Lahir Tanpa Operasi
Saya yang sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Neng Susi, sempat jengkel sekali. Levelnya tingkat dewa. Jengkel pada petugas RS. Jengkel pula (astaghfirullaah) pada Mama.
Pikir saya, kenapa pula Mama pake acara maksa Neng Susi tadi sarapan. Coba kalau Mama tidak maksa. Pasti sekarang, begitu tiba, bisa langsung dioperasi.
Sempat pula saya membatin, kenapa tadi ketika ditanya, Neng Susi menjawab terlalu jujur. Pake mengaku segala kalau sebelum ke RS sudah sarapan. Bilang kek, belum. Atau kalau tidak mau bohong, cukup diam saja.
Aduhhh, benar-benar saya jengkel dan kalut karenanya.
Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Harus ikut prosedur. Itu juga untuk kepentingan suksesnya operasi. Untuk keselamatan Neng Susi juga.
Selama waktu menunggu itu, menit demi menit, situasi berubah dari tegang menjadi sangat menegangkan. Lagi dramatis. Rasa khawatir plus kalut pun tak terkira.
Bagaimana tidak, di atas tempat tidur IGD itu, Neng Susi terus mengalami kontraksi.
Makin sering.
Terus pula mengerang kesakitan. Sampai-sampai saya harus beberapa kali memanggil perawat jaga.
Saya agak sedikit lega, ketika Dokter Wulan -yang akan menangani operasinya menyempatkan datang untuk melihat kondisi Neng Susi. Mungkin atas permintaan perawat jaga. Mungkin perawat jaga tidak tahan dengan desakan saya. Sehingga merasa perlu meminta dokter Wulan yang sedang di ruang operasi, datang. Melihat kondisi Neng Susi begitu, dokter Wulan langsung memerintahkan kateterisasi dan pencukuran.
Sumpah, di situ saya baru tau, kalau orang mau dioperasi harus terlebih dahulu dikateter.
Pencukuran selesai.
Kateterisasipun selesai.
Masalah tak selesai.
Rasa kuatir dan tegang tak usai.
Neng Susi malah makin sering kontraksi dan mengerang kesakitan. Saya hanya bisa berdiri. Memegangi. Tepatnya, dipegangi. Dengan kuat. Sangat kuat. Setiap kontraksi, pegangan dan erangannya makin kuat. Lengan saya sampai terasa sakit dan ngilu dipegangi kuat-kuat begitu.
15 menit setelah dikateter dan dicukur, dalam erangan kontraksinya, Neng Susi mengatakan seperti ingin buang air besar. Saya spontan berteriak pada perawat jaga. Yang langsung mendatangkan seorang bidan. Jalan lahir diperiksa. Tak sabar saya bertanya:
"Bagaimana, Suster? "
Dijawab:
"Sudah pembukaan 3".
Tapi belum boleh mengejan. Posisi kepala si calon bayi belum pas.
Panggilan dari ruang operasi tak juga kunjung tiba.
Tegang.
Makin tegang.
Tenang sebentar.
Kontraksi lagi.
Mengerang lagi.
Lalu tiba-tiba Neng Susi mengeluh ingin buang air besar lagi. Untuk kedua kalinya. Makin kuat tanganku dipegang. Kali ini saya diam. Tepatnya bingung. Tak tau lagi mau berbuat apa.
Tapi ketika pada kontraksi dan erangan berikutnya, keluhan mau buang air itu muncul untuk ketiga kalinya, spontan saya berteriak panik ke perawat jaga.
Yang diteriaki tergesa melihat. Memeriksa dan tanpa ba bi bu, langsung memberikan arahan.
Rupanya proses persalinan sedang terjadi. Hanya dengan sekali mengejan.
Bluuuus.
Keluarlah si bayi. Hampir-hampir masih dalam selaputnya. Yang biasa disebut tembuni itu.
Masih teringat dengan jelas. Bagaimana mata bayi itu, sejenak melongo. Nyaris seperti kebingungan. Sempat pula Mama nyeletuk:
"Kenapa tidak menangis?".
Tapi dalam hitungan detik setelah itu, terdengarlah suara bayi menangis.
Begitu keras.
Begitu indah.
Begitu merdu.
Lega.
Sungguh lega.
Levelnya tingkat segala dewa.
Saya sempat melirik jenis kelaminnya.
Perempuan.
Tak terlalu kaget. Sesuai hasil USG yang dilakukan hampir tiap bulan sebelumnya.
Hampir bersamaan dengan suara tangis merdu si Dede (panggilannya selama dalam kandungan), pintu kamar operasi terbuka. Seorang petugas memanggil nama Neng Susi. Rupanya giliran operasi telah tiba.
Tapi kalau sebelumnya saya yang tidak bisa memaksa, ini kali perawatnya yang tidak bisa. Si Dede sudah keburu lahir. Tak mungkin dimasukin lagi ke dalam perut. Saya sampai bergurau ke Neng Susi,
"Wah si Dede seperti tau aja keinginan ayahnya".
Ketika ibunya sedang dibersihkan untuk persiapan operasi, saya memang sempat berseloroh. Mungkin juga setengah mengeluh.
"Perut bunda bakal gak mulus lagi nieh. Bakalan ada streching luka bekas operasi".
Tapi lebih dari itu, setelah si Dede lahir, saya juga tak tahan mengungkapkan kesan pada bundanya.
"Si Dede seperti buru-buru sekali mau keluar ya !! Agaknya dia tidak mau bundanya dioperasi. Seperti tau aja keinginan ayahnya".
Dan ini memang kesan sangat kuat yang saya rasakan. Terhadap seluruh proses persalinan anak ketiga kami ini. Begitu cepat dan tak terduga. Tak lebih dari tiga setengah jam sejak pertama kami tiba di IGD RSIA Nasana Pura. Kami tiba di situ sekitar jam 08.45. Tepat jam 11.15, si Dede sudah lahir.
Normal.
Tak sempat lagi dioperasi.
Tak terduga sama sekali. Bila kemudian, ternyata, semua urut-urutan kejadian ini, mulau dsri kontraksi di penghujung malam itu, sampai proses kelahiran si Dede yang begitu cepat, merupakan bagian dari suatu skenario Ilahiah. Skenario yang sangat rapi. Yang kesemuanya memberi peluang bagi kami untuk lolos. Dari terjangan maut. Hanya beberapa jam sesudahnya.
Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-3-by.html
Rabu, 05 Februari 2020
Selasa, 04 Februari 2020
Kisah_Nyata_Bencana_Lembah_Palu (part 1) by Hayyun Zsavana
Kontraksi
Ketika itu. Kami bertujuh. Saya, Mama, Neng Susi Susilawati (istri saya), anak pertama dan kedua saya, Priyanka Amanda Savana (Inka) dan Priyanggara Zuhaynanda Zavana (Rangga), Widi (adik bungsu saya), dan bayi kami yangg baru lahir.
