Rabu, 22 Januari 2025

Trekking Curug Cibingbin


Minggu pagi sehabis pengajian dan sholat Sunnah, HP yang saya bawa berdering. Saya segera keluar dari mesjid menuju teras, dan menjawab telpon yang masuk. Ternyata dari ni Lin Yendri Surlini SSi. Pasti penting ini, gumam saya dalam hati.


Dan benar saja bahwa uni saya ini sudah otw menuju Sentul katanya. Kaget juga saya, ternyata acara yang diinginkan jadi juga. Seingat saya di reschedule. Segera saya berkabar ke Nova Yanti , untuk segera bersiap-siap. Dan saya manfaatkan waktu pagi ini sesegera mungkin menyelesaikan sarapan pagi sehabis kajian bersama ustadz Umar Faqih dan jamaah lainnya. Sarapan pagi ini adalah ketan dengan bubur kacang hijau, yang diantarkan oleh Bundo Nova sebelumnya. Hidangan sudah siap, tinggal santap saja. Obrolan ringan bersama jamaah dan ustadz ini cepat sekali rasanya selesai, secepat santapan saya juga.

Tak lama berselang, saya segera pulang dan membantu persiapan untuk berangkat. Alhamdulillah mobil sudah dalam keadaan ready, full tank. Begitu juga dengan e-toll yang ada, cukup isinya.


Segera kami meluncur menuju pintu toll Bintaro menuju Sentul. Lokasi titik kumpul pun sudah dikirim oleh ni Lin. Begitu juga dengan da Hendra FJ, kak Dewi Wuwuh S dan Puti juga sudah dalam perjalanan juga. Semuanya dikondisikan oleh ni Lin. 


"Bagageh" kami pagi itu menuju titik kumpul. Terlambat tentu saja karena tidak sesuai dengan rencana semula. Tetapi untuk sebuah kebersamaan dan memperkuat ukhuwah semangat kami takkan kendor. Apalagi ini trekking bersama, 3 keluarga dengan total 8 orang. Trekking yang pertama kalinya kami lakukan. Full semangat pastinya.


Jam 8 lewat beberapa menit saya sampai di titik kumpul. Da Hen dan keluarga sudah menunggu kami, langsung naik ke Terios kami. Sementara da Nirwan Satria, Ni Lin dan Syifa standby di mobil Opel Blazer antiknya. Seorang guide yang dipercaya oleh ni Lin pun sudah standby di motornya. Mobil sedan da Hen, tertinggal di sini. Dua mobil cukup untuk mengantarkan kami ke lokasi awal trekking.


Jalan yang lebar di Sentul city kami tinggalkan, masuk ke jalan perkampungan dengan sempit, penuh dengan tanjakan dan turunan serta tikungan tajam di beberapa titik. Agak ngeri juga awalnya melihatnya, apalagi di beberapa spot jalan, jalannya tidak lagi mulus. Berbatu dan berpasir. 


Alhamdulillah tak sampai setengah jam akhirnya kami sampai juga di lokasi. Sudah banyak kendaraan roda dua dan roda empat di sana. Mungkin kami rombongan trekking yang terakhir. Ada satu rombongan yang tersisa, sedang melakukan stretching ketika kami sampai di sana. 


Dengan segera kami manfaatkan waktu untuk berkumpul, melakukan stretching dan doa bersama. Cuaca yang cerah, secerah hari kami melakukan trekking ini.

Melintasi jalan kampung, pematang sawah, sungai yang mengalir dengan airnya yang bening. Ada bekal sebotol air mineral dan sebungkus bengbeng buat cemilan di jalan diberikan oleh pemandu kami.

Obrolan seger diantara kami pun mengalir diantara sesekali dengusan nafas yang sesak ketika menanjak. Pemandu kami selalu mengambil spot spot terbaik yang kami lalui. HP saya ada di tangan dia. Saya serahkan sepenuhnya, karena saya sangat menikmati trip dengan alam yang sangat indah ini. Saya percayakan sepenuhnya. Dan HP itu pun paket data nya saya off kan, sehingga tak ada gangguan bagi saya dalam perjalanan seperti ini dan juga tidak menggangu pemandu juga tentunya.


