Kamis, 27 Mei 2021

Back to Gontor, Back to Reality

Alhamdulillah, lepas sudah kebersamaan 50 hari bersama anak bujang kami pada 26 Mai nan lalu. Suatu kebersamaan yang sarat makna dalam liburan akhir tahun ajaran di Gontor. 


Abang Imam siap kembali ke pondok setelah "recharging energy" selama liburan kali ini. Segala cerita di pondok dia curahkan. Kebanggaan dan kedekatan dengan ustadz dia sampaikan. Kebersamaan dan keceriaan di pondok kami dengarkan. Bahkan keinginan dia menjadi mudabbir dan ketua rayon kelak, dia utarakan. 


Bersama dengan adiknya Dhifa tinggal jadi cerita. Abang Imam sekarang ini jauh lebih sabar dibandingkan tahun lalu, saat dimana adiknya selalu saja usil dan cari perhatian dari abangnya ini. Tahun ini walau tanpa kakaknya, Fadhilah Azzahra yang sedang pengabdian di Gontor Putri 7 Pekanbaru tak mengurangi kebersamaan mereka. Apalagi di saat Ramadhan, saat kakaknya bebas menggunakan HP komunikasi mereka lancar. Mereka bisa video call. 


Kakak yang sangat menganyomi adek adeknya saat ini. Suka mendengarkan info tentang Imam dan Dhifa dari bundanya, yang kemudian ternyata dari info ini memberikan nasehat dan saran buat mereka berdua. Suatu komunitas yang berbeda di antara mereka sebelumnya. Arahan kakaknya menjadi acuan. Didengarkan dengan baik.


"Im, baik baik ya di Pondok", pesan kakak sebelum kami sampai di masjid Al Azhom, adalah pesan yang samar samar saya dengar.


#####


Kembali ke Gontor Ponorogo dalam kondisi sekarang ini agak berbeda rasanya bagi Imam. Meskipun tahun lalu juga masih dalam kondisi yang sama. Sama sama dalam kondisi pandemi Covid 19. Namun ada rasa yang berbeda dia rasakan.


Saya merasakan aura ini disebabkan ini adalah masa transisi dia yang sebenarnya menuju dewasa. Dari usia SMP menuju SMA, di saat saya dahulu. Banyak hal yang secara fisik terlihat nyata. Jakunnya sudah jelas terlihat. Ketenangan dalam bersikap, bertutur dan berfikir sudah mulai tertata. Apalagi dalam sikap tubuh nya yang tegap, baik ketika duduk maupun berdiri. Selintas sudah mulai tertarik dengan "muslimah sejati" dalam bahan obrolannya dengan sang bunda, meski kadang kadang ada juga rasa malu malunya kalo saya ikut menimpali obrolan tersebut. 



Tetapi tentang impian dan keinginannya menjadi ustadz pengabdian di Gontor nanti, suatu cerita yang berbeda. Sangat dewasa, menurut saya. Asa untuk tetap melanjutkan studi ke Islamic University of Madinah adalah target utamanya. Entah itu nanti untuk strata S1 maupun S2nya. Ini sesuatu yang luar biasa. Biarlah tulisan ini akan menjadi saksi perjalanannya kelak, di tahun tahun yang akan datang.


#####


Dalam kondisi pandemi saat ini, Gontor adalah salah satu tempat pendidikan terbaik bagi anak anak kami. Gontor adalah segalanya bagi tumbuh kembang mereka secara alami.


Di Gontor lah mereka bisa belajar dengan tatap muka secara langsung dengan para guru mereka, ustdaz - ustadz mereka. Mereka mendapatkan ilmu langsung secara keseluruhan, baik di ruang kelas ataupun di luarnya. Sedari bangun tidur hingga tidur lagi. Mereka menulis dan membaca di ruang kelas maupun kamar mereka. Mereka menghapal dimana mereka suka. Di sana mereka bisa belajar sendiri ataupun belajar kelompok. Inilah realita pendidikan sejatinya bagi mereka, di usia transisi mereka dari anak anak menuju dewasa.



Di Gontor mereka bisa bermain bersama dan olah raga bersama. Dengan teman teman yang sangat banyak. Bermain dan olahraga  bagi mereka bisa dengan yang sebaya, dengan adik kelasnya ataupun kakak kelasnya. Dan jumlah mereka di sini bisa ribuan orang. Jumlah yang sangat tak mungkin bisa ditemukan di sekolah umum lainnya. Tentu dalam suasana seperti ini, secara fisik dan kejiwaan mereka tumbuh maksimal. Mereka paham bagaimana etika bergaul  dan beradaptasi dengan teman sebaya, dengan yang lebih tua dan yang lebih muda. Dan yang paling penting bagaimana bisa membangun kebersamaan dalam segala lapisan usia. Inilah kelak yang akan menjadi ilmu dasar bagi mereka ketika terjun di tengah masyarakat. 


Di Gontor ini banyak klub yang bisa mereka pilih, seperti sepakbola, futsal, basket, beladiri, kaligrafi dsb. Mereka boleh memilih lebih dari satu klub jika mereka mau, sesuai bakat dan keinginan mereka. Tentu dengan semakin banyaknya klub yang dipilih, mereka akan semakin disiplin dalam mengatur waktu. Semakin banyak klub, semakin disiplin dalam mengatur waktu.


