Selasa, 16 Desember 2025

TAM:: Bakauheni Kalianda (3)

Ternyata prediksi bakalan sampai di Bakauheni molor. Baru landing jam 19.10 WIB. Faktor yang mempengaruhi jelas cuaca yang kurang bersahabat. Mendung dan hujan selama perjalanan serta ombak yang sangat besar di sepanjang Selat Sunda.


Ketika adzan Maghrib berkumandang, dari dek dua ke dek tiga, dimana mushola berada, kami berjalan sangat hati hati sekali. Bagian luar kapal basah, air yang tergenang bergerak ke kiri dan ke kanan. Kecipratan sudah pasti.


Begitu juga ketika naik tangga, harus berpegangan ke railing nya. Angin bertiup sangat kencang, menyebabkan kaos oblong yang saya gunakan selain kena hujan, juga sempat tersimgkap ke atas karena tiupannya.


Alhamdulillah meskipun basah, bisa berwudhu dan sholat berjamaah Maghrib dan dilanjutkan sholat isya yang diqashar. Jamak qashar. Alhamdulillah sholat tidak tertinggal dan masih sempat berjamaah. Dan ketika sholat pun harus hati-hati, agak goyang juga akibat guncangan ombak di KMP Batu Mandi ini.


Selesai sholat langsung kembali ke ruangan dimana Dhifa tetap menunggu kami. Jelas kapal tidak sekencang biasanya. Tak lama berselang kami pun kembali ke dalam bus. Agak "berselingkit" penumpang yang turun, karena hujan gerimis dan jalan agak licin. Dan sempat mengamati juga di dek kendaraan pribadi tak begitu rame ini. Hanya sepertiga yang terisi.

Keluar dari lambung kapal, kendaraan pun pelan-pelan. Agak tersendat hingga akhirnya bisa keluar kapal dan segera menuju pintu tol menuju rumah makan Siang Malam dimana ini akan menjadi rest area pertama yang kami jalani.


Voucher makan yang ada di tiket, bisa ditukarkan di sini. Sekali makan saja dan itu wajib di sini, begitu penjelasan bang Doris. Makannya prasmanan. 


Namun karena kami masih ada bekal yang tadi belum sempat dimakan di atas kapal, akhirnya 3 voucher tersebut kami jadikan 3 nasi bungkus. Kami makan bekal yang disiapkan oleh sang bundo dengan lauknya Ikan sapek tempe balado, tuna balado dan oseng-oseng tahu tempe. Plus dua gelas teh manis hangat kami pesan, penghangat tenggorokan, seharga Rp 6.000 per gelasnya.

Layanan prima diberikan karyawan rumah makan ini. Meskipun kami makan dengan bekal kami sendiri, kami tetap disuguhi minuman air putih hangat, untuk bertiga. Namun tetap setelah makan, kotak mika tempat kami makan dan satu kotak lauk yang habis tetap kami rapikan. Kami tumpuk semuanya di tengah meja, sehingga karyawan rumah makan tinggal ambil saja. Sebuah kebiasaan yang telah lama kami lakukan. Meringankan dan membantu kerja orang lain.


Kami terakhir penumpang yang dipanggil ke dalam bus. Dan saat bus berjalan, singgah sebentar di SPBU terdekat sebelum masuk tol Sumatra lagi. Nyolar dulu mumpung sepi dan tak perlu antri panjang.


Alhamdulillah, saat ini kami sudah di tol trans Sumatra. Jalan malam sendirian. Tak tampak ada bus lainnya yang membersamai kami. Insyaallah sebentar lagi saya akan menikmati perjalanan ini dengan tidur sebisanya. Semaksimalnya. 


Syukurnya hujan telah reda. Kecepatan bus lebih terasa. Mungkin juga karena kondisi jalan yang rada sepi.


JTTS, 21.08 WIB 

16 Desember 2025.

TAM: Merak Bakauheni (2)

Jujur, saya merasakan kenyamanan dalam perjalanan dari Terminal Poris Plawad hingga ke Pelabuhan Merak. Dua orang, anak bujang dan gadis saya tertidur, sementara saya asyik menulis. Dan jarak yang biasanya ditempuh selama sekitar dua jam, tertempuh selama 1 jam 40 menit. Tak terasa memang. Suspensi bus ini sangat oke. Nyaman banget.

