Tulisan seorang teman yang baru pulang umroh.
*****
Di Masjidil Haram, sehabis menyelesaikan tawaf, saya segera menepi mencari tempat strategis yang berhadapan langsung dengan Multazam untuk berdoa. Saya menemukan tempat yang kebetulan lowong di hadapan Ka'bah. Lalu saya bersimpuh dan memanjatkan do'a sambil menunggu waktu subuh menjelang.
Saat itulah saya melihat seorang lelaki hitam legam dari benua Afrika datang dan langsung mengambil tempat di samping kanan.
Terlintas dalam hati, "Dengan potongan perawakan dan tampang seperti ini, lelaki kulit hitam ini pasti orang kasar yang tidak berpendidikan".
Lalu sebagaimana kebiasaan di masjid ketika duduk bersebelahan dalam satu jama'ah, saya menyalaminya.
Tiba-tiba ia bertanya dengan Bahasa Inggris yang bagus sekali tentang asal saya. "Saya dari Nigeria, kamu dari mana?". Saya bilang, saya berasal dari Indonesia.
"Kenapa orang indonesia suka sekali berusaha mencium batu Hajar Aswad"?, tanyanya memulai percakapan.
"Mungkin karena cinta. Kabah adalah rumah Tuhan, dan Hajar Aswad adalah batu yang pernah dicium Rasulullah. Maka mencium Hajar Aswad adalah refleksi cinta orang Indonesia terhadap Tuhan dan Rasulnya", jawab saya sekenanya.
"Apakah orang Indonesia juga bertingkah laku seperti itu terhadap cinta Allah SWT yang dianugerahkan kepada mereka?", katanya.
"Maksud anda? Cinta Allah SWT seperti apa yang dianugerahkan kepada kami"?, jawab saya dengan bingung.
Lalu lelaki hitam itu menjawab, "Jika Allah Ta'ala menganugerahkan kalian istri, anak-anak dan orang tua yang masih hidup, Itulah wujud cinta Allah kepada kalian."
"Pertanyaan saya", katanya. "Apakah orang-orang Indonesia, berusaha dengan keras dan gigih mencurahkan kasih sayang terhadap anak, istri dan orang tua mereka yang masih hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala sebagaimana mereka berusaha mencium Hajar Aswad ?" katanya.
"Jika terhadap batu saja refleksi cinta kalian begitu dahsyat, lebih lagi terhadap makhluk Allah yang telah diamanahkan kepada kalian?", tegasnya lagi.
Saya tercekat, hilang akal dan tak mampu berkata lagi...
Apalagi saat ia bercerita bahwa ia menyelesaikan PhD-nya di AS namun memilih pulang membesarkan anak-anaknya yang 6 orang agar mampu menjadi muslim yang baik.
Maka hancurlah semua persangkaan saya terhadap orang ini. Allah membayarnya langsung tunai saat itu juga.
Setelah shalat subuh, sebelum berpisah ia memberi aasehat yang sampai saat ini masih teringat di kepala saya...
Keberhasilan haji atau umroh kita, mabrur atau tidaknya, dinilai bukan pada saat kita menyelesaikan ritual-ritual haji/umroh seperti, seperti "tawaf" atau bahkan mencium "Hajar Aswad", namun dinilai pada saat kita kembali ke keluarga dan lingkungan.
Apakah kita mampu menunaikan amanah-amanah, anugerah-anugerah, kasih sayang Allah Ta'ala kepada kita dengan bersungguh-sungguh, bersusah payah, mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai, pekerjaan dan masyarakat.
Saya genggam tangannya, saya memeluknya dan menyampaikan terima kasih. 😭
Saat dia pergi diantara kerumunan orang, saya faham, inilah cara Allah Taala menegur saya dan menyampaikan makna mencium Hajar Aswad.
Oleh karena itu mari kita bersama belajar untuk menjadikan orang tua kita, istri, anak-anak, saudara-saudara serta sahabat dll sebagai ladang amal ibadah kita dan bukan merupakan sumber gosip atau ladang dosa-dosa kita.
Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْئًا ۖ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri". (QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)
Senin, 03 Februari 2020
Sabtu, 01 Februari 2020
Cerpen: Hutang
PINJEM DUIT
"Di., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti " Ari yang seorang kabag pagi - pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.
"Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya." Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.
"Mah, Ari pinjem uang 400 ada gak?"
"Ada pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah"
"Katanya nanti sore dibalikin mah"
"Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini."
Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.
Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati. Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.
"Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah" istri Ardi bercerita pada suaminya.
"Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini" Ardi mencoba menenangkan istrinya.
Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.
"Sarapannya cuma pake tahu pah" istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
"Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak"
"Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?"
"Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar."
Ardi mengeluarkan sepeda motornya ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
"Kenapa pah? Rewel motornya?"
"Bensin abis mah!"
Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.
"Pah, ini buat beli bensin." Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
"Nanti kalo dedek minta jajan gimana?"
"Masih ada lima ribu kok"
Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.
"Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang"
"Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!" Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.
Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.
"Mama, dedek mau bakso!"
"Nanti ya, tunggu papah pulang"
"Dedek maunya sekarang!"
Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.
Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.
"Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa."
Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
"Ini mbak baksonya!" Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.
"Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!"
"Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya"
"Makasih bang"
Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.
"Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng"
Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..
"Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?"
"Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah." Ardi membelai lembut kepala sang istri.
Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.
Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.
"Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan"
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.
"Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?" Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.
"Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana" Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.
Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.
Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya...
####
Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..
Kerja keras itu biasa,merasa cukup itu baru luar biasa...
#copas
"Di., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti " Ari yang seorang kabag pagi - pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.
"Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya." Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.
"Mah, Ari pinjem uang 400 ada gak?"
"Ada pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah"
"Katanya nanti sore dibalikin mah"
"Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini."
Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.
Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati. Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.
"Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah" istri Ardi bercerita pada suaminya.
"Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini" Ardi mencoba menenangkan istrinya.
Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.
"Sarapannya cuma pake tahu pah" istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
"Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak"
"Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?"
"Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar."
Ardi mengeluarkan sepeda motornya ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
"Kenapa pah? Rewel motornya?"
"Bensin abis mah!"
Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.
"Pah, ini buat beli bensin." Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
"Nanti kalo dedek minta jajan gimana?"
"Masih ada lima ribu kok"
Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.
"Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang"
"Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!" Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.
Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.
"Mama, dedek mau bakso!"
