Semoga kisah dibawah menginspirasi dan mencerahkan kita:
#####
Bagaimana seekor kerbau bisa mati hanya karena sebuah *OPINI* :
1. Sehabis pulang dari sawah KERBAU rebahan dikandang dengan wajah lelah dan nafas yang berat. datanglah seekor anjing, kemudian kerbau berkata: "aah..temanku aku sungguh lelah dan kalau boleh besok aku ingin istirahat sehari saja"
2. ANJING pergi dan ditengah jalan dia berjumpa dengan kucing yang sedang duduk di sudut tembok, kemudian anjing berkata: "tadi saya bertemu dengan kerbau dan dia besok ingin beristirahat dulu. sudah sepantasnya sebab boss beri kerjaan terlalu berat"
3. KUCING lalu bercerita kepada kambing: "Kerbau komplain boss kasi kerjaan terlalu banyak dan berat, besok dia tidak mau kerja lagi"
4. KAMBING pun bertemu ayam dan dia berkata: "Kerbau tidak senang bekerja dengan boss lagi , mungkin ada pekerjaan yang lebih baik lagi".
5. AYAM pun berjumpa dengan monyet dan dia bercerita pula: "Kerbau tidak akan kerja lagi untuk boss dan ingin kerja ditempat yang lain".
6. Saat makan malam MONYET bertemu boss dan berkata: "Boss, si kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifat nya dan ingin meninggalkan boss untuk kerja di boss yang lain"
7. Mendengar ucapan monyet sang BOSS MARAH BESAR dan tanpa bertanya terlebih dahulu dia lalu menyembelih si kerbau karena dinilai telah berkhianat kepadanya.
Ucapan asli kerbau: *"SAYA LELAH DAN BESOK INGIN ISTIRAHAT SEHARI"* lewat beberapa teman ucapan ini telah berubah dan sampai kepada sang boss menjadi: "Si kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan ingin meninggalkan bossnya dan kerja pada boss yang lain".
Sangat baik untuk disimak:
1. Adakalanya *SATU PEMBICARAAN BERHENTI* hanya sampai telinga kita saja dan *TIDAK USAH* sampai kepada telinga orang lain.
2. *JANGAN TELAN BULAT-BULAT* atau percaya begitu saja *SETIAP BERITA* atau perkataan orang lain sekalipun itu keluar dari mulut orang terdekat kita. kita perlu *CHECK* and *RECHECK KEBENARANNYA* sebelum bertindak atau memutuskan sesuatu, konfirmasi dan crosscheck kepada sumbernya langsung.
Rabu, 30 Oktober 2019
Selasa, 29 Oktober 2019
Hikmah: Belajar Sabar dan Ikhlas
Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik
Kutanya, "berapa, Pak?"
Sambil nunduk bapak itu jawab "ibu ambil apa saja?"
Aku Spontan mengernyitkan dahi, batinku, "koq Bapaknya kenapa tanya, yah?"
"3 kripik, Pak."
"28 ribu, ibu", jawabnya.
Kusodorkan uang Selembar 100 ribu.
"Berapa ibu uangnya?" masih dalam posisi nunduk nanyanya.
Aku mulai bingung dengan pertanyaannya.
Ku jawab, "100 ribu, Pak."
Bapak itu lalu berdiri meraba² kantong celananya sambil ngeluarin beberapa uang.
Astaga… ternyata bapak itu ada masalah di matanya dan sepertinya gak bisa lihat.
Ya Tuhan.. knp aku tak pandai menjaga Hati.
Maafkan jika hati ini belum mampu berbaik sangka sama org
Bapaknya sibuk membongkar uang yang dikeluarkan dari kantong celananya. Nyaris dikeluarkan semua di tangannya.
Lalu dia bilang, "ambil saja ibu kembaliannya."
Seketika aku terkejut mendengar intruksi dari si Bapak.
Lalu secara spontan aku bertanya pada Bapak itu, "Pak, Klo saya kasih uangnya 10 ribu terus saya ambil kembalinya 50 ribu dari tangan Bapak dan Bapak kan ga tau. Terus nanti bapak rugi dong?"
Lagi lagi jawaban yang sederhana muncul dari mulutnya, *"Tuhan.. Ga Akan Salah Alamat Kasih Rejeki*.. ibu, kalo skrg saya harus rugi, saya yakin Tuhan.. pasti lagi nyiapin Rejeki lain buat saya. Hidup Tak Hanya Sebatas Untung dan Rugi, tapi Hidup Belajar Tentang Sabar dan Ikhlas," katanya.
