Minggu, 29 Maret 2020

Hotel Untuk Kami


"Mbak, kamu kerja jadi perawat di rumah sakit A kan ya?" Tegur Bu Sumi, ibu kos ku, saat aku melewati lorong rumahnya menuju kamar kos.

Aku menghentikan langkah, kemudian berjalan  mendekat ke Bu Sumi. Hal itu tentu memperpendek jarak di antara kami, tapi Bu Sumi melangkah mundur.

"Iya bu. Kenapa ya?"

"Jangan mendekat. Di situ aja kamunya." Mata beliau mengintervensiku agar tak mendekatinya.

Aku menangkap suatu yang tidak baik akan menimpaku.

"Tolong pindah dari kosan saya malam ini juga ya!"

"Maksudnya?" Aku mendadak bingung dengan pernyataan Bu Sumi.

"Tapi bu, saya khan baru bayar kosan untuk enam bulan ke depan minggu lalu?" Aku berusaha mencoba tenang dan tidak panik.

"Saya sudah transfer balik ke rekeningmu tadi."

Jadi sms banking tadi siang itu transferan dari Bu Sumi.

"Ya Allah Bu.. Ini sudah malam. Saya harus tinggal dimana kalau saya harus pindah saat ini juga."

"Saya gak peduli, nginap saja di hotel. Yang jelas segera kemasi barang-barangmu dan pergi secepatnya."

"Kalau besok pagi bagaimana bu, saya sudah lelah sekali ini bu." Aku mencoba memelas, mengharap belas kasihan. Tubuhku sudah sangat lelah karena bekerja dari shift pagi dan lembur sampai malam. Sedang sebelumnya dapat shift malam. Tubuhku rasanya remuk redam. Membayangkan harus berkemas dan mencari tempat menginap lain. Oh tidak.

"Tidak boleh, harus malam ini juga. Lagipula barang-barangmu tak terlalu banyak." Bu Sumi tetap pada pendiriannya.

"Allah ya rabb ...." batinku.

"Saya tungguin kamu sampai selesai berkemas dan pergi dari sini."

Aku menatap netra Bu Sumi, mencoba mencari celah belas kasih untukku, tapi nihil.

***

Kubuka pintu  kamar dan menatap isinya. Memang benar barangku tidak begitu banyak. Setelah menghela nafas kasar, aku mulai mengemasi barangku.

[Re, bisa nginep di kosanmu gak malam ini. Aku diusir ibu kosku.] Ku kirim pesan melalui aplikasi warna hijau.

Lima menit kemudian.

[Maaf Sa, aku lagi gak di kosan. Pulang kampung. Kunci kamar aku bawa.]

Pupus sudah harapanku untuk sekedar menumpang tidur malam ini.

Mau tidak mau aku harus mencari penginapan murah untuk berteduh malam ini.

Selesai mengemasi barang, aku berpamitan dengan penghuni kos yang lain, meski dengan jarak yang agak jauh. Dan terakhir berpamitan pada Bu Sumi.

Aku mengerti mereka takut tertular virus karena aku bekerja sebagai perawat di salah satu  rumah sakit rujukan pasien Corona. Tapi aku tidak menyangka akan mendapatkan pengusiran seperti ini. Seperti nasib teman sejawatku yang belum lama ini juga diusir dari kosannya.

"Ya Allah, berilah jalan keluar untuk hamba." Batinku berdoa.

***

Sudah empat hari aku menginap di penginapan. Setiap mencari kamar kos selalu kudapatkan hasil yang sama setelah mereka tahu profesiku, penolakan dengan berbagai alasan. Hanya beberapa yang terang-terangan menolakku karena aku bekerja di rumah sakit rujukan pasien Corona.

"Heh kok ngelamun, dipakai dulu itu APD-nya." Kata Widya. Teman yang kugantikan shiftnya malam ini.

"Iya ini, aku belum dapat kosan. Uangku menipis jika terus-terusan tinggal di penginapan itu." Dengan berat hati aku menceritakan bebanku. Ah entah, mungkin saja nanti aku dapat solusinya.

"Astaghfirullah Sa, aku lupa ngasih tahu kamu. Tadi sore ada pengumuman, bagi yang kesulitan mengenai tempat tinggal bisa daftar buat tinggal di tempat yang disediakan oleh pemprov."

"Serius lu Wid?" Aku setengah tak percaya.

"Seriuslah. Dan kamu tahu tempat tinggalnya di mana coba?"

" Di mana?" Tanyaku penasaran.

"Hotel Grand Cempaka."

"Hotel yang bagus milik BUMD itu?" Aku terkejut mendengarnya.

"Iya. Sudah sama daftar dulu ke Pak Arif. Biar diurusin administrasinya sama beliau."

"Iya ..., iya Wid, sebentar ya, aku daftar dulu."

***

Tiga hari setelah mendaftar di Pak Arif, aku mendapatkan pemberitahuan bahwa aku masuk dalam tenaga kesehatan yang akan menempati tempat tinggal sementara, di Hotel Grand Cempaka.

Alhamdulillah. Alhamdulillah ya Allah. Aku segera sujud syukur.

Terharu.

Ternyata ada orang yang peduli pada nasib kami, para tenaga kesehatan yang terusir atau yang bertempat tinggal jauh dari rumah sakit tempat kami bekerja.

Masya Allah. Allah memberikan jalan keluar dari masalah yang aku hadapi saat ini. Tidak perlu lagi sakit hati karena mendapatkan penolakan.

***

Hari ini hari di mana kami diantarkan ke hotel. Pak Anis menyambut kehadiran kami di lobi hotel. Memberikan kata sambutan dan  semangat yang berdampak positif untuk kami.

Beliau menjelaskan pada kami mengenai fasilitas yang akan kami terima di hotel ini. Selain kamar tentunya. Fasilitas itu antara lain akan ada bis antar jemput dari hotel ke rumah sakit dan sebaliknya. Lalu kami juga akan mendapatkan asupan bergizi mulai dari makanan katering dan minuman seperti susu. Gratis! Tanpa sepeserpun kami bayar.

Masya Allah.

Kami pun akhirnya menempati kamar kami masing-masing. Satu kamar untuk berdua. Di dalam meja kamar, kami temukan surat berlogo keemasan di sampulnya.

Isi suratnya tertulis,

Jakarta, 26 Maret 2020

Terima kasih kami kepada pejuang kemanusiaan



Assalamualikum wr wb dan salam sejahtera

Ibu, bapak, dan rekan-rekan yang saya banggakan. Atas nama seluruh warga Jakarta ijinkanlah saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga untuk segala pengorbanan dan keikhlasan Ibu, bapak, dan rekan-rekan telah berjuang turun tangan melayani warga Jakarta menjalani masa yang sulit. Perjuangan yang sangat mulia yang penuh tantangan dan risiko

Perjuangan inilah yang menguatkan harapan bahwa Insya Allah kita akan dapat segera melewati masa penuh cobaan ini.

Pada ibu, bapak, dan rekan-rekan semua, kami di Pemprov DKI Jakarta dan atas nama seluruh warganya menyampaikan rasa hormat, mengirimkan dukungan penuh dan tetap terus mendoakan.

Mohon sampaikan salam hormat kami pada keluarga di rumah, katakan pada mereka Jakarta bangga pada ibu, bapak, dan rekan-rekan semua.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan serta tetap memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran pada ibu, bapak, dan rekan-rekan dalam menuntaskan misi mulia ini



Wassalam



Anis B.

