Selasa, 21 Januari 2020

Hikmah: Baru Ku Sadari



Baru kusadari ..
Hidup ini sederhana
Sekedar bersyukur saja cukup sudah.

Keinginan yang terus menuntutlah yang membuat hidup menjadi rumit dan memberatkan.

"Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya)" (Qs. 27:73).


Baru kusadari..
Sakit hati sebenarnya kata lain dari tdk mau melepas pasrah saja, karena merasa memiliki.

Padahal jika ikhlas dan sadar bahwa semua milik dan terjadi atas kehendak-Nya maka akan plong dada ini dan lega tanpa ada beban perasaan.

"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan" (Qs. 3:109).


Baru kusadari..
Keinginan memperbaiki orang lain, termasuk orang-orang yang dicintai bisa berlebihan dan memaksa.

Yang tanpa sadar mengambil hak Allah untuk  mengendalikan hamba-hambaNya.

"Sesungguhnya engkau  tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk" (Qs.28:56).

Baru kusadari
Perubahan pikiran ini semudah membalikkan telapak tangan
Terombang ambing jika tidak waspada
Maka waspadalah dgn selalu zikir dan senantiasa meminta perlindungan-Nya.
Lengah sedikit bisa menjadi penyesalan berkepanjangan jika pikiran itu diwujudkan dalam amal yang buruk.

"Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya"

Baru kusadari..
Ternyata masih banyak yang harus kupelajari
Kesombongan dan rasa malaslah yg membuat aku bodoh untuk memahami kebesaran Allah dalam setiap urusanku

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Qs. 41:53)



Baru kusadari....

Senin, 20 Januari 2020

Hikmah: dr. Jose Rizal di Mata Munarman

SAYA BERSAKSI DOKTER JOSE RIZAL ADALAH SEORANG MUJAHID FI SABILILLAH

Ditulis oleh Munarman

Tadinya saya enggan untuk membuat tulisan ini, namun setelah saya timbang timbang dan "diprovokasi" oleh tulisan Tony Rosyid dengan anak judul yang membuat saya tersentak. Dalam anak judul tulisan Tony tidak sempat mampir ke rumah dr. Jose.

Pada malam itu selepas diskusi di Radio Rasil, saya dan Tony sebagai narasumber dengan topik diskusi PENGASINGAN POLITIK Habib Rizieq Syihab oleh Rezim.


Sekitar jam 20.00 sebelum diskusi akan segera dimulai, pak Farid menyatakan bahwa seandainya tadi saya datang lebih sore, dr. Jose mau ajak diskusi dulu di rumahnya yang berdekatan dengan radio Rasil. Namun karena saya terlambat karena terjebak macek menuju Cibubur akhirnya agenda diskusi on air dulu baru kemudian ke rumah dr. Jose. Padahal juga pak Farid mau ajak makan sambil diskusi bersama dr. Jose.

Namun setelah selesai diskusi on air dua jam kemudian, Tony tidak bisa ikut ke rumah dr. Jose, karena istrinya sedang menunggu di tempat berbeda. Jadi ternyata Tony juga terjebak macet, yang akibatnya harus naik ojek dan turun dari mobilnya. Istrinya meneruskan membawa mobil dengan mencari tempat berhenti. Dan Tony harus segera menjemput di posisi istrinya menunggu. Jadi itulah mengapaTony tidak bisa ikut ke rumah dr. Jose.

Sementara saya dan pak Farid, setelah selesai diskusi on air menuju ke rumah dr. Jose. Namun karena memang dr. Jose sedang dalam keadaan sakit, sepertinya harus istirahat. Dan akhirnya saya juga tidak sempat bertemu dengan dr. Jose. Padahal saya sudah lama sekali tidak ngobrol dengannya. Dan sangat ingin diskusi.

Terakhir saya kunjungi dr. Jose ketika beliau di opname di RS Jantung Harapan Kita tepat 31Desember 2019.

--212--

Perkenalan dengan dr. Jose ketika saya menjadi salah satu anggota Team Pembela Ust Abu Bakar Ba'asyir. Ketika itu dr. Jose ikut mendampingi Ust ABB sebagai Team Medis, pada tahun 2003.

Beliau selama mendampingi Ust ABB sebagai Koordinator Team Medis sangat aktif dan luar biasa

Dalam proses tersebut kami seringkali diskusi. Terutama menyangkut kasus Ambon.

Beliau langsung terjun ke daerah konflik di Ambon dan melihat fakta fakta ketidakadilan, baik dari segi kebijakan maupun dari segi pemberitaan terhadap umat Islam di Ambon. Salah satunya adalah, umat Islam yang sebelumnya adalah korban, akibat pemberitaan dan kebijakan yang tidak adil, dibalikkan faktanya seolah menjadi penyebab dan pelaku konflik Ambon.

Dan dr. Jose melihat ada campur tangan internasional dalam konflik Ambon tersebut.

Tidak berhenti di konflik Ambon, dr. Jose juga terjun langsung ke Afghanistan untuk memberikan pertolongan medis kepada rakyat Afghanistan yang pada tahun 2001 di agresi oleh Amerika Serikat.

Dalam berbagai kesempatan diskusi, dr. Jose seringkali menyatakan bahwa beliau sangat terkesan dengan bangsa Afghan yang bersahaja, serba kekurangan namun tangguh dalam menghadapi berbagai agresi bangsa asing.