Ah aku nih memang Sensitif kalau ketemu orang Hebat seperti ini Rasanya gak bisa Nahan Air dari Pelupuk Mata ini. Ooh Tuhan... Gemetar hati ini mendengarnya.
Bapak itu nanya lagi, "sudah ambil kembaliannya belum bu ?"(rada bingung & ragu)..akhirnya
Kujawab, "ga usah, Pak! Hari ini Tuhan.. kirim Rejeki untuk Jenengan."
Bapaknya senyum sambil bilang, "Terima kasih, ibu."
Aku terus Sadar..
Ya Tuhan..ampuni aku.., Maafkan aku..dari setiap Kegelisahan dan keraguan Hati ini akan Rezeki dariMu..
Disaat semakin susahnya mencari Uang..si Bapak penjual cemilan ini dgn Keterbatasan Matanya Tetap Bertahan dan Yakin bahwa Tuhan.. selalu ada Bersamanya..
Hari ini Belajar lagi dari Manusia Hebat penjual cemilan bahwa Hidup *Tak Hanya Sebatas Untung dan Rugi*..
Semoga Alloh Senantiasa Melindungi
Aamiin...🙏🙏🙏
Sumber NN
Hikmah: CANGKANG TELUR
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Semangat Subuh
CANGKANG TELUR
Ada sebuah anekdot lucu tapi mengandung makna yang dalam. Begini lengkapnya. Ada seekor induk ayam yang bertelur pada hari Senin. Anggap saja hanya satu butir telur yang keluar dari rahim sang induk tersebut.
Sebagaimana kebiasaan, telur yang lemah itu dierami oleh sang induk siang dan malam agar kehangatan meresap ke dalam cangkangnya. Setelah beberapa hari, maka menetaslah dari dalam telur itu seekor anak ayam pada hari Sabtu.
Pertanyaannya, jika suatu hari si anak ayam ditanya tentang hari kelahirannya, apakah ia harus menjawab hari Senin atau Sabtu? Di satu sisi, Senin adalah hari pertama ia keluar dari rahim ibunya. Di sisi lain, Sabtu adalah hari pertama ia melihat dunia!
Nah, saudara pasti memiliki jawaban sendiri. Tetapi jika si anak ayam itu meminta pendapat kepada saya, tentu akan saya katakan kepadanya,
"Nak, engkau terlahir dua kali. Pertama ketika engkau dilahirkan dari rahim ibumu. Kedua ketika engkau dilahirkan dari cangkangmu."
Tentu saja kenyataannya tidak akan ada yang hendak bertanya kepada si anak ayam. Karena dalam dunia ayam, tidak ada petugas sensus. Namanya juga anekdot!
Tetapi dalam dunia manusia, adakah orang-orang yang terlahir dua kali? Mungkin. Bisa saja ada orang yang telah terlahir dari rahim ibunya, tetapi hingga hari ini ia belum terbebas dari cangkangnya.
Boleh jadi ada orang-orang yang terkurung dalam kelemahannya sendiri, dan ia belum bisa terbebas hingga hari ini. Seumpama cangkang yang menyelubungi si anak ayam.
Siapa tahu ada di antara kita yang tidak pernah berani memulai tindakan yang sudah direncanakan sejak dahulu. Ia tahu masa depannya tergantung pada pilihannya hari ini, tapi ia tak pernah berbuat apa-apa. Seumpama cangkang yang melingkupi si anak ayam.
Kalau-kalau ada seseorang yang kita kenal, setiap hari dilalui hanya menjalankan rutinitas menunggu malam. Ia tahu hidupnya kosong dari manfaat, tetapi ia tak juga melakukan perbaikan apa-apa. Seumpama cangkang yang merungkup si anak ayam.
Jangan-jangan bahkan diri kita, yang tidak pernah punya kemauan untuk upgrade diri sendiri. Perkaya ibadah, perbanyak ilmu, dan perbagus akhlak, hanya angan-angan kosong tanpa usaha untuk diwujudkan. Seumpama cangkang yang menggelimuni si anak ayam.
Bebaskan dirimu, terlahirlah kembali, dan lihatlah dunia ini untuk pertama kalinya!
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Surat Al-Baqarah : 148)
Selamat menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di masjid, semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin
Semangat Subuh
CANGKANG TELUR
Ada sebuah anekdot lucu tapi mengandung makna yang dalam. Begini lengkapnya. Ada seekor induk ayam yang bertelur pada hari Senin. Anggap saja hanya satu butir telur yang keluar dari rahim sang induk tersebut.