Alam yang indah ini, tentu tak kalah dengan yang ada di Sumatra Barat. Tetapi seingat saya belum ada yang mengelola seperti yang ada di Sentul dan sebagian lokasi lainnya Jawa Barat. Sebenarnya ini bisa mendatangkan cuan, bagi kelompok penyelenggara. Untuk kegiatan ini  kami harus membayar RP 175.000 per orang. Dan yang hadir di sini bukan kami saja, banyak kelompok lainnya. Belum lagi di beberapa spot Curug lainnya. Bisa dibayangkan berapa uang yang beredar di lokasi wisata alam seperti ini, mengalir ke masyarakat tempatan. Belum lagi bagi para penjual makanan yang ada di spot spot yang kami lalui.

Ada dua kali kami rehat. Rehat pertama sebelum masuk lokasi Curug. Kami rehat sejenak melepas penat sambil minum air kelapa dan cemilan yang ada. Yang kedua di lokasi Curug Cibingbin, menikmati gorengan dan buah manggis serta kopi yang ada di warung dekat Curug tersebut.


Kami nikmati Curug Cibingbin ini sepuasnya. Namun kami tak lagi sempat menikmati tiga Curug lagi yang lebih tinggi posisi nya dari Cibingbin ini. Tiga Curug yang sangat berdekatan. Kami memilih cukup di sini saja. Pertama karena sudah capek dan kedua karena waktu sudah menunjukkan "tengah hari".

Puas dari sini kami pun pulang dengan rute jalan yang berbeda. Nova, kak Dewi dan Ni Lin sempat belanja ulekan. Ulekan asli dari batu, bukan semen-an.


Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena umumnya menurun dan hati sudah puas. Alam yang indah, udara yang segar dan semuanya ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 6 kilometer. Memupuk kebersamaan, memperkuat ukhuwah yang sudah terjalin di antara kami sejak tahun 90-an. Persahabatan ini insyaallah mengalir juga ke anak anak kami kelak. Insyaallah.


Setelah semuanya sampai di titik kumpul semula kami pamit kepada pemandu yang telah menemani selama hampir empat jam. Dan kami pun mengisi " Lambuang" di RM Little Minang yang masih ada di Sentul City ini 

Kami sholat, bebersih dan makan siang di sini sebelum kembali ke rumah masing masing. Sebuah kebersamaan yang indah. Dan insyaallah akan kami lakukan lagi di kemudian hari secara berkala. Bagageh adalah WAG yang sengaja dibentuk untuk itu.


Bintaro 21 Januari 2025

15.30 WIB

Jumat, 17 Januari 2025

Terios Mandi Sore

Pagi tadi kami laksanakan agenda sesuai rencana semalam. Melakukan aktivitas olahraga jalan kaki di Jakarta sekalian jalan jalan ringan melihat kehidupan kota Jakarta yang bertepatan dengan Car Free Day di hari Minggu pertama di awal tahun 2025.



Bersama Imam dan Dhifa serta Bunda tercinta kami menggunakan motor ke Puri Beta. Dari sana kami naik busway Transjakarta. Memberikan pengalaman berkesan bagi mereka, terkhusus buat Imam yang belum pernah merasakannya. Karena selama ini, sejak dia mondok di Gontor Ponorogo Kampus Dua tahun 2018 belum pernah kami lakukan. Setiap liburnya selalu betah di rumah atau ke kampung halaman melihat neneknya di Kapau Bukittinggi.


Meskipun tadi malam kami baru sampai di rumah, setelah perjalanan jauh non-stop dari Kapau selama lebih kurang 30 jam lamanya, capek yang dirasa sudah jauh berkurang. Pagi ini kami tetap beraktivitas seperti biasanya. Subuh tetap ke mesjid berdua Imam, bunda dan Dhifa sholatnya di rumah. 