Dan saya sangat bangga bahwa Imam telah ikut dalam salah club yang memang saya sarankan sejak dia di terima di Gontor. Dia ikut dalam klub beladiri Darussalam. Saya tekankan pentingnya ilmu beladiri bagi seorang ustadz di masa yang akan datang. Setidaknya tak ada lagi "orang gila" yang macam macam dengan ustadz, seperti banyak kejadian yang ada saat ini. Dan hanya di rezim ini pula "orang gila" yang paling banyak menyerang para ustadz dan alim ulama. Semoga Imam kelak punya kemampuan untuk menjaga diri dan keluarga dari "orang gila", itu saja sudah cukup.


Di Gontor mereka bebas dari ketergantungan handphone, walau tidak kudet juga dalam bidang IT. Dan kondisi saat ini berat bagi orangtua untuk mendisiplinkan anak anaknya dalam menggunakan HP. Berat melepasakan anak dari pengaruh HP, dari kecanduan games maupun dari kecanduan animasi, film yang nggak jelas manfaatnya. Di gontor mereka sibuk dengan buku bukunya, kitab kitab yang wajib mereka baca. Membaca rutin al Quran dan hadist hadist setiap harinya. Uang pulsa biarlah menjadi uang jajan bagi mereka di sana.


Di Gontor mereka berkumpul dari segala pelosok daerah yang ada di nusantara ini. Mereka mengenal karakter masing masing daerah melalui daerah asal teman mereka. Melalui konsulat ataupun rayon mereka yang ada di Gontor. Tentu mereka akan hapal nama nama propinsi yang ada di NKRI ini. Mereka tahu nama nama ibukota Propinsi, bahkan juga DATI II yang ada. Di Gontor mereka akan mengenal Indonesia secara utuh.


#####


Di Gontor adalah realita kita sejatinya bagi mereka. Bagi mereka yang sedang belajar ilmu agama dan ilmu dunia, yang juga belajar tentang tumpah darah Indonesia. Semuanya akan menjadi bekal hidup kelak di kemudian hari. 


Ukhuwah mereka sebagai anak bangsa akan terbentuk dengan kuatnya. Kemampuan bahasa Arab dan English dalam keseharian mereka di pondok akan menjadi jembatan untuk mengembara di seluruh dunia di suatu masa nantinya.


So di Gontor adalah realitanya kehidupan kita. Segala persoalan akan selesai di jalan yang ALLAH sukai, dengan asas musyawarah mufakat, bukan dengan pencitraan ataupun kebohongan.


Bintaro, 27/05/2021

2.50 WIB

Senin, 24 Mei 2021

Gontor Mempersaudarakan Kami

 Bersama sebagian tim dansos kemarin sore kami hadir lagi di Ciputat Tangerang Selatan. Bersilaturahim dan berbagi demi santri kami, santri Gontor Tangerang Raya. 



Kami dijamu oleh keluarga bu Lisnawati, anak dan minantunya. Ada nuansa keakraban yang terjalin di antara kami. Gontor tak hanya mempersaudarakan santri santrinya, tetapi juga mempersaudarakan kami para walisantrinya. Gontor mendidik santri tanpa memandang status dan jabatan orangtua atau walisantri nya, begitu juga dengan kami. Kebersamaan kami apa adanya, saling membantu sebisanya, tak pandang status. 


Ada boss yang bisa santuy saja memanggul air mineral ataupun apa saja. Ada "bussiness women" yang juga santuy saja dibonceng naik motor, padahal dia kemana mana selalu dengan kendaraan roda empatnya. Bagi kami semuanya sama saja, yang penting bisa berbuat bagi sesama.


Selepas dari Ciputat menjelang maghrib kami sengaja ke Warung Borowali, milik almarhum pak de Kohar. Beliau adalah salah satu inisiator terbentuknya TIM DANSOS Tangerang Raya ini. Usaha beliau dilanjutkan oleh mbak Rifa, istri beliau. Selain lepas kangen dengan masakan di warung ini, tempat kami sering nongkrong sebelum Covid para walisantri Tangerang Raya, kami juga ingin memberi kekuatan bagi bu Rifa dan anaknya Rara yang akan menjadi capel Gontor tahun ini. 



InsyaALLAH siang ini Rara dan seluruh calon pelajar Gontor dari Tangerang Raya akan berangkat dari mesjid Al Azhom di bawah bimbingan ustad/ustadzah IKPM Tangerang Raya. Semoga dalam perjalanan nanti mereka bisa sampai di tujuan Ngawi dan Ponorogo dengan selamat, sehat dan penuh semangat dalam memperjuangkan kesempatan untuk menjadi santri dan alumni Gontor kelak.


Lepas kangen dan makan malam dari sini kami masih berlanjut ke rumahnya Om Susilo sesuai dengan janji bu Rahayu sebelumnya. Belum lepas rasa kenyang yang ada, sudah harus menikmati lagi seporsi baso khasnya Om Susilo ini. Om Susilo juga punya anak di Gontor Putri 1 kelas 4 saat ini. 