Tepat ketika musibah gempa, tsunami dan likuifaksi itu. Kami berada di RSIA Nasana Pura. RS Ibu dan Anak ini terletak di bagian paling Timur wilayah kelurahan Petobo. Sebuah kelurahan di wilayah Kota Palu. Terletak di arah paling Selatan Kota. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sigi. Berbatasan langsung pula dengan Kelurahan Kawatuna. Tempat kami sekeluarga tinggal. Ujung paling Selatannya.
Kelurahan Kawatuna sendiri, merupakan batas paling Timur wilayah Kota Palu. Berupa dataran tinggi. Dengan sebagian pemukiman berada di perbukitan. Setidaknya berbatasan langsung dengan bukit-bukit kecil dan gunung.
Di Kawatuna ini terdapat Bulu (Gunung) Masomba. Sebuah gunung yang legendaris. Bagi masyarakat Kota Palu. Berbentuk serupa layar perahu. Ada legenda tentang gunung ini. Legenda yang sangat terkenal. Di seantero jazirah Sulawesi. Legenda Sawerigading. Yang kisahnya mirip Nabi Nuh itu. Melayari seluruh pulau dengan sebuah perahu. Bersama seekor anjing. Bernama si Buri.
Perahu itu akhirnya bersandar di suatu tempat. Di lembah Kaili. Palu. Yang kini tempat itu berbentuk gunung serupa layar perahu. Itulah Bulu Masomba. Gunung yang dipercaya sebagai layar perahu Sawerigading. Tokoh yang menurut legenda melayari seluruh perairan Sulawesi. Hingga perahunya terdampar di lembah Kaili.
Dari Bulu Masomba inipula nama Pasar Masomba di Kelurahan Tatura Kota Palu, berasal. Pasar ini berada tepat di samping Mall Tatura Palu. Yang ikut ambruk hampir tak berbentuk akibat bencana itu.
Posisinya yang di dataran tinggi, membuat Kawatuna ketika itu, menjadi salah satu titik pengungsian paling aman. Sekaligus juga menjadi salah satu jalur evakuasi utama korban tewas dari kelurahan Petobo dan Sigi. Ke posko utama Tim Evakuasi.
Waktu itu. Hampir tiap saat. Siang dan malam. 24 jam tiada henti. Ambulance evakuasi melewati kampung halaman saya ini
Kelurahan Petobo. Di mana RSIA Nasana Pura berada. Tempat istri saya melahirkan anak ketiga kami. Benar-benar menerima dampak sangat parah. Akibat gempa berkekuatan 7,4 SR. Di Jum'at petang. Jelang maghrib itu.
Betapa tidak, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, punahnya sebuah kelurahan. Dari ujung Timur hingga Barat. Utara ke Selatan. Sejauh mata memandang. Hanyalah gunungan lumpur dan reruntuhan rumah penduduk. Berikut ribuan penghuninya.
Pepohonan dan hewan-hewan yang beberapa hari lalu masih diternakkan warga, kini semua tinggal gunungan lumpur. Benar-benar amblas rata dengan tanah. Punah tak bersisa. Tinggal puing-puing tak berbentuk.
Di ujung paling Barat kelurahan yang kini hampir punah lebih dari 50 persennya inilah, kami berada ketika guncangan besar itu terjadi.
Keberadaan kami di RSIA tersebut, terkait dengan kondisi Neng Susi. Yang sedang siap-siap hendak melahirkan.
Sesuai janji dengan dokter Wulan sehari sebelumnya, Neng Susi sedianya akan menjalani operasi cesar pada hari Sabtu di RS ini.
Untuk kepentingan itu, mestinya kami baru berada di RS pada Jum'at sore. Setidaknya 12 jam sebelum tindakan operasi. Tentu untuk persiapan operasi itu sendiri.
Namun jadwal masuk RS, ternyata harus dipercepat. Di malam Jum'at itu. Sekira pukul 01.00 WITA. Tanpa disangka. Neng Susi sudah merasakan kontraksi. Jelang subuh kontraksinya semakin ajeg. Setiap 15 menit sekali. Kondisinya yang seperti itu, memaksa rencana harus diubah. Tak bisa lagi menunggu hingga sore. Sesuai janji dengan dokter. Harus segera masuk RS. Pagi itu juga.
Hanya saja tidak bisa seketika itu. Pasalnya di rumah, kami hanya berempat. Bersama 2 anak. Inka dan Rangga. Harus menunggu mereka berangkat sekolah dulu.
Untunglah jelang pagi itu, kontraksinya agak mereda. Neng Susi juga sedikit lebih tenang. Meski sesekali masih merintih kesakitan.
Kami baru bisa bergerak ke RS, setelah kedua anak itu berangkat ke sekolah masing-masing.
Inka kelas 2 SMA Al-Azhar. Di jalan Garuda. Rangga kelas 1 SMP al-Azhar. Di Tanjung Malakosa.
Meskipun saya sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Neng Susi, kami baru benar-benar bisa bergerak ke RS, sekitar pukul 08.15 WITA. Itupun setelah terlebih dahulu menjemput Mama. Yang ketika diberitau, meminta untuk ikut menemani kami.
Sampai di sini, ketika menulis kembali kisah ini, saya baru menyadari. Ternyata beberapa rentetan peristiwa. Di pagi itu. Sungguh tak terduga. Merupakan bagian dari skenario sangat rapi. Yang seolah sengaja disiapkan Kuasa Ilahi buat kami.
Terutama kepada Neng Susi.
Skenario ilahi yang memungkinkan kami bisa selamat dari bencana dahsyat. Lagi sangat mengerikan itu.
Tanpa rentetan kejadian yang sesungguhnya sederhana. Bahkan terbilang sepele itu. Mungkin salah satu, sebagian, bahkan seluruhnya dari kami, telah ikut menjadi korban. Di antara ribuan korban yang hingga kini, belum juga ditemukan. Ikut tertimbun ribuan ton lumpur dan reruntuhan rumah yang datang dari arah Timur RS. Dari arah Kelurahan Petobo itu.
Malah bisa jadi pula, kalau bukan karena ikut sibuk dengan kelahiran adiknya. Mungkin saja sore itu, Inka atau salah satu dari kami, berada di lokasi acara Palu Nomoni. Di pinggir pantai Talise. Tempat yang di saat sama juga diterjang gelombang tsunami. Mengakibatkan ratusan korban jiwa. Sebagiannya ditemukan dalam keadaan tanpa busana.