Membersamai mereka tetap tak ada kata lelahnya. Suasana yang seperti ini akan menunggu waktu lama lagi karena esok Imam akan kembali mengabdi di PP Nurul Huda Tasikmalaya, sementara Dhifa akhir pekan ini akan kembali ke Ma'had  Riyadhul Qur'an nya. Setelah itu kami akan kembali berdua. "Pulang Pokok" nya saja.


Dengan busway kami turun di CSW dan Bundaran Hotel Indonesia. Di halte "Perahu Pinisi" ini kami manfaatkan momen untuk mengabadikan keindahan sebagian Kota Jakarta. Menyaksikan Tugu Selamat Datang, Hotel Indonesia, Grand Hyatt dan sekitarnya serta keramaian orang yang berolahraga pagi sepanjang Sudirman dan Monas. Meskipun sedikit antri karena spot photo banyak peminatnya. Ada pengaturan jumlah orang yang diizinkan di ujung spot kapal ini. Setiap kelompok maksimal di sana sekitar lima menit saja. Meskipun dibatasi waktu, para pengunjung tetap bersabar untuk mengambil gambar bersama sanak saudara ataupun sejawat nya. 


Dan pagi ini cuaca sangat cerahnya. Langit biru dengan awan putihnya sangat menambah keindahan Kota Jakarta yang selalu menjadi rujukan peta politik di Indonesia. Terutama dalam rencana pemindahan ibukota negara dalam beberapa tahun belakangan ini. Jakarta selalu menjadi sentra issue nasionalnya. Semoga Jakarta akan baik baik saja. Jakarta yang selalu menjadi ibukota tang berskala dunia pastinya. Dan semoga Gubernur selanjutnya tetap memberikan karya bagi seluruh warga ibukota dan kebanggaan setiap anak bangsa yang ada di seluruh Nusantara tercinta. Jangan pindahkan ibukota, bila Jakarta masih layak menjadi pemersatu seluruh komponen bangsa.


Dan keindahan kota Jakarta pagi ini semoga menjadi momen yang indah untuk Imam dan Dhifa. Kami susuri jalan Sudirman. Kami nikmati jajalan yang ada "dijajakan" oleh lapisan warga terbawah ibukota. Ekonomi kelas menengah ke bawah sangat terasa. Hiruk pikuk kota hilang seketika saat CFD dilaksanakan. Warga bebas berlari, berjalan, bersepeda, bermain sepatu roda, bersama sejawat, keluarga maupun komunitas nya. Kebersamaan adalah kunci bagi pemerintah dan warga nya. Pemerintah memfasilitasi kebutuhan warganya, warganya memanfaatkan setiap waktunya tanpa perlu memikirkan biayanya. 


Langkah kami selanjutnya mencoba naik MRT dari Dukuh Atas menuju Lebak Bulus. Sepanjang jalan mereka saksikan bagaimana kondisi sebagian Kota. Di Stasiun Lebak Bulus, melepaskan rehat sejenak sebelum balik lagi ke halte Kebayoran bersama busway, menuju Halte Puri Beta. Menjelang siang kami sudah kembali di rumah setelah mengambil motor yang diparkir di Puri Beta. Untuk parkir di sana 10.000,- per kendaraan roda dua 


Keindahan kota Jakarta ini semoga menjadi langkah awal bagi Imam untuk dapat melanjutkan langkahnya ke ibukota ibukota negara lainnya kelak. Harapan kami semoga dia bisa mengikuti jejak langkah kakaknya, study abroad. Begitu juga dengan si bungsu kami pada masanya, melengkapi langkah kakak dan abangnya. 


Indahnya Jakarta yang katanya setara dengan keindahan kota kota besar lainnya di dunia, bisa mereka saksikan pada waktunya. Semoga. Kita berencana dan berikhtiar serta berdoa, semoga Allah SWT mewujudkannya. Aamiin 


Pondok Aren, 05/01/2025

18.20 WIB

CFD Jakarta di Awal Tahun 2025

Pagi tadi kami laksanakan agenda sesuai rencana semalam. Melakukan aktivitas olahraga jalan kaki di Jakarta sekalian jalan jalan ringan melihat kehidupan kota Jakarta yang bertepatan dengan Car Free Day di hari Minggu pertama di awal tahun 2025.


