Rabu, 29 April 2020

Prominent Generation: Hikmah Yudisium Tanpa Walisantri

By pak Joneez

Mari kita ambil hikmahnya yudisium kali ini tanpa walisantri. Bagaimana syahdunya suasana tanpa walisantri yg biasanya sangat ramai dan umumnya menyisakan sampah yg ditinggal begitu saja.

Begitu sakralnya yudisium kali ino tanpa barisan mobil yg menumpuk dr GP1 sampai GP2 bahkan sampai masjid Annur.

Dan saat ini semua sama, tidak ada tangisan santri yatim ataupun piatu, yang tak dihadiri lengkap oleh kedua orang tuanya, ketika mereka menyaksikan temannya yang dihadiri orangtua nya masing masing bahkan ada yang nenek dan kakeknya datang.

Sekarang kondisi mereka sama. Tidak ada yang melihat mobil mewah di parkiran, sedangkan mereka pulang dengan bus umum.
Sekarang semua sama, sesuai ajaran agama kita.
Semua sama hanya iman yg membedakan. Juga para santri, mereka semua sama. Hanya hasil kerja keras mereka yang membedakan.

Sedih saya saat yudisium tahun lalu melihat sedihnya Miska dan bundanya ketika berkata, "Saat inilah yang ditunggu papanya, melihat buah hatinya yg terakhir yudisium".

Tapi bahagianya saya saat itu karena ikut menemani para walisantri penerima beasiswa menunggu nama putrinya dipanggil saat yudisium guardian generation. Terlihat rasa haru dan bahagia ada yg membantu putrinya lulus sampai pengabdian. Mereka berdua menjatuhkan air mata yang beda arti.

Selasa, 28 April 2020

In memoriam Pak De Kohar - Tokoh Pemersatu Walsantor Tangerang Raya

Beliau bukan pejabat, apalagi selebriti. Beliau hanyalah orang biasa saja. Biasa dan bersahaja. Bisa bersahabat dengan siapa saja. Bersahaja dalam keseharian, dalam setiap acara kumpul yang kami adakan, bahkan tetap bersahaja dalam acara resmi yang kami adakan.

Padahal dalam acara acara resmi yang kami adakan itu, bersama kawan kawan walisantri dan IKPM Tangerang bisa menghadirkan pejabat dan tokoh nasional, seperti bapak DR Hidayat Nur Wahid yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR RI, Dubes Azerbaijan saat itu bapak DR.  Husnan Bey Fanani dan terakhir pimpinan pondok GONTOR KH Hasan Sahal serta beberapa pimpinan pondok pesantren yang ada di Banten. Hadir dan duduk berdampingan bahkan photo bersama dengan para tokoh undangan tersebut tak membuat beliau angkuh, sombong dan jumawa. Beliau tetaplah apa adanya, bertutur dan bersikap seperti apa adanya.

Sama sekali tak pernah terdengar ke"aku"an beliau terhadap kesuksesan setiap acara. Selalu saja ini beliau sampaikan ini adalah kerja kita bersama. Walaupun kadang kala kita melihat dan merasakan bagaimana beliau mati-matian bekerja. Bersitungkin, bahasa Minangnya. Tak kenal lelah, tak kenal waktu. Kaki kadang jadi tangan, tangan kadang jadi kaki.

Semangat beliau tak tertandingi. Semangat beliau luar biasa dalam menebar dan merekat silaturahmi. Semangat beliau membantu para walisantri dan santri setiap generasi hingga kini tak pernah mati. Terhadap IKPM Tangerang beliau membantu dan tidak pernah setengah hati. Apa yang terbaik beliau siap menjalani.

Di tangan beliau yang tak mungkin menjadi mungkin. Di tangan beliau yang susah menjadi mudah. Mengapa?? Karena beliau dekat para ustadz. Beliau mendengar dengan hati apa yang diputuskan ustadz. Beliau gampang bergaul dengan para ustadz maupun ustadzah. Meskipun beda usia.

Beliau hanya menjabat, karena diamanahi semata sebagai KETUA Walisantri Tangerang Raya. Beliau melayani dan bekerja dengan hati. Beliau ada di hati kami, para walisantri Gontor se Tangerang Raya.