"Nanti ya, tunggu papah pulang"
"Dedek maunya sekarang!"
Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.
Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.
"Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa."
Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
"Ini mbak baksonya!" Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.
"Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!"
"Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya"
"Makasih bang"
Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.
"Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng"
Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..
"Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?"
"Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah." Ardi membelai lembut kepala sang istri.
Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.
Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.
"Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan"
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.
"Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?" Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.
"Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana" Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.
Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.
Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya...
####
Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..
Kerja keras itu biasa,merasa cukup itu baru luar biasa...
#copas
Jumat, 31 Januari 2020
Hikmah: Maafkan Anakmu Ibu
Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’, ia tak suka bila ibunya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini....
"Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !
“Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata : "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri.
Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ibunya berpesan :
“Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri....”
ibunya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara....
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang.
Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah.
Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ.
Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis.
Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. ...
Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.
Peringatan ibunya terngiang di telinganya :
"Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?"
Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" ...
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.
Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong....
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain.
Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis....
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata :
"Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?"
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan ?" tanya sang boss lalu melanjutkan :
"Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut...
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon...
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu...
Anda satu-satunya yang melakukan.
Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”
Hatinya terharu, dia ingat ibunya....
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya.
Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya...
Kekesalan dan kemarahannya pada ibunya seketika sirna...
.....Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......
ibu ! Ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kepada ibunya, dia akan ajak ibunya melihat tempat kerjanya...
Dia pulang ke rumah dengan bahagia...
Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya"...
Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita...
Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..
Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya...
Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan...
Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan...
Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta....
"Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !
“Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata : "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri.
Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ibunya berpesan :
“Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri....”
ibunya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara....
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang.
Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah.
Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ.
Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis.
Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. ...
Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.
Peringatan ibunya terngiang di telinganya :
"Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?"
Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" ...
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.
Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong....
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain.
Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis....
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata :
"Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?"
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan ?" tanya sang boss lalu melanjutkan :
"Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut...
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon...
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu...
Anda satu-satunya yang melakukan.
Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”
Hatinya terharu, dia ingat ibunya....
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya.
Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya...
Kekesalan dan kemarahannya pada ibunya seketika sirna...
.....Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......
ibu ! Ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kepada ibunya, dia akan ajak ibunya melihat tempat kerjanya...
Dia pulang ke rumah dengan bahagia...
Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya"...
Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita...
Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..
Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya...
Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan...
Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan...
Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta....
Cerpen: Malaikat Bercadar by Irene Radjiman
Sepenggal kisah :
Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.
Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan "ukhti" sebab arti kata ukhti adalah "saudara perempuan" bukan ?
"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti." Tanya Inara pada suaminya. Sang suami melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?" Suaminya balas bertanya.
"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."
"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"
"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."
Sejurus suami Inara terdiam. Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang. Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi "saya bukan ustadzah." Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".
Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya. Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya. Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah. Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.
"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !" tunjuk Inara.
"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"
"Iya."
Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu. Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil dibuka. Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi. Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang. Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. Inara turun dari mobil sambil tersenyum. Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.
"Assalamualaikum mbak." sapa Inara
"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara. Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.
"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak." Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu. Wanita itu tidak segera menerimanya.
"Apa ini mbak ?" Tanyanya pada Inara.
"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."
"Apakah mbak tahu siapa saya ?'
"Memangnya mbak siapa ?"
"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu." Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur. Inara mendekat, merengkuh pundaknya. Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.
"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.
Inara melangkah menuju mobilnya. Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.
***********
Namaku Amidah. Aku janda yang memiliki 4 orang anak. Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras. Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.
Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya. Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian mushola didekat kontrakanku. Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.
Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun. Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta perjam. Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 - 200rb permalam. Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan. Yah... segitulah harga tubuhku. Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur dibelakang kontrakanku.
Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb. Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan. Anak itu kulihat bersembunyi dibalik semak-semak. Tapi malang, bocah itu ketahuan. Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak. Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu. Reflek aku berlari kearah mereka.
"Stop ! ada apa ini !"
"Dia maling !" kata si laki-laki
"Iyaa... setan kecil ini sudah maling dagangan kami !" si wanita tak kalah sengit.
"Memangnya dia sudah maling apa ?" tanyaku
"Heh setan maling keluarkan barang curianmu !" bentak si wanita. Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan. Mungkin isinya nasi dan lauk.
"Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar kedalam sudah dimaling sama setan ini !" si wanita itu kembali menimpali.
"Maaf bu, adik saya lagi sakit dirumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya." kuperhatikan bocah itu. Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3. Aku tiba-tiba teringat anakku. Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.
"Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?"
"20rb !" Jawabnya ketus. Kuambil uang 20rb semata wayangku dibalik dompet. Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu. Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.
"Awas ya kalo kamu berani maling lagi !" Katanya mengancam, sambil berlalu.
"Terimakasih tante." Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.
"Jangan mencuri lagi ya dek. Semoga adikmu segera sembuh." Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.
Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku. Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.
"Ya Tuhan, daun pepaya dibelakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?"
Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti dihadapanku. Mataku berbinar penuh harapan. Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah kebelakang. Kulihat seorang pria tampan dibalik kemudi, namun disampingnya kulihat ada malaikat bercadar. Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat. Amplop itu ia berikan padaku. Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah. Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang didalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman. Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
"Ya Tuhan... benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !"
Aku langsung bergegas pulang. Didalam kamar kubuka isi amplop coklat itu. Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu. Li... lima... ju... juta.... !!! 5 JUTA !!! Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!! Ya Allah !! benarkah ini !! Ampuni aku ya Allah !! Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20rb, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu. Ahh siapakah bocah kurus kumal itu ? Aku juga tak tahu.
*********
Aku Muhammad Yahya. Usiaku 12 tahun. Sejak aku duduk dibangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku. Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku. Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam. Ibu selalu berkata padaku,
"Yahya mengajilah yang rajin. Allah maha penyayang. Do'akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah." Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku menangis. Setelah menidurkan adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir. Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu. Setelah itu aku membaca Qur'an sambil menunggu ibu pulang. Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu qatamkan Al-Quran. Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur'an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami ber-4.
"Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya."
Entah bagaimana cara Allah menjawab do'a - do'aku. Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini. Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna. Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok. Kini kami telah memiliki warung sembako. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengecap rizki halal. Ketika kutanya, darimanakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako ? ibu menjawab, "Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar."
Aku mengernyitkan kening.
"Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu."
*************
Sore itu selepas ashar
"Ustadzah Riska !" Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak. Ustadzah Riska menoleh.