Bersama Imam dan Dhifa serta Bunda tercinta kami menggunakan motor ke Puri Beta. Dari sana kami naik busway Transjakarta. Memberikan pengalaman berkesan bagi mereka, terkhusus buat Imam yang belum pernah merasakannya. Karena selama ini, sejak dia mondok di Gontor Ponorogo Kampus Dua tahun 2018 belum pernah kami lakukan. Setiap liburnya selalu betah di rumah atau ke kampung halaman melihat neneknya di Kapau Bukittinggi.


Meskipun tadi malam kami baru sampai di rumah, setelah perjalanan jauh non-stop dari Kapau selama lebih kurang 30 jam lamanya, capek yang dirasa sudah jauh berkurang. Pagi ini kami tetap beraktivitas seperti biasanya. Subuh tetap ke mesjid berdua Imam, bunda dan Dhifa sholatnya di rumah. 


Membersamai mereka tetap tak ada kata lelahnya. Suasana yang seperti ini akan menunggu waktu lama lagi karena esok Imam akan kembali mengabdi di PP Nurul Huda Tasikmalaya, sementara Dhifa akhir pekan ini akan kembali ke Ma'had  Riyadhul Qur'an nya. Setelah itu kami akan kembali berdua. "Pulang Pokok" nya saja.


Dengan busway kami turun di CSW dan Bundaran Hotel Indonesia. Di halte "Perahu Pinisi" ini kami manfaatkan momen untuk mengabadikan keindahan sebagian Kota Jakarta. Menyaksikan Tugu Selamat Datang, Hotel Indonesia, Grand Hyatt dan sekitarnya serta keramaian orang yang berolahraga pagi sepanjang Sudirman dan Monas. Meskipun sedikit antri karena spot photo banyak peminatnya. Ada pengaturan jumlah orang yang diizinkan di ujung spot kapal ini. Setiap kelompok maksimal di sana sekitar lima menit saja. Meskipun dibatasi waktu, para pengunjung tetap bersabar untuk mengambil gambar bersama sanak saudara ataupun sejawat nya. 


Dan pagi ini cuaca sangat cerahnya. Langit biru dengan awan putihnya sangat menambah keindahan Kota Jakarta yang selalu menjadi rujukan peta politik di Indonesia. Terutama dalam rencana pemindahan ibukota negara dalam beberapa tahun belakangan ini. Jakarta selalu menjadi sentra issue nasionalnya. Semoga Jakarta akan baik baik saja. Jakarta yang selalu menjadi ibukota tang berskala dunia pastinya. Dan semoga Gubernur selanjutnya tetap memberikan karya bagi seluruh warga ibukota dan kebanggaan setiap anak bangsa yang ada di seluruh Nusantara tercinta. Jangan pindahkan ibukota, bila Jakarta masih layak menjadi pemersatu seluruh komponen bangsa.


Dan keindahan kota Jakarta pagi ini semoga menjadi momen yang indah untuk Imam dan Dhifa. Kami susuri jalan Sudirman. Kami nikmati jajanan yang ada "dijajakan" oleh lapisan warga terbawah ibukota. Ekonomi kelas menengah ke bawah sangat terasa. Hiruk pikuk kota hilang seketika saat CFD dilaksanakan. Warga bebas berlari, berjalan, bersepeda, bermain sepatu roda, bersama sejawat, keluarga maupun komunitas nya. Kebersamaan adalah kunci bagi pemerintah dan warga nya. Pemerintah memfasilitasi kebutuhan warganya, warganya memanfaatkan setiap waktunya tanpa perlu memikirkan biayanya. 