Perjalanan dr. Jose di Afghanistan ini dilakukan berminggu minggu dan di berbagai tempat yang di bom oleh Amerika Serikat.

Pada 2003, ketika Amerika Serikat lagi lagi menginvasi negara lainnya yaitu Irak, dr. Jose kembali terjun langsung.

Dalam berbagai ngobrol dengan beliau, pengalaman di Afghanistan maupun di Irak sering kami tanyakan.

Dalam pengalaman beliau di dua negara tersebut, seringkali beliau bersama Tim MerC terjebak di tengah pertempuran antara tentara penjajah dan mujahidin. Dan Alhamdulillah beliau bersama Tim bisa lolos dari sergapan tentara penjajah tersebut. Pernah diceritakan oleh beliau, bahwa seandainya beliau sempat tertangkap oleh pasukan penjajah Amerika, tentu sudah berada di Guantanmo, karena akan dianggap sebagai foreign figther dalam kacamata kaum penjajah. Padahal beliau memberikan bantuan sebagai dokter medis dalam kancah pertempuran tersebut.

        --212--

Tahun 2009, saya bersama dr. Jose berada di Pariaman saat gempa melanda Sumatera Barat. Dan Pariaman salah satu wilayah terdampak bencana yang cukup parah. Aktivitas dr. Jose banyak dihabiskan dalam ruang operasi korban gempa, bahkan sampai berjam jam.

Saat ada keperluan di Jakarta, ditengah aktifktas penanganan bencana tersebut, dr. Jose sempat pulang, dan saya baru menyadari bahwa dr. Jose saat membantu korban gempa tersebut dalam keadaan kakinya juga cidera sehingga harus menggunakan tongkat saat berjalan.

Dua kemudian setelah urusan di Jakarta selesai, dr. Jose kembali mengajak saya kePariaman, kali ini denga menggunakan mobil pribadi beliau. Beraama salah satu relawan, kami bertiga menempuh perjalanan darat lebih kurang 30 jam melalui lintas tengah Sumatera. Dengan membawa peralatan medis.

Pulang dari Pariaman seminggu kemudian, kami bertiga kembali menggunakan jalur darat, kali ini melalui lintas timur Sumatera. Dengan waktu kurang lebih sama 30 jam perjalanan. Padahal dr. Jose seperti yang saya sebutkan tadi, juga dalam keadaan kakinya masih cidera.

Namun semangat beliau dalam membantu rakyat yang tertimpa musibah sangat luar biasa.

    ---212---

Tahun 2012, sekitar November, saya bersama dr. Jose, kembali melakukan perjalanan ke Yordania. Perjalanan kali ini adalah dalam rangka konferensi untuk persiapan acara Global March To Jerusalem. Yaitu satu kegiatan yang dirancang oleh aktivis civil society untuk membebaskan blokade Israel terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Dalam konferensi tersebut, dr. Jose menyuarakan agar para aktivis jangan terlalu banyak teori, namun lemah di implementasi. Dan dr. Jose mengajak peserta konferensi agar segera menyusun action plann untuk kegaiatan tersebut. Ini salah satu karakter dr. Jose, yaitu semua rencana harus bisa diimplementasikan.

Dalam perjalanan selama 4 hari tersebut, kami bertiga satu kamar agar diskusi menjadi intensif.

Dan setiap sholat, dr. Jose selalu mempersilahkan kami untuk menjadi Imam. Namun saya selalu meminta dr. Jose sebagai Imam Sholat selama perjalanan. Karena kami jadikan sebagai Imam Safar. Dan seluruh gerakan maupun bacaan sholat dr. Jose sangat baik dan sempurna selayaknya santri lulusan pondok pesantren salafiyah. Tak ada keraguan saya menjadi makmum dalam sholat bersama beliau selaku Imam.

Maret 2013, implementasi dari hasil konferensi November 2012, jadi dilaksanakan.

Saya sekali lagi, bersama dr. Jose dan rombongan besar, berangkat menuju Amman.

Kami tiba di Amman lebih kurang pukul 09.00. Namun sayang, kali ini saya tidak bisa masuk ke Yordania dan harus pulang kembali ke Jakarta dengan penerbangan hari itu juga pukul 17.00. karena alasan intelijen.

Gigit jari saya, karena tidak bisa ikut kegiatan menembus pagar batas penjajah Israel.

Dan dr. Jose lah orang yang pertama kali mengabari tentang deportasi saya ini ke teman teman jurnalis di Jakarta. Beliau sempat berdebat sengit dengan pihak imigrasi dan intelijen Yordan agar saya  bisa masuk dan ikut kegiatan Global March to Jerusalem.

   --212--

Khalifah Umar bin Khattab rhodiyallahu ‘anhu pernah memberikan tips khusus dalam masalah ini, sebagaimana diceritakan oleh salah seorang Tabi’in yang bernama Khorasyah bin Al hurr rohimahulloh :

شهد رجل عند عمر بن الخطاب رضى الله عنه فقال له عمر: إنى لست أعرفك ولا يضرك أنى لا أعرفك فائتنى بمن يعرفك , فقال رجل: أنا أعرفه يا أمير المؤمنين , قال: بأى شىء تعرفه؟ فقال: بالعدالة. قال: هو جارك الأدنى تعرف ليله ونهاره ومدخله ومخرجه؟ قال: لا. قال: فعاملك بالدرهم والدينار الذى يستدل بهما على الورع؟ قال: لا. قال: فصاحبك فى السفر الذى يستدل به على مكارم الأخلاق؟ قال: لا. قال: فلست تعرفه , ثم قال للرجل: ائتنى بمن يعرفك

“Ada seorang lelaki yang bersaksi dihadapan Umar bin Khattab rhodiyallohu ‘anhu, Umar berkata kepadanya : Aku tidak mengenalmu, dan tidak masalah meskipun aku tak mengenalmu, tapi datangkanlah seseorang yang mengenalmu.