Beliau bukan pejabat, tetapi hadir beliau selama ini bak selebriti. Melayani walisantri dengan senyuman dan kadang candaan yang menghibur hati.

####

Tetapi pagi menjelang siang kemarin, Senin 26 April 2020 berita duka itu kami terima. Beliau telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan kami dalam kegamangan yang luar biasa. Antara sadar atau sedang bermimpi.

Kami dapat kabar beliau masuk rumah sakit hari minggu dalam kondisi lemah. Leukemia yang beliau derita tak terberita. Tetapi karena wabah Covit 19 ini harus menjalani sesuai protap yang berlaku saat masuk rumah sakit. 

Malam itu hasil test beliau dinyatakan negatif dan sedang menunggu untuk masuk ruang perawatan lebih lanjut, penanganan leukemianya. Itu kabar yang kami terima.

Bagaikan petir di siang hari, senin pagi itu menyentakkan kami. Rasa tak percaya  bertebaran di antara kami.

Padahal dua minggu sebelum beliau masih bersama kami. Masih bersemangat. Masih saling sapa. Masih beliau tanya walisantri yang ada, baik sudah kenal maupun yang belum. Yang belum kenal beliau minta nomor HPnya, beliau simpan.

Tiga hari beliau hadir di Giant Bintaro dalam menunggu kedatangan para santri dan bersilaturahim dengan para walisantri, 12-14 April.  Padahal anak beliau sudah tak ada lagi yang ditunggu. Anak beliau sudah menjadi alumni GONTOR. Sudah menjadi ustadzah dan sedang melanjutkan study-nya di Maroko, nun jauh di sana,  beda benua.

Tetapi semangat beliau sangat luar biasa. Masih hadir dan masih melibatkan diri dalam Tim Satgas Perpulangan Santri yang tahun ini sangat beda sekali. Apalagi menjadikan Bintaro sebagai tuan rumah perpulangan santri untuk pertama kalinya.

Candaan saya dengan beliau sangatlah cair. Banyak senyum dan tawa bersama, hingga tak terlihat sama sekali sakit yang saya dengar sebelumnya dari ust. Komara. Saya sangat yakin beliau telah sembuh. Bahkan di hari ketiga penjemputan santri kami masih sempat sarapan bersama. Beliau masih lincah jepret sana jepret sini. Beliau rajin "memaksa" semuanya harus makan sebelum pulang ke rumah masing masing. Itulah pertemuan terakhir saya dengan beliau.

####

Sejak berita duka itu beredar di tiga WAG yang saya punya. Hampir semua anggota mengatakan beliau adalah pribadi yang baik, bahkan sangat baik. Semuanya mendoakan kepergian beliau menghadap sang Illahi. Semuanya yakin bahwa beliau husnul khotimah.

Beliau berpulang di Ramadhan hari ke empat dan dimakamkan di TPU Jombang Ciputat. Tetapi karena adanya protap, tak banyak yang bisa menatap, memandikan, mengkafani, dan menyolatkan serta mengantar beliau hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Tetapi kami yang pernah dekat dan mengenal beliau sangat yakin beliau, insyaAllah termasuk orang yang sholeh. Orang yang baik.

Semuanya merasakan kehilangan beliau.

Kehilangan senyuman beliau yang sangat bersahabat. Kehilangan tokoh yang sangat rajin menjalin dan merekat tali ukhuwah. Kehilangan orang yang sangat cepat kaki, ringan tangan.

Kehilangan orang yang tanpa pikir panjang ketika ada walisantri yang ditimpa kemalangan. Entah sakit ataupun meninggal dunia. Waktu beliau selalu ada. Selalu disediakan.  Beliau sangat peduli pada anak yatim, piatu dan dhuafa.

Kehilangan orang yang sangat dermawan. Yang selalu ada dalam setiap kesempatan makan bersama, karena beliau juga seorang Chef yang handal. Warung Seafood Borowali yang ada di Bintaro Plaza adalah saksinya.   Terakhir mencicipi masakan beliau di rumah bu Rahayu Tyo Sukowati ketika habis melayat di Puri Beta. Hampir semua berdecak karena enaknya makan siang kami waktu itu, walau dari bahan yang sederhana. Emak emak yang menemani di dapur mendapatkan ilmu dan tips memasak dari beliau langsung.