Sebuah perjalanan yang sebenarnya capek juga, tetapi makna akan kebersamaan dan silaturahim yang terjalin di antara kami sangat sangat meminimalisir segala capek yang ada. InsyaALLAH lelah kami Lillah.


Jam sembilan malam akhirnya semua bubar, kembali ke rumahnya masing masing. InsyaALLAH hal hal begini akan indah untuk dikenang ketika anak anak sudah dewasa kelak, ketika mereka menjadi alumni Gontor ataupun ketika mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kelak, di suatu waktu kelak.


Gontor mempersaudarakan, itu terbukti bagi kami.


Tangerang, 23 May 2021

Kamis, 13 Mei 2021

Jajanan Mereka Itu Buku...

Minggu siang, 9 Mai 2021, anak anak minta diantarin ke Bintaro Trade Centre. Dengan satu tujuan, hanya untuk membeli buku buku yang mereka minati untuk memenuhi koleksi mereka. Sudah beberapa hari minta diantarin, tetapi karena kesibukan #dapurbundonova keinginan ini selalu tertunda. Tertunda kadang membuat si bungsu selalu bad mood. Dia selalu nggak sabaran kalo sudah tercetua keinginan untuk membeli buku ini. 


Ada duit yang sudah dia kumpulkan sejak seminggu yang lalu dari saweran abangnya, "palakan halus" ayah dan bundanya dan itu terkumpul Rp. 400.000,-. Uang yang dia pegang itu, yang selalu mengingatkan dia untuk segera ke BTC. Macam macam cara dia bujuk bundanya selama seminggu ini.


Dan menjelang siang ini, setelah selesai masak buat pengiriman sore, segera kami meluncur ke BTC dengan dua motor. Panas yang tak terlalu terik, kami nikmati dalam perjalanan yang tak lebih 5 km jaraknya dari rumah. Hanya sekitar 10-an menit kami sampai.


Saya dan Imam mampir sebentar di BTC, sementara Bunda dan Dhifa langsung ke fresh market Bintaro tempat bude yang menjual buku buku pesanan mereka. Memang sebelumnya sudah ada komunikasi dengan bude tsb tentang buku buku apa yang mereka inginkan. 


Saya dan Imam mampir di "lapak urang awak" yang menjual celana dan baju dengan harga miring. Alhamdulillah buat Imam dapat satu celana hitam buat balik ke pondok nanti. Saya tawarkan dua buah, tetapi dia teguh pendirian cukup hanya satu celana saja. Saya tak bisa lagi memaksa. Saya percaya, dia membeli sesuai dengan kebutuhannya, bukan karena keinginannya. 


Setelah selesai, saya baru menyusul ke Freshmarket menemui sang Bunda dan Dhifa. Di sana Dhifa menambah koleksi buku WHY-nya sebanyak 4 buah, yang harganya Rp. 70.000,- per buku. Dan jika dibandingkan harga di Gramedia sangat signifikan selisihnya. Makanya kami sering ke sini belanja bukunya. 


Setelah menerima empat buah buku tersebut, semua uang ditangannya diserahkan ke bude tersebut, tanpa meminta pendapat kepada sang bundo. Bude yang menerima, tentu kaget, karena uangnya masih banyak lebihannya. 


Ketika bude bilang uangnya banyak banget, Dhifa hanya bilang, "yang penting aku dah dapat bukunya, biar bunda aja yang dapat kembaliannya". Bunda dan Bude hanya tersenyum saja. Anak kami ini memang nggak ngerti duit. Yang ada hanya disimpan saja, tapi belum mengerti tentang harga dan transaksi dalam jual beli. :) 


Dan bersyukur juga bude ini masih ingat dengan Imam, anak kami yang sudah lama tak bertemu. Dulu sering ketemu bude ini, tetapi sejak di Gontor tentu jarang ke sini. Paling sekali setahun ketika libur saja. 


Tak lama dari sini, kami balik ke BTC dan mampir lagi di counter buku bude satunya lagi, yang ditunggui oleh misuanya. Di sini, giliran Imam yang mencari buku buat dirinya. Dia hampir sama seleranya dengan kakaknya. Penggemar buku Tere Liye. Dia sudah beralih ke novel. 



Dan di sini dia memilih empat buah buku Tere Liye, dan dari dia saya tahu bahwa masih banyak koleksi yang belum dia baca. Koleksi kakaknya yang ada di rumah, sudah dibacanya. Bersyukur juga buku buat Imam ini kami belikan sudah diakhir Ramadhan, di saat dia sudah hampir menyelesaikan targetnya khataman al quran untuk ke dua kalinya.


Alhamdulillah, tak lama berselang kami segera pulang, dan di rumah hingga hari ini buku buku ini masih mereka pegang, mereka baca secara bergantian. Selang seling. 


Dengan adanya bacaan ini, durasi mereka memegang HP menjadi berkurang, tak ada lagi rebutan HP.  Yang ada hanya pergantian buku yang mereka baca secara damai. 



Inilah jajajan anak anak kami yang menjadi tradisi selama ini. Merata di antara mereka bertiga. Bahkan mereka lebih memilih jajanan buku ketimbang makan di restoran. Buku buku ini menjadi makanan mereka, makanan otak dan spritual mereka. 


