akbar Tanjung sendiri. Siapa jurnalis TEMPO yang ditugaskan untuk selalu mewawancarainya? Dia adalah Andari Karina Anom. Namanya pun selalu tertera di akhir artikel yang menyerang partai beringin itu sebagai reporter atau penulisnya.


Suatu siang, hari Senin seusai rapat perencanaan liputan, saya makan siang dengan Karin, di satu kantin murah di samping kantor di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Wajah Karin berselaput mendung. Muram. Kenapa? Saya bertanya. 


Lalu ia pun menceritakan kegundahannya. Rupanya ia merasa gundah selalu ditugaskan mewawancarai Akbar Tanjung untuk berita yang sudah ia pastikan akan menghantam dengan keras dan lugas sang ketua umum partai besar itu. Tapi profesionalisme sebagai wartawan TEMPO adalah taruhannya, dan Karin tak pernah mau berpaling dari itu. 


“Saya tidak enak sama Bapak?” katanya. Air matanya mengalir. Saya kaget dan bertanya. “Bapak siapa?” 


“Bapak saya.” Jawaban ini membuat saya jadi bingung.


Karin pun bercerita kalau ayahnya, Bapak Gambar Anom adalah sahabat karib Akbar Tanjung sedari muda. Semasa Gambar Anom masih kuliah di UGM Yogyakarta dan Akbar Tanjung di UI Jakarta, keduanya sudah saling mengenal sebagai aktivis HMI. Keduanya bahkan masuk ke kepengurusan HMI yang dipimpin Nurcholis Madjid, sahabat Gambar Anom yang lain. Bahkan ketika Akbar Tanjung naik menjadi Ketua Umum PB HMI di periode 1971-1974, Gambar Anom lah yang menjadi Sekjen di organisasi mahasiswa Islam yang paling berpengaruh di Tanah Air saat itu. Persahabatan keduanya langgeng sampai puluhan tahun kemudian, termasuk antarkeluarga dan anak-anak mereka. Tidak heran jika Karin begitu mudah menghubungi Akbar Tanjung dan mewawancarainya, sekali pun keduanya tahu berita yang hendak diturunkan Majalah TEMPO itu adalah palu godam untuk Akbar Tanjung dan Golkar yang dipimpinnya. 


Saya masih sempat bertanya. “Apa tanggapan Bapak tentang tugas Karin itu?”


Dan itulah yang membuat Karin sedih. “Bapak tahu tapi tidak berkomentar apa-apa. Bapak tidak ingin mengganggu pekerjaan saya.” Saya jadi ikut sedih dan memahami kegundahan calon istri saya ini. 


Beberapa waktu kemudian, saya dan Karin, bahkan sempat bertemu Pak Akbar Tanjung yang sedang berjalan berdua dengan istrinya, Ibu Nina, di sebuah pusat perbelanjaan di SCBD, Jakarta. Keduanya bersalaman, akrab, berbincang cukup lama, dan saya dengar lebih banyak berkabar soal Pak Gambar Anom.


(Kemarin, Akbar Tanjung dkk datang mengantar kepergian sahabatnya, menabur kembang, seusai mengulang kisah mereka sedari muda, di pemakaman yang sepi di pinggiran kota Depok.)


* * * * *


Setahun kemudian, untuk pertama kalinya, saya diajak Karin datang ke kediaman orang tuanya di Depok. Kami datang di malam hari. Lama mendengar tentang Pak Gambar Anom sebelumnya, membuat jantung saya cukup berdegup saat telah menjejak ambang pintu rumah di Jalan Balinjo, Depok Utara itu.


Tapi segala kegugupan saya sirna begitu berhadapan langsung dengan Bapak Gambar Anom dengan segala senyum, keramahan, dan sambutan baik, yang saya terima. 


Hanya berbilang bulan setelahnya, saya telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar Bapak Gambor Anom, ketika saya dan Karin menikah pada tahun 2003. 


Pernikahan kami menjadi ajang reuni Bapak Gambar Anom dan sahabat-sahabatnya. Bapak Abdul Malik Fajar (kala itu sebagai Menteri Pendidikan) tampil sebagai saksi nikah, Bapak Mar’ie Muhammad memberi tausiah pernikahan, dan hadir dengan riang Bapak Nurcholis Madjid, Bapak Akbar Tanjung, dll. 