Tiba tiba seorang laki-laki diantara hadirin berkata : Aku mengenalnya dengan baik wahai Amirul mukminin. Umar lantas bertanya : Bagaimana engkau mengenalnya?

Ia menjawab : Dia adalah orang yang bisa dipercaya.

Umar kembali bertanya : Apakah dia adalah tetanggamu hingga engkau ketahui keadaannya baik siang maupun malam?

“Tidak,” jawabnya.

Apakah engkau pernah berbisnis dengannya sehingga kau ketahui bahwa ia adalah seorang yang wara’?

“Tidak.”

Pernahkah engkau bersafar (berpergian) dengannya hingga engkau ketahui bahwa ia memiliki akhlak yang mulia?

“Tidak,” jawabnya lagi.

Itu berarti engkau tidak mengelanya.
Kemudian Umar berkata kepada pemuda yang bersaksi tersebut : Carikan aku orang yang benar-benar mengenalmu.

(Diriwayatkan oleh Al baihaqi dan dishahihkan oleh Albani dalam Irwaul gholil)

     *---212---*

Dari beberapa kali perjalanan yang lebih dari 3 hari bersama dr. Jose tersebut, saya bersaksi bahwa dr. Jose adalah mujahidin fi sabilillah.

Dokter Jose Rizal adalah seorang mujahid  sekaligus aktivis kemanusiaan sejati. Aktivitas beliau bukan saja terbatas pada batas batas teritorial Indonesia.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan kalangan aktivis dari berbagai spektrum, saya belum melihat seorang aktivis yang benar benar ikhlas dan tidak mencari popularitas.

Dokter Jose patut untuk dijadikan contoh bagi aktivitas kemanusiaan lintas batas.

Engkau adalah sahabatku dokter Jose.

Jakarta, cibubur 20 Jan 2020.

Sabtu, 18 Januari 2020

Hikmah: Sial atau Beruntung??

*_Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh_*

*_Semangat Subuh_*

Saya pernah nanya begini kepada beberapa orang peserta pelatihan: "Misalnya anda bangun terlambat menuju ke bandara. Secara kalkulasi jelas gak bakalan kekejar. Tapi anda teruskan itu perjalanan ke bandara. Eh lha kok macet parah. menurut anda sial atau beruntung?

Peserta : "Sial pak ... Udah bangun telat eh kena macet"

Saya : "Lha ... Ternyata pesawat anda delay penerbangannya 4 jam. Sehingga anda bisa naik pesawatnya, alias enggak ketinggalan. Ini anda sial atau beruntung?"

Peserta : "Wah ya beruntung pak"

Saya : "Nah di ruang tunggu yang sama, ada orang yang mengejar kerjasama bisnis. Kalau terlambat ia kehilangan proyek bernilai milyaran rupiah. Gara-gara delay pesawatnya, dia kehilangan proyek itu. Menurut anda, orang itu sial atau beruntung?"

Peserta : "Sial pak"

Saya: "Nah, tapi beberapa bulan kemudian. Ternyata teman orang itu, yang memenangkan proyek karena orang itu pesawatnya delay, ternyata temannya kena tipu milyaran rupiah. Gara-gara pesawat delay 4 jam, orang itu tidak kena tipu. Orang itu sial atau beruntung?"

Peserta : "Ya beruntung pak"

Dari percakapan di atas, nampak bahwa sebenarnya penilaian kita atas peristiwa bisa berubah seiring waktu. Ya, seiring waktu, lalu ada kejadian lain setelahnya, maka judgement kita atas peristiwa, bisa berbalik 180 derajat.

Sebuah peristiwa yang kita katakan sial pada suatu waktu, 6 bulan, 1 tahun, 10 tahun mendatang, bisa jadi malah kita syukuri.

Mungkin saja, ada kejadian pagi ini, kemaren, 1 tahun lalu, 5 tahun lalu yang masih sulit anda terima. "Beruntung dimananya? Jelas jelas saya disakiti?". Mungkin begitu penilaian anda. Tapi, lihat saja seiring waktu berlalu. Karena semua hal dalam hidup tidaklah tetap. Semuanya mengalir. Semuanya berubah.

Penderitaan dimulai, saat Kita kaku dalam menilai. Kita terus menerus memegang penilaian atas sebuah peristiwa yang tidak enak. Dan menutup mata, terhadap peristiwa kelanjutannya. Yang mana sebenarnya peristiwa kelanjutannya itu, menjelaskan fungsi dari peristiwa tidak enak yang sebelumnya.

Kita akan tersesat di Jakarta, kalau menelusuri kota Jakarta tahun 2015, dengan menggunakan peta Jakarta tahun 1950.

Kita perlu mengupdate peta kota Jakarta yang kita miliki. Karena Jakarta terus berubah.Kita pun akan tersesat dalam hidup, saat kita tidak mengupdate peta penilaian kita atas peristiwa.