Semoga kelak tradisi ini bisa mereka turunkan ke anak anak mereka kelak. Tradisi Membaca ini semoga berkembang kelak menjadi Tradisi Menulis. Dan saya yakin itu. 


Bagaimana menurut sahabat semuanya?

Rabu, 05 Mei 2021

One Story, Two Perspectives

Seorang penulis buku terkenal duduk di ruang kerjanya... dia mengambil penanya... dan mulai menulis :


"Tahun lalu... saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang....


Di tahun yang sama, saya berusia 60 tahun dan memasuki usia pensiun..., keluar dari pekerjaan di perusahaan yang begitu saya senangi... saya harus tinggalkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama 35 tahun...


Di tahun itu juga saya ditinggalkan ayah yang tercinta...


Kemudian... masih di tahun yang sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah puncak kesialan di tahun lalu..."


Di bagian akhir dia menulis:


"Sungguh... tahun yang sangat buruk!"


Istri sang penulis masuk ke ruangan dan mendapati suaminya yang sedang sedih dan termenung... Dari belakang, sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur dan keluar dari ruangan...


15 menit kemudian dia masuk lagi dan meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut :


"Tahun lalu... akhirnya suami saya berhasil menyingkirkan kantong empedunya yang selama bertahun-tahun membuat perutnya sakit...


Di tahun itu juga... saya bersyukur, suami bisa pensiun dengan kondisi sehat dan bahagia. Saya bersyukur kepada TUHAN, dia sudah diberikan kesempatan berkarya dan berpenghasilan selama 35 tahun untuk menghidupi keluarga kami


Sekarang, suami saya bisa menggunakan waktunya lebih banyak untuk menulis, yang merupakan hobinya sejak dulu...


Pada tahun yang sama..., mertua saya yang berusia 95 tahun... tanpa sakit apa-apa telah kembali kepada Tuhan dengan damai dan bahagia....


Dan masih di tahun yang sama pula... Tuhan telah melindungi anak saya dari kecelakaan yang hebat... Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut..., tetapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun..."

                                  

Pada kalimat terakhir istrinya menulis :


"Tahun lalu.... adalah tahun yang penuh berkah yang luar biasa dari Tuhan.... dan kami lalui dengan penuh rasa takjub dan syukur..."

                                       

Sang penulis tersenyum haru..., dan mengalir air mata hangat di pipinya... Ia berterimakasih atas sudut pandang berbeda untuk setiap peristiwa yang telah dilaluinya tahun lalu... Perspektif yang berbeda telah membuatnya bahagia...


We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have roses. 

(Abraham Lincoln)


Kita dapat mengeluh karena semak mawar memiliki duri, atau bersukacita karena semak duri memiliki mawar..


Sahabat, di dalam hidup ini kita harus mengerti bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur. Namun rasa syukurlah yang akan membuat kita bahagia. Mari kita berlatih melihat suatu peristiwa dari sudut pandang positif dan jauhkan rasa iri di dalam hati. Sehingga kita termasuk orang yang pandai bersyukur 


Semangat pagi!!! 

Semoga sehat dan sukses selalu.

Salam kompak selalu

Selasa, 27 April 2021

Surat Cinta Sang Prajurit

 ~ SURAT CINTA SANG PRAJURIT ~

    ( Sangat terharu .....😭😭 )


Judul : Eternal Patrol, Eternal Love

Penulis : Langit Rindu


"Dek, tolong siapin perlengkapan seperti biasa, dong. Besok ada latihan," pinta Mas Dwi padaku selepas makan sahur. 


"Oke, kali ini berapa lama?" tanyaku.


"Latihannya hari Rabu, dini hari ngeluncurin torpedo, dilanjutkan menembakkan peluru perang. Pagi kemungkinan udah nggak di air lagi. Cuma, ada banyak yang harus dipersiapkan, jadi besok Mas udah harus berangkat." 


"Bali lagi, ya?"


"Iya, Sayang. Kenapa memangnya?" 


"Nggak, banyak bule pakai baju kurang bahan. Kasihan Masku yang lagi shaum ini. Mesti ekstra jaga pandangan."


Dia tertawa sehingga matanya menyipit. Tawa yang menjadi canduku sejak awal bertemu. 


"Mas kan nggak main ke pantai, mainnya sama peralatan tempur di dalam kapal, di kedalaman yang nggak mungkin ada bule berenang. Palingan juga duyung. Tapi, kalau pun ada duyung, pasti nggak secantik kamu."


Entah kenapa aku masih saja malu saat Mas Dwi mulai bersikap dan berkata manis. 


"Tuh, pipinya merah. Padahal udah hampir sepuluh tahun menikah," godanya lagi sambil menunjuk pipiku yang terasa hangat.


"Ish, udah ah. Kira-kira, Mas bisa pulang nggak pas anniversary kita? Udah mau sepuluh tahun, aku belum pernah dikasih kue." Aku pura-pura menggerutu untuk mengalihkan pembicaraan. Sungguh aku masih belum imun dengan segala sikap manisnya. 


"Your wish is my command, Sayang," sahutnya sambil menundukkan punggungnya di hadapanku seolah-olah sedang berhadapan dengan seorang putri seperti di film-film Disney.