Beberapa bulan kemudian, kami sekeluarga diajak Bapak Gambar Anom ke kampung halamannya di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di kampung bernama Karaharjan itu, tempat keluarga besar alm. Makruf Harjosaptro bermukim, saya akhirnya menemukan akar dan muasal dari segala karakter baik dari mendiang Bapak Gambar Anom. Saya menginap di rumah Jawa dengan seperangkat gamelan yang masih terpasang di antara tiang-tiang joglo, di tengah keluarga besar Eyang Makruf yang begitu rukun, guyub, dan saling mengayomi. 


Sungguh, saya bersyukur dan beruntung telah menjadi bagian dari keluarga besar ini, keluarga Bapak Gambar Anom.


Begitulah. Begitu banyak kisah yang sesungguhnya dapat saya ceritakan dari persentuhan saya dengan almarhum, tapi hanya satu jua kesimpulannya: almarhum Bapak Gambar Anom orang baik. Dan saya sangat kehilangan oleh kepergiannya. Saya merindukannya.


Selamat jalan Bapak. 

TEBET, 28 Agustus 2020

Kamis, 27 Agustus 2020

Keteladanan Buya HAMKA





 Edisi : Kisah Tokoh Besar Islam kita BUYA HAMKA


"Presiden Soekarno pernah 'menyerang' ulama besar di masanya, Buya Hamka.. 

Bersama Mohammad Yamin, Soekarno melalui headline beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, namun tak sedikit pun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar.. 

Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan.. 

2 tahun 4 bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya..? Tidak..! 

Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara.. 

Di dalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar.. 

Lantas, bagaimana dengan ketiga tokoh tadi..? Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno..?

Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno.. 

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat.. Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia.. 

Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri.. 

Apakah Hamka menolak..? Tidak..! Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya.. 

Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini.. Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.. 

Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka.. 

Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya.. 

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka.. 

Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Alqur'an.. 

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah.. 

Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.. 

Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek : 

“Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.. 

Di mana..? Di mana beliau sekarang..?  

Dengan pelan dijawab : "Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.."

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca.. Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara.. 

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno.. 

Untaian do'a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia.. 

##

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu..


Copasted : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3017577745018757&id=100002996842320

Minggu, 23 Agustus 2020

Hikmah: Akibat Suatu Kezaliman

 Bismillaahir Rahmaanir Rahiim...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... 

                                                             Akibat Suatu Kezhaliman

                                                             Suatu ketika, seorang nelayan keluar rumah di pagi hari untuk mencari rezeki yang halal. Dia melemparkan jaringnya dan ternyata dia tidak memperoleh apa-apa sementara anak-anaknya di rumah sedang merintih kelaparan. Lalu dia berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah SWT. Ketika matahari hampir tenggelam, Allah memberi rezeki seekor ikan besar. Dia lalu memuji kepada Allah SWT dan mengambil ikan tersebut dengan penuh keceriaan menuju ke rumahnya.


Kebetulan ada seorang raja yang sedang bertamasya. Raja pun melihat nelayan tersebut, lalu dia dihadapkan kepada sang raja. Melihat ikan yang ada di tangan si nelayan, sang raja merasa takjub dengan ikan tersebut. 


Akhirnya, sang raja merampasnya secara paksa untuk dibawa ke istananya, demi membahagiakan permaisurinya. Tetapi, tiba-tiba ikan tersebut berputar dan menggigit jari sang raja. 


Pada malam itu sang raja tidak dapat istirahat dan tidak dapat tidur. Raja pun mendatangkan beberapa dokter. Para dokter merekomendasikan agar jarinya diamputasi.

Meski telah dipotong jarinya akan tetapi sang raja masih tetap tidak dapat istirahat karena racunnya telah menjalar ke seluruh tangannya. Para dokter kembali merekomendasikan agar tangannya diamputasi. 


Setelah diamputasi akan tetapi sang raja masih juga tidak dapat beristirahat. Bahkan dia berteriak-teriak dan minta tolong karena racun telah sampai lengannya.

Para dokter pun kembali merekomendasikan agar lengannya diamputasi. Kemudian sang raja dapat beristirahat dari rasa sakit secara fisik, tetapi jiwanya belum tenang. 