Kejadian-kejadian sepele itu. Dimulai sejak berubahnya jadwal masuk RS. Yang tiba-tiba. Yang harusnya hari Jum'at sore. Berubah menjadi Jum'at pagi. Sampai pada kenyataan bahwa Neng Susi akhirnya tidak jadi dioperasi. Malah tanpa diduga, 'terpaksa' melahirkan normal.
Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada Neng Susi. Bila proses bersalinnya benar-benar melalui tindakan operasi. Tak terbayangkan bagaimana setelah selesai dioperasi, sesuai prosedur, ia harus melewati masa pemulihan selama 6 jam. Di suatu kamar khusus. Tanpa boleh ditemui oleh siapapun.
Bila itu terjadi. Hampir pasti. Ketika guncangan dahsyat dan datangnya banjir bandang lumpur dari arah Petobo yang menerjang RS itu, ia masih berada di ruang isolasi.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Kalaupun sadar, tentu dalam kondisi sangat lemah. Pasti tak mampu bergerak secara mandiri. Apalagi untuk bergerak cepat. Untuk menyelamatkan diri dari terjangan ribuan ton lumpur. Yang datang dengan sangat tiba-tiba.
Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan pasti telah terjadi.
Begitulah. Pagi itu. Bertiga kami bergegas menuju RSIA Nasana Pura. Sebelum berangkat, masih sempat pula kami sarapan bubur nasi campur kacang ijo. Meski enggan, karena pengen secepatnya tiba di RS, kami tetap harus sarapan. Karena Mama memintanya dengan setengah memaksa. Sampai lupa kalau untuk dioperasi, harus berpuasa beberapa jam sebelumnya.
Akibatnya, begitu tiba di IGD RS, Neng Susi yang sepanjang jalan terus meringis kesakitan karena kontraksi, tak bisa langsung dioperasi. Harus menunggu beberapa jam. Setidaknya sampai perutnya relatif kosong.
Menunggu beberapa jam itu, artinya paling cepat jam 13.00. Tak bisa kurang dari itu. Itupun harus antri. Menunggu selesainya operasi tiga pasien lain. Yang sudah datang sebelum kami. Itu artinya lagi, antrian keempat.
Huuuftt...
Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-2-by.html
Ketika itu. Kami bertujuh. Saya, Mama, Neng Susi Susilawati (istri saya), anak pertama dan kedua saya, Priyanka Amanda Savana (Inka) dan Priyanggara Zuhaynanda Zavana (Rangga), Widi (adik bungsu saya), dan bayi kami yangg baru lahir.
Tepat ketika musibah gempa, tsunami dan likuifaksi itu. Kami berada di RSIA Nasana Pura. RS Ibu dan Anak ini terletak di bagian paling Timur wilayah kelurahan Petobo. Sebuah kelurahan di wilayah Kota Palu. Terletak di arah paling Selatan Kota. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sigi. Berbatasan langsung pula dengan Kelurahan Kawatuna. Tempat kami sekeluarga tinggal. Ujung paling Selatannya.
Kelurahan Kawatuna sendiri, merupakan batas paling Timur wilayah Kota Palu. Berupa dataran tinggi. Dengan sebagian pemukiman berada di perbukitan. Setidaknya berbatasan langsung dengan bukit-bukit kecil dan gunung.
Di Kawatuna ini terdapat Bulu (Gunung) Masomba. Sebuah gunung yang legendaris. Bagi masyarakat Kota Palu. Berbentuk serupa layar perahu. Ada legenda tentang gunung ini. Legenda yang sangat terkenal. Di seantero jazirah Sulawesi. Legenda Sawerigading. Yang kisahnya mirip Nabi Nuh itu. Melayari seluruh pulau dengan sebuah perahu. Bersama seekor anjing. Bernama si Buri.
Perahu itu akhirnya bersandar di suatu tempat. Di lembah Kaili. Palu. Yang kini tempat itu berbentuk gunung serupa layar perahu. Itulah Bulu Masomba. Gunung yang dipercaya sebagai layar perahu Sawerigading. Tokoh yang menurut legenda melayari seluruh perairan Sulawesi. Hingga perahunya terdampar di lembah Kaili.
Dari Bulu Masomba inipula nama Pasar Masomba di Kelurahan Tatura Kota Palu, berasal. Pasar ini berada tepat di samping Mall Tatura Palu. Yang ikut ambruk hampir tak berbentuk akibat bencana itu.
Posisinya yang di dataran tinggi, membuat Kawatuna ketika itu, menjadi salah satu titik pengungsian paling aman. Sekaligus juga menjadi salah satu jalur evakuasi utama korban tewas dari kelurahan Petobo dan Sigi. Ke posko utama Tim Evakuasi.
Waktu itu. Hampir tiap saat. Siang dan malam. 24 jam tiada henti. Ambulance evakuasi melewati kampung halaman saya ini
Kelurahan Petobo. Di mana RSIA Nasana Pura berada. Tempat istri saya melahirkan anak ketiga kami. Benar-benar menerima dampak sangat parah. Akibat gempa berkekuatan 7,4 SR. Di Jum'at petang. Jelang maghrib itu.
Betapa tidak, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, punahnya sebuah kelurahan. Dari ujung Timur hingga Barat. Utara ke Selatan. Sejauh mata memandang. Hanyalah gunungan lumpur dan reruntuhan rumah penduduk. Berikut ribuan penghuninya.
Pepohonan dan hewan-hewan yang beberapa hari lalu masih diternakkan warga, kini semua tinggal gunungan lumpur. Benar-benar amblas rata dengan tanah. Punah tak bersisa. Tinggal puing-puing tak berbentuk.
Di ujung paling Barat kelurahan yang kini hampir punah lebih dari 50 persennya inilah, kami berada ketika guncangan besar itu terjadi.
Keberadaan kami di RSIA tersebut, terkait dengan kondisi Neng Susi. Yang sedang siap-siap hendak melahirkan.
Sesuai janji dengan dokter Wulan sehari sebelumnya, Neng Susi sedianya akan menjalani operasi cesar pada hari Sabtu di RS ini.
Untuk kepentingan itu, mestinya kami baru berada di RS pada Jum'at sore. Setidaknya 12 jam sebelum tindakan operasi. Tentu untuk persiapan operasi itu sendiri.
Namun jadwal masuk RS, ternyata harus dipercepat. Di malam Jum'at itu. Sekira pukul 01.00 WITA. Tanpa disangka. Neng Susi sudah merasakan kontraksi. Jelang subuh kontraksinya semakin ajeg. Setiap 15 menit sekali. Kondisinya yang seperti itu, memaksa rencana harus diubah. Tak bisa lagi menunggu hingga sore. Sesuai janji dengan dokter. Harus segera masuk RS. Pagi itu juga.