Masya Allah, air mataku tak terasa mengalir di pipi. Surat sederhana ini mampu memberikan oase di dalam rasa lelah, takut dan stres.

Entah harus berkata apa lagi. Terima kasih pak, sudah memikirkan nasib kami, para tenaga kesehatan yang menjadi garda depan dalam melawan virus Corona.

Sekali lagi, terima kasih pak.

Note: isi surat diperoleh dari FB Bapak Anies Baswedan.

_Terimakasih atas ..  kepedulian beliau terhadap para nakes garda depan melawan virus Corona. Salut!_.

Jumat, 27 Maret 2020

Hikmah: You Are What You Think

_Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_


Bismillah
APA YANG KITA PIKIRKAN ITULAH YANG AKAN TERJADI

Suatu hari, Rasululloh saw menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut.
Beliau bersabda,
"Semoga penyakitmu ini menjadi penghapus dosamu".
Orang itu menjawab,
"Tapi ini adalah demam yang mendidih, yang jika menimpa orangtua yang sudah renta, bisa menyeretnya ke lubang kubur".

Mendengar keluhan orang itu, Rasululloh saw bersabda :
‘Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya’.
(HR. Ibnu Majah)

Sungguh indah apa yang disabdakan Rasululloh saw.

Perhatikan pesan-pesan Rasululloh berikut ini :
"Barangsiapa yang ridha, maka keridhaan itu untuknya. Barangsiapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya"
(HR. at-Tirmidzi)

"Salah satu kebahagiaan seseorang adalah keridhaannya menerima keputusan ALLAH."
(HR. Ahmad)

🔹Jika kita memikirkan bahagia, maka kita akan bahagia.

🔹Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.

🔹Jika kita berpikiran gagal, kita menjadi gagal

🔹Jika kita berpikiran sukses, maka kita niscaya sukses.

🔹Jika kita berpikiran sakit, kita juga menjadi sakit.

🔹Jika kita berpikiran sehat, maka kita pun akan sehat.

Inilah, The Law of Attraction Hukum Tarik Menarik,  merupakan Sunnatulloh yang berlaku di alam semesta

You are what you think
(Anda adalah apa yang Anda pikirkan)

Buat Pilihan Kata yg Baik.
Karena Kata- kata adalah juga Doa.

Selalulah berpikir yang positif dan jangan pernah biarkan pikiran negatif membelenggu otak dan kehidupan kita.

Jadi tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan.

Tugas kita hanya 2, yaitu : Berusaha optimal dan berdoa.

Sedangkan selanjutnya itu kuasa ALLAH SWT.

Nabi SAW bersabda :
"Ketika seorang hamba berkata, Laa Haula Wa Laa Quwwata Ila Billah,  maka ALLAH berfirman, "Lihatlah (hai para malaikat), orang ini telah menyerahkan urusannya kepadaKu".
(HR. Ahmad).

Pikirkan Yg baik2, berkata yg baik, Bertindaklah yg Baik- Baik, dan Insyaa Allah yg datang juga Yg Baik- Baik!

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

😊❤👍

Sumber : MiracleRezeki

Selamat menunaikan ibadah shalat subuh, semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin

Senin, 23 Maret 2020

Egoisme Dalam Beragama

EGOISME DALAM BERAGAMA
Oleh Maulana M. Syuhada

80% dari total 8.652 kasus positif Covid-19 yang terjadi di Korea Selatan bersumber hanya dari satu orang, ibu-ibu (61 tahun) yang menunjukkan gejala Covid-19 namun ketika diminta memeriksakan dirinya ke dokter malah “ngeyel” dan pergi beribadah ke gereja. Jadilah gereja Shincheonenji di kota Daegu menjadi pusat penyebaran virus [1].

Kasus Covid-19 pertama kali terkonfirmasi di Korea Selatan pada 20 Januari 2020 ketika seorang warga China (35 tahun) yang baru terbang dari Wuhan diisolasi di bandara Incheon, Korea Selatan. Korsel mampu menangani penyebaran wabah ini dengan baik. Dalam 4 minggu hanya 30 orang yang terinfeksi. Tapi ini semua berubah drastis ketika ditemukan pasien No. 31, si ibu yang “ngeyel” tadi. Ibu tersebut bertanggung-jawab terhadap 6 ribu orang lebih yang terinfeksi di Korea Selatan alias 80% dari kasus di negara tersebut. Satu negara dibuat repot hanya karena perilaku “ngeyel” dari seorang warganya.

Di Malaysia, tabligh akbar yang diselenggarakan oleh Jamaah Tabligh di Masjid Sri Petaling Kuala Lumpur pada 28 Februari hingga 1 Maret menjadi sumber penularan virus Corona. Hampir 2/3 dari total 673 kasus Covid-19 di Malaysia terkoneksi dengan acara tabligh akbar tersebut [2] . Celakanya, dari total 16 ribu jamaah yang hadir dalam tabligh akbar tersebut, 1.500 diantaranya berasal dari luar Malaysia, termasuk 700 orang dari Indonesia, 200 orang dari Filipina dan 95 orang dari Singapura [3] . Malaysia pun menjadi hot spot penyebaran virus Corona di Asia tenggara.

Perlu waktu lebih dari satu minggu hingga gejala infeksi virus mulai terlihat. Tanggal 9 Maret, Brunei mengumumkan kasus Covid-19 pertama di negara tersebut, seorang jamaah (53 tahun) yang ternyata mengikuti tabligh akbar di Malaysia. Satu minggu kemudian kasus Covid-19 di Brunei melonjak menjadi 50 orang, dimana 45 orang di antaranya adalah peserta tabligh akbar di Malaysia [4] . Ada 12 orang WNI yang terinfeksi Covid-19 di Malaysia, dan semuanya adalah peserta tabligh akbar [5] . Pada 17 Maret 2020, warga Malaysia (34 tahun) peserta tabligh akbar meninggal dunia [6] , satu dari hanya dua kasus kematian di Malaysia, pemerintah Malaysia pun mengumumkan lockdown. Per hari ini, sudah 1.030 penduduk Malaysia yang positif Covid-19, tertinggi di Asia Tenggara [7] .

Tidak sampai tiga minggu kemudian, jamaah tabligh yang sama kembali melakukan acara, Ijtima Dunia Zona Asia 2020, di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Rabu, 18 Maret 2020, panitia mengkonfirmasi sudah 8.694 jamaah yang hadir, termasuk 411 orang Warga Negara Asing (WNA) dari 9 negara [8][9] . Setelah koordinasi yang alot antara pemerintah dan panitia, akhirnya acara dibatalkan [10] . Pemprov Sulawesi Selatan mengisolasi 411 WNA, sementara 8 ribu peserta lainnya secara bertahap pulang ke daerahnya masing-masing [11] .

Di Kabupaten Manggarai, NTT, pentasbihan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat tetap digelar walaupun sudah dihimbau untuk ditunda [12] . Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo melalui Kepala BNPB menyampaikan permintaan ini kepada Keuskupan Ruteng dan Bupati Ruteng. Namun acara tetap digelar dengan alasan sudah terjadwal beberapa bulan lalu [13] . Kamis, 19 Maret 2020, sekitar 6.000 umat Katolik menghadiri misa besar ini termasuk 37 uskup dari seluruh Indonesia dan pejabat Kongres Wali Gereja Indonesia (KWI) [14] .