Sisa hari kami habiskan berdua dengan Mas Dwi yang menempeliku ke mana pun aku bergerak, kecuali ke toilet. Kebetulan dua anak kami sejak kemarin menginap di rumah nenek mereka. 


Kami ke minimarket di depan gang dengan menggunakan sepeda motor, membeli barang belanjaan pengisi kulkas dan camilan. Mas Dwi kemudian memintaku untuk memasak tumis kangkung dan ayam kecap, menu kesukaannya. Aku memasak dengan gugup karena ia duduk di meja dapur, tak melakukan apa pun selain memperhatikanku. 


"Ini enak banget. Terima kasih, Dek, selama ini udah jadi istri yang baik dan sempurna buat Mas."


"Aku yang terima kasih karena Mas mau bersabar denganku. Mas itu suami terbaik di dunia yang khusus diciptakan untukku," pujiku tulus. 


***

"Mas berangkat, Dek. Hati-hati di rumah. Semoga Allah melindungimu dan anak-anak kita," pamitnya selepas salat Subuh. Sempat tadarus dan menyimak hafalan anak-anak juga sebelum bersiap-siap.


"Mas juga hati-hati, ya. Semoga Allah menjaga Mas juga di mana pun berada. Aku udah masukin sambel kacang dan tempe buat makan sahur dan buka puasa. Kalau memungkinkan untuk menghubungi, jangan lupa kabari ya, Mas?"


Mas Dwi mengangguk, kemudian memeluk erat dan mencium ubun-ubunku seraya melafalkan doa lirih. Aku telah terbiasa mengantarnya berangkat dinas, tetapi kali ini rasanya sungguh berat. Saat mobil yang menjemputnya telah hilang dari pandangan, seketika hatiku merasa kosong. 


Beberapa kali Mas Dwi menghubungi sampai Rabu dini hari sebelum masuk kapal selam. 


"Mas sudah mau nyelam, Dek. Doakan ya. Oiya, sambel kacangnya udah habis waktu buka puasa semalam. Mas bagi sama kawan-kawan. Besok Mas sahur apa, ya?" katanya di telepon.


"Makan makanan kapal." Aku tertawa di antara kantuk, sebelum kembali bicara. "Ntar kalau Mas pulang, boleh request mau dimasakin apa aja."


Hening dari seberang sana, aku sampai mengecek apakah sambungannya terputus, ternyata tidak. 


"Mas ... Mas Dwi. Ngelamun, ya?" tanyaku.


"Eh, iya. Kangen banget," keluhnya. "Sayang, jaga anak-anak baik-baik, ya? Kamu pasti bisa."


"Kok Mas ngomongnya gitu?" protesku. "Kayak mau ke mana aja." 


"Nggak apa-apa, tiba-tiba kepikiran aja. Udah dulu, ya. Sebentar lagi dipanggil, nih. Uhibbuki fillah, ya zaujati."


Sebelum sempat aku membalas ucapannya, sambungan pun terputus. 


Aku juga, mencintaimu karena Allah, Mas. 


Setelah telepon itu, entah kenapa hatiku gelisah dan memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Sore harinya, kegelisahanku sempurna menciptakan tangis. Kapal selam mereka hilang kontak.


Kuambil wudu dengan harapan sedikit meredakan kusutnya pikiran. Setelah itu, menunaikan salat dua rakaat dan menumpahkan segala resah ke sisi langit. Sadar betul, tidak ada yang lebih kuasa dan tempat memohon pertolongan selain Allah. 


Waktu berjalan lambat. Kala statusnya masih dinyatakan hilang pertama kali, harapanku masih meninggi. Setidaknya, menurut keterangan mereka membawa cukup logistik dan persediaan oksigen masih mencukupi hingga 72 jam. 


Hari pertama berlalu, aku berbuka dan sahur ditemani derai air mata dan selaksa doa. Tidak ada informasi yang menumbuhkan positif vibes. 


Hari kedua, informasi menyatakan kapal mereka ada di kedalaman kurang lebih 850m di bawah laut. Allahu Rabbi ... tak dapat kubayangkan lelakiku dan rekan-rekannya berjuang di tengah tekanan udara yang begitu besar. Baja saja akan remuk di kedalaman itu, apalagi tubuh manusia.


Hatiku semakin hancur kala informasi mengenai munculnya kepingan dan barang-barang yang diyakini bagian dari kapal selam yang mereka naiki. Mataku menyorot pada sebuah gulungan di layar televisi. Tidak salah lagi, itu sajadah waterproof yang kubeli setahun yang lalu untuk Mas Dwi. 


Ya Allah ... inikah saatnya untuk merelakan?


Saat aku tenggelam dalam kesedihan, terdengar bel pintu berbunyi. Seorang laki-laki membawa buket bunga mawar beserta kotak kue.


"Dengan Ibu Zea Fridayanti?" tanyanya. 


"Iya."


"Ini ada paket untuk Ibu, mohon ditanda tangan." 


"Terima kasih," ucapku setelah menandatangani bukti terima. 


Untuk pertama kalinya di anniversary kami, Mas Dwi memberiku bunga sekaligus kue. Sepertinya ia menyiapkan semuanya sebelum berangkat.


Ya Allah ... andai aku diperkenankan memilih, aku memilih tidak mendapat kue anniversary selamanya asal lelakiku masih ada di sisiku. 