Sampai di Merak tak lama menunggu langsung masuk pelabuhan. Antri sebentar kemudian masuk ke dermaga eksekutif dan siap siap masuk ke lambung kapal, menunggu kendaraan yang keluar dari KMP Batu Mandi. Di sini antrian masuk ke dalam kapal lebih lama.


Selama waktu tunggu itu saya sempat melihat besarnya ombak yang ada. "Agak ngeri ngeri sedap", kata Bang Doris kernet TAM yang ternyata orang Simabua. Alhamdulillah suspensi PO ini bisa dinaikkan sehingga biasanya aman ketika masuk ke lambung kapal meskipun ombak besar. Namun tetap saja penuh kehati-hatian karena ombak sangat besar sore ini, ram yang ada antara kapal dan dermaga selalu bergerak-gerak.


Hangat nya obrolan saya dengan bang Doris ini sama hangatnya denga sang drivernya. Pak Mawardi. Beliau sudah setahun lamanya di PO TAM ini, yang artinya sama dengan trayek Jakarta Pekanbaru ini. Ya, PO TAM ini sudah setahun melayani trayek gemuk ini, Jakarta Pekanbaru. Dan kebetulan juga beliau urang Tanah Datar juga. Makin asyiklah lah kita ngobrol bertiga di depan. Dan tak lama kemudian ketika saya memvideokan saat bus masuk kapal, Imam pun datang di belakang saya, ikut nimbrung.

Bang Doris turun dari bus, membantu mengarahkan saat yang tepat bagi pak Mawardi untuk masih ke dalam kapal. Ombak tetap besar. Memang ngeri ngeri sedap juga saya lihat.


Namun akhirnya bus masuk ke dalam kapal dengan selamat, aman dan terus masuk dibagian depan. Di depan kami ada beberapa truk besar dan kecil. Dan di samping kami disusul oleh bus NPM tujuan Sumbar. Saya kira tadinya itu NPM tujuan Pekanbaru. Unitnya sama yakni Sutan Class juga. Biar ada teman lari malam ini bersama PO TAM yang saya tumpangi.

Tak lama kemudian kami segera masuk ke dek atas KMP Batu Mandi ini. Mencari posisi yang nyaman untuk satu jam atau satu setengah jam perjalanan ke depan, menuju pelabuhan Bakauheni. KMP ini sudah beberapa kali kami naiki, dan rasanya yang terakhir itu ketika konvoy dengan Nanik dari Sumbar menuju rantau. Saya masih melihat tempat duduk yang sama, cuma suasananya tidak seramai dulu ketika kami naiki. 


Sekitar jam 17.15 WIB kapal mulai bergerak menuju pulau Andalas. Suasana mendung, sama ketika gerimis dan hujan saat di tol menuju pelabuhan Merak tadi. Sore ini tak terlihat cahaya Mentari. Tak ada sunset yang terlihat. Hanya mendung dan gerimis halus ketika melintasi Selat Sunda di sore ini.


Insyaallah diperkirakan sekitar jam 18.15 - 18.30 WIB nanti akan kami sampai di Bakauheni. Dan setelah itu menuju rumah makan sebagai rehat pertama dalam perjalanan menuju Kota Pekanbaru. Rehat pertama nanti di daerah Kalianda Kampung.

Alhamdulillah meskipun ombak agak terasa, KMP Batu Mandi ini berlayar dengan tenangnya. Beberapa pulau kecil menjelang pulau Sumatra samar terlihat. Cuaca mendung dan gerimis halus masih menemani perjalanan kami.


Selat Sunda, 17.50 WIB 

16 Desember 2025

TAM: Tangerang Pekanbaru (1)

Alhamdulillah, jam 2 siang tadi kami sudah memulai perjalanan safar bersama PO TAM. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di terminal Poris Plawad. Sekitar jam 10 an sudah dikabari oleh agen nya agar kami standby di terminal jam 12 siang. Namun kami yakin bahwa sesuai aplikasi tetap akan berangkat sesuai waktunya, untuk line pertama PO TAM hari ini. Line kedua nya jam 16.00.



Sengaja berangkat lebih awal juga, karena tak mau menganggu aktivitas Bundo yang juga akan memberi materi KMO bagi siswa siswa nya jam 1 siang. Dia juga tidak mau datang ke sekolah sebelum kami berangkat. Memang begitulah seharusnya, keluarga tetap yang utama. So ada win win solution juga bagi kami. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 11.40, Bundo juga langsung ke sekolahnya di daerah Pinang. Sekitar setengah jam perjalanan, sedangkan kami sekitar 40 menit ke terminal Poris via tol Bintaro Kunciran.