Langkah kami selanjutnya mencoba naik MRT dari Dukuh Atas menuju Lebak Bulus. Sepanjang jalan mereka saksikan bagaimana kondisi sebagian Kota. Di Stasiun Lebak Bulus, melepaskan rehat sejenak sebelum balik lagi ke halte Kebayoran bersama busway, menuju Halte Puri Beta. Menjelang siang kami sudah kembali di rumah setelah mengambil motor yang diparkir di Puri Beta. Untuk parkir di sana 10.000,- per kendaraan roda dua 


Keindahan kota Jakarta ini semoga menjadi langkah awal bagi Imam untuk dapat melanjutkan langkahnya ke ibukota ibukota negara lainnya kelak. Harapan kami semoga dia bisa mengikuti jejak langkah kakaknya, study abroad. Begitu juga dengan si bungsu kami pada masanya, melengkapi langkah kakak dan abangnya. 


Indahnya Jakarta yang katanya setara dengan keindahan kota kota besar lainnya di dunia, bisa mereka saksikan pada waktunya. Semoga. Kita berencana dan berikhtiar serta berdoa, semoga Allah SWT mewujudkannya. Aamiin 


Pondok Aren, 05/01/2025

18.20 WIB

Minggu, 12 Januari 2025

JJ: Jakarta Jepara

Jeje itu ternyata selain juragan jengkol, bisa juga Jalan Jalan. Dan ternyata di Muji Jaya yang kami naiki saat ini juga berarti Jakarta Jepara. Sengaja atau tidak ternyata ini juga yang sering mengantarkan kami bolak balik ke Kudus sejak lima semester ini. Sejak si bungsu mondok di Ma'had Riyadhul Qur'an Kudus.


Dan menjelang siang ini kami rehat di Taman Lestari, rest area KM 102 Cipali. Hampir semua PO bus yang menuju Muria Raya rehat dan makan siang nya di sini. Dan itu free, bagian servis dari PO yang ada dalam setiap pembelian tiketnya.

Dan pagi ini kami pun mengisi lambung di sini. Sampai di rumah makan Taman Lestari ini jam 10.30 setelah berangkat dari Alfamidi Simpang Gopli Pondok Aren jam 6.40 tadi. Agak telat dari biasanya. Hal ini disebabkan banyak mampir tadi di beberapa tempat mengambil penumpang.

Alhamdulillah, jalanan rada sepi pagi tadi. Driver pertama yang membawa juga santai bawaannya. Nggak ada kesan terburu-buru. Uenak lah pokoknya.


Dan perjalanan ini adalah tanggungjawab kami sebagai orangtua untuk mengantarkan anaknya kembali ke pondok. Alhamdulillah Dhifa sudah kelas tiga SMP saat ini, sebentar lagi akan lulus dan semoga bisa melanjutkan ke jenjang SMA di Ma'had ini.


Tak terasa dua setengah tahun, bolak balik ke sini. Dan kami pun bersyukur bahwa Dhifa saat ini sudah hafal 16 juz. Kami tak pernah memberi target tertentu. Yang penting ada kecintaannya untuk menghafal Al Qur'an. Kami percaya pondok sudah memberikan hal terbaik untuk anak kami ini. Si bungsu ini semoga bisa menjadi penghafal Al Qur'an. Tentu ada kebanggaan bila bisa menjadi bagian dari komunitas One Home One Hafizh yang selalu digaungkan oleh Sabahat saya yang wafat tahun lalu, pak Wawan, sesama wali-ustadzah Prominent GP3.


Segala yang melekat dengan Al Qur'an pasti akan mulia. Begitu juga dengan anak kami ini, semoga Allah muliakan kelak karena hafalan Al Qur'an nya. Kecintaannya kepada Al Qur'an. Yakin kami Allah SWT jua lah yang akan memuliakan langkahnya kelak. Dengan cara-Nya.


Tugas kami hanya mengantarkannya, mengawalnya, mencukupi kebutuhannya dan memaksimalkan doa untuk dia, Abang dan kakaknya. Semoga Allah SWT wujudkan apa yang kami harapkan kelak. Aamiin ya Rabb

Tol Cipali KM 162.