"Aku Inara." Inara langsung mendekat.
"Oohh bunda Inara ! kok bisa ada disini, habis darimana ?"
"Aku mencari rumah wanita ini." Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp. Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Tuhan yang tahu.
"Ooohhh ini bu Amidah. Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?"
"Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?"
"Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ? dia ingin mengakhiri dunia kelamnya. Saya sarankan untuk membuka warung sembako."
"Uang 5 juta ?" Inara mengulang
"Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta."
"Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?"
"Sebab anak - anak bu Amidah mengaji pada saya. Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar."
"Malaikat bercadar ?"
"Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara. Oh ya sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda." Hati Inara tersentak. Ada yang melonjak disudut hatinya. Matanya berkaca - kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska. Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya. Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.
"Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini. Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam."
"Baik bunda, insyaa Allah."
Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
"Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat."
Kita tidak pernah tahu ada tangisan apa dibalik tawa. Kita juga tidak pernah tahu ada kebahagiaan apa dibalik tangisan.
Barokallahu fiikum.
NB : Tak perlu bertanya ini nyata atau tidak. Anggap saja ini kisah fiksi. Bila ada kesamaan nama dan peristiwa itu hanyalah kebetulan saja.
Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.
Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan "ukhti" sebab arti kata ukhti adalah "saudara perempuan" bukan ?
"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti." Tanya Inara pada suaminya. Sang suami melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?" Suaminya balas bertanya.
"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."
"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"
"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."
Sejurus suami Inara terdiam. Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang. Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi "saya bukan ustadzah." Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".
Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya. Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya. Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah. Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.
"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !" tunjuk Inara.
"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"
"Iya."
Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu. Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil dibuka. Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi. Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang. Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. Inara turun dari mobil sambil tersenyum. Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.
"Assalamualaikum mbak." sapa Inara
"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara. Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.
"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak." Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu. Wanita itu tidak segera menerimanya.
"Apa ini mbak ?" Tanyanya pada Inara.
"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."
"Apakah mbak tahu siapa saya ?'
"Memangnya mbak siapa ?"
"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu." Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur. Inara mendekat, merengkuh pundaknya. Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.
"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.
Inara melangkah menuju mobilnya. Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.
***********
Namaku Amidah. Aku janda yang memiliki 4 orang anak. Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras. Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.
Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya. Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian mushola didekat kontrakanku. Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.
Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun. Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta perjam. Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 - 200rb permalam. Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan. Yah... segitulah harga tubuhku. Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur dibelakang kontrakanku.
Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb. Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan. Anak itu kulihat bersembunyi dibalik semak-semak. Tapi malang, bocah itu ketahuan. Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak. Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu. Reflek aku berlari kearah mereka.
"Stop ! ada apa ini !"
"Dia maling !" kata si laki-laki
"Iyaa... setan kecil ini sudah maling dagangan kami !" si wanita tak kalah sengit.
"Memangnya dia sudah maling apa ?" tanyaku
"Heh setan maling keluarkan barang curianmu !" bentak si wanita. Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan. Mungkin isinya nasi dan lauk.
"Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar kedalam sudah dimaling sama setan ini !" si wanita itu kembali menimpali.
"Maaf bu, adik saya lagi sakit dirumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya." kuperhatikan bocah itu. Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3. Aku tiba-tiba teringat anakku. Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.
"Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?"
"20rb !" Jawabnya ketus. Kuambil uang 20rb semata wayangku dibalik dompet. Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu. Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.
"Awas ya kalo kamu berani maling lagi !" Katanya mengancam, sambil berlalu.
"Terimakasih tante." Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.
"Jangan mencuri lagi ya dek. Semoga adikmu segera sembuh." Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.
Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku. Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.
"Ya Tuhan, daun pepaya dibelakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?"
Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti dihadapanku. Mataku berbinar penuh harapan. Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah kebelakang. Kulihat seorang pria tampan dibalik kemudi, namun disampingnya kulihat ada malaikat bercadar. Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat. Amplop itu ia berikan padaku. Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah. Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang didalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman. Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
"Ya Tuhan... benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !"
Aku langsung bergegas pulang. Didalam kamar kubuka isi amplop coklat itu. Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu. Li... lima... ju... juta.... !!! 5 JUTA !!! Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!! Ya Allah !! benarkah ini !! Ampuni aku ya Allah !! Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20rb, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu. Ahh siapakah bocah kurus kumal itu ? Aku juga tak tahu.
*********
Aku Muhammad Yahya. Usiaku 12 tahun. Sejak aku duduk dibangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku. Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku. Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam. Ibu selalu berkata padaku,
"Yahya mengajilah yang rajin. Allah maha penyayang. Do'akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah." Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku menangis. Setelah menidurkan adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir. Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu. Setelah itu aku membaca Qur'an sambil menunggu ibu pulang. Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu qatamkan Al-Quran. Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur'an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami ber-4.
"Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya."
Entah bagaimana cara Allah menjawab do'a - do'aku. Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini. Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna. Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok. Kini kami telah memiliki warung sembako. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengecap rizki halal. Ketika kutanya, darimanakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako ? ibu menjawab, "Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar."
Aku mengernyitkan kening.
"Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu."
*************
Sore itu selepas ashar
"Ustadzah Riska !" Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak. Ustadzah Riska menoleh.
"Aku Inara." Inara langsung mendekat.
"Oohh bunda Inara ! kok bisa ada disini, habis darimana ?"
"Aku mencari rumah wanita ini." Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp. Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Tuhan yang tahu.
"Ooohhh ini bu Amidah. Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?"
"Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?"
"Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ? dia ingin mengakhiri dunia kelamnya. Saya sarankan untuk membuka warung sembako."
"Uang 5 juta ?" Inara mengulang
"Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta."
"Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?"
"Sebab anak - anak bu Amidah mengaji pada saya. Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar."
"Malaikat bercadar ?"
"Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara. Oh ya sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda." Hati Inara tersentak. Ada yang melonjak disudut hatinya. Matanya berkaca - kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska. Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya. Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.
"Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini. Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam."
"Baik bunda, insyaa Allah."
Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
"Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat."
Kita tidak pernah tahu ada tangisan apa dibalik tawa. Kita juga tidak pernah tahu ada kebahagiaan apa dibalik tangisan.
Barokallahu fiikum.
NB : Tak perlu bertanya ini nyata atau tidak. Anggap saja ini kisah fiksi. Bila ada kesamaan nama dan peristiwa itu hanyalah kebetulan saja.
Padang, I’ll be back someday….