Datang lebih awal di terminal juga ada manfaatnya bagi kami. Selain konfirmasi kepastian keberangkatan ke agen, karena pemesanan tiket kami secara online melalui aplikasi REDBUS. Tiket per orang 700.000 rupiah.


Selesai konfirmasi ke agen, mencari lokasi duduk yang nyaman karena lumayan juga barang bawaannya, saya dan Imam bergantian sholatnya, sambil salah seorang dari kami menemani Dhifa tentunya. Sholat nya jamak takdim, Zuhur dan Ashar di waktu Zuhur.


Saya pun tak lupa membuka komunikasi dengan para agen yang ada di sana. Bukan saya yang memulai, tetapi apara agen yang ramah menyapa saya. Mungkin begini cara mereka mencari penumpang yang prospek, meskipun mereka tahu saya sudah memiliki tiket TAM. 


Beberapa agen yang menyapa antara lain PO NPM, Miyor, Gumarang Jaya, ANS dan lain-lainnya bus PO ke Sumsel. Namun yang berkesan adalah agen Miyor, yang sekalian menyerahkan kartu namanya setelah lama diskusi mengenai PO Miyor ini, termasuk yang akan membuka trayek Jakarta Pekanbaru pertangahan bulan ini dengan kelas tertinggi nya, yakni Dream Class, Sleeper Class. Satu armada setiap harinya. Sebagai komparasi harganya ke Padang dengan kelas tersebut 950.000 per seat nya. Semoga ada harga promosi atau diskon di awal pembukaan trayek nantinya sehingga bisa menikmati armada keren dan termasuk rating tertinggi di lintas Sumatra. 


Obrolan lainnya dengan agen TAM juga menarik. Line pertama hari ini tersisa 3 seat dan line ke dua tersisa 6 seat. Artinya PO ini cukup diminati penumpang yang menuju Jambi dan Pekanbaru. Dua unit setiap hari. Line pertama dari Sukabumi dan line kedua dari Bandung. Oh ya sebagai tambahan info NPM dengan Sutan Class nya menuju ke Pekanbaru hari ini pun full seat. Cuma satu unit saja yang berangkat setiap harinya, dengan harga Rp 675.000.


Dari agen ini kami juga mendapat info tentang rencana owner TAM yang akan membuka trayek Jakarta ke Sumbar di akhir tahun ini, dan setelah itu akan diikuti pembukaan trayek baru Pekanbaru - Medan. Lumayan juga ekspansi TAM akhir akhir ini, yang bermula dari bus pariwisata dan cargo. 


Obrolan lainnya dengan agen ANS, yang mengabarkan belum ada rencana PO ini untuk kembali membuka trayek Jakarta Pekanbaru. Dulu ketika masih bujang, saya masih sempat menikmati PO ANS ini dari Duri menuju Jakarta. Entah kenapa belum ada keinginan dari owner untuk mengaktifkan kembali jalur ini. Padahal potensi penumpang nya masih besar, karena fanatisme urang awak sangat tinggi terhadap PO ini. Apalagi bila nanti jalur toll Sumatra akan terbentuk sempurna dari Bakauheni Lampung hingga ke Pekanbaru Duri dan Dumai yang akan memangkas waktu tempuh. PO lain sudah ancar ancar, karena ini adalah jalur gemuk sebenarnya.


Demikian pula dulu pengantar tulisan ini, sbil menunggu kapal masuk kapal di dermaga eksekutif.


Semoga nanti sampai di Pekanbaru sesuai harapan. Selamat, aman dan lancar serta sehat penuh kebugaran. Aamiin yaa Rabb


Merak, 16.07 WIB

16 Desember 2025.

Minggu, 14 Desember 2025

Nyali dan Hobby

Tak terasa hampir setahun yang lalu, 14 Desember 2024 memiliki kenangan yang luar biasa. Berdua dengan si Bundo, kami merambah lintas Sumatra untuk pertama kalinya berdua-an. Benar benar berdua saja.