Sepucuk surat yang menyertai buket bunga itu berisi tulisan khas Mas Dwi.  


"Assalamualaikum, Sayang. Sudah lihat kue dan bunganya? Suka? Apa kabarmu? Pasti sedang cantik. Kapan, sih, kamu jeleknya?  Izinkan aku bernostalgia pada pertemuan pertama kita."


Aku menarik napas sebelum meneruskan membaca. Harusnya wajahku bersemu malu, nyatanya hanya ada perih, sesak, seperti ribuan jarum menghujam dada.


"Kamu tahu, Sayang. Saat Mas diajak pamanmu ke rumahnya, pertama kalinya Mas melihat gadis cantik dengan seragam SMA dan membuatnya menangis di pertemuan pertama. Mas menyindirnya yang memperlihatkan rambut indahnya. Pulang dari sana, pamanmu menghajar Mas karena membuat keponakannya menangis. Akan tetapi, seminggu setelahnya pamanmu justru berterima kasih karena kamu akhirnya menutup aurat dengan sempurna."


Aku tersenyum mengingat pertemuan pertama kami itu. Lelaki yang menyita atensi sejak awal sosoknya tertangkap oleh mataku. Namun, kekaguman itu berubah menjadi kekesalan saat ia menyindir rambutku yang digerai asal tanpa kerudung. Sindiran yang merasuk di hati dan dengannya Allah menuntunku untuk mengenakan kerudung.


"Dua tahun tidak bertemu, pada akhirnya Mas menemukanmu dengan  metamorfosa sempurna. Kamu menjelma menjadi gadis salihah. Mas yang sudah di ambang 30 tahun dengan tak tahu dirinya melamarmu, siap dengan penolakan. Tapi kami adalah prajurit, pantang mundur sebelum berperang." 


Usia kami memang terpaut hampir sepuluh tahun. Namun, pesona seorang Dwi Naresta tidak ingin kulewatkan begitu saja.


"Mas sudah siap ditolak, tapi Allah Maha Baik. Kamu menerima, apa jangan-jangan kamu memang udah suka, ya, sama Mas?"


Tepat. Aku memang menyukainya sejak awal bertemu. Kekesalan atas sindirannya tak mampu mengalahkan rasa suka yang mulai tumbuh. Dua tahun memendam rasa tanpa pernah bertemu lagi, lalu ia datang menawarkan bahagia, kenapa mesti ditolak?


"To be my wife, thank you so much."


And I'm blessed to have you as my husband, Mas.


"Terima kasih untuk semua ekspresi cintamu selama ini. Mas berharap kita akan senantiasa saling mencintai di bumi, kemudian mati dan hidup lagi untuk bersama kembali di surga."


Terima kasih juga untuk seluruh cintamu yang melengkapiku, Mas. Insyaallah ... insyaallah kita akan berkumpul kembali di surga. 


"Didik anak-anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik seperti Mama mereka, ya. Mas ridho padamu. Miss you and love you to the sky sampai under the sea haha."


Aku tak mampu tertawa membacanya, Mas. Sebab tahu, setelah ini aku tak akan mendengarkan gombalanmu lagi. 


Selamat jalan, cintaku. Purna sudah tugasmu mengabdi. Sebegitunya engkau mencintai laut, sampai-sampai menemui takdir kematian juga di sana. 


Aku tak tahu sedang apa engkau kala Malaikat Izrail mendatangimu. Sedang sahur? Salat Subuh? Salat Duha? Sedang menikmati lapar puasa? Atau saat berbuka?


Satu yang kuyakini, engkau kini tengah bahagia. Sebab cita-citamu ialah syahid. Engkau kini syuhada, dipanggil oleh Allah dengan cara yang indah karena ini bulan mulia. Sebagaimana rekan-rekanmu yang lain. 


Hanya sepuluh tahun Allah beri waktu membersamaimu di dunia. Janji, ya. Setelah ini kita akan bersama lagi, tidak hanya untuk sepuluh tahun. Tunggu aku di pintu surga, Kapten!


Garut, 26 April 2021


#Copas

#SuratCintaSangPatriot

#TUNAISUDAHJANJIBAKTI

#SETIASAMPAIAKHIRHAYAT❤⚓⚓


Selasa, 20 April 2021

Hikmah: Legenda Raja dan Batu


Alkisah di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja yg bijaksana. Pada suatu malam, sang raja pergi ke sebuah jalan yg sering dilalui rakyatnya. 

Kemudian ia meletakkan sebuah batu yg sangat besar tepat di tengah² jalan tersebut.


Ketika pagi hari, orang² kebingungan mengapa tetiba ada batu besar di tengah jalan. 


Sungguh batu itu sangat mengganggu sekali, sehingga mereka mengumpat dan memaki hal tersebut.


Sebagian dari mereka mengeluh dan menghela napas panjang karena perjalanan menjadi terusik olehnya. 

Sebagian lagi mengucap sumpah serapah kepada siapapun yg telah mendatangkan masalah ini kepada mereka.


Setelah berlangsung cukup lama, suatu hari seorang lelaki berjalan melintasi jalan tersebut. 

Ia terheran melihat batu besar yg menghalangi seperti itu namun mengapa tak ada orang yg tergerak untuk menyingkirkannya.