Tulisan lama saya di majalah kantor, TEMBIKAR, majalah Host National Staff di British International School saat itu.
Ini adalah perdana saya menulis ulang trip perjalanan sahabat saya, Cahyo Sakti bersama keluarganya saat mereka liburan ke Padang Sumatra Barat.
Ditulis 30 Mei 2011 dan diterbitkan di majalah tsb pada bulan Juni 2011. Sengaja judulnya saya ganti dengan yang di majalah dulu. Yang lainnya sama, termasuk photo photo yang ada.
*****
Sumatera barat adalah salah satu wilayah di negeri ini yang sangat lengkap sebagai tujuan wisata. Mulai dari wisata Budaya. Sejarah, Pendidikan, Kuliner, Kesehatan, Alam maupun wisata khusus lainnya seperti MIFAN Water Park atau pun sejenis Water Boom plus outboundnya, semuanya ada di propinsi ini. Semuanya tersebar di hampir semua DATI II yang ada.
Ditulis 30 Mei 2011 dan diterbitkan di majalah tsb pada bulan Juni 2011. Sengaja judulnya saya ganti dengan yang di majalah dulu. Yang lainnya sama, termasuk photo photo yang ada.
*****
Sumatera barat adalah salah satu wilayah di negeri ini yang sangat lengkap sebagai tujuan wisata. Mulai dari wisata Budaya. Sejarah, Pendidikan, Kuliner, Kesehatan, Alam maupun wisata khusus lainnya seperti MIFAN Water Park atau pun sejenis Water Boom plus outboundnya, semuanya ada di propinsi ini. Semuanya tersebar di hampir semua DATI II yang ada.
Menuju Sumatera barat bisa
ditempuh dengan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta yang berbagai
airline yang ada dengan harga tiket yang sangat variatif, Frekuesi penerbangan
menuju Bandara International Minangkabau (BIM) sangat ramai mulai dari subuh
hingga malam hari. Lamanya penerbangan dari Soekarno Hatta menuju BIM lebih
kurang 1.20 menit. Saat akan ‘landing” di BIM kita akan terpesona dengan pemandangan
pantai yang sangat kontras dengan suasana pegunungan, kombinasi biru dan hijau
yang sangat semukau. Beberapa pulau kecil yang terdapat di sekitar kota padang
pun terlihat.
Semakin dekat dengan bandara,
jika cuaca cerah kita akan melihat dengan jelas Padang Kota Tercinta. Begitu
juga dengan bukit kapur tempat beroperasinya pabrik semen tertua di Indonesia,
Semen Padang, dan kampus Universitas Andalas yang kedua nya berada di antara
hamparan pegunungan bukit barisan.
Perjalanan dari BIM untuk
menjelajahi sumatera barat bisa dimulai dari mana saja tergantung pada pilihan
kita. Namun menggunakan mobil carteran sekelas Xenia dan Avansa, masih dalam tarif yang
sangat murah. Rata-rata Rp. 250.000,- per hari. Hal ini bisa kita booking
jauh-jauh hari sebelum mendarat di ranah minang.
Namun bila ada saudara yang
siap mengantarkan kemana kita pergi tentu hal ini akan menghemat dalam
pengeluaran. Seperti yang kami rasakan ketika pulang pertama kali setelah
sekian tahun menikah dengan gadis keturunan minang.
Liburan 4 hari di awal februari
nan lalu sengaja aku alihkan ke sumatera barat bersama seluruh anggota
keluarga. Selepas dari BIM kami dijemput oleh keluarga untuk memulai
petualangan, Malam pertama kami menginap di Pangeran Beach Hotel di Kota Padang . Hotel yang
terdapat di pinggir pantai padang
ini merupakan salah satu hotel yang bisa direkomendasikan di antara beberapa
hotel lainnya. Suasana yang menghadap langsung ke laut lepas, samudera Indonesia,
merupakan pilihan yang tepat bagi yang suka dengan “sunset” dan “sunrise”. Hotel
yang berada di tengah kota Padang
memudahkan kita untuk menjelajahi wisata kuliner yangtersebar di seantero kota atau mengnjungi
objek wisata seperti Hutan Raya Bung Hatta di Indarung dan Pantai Air Manis
tempat legendanya si Malin Kundang. Tempat berbelanja untuk oleh-oleh yang
terkenal di Padang bisa ditemui di Cristien
Hakim, Nipah, dan Mahkota yang hampir semua orang tahu di kota
Padang ini.
Setelah melepas penat
semalaman, esoknya kami meluncur ke Danau Maninjau via kabupaten pariaman.
Sepanjang perjalanan yang kami tempuh mengingatkan akan dahsyatnya gempa yang
terjadi pada 30 september 2009 nan lalu. Bekas reruntuhan bangunan sepanjang
perjalanan masih terlihat. Namun pesona pantai yang terhampar di sepanjang
jalan yang kami lalui dapat mengobati kegundahan tersebut. Begitu juga dengan
wisata kuliner yang terkenal dengan aneka olahan ikan yang ada di sepanjang
pantai ini. Di antara rumah makan yang terkenal di kawasan ini adalah Rumah
Makan Gulai Ikan Pauah.
Memasuki Danau maninjau, seolah
mata tak puas – puas nya menatap kawasan danau terbesar di Sumatera Barat ini,
Danau yang dikelilingi oleh jejeran bukit barisan yang terjal sepanjang sisinya
sangat memukau. Penginapan yang kami tuju disini adalah Nuansa Resort Hotel.
Di Maninjau ini kita akan
ditemani oleh aneka masakan ikan air tawar, daging dan sayuran sesuai dengan
pilihan selera masing-masing. Makan apapun disini dijamin enak, atau bahkan
lebih enak. Udara yang dingin, apalagi menjelang malam hingga pagi hari
membutuhkan kita akan tambahan jaket yang esktra tebal.
Jika ada kesempatan bisa
melakukan tambahan “exercise” di Maninjau ini dengan bersepeda mengelilingi semua
sisi danau ini. Jalan yang sangat bagus, udara yang sangat segar, penduduk yang
ramah akan memberi kesan tersendiri. Butuh waktu lebih kurang 5/6 jam untuk
mengelilingnya dengan kecepatan yang standar. Jika ingin mengelilingi danau ini
dengan sepeda sebaiknya dilakukan di pagi hari. Namun bila tidak mau capek,
acara keliling danau ini bisa dilakukan dengan sepeda motor dengan kisaran
waktu 1.5 atau 2 jam. Baik sepeda ataupun sepeda motor bisa disewa di sekitar
pasar Maninjau dekat Hotel yang kami tempati.