Hanya saja tidak bisa seketika itu. Pasalnya di rumah, kami hanya berempat. Bersama 2 anak. Inka dan Rangga. Harus menunggu mereka berangkat sekolah dulu.
Untunglah jelang pagi itu, kontraksinya agak mereda. Neng Susi juga sedikit lebih tenang. Meski sesekali masih merintih kesakitan.
Kami baru bisa bergerak ke RS, setelah kedua anak itu berangkat ke sekolah masing-masing.
Inka kelas 2 SMA Al-Azhar. Di jalan Garuda. Rangga kelas 1 SMP al-Azhar. Di Tanjung Malakosa.
Meskipun saya sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Neng Susi, kami baru benar-benar bisa bergerak ke RS, sekitar pukul 08.15 WITA. Itupun setelah terlebih dahulu menjemput Mama. Yang ketika diberitau, meminta untuk ikut menemani kami.
Sampai di sini, ketika menulis kembali kisah ini, saya baru menyadari. Ternyata beberapa rentetan peristiwa. Di pagi itu. Sungguh tak terduga. Merupakan bagian dari skenario sangat rapi. Yang seolah sengaja disiapkan Kuasa Ilahi buat kami.
Terutama kepada Neng Susi.
Skenario ilahi yang memungkinkan kami bisa selamat dari bencana dahsyat. Lagi sangat mengerikan itu.
Tanpa rentetan kejadian yang sesungguhnya sederhana. Bahkan terbilang sepele itu. Mungkin salah satu, sebagian, bahkan seluruhnya dari kami, telah ikut menjadi korban. Di antara ribuan korban yang hingga kini, belum juga ditemukan. Ikut tertimbun ribuan ton lumpur dan reruntuhan rumah yang datang dari arah Timur RS. Dari arah Kelurahan Petobo itu.
Malah bisa jadi pula, kalau bukan karena ikut sibuk dengan kelahiran adiknya. Mungkin saja sore itu, Inka atau salah satu dari kami, berada di lokasi acara Palu Nomoni. Di pinggir pantai Talise. Tempat yang di saat sama juga diterjang gelombang tsunami. Mengakibatkan ratusan korban jiwa. Sebagiannya ditemukan dalam keadaan tanpa busana.
Kejadian-kejadian sepele itu. Dimulai sejak berubahnya jadwal masuk RS. Yang tiba-tiba. Yang harusnya hari Jum'at sore. Berubah menjadi Jum'at pagi. Sampai pada kenyataan bahwa Neng Susi akhirnya tidak jadi dioperasi. Malah tanpa diduga, 'terpaksa' melahirkan normal.
Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada Neng Susi. Bila proses bersalinnya benar-benar melalui tindakan operasi. Tak terbayangkan bagaimana setelah selesai dioperasi, sesuai prosedur, ia harus melewati masa pemulihan selama 6 jam. Di suatu kamar khusus. Tanpa boleh ditemui oleh siapapun.
Bila itu terjadi. Hampir pasti. Ketika guncangan dahsyat dan datangnya banjir bandang lumpur dari arah Petobo yang menerjang RS itu, ia masih berada di ruang isolasi.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Kalaupun sadar, tentu dalam kondisi sangat lemah. Pasti tak mampu bergerak secara mandiri. Apalagi untuk bergerak cepat. Untuk menyelamatkan diri dari terjangan ribuan ton lumpur. Yang datang dengan sangat tiba-tiba.
Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan pasti telah terjadi.
Begitulah. Pagi itu. Bertiga kami bergegas menuju RSIA Nasana Pura. Sebelum berangkat, masih sempat pula kami sarapan bubur nasi campur kacang ijo. Meski enggan, karena pengen secepatnya tiba di RS, kami tetap harus sarapan. Karena Mama memintanya dengan setengah memaksa. Sampai lupa kalau untuk dioperasi, harus berpuasa beberapa jam sebelumnya.
Akibatnya, begitu tiba di IGD RS, Neng Susi yang sepanjang jalan terus meringis kesakitan karena kontraksi, tak bisa langsung dioperasi. Harus menunggu beberapa jam. Setidaknya sampai perutnya relatif kosong.
Menunggu beberapa jam itu, artinya paling cepat jam 13.00. Tak bisa kurang dari itu. Itupun harus antri. Menunggu selesainya operasi tiga pasien lain. Yang sudah datang sebelum kami. Itu artinya lagi, antrian keempat.
Huuuftt...
Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-2-by.html
Hikmah: TERUSLAH BERSILATURAHIM
Assalamualaikum Wr Wb
😪 Ketika ada kesempatan, pergilah bersama saudara/teman. Berkumpul - kumpul, bukan sekadar makan, minum dan bersenang, tetapi ingat, waktu hidup kita semakin singkat. Maka dari itu, bangunkanlah Persaudaraan
😪 Mungkin lain waktu kita Tidak akan bertemu lagi.
😪 Mungkin lain waktu kita sudah semakin Susah untuk berjalan.
😪 Menghabiskan sebagian waktu dengan Teman atau Saudara akan membuat Hidup lebih Sehat secara Mental dan Fisik.
😪 Umur itu Seperti es batu, Dipakai atau tidak akan tetap mencair dan berakhir.
😪 Begitu juga dengan umur kita. Digunakan atau Tidak Digunakan, umur kita akan tetap berkurang, dan Akhirnya kembali ke hadirat ILLAHI.
😪 Tersenyumlah dan berfikir positif. Air yang Mengalir tidak dapat berbalik arah. Kita tidak mungkin dapat berbalik menjadi muda lagi.
😪 Kita akan menjadi tua, sakit, dan meninggal.. Jalani hidup ini dgn ceria, sabar dan santai.
😪 Jangan suka mau menang sendiri, sementara orang lain selalu salah.
😪 Terimalah persaudaraan. Jangan suka mengeluh atau membenci.
😪 Hidup ini terlalu singkat untuk selalu benar sendiri (Pentingkan diri sendiri)
😪 Jangan buang sahabat/saudara cuma karena tak sepakat.
😪 Satu keburukan teman/saudara bukan berarti hilang sembilan kebaikannya.
😪 Perbanyaklah waktu untuk berkumpul dengan teman teman dan saudara saudara kita.
😪 Siapa tahu mereka nanti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Buanglah jauh jauh sifat egois dan iri hati
😪 Terimalah kekurangan dan kelebihan dari saudara/ sahabat.
😪 Bertemanlah dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.
😪 Nikmati semua waktu, senda dan tawa. Hargai semua perbedaan. Percayakan kemampuan teman kita.