Sebagaimana kebiasaan, telur yang lemah itu dierami oleh sang induk siang dan malam agar kehangatan meresap ke dalam cangkangnya. Setelah beberapa hari, maka menetaslah dari dalam telur itu seekor anak ayam pada hari Sabtu.
Pertanyaannya, jika suatu hari si anak ayam ditanya tentang hari kelahirannya, apakah ia harus menjawab hari Senin atau Sabtu? Di satu sisi, Senin adalah hari pertama ia keluar dari rahim ibunya. Di sisi lain, Sabtu adalah hari pertama ia melihat dunia!
Nah, saudara pasti memiliki jawaban sendiri. Tetapi jika si anak ayam itu meminta pendapat kepada saya, tentu akan saya katakan kepadanya,
"Nak, engkau terlahir dua kali. Pertama ketika engkau dilahirkan dari rahim ibumu. Kedua ketika engkau dilahirkan dari cangkangmu."
Tentu saja kenyataannya tidak akan ada yang hendak bertanya kepada si anak ayam. Karena dalam dunia ayam, tidak ada petugas sensus. Namanya juga anekdot!
Tetapi dalam dunia manusia, adakah orang-orang yang terlahir dua kali? Mungkin. Bisa saja ada orang yang telah terlahir dari rahim ibunya, tetapi hingga hari ini ia belum terbebas dari cangkangnya.
Boleh jadi ada orang-orang yang terkurung dalam kelemahannya sendiri, dan ia belum bisa terbebas hingga hari ini. Seumpama cangkang yang menyelubungi si anak ayam.
Siapa tahu ada di antara kita yang tidak pernah berani memulai tindakan yang sudah direncanakan sejak dahulu. Ia tahu masa depannya tergantung pada pilihannya hari ini, tapi ia tak pernah berbuat apa-apa. Seumpama cangkang yang melingkupi si anak ayam.
Kalau-kalau ada seseorang yang kita kenal, setiap hari dilalui hanya menjalankan rutinitas menunggu malam. Ia tahu hidupnya kosong dari manfaat, tetapi ia tak juga melakukan perbaikan apa-apa. Seumpama cangkang yang merungkup si anak ayam.
Jangan-jangan bahkan diri kita, yang tidak pernah punya kemauan untuk upgrade diri sendiri. Perkaya ibadah, perbanyak ilmu, dan perbagus akhlak, hanya angan-angan kosong tanpa usaha untuk diwujudkan. Seumpama cangkang yang menggelimuni si anak ayam.
Bebaskan dirimu, terlahirlah kembali, dan lihatlah dunia ini untuk pertama kalinya!
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Surat Al-Baqarah : 148)
Selamat menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di masjid, semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin
Senin, 28 Oktober 2019
Rindu si Bungsu
Sabtu, 26 Oktober 2019 lebih kurang jam 4.30 saya sampai di rumah setelah menempuh perjalanan dr Ngawi jam 18.00, jumat menjelang malam kemarin. Dijemput istri dari pool Harapan Jaya. Relatif cepat perjalanan dengan bus Harapan Jaya kali ini. Total 10 jam lebih sudah sampai di Ciledug.Tak berapa lama tiba di rumah, Dhifa si bungsu kami, bangun dan langsung minta gendong. Kolokannya masih ada walau usianya sudah 9 tahun lebih. Tingginya menjulang sudah hampir setelinga saya, sehingga membuat saya agak susah juga menggendongnya. Lumayan lama digendong, selama itu mungkin dia menahan rindu. Puas, dia baru turun dan saya pun segera mengambil wudhu melaksanakan sholat subuh di rumah. Ada sesuatu yang hilang juga rasanya pagi ini.
Setelah sholat subuh dia melanjutkan tidurnya lagi. Sabtu ini dia ada ekskul science dan dokcil, begitu kata istri. Dua aktifitas ini selalu menemani dia di SDI Amalina dalam semester ini.
Menjelang jam 7 saya pun mengantarkan Dhifa ke sekolah. Di jalan dia berpesan agar aku menjemputnya jam 9.30 karena pengen cepat cepat ke rumah Apuknya, melihat dedek bayi yang lahir hari Senin lalu.
Ternyata ketika saya jemput jam yang di nantikan, dia keluar sambil senyum senyum berkata, "Maaf ya yah, aku masih ada tambahan latihan buat ikut lomba Science. Aku lupa bilang sama ayah. Ayah balik lagi ya, nanti jemput aku jam 11."