Di area penginapan hotel juga
tersedia kapal-kapal yang bisa mengantarkan kita untuk menjelajahi danau dengan
harga sewa yang sangat terjangkau. Dari tengah danau kita dibuat takjub dengan
pesona alam yang luar biasa ini. Kemana mata memandang yang terlihat adalah
jajaran bukit barisan yang ditumbuhi pepohonan nan hijau. Di beberapa titik tertentu bekas longsoran
akibat gempa 2009 masih terlihat.
Ke Bukittinggi
Selepas check out dari hotel
tujuan kami adalah Bukittingi, kota wisata, kota tujuan utama bagi
semua pelancong dari berbagai daerah ke Sumatera Barat ini. Hal yang perlu
diperhatikan sebelum melanjutkan perjalanan adalah check kesiapan fisik
kendaraan.
Menuju Bukittingi dari Maninjau
ini kita akan melewati tanjakan yang panjang, penuh dengan tikungan yang tajam.
Area ini lah yang terkenal dengan nama kelok 44. Bagi yang suka mabuk jalanan
alias mual, disarankan untuk minum obat antimabuk sebelum berangkat.
Namun semuanya ini akan
terbalas dengan segala kepuasan ketika sudah mencapai setengah perjalanan.
Karena pemandangan yang sangat indah pun akan membuat mata seakan tidak mau
lepas melihat pesona danau maninjau dari ketinggian. Jika sempat parkirkan
mobil barang sejenak untuk mengambil view yang ada. Ada rumah makan yang terdapat di pinggang
bukit ini yang menjadi tempat rehat, sambil menikmati panorama alam yang jarang
kita temui di tempat lain. Daerah yang terkenal untuk melihat keindahan danan
Maninjau dari ketinggian adalah “Ambun Pagi”.
Sesampai di Bukittinggi kami
langsung menuju hotel yang udah di booking jauh hari sebelumnya, yakni hotel
the Hills. Hotel yang jaraknya “sepelemparan
batu” dari jam gadang ini bener bener ruarrr biasaaaa. Pemandangan dari
jendela yang menghadap ke gunung singgalang sangat eksotis. Belum lagi
arsitektur dan interior nya yang bernuansa minang dicampur dengan unsur
kolonial. Wahhhh bener bener keren deh, apalagi buat yang honeymoon. Hotel ini
muanteepp banget.
Ngarai
Sianok
Kemeriahan
Jam Gadang di Malam Hari
Pasarnya
pun terkenal ramai, terlebih ketika hari Rabu dan Sabtu, semua orang tumpah
disana. Selain kota wisata, bukittingi juga
adalah kota
perdagangan. Ada Pasar Atas, Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuning yang terkenal. Para
pedagang dari Jambi, Riau, Sumatera Utara bahkan Malaysia pun ada disini. Jadi
selain plesiran, bagi yang suka shopping, bukittinggi ini bisa juga menjadi
salah satu tujuan.
Bagi
yang suka bordiran dan sulaman terawang, disini dengan sangat mudah di cari. Di
pasar atas ini harga mukena, kain, dan kebaya bordir sangat miring. Untuk baju
koko sulaman terawang bisa ditawar seharga Rp75.000 saja. Bakal kain yang sudah
dibordir bisa didapat dengan harga Rp 50.000 saja (untuk atasan) dan Rp 100.000
untuk stelan (tergantung jenis kainnya juga).
Untuk
urusan perut alias yang senang dengan wisata kuliner, Bukittinggi TOP Banget dah. Yan g mesti didatangi adalah warung nasi Kapau yang
ada di LOS LAMBUANG (Lambuang=perut). Hehehe, ini tempatnya wiskul terkenal,
dimana orang padang
berada pasti ingat dengan tempat ini.
Hai kawan! Kalau orang Padang pulang dari rantau, tak makan disini
berarti belum pulang kampong, menteri aja makan disini booo. Rasa, bentuk
penyajian dan suasananya tidak akan pernah anda temui di tempat lain. Makanan disajikan seperti tangga (bertingkat). Pedagangnya berdiri di atas,
dengan cekatan mengambilkan makanan yang jauh dari jangkauannya memakai sendok
yang begitu panjang (+/- 2 meter). Kita duduk di bangku panjang di depan
hidangan sambil menengadah melihat keunikannya. Jangan lupa anda bisa memesan
cindua langkok (cendol dicampur emping beras pulut) yang terletak disamping
nasi kapau oleh penjual yang berbeda.
Di Pasar Ateh kita bisa belanja oleh-oleh: Kerupuk Sanjai, Kacang
Tojin, Rendang Telur, dendeng yang siap goreng, aneka ikan kering dan makanan
khas minang lainnya. Ataupun bisa mampir di Sanjai Mintuo, Nitta sebagai tempat
membeli buah tangan.
Back to Jakarta
Setelah puas menikmati suasana
bukittinggi, menjelang pulang ke Jakarta kami
teruskan perjalanan menuju kota padang panjang.
Di padang
panjang, kota serambi mekah, kita bisa mampir di
Minang Fantasi
(Mifan) di Padang
Panjang, area yang selalu ramai di akhir minggu dengan aneka
permainan air dan outbound. Atau bisa mampir di sate Mak Syukur atau sate Saiyo
yang terkenal, atau makan di RM Datuak yang semuanya ada di dekat area Mifan
tersebut.
Selepas itu kita bisa istirahat
sejenak di Lembah Anai dengan menikmati panorama AIA TAJUN, air terjun.
Lingkungan Lembah Anai sangat mengagumkan. Hutan tropis
yang lebat yang mengesankan dan merupakan hutan lindung. Didasarnya mengalir
Sungai Batang Anai dengan airnya yang bening dan kelihatan sebuah air terjun
setinggi 40 meter dekat sekali dengan jalan raya.
Selepas lembah anai ini ada satu lagi maskot wisata yang mesti kita
singgahi yakni Anai Resort Golf
Course dan MALIBO ANAI tempat wisata dan penginapan
yang sangat menarik seperti daerah puncak, bogor . Namun suasana di sini sangat lah
tenang dan jauh dari keramaian. Dan bagi yang senang golf, tempat ini salah
satu event yang sering di pakai di sumatera barat.