😪 Jaga perasaannya, tutupi aibnya. Bantu ketika dia jatuh, Sediakan bahu ketika dia menangis.
😪 Tepuk tangan dan gembira ketika dia sukses. Sebut namanya dalam doa kita.
😪 Bertemanlah dengan hati yang baik dan tulus. Ketika hatimu baik dan tulus, percayalah, Allah juga akan selalu bersama mu.
Teruslah bersilaturahmi sampai Allah berkata waktunya pulang.♥
😪 Ketika ada kesempatan, pergilah bersama saudara/teman. Berkumpul - kumpul, bukan sekadar makan, minum dan bersenang, tetapi ingat, waktu hidup kita semakin singkat. Maka dari itu, bangunkanlah Persaudaraan
😪 Mungkin lain waktu kita Tidak akan bertemu lagi.
😪 Mungkin lain waktu kita sudah semakin Susah untuk berjalan.
😪 Menghabiskan sebagian waktu dengan Teman atau Saudara akan membuat Hidup lebih Sehat secara Mental dan Fisik.
😪 Umur itu Seperti es batu, Dipakai atau tidak akan tetap mencair dan berakhir.
😪 Begitu juga dengan umur kita. Digunakan atau Tidak Digunakan, umur kita akan tetap berkurang, dan Akhirnya kembali ke hadirat ILLAHI.
😪 Tersenyumlah dan berfikir positif. Air yang Mengalir tidak dapat berbalik arah. Kita tidak mungkin dapat berbalik menjadi muda lagi.
😪 Kita akan menjadi tua, sakit, dan meninggal.. Jalani hidup ini dgn ceria, sabar dan santai.
😪 Jangan suka mau menang sendiri, sementara orang lain selalu salah.
😪 Terimalah persaudaraan. Jangan suka mengeluh atau membenci.
😪 Hidup ini terlalu singkat untuk selalu benar sendiri (Pentingkan diri sendiri)
😪 Jangan buang sahabat/saudara cuma karena tak sepakat.
😪 Satu keburukan teman/saudara bukan berarti hilang sembilan kebaikannya.
😪 Perbanyaklah waktu untuk berkumpul dengan teman teman dan saudara saudara kita.
😪 Siapa tahu mereka nanti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Buanglah jauh jauh sifat egois dan iri hati
😪 Terimalah kekurangan dan kelebihan dari saudara/ sahabat.
😪 Bertemanlah dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.
😪 Nikmati semua waktu, senda dan tawa. Hargai semua perbedaan. Percayakan kemampuan teman kita.
😪 Jaga perasaannya, tutupi aibnya. Bantu ketika dia jatuh, Sediakan bahu ketika dia menangis.
😪 Tepuk tangan dan gembira ketika dia sukses. Sebut namanya dalam doa kita.
😪 Bertemanlah dengan hati yang baik dan tulus. Ketika hatimu baik dan tulus, percayalah, Allah juga akan selalu bersama mu.
Teruslah bersilaturahmi sampai Allah berkata waktunya pulang.♥
Senin, 03 Februari 2020
Hikmah: Mencium Hajar Aswad dan Keluarga
Tulisan seorang teman yang baru pulang umroh.
*****
Di Masjidil Haram, sehabis menyelesaikan tawaf, saya segera menepi mencari tempat strategis yang berhadapan langsung dengan Multazam untuk berdoa. Saya menemukan tempat yang kebetulan lowong di hadapan Ka'bah. Lalu saya bersimpuh dan memanjatkan do'a sambil menunggu waktu subuh menjelang.
Saat itulah saya melihat seorang lelaki hitam legam dari benua Afrika datang dan langsung mengambil tempat di samping kanan.
Terlintas dalam hati, "Dengan potongan perawakan dan tampang seperti ini, lelaki kulit hitam ini pasti orang kasar yang tidak berpendidikan".
Lalu sebagaimana kebiasaan di masjid ketika duduk bersebelahan dalam satu jama'ah, saya menyalaminya.
Tiba-tiba ia bertanya dengan Bahasa Inggris yang bagus sekali tentang asal saya. "Saya dari Nigeria, kamu dari mana?". Saya bilang, saya berasal dari Indonesia.
"Kenapa orang indonesia suka sekali berusaha mencium batu Hajar Aswad"?, tanyanya memulai percakapan.
"Mungkin karena cinta. Kabah adalah rumah Tuhan, dan Hajar Aswad adalah batu yang pernah dicium Rasulullah. Maka mencium Hajar Aswad adalah refleksi cinta orang Indonesia terhadap Tuhan dan Rasulnya", jawab saya sekenanya.
"Apakah orang Indonesia juga bertingkah laku seperti itu terhadap cinta Allah SWT yang dianugerahkan kepada mereka?", katanya.
"Maksud anda? Cinta Allah SWT seperti apa yang dianugerahkan kepada kami"?, jawab saya dengan bingung.
Lalu lelaki hitam itu menjawab, "Jika Allah Ta'ala menganugerahkan kalian istri, anak-anak dan orang tua yang masih hidup, Itulah wujud cinta Allah kepada kalian."
"Pertanyaan saya", katanya. "Apakah orang-orang Indonesia, berusaha dengan keras dan gigih mencurahkan kasih sayang terhadap anak, istri dan orang tua mereka yang masih hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala sebagaimana mereka berusaha mencium Hajar Aswad ?" katanya.
"Jika terhadap batu saja refleksi cinta kalian begitu dahsyat, lebih lagi terhadap makhluk Allah yang telah diamanahkan kepada kalian?", tegasnya lagi.
Saya tercekat, hilang akal dan tak mampu berkata lagi...
Apalagi saat ia bercerita bahwa ia menyelesaikan PhD-nya di AS namun memilih pulang membesarkan anak-anaknya yang 6 orang agar mampu menjadi muslim yang baik.
Maka hancurlah semua persangkaan saya terhadap orang ini. Allah membayarnya langsung tunai saat itu juga.
Setelah shalat subuh, sebelum berpisah ia memberi aasehat yang sampai saat ini masih teringat di kepala saya...
Keberhasilan haji atau umroh kita, mabrur atau tidaknya, dinilai bukan pada saat kita menyelesaikan ritual-ritual haji/umroh seperti, seperti "tawaf" atau bahkan mencium "Hajar Aswad", namun dinilai pada saat kita kembali ke keluarga dan lingkungan.
Apakah kita mampu menunaikan amanah-amanah, anugerah-anugerah, kasih sayang Allah Ta'ala kepada kita dengan bersungguh-sungguh, bersusah payah, mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai, pekerjaan dan masyarakat.