"Ya nggak apa apa Nak. Nanti ayah balik jemput lagi jam 11", jawab saya.
Alhamdulillah bisa balik ke rumah lagi, sekalian beli makanan kucing yang ternyata sudah habis.
Siangnya jam 11 kami meluncur ke rumah Rini Apuk sesuai janji dengan Dhifa jalan Ceger Raya terus melalui pasar Cipadu. Panasnya pool banget.
Sesampai di rumah Rini, ada Ibu mertua Rini yang datang ketika Rini mau melahirkan kemarin. Alhamdulillah Rini dan Lilik atas izin Allah memiliki anak perempuan juga. Lengkap sudah karena dua pertama cowok, yakni Rizky dan Syafik. Yang baru lahir ini belum dinamai, ada dua pilihan antara Aisyah atau Syofia. Dua duanya nama yang bagus.
Tadinya Dhifa mau nginap di sini, dan begitu yakinnya dia bilang begitu, namun ketika saya pamit mau pulang dan siap siap dengan motor ternyata dia juga sudah siap dengan tas dan sepatu yang sudah terpasang. Hehehee, entah kenapa dia berubah fikiran. Tetapi saya duga karena dia tahu bahwa ayahnya baru pulang dan dia belum puas main dengan saya.
Dan kami pun pulang. Sebelum sampai di rumah kami pun mampir di RM Talago Minang karena dia lapar. Makan kami di sana, saya dengan tuna balado entah kenapa dia memilih tunjang. Biasanya lele plus perkedel. Porsi makannya pun sekarang sama dengan saya, bahkan kadang nambah sepiring nasi putih.
Siang ini benar benar pool panasnya. Dia habiskan dua gelas es teh manis saat makan di rumah makan tersebut.
Kami pun pulang, ternyata istri saya baru juga sampai. Hari ini Nova ada seminar di Alium hotel di Tangerang kota. Akhirnya menjelang sore ini kami nikmati bersama di rumah, bercanda dan bercerita tentang seminggu safar ke Jatim kemarin. Bercerita tentang kakak Dhila dan abang Imamnya dan teman temannya.
Sebenarnya saya berencana balik hari Kamis, tetapi si kakak minta hari Jumat karena dia belum puas. Sempat saya candain, "Kasihan bunda dan adek kak, sudah lama ayah tinggalin". "Biar nanti kakak yang nelpon bunda, yah", jawabnya. Ternyata benar dia telpon bundanya ketika hp nggak ditangan saya dan itu didengar oleh Dhifa.
Tak lama berselang ternyata dia bilang ke bundanya, "Bun, kan ayah bisa pulang ketika kakak balik ke kamarnya".
"Suruh aja bun, ayah pulang cepat", pintanya. Hehehehe, bundanya hanya tertawa.
"Ndak bisa begitu dek. Ayah nggak mau kehilangan kepercayaan dari kakak", begitu bundanya menjelaskan.
Kebersamaan dengan Dhifa berlanjut hingga tidur malam. Dia tidur bersama saya, berusaha dekat dengan saya. Biasanya bundanya yang selalu menemani dia tidur. Namun kali ini dia memilih saya.
Mungkin karena capek dalam perjalanan dengan bis kemarin kami pun tertidur pulas. Tidur lebih awal.
#####
Ternyata tak bertemu seminggu bagi Dhifa adalah sesuatu yang lama. Alhamdulillah, saya bersyukur bisa menjadi ayah yang dirindukan oleh anak anak. Mudah mudah akan seperti ini selalu dan selama.
Ya Allah kabulkan keinginan ku ini. Aamiin ya Rabbal alamin.
Minggu, 27 Oktober 2019
Aku Memiliki Allah Yang Maha Besar
Alkisah seekor rusa betina sedang hamil tua. Ketika mendekati detik-detik kelahirannya, rusa ini pergi ke suatu tempat yang jauh di sisi hutan yang berdekatan dengan sungai.
Tiba-tiba sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !
Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.
Ketika rusa ini menoleh ke kiri, tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya. Saat menoleh ke kanan, ia pun terkejut melihat seekor singa lapar yang siap menerkamnya.
Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :
1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat ke sungai.
Yang jelas bahaya mengancam dari berbagai penjuru dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.
Lalu apa yang harus ia lakukan? Bersedih dan merintih? Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari sementara kondisinya begitu lemah? Atau menyerah pada keadaan?
Rusa pun pasrah. Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.