Kita melihat orang, dengan peta penilaian jadul. Kita menilai peristiwa dengan peta yang kadaluarsa. Bisa jadi orang yang kita benci 5 tahun lalu, sekarang dia berubah 180 derajat jadi orang baik. Lalu mengapa masih jadi penderitaan bagi kita?Karena kita masih memegang erat peta lama dalam menilai orangnya.

Mari kita update peta kehidupan kita.

Have a nice day. Barakallah🤲

*_Selamat menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid, semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin_*

Jumat, 17 Januari 2020

Hikmah: Sedekah Yang Segera Kembali !

Dalam salah satu televisi show di Negeri Barat, pembawa acara membuka acara untuk pengumpulan donasi bagi seorang yang sedang sakit parah sementara ia dalam kondisi sangat tidak mampu. Lelaki ini harus ditindak operasi dengan biaya puluhan ribu dolar.

Mulai lah para pemirsa menghubungi nomer yang tertera pada acara ini dan beberapa dari mereka menyumbang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Hingga muncul satu telepon dari seseorang Muslim yang menyumbang hanya 2 dolar.

Sang pembawa acara heran dan bertanya,
“Mengapa engkau menyumbang sangat sedikit?”
Ia pun menjawab,
“Ketahuilah bahwa itu adalah separuh dari harta yang kumiliki saat ini. Tapi aku tetap ingin berbagi.”

Baginya berbagi walau sangat sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali !

Fenomena ini membuat acara tersebut semakin heboh. Penelpon selanjutnya menyumbangkan dana yang lumayan besar dan berpesan untuk membagi dana yang ia sumbangkan untuk orang yang sakit dan setengahnya untuk orang yang menyumbang dua dolar tadi.

Setelah itu telepon itu berdering lagi dan ada yang menyumbang ribuan dolar lagi. Ia juga berpesan untuk membaginya setengah untuk yang sakit dan setengah untuk yang menyumbang 2 dolar.

Begitu terus hingga biaya pengobatan bagi lelaki yang sakit itu terpenuhi dan pemuda yang menyumbang dua dolar itu juga mendapatkan uang yang tidak sedikit.

Akhirnya beberapa hari setelah penggalangan dana ini, pemuda Muslim itu di undang ke acara yang sama. Ia di wawancarai oleh pembawa acara tentang kehebohan yang ia buat di acara sebelumnya.

Ia pun bercerita,
“Aku telah berkeliling dan mendaftar pekerjaan kesana kemari namun aku tidak mendapatkannya. Hari itu aku hanya memiliki 4 dolar dan setengahnya aku berikan kepada lelaki yang membutuhkan dana untuk operasi. Aku pun tidak menyangka akan mendapatkan balasan langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'Ala dengan jumlah yang tak pernah kubayangkan.”

Setelah acara itu selesai, beberapa perusahaan datang menghampirinya untuk menawari sebuah pekerjaan. Dan akhirnya ia pun memilih salah satu yang sesuai dengan keahliannya dan itulah pekerjaan yang selama ia inginkan.

Jangan heran dengan kisah-kisah semacam ini karena sedekah yang tulus dari hati pasti akan kembali kepada pemiliknya dengan ganti yang lebih indah dan tak terduga-duga.

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'Ala berfirman,

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS.Saba’:39)

Bersedekahlah sekecil apapun, karena nilai sedekah tidak ditentukan oleh jumlahnya tapi nilai itu ditentukan oleh keikhlasan hati kita.

Lakukan segala sesuatu untuk Allah, nanti Allah yang akan mengatur bagaimana cara untuk membalas kebaikanmu.

🍁 Semoga Bermanfaat 🍁



✨ @InspirasiAlQuran Kompilasi Kisah Inspiratif & Hikmah Al Qur'an

Kamis, 16 Januari 2020

Lintas Sumatra: Sarolangun - Kapau (part 4)

Rabu, 25 Desember 2019

Alhamdulillah, pulas saya tertidur semalam dan bangun lebih awal, sebelum alarm berbunyi jam 3.45. Bugar luar biasa, penuh semangat. Berberes sebentar apa yang tersisa semalam, merapikan apa yang akan dibawa lagi ke mobil, dan tak berapa lama kemudian Nova bangun. Sampah durian semalam, saya bawa keluar dan saya masukan ke dalam tong sampah yang ada di depan kamar.

Hujan masih turun dengan lembutnya menyambut subuh. Saya segera ke kamar mandi, melakukan "rutinitas membuang sampah lambung" sekalian mandi. Berharap rapi sebelum adzan.

Alhamdulillah semuanya sesuai rencana, rapi dan badan pun sudah berganti aroma, kami pun berbagi tugas. Saya memasukan semua barang ke mobil,  Nova membangunkan Dhifa, ke resepsionis membayar sewa dan menyerahkan kunci kamar serta tak lupa mengambil kembali KTP yang ditinggal semalam sebagai jaminan. Beres semuanya, bertiga kami menuju mobil siap melanjutkan perjalanan.

Adzan subuh yang tak lama lagi berkumandang memberi kesempatan untuk kembali sholat di masjid Al Fallah Sarolangun. Gerimis yang turun memaksa saya untuk parkir lebih dekat ke area pintu mesjid. Baju kaos yang saya gunakan, saya lapisi dengan jaket ODOJ yang tertinggal di mobil semalam.