Saya genggam tangannya, saya memeluknya dan menyampaikan terima kasih. 😭
Saat dia pergi diantara kerumunan orang, saya faham, inilah cara Allah Taala menegur saya dan menyampaikan makna mencium Hajar Aswad.
Oleh karena itu mari kita bersama belajar untuk menjadikan orang tua kita, istri, anak-anak, saudara-saudara serta sahabat dll sebagai ladang amal ibadah kita dan bukan merupakan sumber gosip atau ladang dosa-dosa kita.
Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْئًا ۖ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri". (QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)
*****
Di Masjidil Haram, sehabis menyelesaikan tawaf, saya segera menepi mencari tempat strategis yang berhadapan langsung dengan Multazam untuk berdoa. Saya menemukan tempat yang kebetulan lowong di hadapan Ka'bah. Lalu saya bersimpuh dan memanjatkan do'a sambil menunggu waktu subuh menjelang.
Saat itulah saya melihat seorang lelaki hitam legam dari benua Afrika datang dan langsung mengambil tempat di samping kanan.
Terlintas dalam hati, "Dengan potongan perawakan dan tampang seperti ini, lelaki kulit hitam ini pasti orang kasar yang tidak berpendidikan".
Lalu sebagaimana kebiasaan di masjid ketika duduk bersebelahan dalam satu jama'ah, saya menyalaminya.
Tiba-tiba ia bertanya dengan Bahasa Inggris yang bagus sekali tentang asal saya. "Saya dari Nigeria, kamu dari mana?". Saya bilang, saya berasal dari Indonesia.
"Kenapa orang indonesia suka sekali berusaha mencium batu Hajar Aswad"?, tanyanya memulai percakapan.
"Mungkin karena cinta. Kabah adalah rumah Tuhan, dan Hajar Aswad adalah batu yang pernah dicium Rasulullah. Maka mencium Hajar Aswad adalah refleksi cinta orang Indonesia terhadap Tuhan dan Rasulnya", jawab saya sekenanya.
"Apakah orang Indonesia juga bertingkah laku seperti itu terhadap cinta Allah SWT yang dianugerahkan kepada mereka?", katanya.
"Maksud anda? Cinta Allah SWT seperti apa yang dianugerahkan kepada kami"?, jawab saya dengan bingung.
Lalu lelaki hitam itu menjawab, "Jika Allah Ta'ala menganugerahkan kalian istri, anak-anak dan orang tua yang masih hidup, Itulah wujud cinta Allah kepada kalian."
"Pertanyaan saya", katanya. "Apakah orang-orang Indonesia, berusaha dengan keras dan gigih mencurahkan kasih sayang terhadap anak, istri dan orang tua mereka yang masih hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala sebagaimana mereka berusaha mencium Hajar Aswad ?" katanya.
"Jika terhadap batu saja refleksi cinta kalian begitu dahsyat, lebih lagi terhadap makhluk Allah yang telah diamanahkan kepada kalian?", tegasnya lagi.
Saya tercekat, hilang akal dan tak mampu berkata lagi...
Apalagi saat ia bercerita bahwa ia menyelesaikan PhD-nya di AS namun memilih pulang membesarkan anak-anaknya yang 6 orang agar mampu menjadi muslim yang baik.
Maka hancurlah semua persangkaan saya terhadap orang ini. Allah membayarnya langsung tunai saat itu juga.
Setelah shalat subuh, sebelum berpisah ia memberi aasehat yang sampai saat ini masih teringat di kepala saya...
Keberhasilan haji atau umroh kita, mabrur atau tidaknya, dinilai bukan pada saat kita menyelesaikan ritual-ritual haji/umroh seperti, seperti "tawaf" atau bahkan mencium "Hajar Aswad", namun dinilai pada saat kita kembali ke keluarga dan lingkungan.
Apakah kita mampu menunaikan amanah-amanah, anugerah-anugerah, kasih sayang Allah Ta'ala kepada kita dengan bersungguh-sungguh, bersusah payah, mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai, pekerjaan dan masyarakat.
Saya genggam tangannya, saya memeluknya dan menyampaikan terima kasih. 😭
Saat dia pergi diantara kerumunan orang, saya faham, inilah cara Allah Taala menegur saya dan menyampaikan makna mencium Hajar Aswad.
Oleh karena itu mari kita bersama belajar untuk menjadikan orang tua kita, istri, anak-anak, saudara-saudara serta sahabat dll sebagai ladang amal ibadah kita dan bukan merupakan sumber gosip atau ladang dosa-dosa kita.
Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْئًا ۖ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri". (QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)
Sabtu, 01 Februari 2020
Cerpen: Hutang
PINJEM DUIT
"Di., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti " Ari yang seorang kabag pagi - pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.
"Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya." Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.
"Mah, Ari pinjem uang 400 ada gak?"
"Ada pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah"
"Katanya nanti sore dibalikin mah"
"Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini."
Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.
Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati. Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.
"Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah" istri Ardi bercerita pada suaminya.
"Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini" Ardi mencoba menenangkan istrinya.
Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.
"Sarapannya cuma pake tahu pah" istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
"Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak"
"Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?"
"Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar."
Ardi mengeluarkan sepeda motornya ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
"Kenapa pah? Rewel motornya?"
"Bensin abis mah!"
Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.
"Pah, ini buat beli bensin." Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
"Nanti kalo dedek minta jajan gimana?"
"Masih ada lima ribu kok"
Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.
"Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang"
"Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!" Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.
Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.
"Mama, dedek mau bakso!"
"Nanti ya, tunggu papah pulang"
"Dedek maunya sekarang!"
Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.
Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.
"Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa."
Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
"Ini mbak baksonya!" Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.
"Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!"
"Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya"
"Makasih bang"
Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.
"Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng"
Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..
"Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?"
"Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah." Ardi membelai lembut kepala sang istri.
Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.
Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.
"Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan"
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.
"Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?" Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.
"Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana" Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.
Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.
Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya...
####
Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..
Kerja keras itu biasa,merasa cukup itu baru luar biasa...
#copas
"Di., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti " Ari yang seorang kabag pagi - pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.
"Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya." Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.
"Mah, Ari pinjem uang 400 ada gak?"
"Ada pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah"
"Katanya nanti sore dibalikin mah"
"Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini."
Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.
Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati. Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.
"Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah" istri Ardi bercerita pada suaminya.
"Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini" Ardi mencoba menenangkan istrinya.
Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.
"Sarapannya cuma pake tahu pah" istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
"Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak"
"Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?"
"Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar."
Ardi mengeluarkan sepeda motornya ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
"Kenapa pah? Rewel motornya?"
"Bensin abis mah!"
Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.
"Pah, ini buat beli bensin." Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
"Nanti kalo dedek minta jajan gimana?"