Lalu apa yang terjadi?
Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu. Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar. Singa malang itu mati seketika. Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut. Pemburu lari mencari tempat berteduh dan tidak fokus lagi kepada rusa tersebut.
Rusa pun melahirkan dengan selamat !
Sahabatku....
Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.
Masalah di tempat bekerja,
Masalah di dalam rumah,
Masalah di jalan,
Masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.
Seakan kamu tidak bisa lagi berbuat apa-apa..
Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa. Biarkan semuanya berjalan apa adanya.
Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Selebihnya serahkan kepada Allah
Karena Allah yang mengatur jalan kehidupanmu..
Saudaraku...
Sungguh Allah menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu pada anaknya. DIA lah yang akan menyelesaikan semua masalahmu dan menyembuhkan luka-lukamu.
Jangan berkata, Ya Allah aku memiliki masalah yang besar…
Tapi katakan, Hei masalah, aku memiliki Allah Yang Maha Besar"
Tetap istiqomah...
Semoga bermanfaat 😉
Tiba-tiba sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !
Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.
Ketika rusa ini menoleh ke kiri, tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya. Saat menoleh ke kanan, ia pun terkejut melihat seekor singa lapar yang siap menerkamnya.
Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :
1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat ke sungai.
Yang jelas bahaya mengancam dari berbagai penjuru dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.
Lalu apa yang harus ia lakukan? Bersedih dan merintih? Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari sementara kondisinya begitu lemah? Atau menyerah pada keadaan?
Rusa pun pasrah. Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.
Lalu apa yang terjadi?
Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu. Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar. Singa malang itu mati seketika. Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut. Pemburu lari mencari tempat berteduh dan tidak fokus lagi kepada rusa tersebut.
Rusa pun melahirkan dengan selamat !
Sahabatku....
Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.
Masalah di tempat bekerja,
Masalah di dalam rumah,
Masalah di jalan,
Masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.
Seakan kamu tidak bisa lagi berbuat apa-apa..
Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa. Biarkan semuanya berjalan apa adanya.
Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Selebihnya serahkan kepada Allah
Karena Allah yang mengatur jalan kehidupanmu..
Saudaraku...
Sungguh Allah menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu pada anaknya. DIA lah yang akan menyelesaikan semua masalahmu dan menyembuhkan luka-lukamu.
Jangan berkata, Ya Allah aku memiliki masalah yang besar…
Tapi katakan, Hei masalah, aku memiliki Allah Yang Maha Besar"
Tetap istiqomah...
Semoga bermanfaat 😉
Sabtu, 26 Oktober 2019
Anak Urang, Anak Awak
Sesampai minggu pagi di Gontor Putri 3 jam 00.45 dini hari, saya titipkan barang di bapenta dan tidur di masjid. Sengaja tidur di sini supaya bisa terbangun menjelang subuh nanti. Maklum karena kecapekan takut saja bablas tidurnya.
Alhamdulillah tidur sejenak tepat jam 03 45 alarm di HP pun berbunyi. Segera bangun dan ke kamar mandi. Setelah berwudhu saya sempatkan sholat sunnah dan menunggu waktu subuh. Selesai menunaikan ibadah subuh saya segera ke warung mbak Kus sekedar mencari secangkir kopi panas dan makan pagi pengisi perut yang terasa dingin.
Sembari makan ada walisantri juga yg menemani obrolan pagi itu. Saya pesankan dua nasi bungkus lengkap dengan sayur dan lauknya buat Dhila dan Firna temannya. Saya yakin Firna akan menyusul ke bapenta karena saya membawa titipan dari Abinya dan sudah mengetahui akan kedatangan saya hari minggu itu.
Di bagian administrasi saya titip nama Fadhilah Az Zahra untuk dipanggilkan sesuai prosedur pondok. Tak lama berselang, betul saja mereka berdua datang.
Dengan Firna memang Dhila sangat dekat ditambah rumah kami pun berdekatan. Kadang kami yang titip ke Abi ataupun Ummi nya bila mereka berkunjung. Sudah seperti saudara saja kami ini.
Makan pagi mereka pun saya siapkan termasuk titipan buat Firna baik paket maupun amplop dari Abinya.
Saya pun tertidur. Entah berapa lama mereka di bapenta, saya nggak ingat. Karena ketika saya bangun mereka tak ada.
Siang mereka datang lagi, saya sudah siapkan rendang dari bundanya Dhila, sekalian Firna mengambil paketnya yang belum dibawa pagi tadi.