11.25 WIB.

Jumat, 10 Januari 2025

Pulang Kampung Akhir Tahun 2024

Ini adalah rekapan perjalanan mudik akhir tahun kemarin, sejak berangkat Sabtu malam 14 Desember 2024 hingga kembali lagi di rumah lagi Sabtu sore 4 Januari 2025. Tiga Minggu perjalanan kami bersama Terios yang telah membersamai kami selama 11 tahun lebih. Pergi berdua bersama Bundo Nova, pulang berempat bersama Imam dan Dhifa. Trip report lainnya semoga bisa menyusul secara bertahap.

Rekapan ini semoga bisa menjadi acuan bagi sahabat semuanya saat mudik lebaran nanti.

14-15 Desember: Tangerang - Kota Muaro Bungo, 24 jam non-stop. Berangkat jam 8 malam sampai jam 8 malam berikutnya. Nginap.

16 Desember: Muaro Bungo ke Kapau, 7 jam perjalanan. Rehat di Sijunjung, makan durian dan RM Aroma Pagaruyung Batusangkar makan siang. 


18 Desember: Kapau - BIM Padang, PP, jemput Om Wisman dan keluarga dari Kuala Lumpur.

20 Desember: Kapau - BIM Padang, PP, jemput Imam dan Dhifa dari Jakarta.

26 Desember: Kapau - Padang, antar Om Wis dan keluarga.

27 Desember: Kapau - Tan Rajo Homestay Singkarak, PP.


28 Desember: Kapau - Duri, berangkat pagi sampai sore, nginap.

29 Desember: Duri - Pekanbaru, berangkat siang sampai sore, nginap.

30 Desember: Pekanbaru - Kapau, berangkat pagi sampai siang.


1 Januari 2025: Kapau - Padang, takziah wafatnya ibunya da Michel, PP. Berangkat pagi, sore menjelang maghrib sampai lagi di Kapau.

2 Januari 2025: Kapau - BIM, PP, antar Yolanda dan keluarga menuju Batam. Berangkat menjelang siang, sore sampai lagi di Kapau.  

3 Januari 2025: Kapau - Tangerang, non-stop, 33 jam. Berangkat Jum'at pagi jam 8, sampai di Tangerang Sabtu sore jam 5.

Biaya perjalanan:

A. Tangerang - Kapau

BBM: 1.100K

Kapal reguler: 481K

Tol: 570K

Konsumsi: 210K

Penginapan: 200K

Sub Total A: 2.571K


B. Kapau - Tangerang 

BBM: 950K

Kapal reguler: 481K

Tol: 570K

Sub Total B: 2.151K


Total biaya perjalanan PP A dan B lebih kurang Rp 4.722K. 

Catatan: belum termasuk tol Baleno (Bayung Lencir Tempino) berbayar atau tidak, saya tak ingat. Tol ini dilewati saat pergi saja, setelah makan siang di RM Pincuran Gadang.


Semoga catatan ini bisa menjadi rujukan bagi kita semuanya. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya, termasuk bagi komunitas Jalan Lintas Sumatra.


Bintaro 10 Januari 2025

14.40 WIB.

Kamis, 19 Desember 2024

Sejenak di Pasar Ateh Bukittinggi

Menjelang Zuhur Nova minta diantar ke rumah sahabatnya di Induring Kapau. Ada bahan yang mau dijahit. Bahan dari salah satu komunitas yang dia ikuti. Sahabat sekolah yang bisa diandalkan dalam hal jahit menjahit kebutuhan pribadi selama ini. Sudah lebih dari tiga tahun selalu kami ke sini jika pulang kampung untuk menjalin hubungan baik. Semacam simbiosis mutualisme tentunya.


Dan saya sholat zuhurnya pun di masjid rancak yang ada dipinggir jalan Kapau ini. Adzan berkumandang, Terios kami pun sudah terparkir di sana. Nova menuju rumah sahabatnya saya pun menuju rumah Allah untuk menunaikan ibadah. Ibadah yang sealu saya usahakan bisa dilaksanakan di mesjid dimana pun berada, sebisanya.


Alhamdulillah selepas sholat Sunnah, dan berdoa, menjelang iqomah saya disamperin oleh Alex Youhendri. Kaget juga, ternyata ada yang mengenali saya di sini. Alex juga termasuk salah satu sahabat Nova juga, yang bekerja di Damkar Kabupaten Agam. 