"Masih ada lima ribu kok"
Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.
"Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang"
"Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!" Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.
Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.
"Mama, dedek mau bakso!"
"Nanti ya, tunggu papah pulang"
"Dedek maunya sekarang!"
Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.
Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.
"Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa."
Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
"Ini mbak baksonya!" Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.
"Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!"
"Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya"
"Makasih bang"
Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.
"Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng"
Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..
"Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?"
"Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah." Ardi membelai lembut kepala sang istri.
Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.
Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.
"Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan"
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.
"Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?" Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.
"Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana" Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.
Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.
Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya...
####
Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..
Kerja keras itu biasa,merasa cukup itu baru luar biasa...
#copas
Jumat, 31 Januari 2020
Hikmah: Maafkan Anakmu Ibu
Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’, ia tak suka bila ibunya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini....
"Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !
“Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata : "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri.
Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ibunya berpesan :
“Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri....”
ibunya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara....
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang.
Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah.
Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ.
Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis.
Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. ...
Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.
Peringatan ibunya terngiang di telinganya :
"Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?"
Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" ...
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.
Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong....
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain.
Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis....
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata :
"Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?"
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan ?" tanya sang boss lalu melanjutkan :
"Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut...
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon...
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu...
Anda satu-satunya yang melakukan.
Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”
Hatinya terharu, dia ingat ibunya....
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya.
Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya...
Kekesalan dan kemarahannya pada ibunya seketika sirna...
.....Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......
ibu ! Ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kepada ibunya, dia akan ajak ibunya melihat tempat kerjanya...
Dia pulang ke rumah dengan bahagia...
Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya"...
Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita...
Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..
Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya...
Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan...
Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan...
Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta....
"Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !
“Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata : "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri.
Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ibunya berpesan :
“Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri....”
ibunya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara....
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang.
Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah.
Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ.
Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis.
Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. ...
Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.
Peringatan ibunya terngiang di telinganya :
"Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?"
Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" ...
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.
Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong....
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain.
Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis....
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata :
"Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?"
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan ?" tanya sang boss lalu melanjutkan :
"Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut...
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon...
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu...
Anda satu-satunya yang melakukan.
Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”
Hatinya terharu, dia ingat ibunya....
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya.
Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya...
Kekesalan dan kemarahannya pada ibunya seketika sirna...
.....Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......
ibu ! Ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kepada ibunya, dia akan ajak ibunya melihat tempat kerjanya...
Dia pulang ke rumah dengan bahagia...
Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya"...
Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita...
Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..
Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya...
Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan...
Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan...
Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta....
Cerpen: Malaikat Bercadar by Irene Radjiman
Sepenggal kisah :
Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.
Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan "ukhti" sebab arti kata ukhti adalah "saudara perempuan" bukan ?
"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti." Tanya Inara pada suaminya. Sang suami melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?" Suaminya balas bertanya.
"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."
"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"
"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."
Sejurus suami Inara terdiam. Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang. Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi "saya bukan ustadzah." Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".
Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya. Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya. Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah. Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.
"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !" tunjuk Inara.
"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"
"Iya."
Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu. Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil dibuka. Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi. Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang. Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. Inara turun dari mobil sambil tersenyum. Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.
"Assalamualaikum mbak." sapa Inara
"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara. Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.
"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak." Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu. Wanita itu tidak segera menerimanya.
"Apa ini mbak ?" Tanyanya pada Inara.
"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."
"Apakah mbak tahu siapa saya ?'
"Memangnya mbak siapa ?"
"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu." Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur. Inara mendekat, merengkuh pundaknya. Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.
"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.
Inara melangkah menuju mobilnya. Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.
***********
Namaku Amidah. Aku janda yang memiliki 4 orang anak. Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras. Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.
Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya. Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian mushola didekat kontrakanku. Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.
Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun. Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta perjam. Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 - 200rb permalam. Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan. Yah... segitulah harga tubuhku. Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur dibelakang kontrakanku.
Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb. Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan. Anak itu kulihat bersembunyi dibalik semak-semak. Tapi malang, bocah itu ketahuan. Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak. Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu. Reflek aku berlari kearah mereka.
"Stop ! ada apa ini !"
"Dia maling !" kata si laki-laki
"Iyaa... setan kecil ini sudah maling dagangan kami !" si wanita tak kalah sengit.
"Memangnya dia sudah maling apa ?" tanyaku
"Heh setan maling keluarkan barang curianmu !" bentak si wanita. Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan. Mungkin isinya nasi dan lauk.
"Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar kedalam sudah dimaling sama setan ini !" si wanita itu kembali menimpali.
"Maaf bu, adik saya lagi sakit dirumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya." kuperhatikan bocah itu. Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3. Aku tiba-tiba teringat anakku. Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.
"Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?"
"20rb !" Jawabnya ketus. Kuambil uang 20rb semata wayangku dibalik dompet. Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu. Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.
"Awas ya kalo kamu berani maling lagi !" Katanya mengancam, sambil berlalu.
"Terimakasih tante." Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.
"Jangan mencuri lagi ya dek. Semoga adikmu segera sembuh." Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.
Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku. Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.
"Ya Tuhan, daun pepaya dibelakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?"
Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti dihadapanku. Mataku berbinar penuh harapan. Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah kebelakang. Kulihat seorang pria tampan dibalik kemudi, namun disampingnya kulihat ada malaikat bercadar. Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat. Amplop itu ia berikan padaku. Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah. Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang didalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman. Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
"Ya Tuhan... benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !"
Aku langsung bergegas pulang. Didalam kamar kubuka isi amplop coklat itu. Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu. Li... lima... ju... juta.... !!! 5 JUTA !!! Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!! Ya Allah !! benarkah ini !! Ampuni aku ya Allah !! Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20rb, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu. Ahh siapakah bocah kurus kumal itu ? Aku juga tak tahu.
*********
Aku Muhammad Yahya. Usiaku 12 tahun. Sejak aku duduk dibangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku. Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku. Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam. Ibu selalu berkata padaku,
"Yahya mengajilah yang rajin. Allah maha penyayang. Do'akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah." Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku menangis. Setelah menidurkan adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir. Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu. Setelah itu aku membaca Qur'an sambil menunggu ibu pulang. Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu qatamkan Al-Quran. Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur'an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami ber-4.
"Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya."
Entah bagaimana cara Allah menjawab do'a - do'aku. Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini. Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna. Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok. Kini kami telah memiliki warung sembako. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengecap rizki halal. Ketika kutanya, darimanakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako ? ibu menjawab, "Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar."
Aku mengernyitkan kening.
"Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu."
*************
Sore itu selepas ashar
"Ustadzah Riska !" Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak. Ustadzah Riska menoleh.
"Aku Inara." Inara langsung mendekat.
"Oohh bunda Inara ! kok bisa ada disini, habis darimana ?"