Anai Resort terletak 550 m di atas permukaan laut, merupakan Golf Course
terbaik di Sumatera Barat yang berstatus Internasional dengan 18 hole, dirancang oleh Designer Lapangan Golf
International Thomas dan Perret. Berbagai fasilitas terdapat di lokasi bungalow
seperti kolam renang alami dan restoran.
Perjalanan yang panjang, yang
sangat menyenangkan bagi kami sekeluarga. Memang benar bahwa sumatera barat
adalah tempat salah satu tujuan wisata yang lengkap. Dengan hanya menggelilingi
sebagian kecil, mungkin sepertiga bagian dari Sumatera Barat dalam liburan 4
hari tiga malam februari yang lalu memberi keyakinan bahwa daerah ini adalah
syurga bagi segala wisata yang ada.
Rabu, 29 Januari 2020
Hikmah: Anak Sumpahin Papanya Cepat Mati
CERITA DARI RUANG KONSELING NOVITA TANDRY
"ANAK SUMPAHIN PAPANYA CEPAT MATI"
Seorang pria muda dikirim Mamanya untuk konseling dengan saya beberapa waktu yang lalu, usianya 27 tahun,
lulusan S2, kata Mamanya ;
- tidak punya daya juang,
- bangun jam 2 siang,
- makan siang jam 3 yang diantar ke kamar,
- main games sampai malam terkadang tidak mandi dan sudah berlangsung selama 16 bulan.
Ketika ditanyakan sebut saja, namanya TJ, kog gitu hidupnya?
Jawabnya :
Laah.. apa yang salah?
Kenapa saya harus kerja capek2?
Bangun jam 6 pagi pulang jam 8 malam,
gaji Rp 5 juta, potong bensin dan tol plus makan siang,
sisa setiap bulan hanya Rp 1 juta!
Belum lagi kerjaan yang gak kunjung habisnya,
dimarahin Boss,
lebih baik tinggal di rumah sambil nunggu Papa MATI!
Melototlah mata saya!
Hah?! Kenapa begitu?
Iyalah, Papa sudah kena sakit jantung dan sudah pasang cincin beberapa buah,
kolestrol, trigliserida dan darah tinggi,
rasanya gak lama lagi mati deh 😞 ,
klu mama sich kayaknya panjang umur deh,
soalnya jarang sakit, jadiii klu Papa meninggal,
saya kan anak tunggal,
hartanya bisa dibagi dua sama Mama.
Lalu saya tanya,
kamu gak berasa berdosa atau salah ngomong seperti itu? Hmmm.. gak juga yah
soalnya Papa kan suka ngomong sejak dulu,
sejak saya kecil,
Papa sibuk kerja buat kamu,
cari uang buat kamu sekolah tinggi dan semua milik Papa buat kamu nantinya, kalau Papa meninggal nanti.
Yaahh daripada cape2 kerja,
saya tunggu Papa mati aja yah, trus hartanya nanti bagi dua sama Mama,
saya sich.. sambung pria jangkung ini, gak mau nikah yah, cewe2 pada matre, yang ada harus bikin prenuptial dan pasti mereka gak mau karena saya jelek,
uang warisan didepositokan di bank aja, saya ambil bunganya aja, trus nikmati hidup begini aja sampai mati,
gak mau kayak hidup Papa yang kayaknya kog gak hepi banget yah kerja keras terus dari muda.
Naah mulailah tugas saya sebagai seorang Psikolog Anak dan Remaja (walaupun yang ini bukan anak atau remaja lagi) untuk mendengar, merasakan, memberikan advis, menguatkan dan berbicara ttg makna hidup, kronos dan kairos untuk beberapa bulan ke depan yaah dan yang tentunya melibatkan kedua orang tuanya 😉
Pesan saya...
Kalau gak mau disumpahin mati ama anak sendiri,
mulailah bicara makna hidup ke anak2mu yah, parents...
jangan melulu nanyanya
- sudah bikin PR belum,
- sudah mandi belum?
- Sudah sikat gigi belum?
- Nilai ulangan dapat berapa? - Bimbel dan bimbel lagi,
Mulai tanyakanlah tentang perasaan mereka, makanan yg dimakan, seru gak tadi main basketnya, siapa teman paling dia sukai, guru yang terbaik, guru terlucu, guru yang galak, kenapa suka menggambar, dll.
Pelajari apa kesukaannya,
kapan matanya berbinar mengamati sesuatu, lontarkan pertanyaan apa, mengapa, di mana, bagaimana, kemana, dan bagaimana?
Sentuh hatinya bahwa kalian HADIR dalam hidupnya.
Dan semuanya butuh investasi WAKTU BERKUALITASMU bukan WAKTU SISA-SISAMU!
Ingat yah... anak mengeja kata cinta bukan dengan C-I-N-T-A Tapi dengan
W-A-K-T-U!
Happy Parenting!
The hardest job you will ever love ❤
Novita Tandry
Psikolog Anak dan Remaja
NTO Nurture Teach Observe
Childcare and Early Education
Sumber: https://www.facebook.com/1428387130/posts/10222601820060714/?d=n
"ANAK SUMPAHIN PAPANYA CEPAT MATI"
Seorang pria muda dikirim Mamanya untuk konseling dengan saya beberapa waktu yang lalu, usianya 27 tahun,
lulusan S2, kata Mamanya ;
- tidak punya daya juang,
- bangun jam 2 siang,
- makan siang jam 3 yang diantar ke kamar,
- main games sampai malam terkadang tidak mandi dan sudah berlangsung selama 16 bulan.
Ketika ditanyakan sebut saja, namanya TJ, kog gitu hidupnya?
Jawabnya :
Laah.. apa yang salah?
Kenapa saya harus kerja capek2?
Bangun jam 6 pagi pulang jam 8 malam,
gaji Rp 5 juta, potong bensin dan tol plus makan siang,
sisa setiap bulan hanya Rp 1 juta!
Belum lagi kerjaan yang gak kunjung habisnya,
dimarahin Boss,
lebih baik tinggal di rumah sambil nunggu Papa MATI!
Melototlah mata saya!
Hah?! Kenapa begitu?
Iyalah, Papa sudah kena sakit jantung dan sudah pasang cincin beberapa buah,
kolestrol, trigliserida dan darah tinggi,
rasanya gak lama lagi mati deh 😞 ,
klu mama sich kayaknya panjang umur deh,
soalnya jarang sakit, jadiii klu Papa meninggal,
saya kan anak tunggal,
hartanya bisa dibagi dua sama Mama.