Tadinya saya berpikir, se-level uskup yang sangat paham agama, akan berbesar hati dan menunda acara pentasbihan ini. Ia akan tampil ke muka dan berkata, “Walaupun sudah berbulan-bulan kami persiapkan semuanya, namun demi kemanusiaan kami akan tunda acara ini!” Bukankan kita beragama agar dapat memanusiakan manusia. Namun saya salah. Acara ritual ternyata lebih penting daripada kemanusiaan. Ajaran cinta kasih pada sesama manusia yang selama ini didengung-dengungkan hanya sebatas retorika di atas mimbar.

Di halaman Masjid Agung Bandung, sekelompok orang mencopot dan menurunkan baligo yang berisi maklumat bahwa untuk sementara waktu DKM tidak menyelenggarakan sholat Jumat dan sholat wajib berjamaah. "Turunkan saja, DKM jangan takut enggak digaji, jangan takut sama Ridwan Kamil. Takut ke Gusti Allah," tutur salah seorang peserta aksi [15] . Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI), NU dan Muhammadiyah, sudah mengeluarkan fatwa agar sholat jamaah diadakan di rumah, dan sholat Jumat diganti dengan sholat zhuhur [16] [17] [18] .

Tidaklah mengherankan jika sebagian masyarakat masih ngeyel dan tetap datang ke masjid, karena sekelas mantan Pangab, Jenderal (pur) Gatot Nurmantyo, justeru menggaungkan gerakan memakmurkan masjid dan salat berjemaah di tengah wabah virus Corona.

"Sepertinya ada yang keliru..?? Di negeri asalnya covid-19-cina, yg penganut paham komunis dan sebagian besar tdk beragama beramai-ramai mendatangi Masjid dan Belajar Berwudhu hingga mengikuti Sholat Berjamaah,” tulis Gatot [19] . Namun, lanjutnya, di negeri mayoritas muslim justru sebaliknya, malah ramai-ramai menggaungkan fobia terhadap masjid. Ini seakan-akan masjid sebagai sumber penularan COVID-19. Lantas, menurutnya, apakah mal, gereja, vihara, kelenteng, hingga lift sarana umum 'lebih aman' daripada masjid?" [19]

Hal senada juga diungkapkan oleh Pendeta Dr. Yakub Nahuway dalam sebuah kebaktian, “Sekarang gereja melarikan diri dari kenyataan dan tidak menjadi sahabat. Beberapa gereja besar di Jakarta meliburkan jemaah hanya karena virus Corona. Mereka menampakkan diri bahwa Tuhan kalah dengan virus … Hidup kita bukan di tangan virus. Virus punya mata. Sasaran dia hanyalah orang-orang yang jauh dari Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan dilindungi di bawah kepak-Nya!” [20]

Ustad Abdul Somad (UAS) dalam salah satu ceramahnya, berkata bahwa Corona adalah tentara Allah, dan orang Uyghur tidak terkena virus ini karena mereka berwudhu.

“Macam-macam tentara Allah datang. Adapula tentara yang terakhir ini bernama Corona. Orang yang berada di Uyghur, tak terkena virus ini. Banyak orang terheran-heran. Apa sebab? Salah satu sebabnya karena mereka berwudhu. Setiap hari mereka membasuh tangan. Virus tidak akan terkena kepada orang yang selalu menjaga kesucian," ujar UAS [21].

Padahal kita semua tahu bahwa banyak saudara kita yang muslim di berbagai negara, termasuk suku Uyghur di Xinjiang, dan mereka yang suka berwudhu, menjadi korban keganasan virus Corona. Inilah yang terjadi jika pemuka agama, baik ustad maupun pendeta, berceramah namun tanpa ilmu pengetahuan.

Dalam salah satu video, di hadapan puluhan jamaah tabligh, seorang penceramah berkata, "Baru satu macam virus Corona datang, seluruh dunia geger. Gampang itu selesaikan Corona, kirim jamaah ke tempat Corona. Virus Corona takut sama jamaah. Jamaah hanya takut kepada Allah SWT. Jamaah tidak takut dengan Corona!" [22]

Semua pun tahu, dua kematian pertama di Malaysia, salah satunya adalah jamaah yang menghadiri tabligh akbar (Ijtima Jamaah Tabligh) yang telah menginfeksi 2/3 dari negara tersebut.

Mungkin inilah yang disebut dengan egoisme dalam beragama, melakukan ibadah tanpa peduli dengan keselamatan manusia lainnya. Sama halnya dengan ibu-ibu di kota Daego Korsel di awal artikel, ia datang ke gereja untuk beribadah. Ia merasa sedang berbuat kebaikan, namun nyatanya ia sedang menciptakan madharat untuk 6 ribu orang, menjadi malapetaka untuk negaranya. Begitu pula halnya dengan para peserta tabligh akbar di Malaysia, peserta ijtima di Gowa, Sulsel, ataupun para uskup yang menggelar pentasbihan di NTT. Mereka tidak peduli dengan kepentingan masyarakat banyak. Sangat ironis memang, jika beragama malah jadi menjauhkan kita dari kemanusiaan.

Masa inkubasi virus adalah 14 hari. Dan selama itu orang yang membawa virus (carrier) bisa tampak sehat, normal seperti orang sehat pada umumnya. Supaya orang-orang sehat yang membawa virus ini tidak menularkan lebih jauh ke orang lain, maka pemerintah mengambil kebijakan “social distancing” agar kita tidak berkumpul di kerumunan, di sekolah, di kampus, di cafe, di mal, dan termasuk di masjid, karena ia bisa jadi pusat penularan. Itulah mengapa sekolah dan kampus diliburkan, para pekerja dihimbau untuk bekerja di rumah, dan pergerakan di luar rumah diminimalisir sekecil mungkin.

Bayangkan jika ada satu orang saja jamaah yang tampak sehat tapi pembawa virus (carrier) kemudian dia sholat di masjid. Kemudian dia menularkan kepada 10 orang di masjid tersebut. Sepuluh orang yang tertular tidak akan tahu dia tertular sampai dua minggu ke depan (karena perlu 14 hari untuk inkubasi virus).

Kesepuluh orang ini pulang ke rumahnya masing-masing, dan mereka akan menularkannya kepada keluarganya, kepada isteri dan anak-anaknya, kepada setiap rekan kerja di kantornya. Rekan kerjanya di kantor akan membawa pulang kepada keluarganya, isteri dan anak-anaknya, juga kepada setiap orang yang ia temui dari tempat kerja ke rumahnya, di setiap tombol lift yang ia pencet, di handel pintu yang ia buka, di tiang KRL yang ia pegang, dsb. Begitulah efek berantai dari penyebaran virus tadi. Dari 1 orang, dapat menyebar ke 10 orang, kemudian ke 100 orang, kemudian ke 1.000 orang, dan seterusnya.

Itulah mengapa setelah tabligh akbar di Malaysia semua orang merasa sehat. Baru 2 minggu kemudian terkuak bahwa ratusan dari mereka terinfeksi Covid-19.