"Aku mencari rumah wanita ini." Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp. Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Tuhan yang tahu.
"Ooohhh ini bu Amidah. Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?"
"Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?"
"Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ? dia ingin mengakhiri dunia kelamnya. Saya sarankan untuk membuka warung sembako."
"Uang 5 juta ?" Inara mengulang
"Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta."
"Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?"
"Sebab anak - anak bu Amidah mengaji pada saya. Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar."
"Malaikat bercadar ?"
"Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara. Oh ya sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda." Hati Inara tersentak. Ada yang melonjak disudut hatinya. Matanya berkaca - kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska. Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya. Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.
"Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini. Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam."
"Baik bunda, insyaa Allah."
Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
"Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat."
Kita tidak pernah tahu ada tangisan apa dibalik tawa. Kita juga tidak pernah tahu ada kebahagiaan apa dibalik tangisan.
Barokallahu fiikum.
NB : Tak perlu bertanya ini nyata atau tidak. Anggap saja ini kisah fiksi. Bila ada kesamaan nama dan peristiwa itu hanyalah kebetulan saja.
Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.
Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan "ukhti" sebab arti kata ukhti adalah "saudara perempuan" bukan ?
"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti." Tanya Inara pada suaminya. Sang suami melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?" Suaminya balas bertanya.
"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."
"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"
"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."
Sejurus suami Inara terdiam. Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang. Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi "saya bukan ustadzah." Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".
Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya. Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya. Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah. Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.
"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !" tunjuk Inara.
"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"
"Iya."
Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu. Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil dibuka. Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi. Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang. Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. Inara turun dari mobil sambil tersenyum. Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.
"Assalamualaikum mbak." sapa Inara
"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara. Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.
"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak." Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu. Wanita itu tidak segera menerimanya.
"Apa ini mbak ?" Tanyanya pada Inara.
"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."
"Apakah mbak tahu siapa saya ?'
"Memangnya mbak siapa ?"
"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu." Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur. Inara mendekat, merengkuh pundaknya. Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.
"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.
Inara melangkah menuju mobilnya. Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.
***********
Namaku Amidah. Aku janda yang memiliki 4 orang anak. Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras. Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.
Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya. Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian mushola didekat kontrakanku. Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.
Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun. Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta perjam. Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 - 200rb permalam. Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan. Yah... segitulah harga tubuhku. Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur dibelakang kontrakanku.
Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb. Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan. Anak itu kulihat bersembunyi dibalik semak-semak. Tapi malang, bocah itu ketahuan. Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak. Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu. Reflek aku berlari kearah mereka.
"Stop ! ada apa ini !"
"Dia maling !" kata si laki-laki
"Iyaa... setan kecil ini sudah maling dagangan kami !" si wanita tak kalah sengit.
"Memangnya dia sudah maling apa ?" tanyaku
"Heh setan maling keluarkan barang curianmu !" bentak si wanita. Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan. Mungkin isinya nasi dan lauk.
"Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar kedalam sudah dimaling sama setan ini !" si wanita itu kembali menimpali.
"Maaf bu, adik saya lagi sakit dirumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya." kuperhatikan bocah itu. Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3. Aku tiba-tiba teringat anakku. Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.
"Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?"
"20rb !" Jawabnya ketus. Kuambil uang 20rb semata wayangku dibalik dompet. Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu. Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.
"Awas ya kalo kamu berani maling lagi !" Katanya mengancam, sambil berlalu.
"Terimakasih tante." Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.
"Jangan mencuri lagi ya dek. Semoga adikmu segera sembuh." Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.
Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku. Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.
"Ya Tuhan, daun pepaya dibelakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?"
Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti dihadapanku. Mataku berbinar penuh harapan. Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah kebelakang. Kulihat seorang pria tampan dibalik kemudi, namun disampingnya kulihat ada malaikat bercadar. Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat. Amplop itu ia berikan padaku. Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah. Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang didalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman. Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.
"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."
"Ya Tuhan... benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !"
Aku langsung bergegas pulang. Didalam kamar kubuka isi amplop coklat itu. Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu. Li... lima... ju... juta.... !!! 5 JUTA !!! Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!! Ya Allah !! benarkah ini !! Ampuni aku ya Allah !! Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20rb, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu. Ahh siapakah bocah kurus kumal itu ? Aku juga tak tahu.
*********
Aku Muhammad Yahya. Usiaku 12 tahun. Sejak aku duduk dibangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku. Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku. Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam. Ibu selalu berkata padaku,
"Yahya mengajilah yang rajin. Allah maha penyayang. Do'akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah." Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku menangis. Setelah menidurkan adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir. Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu. Setelah itu aku membaca Qur'an sambil menunggu ibu pulang. Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu qatamkan Al-Quran. Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur'an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami ber-4.
"Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya."
Entah bagaimana cara Allah menjawab do'a - do'aku. Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini. Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna. Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok. Kini kami telah memiliki warung sembako. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengecap rizki halal. Ketika kutanya, darimanakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako ? ibu menjawab, "Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar."
Aku mengernyitkan kening.
"Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu."
*************
Sore itu selepas ashar
"Ustadzah Riska !" Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak. Ustadzah Riska menoleh.
"Aku Inara." Inara langsung mendekat.
"Oohh bunda Inara ! kok bisa ada disini, habis darimana ?"
"Aku mencari rumah wanita ini." Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp. Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Tuhan yang tahu.
"Ooohhh ini bu Amidah. Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?"
"Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?"
"Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ? dia ingin mengakhiri dunia kelamnya. Saya sarankan untuk membuka warung sembako."
"Uang 5 juta ?" Inara mengulang
"Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta."
"Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?"
"Sebab anak - anak bu Amidah mengaji pada saya. Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar."
"Malaikat bercadar ?"
"Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara. Oh ya sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda." Hati Inara tersentak. Ada yang melonjak disudut hatinya. Matanya berkaca - kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska. Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya. Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.
"Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini. Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam."
"Baik bunda, insyaa Allah."
Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
"Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat."
Kita tidak pernah tahu ada tangisan apa dibalik tawa. Kita juga tidak pernah tahu ada kebahagiaan apa dibalik tangisan.
Barokallahu fiikum.
NB : Tak perlu bertanya ini nyata atau tidak. Anggap saja ini kisah fiksi. Bila ada kesamaan nama dan peristiwa itu hanyalah kebetulan saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
TAM (4) Menuju Pijoan Jambi
Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...
-
Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rek...
-
Alhamdulillah, hari ini kesampaian juga untuk menikmati perjalanan bersama PO TAM dengan trayek Padang Jakarta. Ini adalah pengalaman kedua ...
-
Alhamdulillah, jam 2 siang tadi kami sudah memulai perjalanan safar bersama PO TAM. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di terminal P...