#####
Senin pagi saya pamit ke Dhila hendak mengurus penjilidan buku kelas enamnya yang sejak Juni lalu kita titipkan pada pak Wawan, sekaligus melihat M. Imam Abdurrahman. Kebetulan kata si kakak, senin ini Imam tak banyak kegiatan, jadi bisa bertemu dengan agak leluasa. Karena kondisi semua Gontor sama saat ini. Semua ujian serentak dilaksanakan pada hari Selasa.
Berangkat dari Widodaren menjelang jam delapan, saya naik ojeg ke depan gapura GP3. Alhamdulilah, tak lama berselang bus Sumber Selamat yang menuju Surabaya datang. Dulunya bus ini bernama Sumber Kencono yang sering diplesetin orang menjadi Sumber Bencono akibat supir bus ini terkenal ngebut dalam membawa kendaraan, sering menyebabkan kecelakaan. Makanya mereka ganti nama.
Meski sudah ganti nama, tetapi bawaan supirnya tetaplah sama. Saya pikir, awetlah kampas rem bus ini, karena jarang dipake. Hehehe
Sejam lebih saya sampai di terminal Madiun, dengan tiket Rp. 11.000,-. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan mini bus menuju kpta Ponorogo dengan tiket Rp. 10.000,-. Jaraknya dekat, tetapi karena bus yang seukuran "metro mini" suka mengambil penumpang di jalan memakan waktu satu jam lebih juga. Tetapi karena saya tak diburu waktu, enjoy aja.
Dari terminal Seloaji Ponorogo dilanjutkan dengan ojeg. Harga ojeg dr sini ke Gorda Rp 30.000,-. Jarak terdekat tetapi harga beda jauh. Hehehe, wajar juga lah karena sifatnya personal, sedangkan dengan bus kolektif.
#####
Setiba di Gorda kira kira jam 11 siang. Di bapenta segera registrasi kehadiran dan titip pesan pemanggilan untuk ananda Imam dan satu lagi anak dari walisantor dekat rumah titip duit. Tak lama berselang mereka datang saat mau menunaikan ibadah sholat zuhur berjamaah.
Bada zuhur saya makan siang bersama dengan Imam. Dia kaget karena saya datang mendadak. Dan itu diumumkan ketika saat lagi kumpul se rayo. Imam malu, katanya, karena semua orang tahu. Tetapi sejatinya mereka bahagia karena ada "nutrisi baru". Hehehe
Selanjutnya saya ceritakan mengapa mendadak hadir, dia paham bahwa ayah datang karena ada urusan juga buat kakaknya di Gontor Pusat. Saya pamit ke Imam mau ngurus penjilidan buku Dhila, tetapi dia minta nanti malam bisa makan bareng dengan teman teman konsulatnya. Saya sanggupi. Karena sebagian anak anak ini pasti ada keperluan menelpon dengan orang tuanya, dan tentu saja titip transferan uang juga ujung ujungnya. Standar orangtua berkunjung.
Tetapi enaknya di Gorda, kita bisa menjamu anak anak. Agak leluasa, tidak seperti di Gontor Putri yang memang ketat.
Jam dua lewat dikit saya ke Penjilidan pak Suwandi dengan ojeg. Di jalan saya sempat kontak dengan pak Wawan juga. Alhamdulillah tak lama berselang saya ketemu dengan pak Suwandi dan istrinya serta pak Wawan. Saya hanya pengen memastikan sampai dimana proses penjilidan ini dan kapan selesainya. Dan dijanjikan selesai rabu siang. Terlihat memang sedang dikerjakan dalam proses press.

Selesai semuanya, saya segera balik ke Gorda dengan ojeg yang tadi juga. Kebetulan beliau berkenan menunggu. Dijalan saya beli 10 bungkus dawet jabung yang terkenak di Ponorogo ini buat anak anak sekalian cemilannya. Plus buat pak ojeg.
Malam itu kami makan nasi bungkus yang ada di pondok selepas sholat isya. Ada sepuluh anak. Segala cemilan yang ada saya keluar, biar anak anak makan sesuka mereka, sesuai maunya. Ada brownies, kue roma kelapa, dawet jabung, gemblong. HP saya yang jadi sasaran mereka.
Saya pesankan pada mereka jangan dwngan kehadiran saya di sini mengganggu proses belajar mereka. Tetaplah fokua pada ujian yang akan dilaksanakan besok pagi. Jangan temui saya di bapenta pagi hari karena pagi hari waktu terbaik membaca ulang apa yang akan diuji hari itu.