Bupati Bogor mengkonfirmasi bahwa seorang ibu (67 tahun) yang meninggal hari Rabu kemarin tertular dari anaknya yang masih muda (35 tahun). Anaknya ini tertular dari pasien no.1 asal kota Depok [23] . Keberadaan Covid-19 ini tidak diketahui sampai 3 minggu kemudian. Kontak pertama sang anak dengan pasien no. 1 tanggal 25 Februari. Ia sempat demam, namun tiga hari kemudian sembuh. Tanggal 28 Februari ia tetap masuk kerja dengan menggunakan transportasi umum, ojol, KRL, MRT dan Transjakarta. Pada 7 Maret 2020 yang bersangkutan mulai merasakan napas berat lalu diperiksa darah oleh RS Persahabatan. Selanjutnya, pada 14 Maret 2020 dilakukan pemeriksaan kembali, lalu pada 16 Maret 2020 yang bersangkutan mengeluh sakit sendi.

Adapun ibunya, pada 27 Februari mengikuti sebuah seminar di Jakarta. Esoknya ia terkena diare dan tanggal 29 Februari, yang bersangkutan periksa ke dokter di Jakarta. Kemudian minum obat selama 4 hari tapi belum sembuh. Kontrol lagi, minta dirawat ke rumah sakit, saat itu didiagnosa typhoid. Lalu pada 10 Maret 2020, yang bersangkutan dirawat di rumah sakit. Setelah diuji lab dan rontgen paru, ada infeksi baru dengan diagnosa pneumonia. Tanggal 14 Maret sang ibu dites, dan tanggal 16 Maret keluar hasilnya positif Covid-19. Dua hari kemudian sang Ibu meninggal dunia [23].

Kita yang muda dan sehat, bisa jadi sembuh setelah terinfeksi Corona. Namun mereka yang sudah lanjut usia dan memiliki riwayat sakit beragam akan sangat rentan terhadap virus ini. Menghindari kerumunan bukan berarti hanya menjaga diri kita dari virus, tapi menjaga orang tua kita, menjaga orang tua-orang tua dari teman-teman kita, tetangga-tetangga kita, dan seterusnya.

Di Iran setiap 10 menit satu orang meninggal dunia karena virus Corona. Total yang meninggal di Iran sudah mencapai 1.556 dari 20.610 yang terfinfeksi [24] . Di Italia, dalam 24 jam terakhir 627 orang meninggal dunia karena Corona, menaikkan jumlah yang meninggal di Italia ke angka 4.032 orang dari total 47.021 orang yang positif [25] .

Sebaliknya di China, sedikit demi sedikit kehidupan berangsur normal. Selama tiga hari berturut-turut tidak ada penambahan kasus baru Covid-19 di China secara internal [26] . 41 kasus yang terjadi dalam 24 jam berasal dari mereka yang kembali bepergian dari luar China. China mulai mengalihkan fokus bantuannya ke luar negaranya. Dalam beberapa minggu terakhir China sudah mendonasikan testing kit kepada Kamboja, mengirimkan berkapal-kapal ventilator, masker dan tenaga medis ke Italia dan Perancis, dan berjanji akan membantu Filipina, Spanyol dan negara-negara lainnya, juga memberangkatkan tenaga medisnya ke Iran dan Iraq [27] . Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, dalam siaran TV-nya ketika mengumumkan keadaan darurat di negerinya berkata, “European solidarity does not exist. That was a fairy tale on paper. I believe in my brother and friend Xi Jinping, and I believe in Chinese help.” [28]

Di Indonesia, per-hari ini sudah 450 kasus terkonfirmasi dengan jumlah kematian sebesar 38 orang. Hasil studi teman-teman di jurusan Matematika FMIPA ITB [29] , menunjukkan bahwa profil epidemi di Korea Selatan adalah yang paling mirip dengan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Hasil simulasi berdasarkan kurva Richard, puncak epidemi di Indonesia diproyeksikan akan terjadi pada akhir Maret dan berakhir pada pertengahan April, dengan jumlah kasus lebih dari 8.000. Yang perlu digaris bawahi dari hasil ini adalah, profil hasil diatas diperoleh dengan menggunakan parameter model hasil estimasi dari Korea Selatan. Hasil di atas harus dibaca dengan memahami parameter dan asumsi yang digunakan di paper tersebut.

Korea Selatan menerapkan strategi tes massal [30] dengan jumlah tes mencapai 20 ribu orang per-hari [31] Dengan dilakukannya tes masal, otoritas kesehatan Korsel bisa mendapatkan informasi yang cepat dan melakukan pelacakan secara agresif terhadap orang yang diduga terpapar [32] . Korsel berhasil mengatasi epidemi virus Corona dengan angka kematian hanya 1%, 102 meninggal dari total 8.799 kasus per 21 Maret 2020 [33] .

Pemerintah Indonesia sudah memutuskan menerapkan “social distancing” dan tes masal. Tugas kita adalah bersatu, bersama-sama mensukseskan penerapan kebijakan ini. Para tenaga medis tanpa lelah berjuang di garda terdepan, mempertaruhkan jiwa mereka, menangani para pasien. Hingga kemarin sudah 25 tenaga medis terinfeksi Covid-19 dan satu orang meninggal dunia. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu perjuangan mereka adalah dengan belajar, bekerja dan beribadah di rumah, menghindari kerumunan dan menjaga jarak, menjaga kesehatan dan kebersihan, serta mebiasakan diri mencuci tangan.

Mereka yang tetap berkumpul di tempat publik seperti berkumpul di masjid, di gereja, di wihara, di pura, nongkrong di warung, di cafe, di mal, dsb., sungguh mereka sangatlah egois, mereka tidak peduli dengan keselamatan orang lain. Yang kita perlukan sekarang adalah kebersamaan dan solidaritas. Mari kita maksimalkan ikhtiyar seraya terus menyelipkan doa-doa di antara sholat-sholat dan ibadah kita, dan bertawakkal kepada-Nya. Jika kita disiplin dan kompak, bersatu, bersama-sama mencegah meluasnya penyebaran virus ini, insya Allah kita akan bisa berhasil mengatasi epidemi ini.

Wallahu’alam.
mms.

PS: Terima kasih kepada sahabatku, Sofyana Ali Bindiar, yang sudah memberikan inspirasi ide terhadap judul artikel.

Foto: Alberto Saiz (AP)