Maka sang lelaki mendorong batu tersebut sekuat tenaganya agar bergeser ke tepi jalan. 

Memang cukup berat dan melelahkan, pantas saja orang² tidak ada yg mau melakukannya. Namun pada akhirnya ia berhasil menyelesaikan pekerjaan tersebut meski kelelahan.


Tanpa disangka, rupanya di bawah batu besar itu ada satu kantong uang emas. 

Sang lelaki merasa gembira memperolehnya !!


Rupanya raja memang sengaja meletakkan hadiah tersebut, sebagai kejutan bagi siapa saja yg tergerak menyingkirkan batu itu.


Demikianlah legenda tentang raja dan batu yg kerap kali diceritakan dari generasi ke generasi. 

Betapa banyak kebenaran yg disampaikan dalam kisah tersebut. Bahwa sebagian besar manusia hanya mengeluh saja ketika mereka melihat masalah.


Alih² mereka tertantang untuk mencari solusinya, justru yg dilakukan sebatas mengumpat dan menyalahkan orang lain. 

Mereka hanya menghindar dari masalah, bukannya menyelesaikan. Seperti peribahasa Arab berkata,


"Lebih baik menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan."


Sangat sedikit sekali orang yang berani menghadapi masalah dan merasa perlu turut andil menanganinya meski hal itu bukan kesalahannya. 

Bagi orang-orang yang seperti ini, bersiaplah akan mendapat kejutan tak terduga sebagai hasil dari ikhtiar & ketulusannya. 


✍🏻 Ust. Arafat

Reposted by : @KajianAnNaffii

Senin, 19 April 2021

Hikmah: The Law of Attraction

 KEJUJURUAN YANG BERBUAH INDAH

(Cerita yang lagi Viral...)


30 tahun yang lalu, seorang istri pengusaha sukses di Washington tak sengaja kehilangan tasnya di dalam rumah sakit di malam musim dingin.


Sang pengusaha tampak sangat gelisah, lalu berusaha mencarinya pada malam itu juga.


Karena di dalam tasnya tidak hanya berisi 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp. 1.4 miliar, tapi juga ada informasi pasar modal yang sangat rahasia.


Ketika *Mr. Anderson,* si pengusaha tersebut, tiba di rumah sakit, dia melihat seorang bocah perempuan kurus sedang berjongkok.


Bocah itu tampak menggigil di sudut koridor rumah sakit yang sunyi sambil mendekap sebuah tas.


Si pengusaha langsung mengenali itu adalah tas isterinya yang jatuh.


Ternyata bocah bernama *Seada* ini, ke rumah sakit menemani ibunya yang sakit keras.


Ibu dan anak yang miskin ini, telah menjual semua barang-barang yang bisa dijual.


Uang yang terkumpul juga hanya cukup untuk biaya pengobatan semalam.


Apabila tidak ada uang, maka besok akan didepak dari rumah sakit.


Malam itu, Seada yang tak berdaya mondar-mandir gelisah di koridor rumah sakit.


Dia menatap ke atas dan memohon kepadaNya, agar dipertemukan dengan seseorang yang baik hati untuk menyelamatkan ibunya.


Tiba-tiba, tas yang terselip disisi tubuh seorang wanita yang turun terburu-buru dari lantai atas jatuh tanpa disadarinya ketika melewati koridor rumah sakit.


Mungkin ia merasa masih ada sesuatu di bawah ketiaknya, sampai-sampai tidak sadar tasnya jatuh.


Saat itu hanya ada Seada sendiri di koridor.


Dia berjalan mengambil tas itu, kemudian bergegas berlari ke pintu untuk menyerahkannya kepada wanita itu.


Sayangnya wanita itu telah naik ke mobilnya dan berlalu dari hadapannya.


Seada kembali ke kamar pasien tempat ibunya dirawat.


Ketika dia membuka tas itu, ibu dan anak ini pun tercengang melihat tumpukan uang tunai di dalamnya.


Detik itu juga, sempat terlintas dalam benak mereka kalau uang itu mungkin bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit ibunya.


Namun, ibu Seada menyuruh putrinya mengembalikan tas itu ke koridor, menunggu pemiliknya datang mengambilnya.


Orang yang kehilangan uang itu pasti sangat cemas.


_“Sebaiknya yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah membantu orang lain, kita pun akan ikut cemas dengan apa yang dicemaskan orang lain, dan hal yang paling tidak patut kita lakukan adalah mengambil harta yang tak jelas asal usulnya,”_ kata ibu Seada.


Mr. Anderson pun mendapatkan kembali tasnya. Dia terharu dengan sifat dan perilaku bocah itu.


Mr. Anderson pun membantu biaya perawatan ibu bocah itu.


Sayangnya meskipun Mr. Anderson sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu Seada tak terselamatkan, ia meninggal dunia...


Dia meninggalkan anak perempuannya menjadi sebatang kara di dunia.


Mr. Anderson kemudian mengadopsi Seada, merawat dan menyekolahkannya.


Setelah mendapatkan tasnya, Mr. Anderson bukan saja mendapatkan kembali 100.000 dollar AS miliknya, tapi yang terpenting adalah informasi pasar modal yang hilang itu akhirnya didapatkan kembali.