Kemudian kompromi terjadi bahwa mereka akan makan siang bersama keesokannya. Sekalian saya mempersiapkan uang buat anak anak ini, titipan orang tuanya.
#####
Bersambung....
Ditulis di atas Harapan Jaya
Kreo 04.26
Alhamdulillah tidur sejenak tepat jam 03 45 alarm di HP pun berbunyi. Segera bangun dan ke kamar mandi. Setelah berwudhu saya sempatkan sholat sunnah dan menunggu waktu subuh. Selesai menunaikan ibadah subuh saya segera ke warung mbak Kus sekedar mencari secangkir kopi panas dan makan pagi pengisi perut yang terasa dingin.Sembari makan ada walisantri juga yg menemani obrolan pagi itu. Saya pesankan dua nasi bungkus lengkap dengan sayur dan lauknya buat Dhila dan Firna temannya. Saya yakin Firna akan menyusul ke bapenta karena saya membawa titipan dari Abinya dan sudah mengetahui akan kedatangan saya hari minggu itu.
Di bagian administrasi saya titip nama Fadhilah Az Zahra untuk dipanggilkan sesuai prosedur pondok. Tak lama berselang, betul saja mereka berdua datang.
Dengan Firna memang Dhila sangat dekat ditambah rumah kami pun berdekatan. Kadang kami yang titip ke Abi ataupun Ummi nya bila mereka berkunjung. Sudah seperti saudara saja kami ini.
Makan pagi mereka pun saya siapkan termasuk titipan buat Firna baik paket maupun amplop dari Abinya.
Saya pun tertidur. Entah berapa lama mereka di bapenta, saya nggak ingat. Karena ketika saya bangun mereka tak ada.
Siang mereka datang lagi, saya sudah siapkan rendang dari bundanya Dhila, sekalian Firna mengambil paketnya yang belum dibawa pagi tadi.
#####
Senin pagi saya pamit ke Dhila hendak mengurus penjilidan buku kelas enamnya yang sejak Juni lalu kita titipkan pada pak Wawan, sekaligus melihat M. Imam Abdurrahman. Kebetulan kata si kakak, senin ini Imam tak banyak kegiatan, jadi bisa bertemu dengan agak leluasa. Karena kondisi semua Gontor sama saat ini. Semua ujian serentak dilaksanakan pada hari Selasa.
Berangkat dari Widodaren menjelang jam delapan, saya naik ojeg ke depan gapura GP3. Alhamdulilah, tak lama berselang bus Sumber Selamat yang menuju Surabaya datang. Dulunya bus ini bernama Sumber Kencono yang sering diplesetin orang menjadi Sumber Bencono akibat supir bus ini terkenal ngebut dalam membawa kendaraan, sering menyebabkan kecelakaan. Makanya mereka ganti nama.
Meski sudah ganti nama, tetapi bawaan supirnya tetaplah sama. Saya pikir, awetlah kampas rem bus ini, karena jarang dipake. Hehehe
Sejam lebih saya sampai di terminal Madiun, dengan tiket Rp. 11.000,-. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan mini bus menuju kpta Ponorogo dengan tiket Rp. 10.000,-. Jaraknya dekat, tetapi karena bus yang seukuran "metro mini" suka mengambil penumpang di jalan memakan waktu satu jam lebih juga. Tetapi karena saya tak diburu waktu, enjoy aja.
Dari terminal Seloaji Ponorogo dilanjutkan dengan ojeg. Harga ojeg dr sini ke Gorda Rp 30.000,-. Jarak terdekat tetapi harga beda jauh. Hehehe, wajar juga lah karena sifatnya personal, sedangkan dengan bus kolektif.
#####
Setiba di Gorda kira kira jam 11 siang. Di bapenta segera registrasi kehadiran dan titip pesan pemanggilan untuk ananda Imam dan satu lagi anak dari walisantor dekat rumah titip duit. Tak lama berselang mereka datang saat mau menunaikan ibadah sholat zuhur berjamaah.
Bada zuhur saya makan siang bersama dengan Imam. Dia kaget karena saya datang mendadak. Dan itu diumumkan ketika saat lagi kumpul se rayo. Imam malu, katanya, karena semua orang tahu. Tetapi sejatinya mereka bahagia karena ada "nutrisi baru". Hehehe
Selanjutnya saya ceritakan mengapa mendadak hadir, dia paham bahwa ayah datang karena ada urusan juga buat kakaknya di Gontor Pusat. Saya pamit ke Imam mau ngurus penjilidan buku Dhila, tetapi dia minta nanti malam bisa makan bareng dengan teman teman konsulatnya. Saya sanggupi. Karena sebagian anak anak ini pasti ada keperluan menelpon dengan orang tuanya, dan tentu saja titip transferan uang juga ujung ujungnya. Standar orangtua berkunjung.