####

Ah, pak De.
Kenangan bersamamu terlalu banyak. Bukan buat saya saja, istri dan anak anak pun mengakuinya. Apalagi para walisantri se Tangerang Raya.

Engkau hadir dalam di tiap acara kopdar kita, baik Tangerang Kabupaten, Tangerang Kota apalagi Tangerang Selatan dimana engkau adalah motor utamanya.

Engkau datang di tiap perpulangan santri. Engkau hadir penuh keceriaan. Menyapa dan memberi senyuman pada siapa saja.

Engkau mendengar keluhan walisantri dan selalu memberi solusi. Bahkan engkau menularkan semangat bagi santri yang galau. Engkau menjadi motivator bagi yang butuh.

Engkau dikenal se Tangerang Raya dan Banten oleh para walisantri.

####

Ah, pak De
Dalam dirimu ada jiwa seni. Karya tulismu dalam bentuk puisi pernah mengisi ada kopdar yang kita lakukan. Pengaman di GONTOR saat mengantarkan santri kau tuangkan dalam tulisan sarat makna yang berjudul: Pelangi di Bumi Gontor (kalo tak lupa, red)

#####

Ah, pak De
Kiriman bu Siti Habsa di photo yang saya sertakan ini, mengingatkan kembali awal kita bersama ust. Saiful Ahmad, pak Joneez, bu Rahayu dkk memulai penggalangan Dana Beasiswa buat Santri Gontor yang yatim dan piatu. Secara bertahap kegiatan mulia ini terus berkembang dari tahun ke tahun, yang kita kelola bersama dan kita namakan Tim Dansos. Tahun ini sesuai rencana akan kita tingkatkan. Tak lagi sekedar SPP bulanan, tetapi kota coba bantu untuk Daftar Ulang-nya.

Banyak sudah santri yang terbantu oleh gagasan kita ini. Bahkan ada yg sudah menjadi alumni Gontor. Engkau adalah salah satu inisiator.

Namun, menuliskan kembali perjalanan ini, terceritakan pada mu sudah, tertuliskan belum. Engkau telah tiada, semoga kami yang tinggal bisa kembali merajut dan melanjutkan perjalanan Tim Dansos ini. Semoga semuanya menjadi ladang amal bagimu. Menjadi warisan kelak bagi kita semuanya.

Selamat jalan pak De Abdul Kohar Syarief. Banyak sudah doa yang tertumpah di bulan yang suci ini untukmu. Semoga Allah Swt mengabulkan segala doa ini. Perjalananmu sudah tuntas, istirahatlah.

Semoga kelak kita berkumpul kembali di Jannah-Nya. Andaikan kau tak bertemu kami di Jannah-Nya, tanyakan keberadaan kami pada Rabb-mu yang Maha Agung. Mohonkan ampunan bagi kami.

####

Beberapa testimoni dr WAg saya sertakan sebagai pengingat diri kita yang ditinggalkan.

Dari:
==
Om Roso Suprayogi:
Iya om Tri beliau sangat rendah hati, selalu mengajak junior2nya, "ayo silaturrohmi", "ayo takziah", "ayo nengok orang sakit".
Jiwa raga dan materi dicurahkan untuk sosial, jarak yg jauh tidak jadi penghalang ๐Ÿš™.
Satu yg belum kesampean dg almarhum pengin ziarah orang tua lalu ziarah walisongo bersama, keburu dipanggil duluan Beliau๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜ญ

==
Pak Anto Prinz:
D sinilah saya merasa tidak sendiri, dimana saya masih baru dan belum mengenal sistem pendidikan seperti apa dan bagaimana Gontor.
Nama besar gontor menyatukan kami seperti keluarga, saling menasehati, memberi masukan, memotivasi walaupun kami baru kenalan.