Itu membuat bisnis pengusaha itu naik melonjak drastis dan menjadi milyuner.


Seada yang telah diadopsi oleh Mr. Anderson sejak ibunya meninggal ketika itu, telah menamatkan kuliahnya dan membantu bisnis sang milyuner.


Meski Mr. Anderson belum memberikan tugas sebenarnya, namun dalam praktik jangka panjangnya, kecerdasan dan pengalaman Mr. Anderson telah memengaruhi Seada secara tidak langsung.


Hal itu menjadikan Seada sebagai sosok pribadi yang matang.


Saat memasuki usia senjanya, Mr. Anderson selalu meminta pendapat Seada mengenai pandangannya.


Detik-detik menjelang masa kritisnya, Mr. Anderson meninggalkan sebuah surat wasiat yang mengejutkan. 


Begini bunyi surat itu.


_“Aku sudah kaya sebelum mengenal ibu Seada. Namun, ketika aku berdiri di depan ibu dan anak yang miskin dan sedang sakit yang tidak tergoda dengan setumpuk uang yang dipungutnya itu, apalagi saat itu mereka sedang sangat membutuhkan uang, aku merasa mereka bahkan jauh lebih kaya dari aku, karena mereka memegang teguh prinsip hidup yang mulia. Itu adalah prinsip yang sangat minim dimiliki pengusaha.”_


_“Harta yang aku dapatkan semuanya ini hampir berasal dari berbagai trik dan intrik. Adalah mereka yang membuat aku sadar bahwa modal hidup terbesar dalam hidup seseorang adalah perilaku.”_


_“Aku mengadopsi Seada bukan untuk balas budi, juga bukan karena simpati. Tapi aku  mengundang sesosok tauladan. Dengan adanya dia di sisiku, aku bisa mengingat hal mana yang pantas atau tidak dilakukan dalam bisnis. Inilah alasan pokok aku belakangan yang membuat usahaku terus berkembang makmur, dan aku menjadi milyuner."_


_"Setelah kematianku, seluruh harta dan aset aku wariskan pada Seada sebagai penerusnya. Ini bukan hadiah, tapi demi agar usahaku bisa lebih gemilang. Aku yakin putraku yang pintar bisa mengerti dengan pertimbangan matang aku selaku ayahnya.”_


Ketika putra Mr. Anderson pulang dari luar negeri, dia membaca dengan seksama surat wasiat ayahnya.


Dia segera tanpa ragu sedikit pun menandatangani persetujuan tentang surat warisan terkait harta termaksud.


_“Saya setuju Seada mewarisi seluruh aset ayah saya. Saya hanya meminta kesediaan Seada menjadi isteri saya...”_ katanya.


Melihat putra Mr. Anderson menandatangani surat persetujuan warisan tersebut, Seada merenung sejenak, lalu membubuhkan tandatangan.


_“Saya terima seluruh harta maupun aset dari Mr. Anderson, – Termasuk putranya...”_


*******


Sekarang, apakah anda telah mendapatkan hikmah dari kisah sederhana di atas ?


Jika Anda bersikap dingin pada orang lain, maka orang lain juga akan bersikap seperti itu.


Jika Anda sering mengkritik orang lain, Anda juga akan mendapatkan banyak kritik.


Jika Anda selalu memasang muka cemberut, orang lain juga akan membalasnya seperti itu.


Semua yang Anda berikan, akan kembali kepada Anda.


Selama Anda selalu bersikap baik, Anda telah menang.


Singkatnya seperti yang dikatakan ahli hikmah, 

_“Apabila anda membenci atau berperilaku buruk/jahat pada orang lain, maka dengan sendirinya anda juga akan mendapatkan balasan yang sama bahkan mungkin lebih dari itu.”_


Sama seperti pribahasa yang berbunyi, 

_“Apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai.”_


Inilah yang dikenal sebagai *The Law of Attraction.*

Hukum Tarik-menarik, _Sunnatullah_, yang berlaku di alam semesta. 


Segala sesuatu yang anda lakukan pada orang lain, sejatinya itulah yang Anda lakukan pada diri anda sendiri.


Jadi jika Anda ingin mendapatkan sesuatu, maka anda harus membiarkan orang lain mendapatkannya dulu.


Jika Anda ingin berteman dengan seorang teman yang tulus, Anda harus bersikap tulus dulu padanya.


Jika anda ingin bahagia, maka bawalah kebahagiaan pada orang lain.


Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri adalah, berbuat lebih banyak sesuatu yang baik untuk orang lain.


Sering kali, saat kita membantu orang lain, tidak berarti kita akan kehilangan.


Tetapi justru karena Anda telah membantu orang lain, sehingga dengan demikian akan mendapatkan persahabatan dan teman.


Membantu orang lain sama dengan memberi sebuah jalan pada kita sendiri.


Dalam hidup itu seharusnya kurangi sifat egois, lebih peduli pada orang lain, maka dunia kita akan penuh dengan cahaya dan pesona...


_"Sebaik-baik manusia adalah, yang bermanfaat untuk manusia lainnya."_

(HR. Muslim).



Selamat beraktivitas dibulan yang penuh berkah ini, saudara-riku tercinta...

😊🙏❤💕

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...