Perlahan, sang raja menyadari letak persoalannya. Orang-orang pun menganjurkannya agar pergi ke dokter hati, yaitu ulama yang ahli hikmah.


Sang raja pun berangkat ke tempat ulama dan mengisahkan tentang ikan tersebut. Sang ulama berkata kepadanya, “Kamu tidak akan tenang sebelum si nelayan telah memaafkanmu”. Kemudian sang raja mencari keberadaan nelayan, hingga akhirnya sang raja dapat menemukan si nelayan dan menjelaskan masalahnya kepadanya dan memintanya bersumpah agar si nelayan rela mengampuni dan memaafkannya. 


Si nelayan pun memaafkannya. Lalu raja bertanya kepadanya, “Sumpah apa yang kamu ucapkan untukku?” 


Dia menjawab, “Saya hanya mengucapkan sebuah kalimat, yaitu “Ya Allah! Dia telah menunjukkan kekuatannya kepadaku. Oleh karena itu, tunjukkan padaku kuasa-Mu pada dirinya!”


***


Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa, jangan berlaku zhalim kepada siapapun tanpa pandang warna dan bulu. Ketika Anda tidak mengerjakan amanah dengan baik, berarti anda telah zhalim kepada ketua/ kepada orang tua/ kepada siapapun yang telah memberikan amanah kepada Anda. 


Ketika ada saudara Anda yang bekerja totalitas dan mati-matian, akan tetapi Anda malah malas-malasan, lebih mementingkan kepentingan pribadi, banyak mengeluh tanpa memberikan kontribusi, berarti anda telah zhalim kepada saudara anda.

Mungkin saja, yang anda zhalimi suatu saat akan berdoa untuk keburukan anda, sehingga terjadilah permasalahan yang tak kunjung selesai pada kehidupan anda. 


Pun juga sebaliknya, sebagai pemimpin pun harus bersikap arif dan adil dalam memimpin rakyat/ jundi-jundinya. Agar rakyatnya mendoakan kebaikan untuknya, bukan malah mendoakan keburukan yang mendatangkan berbagai macam ketidaktenteraman.

Allahu ’alam.

Semoga kita diberikan hidayah oleh Allah untuk menjadi orang yang adil di manapun kita berada.

Selasa, 18 Agustus 2020

Hikmah: Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan

 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 


Semangat Subuh ✊ 

(source: mas Sutanto Kahmi Forever 5)


SESUNGGUHNYA SETELAH KESULITAN AKAN ADA KEMUDAHAN

Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah sakit ada sembuh, pasti yang sesat jika berusaha sungguh-sungguh akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Lihatlah para petualang di sebuah gua yang gelap, setelah berjalan kesana kemari melihat setitik lubang cahaya.

Beri kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar dari puncak gunung, dan celah-celah lembah.

Apabila kita melihat dan berjalan di tengah padang pasir nan tandus itu, kita berjalan lagi masih juga padang pasir, berjalan terus, Sampai suatu saat kelak kita akan menemukan dedaunan hijau, perkampungan hijau, ada kehidupan disana. Semua itu karena setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan.

Bila kita melihat tali itu kuat dan sambung menyambung, lihatlah suatu saat pasti akan terputus juga. Dibalik kemelaratan, pasti ada kebahagiaan. Di dalam ketakutan, akan disertai rasa aman. Dalam kegoncangan, setelah itu pasti angin itupun tenang kembali.

Ombak menderu-deru, tidak selamanya ia bergejolak terus, pasti ada masa tenangnya.

Begitulah sunnatullah di dunia ini. Tidak ada kesusahan yang terus menerus. Sebagaimana tidak ada kesenangan yang abadi. Semua akan datang silih berganti. Maka tidak semestinya seorang mukmin merasa putus asa ketika kesulitan menerpa, karena setelah itu kemudahan pasti akan menggantikannya. Bukankah Alloh subhanahu wata’ala telah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. Al Insyirah : 5-6)

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengenai ayat tersebut : “Ayat ini memberi kabar gembira tatkala orang menjumpai kesulitan dan kesukaran, maka kemudahan pasti menemaninya. Seandainya kesulitan sesulit lubang biawak, maka kemudahan pun akan memasuki lalu melepas kesulitan.

Selamat menjalankan ibadah sholat subuh, semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...