External link: https://pepnews.com/…/p-31585483787…/egoisme-dalam-beragamal

REFERENSI

[1] The Korean clusters: How coronavirus cases exploded in South Korean churches and hospitals
https://graphics.reuters.com/CHINA-HEALTH-SOUT…/…/index.html
[2] How Sri Petaling tabligh became Southeast Asia's Covid-19 hotspot
https://www.nst.com.my/…/how-sri-petaling-tabligh-became-so…
[3] MOH identifying 95 Singaporeans at mass religious event in Malaysia after COVID-19 cases confirmed: Masagos
https://www.channelnewsasia.com/…/moh-95-singaporeans-relig…
[4] Coronavirus COVID-19 cases spiked across Asia after a mass gathering in Malaysia. This is how it caught the countries by surprise
https://www.abc.net.au/…/coronavirus-spread-from-m…/12066092
[5] Kemlu koreksi jumlah WNI positif COVID-19 di Malaysia
https://www.antaranews.com/…/kemlu-koreksi-jumlah-wni-posit…
[6] How a 16,000-Strong Religious Gathering Led Malaysia to Lockdown
https://www.bloomberg.com/…/how-a-16-000-strong-religious-g…
[7] Portal Resmi Kementerian Kesihatan Malaysia
http://www.moh.gov.my/index.php/pages/view/2019-ncov-wuhan
[8] Ijtima Dunia 2020 Zona Asia Dibatalkan, Panitia: Kami Ikuti Arahan Pemerintah
https://nasional.kompas.com/…/ijtima-dunia-2020-zona-asia-d…
[9] BNPB Konfirmasi 8.000 Peserta Ijtima Dunia Sudah Tiba di Gowa
https://www.cnnindonesia.com/…/bnpb-konfirmasi-8000-peserta…
[10] 6 Hal Terkait Ijtima Dunia Zona Asia 2020 di Gowa yang Ditunda
https://www.liputan6.com/…/6-hal-terkait-ijtima-dunia-zona-…
[11] Pemprov Sulsel Pulangkan 8.223 Peserta Ijtima Dunia, 411 WNA Diisolasi
https://news.detik.com/…/pemprov-sulsel-pulangkan-8223-pese…
[12] Diimbau Ditunda, Pentahbisan Uskup Ruteng Tetap Digelar
https://www.cnnindonesia.com/…/diimbau-ditunda-pentahbisan-…
[13] Ini Alasan Misa Penahbisan Uskup Ruteng Tak Bisa Ditunda
https://regional.kompas.com/…/ini-alasan-misa-penahbisan-us…
[14] Misa Uskup Ruteng Tetap Digelar, Rohaniawan dan Tamu Diukur Suhu Tubuh
https://www.vivanews.com/…/41222-misa-uskup-ruteng-tetap-di…
[15] Viral Massa Teriak Jihad Copot Spanduk Tak Gelar Jumatan di Masjid Raya Bandung
https://kumparan.com/…/viral-massa-teriak-jihad-copot-spand…
[16] MUI Sarankan Shalat Jumat Sementara Diganti Shalat Zhuhur
https://republika.co.id/…/mui-sarankan-shalat-jumat-sementa…
[17] NU dan Muhammmadiyah Imbau Umat tidak Shalat Jumat di Masjid
https://republika.co.id/…/nu-dan-muhammmadiyah-imbau-umat-t…
[18] Fatwa NU: Tak Patuh Larangan Jumatan Cegah Corona adalah Maksiat
https://www.vivanews.com/…/41444-fatwa-nu-tak-patuh-laranga…
[19] Eks Panglima TNI Gaungkan Makmurkan Masjid dan Salat Berjemaah Lawan Corona
https://news.detik.com/…/eks-panglima-tni-gaungkan-makmurka…
[20] Pdt.Dr.Yakub Nahuway | Gereja Sahabat Orang Beriman
https://youtu.be/xcQ2RYuAaFc
[21] Ustadz Abdul Somad Virus Corona Adalah Tentara Allah
https://youtu.be/C6cixYXh4RM
[22] Jama'ah TABLIGH SIAP HADAPI CORONA
https://youtu.be/iV1N1G_oUuE
[23] Bupati Bogor Beberkan Riwayat Pasien Meninggal karena Corona di Bojonggede
https://bogor.pojoksatu.id/…/bupati-bogor-beberkan-riwayat-…
[24] 123 new coronavirus deaths in Iran; toll rises to 1,556
https://www.gulftoday.ae/…/123-new-coronavirus-deaths-in-ir…
[25] Coronavirus: Italy and Spain record highest single-day death tolls
https://www.theguardian.com/…/behave-or-face-strict-coronav…
[26] No new virus cases for 3rd straight day in Wuhan (Associated Press)
https://www.nbcnews.com/…/coronavirus-updates-…/ncrd1165441…
[27] China sends doctors and masks overseas as domestic coronavirus infections drop
https://www.theguardian.com/…/china-positions-itself-as-a-l…
[28] Its Coronavirus Cases Dwindling, China Turns Focus Outward
https://www.nytimes.com/…/w…/asia/coronavirus-china-aid.html
[29] Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika
http://eprints.itb.ac.id/119/
[30] South Korea took rapid, intrusive measures against Covid-19 – and they worked
https://www.theguardian.com/…/south-korea-rapid-intrusive-m…
[31] COVID-19 hit South Korea and the U.S. on the same day. Here's what Korea did right.
https://theweek.com/…/covid19-hit-south-korea-same-day-here…
[32] Special Report: How Korea trounced U.S. in race to test people for coronavirus
https://www.reuters.com/…/special-report-how-korea-trounced…
[33] Coronavirus COVID-19 Global Cases by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University
https://gisanddata.maps.arcgis.com/…/opsdashboa…/index.html…

Sabtu, 21 Maret 2020

Tetap Jaga Stamina


Alhamdulillah selasa dan kamis kemarin sudah kembali beraktifitas olah raga jalan kaki, ORJAKA. Namun data yang ada di Max Buzz yang tersimpan hanya hari kamis sebagai perbandingannya dengan hari ini, Sabtu 21-03-20.

Memulai kembali aktifitas untuk menjaga stamina yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi wabah "Virus China" ini, Covid 19. Virus ini harus dilawan dengan stamina yang kuat, istirahat yang cukup dan makanan yang berkualitas serta hati yang senantiasa bahagia. Hindari kecemasan dan ketegangan dengan memperbanyak berzikir dan bersyukur atas nikmat yang Allah karuniakan.

Begitu juga dengan stamina. Dalam kondisi seperti sekarang ini tetaplah berolahraga, tetapi harus dihindari dahulu olahraga yang berkelompok. Demikian yang saya lakukan seminggu ini.

Sengaja memilih jalan kaki di saat matahari sudah mulai meninggi. Biasanya ba'da sholat subuh, namun karena suasana saat ini yang harus "stand by" di rumah, waktu luang pun banyak sehingga olahraga pun bisa dilakukan agak siang-an. Ketika hangatnya mentari mulai menyehatkan kulit dengan vitamin D-nya yang kaya, saat itulah kaki ini diayunkan melangkah.

Kamis kemarin langkah kaki yang tersimpan hanya 10.784 "step" dengan durasi waktu lebih kurang 1 jam 40 menit. Menempuh langkah yang lebih jauh banyak dibandingkan hari selasa sebelumnya, dengan sedikit menambah rute yang ditempuh.

Begitu juga yang saya lakukan hari ini, diperjauh lagi. Alhamdulillah dengan melakukan "self challenge" akhirnya didapatkan angka 13.403 "step". Capaian yang luar biasa. Tertinggi buat ORJAKA selama ini.

Biasanya di hari hari kerja saya hanya memanfaatkan waktu satu jam untuk ORJAKA. Rerata satu jam itu range-nya antara 5.000 - 6.000 "step", tergantung kecepatan langkah dan mampirnya, jika ada keperluan.

Alhamdulillah hari ini bisa dua jam lebih berjalan dengan capaian angka diatas 13.000 tsb. Agak bersemangat saya pagi ini. Mungkin karena sepanjang jalan banyak saya lihat para orang orang yang berjemur dan yang berolahraga, sembari bermandikan cahaya matahari.

Kondisi wabah ini banyak menyadarkan orang akan pentingnya menjaga kesehatan.

Bagi saya setiap ada tambahan rute membuat saya tertantang untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bergerak lebih cepat dengan jarak lebih jauh, namun capaian waktu yang relatif sama adalah suatu kebahagiaan. Bisa menantang diri sendiri itu jauh lebih sehat, lebih bersemangat daripada tak ada sama sekali.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak olahraga, apapun alasannya. Yang penting stamina tetap terjaga.

Saat ini fokus pada olah raga saja. Sejak melangkah dari rumah hingga sampai ke rumah lagi, berusaha tidak mampir mampir lagi. Biasanya jika hari sabtu, minggu atau libur ada saja persinggahannya walau sekedar buat sarapan, lontong padang, soto atau teh telurnya. Saat ini tidak ada lagi.

