Selasa, 30 Juli 2019

Abak yang Luar Biasa

Siang ini saya makan di RM Putra Minang Bintaro Group sektor 9, sembari mengantarkan Ufia.  Alhamdulillah, bisa bertemu langsung dg ownernya Indra Indra Kasman dan Abak-nya (abak = bapak).

Indra ini masih muda, usia 35th, tapi apa yang dia jalani semenjak merantau sudah luar biasa. Pernah menjadi "boss ameh" di Kota Medan 7sejak th 2000, tetapi sesuai berjalannya waktu pasca tsunami di Aceh, gulung tikar dan meninggalkan beberapa persoalan di sana.

Abangnya Rizal mengajak ke Jakarta disekitaran tahun 2006. Membantu di rumah makan Putra Minang Arinda.

Alhamdulillah setelah cukup "ilmu"nya akhirnya si abang mengizinkannya membuka RM Putra Minang Group di sektor 9 ini. Lokasinya pas dekat kantor saya berada. Dari sepetak kedai, akhirnya berkembang tiga atau empat kedai dijadikan satu. Alhamdulillah, berjalannya waktu persoalan persoalan yang ditinggalkan di Medan terselesaikan dengan baik. Kisah ini saya dapat dari Rizal dan saya cross check langsung dengan yang bersangkutan. Alhamdulillah, mungkin ini yang membuka terus pintu rezeki bagi dia.

Saya termasuk yang menjadi saksi bagaimana usahanya ini berkembang terus.

Selain saya yang jadi pelanggan di sini, saya juga pemasok Ufia, Air Mineral yang diproses secara Islami, untuk rumah makan ini sejak tahun yang lalu. Jadi ada simbiosis mutualisma-nya. Begitu juga dengan kakaknya Rizal di Arinda adalah customer Ufia saya juga.

*****

Yang menjadi fokus photo yang saya ambil ini adalah kemiripan antara Abak dan Indra ini. Sangat mirip.

Dari penggalan cerita yang saya tangkap selama ini baik dengan Rizal maupun Indra, saya akhirnya dapat gambaran yang lebih lengkap lagi dari Abak ini.

Lelaki yang luar biasa, yang memiliki istri yang sangat luar biasa pula tentunya. Berharap kelak saya bisa bertemu dengan mereka berdua.

Tahukah anda berapa anak "pasutri" ini?

Sebelas orang!!!
Enam putra dan lima putri. Semuanya rerata berjarak dua tahun. Kebayang bagaimana mereka berdua membesarkan anak-anak nya?
Alhamdulillah, Indra memberikan saya photo lengkap mereka.

Tahukah anda berapa orang anak mereka yang tinggal di kampung halaman, Pariaman sana, saat ini?

Bayangkan, dari sebelas anak, hanya satu orang yang mereka tinggalkan atau "paksakan" untuk tidak merantau. Sepuluh anak mereka ada di tanah Jawa ini dan semuanya mengelola rumah makan. Hanya yang menikah kemarin saja, anak padusi, yang memang dijodohkan untuk tetap tinggal di kampung.

Tahukah anda mengapa?
Ternyata selain menemani Abak dan Amak di kampung, juga sebagai pengikat bagi seluruh keluarga besar ini untuk tetap "pulang basamo". Di setiap hajatan yang diadakan di kampung halaman, anak anak Abak ini wajib pulang semuanya. Tak ada pengecualiannya. Kapan saja!!!

Rumah Abak dan Amak ini dapat menampung 32 kepala. Anak minantu dan cucu. Walaupun nanti tidurnya tidak lagi di kamar saja. Dimana saja, dimana kasur bisa digelar.  Tetapi beginilah cara Abak dan Amak membangun kebersamaan bagi semuan anak minantu dan cucunya.

Kebayang juga kan bagaimana asyiknya mereka makan bersama di rumah ini? Amazing!!! Betapa sibuk tentunya mereka yang berkecimpung di dapur. Hmmm.

Dan yang terpenting, yang tinggal di kampung tentu akan meneruskan tradisi ini, selain menjaga ladang dan sawah, pusako tuo lainnya, kepunyaan keluarga secara keseluruhan.