==
Abi Firna:
Yaa Alloh saya yg masih muda kalah semangatnya, yaa Alloh. Sungguh baik amal nya pak de Kohar ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
Kita merasa kehilangan banget pak de kohar ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
Saya tak kuasa berkat kata atau nulis nulis di wa td siang, saking kagetnya sebegitu cepatnya pak de Kohar meninggalkan kita.
Saya masih terngiang-ngiang suara beliau, "ayoo silaturrohim yaa".
Beliau mengamalkan doa penutup, dan belum terlaksanakan, yaa Alloh...๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

==
Pak Afendi Soedrajat:
Tak dapat  dilukiskan dgn kata kebaikan  beliau,
Kesetiannya,
Ketulusannya,
Keihlasannya,
Kesolehannya,
Semangatnya,
Tanggungjawabnya,
Integritasnya,
Komitmennya,
Kesederhanaannya,
Humornya,
Semoga Karena kasih sayangNya, Allah memanggilnya lebih awal  dari kita semua,
Pakde KOHAR,
sumpah
Demi Allah
Aku kehilangan,
Tapi aku ihklas, sebab aku yakin itu yg terbaik buat pakde,
Selamat kembali dalam keabadian,

Allah mencintaimu,
Sahabatku....

๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ








Selasa, 21 April 2020

Posko Siaga Covit-19 - Lumbung Pangan: Berbagi Dengan Sesama

Alhamdulillah, dalam kesempatan kali ini izin berbagi pengalaman buat sahabat semuanya apa yang kami lakukan dalam membantu sesama menghadapi wabah Covit-19 ini. Meskipun berskala kecil, tetapi setidaknya dengan kepedulian kita bersama terhadap lingkungan terkecil, insyaAllah akan memperkuat ukhuwah/persaudaraan.

Semoga langkah kecil ini, bisa dilakukan meringankan beban sesama, terutama menjelang dan selama bulan Ramadhan ini.

Mari berbagi.
Mari peduli.

#####

"Posko Lumbung Pangan Satgas Covid-19 RW 07 Parung Serab Ciledug - Puri Bintaro Hijau Blok H: Tahap Pertama".

Total paket yang dibuat sebanyak 50 buah dengan rincian perpaketnya sbb:
1. Beras 10Kg
2. Minyak 1L
3. Gula 1Kg
4. Telur 1Kg
5. Frozen Food
6. Mie Instant

Total dana terkumpul: Rp 7.980.000,-

Sembako terkumpul:
1. Indomie.           6 Duz
2. Beras.           250 kilo
3. Sarden.      12 kaleng
4. Minyak Sayur. 37 lt.

Laporan penggunaan dana:

Pembelian:
Gula 50kg: 900.000,-
Beras 250kg: 2.875.000,-
Minyak 13L: 151.000,-
Frozen Food 100paket: 2.650.000,-
Telur 50kg: 1.250.000,-
Karung beras 25bh: 62.500,-
Kantong plastik 2pack: 18.000,-

Total pembelian: Rp 7.906.500,-

Sisa uang: Rp. 73.500,-

Serta sarden 12 kaleng yang didapat semuanya diberikan acak sehingga tetap bermanfaat bagi pemberi dan penerima bantuan.

Insya Allah pagi ini, Minggu 19 April 2020, semua paket akan kita distribusikan kepada yg berhak menerimanya.

Terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan donasi terbaiknya.

InsyaAllah kita akan lanjut penggalangan dana untuk tahap berikutnya yang akan kita bagikan dalam pertengahan Ramadhan nanti.

Bagi yang ingin membantu lebih lanjut kegiatan ini silakan hubungi kami.

Ttd
Tim Satgas Lumbung Pangan Covid-19 RW 07 Parung Serab.

Ibnu Syarif
Aryandi
Dkk








Kamis, 16 April 2020

1 Bulan Lockdown Di Makkah

By Hendra Farma Johar

Awalnya diumumkan untuk 15 hari ke depan, antara senang dan sedih berkecamuk dalam hati. Senang karena merasa bisa istirahat dari segala tekanan yang mengharuskan saya kembali ke tanah air, sedih karena khawatir bisnis akan lesu dan performance akan anjlok lagi seperti tahun lalu. Tentu yang tak kalah sedihnya kebiasaan thawaf sebelum ke tempat kerja di pagi hari akan jedah sejenak.