Wabah ini mengingatkan saya untuk harus tetap makan di rumah, menghindari kontak dengan banyak orang ataupun singgah di tempat sembarangan walau hanya untuk rehat sejenak.

Menghindari lap wajah langsung dengan tangan, sudah terbiasa. Saat ini andai ada keringat atau pun yang gatal di wajah, selalu menggunakan baju sebagai alasnya. Tak ada lagi tangan langsung yang "bermain" di sekitaran wajah. Berusaha menghindari kontak langsung tangan dengn wajah kecuali setelah tangan bersih dicuci ataupun ketika berwudhu.

Begitu juga selepas sampai di rumah, tidak menyentuh anggota keluarga sebelum benar benar badan ini bersih. Habis ORJAKA, berusaha langsung mandi dan baru sarapan ataupun makan menjelang siang sesudahnya. :) :)

Demikian catatan saya siang ini.

Saya mengajak semuanya untuk tetap menjaga stamina dengan selalu menyediakan waktu untuk rutin berolahraga.

Parung Serab, 21-03-2020.
13.15 WIB

#miladnyaanakbujang
#14thusianya
#kangenanakbujang

Jumat, 20 Maret 2020

Buah Silaturrahim

Buah Silaturrahim

Setelah beberes hari ini ternyata ada beberapa "buah tangan" yang terselip di dalam lemari baju anak bujang. Mungkin sengaja istri menyimpan buat yang akan pulang april nanti, andai tak ada aral melintang. Bisa jadi buat si bujang akan diberi pilihan mana yang dia sukai dari empat buah baju yang ada ini. Sisanya baru buat saya, atau bisa jadi saya tak mendapatkannya sama sekali. :)

Sebenarnya empat helai baju ini adalah buah silaturrahim yang saya jalani bulan Februari lalu. Dua asli dari negeri Paman Sam dan dua lagi dari negerinya Pangeran Charles. Sungguh sesuatu banget dapat hadiah seperti ini. Namun demi menjaga etika jurnalistik, sengaja saya tak sebutkan dari siapa yang memberikannya, namun mereka adalah senior saya juga di Unand.

Kadang kadang kita tak tahu apa yang kita dapatkan dari setiap silaturrahim yang kita jalani. Asalkan dengan niat baik, sejatinya ada saja yang Allah tetapkan sebagai gantinya. Dan bagi yang memberikan tentu ini sebagai kenangan buat saya pribadi dan saya doakan bagi mereka semoga ini penyambung ukhuwah dan menjadi ladang amal setiap kali baju ini kami gunakan.

Yang jelas baju ini sangat berkualitas, baik bahan maupun designednya yang saya suka. Soal harga, sudah pasti di luar jangkauan saya membeli baju. Karena dari ongkos ke sana nya yang nggak nahan. Dan baju ini bawaan asli dari negara asalnya. Hehehe :)

Tetapi pesan yang ingin kami sampaikan kepada anak bujang kami nanti adalah bahwa baju ini mengalami perjalanan yang jauh untuk sampai ke kami. Andai saya tak mampu "bermain" nanti ke negara asal tersebut, saya tanamkan buat si Buyung kami ini, biarlah dia yang akan melangkahkan kaki nya ke sana. Entah ke sana untuk melanjutkan studynya, bekerja ataupun berdakwah berjuang demi tegaknya agama Allah ini.

Allah Maha Kuasa, siapa tahu kelak Allah kuasakan kaki anak anak kami melangkah ke sana. Allah Maha Mendengar, insyaAllah Allah akan mendengar apa yang kami harapkan dari setiap detak jantung kami untuk anak anak ini nantinya. Bumi Allah luas, semoga kelak anak anak ini bisa melangkahkan kakinya menelusuri bumi ini untuk menebarkan kebaikan dan manfaat serta kebijakan bagi umat manusia.

Itulah mengapa baju baju begini lebih ditujukan buat si Buyung kami lagi yang berjuang saat ini menjalani ujian selama sebulan penuh di bumi Reog Ponorogo Jawa Timur.

Setidaknya saat dia pulang nanti ada bahan cerita dan souvenir sebagai motivasi dalam menuntaskan pendidikan dengan hasil terbaiknya kelak. Semoga tetap bertahan tahun depan di kelas B lagi, insyaAllah.

Terakhir saya hanya menutup dengan kalimat: "Inilah yang disebut rezeki anak sholeh yang Allah titipkan kepada saya selaku orangtuanya."

Parung Serab, 20 Maret 2020
17.25
#kangenanakbujang

Rabu, 18 Maret 2020

Corona: Saatnya Masjid Ambil Peran

Oleh : Ustadz Rendy Saputra

Selasa, 17 Maret 2020

********

Dalam situasi yang akan sangat cukup berat ini, solusi sebenarnya ada di bagaimana kita mengatur sumber daya. Manusia dan asset.

Kita sebagai bangsa adalah ibarat satu keluarga besar. Ketika harus menghadapi kesulitan, kuncinya adalah pada manajemen sumber daya. Agar kemudian sumber daya itu dapat bertahan lama.

Jika sebuah keluarga terdiri dari 6 anggota keluarga, Ayah, Ibu, 2 Anak dan 2 Kakek Nenek, lalu terjadi musibah banjir yang menyebabkan 1 keluarga harus mengungsi ke lantai 2, maka kuncinya ada di manajemen sumber daya.

Berapa pasokan pangan, kapan bantuan datang dan bagaimana menjatah makanan ke masing-masing anggota keluarga akan menjadi hal penting.

Masing-masing anggota keluarga harus saling perhatian dan jangan mau menang sendiri. Dengan begitu sebuah keluarga baru bisa bertahan dari kepungan banjir.

*****

Apa yang akan terjadi kedepan alangkah baiknya di antisipasi dari sejak saat ini. Karena mengantisipasi itu baik, ketimbang gak ada rencana sama sekali.

Masyarakat membutuhkan titik koordinasi. Titik komando. Titik hubung untuk saling bahu membahu.

Jika titik ini dibebankan pada pemerintah kota dan kabupaten, bebannya akan sangat besar.

Kabupaten Bogor itu 5 juta populasi. Sebesar Singapura. Lebih besar dari Qatar. 1 Bupati ngurus warga sebanyak 1 negara.

Balikpapan sekitar 700rb populasi. Itu juga kebesaran.

Kota Jakarta 9 juta, kota Bogor 1 juta. Titik koordinasi per kota kabupaten itu berat.

*****

Negeri ini punya infrastruktur pertahanan yang tidur dan dapat dibangunkan segera. Tim nya bahkan siap. Tinggal ada niat atau nggak.

Negeri ini punya 1 juta titik masjid yang tersebar di seluruh wilayah negeri.

Jika 30% dari total masjid tersebut adalah tergolong masjid sehat kepengurusannya, berarti ada 300 ribu titik koordinasi warga.

1 titik koordinasi bisa handle 1000 jamaah, atau 250 KK. Artinya 300 juta populasi sudah tercover.

Dari sejak hari ini, Masjid harus ambil peran sebagai kepemimpinan arus bawah. Artinya melayani masyarakat, memastikan kelangsungan hidup, memastikan kelangsungan pasokan pangan dari jamaah.