Selesai sholat kami pun lanjutkan percakapan yang tertunda, sembari menuju rumah si Met, tempat Nova tadi menjahitkan bahan pakaiannya tadi, yang ternyata juga searah menuju rumahnya Alex. Bersyukur dalam sekali jalan kami bisa bersilaturahmi.


Tak lama dari sana kami pun ke Pasa Ateh (red, Pasar Atas). Di simpang Aslam Mart kami kembali parkir sejenak, Nova menuju ATM BNI yang ada di bagian luar Mart yang hampir selalu kami kunjungi jika pulang kampung. Aslam Mart ini cukup banyak pelanggan nya. Dan Mart ini tak ada kaitannya dengan mart mart lainnya yang menjamur di pulau Jawa dan sebagian pulau Sumatra. Pengecualian operasional mart mart tersebut hanya ada di Sumatera Barat, dimana mereka dilarang sama sekali membuka a outlet outlet nya. Sumbar emang keren dalam hal ini.


Selepas itu Terios pun meluncur ke Pasa Ateh. Langsung mencari lokasi parkir yang aman dari potensi hujan dan kehujanan, kami pun keluar dari gedung tersebut dan berpisah. Nova tak ingin ditemani dalam hal yang satu ini. Ada kebebasan yang harus saya berikan untuk mencari apa yang dia butuhkan untuk dirinya dan anak gadisnya. 


Dan saya pun merasa nyaman untuk berada di mesjid  Raya ini. Namun sebelum ke Mesjid saya menikmati segelas air tebu plus daun kacang. Salah satu minuman favorit bisa ke sini. Minuman berkhasiat tentunya. 



Di mesjid ini saya bisa nyaman. Bisa menulis dan bisa juga memikirkan hal hal lainnya yang akan dilakukan selama libur akhir tahun ini bersama keluarga. Dan hari keluar satu tulisan untuk kita nikmati bersama. Senikmat air tebu kacang yang masih terasa di kerongkongan.


Pasa Ateh 

19/12/2024 13.50 WIB

Sehari menjelang milad pernikahan

Sabtu, 12 Oktober 2024

Pijar Park Kudus

Setelah sarapan dengan soto Semarang Mat Tjangkir porsi kecil kami lanjutkan balik ke penginapan sekitaran alun alun Kudus. Simpang Tujuh Residensi namanya. Penginapan murah meriah tetapi bersih dan nyaman. Akses kemana-mana dekat dan berada di pusat kota. Ada alun alunnya dan mesjid Agungnya. Ini yang jadi pertimbangan kami selama ini jika berkunjung ke kota Kudus untuk melihat putri bungsu kami yang mondok di Kota Santri ini.

Alhamdulillah berbincang sebentar dengan resepsionis penginapan, akhirnya kami mendapatkan sebuah motor Mio untuk dirental satu setengah hari hingga Minggu malam. Harganya Rp 150.000. Bagi saya ini cukup fair. Toh motor diantar ke penginapan dan insyaallah esok diambilnya di terminal Jati Kudus saat kami kembali ke Tangerang dengan bus Kalingga Jaya rencananya.


Setelah selesai, sekitar jam 9.30 kami berdua motoran. Menuju Pijar Park yang berjarak sekitar 19 km dari alun alun. Perkiraan waktu tempuh ke sana sekitar 30-40 menit. Jalan kesana akan menanjak karena menuju pinggang gunung Muria. Akan banyak nanti ditemui objek wisata alam maupun wisata sejarah ke arah sana. Karena di ujungnya ada makam Sunan Muria sebagai salah satu  wisata tujuan wisata bagi sebagian ummat Islam. 


Namun kami fokus pada satu titik saja. Pijar Park. Sebelum sampai di lokasi tujuan saya sempat mampir sebentar mengisi BBM motor secukupnya. Walau di tangki motor masih cukup. Namun untuk keberhati-hatian selama berkendara tak ada salahnya juga kita memastikan ketercukupan bahan bakarnya.