Hari pertama dilalui tidaklah berasa, sumringah kaki menjelang subuh masih menyisakan kebahagiaan, karena ba'da syuruk bisa *naum suaiya*. Hari dilalui berasa jumat dan sabtu walau waktu itu kamis, namun saat selesai jamaah maghrib di Masjid, Imam dengan suara datar dalam bahasa Arab dialek Suadi yang mudah dipahami menyampaikan : _mulai sholat Isya nanti kita sholat di rumah masing-masing, sesuai perintah Raja untuk menghindari wabah Corona._

Bathin mulai meronta, jika tak ke kantor rasanya tak begitu masalah, jika dibatasi ke pasar dan atau supermarket juga tak berasa, atau _mamnuak_ main-main di taman selepas Isya juga tak ngaruh. Tapi jika ke masjid sudah dilarang, dan hari berikutnya Jumatan di Masjidil Haram juga dilarang, tawaf sama sekali tak dibolehkan, serta Umrah yang telah 3 hari ini dihentikan, rasanya ini berlebihan. Sontak mencari referensi tentang dilarangnya kegiatan ibadah yang menjadi kenikmatan kami sebagai penduduk Makkah Almukarrahma ini. Chatting demi chatting dilakukan, you tube demi you tube di pelototin, kiriman demi kiriman di medsos dibaca berkali-kali, pengajian mingguan kamipun ramai membahas keputusan Raja ini, sampailah si Fakir ini menyimpulkan bahwa Wabah itu taklah main-main. Kekhawatiran hari akhir makin menghantui, kelalaian selama ini makin menghimpit, dosa berasa dipertontonkan bak layar lebar, sementara kebaikan, ibadah, sedekah dan lainnya berasa angin lalu.

_Work From Home_ kami lakukan, dan sesekali sempat mengunjungi _warehouse_ dan outlet untuk memberikan dukungan ke mereka sebagai jantungnya perusahaan kami. Rapat mingguan kami ganti dengan _online meeting_. Saatnya kami menghitung hari dan bersiap bersenda gurau, karena 15 hari lockdown akan berakhir. Terbayang tawa kami, terbayang canda kami, terbayang diskusi kami yang sering _basitegang_ sebagai khasnya budaya Arab, tangan bergoyang-goyang, mata melotot, bahasa campuran inggris dan arab dengan logat Masri yang kental, seperti kata Maugud, absyer, bukro, mafimuskillah bak dirindukan. Namun itu hanyalah bayangan, selarsa jantung ini jedah berdenyut seketika melalu twitter, kerajaan mengabarkan bahwa kebijakan lockdown diperpanjang, bahkan beberapa hari berikutnya diberlakukan lockdown 24 jam. Dimana kami tidak boleh keluar rumah sama sekali, kecuali membeli keperluan harian, itupun hanya di warung atau supermarket terdekat, kira2 hanya pada radius 1 km dari tenpat tinggal, dan hanya pada jam 6 pagi sampai jam 3 sore. Lainnya itu jika perlu apapun harus dipesan melaluomi _delivery service._ Sungguh pola hidup telah berubah. Di sini, aturan ya aturan, apalagi bagi kami kaum migran, sekali melanggar maka hotel prodeo menanti sambil menyiapkan tebusan SR 10.000 atau bermalam 4 bulan gratis. Tinggal pilih... yang membuat saya lebih memilih berdiam tak berkutik, walaupun tasreh untuk keliling kota masih bisa didapat, karena profesi sebagai _Shodili_ dan bekerja di _Shodiliyah,_ tapi tetaplah tak senyaman biasanya.

Kini telah sebulan berlalu, sungguh kita tak tahu apa yang akan terjadi. Umrah Ramadhan telah diputuskan Kerajaan tidak ada, Haji tahun inipun besar kemungkinan tak terselenggara. Kekhawatiran itu makin memuncak. Awal April yang sedianya akan diadakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) untuk memberhentikan saya, dan dalam hitungan kami sebelum Lebaran telah kembali ke tanah air, dapat berkumpul dengan keluarga kecilku, hanyalah sebuah perandaian dan terhenti oleh wabah yang bernama _Covid 19._