Sebelum adzan berkumandang saya masih sempat melakukan sholat sunnah dan menikmati suasana masjid pagi itu. Jemaah mulai banyak yang datang dan ketika sholat subuh mau dilaksanakan baru saya sadari "parfum" saya ternyata berbeda pagi ini. Mungkin jamaah di kiri dan kanan saya bingung darimana berasalnya aroma "parfum" durian yang saya cium pagi itu. Hehehee :)

Selesai sholat subuh, saya segera ke mobil. Tak ingin berlama lama, segera saya nikmati perjalanan pagi ini dengan penuh semangat. Nova bercerita tentang mama yang tadi malam menelpon tentang keberadaan dan keadaan kami. Ditemani ngobrol oleh sang istri, menjadikan saya agak santai mengendalikan mobil.

Penerangan jalan yang tak begitu terang, hujan yang mengguyur sepanjangan perjalanan membuat suasana di dalam mobil sangatlah romantis. Candaan dan gurauan kami nikmati seolah olah pengganti sarapan pagi.

Di beberapa SPBU yang kami lewati terlihat antrian mobil dan truk yang lumayan panjang. Bisa jadi mereka sudah di sana sebelum subuh. Anehnya di depan SPBU tersebut banyak orang yang jualan BBM dengan jerigen terisi penuh. Mungkin beginilah cara SPBU dan warga setempat berbagi rezeki. SPBU hanya melayani sedari pagi hingga malam, sementara warga setempat melayani "pembeli dadakan" dari malam hingga pagi. Sebagai catatan saja, bila kita melewati lintas tengah malan hari di propinsi Jambi dan Sumsel, ada baiknya pastikan dahulu BBM terisi penuh karena banyak SPBU yang tutup. Namun kalo kepepet ada juga yang jual dengan harga sedikit lebih mahal.


Menjelang jam 7, sebelum memasuki kota Bangko, saya mengisi pertalite di SPBU yang baru saja buka pagi itu. Terios "minum" di sini seharga Rp 285.000,-. Di belakang saya terlihat dua buah mobil PKS yang akan konvoi "rihlah" ke Sumatra Barat. Ternyata di jalan raya setelah keluar dari SPBU banyak lagi yang menunggu dua mobil tadi. Ada hampir sepuluh kendaraan pribadi dengan berbagai merk yang hendak jalan jalan menuju kota Padang. Mereka dari Muara Enim yang kabarnya akan mendapat "jamuan" dari korwil PKS Sumbar.

Kami lewati mereka dengan penuh kebanggaan. Beginilah rupanya anggota partai ini mengisi liburan bersama keluarganya menuju Sumatra Barat sekaligus mempererat silaturahim sesama mereka. Dugaan saya, mungkin sebagian besar dari mereka adalah para perantau minang yang ada di sana. Hhmmm


Agak kencang lari Terios saya pagi ini, selepas "minum" di kota Bangko tadi. Alhamdulillah, jam 9 lewat, kami sudah sampai di Gunung Medan. Tadinya ingin makan soto di RM Umega, dan mobil sudah masuk di area parkirnya. Namun dari kejauahan, jejeran warung di seberangnya menggoda kami untuk ke sana. Naluriah saja. Karena di sana lebih banyak pilihan. Di tempat ini, kami pesan makanan dari tiga tempat yang berbeda. Saya makan pagi dengan ikan asam padeh yang baru matang, Nova memesan miso dan soto nasi, Dhila memesan indomie dengan dua telor plus nasi. Miso karena memang kami "taragak bana" dengan makanan jadul ini, yang sudah sangat jarang ditemui. Plus ditambah lagi dengan seporsi sate dan segelas teh telor.

Hampir sekitar empat puluh menit kami makan dan rehat di sini, perjalanan dilanjutkan lagi, namun mampir dahulu di SPBU yang berdekatan dengan tempat kami makan tadi. Banyak juga mobil pribadi yang memanfaat SPBU di sini sebagai tempat istirahat. SPBUnya luas dan bersih, ada musholanya. Dan sebelum SPBU ini ada penginapan. Semuanya milik RM Umega.

Setelah selesai, kami tancap gas lagi menuju Pulau Punjung, ibukotanya kabupaten Dharmasraya ini. Ada icon barunya di sini, yakni jembatan bagus yang baru selesai dibangun. Lanjut hingga ke Kiliranjao, terus berbelok menuju Sijunjuang di simpang Tanah Badantuang. Hari sangat cerah, jalanan agak sepi, tak banyak kami temui bus maupun truk selama dalam perjalanan pagi itu. Jam dua belas siang kami sudah masuk di kota Muaro Sijunjung ini.

Saya segera menuju masjid Tuo yang ada di sisi kanan jalan. Masjid Taqwa Muaro, namanya. Masjid dengan bagunan dua lantai dan ber-AC. Nova dan dhifa rehat di mobil, saya melaksanakan sholat jamak di sini. Setelah selesai tak lupa memasukan sedekah di kotak masjid.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sitangkai, Lintau untuk nanti berbelok ke kiri menuju Kota Batusangkar. Oh ya, beberapa ruas jalan yang berada di perbatasan kabupaten Sijunjung ini agak rusak. Genangan air sisa hujan menutupi lubang yang ada, membuat kita harus berhati hati melewatinya. Rusaknya jalan di sini sudah beberapa tahu yang lalu, entah ada perbaikan, entah tidak. Kalo pun ada pastinya tambal sulam saja.