*****

Langkah konkret masjid bisa ambil peran :

1. Segera bentuk tim Satgas Penanganan Covid di setiap masjid. Bikin kepanitiaan kecil. Yang melibatkan orang-orang yang mau kerja dan melayani ummat.

2. Setelah terbentuk tim, tim satgas langsung mendata jamaah sekitar masjid, bahkan muslim dan non muslim, untuk kemudian didata secara lengkap. Nama, jumlah anak, jumlah lansia, sumber penghasilan darimana.

Ini untuk antisipasi lockdown. Jadi kita bisa ngerti dan faham mana jamaah yang bisa survive atau gak bisa survive.

Di Korea Selatan sudah banyak yang mati dalam senyap. Mati di apartemen sendirian. Makanya data ini penting bagi jamaah yang ingin diperhatikan dan diurusi masjid. Bagi yang mau, silakan data dirinya ke masjid.

Jangan sampai ada jamaah yang gak bisa makan, atau mati sendirian, lalu masjid gak tahu.

3. Secara perlahan bangun pusat logistik bantuan sederhana di masjid. Yang nimbun sembako jangan pribadi dan personal, tetapi masjid.

Masjid harus bersiap jadi titik supply ketahanan pangan bagi jamaah yang sudah mendatakan dirinya ke masjid. Intinya, siapa yang mau diurusi oleh masjid, dirinya didata. Data ini jadi pegangan masjid untuk prioritas distribusi.

4. Tim satgas lakukan edukasi ttg covid ke jamaah. Karena gak semua jamaah warga lokal teredukasi baik dengan sosmed.

Edukasi bahwa sehat saja bisa jadi carrier, gejala bisa saja ringan, tapi jangan sampai menulari ke orang banyakm terutama elder. Orang manula.

Edukasi tentang fiqh penanganan wabah. Jadi ummat bisa faham dan legowo atas beberapa keputusan. Misalnya MUI bahkan sudah melarang shalat jumat di beberapa area pendemi.

Edukasi tentang bagaimana warga yang kemudian muncul symptoms gejala. Kalo takut lapor negara, minimal suruh lapor ke tim satgas masjid, biar kemudian masjid mediasi ke petugas kesehatan.

Ummat segini banyak gak bisa dikelola 1 posko skala kota kabupaten. Pengelolaannya harus diserahkan ke cluster kecil pembinaan.

5. Masjid mendorong aliran asset muhsinin donatur yang berniat menanggulangi beberapa masalah kedepan.

Siapkan wakaf manfaat kendaraan yang bisa digunakan oleh ummat sebagai ambulance darurat. 1 masjid, 1 kendaraan medis. Mobil APV biasa bisa diubah jadi mobil ambulance. Asal niat.

Mulai juga bangun saling peduli. Yang berlebihan harta mulai bangun sistem supply sembako pekanan ke dhuafa sekitaran masjid. Mulai dari sekarang. Agar saat memang masalah besarnya datang, infrastruktur masjid sudah siap.

Bahkan kalo mau lebih jauh lagi, siapkan 1 rumah wakaf manfaat sebagai fasilitas isolasi klinis. Karena negeri ini gak bisa bangun rumah sakit 100 ribu kamar dalam sepekan.

Kita siapkan saja. 1 masjid. 1 rumah klinis isolasi. Kemenkes dan rumah sakit terdekat bisa koordinasi dengan satgas masjid.

Jangan sampai kayak Italy, kehabisan bed, akhirnya baru skrg mau ngubah hotel jadi rumah sakit. Telat.

6. Pemerintah bersama Dewan Masjid Indonesia alangkah baiknya segera koordinasi termasuk melibatkan MUI. Karena harapan penanggulangan bencana seperti Italy hanya bisa dilangsungkan jika negeri ini membagi penduduk menjadi cluster se-area masjid.

7. Ide dan gagasan sederhana ini alangkah baiknya di copaste ke grup-grup WA masjid di masing-masing masjid. Untuk kemudian perlahan dibicarakan, mumpung lagi work for home. Ada waktu banyak diskusi via WA grup. Bahkan voice notes. Untuk membangun soliditas.

*****

Hari ini entah benar atau nggak, TKA masih bisa akses kedalam Indonesia. Padahal setahu yang saya baca sudah dilarang Menlu. Tapi masih masuk juga.

Inilah negeri ini, areanya luas, sangat luas, 271 juta jiwa.

Italy hanya 60 juta jiwa. Korsel juga populasinya se-Jawa Barat. Singapura hanya seluas kabupaten Bogor. Gak termasuk kota Bogor ya... Hanya kabupatennya saja.

Alangkah baiknya kita mengurangi beban Pak Jokowi, BPJS saja kemarin banyak belum bayar ke rumah sakit, apalagi Rumah Sakit diminta tanggung operasional Corona. Mohon pengertian. Mari jangan tuntut pemerintah terus. Kita sudah banyak bebanin pemimpin negeri.

Alangkah baiknya kita kurangi beban kepala daerah. Walikota, Bupati, gak akan sanggup merhatikan ratusan ribu bahkan jutaan warganya.

Pada dasarnya bencananya sudah jalan. Sektor ekonomi down. Walau virus belum terlihat gejala membunuh masifnya, tapi disekitar kita sudah banyak yang susah.

Saatnya aktivis masjid membuktikan kepemimpinannya.

Apa itu kepemimpinan dalam Islam?

"Khodimul Ummah"

Saatnya antum ambil peran di masyarakat. Peduli. Turun. Bergerak.

Saatnya para aktivis dakwah mempersiapkan diri, untuk melayani ummat, mengimplementasikan narasi rahmatan lil 'alamien pada penduduk negeri ini.

Baik ke saudara seiman kita yang muslim, maupun yang non muslim.

Bismillah...

Saatnya ambil peran...
Saatnya buktikan kapasitas kepemimpinan ummat...
Saatnya Masjid hadir menjadi pengayom masyarakat...

Semoga Allah azza wa jalla menolong kita semua... Dan menjadikan amaliyah saling tolong menolong ini menjadi asbab hadirnya pertolongan...

Shollu 'alan Nabiy...

Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi sayyidina Muhammad

Ttd,
URS (IG : @ustadzrendy)


Selasa, 17 Maret 2020

Hikmah: Tidak Panik, Tidak Pula Meremehkan

*TIDAK PANIK, TIDAK  PULA MEREMEHKAN*

Oleh: *Mohammad Fauzil Adhim*
(Penulis buku 'Berdoalah untuk urusan apapun' dan guru Motivasi Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu)