Tetapi enaknya di Gorda, kita bisa menjamu anak anak. Agak leluasa, tidak seperti di Gontor Putri yang memang ketat.Jam dua lewat dikit saya ke Penjilidan pak Suwandi dengan ojeg. Di jalan saya sempat kontak dengan pak Wawan juga. Alhamdulillah tak lama berselang saya ketemu dengan pak Suwandi dan istrinya serta pak Wawan. Saya hanya pengen memastikan sampai dimana proses penjilidan ini dan kapan selesainya. Dan dijanjikan selesai rabu siang. Terlihat memang sedang dikerjakan dalam proses press.

Selesai semuanya, saya segera balik ke Gorda dengan ojeg yang tadi juga. Kebetulan beliau berkenan menunggu. Dijalan saya beli 10 bungkus dawet jabung yang terkenak di Ponorogo ini buat anak anak sekalian cemilannya. Plus buat pak ojeg.
Malam itu kami makan nasi bungkus yang ada di pondok selepas sholat isya. Ada sepuluh anak. Segala cemilan yang ada saya keluar, biar anak anak makan sesuka mereka, sesuai maunya. Ada brownies, kue roma kelapa, dawet jabung, gemblong. HP saya yang jadi sasaran mereka.
Saya pesankan pada mereka jangan dwngan kehadiran saya di sini mengganggu proses belajar mereka. Tetaplah fokua pada ujian yang akan dilaksanakan besok pagi. Jangan temui saya di bapenta pagi hari karena pagi hari waktu terbaik membaca ulang apa yang akan diuji hari itu.
Kemudian kompromi terjadi bahwa mereka akan makan siang bersama keesokannya. Sekalian saya mempersiapkan uang buat anak anak ini, titipan orang tuanya.
#####
Bersambung....
Ditulis di atas Harapan Jaya
Kreo 04.26
Jumat, 25 Oktober 2019
Safar Seminggu ke GONTOR
Alhamdulillah tuntas sudah kewajiban dan segala amanah saya sore ini. Jalan jalan yang panjang selama seminggu ini, dari GP3 ke Gorda dan GONTOR pusat.Membantu apa yg bisa dibantu sesama walsantor, baik yang pernah tatap muka maupun yang tidak. Baik di Gorda maupun GP3 terlebih anak anak kami yang kelas enam saat ini.
Ada banyak cerita, suka maupun duka.
*****
Beberapa duka yang saya sampaikan disini semoga jadi catatan bagi kita semuanya agar kita mengingatkan anak anak kita bisa selesau tepat pada waktunya.Jangan mereka pulang karena terpaksa dijemput orangtuanya. Kelas enam GP3 hingga saat ini sudah tiga orang yang pulang. Padahal hanya beberapa bulan tertinggal. Semuanya karena melanggar disiplin. Baik oleh anaknya maupun karena kelengahan orang tuanya. Skorsing setahun.
Kelas empat di GP3 sepasang pulang terpaksa. Begitu juga kelas lima di Gontor pusat lima orang. Terpaksa pulang takkan kembali lagi.
Sudah tahun tahun terakhir. Sangat disayangkan. Untuk itu senantiasa mari doakan dan ingatkan anak anak kita agar selalu patuh dan taat akan aturan pondok.
*****
Sukanya selama seminggu ini, saya merasa bisa membantu para walsantor yang menitipkan pesan maupun transferan semaksimal saya bisa. Mengajak anak anak makan bersama sesama Tangerang Raya plus Serang dan Cilegon khususnya yang di Gorda.
Senang hati saya melihat kebersamaan mereka semuanya dalam musim ujian kali ini maupun menjelang perpulangan mereka nanti.
*****
Ditulis di atas bus Harapan Jaya di terminal kota Sragen.Naik di terminal Gendingan jam kira kira jam 18.00 menuju Tangerang diantar oleh ojeg dari Gontor Putri 3 jam 17.10
Langganan:
Postingan (Atom)
TAM (4) Menuju Pijoan Jambi
Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...
-
Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rek...
-
Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua ...
-
Alhamdulillah, jam 2 siang tadi kami sudah memulai perjalanan safar bersama PO TAM. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di terminal P...