Setelah melewati kantor wali nagari Atar yang terlihat indah di atas bukit, saya teringat teman SMA saya di Duri dulu yang tinggal di daerah Barulak Tanjuang Ameh. Saya telpon, siapa tahu dia ada di rumah dan bisa sekalian bersilaturahim. Nurdin namanya, terhubung kembali setelah beliau bergabung di WAG SMA PJ akt 92 beberapa waktu yang lalu.

Alhamdulillah, komunikasi saya tersambung dengan beliau dan ternyata toko yang baru saja dia tempati tak jauh dari jalan yang akan saya tempuh. Akhirnya kami pun mampir di sini. Saya dan Nova di ajak beliau "duduak di lapau" yang ada di depan toko perabotnya. Sementara Dhifa yang turun asyik main dengan ikan ikan yang baru ditangkap oleh salah seorang teman Nurdin, sahabat saya ini. Rumah Nurdin yang ada di belakang SD yang tampak dari jalan raya, di sebelah kanan kami, di tengah hamparan sawah. Kepada beliau saya janjikan, isnya ALLAH suatu waktu kami akan mampir.

Lama tak bertemu dengan beliau ini. Lebih dari 27 tahun. Banyak kisah yang saya dengar dari beliau yang bisa saya ambil. Merantau selepas SMA ke Cikokol Tangerang, membuka usaha rumah makan hampir dua tahun, banting stir merantau lagi ke Palembang dan kursus "meubel" di sana hingga akhirnya berkembang di sini, di Barulak. Mempunyai anak enam orang, yang sulung sudah menikah dan mempunyai seorang anak dan tinggal di Batam. Anak keduanya sedang dalam persiapan untuk melanjutkan pendidikan di BLK Kota Padang untuk kemudian bersiap siap  "short course" di Jepang, yang empat orang ada di sini dikampung.

27 tahun tak terdengar kabar sama sekali adalah suatu keajaiban yang ALLAH berikan kepada saya untuk bertemu kembali dengan Nurdin ini. Sahabat saya yang gigih dalam berusaha. Sahabat yang yang sama sama berjuang di kelas Fisika di SMAN 2 Duri. Banyak kenangan kami saat masih sekolah dahulu. Dan tak banyak perubahan di wajah dan sifatnya.

Hampir satu jam kami di sini, saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ini adalah kali kedua saya mampir untuk bersilaturahim dengan sahabat saya di daerah ini. Mudik lebaran yang lalu saya juga singgah di Saruaso, di rumah mertuanya John Mikhrad teman kuliah saya, yang kebetulan saat itu ada syukuran walimahan. "Mandoa" bahasa minangnya.

Menanjak jalan menuju Istana Pagaruyung, gerimis turun lagi. Jalan berliku hingga ke perempatan lampu merah kota Batusangkar. Banyak cerita kami di dalam mobil, bertiga.
Alam yang indah, udara yang sejuk selepas perempatan lampu merah di jalan yang umumnya lurus menanjak hingga panorama Tabek Patah membuat saya merekam semuanya dalam camera HP yang terpasang di mobil.

Bagi yang ingin menikmati pemandangan alam dan celotehan kami sepanjang jalan hingga ke simpang baso bisa dilihat di youtube saya :


Setelah panorama Tabek Patah jalan berliku lagi hingga keluar di simpang Baso. Hujan masih setia menemani perjalanan kami. Di beberapa titik yang kami lewati tadi ada beberapa tebing yang longsor, yang agak memakan badan jalan. Kendaraan beriringan, karena selain hujan juga adanya truk besar yang melewati jalan yang kecil ini. Kendaraan berplat selain BA banyak kami temui, menandakan bahwa Sumatra Barat memang daerah tujuan wisata bagi para perantau maupun pelancong.

Di simpang baso, berbelok ke kiri kemacetan mulai kami rasakan. Gerimis dan macet kami alami hingga perempatan simpang Tanjung Alam. Namun karena suasana bahagia yang kami rasakan, ditambah lagi telpon dari mama yang menanyakan kami membuat semuanya terasa sebentar saja.

Menjelang adzan berkumandang sore itu, kami sudah berada di simpang Tanjuang Alam, berbelok ke kanan, kami mampir sebentar di depan masjid Nurul Huda karena ada yang jual "cindua langkok". Cendol ini adalah salah satu kuliner favorit jika kita ke Bukittingi, berisi ketan dan duriannya. Rasanya uenak, pas banget kalo diminum di saat teriknya matahari. Tetapi cuaca yang dingin, gerimis yang masih turun, tak menyurutkan Nova untuk melepas seleranya. Dua bungkus kami beli untuk dibawa pulang.

Sepanjang perjalanan dari simpang Tanjung Alam hingga ke rumah bisa dinikmati di channel saya:


Alhamdulillah, jam 4 kami sudah berada di rumah dengan selamat disambut oleh Mama dengan penuh keceriaan, dan yang paling kencang suaranya adalah Dhifa. "Neneeeeeeeek...", serunya.

Total perjalanan dari Sarolangun hingga ke Kapau lebih kurang 11 jam.