Lalu saya tanya,
kamu gak berasa berdosa atau salah ngomong seperti itu? Hmmm.. gak juga yah
soalnya Papa kan suka ngomong sejak dulu,
sejak saya kecil,
Papa sibuk kerja buat kamu,
cari uang buat kamu sekolah tinggi dan semua milik Papa buat kamu nantinya, kalau Papa meninggal nanti.
Yaahh daripada cape2 kerja,
saya tunggu Papa mati aja yah, trus hartanya nanti bagi dua sama Mama,
saya sich.. sambung pria jangkung ini, gak mau nikah yah, cewe2 pada matre, yang ada harus bikin prenuptial dan pasti mereka gak mau karena saya jelek,
uang warisan didepositokan di bank aja, saya ambil bunganya aja, trus nikmati hidup begini aja sampai mati,
gak mau kayak hidup Papa yang kayaknya kog gak hepi banget yah kerja keras terus dari muda.
Naah mulailah tugas saya sebagai seorang Psikolog Anak dan Remaja (walaupun yang ini bukan anak atau remaja lagi) untuk mendengar, merasakan, memberikan advis, menguatkan dan berbicara ttg makna hidup, kronos dan kairos untuk beberapa bulan ke depan yaah dan yang tentunya melibatkan kedua orang tuanya 😉
Pesan saya...
Kalau gak mau disumpahin mati ama anak sendiri,
mulailah bicara makna hidup ke anak2mu yah, parents...
jangan melulu nanyanya
- sudah bikin PR belum,
- sudah mandi belum?
- Sudah sikat gigi belum?
- Nilai ulangan dapat berapa? - Bimbel dan bimbel lagi,
Mulai tanyakanlah tentang perasaan mereka, makanan yg dimakan, seru gak tadi main basketnya, siapa teman paling dia sukai, guru yang terbaik, guru terlucu, guru yang galak, kenapa suka menggambar, dll.
Pelajari apa kesukaannya,
kapan matanya berbinar mengamati sesuatu, lontarkan pertanyaan apa, mengapa, di mana, bagaimana, kemana, dan bagaimana?
Sentuh hatinya bahwa kalian HADIR dalam hidupnya.
Dan semuanya butuh investasi WAKTU BERKUALITASMU bukan WAKTU SISA-SISAMU!
Ingat yah... anak mengeja kata cinta bukan dengan C-I-N-T-A Tapi dengan
W-A-K-T-U!
Happy Parenting!
The hardest job you will ever love ❤
Novita Tandry
Psikolog Anak dan Remaja
NTO Nurture Teach Observe
Childcare and Early Education
Sumber: https://www.facebook.com/1428387130/posts/10222601820060714/?d=n
Cerpen: Majikan Cantik
Cerpen: Majikan Cantik
Setelah lelah bekerja, mereka memutuskan duduk di bawah pohon kelapa yang rindang, menikmati menu makan siang.
Makanan sudah dibuka, kini waktunya makan. Sambil menikmati sajian di hadapan mereka pun berbincang-bincang.
"Sepertinya saya mulai menyukai istri Bapak," ucap Andika di hadapan majikannya.
"Kok, bisa. Sejak kapan?" Sambil mengunyah makanan, pria berbadan subur itu memandang lawan bicaranya.
"Sejak ketika saya melihatnya beberapa bulan terakhir, di mata saya ibu Ratna semakin cantik saja. Rasanya ada yang beda di dada saya, setiap melihatnya hati saya seperti runtuh." Andika menghentikan suapannya ke mulut. Sepertinya dia hanya ingin fokus membicarakan hal ini dari hati ke hati dengan majikan.
Sembari memandang Sang majikan, dia kembali melanjutkan. "Saya menyukai semua yang ada di ibu Ratna, bahkan sesuatu yang mungkin tidak bapak sukai-saya justru sebaliknya, begitu menyukainya." Andika mengatakan itu tanpa rasa bersalah. Malah kembali mengunyah makanan yang disimpan di temboloknya yang besar.
"Minum?" tawar sang majikan. Andika pun menyambar gelas yang disodorkan.
Matahari siang cukup terik. Mereka masih asik duduk dalam satu tikar, di bawah riap sinar matahari yang sesekali menerobos masuk ketika nyiur melambai disentuh angin.
Setelah meletakkan gelas minumannya, pria gendut itu pun menimpali. "Jangan asal bicara kamu. Dia itu istriku. Sebaiknya kamu cari perempuan lain saja," jawab pak Marta. Masih dalam kondisi biasa, tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalau begitu, mulai sekarang biar saya saja yang mencintainya. Tidak tega rasanya hati saya, melihat wanita cantik seperti ibu Ratna, tapi Bapak sia-siakan."
Pak Marta malah tertawa mendengar ucapan Andika, kemudian berkata, "Sejak kapan kamu mulai berani mendikte saya? Saya itu majikan kamu. Kamu tidak patut berbicara seperti itu, atau kamu mau saya suruh kerja dari pagi sampai malam tanpa makanan?"
Andika menggaruk kepalanya. Kemudian menjawab, "Kalau begitu tolong jaga dan rawat Ibu Ratna atau saya--"
"Apa?" Pak Marta memotong ucapannya sambil tersenyum. Dia berusaha meraih puncak kepala Andika. Namun Andika keburu menunduk, berusaha mengelak dari telapak lebar pak Marta.
"Apa alasan kamu sampai sebegitunya mencintai majikan perempuanmu?"
"Dia wanita yang baik, sering sekali memperhatikan saya, mengajak bicara saya ketika bapak sedang pergi ke rumah janda. Cobalah bapak pikir, kurang apa lagi ibu Ratna ini. Dia wanita cantik, anggun, baik, penurut dan penyabar," ucap Andika, tidak lupa menggaruk punggung dan kepala. Kebiasaan buruk, yang sulit dihilangkannya. Ingin sekali ia mengubahnya, terutama ketika sedang bicara dengan majikan wanitanya. Tapi semua sia-sia.
"Ada lagi yang lain?" tanya sang majikan, sambil memajukan wajah setengah hasta, dan manarik satu alisnya ke atas.
"Saya menyayanginya dengan tulus, ceraikan saja kalau memang bapak sudah tidak cinta. Biar saya yang menikahinya. Saya yakin bisa memberinya nafkah lahir bathin."