Berangkat malam sehabis sholat Maghrib sekitar jam 19.00 dari rumah dengan Terios kami, keluaran tahun 2013. Berangkat mendadak, tanpa pemberitahuan kepada sesiapa pun di kampung halaman. Hanya anak anak saja yang tahu perjalanan kami ini. Mereka dikasih tahu karena trip perjalanan mereka ke kampung halaman menyusul kami dengan moda transportasi yang berbeda, darat dan udara, diatur sedemikian rupa secara cermat. Mereka juga berdua, dari dua kota yang berbeda, Tasikmalaya dan Kudus.


Bagi kami inilah perjalanan yang sangat sangat berbeda. Beda dari segalanya nuansa dan pengalaman sebelumnya. Keputusan ini mendadak demi membahagiakan orang tua dan sanak keluarga yang ada di Kapau sana.


Jalan malam, melintasi selat Sunda dengan kapal reguler sehingga bisa tidur selama dua tiga jam. Subuh sudah mau memasuki kota Palembang. Sarapan dengan stok yang ada di kendaraan saja, tidak mampir seperti biasanya di kota Palembang.


Jalan santai menjelang siang, hingga akhirnya benar benar lapar ketika sudah sampai di Betung menjelang perbatasan Sumsel dan Jambi. Dan akhirnya kami berhenti di RM Pincuran Gadang dimana di sini banyak truk dan kendaraan pribadi yang parkir. Dan salah satu ciri rumah makan yang enak dan harga terjangkau ya ini, banyak disinggahi oleh supir truk.


Alhamdulillah "makan lamak" lah kami di sini. Lauknya enak terutama gulai kepala kakapnya. Ada juga gulai jengkolnya. Benar benar kenyang.


Dan selanjutnya sehabis makan siang perjalanan dilanjutkan menuju Bungo. Ada permen karet yang saya kunyah kunyah ketika mata mulai ngantuk. Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik.


Sampai di Muaro Bungo menjelang Maghrib kami pun rehat di sini. Bundo melarang untuk melanjutkan. Apa yang dicari? Kita jalan santai saja lah, katanya.


Bermalam di sini, makan malamnya juga ada di dekat penginapan dengan menu khas Payakumbuh. Urang awak juo.


Esok subuh kita lanjutkan perjalanan, dan sampai di Kapau selepas sholat Zuhur. Saat orang sedang rami rami nya mamasak "marandang untuak baralek". Semuanya terkaget-kaget dengan kedatangan kami ini. Berdua saja, tanpa anak-anak. Perjalanan seperti urang nan "pulang pokok" saja.


Namun ada beberapa hal dalam perjalanan berdua ini yang bisa kami jadikan patokan sebelumnya, antara lain:

1. Kesiapan fisik baik kendaraan maupun supir dan penumpangnya.

2. Nyali dan Hobby. Ini adalah faktor utama juga. Biasanya  terasah dengan sendirinya. 

3. Pengalaman berkendara dan jam terbangnya.

4.Perhitungan. Ini berdasarkan pengalaman seberapa sering jalur tersebut sudah ditempuh. Begitu juga perhitungan kapan akan memulai, kapan akan sampai. Hitungannya harus matang. Begitu juga kapan akan rehat dan target rehat nya dimana.

4. Pendamping atau co driver sangat menentukan. 

5. Doa sebelum, selama dan selesai perjalanan. Ini adalah faktor utama juga. Memohon perlindungan kepada Allah SWT selalu dan senantiasa. Dia lah yang akan melindungi selama kita memohon kepadanya. Kadang dalam perjalanan jauh banyak hal hal diluar nulir yang bisa saja terjadi. Pertolongan sering hadir tanpa kita sadari. Semuanya tentu karena pertolongan dari Allah SWT. So jangan tinggalkan sholat Dan doa selama perjalanan.


Demikian sekedar sharing, flash back perjalanan setahun yang lalu. Dan akhir tahun ini, adakah cerita lainnya?

Penasaran? Saya pun demikian. 



Gambar hanya sekedar pemanis tulisan


Graha Raya

10 Desember 2025

20.40 WIB

Kamis, 30 Oktober 2025

DPP IKA FMIPA: Sosialisasi dan Konsolidasi

Alhamdulillah tadi malam sesuai undangan yang disampaikan bisa hadir lebih awal di Basuo Cafe and Space miliknya da Nuh dan ni Rika Anggraini Zein. Lepas jam kantor saya langsung bablas ke sana, dalam gerimis hujan di beberapa spot tol Bintaro Cibubur. Insyaallah hujan yang penuh keberkahan. Dalam hujan dianjurkan untuk berdoa. Disunnahkan untuk berdoa. 