Dalam renungan senja, masih kutoleh para guru asyik memberikan tugas ke anak sekolah yang jumlahnya seabrek, masih saja ada yang melanggar perintah raja walaupun sangat minim, masih bertebaran canda di medsos tentang corona, masih saja peringatan Allah ini diabaikan hingga menjadi biasa. Tidakkah kita melihat ribuan orang telah meninggal di muka bumi disebabkan corona? Tidakkah kita prihatin puluhan tenaga kesehatan mengakhiri pengabdian mereka dalam kantung plastik dan proses pemakamannya tanpa dihadiri sanak saudara? Masih jugakah para guru memberikan tugas kepada siswanya hanyalah tugas dunia yang tidak mendekatkan mereka kepada sang Khalik? Masihkah kita anggap remeh wabah ini? Dan masihkan kita terbelah bahkan tak mengingat hari akhir?

Sungguh, hari akhir itu telah diambang pintu. Betapa dipertontonkan ke kita bahwa si kaya dan si miskin (pinjam istilahnya jubir Menkes) sama posisinya saat ini, tak bisa ke mana-mana, hidup terbatas hanya di rumah, sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Kita disuruh kembalilah ke rumah, bentuklah akhlak kalian dari rumah, didiklah anak2 kalian dari rumah, berjamaahlah di rumah, tilawahlah di rumah, bekerjalah di rumah, muliakanlah keluargamu di rumah. Jika engkau keluar rumah biarlah para suami dan anak laki2 yang keluar rumah, jika terpaksa kaum hawa keluar rumah kalian semua harus pakai cadar (masker), harus menutup aurat (pakaian yang melundungi seluruh tubuh), keluar hanya untuk kepentingan dasar (tak bisa malala), jangan bersalaman dan berdekatan dengan orang (apalagi yang bukan mahram), saatnya para Istri bekerja di rumah, saatnya anak2 perempuan kita dididik di rumah, saatnya para suami full menjadi tiang keluarga dan saatnya mengajarkan anak laki2 menjadi jantan dan tak klemek2 lagi di depan layar bemain game online. Sungguh ini adalah berkah untuk kita, bagi ummat yang beriman, untuk menyiapkan hari akhir, yang pasti datang, walau kita tak tau entah kapan.

Sudah berapa juz tambahan hafalan kita, sudah berapa hadist yang telah tersimpan di memori kita, sudah kah kita laksanakan petunjuk itu dalam kehidupan rumah tangga kita. Dalam ratapan ini, kita tentu selalu berdoa lirih, semoga, bala, wabah dan kesusahan ini segera diangkat Allah SWT dan  Allah Ta'alah muliakan ummat Muslim di seluruh dunia.

ุงู…ูŠู† ูŠุงุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

*ุงู„ุนุฒูŠุฒูŠุฉ ู…ูƒุฉ ุงู„ู…ูƒุฑู…ุฉ*

Rabu, 15 April 2020

Hikmah: Kebahagiaan Yang Terselubung

Bismillahirrahmanirrahiim.                                                            _Kebanggaan Terselubung_

Beberapa orang memiliki  kemampuan untuk berpuasa Senin dan Kamis, sepanjang tahun, tapi yang lain mungkin tidak bisa.
Namun mereka memiliki kemampuan bangun di tengah malam untuk Sholat Tahajjud setiap malam, tetapi yang lain tidak dapat bangun meskipun sudah berusaha.

Yang lain tidak bisa melakukan kedua hal di atas, tetapi di mana pun mereka berjalan, mereka bersedekah dengan murah hati kepada fakir miskin atau dhuafa atau fii sabilillah.

Beberapa orang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah tambahan, tetapi mampu menjaga hati yang bersih dan wajah yang tersenyum terhadap orang-orang sepanjang waktu.

Yang lain lagi tidak melakukan apa-apa selain hanya membuat anak-anak tertawa ketika bertemu dengan mereka.

Intinya?

Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang tidak melakukan seperti apa yang kita lakukan lebih rendah daripada kita, atau tidak memiliki apa pun yang bisa dipersembahkan bagi orang lain.

Jangan pernah berpikir bahwa tindakan kita untuk beribadah lebih baik daripada tindakan orang lain.

Jangan biarkan kesalehan kita menumbuhkan kebanggaan terselubung dalam diri kita.