Rabu, 15 Januari 2020

Lintas Sumatra: Palembang - Sarolangun via Sekayu (part 3)

Selasa, 24 Desember 2019

Selepas makan pagi dan rehat hampir satu jam di salah satu rumah makan, selepas batas kota Palembang kami lanjutkan perjalanan walau masih dalam guyuran hujan yang sudah mulai berkurang. Tak mungkin berlama lama rehat di sini karena akan memperlambat perjalanan yang belum kami tahu bagaimana kondisi jalannya. Tadi sempat ngobrol dengan pemudik yang hendak ke kota Padang dan bertukar pikiran jalan mana yang hendak ditempuh. Mereka awalnya hendak melewati Bayung Lencir, tetapi entah berubah pikiran entah tidak setelah saya sampaikan bagaimana kondisi jalan tersebut saat musim hujan seperti ini. Kondisi bayung lencir berdasarkan info sebelumnya di WA grup Jalinsum masih parah. Mereka telah berangkat lebih dahulu dari kami, setengah jam yang lalu.

Hujan dan macet menemani kami dalam beberapa kilometer. Hampir satu jam lamanya baru kami menikmati jalan yang lancar. Google map yang saya ubah arah menuju kota Lubuk Linggau, mengarahkan kami menuju area perkantoran PEMDA Betung. Jalan yang tadinya satu jalur sekarang menjadi dua jalur dan cukup lebar. Di sini dengan penuh keraguan saya jajal saja jalan ini, berharap segera sampai di jalan utama Betung Sekayu. Jalanan sepi dan perkantoran terlihat agak jauh dari jalan utama ini. Makin ke ujung jalan sedikit berlubang dan mulai sepi banget. Hanya beberapa motor saja terlihat.

Di ujung jalan terlihat pertigaan, dan sesuai permintaan "google map" ini, mobil saya arahkan ke kiri. Nampak jalan beraspal mulus walau tak lagi dua jalur. Jalanan masih sepi, hanya sesekali saya berpapasan dengan mobil pribadi. Saya percaya dengan google map ini, meskipun jalan ini pernah saya tempuh dari arah yang berlawanan ketika pertengahan Ramadhan th 2013 bersama pak Dadang sebagai driver kami waktu itu. Namun perjalanan malam yang kami tempuh waktu itu penuh "kengerian". Jalan yang sebagian besar masih jelek, bertanah, dan banyak "penunggu"nya ketika harus melewati jembatan yang sedang dibangun. Untung saja "para penunggu" ini masih mau menerima uang seribu dua ribu yang kami berikan. Saat itu kami tersasar karena mengikuti konvoi mobil yang jalan juga. Mereka putar balik, sedangkan kami tetap jalan sesuai GPS yang ada saat itu. Google map waktu itu belum ada. Perjalanan malam tak banyak tempat yang bisa kami amati. Setelah sampai di Palembang esok harinya, melalui BBM Grup sang kuncen Jalinsum menyampaikan bahwa rute yang kami tempuh semalam adalah "jalur neraka". Untung saja kami selamat sampai di Betung menjelang subuh. Kami baru rehat setelah sampai di kota Palembang lebih kurang menjelang jam 10 di sebuah mesjid. Terpaksa perjalanan yang tadinya ingin melewati jalinteng pindah kejalintim. Semuanya karena kesasar. Ngeri ngeri sedap waktu itu, apalagi saat mencari rumah makan untuk sekedar bisa sahur. Tak ada rumah makan yang terlihat sepanjang jalan. Alhamdulillah hanya berbekal air putih saj, puasa tetap kami jalani. Berbuka di daerah Lampung.

Nah pagi itu hingga siang kami menikmati perjalanan Betung Sekayu ini dengan puas. Berbeda dengan waktu itu. Rerata jalanan masih baru diaspal, mulus. Hanya di beberapa titik saja yang terlihat rusak. Menyisiri sungat Musi yang lebar sepanjang jalan adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ada kengerian juga melihat derasnya arus sungai saat itu. Dan di beberapa titik ada badan jalan yang amblas. Kalo tidak hati hati, fatal akibatnya.

Ada penambangan juga di beberapa tempat di tengah sungai ini. Airnya terlihat "butek" kekuning-kuningan. Namun dari kejauahan hutan terlihat sebagai batas sungainya. Hutan yang masih terjaga keasliannya.

Dan di beberapa lokasi terlihat beberapa penduduk setempat menjual hasil buminya, seperti durian, pete, madu dan ikan salais. Ikan salais adalah ikan yang diolah dengan pengasapan selama beberapa. Sumatra Selatan ini adalah salah satu sumber terbaiknya. Ikan Salais ini sangat cocok dan enak untuk digoreng balado ataupun digulai dengan "pucuak ubi".

Setelah tengah hari kami pun memasuki kota Sekayu, google map mengarahkan ke jalur Sekayu -Lubuk Linggau melalui terminal Randik. Pinggiran kota. Nama terminal ini unik bagi saya. Dan di sekitar jalan yang ditempuh dekat terminal ini ada masjid masjid bagus. Sayang waktu zuhur sudah berlalu, saya lanjutkan perjalanan ini berencana sholatnya nanti di Lubuk Linggau saja. Prakiraan sampai di sana sekitar jam empat sore.

Tanpa istirahat, jalur ini kami tempuh jalan ini dengan penuh keraguan. Setengah hati berharap tidak salah jalan. Tidak keluar di daerah Muara Enim. Saya pastikan pada Nova untuk setting di HP nya menuju Lubuk Linggau, sebagai comparator yang ada di HP saya. Alhamdulillah rute nya masih tetap sama, jam kesampaian di tujuan pun sama. Saya makin pede. Jalanan yang kami tempuh masih mirip, mulus dan menyisiri pinggiran sungai. Masih sungai yang sama, sungai yang sangat lebar dan airnya deras. Yang berbeda hanyalah posisinya sekarang sudah berada di sebelah kanan saya.