Hampir satu jam perjalanan, saya sampai di sana. Gerimis masih turun halus. Saya disambut 'crew' yang ada di sana, yang mungkin di antara mereka sudah hapal dengan wajah saya. Sejenak saya ke kamar mandi dan keluar dari sana saya diantar ke ruangan kaca tempat kami akan berkumpul. Dipayungi. MasyaAllah. 


Menunggu yang lain datang, saya pesan secangkir kopi tanpa gula. Menikmati kesendirian di sudut kota Jakarta, dalam keheningan menjelang malam, sesekali diperlukan. Berkontemplasi. Mengingat betapa waktu memang cepat berlalu. Minggu lalu dimana, sekarang dimana, dan esok mau ke mana. Adakah kebaikan dan kebermanfaatan dalam setiap waktu yang Allah SWT berikan kepada kita? Sebuah pertanyaan yang perlu renungan yang mendalam.


Belum habis setengah cangkir menikmati kopi, adzan Maghrib berkumandang. Mengingatkan diri waktu malam sudah datang. Hak Allah wajib ditunaikan. 


Da Nuh pun datang. Kemudian disusul oleh Donal SSi. Bertiga kami ngobrol ringan sambil menikmati minuman yang telah dipesan sebelumya. Tak lama berselang tim formatur yang sengaja datang dari Padang turun dari mobil. Bertiga mereka. Da Niswan, Sutan Rusman dan Edo. Disusul kemudian oleh Hery Yusamandra dan keluarganya dan Dedi Harliyansyah Harliyansyah dengan keluarganya juga. Masing-masing mereka dengan istri dan satu anak bungsunya. Da Jekvy Hendra, ketua DPP terpilih kami akhirnya datang bersama da Amrizal Nur Tanjung . Sebuah keterwakilan dari pengurus DPP IKA FMIPA Unand yang akan dibentuk bersama dengan pengurus IKA FMIPA Unand Jabodetabek. Sebuah koordinasi organisasi pusat dan wilayah. Suatu awalan yang baik tentunya.


Dan sudah menjadi kebiasaan di ranah Minang, barundiang sesudah makan. Alhamdulillah itu juga yang kami lakukan. Hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya, siap disantap bersama. Ada sapek kentang balado, gurame bakar, aneka aneka sayuran yang direbus dan sop dagingnya. Makan malam pilihan da Nuh, ala kampung tanpa santan ini, pas banget. Sabana lamak. Dan ini suatu bukti juga bahwa masakan Padang, ada juga tanpa santan. Walaupun tanpa santan, tetapi tetap enak dimakan. Tetap membuat lidah berdecak dan berucap, "Lamak Bana". 


Dan sesuai gurauan da Jekvy kepada da Nuh, sehabis makan selama "sharing session" antara sesama pengurus, tamu kami yang dari Padang, dilarang lapar. Harus full servis.


Dan ini dijawab oleh Da Nuh dengan adanya pisang sebagai cemilan segar. Ada lagi singkong crispy bertabur coklat dan martabak Kubang yang siap santap. Belum lagi kopi ataupun jus sesuai selera. 


Jadi selama diskusi antara sesama pengurus ini penuh dengan kehangatan. Ada langkah kerja yang akan dilakukan. Ada tahapan sosialisasi dan konsolidasi organisasi. Dan yang terpenting adalah adanya keinginan dari DPP IKA FMIPA yang baru ini untuk mendengar aspirasi dari bawah. 


Insyaallah setelah pertemuan tadi malam, akan dilanjutkan lagi dengan pertemuan DPP ini dengan alumni lainnya di hari Minggu, masih di Basuo Cafe and Space.


Mungkin ini sekedar catatan atas apa yang kami diskusikan tadi malam. Notulensi dicatat oleh "Sekjen" Edo, alumni Fisika angkatan 2006. Bagi saya tadi malam adalah pertemuan yang kedua kalinya bersama Edo, yang kebetulan juga duduknya pas di sebelah kiri saya. Edo termasuk salah satu mide formatur, yang juga menjadi pimpinan sidang saat Mubes Alumni FMIPA bulan lalu di Dekanat FMIPA Unand Padang. Notulensi Edo ini yang mungkin akan dishare juga di hari Minggu nanti, insyaallah.