Jangan biarkan kesalehan kita mengisolasi diri kita dari keluarga dan teman. Jangan biarkan itu membuat kita merasa lebih suci dari orang lain.

Keturunan, kekayaan, kemampuan ilmiah, warna kulit kita, kekuatan di medan perang bukan kriteria untuk kesalehan kita.

Ada banyak di Afrika, Eropa, Asia, Cina dan seluruh dunia yang mungkin lebih dekat dengan Allah daripada kita karena fakta sederhana bahwa mereka dapat menanggung kesulitan dan mengatasi cobaan lebih baik daripada kita.

Penampilan dan pakaian kita bukanlah kriteria untuk kesalehan.

Ada banyak manusia di dunia ini yang lebih dekat dengan Allah SWT meskipun mereka tampak biasa-biasa saja.

Afiliasi kita dengan sebuah jamaah atau lembaga ilmiah mana pun, harus menjadi sarana untuk memusnahkan ego dan kebanggaan kita, tanpa memandang rendah orang lain.

Ada banyak yang hatinya murni meskipun tidak berafiliasi dengan salah satu di atas.

Hal ini bukan paspor otomatis ke Surga.

Ada orang yang masuk surga hanya dengan memuaskan dahaga seekor anjing, yang lain mendapatkannya dengan hanya memaafkan semua orang setiap hari sebelum tidur.

Mereka tidak memiliki banyak hal untuk ditampilkan, tetapi apa yang mereka lakukan,  begitu bernilai di sisi Allah.

Seseorang mungkin berjalan melalui gerbang surga dengan modal sangat sedikit dan kehadirannya ketika hidup di muka bumi tidak dianggap penting, sementara yang lain dengan perbuatan yang jauh lebih besar justru binasa karena kesombongan mereka.

Jangan terkejut jika orang itu menuntun Anda berjalan melewati gerbang Surga.

MARILAH SELALU MELIHAT HAL BAIK YANG ADA PADA DIRI ORANG LAIN.
Mohon maaf lahir bathin                                                         

#evaluasi_diri                               
                                                               Allohummaa bariklanaa  wa balighna fi Romadhon๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ                                                                 

Semoga bermanfaat buat keluarga dan semua yang membacanya ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Hikmah: Rezeki Saya Down???

RENUNGAN...

Jika tiba-tiba REZEKI "DOWN", ingatlah kembali akan Abdul Rahman bin Auf dengan kisah kurma busuknya.

Kata Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam, Abdul Rahman bin Auf R.A akan masuk surga terakhir karena terlalu KAYA.

Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf R.A pun memutar otak berfikir, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin lagi supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.
Abdul Rahman bin Auf R.A pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus dengan tujuan menolong sahabat2nya.

Semuanya bersyukur..
Alhamdulillah..kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdul Rahman bin Auf.

Sahabat gembira.
Abdul Rahman bin Auf R.A pun gembira.
Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdul Rahman bin Auf r.a gembira juga sebab...
jatuh miskin!

MasyaAllah..hebat.
Jatuh miskin Beliau sangat gembira...
Coba kalau kita?
Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdul Rahman bin Auf R.A merasa sangat lega, sebab tahu akan bisa masuk surga lebih awal, sebab sudah miskin.

Namun.. Subhanallah..Rencana Allah itu memang terbaik..

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdul Rahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat harga kurma biasa.

Allahu Akbar..

Jadi..yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH Subhanahu Wataala lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat special buat kita, sebab ini membuat kita harus YAKIN bahwa rezeki itu totally dari Allah,
Bukan hanya karna usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat...

Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk selalu yakin kepada Allah...aamiin

Seperti keyakinan kita akan diundang Allah ke Baitullah, kalau kita yakin pasti akan Allah undang.... Kuatkan keyakinan kita Sobat, kapan Baitullah dibuka semoga kita menjadi salah satu tamu-Nya....aamiin

#AllahMahakaya
#AllahPemberiRezeki

Selasa, 14 April 2020

Hikmah: Mental Miskin Berjiwa Pengemis


_MENTAL MISKIN BERJIWA PENGEMIS_
Yang mampu harus tau diri

_Seorang sahabat yang tinggal di Australia bercerita tentang pengalamannya:_

_Suatu sore, sesudah menikmati secangkir capucino di Gloria Jeans Cafรฉ yang capucino-nya paling enak -menurut saya- kami mampir ke toko roti._

_Kami membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko untuk dipotongkan, sehingga nanti di rumah gampang, tinggal comot dan makan._

_Selesai dipotong dan dibungkus rapi, lalu diserahkan kepada saya. Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar. Tapi ditolak dengan senyum manis, sambil berucap:_

_”It's free nothing to pay.”_

_“Are you sure ?” kata saya._

_Gadis remaja yang tugas jualan disana, menjelaskan bahwa kalau sudah ditutup, roti tidak boleh lagi dijual. Boleh diberikan kepada siapa yang mau atau diantarkan ke Second Hand shop untuk orang yang membutuhkan._

_Agak tercengang juga saya dengar penjelasannya._

_Terbayang, kalau di Indonesia, wah bisa bangkrut ini, karena orang bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis._

_Belum selesai ngobrol dengan si mbak, tiba-tiba ada suami istri, yang juga mau belanja roti. Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami. Si pria adalah orang Australia, sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia. Si wanita juga minta roti di mbak, tapi di cegah oleh suaminya, sambil berkata:_

_"No darling ~ please. We have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let’s another people who need it more than us take it."_

_Wah ... wah, merasa tersindir wajah saya panas...…dalam hati saya bergumam, ”Hmm saya ini jg pengusaha, bkn mau cari gratisan”._

_Tapi, syukur cepat sadar diri, gak sampai terucapkan. Karena toh mereka tidak omongin saya langsung._

_Hingga menjelang tidur, kata-kata si Suami kepada istrinya masih terngiang-ngiang rasanya._

_"We have enough money to buy........why do we have to pick up a free one."_

_Setelah saya renungkan, saya merasakan bahwa kata-kata ini benar. Kalau semua orang yang punyai duit, ikut antri dan dapatkan roti gratis, yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop untuk dibagi bagikan gratis, berarti orang yang sungguh-sungguh membutuhkan tidak bakalan kebagian lagi roti gratis._

_Pelajaran hidup ini tidak mungkin akan saya lupakan._

_Kalau kita sanggup beli. Jangan ambil yang gratis. Biarlah orang lain yang lebih membutuhkan mendapatkannya. Sungguh sebuah kepedulian akan sesama yang diterapkan dengan kesungguhan hati._

_Kini saya baru tahu, kenapa kalau di club ada kopi gratis, tapi jarang ada yang ambil. Mereka lebih suka membeli. Bukan karena gengsi2an._
_Tetapi terlebih karena rasa peduli mereka pada orang lain, yang mungkin lebih membutuhkan._

_Tuhan sudah memberikan berkah yang cukup untuk kita. Tidak perlu lagi kita mengambil bagian berkah yang diperuntukkan bagi orang lain._

_Ketika kita mendengar ada program pemerintah untuk membantu orang miskin, apa yang ada dalam benak kita?_

_Apa kita akan ikut bersiasat agar mendapat bagian?_

_Ataukah kita merekayasa data agar kerabat dan saudara kita dapat bagian juga?_

_Atau kita sok jadi pahlawan dengan mengajukan diri sebagai pendamping program, tapi dalam pikiran kita tersimpan niat busuk untuk memperkaya diri sendiri?_

_Sahabat, kemiskinan bukan untuk dipolitisir dan dieksploitasi._

_Orang miskin dan kemiskinan adalah ladang amal. Keberadaan orang miskin adalah cara Tuhan untuk menguji sejauh mana kepedulian dan keimanan kita._
_Sementara kemiskinan adalah mental yang mesti dirubah dan diberantas._

_Mental minta-minta, mental gratisan, mental potong kompas, termasuk mental jualan data orang miskin._

_Semua itu adalah Mental Pengemis yang membuat bangsa ini rendah dan terhina. Itulah kemiskinan KULTURAL._

_Sudah saatnya kita bangkit dan sadar, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah._

_Menjaga harga diri lebih baik daripada menjatuhkan kehormatan hanya demi sesuap nasi._

_"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?"_
.
by : No name

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...