Beberapa spot jalan menuju Lubuk Linggau ini ada yang berlobang, kurang mulus. Waktu terasa lama karena sudah mulai jenuh hanya memandangi aliran sungai di sisi jalan dan hutan di kiri kanan jalan. Di beberapa tempat kami melewati perkampungan penduduk dan pasarnya. Menjelang jam empat sore itu kami agak lega, karena jalan lintas tengah sumatra sudah dekat. Itu artinya sebentar lagi akan memasuki kota Lubuk Linggau.

Di pertigaan jalan menuju Kota Lubuk Linggau, kami berhenti sebentar karena melihat ada yang jual durian di sisi sebelah kanan jalan. Transaksi sebentar, sang penjual memasukan ke mobil dua karung kecil berisi sebelas buah durian seharga 150.000,-. Sebelumnya sang penjual meminta saya mencoba satu durian yang telah dibuka, sedikit ada ulatnya tetapi rasanya sangat manis.

Sepanjang jalan aroma durian ini mulai menganggu. Menganggu hidung saya dan Nova. Dhifa belum tahu karena masih tertidur. Menjelang masuk kota Lubuk Linggau kami mengikuti arah google map melalui jalur lingkar luar. Agak memapas jarak dan waktu. Jalanan lebih kecil tetapi lebih lancar, hingga ketemu lagi di jalan lintas Lubuk Linggau - Sarolangun. Jalur trek lurus yang saya senangi.

Di salah satu SPBU yang biasa kami singgahi, kami rehat disini sejenak. Rehat buat kami dan buat mobil juga setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam lamanya. Saya sholat jamak di sini. Nova meminta untuk melanjutkan perjalanan karena tanggung kalo makan di sini. Kebetulan di SPBU ini ada rumah makannya juga.

Melanjutkan perjalanan di trek lurus ini sangat menyenangkan. Apalagi tubuh ini masih berbalut air wudhuk. Kecepatan mobil bisa saya pacu karena kondisi tubuh kembali bugar. Sore menjelang masuk kabupaten Sarolangun cuaca agak bersahabat, jalanan sepi. Durian dan duku berjejeran di pinggir jalan dijajakan penduduk setempat.

Menjelang maghrib, jam enam sore kami pun sampai di Kota Sarolangun. Saya yang terpaku melihat masjid yang ada selepas jembatan di kota ini. Saya menawarkan ke Nova untuk melakukan sholat maghrib dan makan malam di sekitar pasar dekat mesjid ini. Nova pun setuju.

Mobil saya belokan ke arah kiri, menuruni jalan dan berbelok ke kanan langsung menuju parkiran masjid yang luas. Masjid yang berada di pinggir sungai ini, berada di bawah badan jalan lintas tengah sumatra. Mesjid yang anggun. Masjid Al Fallah dekat Pasar Sarolangun. Gerimis sedari tadi masih mengiringi kami langkah kami memasuki mesjid ini dan baru reda ketika selesai sholat.

Selesai sholat, kami menuju pasar yang tak jauh dari sini. Makan malam dengan nasi soto dan Dhifa meminta indomie telur dengan nasinya. Sambil makan Nova menanyakan apakah ada penginapan yang bersih dan murah di sekitar masjid ini pada penjual soto. Nova tak ingin saya melanjutkan perjalanan malam ini dan meminta untuk istirahat saja. "Jangan paksakan diri", katanya.


Detail live report saat di kota Sarolangun ini saya tuliskan di FB saya; https://www.facebook.com/aryandi.ilyas/posts/10157738695569174


Selanjutnya kami menginap di "Losmen" RM Sinar Ogan yang posisinya telah kami lewati tadi. Harganya sangat bersahabat, murah, Rp. 175.000 semalam. Dengan kamar yang cukup besar, TV, berAC dan ada wifinya. Kami rehat di sini kira kira jam 20.30.

Penginapan yang bersih dan asri. Di sini kami mandi, rehat dan bercengkrama sejenak. Dan ujung ujungnya Dhifa minta durian juga. Saya yang menjaga stamina hanya mencicipi dua biji saja. Sekedar mencoba.

Tak lama berselang saya pun tertidur. Nova dan Dhifa tak tahu jam berapa mereka tertidur. saya betul betul rehat. Memulihkan stamina buat perjalanan besok.








Hikmah: Kontradiktif


#####

Yang tinggal di gunung merindukan​ pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan​ gunung.

Di musim kemarau merindukan​ musim hujan.
Di musim hujan merindukan​ musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan​ bepergian.
Setelah bepergian merindukan​ rumah.

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entreprene​ur supaya punya kebebasan waktu.
Begitu jadi Entreprene​ur ingin jadi karyawan, biar tidak pusing.

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan​.

Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/is​tri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/is​tri cantik, pengen yang biasa-biasa saja, bikin cemburu aja/takut selingkuh.​.

Punya anak satu mendambaka​n banyak anak.
Punya banyak anak mendambaka​n satu anak saja.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.

Kapankah kebahagiaa​n akan didapatkan​ kalau kita hanya selalu memikirkan​ apa yang belum ada, namun mengabaika​n apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ?

‘Semoga kita menjadi pribadi yang yang senantiasa bersyukur dengan berkah yang sudah kita miliki’

‘Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil’
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif.

Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua.
Syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.

#goresan hati

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...