Poris, Tangerang 


25 Oktober 2025

07.55 WIB



Minggu, 07 September 2025

Rizal Fahmi

Dalam lustrum XII Kimia Unand kemarin sengaja saya ingin bertemu dengan Prof Suryati, yang baru baru ini pengukuhannya dilaksanakan oleh Rektor Universitas Andalas. Saya ragu yang mana orangnya, karena lama tak bertemu.


Dan ketika ada kesempatan bertemu, saya menyampaikan permintaan maaf. Permintaan maaf saya secara personal yang belum sempat saya laksanakan sejak Pak Rizal meninggal dunia. Padahal itu sudah lama sekali. Belum ada kesempatan.


Saya sampaikan permohonan maaf jika dulu saya sering berhadir di kontrakan mereka hingga tengah malam. Pak Rizal Fahmi adalah dosen pembimbing penelitian saya. Beliau pembimbing kedua, sementara pembimbing satunya adalah Prof. Yunazar Manjang. Tetapi dengan beliau saya sangat intens. Beliau lah langsung mewakili pak Yun yang memang super sibuk. Pak Yun waktu itu menjabat sebagai Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan. Semua urusan anak bimbingan penelitiannya hampir di-handle oleh pembimbing dua, yang memang orang kepercayaannya. Selain pak Rizal ada juga pak Adlis Santoni.


Pak Rizal ini lah yang totalitas membimbing saya, mengoreksi dan mengedit apa apa yang ada dalam draft skripsi saya secara sempurna. Bolak bolak kekediaman hingga tengah malam adalah hal yang lumrah. Juga ketika pulang dari laboratorium Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) sering kami lakukan sehabis Maghrib. Berjalan kaki adalah hal yang biasa karena bus kota sudah tak ada lagi. Bahkan kalo pun ada bus kota, sering kali beliau yang membayarkan ongkos kami. Umumnya mahasiswa tingkat akhir sangat dekat dengan beliau.


Yang penelitian dengan beliau umumnya dua katagori saja. Pertama Mahasiswa yang pengen penelitian dengan biaya murah, artinya relatif "pandai", pengen cepat tamat dengan mengharapkan adanya proyek penelitian, sehingga sebagian besar yang bahannya disediakan atau dibelikan dari proyek tersebut. Yang kedua adalah mahasiswa mahasiswa bermasalah. Bermasalah dengan masa study yang harus segera diakhiri. Harus segera jadi sarjana. Yang kedua inilah yang banyak beliau bantu. Dengan kesabaran dan kemurahan hati beliau. Jiwa kebapakannya sangat dirasakan, walau kadang mahasiswa sering memanggil beliau dengan sebutan Uda, atau da Rizal.


Kondisi beliau yang sebenarnya pas-pasan, dengan anak dua orang masih kecil, rumah masih ngontrak, kemana-mana naik bus kota, saya akhirnya merenungi. Bahwa saya tentu sangat menganggu "dapur" nya, yang otomatis ni Sur juga harus lebih sabar lagi dibandingkan pak Rizal ini dalam mengatur keuangan keluarga. Makanya ketika bertemu dengan ni Sur kemarin saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya tentu termasuk salah satu mahasiswa almarhum yang menggangu "dapurnya" Ni Sur.


Tetapi dari ni Sur juga saya tahu, bahwa almarhum wafat dalam kondisi sholat. Wafat di hari baik, hari yang mulia, Jum'at 12 Mei 2012. Saya mendapatkan kabar waktu itu banyak sekali yang ikut menshalatkan beliau di madjid kampus "Nurul Ilmi", mesjid Kampus Universitas Andalas, Limau Manih. 


Alhamdulillah, beliau ternyata telah menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali. Walau begitu beliau sempat "drop" ketika Al Hadid, anak laki-laki yang beliau sayangi wafat di waktu kecil. Tetapi dalam doa beliau ketika berhaji, setelah Hadid wafat, doa tersebut Allah kabulkan. Allah hadirkan sebagai ganti dengan anak ketiga mereka. Madina namanya putrinya ini. Nama yang beliau lekatkan karena doa yang beliau panjatkan ketika berada di Madinah.


Alhamdulillah, dua putri nya, Titan dan Dina, sudah menjadi dokter. Uni Sur pun sudah menjadi Guru Besar di Kimia Unand.