Masih adakah ruang bagi kita untuk menepuk dada? Jalanan lengang, suara menghilang. Bandara sepi, bagai kota tua yang ringkih. Antrean panjang yang biasanya bergemuruh di pagi hari, melatih penumpang untuk sabar menunggu giliran dilayani, pagi itu aku merasakan suasana yang amat berbeda. Hanya satu dua yang bermunculan sehingga jalur khusus bagi frequent flyer seperti tak lagi bermakna.
.
Aku memasuki ruang tunggu. Ada beberapa orang di situ. Tetapi suasananya sepi, sunyi dan hening. Beberapa penumpang hanya terduduk diam, seakan menghitung helaan nafas, berapa yang telah hilang. Sebuah perubahan yang sangat cepat, tiba-tiba saja membuat orang tercekat. Bertemu orang lain pun sebagian tak berani mendekat. Sedangkan saat tangan disodorkan, banyak yang tak berani berjabat, meskipun ia seorang pejabat.
.
Oh, manusia.... Alangkah lemah kita ini. Menghadapi virus yang tak tampak mata saja kita tak berdaya, maka masihkah kita sibuk menepuk dada? Masihkah kita bersikeras menganggapnya tak ada hanya agar kita tampak gagah?
.
Wabah *tha'un* (penyakit menular yang bersifat epidemik atau endemik) bukan sekali ini. Berulang terjadi di muka bumi, di masa sahabat dan tabi'in pun ada. Jadi bukan di akhir zaman saja.
.
Tetapi aku termangu saat membaca tulisan ringkas Ustadz Marwan Hadidi, menukil kitab yang ditulis oleh Al-Muwaffaq Baghdadi rahimahuLlah. Delapan ratus tahun yang lalu ditulis dalam _Thaba'iul Buldan,_ bunyinya begini:
.
والصِّيْنُ أوبأ الأرض، وهي محلُّ الطواعين والأمراض القتالة، وأهلها يتحرزون من ذلك غاية التحرز
.
" *China adalah negara yang paling banyak wabah. Ia menjadi tempat wabah tha'un dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Penduduknya berusaha sekali menjaga diri daripadanya*."
.
Aku tak tahu apa sebabnya, tetapi ini menunjukkan bahwa wabah yang mematikan bukanlah hal yang baru. Telah ada sejak dulu. Tuntunan bagaimana menghadapi wabah pun sudah ada, sebagaimana kita dapati dalam hadis shahih.
.
Aku termenung di ujung senja sembari berjalan menyusuri bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Di gerbang 15 tempat para penumpang biasa menunggu golf car mengantarkan ke gerbang keberangkatan sesuai tujuan masing-masing, hanya tampak dua orang. Duduk berjauhan. Padahal biasanya harus sabar menunggu sehingga perlu menggunakan nomor antrean. Sejenak aku berhenti, lalu memutuskan masuk deretan kursi tunggu. Suasana pun berubah sesaat. Mungkin karena dirasa ada yang mendekat.
.
Tak perlu waktu lama untuk menunggu. Dua golf car datang untuk mengangkut tiga orang yang sedang antre. Tentu saja hanya satu golf car yang bergerak membawa kami. Sedangkan golf car yang satunya menunggu penumpang, bukan ditunggu sebagaimana biasa.

Aku pun segera memasuki pesawat yang juga tak sepadat biasanya. Banyak orang memilih menunda atau membatalkan perjalanan. Di antara mereka ada yang membatalkan perjalanan untuk menghindari kematian, padahal kematian itu sangat dekat dengan kita tanpa harus ada wabah.
.
Di atas awan, di pesawat yang hening aku belajar mengambil pelajaran. Tentang banyak hal. Termasuk pelajaran sederhana agar tidak pongah karena virus Corona atau apa pun namanya tidak takut kepada orang yang jumawa. Ia menimpa siapa saja dengan izin Allah, sebagaimana virus itu menjauhi siapa saja atas kehendak Allah Jalla wa 'Ala.
.
Ingatlah firman Allah 'Azza wa Jalla:
.
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
.
" *Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." *(QS. At-Taghabun, 64: 11).*
.
Lalu apakah yang Allah Ta'ala perintahkan kepada kita? Taat. Kalimat sederhana, tetapi sangat berat untuk menjalani sepenuhnya, kecuali bagi orang-orang yang beriman.
.
Renungi sejenak seruan Allah Ta'ala:
.
وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ
.
"Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." *(QS. At-Taghabun, 64: 12).*
.
Kita murnikan tauhid dan kuatkan kepasrahan. Tawakkal. Ia bukan bermakna berhenti dan bersikap pasif, tetapi bersungguh-sungguh dalam berupaya seraya berserah diri kepada Allah Jalla wa 'Ala. Kita bersungguh-sungguh terhadap segala hal yang bermanfaat. Bukan berhenti melakukan amal shalih. Jika pun terhalang mengerjakan suatu 'amal, maka perbuatlah 'amal shalih lainnya. Peralihan kepada amal lainnya inilah istirahat bagi seorang mukmin karena istirahat adalah transisi dari satu amal ke amal yang lain (الانتقال من العمل إلى العمل).
.
Perhatikanlah:
.
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
.
"(Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja." *(QS. At-Taghabun, 64:13).*
.
Selebihnya, kepada Allah Ta'ala kita memohon:
.
اللهم إن هذا المرض جندٌ من جنودك تصيب به من تشاء وتصرفه عن من تشاء ، اللهم فاصرفه عنّا وعن بيوتنا وعن أهلينا وأزواجنا و ذرارينا وبلادنا ، وبلاد المسلمين ، واحفظنا مما نخاف ونحذر فأنت خيرٌ حافظا و انت ارحم الراحمين

 _*Allahumma inna hadzal maradha jundun min junuudi-Ka, tushiibu bihii man tasyaa-u wa tashrifuhuu 'an man tasayaa-u*,_

_*Allahumma fashrifhu' annaa wa 'an buyutina wa' an ahliina wa azwaajina wa dzararina wa biladina wa biladil muslimin, wahfazhna mimma nakhafu wa nahdzar, fa Anta khairun haafizha wa Anta Arhamur rahimin*._

" *Ya Allah, penyakit ini adalah tentara di antara tentara-Mu. Engkau palingkan penyakit ini kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau tempatkan kepada siapa yang Engkau kehendaki* ."

" *Ya Allah, jauhkanlah (penyakit) ini dari kami, dari rumah-rumah kami, dari keluarga kami, dari pasangan-pasangan kami, dari anak cucu kami, dari negara kami, dan dari negeri-negeri kaum muslimin*."

" *Dan jagalah kami dari yang kami takuti dan dari apa yang kami waspadai. Engkaulah sebaik-baik Penjaga dan Engkaulah yang paling Maha Penyayang dari semua yang Penyayang*."

*TERLALU PANJANG & SUSAH DIHAFALKAN?*😇

*Berdo'alah dengan do'a yang diajarkan oleh Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Do'a yang sangat ringkas*:
.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
.
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyaLlahu ‘anhu berkata, “Khaulah binti Hakim As-Sulaimiyyah radhiyaLlahu ‘anha berkata, ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat lalu ia mengucapkan:

*أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ*
.
" *Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang tercipta." Maka tidak ada sesuatu apapun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu’.” *(HR. Muslim).*
.
Atau berdo'alah do'a yang khusus memohon dijauhkan dari penyakit yang mengerikan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ وَالجُنُونِ والجُذَامِ وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan keburukan segala macam penyakit mengerikan lainnya.” *(HR. Abu Dawud dan Ahmad).*
.
Kita berdo'a memohon pertolongan. Kita berdo'a meminta dijauhkan dari segala penyakit yang membahayakan dan mengerikan. Dan kita berdo'a agar terhindar dari sombong kepada Allah Ta'ala. Siapakah orang yang menyombongkan diri kepada Allah? Mereka yang tidak mau berdo'a. Dan ini merupakan salah satu dari berbagai penyakit hati.
.
Teringatlah kita dengan nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam _Miftah Daris Sa'adah,_
" *Penyakit hati* sebenarnya lebih berat daripada *penyakit badan*, karena akhir dari penyakit badan adalah membawanya kepada kematian, sedangkan *penyakit hati membawa kepada kesengsaraan abadi*, dan obatnya hanya dengan ilmu (belajar)."
.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan barakah.
🕌📖

🙏🏻🙏🏻...copas dr fb beliau


TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...