"Haahaa ... untuk satu pisang yang kamu makan saja kamu mendapatkannya dari saya, bagaimana mungkin?" Pak Marta kembali tertawa. Kali ini lebih keras.
"Jangan terlalu meremehkan saya. Bukannya terbalik, ya. Justru bapak yang makan dari jerih payah saya memanjat kelapa beribu pohon tiap bulannya. Masih mau membantah?"
Pak marta terdiam. Apa yang dikatakan Andika semuanya benar. Tanpa Andika mungkin dia tidak punya nama di Desanya.
Dengan nada merendah pak marta menjawab," Maafkan saya. Kamu benar, tanpa kamu saya bukan apa-apa," jawabnya lesu.
"Kalau begitu, boleh jika saya menikah dengan ibu Ratna?"
"Boleh, saja. Kenapa tidak?"
"Bapak serius, kapan?" tanya Andika dengan raut wajah girang.
"Nunggu kamu sampai jadi manusia. Bukan monyet lagi."
Mendengar jawaban dari sang majikan, Andika tertunduk lesu. Baru sadar kalau cintanya yang begitu besar hanya isapan jempol belaka. Hanya mimpi yang tak pernah menjadi nyata.
-
End.
Ditulis: Hamam Rudin
Setelah lelah bekerja, mereka memutuskan duduk di bawah pohon kelapa yang rindang, menikmati menu makan siang.
Makanan sudah dibuka, kini waktunya makan. Sambil menikmati sajian di hadapan mereka pun berbincang-bincang.
"Sepertinya saya mulai menyukai istri Bapak," ucap Andika di hadapan majikannya.
"Kok, bisa. Sejak kapan?" Sambil mengunyah makanan, pria berbadan subur itu memandang lawan bicaranya.
"Sejak ketika saya melihatnya beberapa bulan terakhir, di mata saya ibu Ratna semakin cantik saja. Rasanya ada yang beda di dada saya, setiap melihatnya hati saya seperti runtuh." Andika menghentikan suapannya ke mulut. Sepertinya dia hanya ingin fokus membicarakan hal ini dari hati ke hati dengan majikan.
Sembari memandang Sang majikan, dia kembali melanjutkan. "Saya menyukai semua yang ada di ibu Ratna, bahkan sesuatu yang mungkin tidak bapak sukai-saya justru sebaliknya, begitu menyukainya." Andika mengatakan itu tanpa rasa bersalah. Malah kembali mengunyah makanan yang disimpan di temboloknya yang besar.
"Minum?" tawar sang majikan. Andika pun menyambar gelas yang disodorkan.
Matahari siang cukup terik. Mereka masih asik duduk dalam satu tikar, di bawah riap sinar matahari yang sesekali menerobos masuk ketika nyiur melambai disentuh angin.
Setelah meletakkan gelas minumannya, pria gendut itu pun menimpali. "Jangan asal bicara kamu. Dia itu istriku. Sebaiknya kamu cari perempuan lain saja," jawab pak Marta. Masih dalam kondisi biasa, tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalau begitu, mulai sekarang biar saya saja yang mencintainya. Tidak tega rasanya hati saya, melihat wanita cantik seperti ibu Ratna, tapi Bapak sia-siakan."
Pak Marta malah tertawa mendengar ucapan Andika, kemudian berkata, "Sejak kapan kamu mulai berani mendikte saya? Saya itu majikan kamu. Kamu tidak patut berbicara seperti itu, atau kamu mau saya suruh kerja dari pagi sampai malam tanpa makanan?"
Andika menggaruk kepalanya. Kemudian menjawab, "Kalau begitu tolong jaga dan rawat Ibu Ratna atau saya--"
"Apa?" Pak Marta memotong ucapannya sambil tersenyum. Dia berusaha meraih puncak kepala Andika. Namun Andika keburu menunduk, berusaha mengelak dari telapak lebar pak Marta.
"Apa alasan kamu sampai sebegitunya mencintai majikan perempuanmu?"
"Dia wanita yang baik, sering sekali memperhatikan saya, mengajak bicara saya ketika bapak sedang pergi ke rumah janda. Cobalah bapak pikir, kurang apa lagi ibu Ratna ini. Dia wanita cantik, anggun, baik, penurut dan penyabar," ucap Andika, tidak lupa menggaruk punggung dan kepala. Kebiasaan buruk, yang sulit dihilangkannya. Ingin sekali ia mengubahnya, terutama ketika sedang bicara dengan majikan wanitanya. Tapi semua sia-sia.
"Ada lagi yang lain?" tanya sang majikan, sambil memajukan wajah setengah hasta, dan manarik satu alisnya ke atas.
"Saya menyayanginya dengan tulus, ceraikan saja kalau memang bapak sudah tidak cinta. Biar saya yang menikahinya. Saya yakin bisa memberinya nafkah lahir bathin."
"Haahaa ... untuk satu pisang yang kamu makan saja kamu mendapatkannya dari saya, bagaimana mungkin?" Pak Marta kembali tertawa. Kali ini lebih keras.
"Jangan terlalu meremehkan saya. Bukannya terbalik, ya. Justru bapak yang makan dari jerih payah saya memanjat kelapa beribu pohon tiap bulannya. Masih mau membantah?"
Pak marta terdiam. Apa yang dikatakan Andika semuanya benar. Tanpa Andika mungkin dia tidak punya nama di Desanya.
Dengan nada merendah pak marta menjawab," Maafkan saya. Kamu benar, tanpa kamu saya bukan apa-apa," jawabnya lesu.
"Kalau begitu, boleh jika saya menikah dengan ibu Ratna?"
"Boleh, saja. Kenapa tidak?"
"Bapak serius, kapan?" tanya Andika dengan raut wajah girang.
"Nunggu kamu sampai jadi manusia. Bukan monyet lagi."
Mendengar jawaban dari sang majikan, Andika tertunduk lesu. Baru sadar kalau cintanya yang begitu besar hanya isapan jempol belaka. Hanya mimpi yang tak pernah menjadi nyata.
-
End.
Ditulis: Hamam Rudin
Langganan:
Postingan (Atom)
TAM (4) Menuju Pijoan Jambi
Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...
-
Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rek...
-
Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua ...
-
Alhamdulillah, jam 2 siang tadi kami sudah memulai perjalanan safar bersama PO TAM. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di terminal P...