Saya yakin ini adalah keberkahan yang Allah tampakkan setelah beliau tiada. Kadang balasan kebaikan kita tak selalu Allah SWT tampakkan ketika kita masih hidup, tetapi Allah tunda setelah kita tiada, atau ganti di akhirat kelak. Sekecil apapun kebaikan, pasti Allah siapkan balasannya. Janji Allah adalah pasti.


Kesabaran beliau yang luar biasa. Kebaikan beliau terhadap mahasiswa nya tak berbatas. Ilmu yang beliau sampaikan penuh keberkahan. Beliau mengajarkan ilmu kimia berdasarkan nilai nilai keislaman, nilai-nilai kejujuran. Dan banyak lagi ilmu bersosial, bermasyarakat yang beliau praktekkan dalam keseharian. 


Beliau tidak hanya dekat dengan mahasiswa, tetapi beliau juga dengan masyarakat golongan menengah ke bawah. Beliau bisa akrab dengan supir dan stokar bus kota, dengan pedagang pasar dan pedagang asongan. Beliau salah satu dosen Kimia yang sangat low profile.


Semoga tulisan ini, yang saya tulis di atas pesawat dalam perjalanan ke Soekarno Hatta, di atas pulau Sumatera, menjadi sebuah testimoni saya pribadi terhadap almarhum dan keluarga beliau. Terimakasih ni Sur yang sudah memaafkan saya. Walau saya belum bertemu dengan Titan dan Dina, sampaikan juga maaf saya kepada buah hati almarhum. Saya yakin beliau bangga punya dua anaknya ini. Insyaallah mereka menjadi anak yang sholehah, yang senantiasa mendoakan Ayah nya.


Semoga tulisan ini ada

manfaatnya. Menjadi sebuah catatan amal sholeh bagi almarhum pak Rizal dan ada hikmah bagi kita semuanya, terutama anak bimbingan beliau selama ini.


7 September 2025

09.15 WIB

Pelita Air

Sabtu, 16 Agustus 2025

Sepedaan

Hari ini olahraga nya agak beda. Di awali dengan olahraga jalan kaki dari rumah lebih kurang satu jam, akhirnya dilanjutkan dengan sepedaan. Sesuatu yang di luar rencana.


Tadinya naik sepeda hanya sekedar mencari pangkas rambut yang buka. Dua tempat cukur yang didatangi ternyata masih tutup. Akhirnya baru sadar, waktu baru sekitar jam 7 an awal. Mau sarapan juga malas. 


Akhirnya dilanjutkan sepedaan saja. Tadinya mau yang dekat dekat saja, eh akhirnya bablas hingga ke Cipadu. Awalnya sih agak ngos-ngosan juga, maklum sudah lama banget nggak naik sepeda. Dulu mah masih bisa ikut fun bike. Dari rumah ke GBK dan ikut lomba di sana. Pulang pergi masih kuat. Berangkat pagi bada subuh, balik balik menjelang siang. Sekarang? Entahlah. Masa itu dah lama berlalu. Sepeda yang dulu pun entah kemana, nggak tahu siapa yang beruntung memiliki nya. Saya lupa kasih ke siapa.

Dan sekarang sepeda ini adalah sepeda yang saya beli tiga tahun yang lalu. Pemiliknya awalnya adalah bule di kantor, expatriat. Dia habis kontrak di BSJ, entah kenapa saya tertarik membelinya. Mustang S.I.S Raleigh mereknya. Asli buatan sono, UK, katanya. Bawaan aslinya, saya hanya menambah standar nya saja. Lama sepeda ini tergeletak, jarang saya pake. Ehh ternyata, kemarin anak gadis kami mengantarkan ke.bengkel. Ada bannya yang kempes dan sedikit servis di standarnya. Biayanya hanya 10.000,-.  Dua hari yang lalu.


Dan pagi ini, saya mau ke tukang cukur memilih sepeda ini ketimbang naik motor. Sekalian "test drive" saja maksudnya. Eh ternyata enak juga dibawa. Kang servis nya kemarin oke rupanya. Lumayan juga lah ini buat olahraga, dirutinkan lagi nampaknya bersepeda ini. Sekalian tetap olahraga jalan kaki tentunya.

Dan tadi sempat terlintas juga, kenapa nggak sekalian aja ya sepedaan hingga ke ranah Minang, ke kampung halaman. Caranya?

Pasti ada. 


Cipadu, 16 Agustus 2025.

08.28

Sambil seruput teh Talua Ajo Das.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...