Sengaja ke sana dengan kecepatan sedang sampai lirak lirik alam di sisi kiri dan kanan. Melihat objek wisata yang ada sepanjang jalan sekalian spanduk cagub dan cawagub Jateng yang bertebaran sepanjang jalan. Pasti salah satunya nanti akan menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur. "Pertempuran" menarik di Jateng ini. Antara dua jendral purnawirawan TNI dan Polri. Keren Cadas pokoknya.


Jam setengah 11 siang kami sampai di area parkir motor Pijar Park ini. Oh ya, Pijar itu singkatan loh ya. Pinus Kajar. Pinus adalah pepohonan khas di daerah gunung Muria ini. Kajar adalah nama desanya. So lokasi wisata ini disingkat menjadi Pijar Park. 


Ternyata lokasi ini asyik untuk dikunjungi bersama keluarga. Area bermainnya lengkap. Ada Playground, Camping ground nya juga. Bisa juga untuk outbound training, Jeep Trip Adventure ke kawasan gunung Muria dengan paketnya masing-masing, sesuai budget tentunya. Ada villa atau penginapan yang bisa disesuaikan dengan kondisi kantong nya juga. Setara dengan penginapan yang ada di hotel di kota Kudus ataupun Demak dan sekitarnya. So masih masuk akal. Nggak terlalu mahal menurut kami.


Area bermainnya oke punya. Lokasi wisatanya demikian bagus tertata. UMKM yang ada disana melibatkan masyarakat sekitarnya dan harganya itu pun masih terjangkau. Toilet ada di banyak tempat. Sayang mushola yang bagus dalam tahap pembangunan. 


Nuansa ECO PARK nya sangat terasa di sini. Udaranya segar meskipun sepanjang jalan terik mentari sangat kami rasakan. Silakan nikmati video klip yang saya serta di area wisata andalan di kabupaten Kudus ini lebih lengkap. 


Dan pas adzan Zuhur berkumandang kami laksanakan sholat jamak takdim berjamaah di sini. Menunaikan haknya Allah SWT atas kami yang juga kami rasakan sebagai kebutuhan rohani tentunya. Selepas sholat seperti biasanya ada ketenangan bathin yang mengalir.


Sebelum jam 12.30 sesuai target waktu yang kami rencanakan masih sempat saya menikmati secangkir kopi Muria dan seporsi gethuk goreng yang menarik saat melihat menu yang ada di salah satu kantin yang ada. Ada tiga varian isi gethuk di sini. Ada gula aren, coklat dan gula pasir. Secara kasat mata bentuk gethuk goreng ini mirip dengan sala lauak yang ada di ranah Minang. Tetapi yang ini rasanya lebih manis tentunya.

Terasa enak ketika kami mencoba gethuk goreng coklat akhirnya satu porsi lagi kami pesan dengan isian dalamnya gula aren buat Dhifa, si bungsu kami nantinya.


Dan tepat jam 12.30 kami lanjutkan perjalanan ke area parkir motor. Bersiap siap ke Ma'had Riyadhul Qur'an Kudus menjemput anak kami yang sudah kangen untuk dikunjungi. Minggu lalu sesuai jadwal vidcall dengan Bunda nya sampai terbawa mimpi bahwa dia dikunjungi. Dia pengen pulang, kangen rumah katanya. Bundanya paham dan akhirnya Jumat sore kemarin kami berangkat naik bus Muji Jaya dan sampai di Kudus menjelang subuh tadi pagi.


Dan sesuai jadwal Dhifa bisa dijemput jam satu siang dan diizinkan untuk kami bawa semalam bersama kami menginap melepaskan rindunya. Insyaallah setelah ini dia akan semangat kembali mewujudkan impiannya dan keinginan kami menjadi seorang penghafal Al-Quran nantinya. Semoga asa ini terwujud. Hanya kepada Allah SWT kami serahkan segalanya. Ikhtiar telah kami maksimalkan dan anak kami pun penuh semangat selama mondok di sini. Doakan juga ya....


Kudus, 12 Oktober 2024

20.53 WIB.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...