Tradisi ini harus diturunkan!!!
Efeknya apa?

Lihatlah bagaimana mereka membangun jaringan Rumah Makan Putra Minang di seluruh kawasan Ciledug Tangerang Kota dan Bintaro Tangerang Selatan serta sebagian Jakarta Selatan. Luar biasa.

Hampir tiap tahun ada lima atau enam rumah makan baru. Siapa dibalik ini semuanya? Tentu mereka sendiri yang tahu jawaban pastinya.

*****

Ini hikmah yang saya tangkap dari pertemuan pertama saya dengan sang Abak. Semoga kelak saya bisa bertemu dengan pendamping sejati sang Abak yang Luar Biasa ini. Insya Allah

Sedekah yg Luar Biasa

Dari WAG Prominent Generation, jeje share semoga kita bisa mengambil ibroh dr cerita ini. Aamiin.

*****

Pagi tadi tepat jam 7.30 WIB, sy berangkat ke kampus menggunakan MRT Tujuan Lebak Bulus-Bundaran HI. Selanjutnya biasa menggunakan gojek untuk tiba di UI Salemba. Pagi ini sy ada tiga agenda; menerima wawancara dengan salah satu Harian Nasional terkait isu masa depan Turkey dan Moderatisme Arab Saudi di 8.30 WIB. Menerima deputy International Committee of the Red Cross pada 9.30 dan memimpin rapat dosen Kajian Ilmu Kepolisian, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (KIK SKSG UI) dan pelatihan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada pukul 10.00. Saya tidak akan membahas tiga agenda tersebut. Sharing saya hari ini adalah lesson yang sayang untuk dilewatkan. Tiba di stasiun MRT Lebak Bulus, tak perlu lama menunggu barisan besi tiba. Seperti biasanya saya mengambil posisi favorit, terdekat dgn pintu menyandar di partisi. Menurut pujangga Pondok Labu, tertidur bersandar di partisi MRT tak kalah saing bermalam di Kempinsky. Syahdan, perjalanan MRT kali ini luar biasa. Di depan saya duduk seorang Ibu kisaran usia 60 thn. Pakaiannya agak kumel dan rambutnya tidak rapih. Biasanya setiap penumpang berharap dapat duduk. Tapi tiga kursi di samping ibu tadi tak mau orang ambil. Kenapa? Apakah karena penampilan atau apa?. Untuk menghilangkan penasaran, saya pun pindah posisi lalu duduk di samping Ibu tadi. Ternyata, memang ada semerbak yang tak sedap. Belum lagi si Ibu ini bawa bungkusan makanan dan tas yg cukup berat. Pelan saya tanya kepada beliau, "Ibu dari mana? Jawabnya dengan dialek medok jawanya, saya dari Semarang. Lalu saya tanya lagi, Ibu mau kemana? "Ibu mau ke Salemba menemui anak Ibu yang sedang mengambil spesialis di Fakultas Kedokteran UI. Saya berkata dalam hati, Subhanallah.. Luar biasa ibu ini. Penampilan tak selalu menyimpulkan kualitas. Lanjutnya, Ibu tiba semalam di Kampung Rambutan sekitar jam 12. Karena capek betul, ibu tidur di terminal. Ketika bangun jam 02.00 pagi ternyata uang Ibu tak lagi di saku.. Ibu hanya bisa istighfar dan mohon ampun kepada Allah, nak. Mumpung masih gelap, Ibu sengaja jalan kaki dari Terminal Kampung Rambutan ke MRT Lebak Bulus ini. Saya tanya kepada beliau, kenapa Ibu tidak menggunakan uang yang 100 ribu itu untuk naik taksi atau Grab. Jawab beliau, "kalau ibu gunakan, ibu Khawatir nanti tidak bisa sedekah. Uang 100 ribu ini, lalu Ibu gunakan untuk membeli nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Ya alhamdulillah dapat 7 bungkus nasi. Nasi-nasi itu buat siapa? Buat ibu dan anak Ibu? Bukan. Nasi ini akan ibu bagikan ke tukang bersih-bersih. Tadi di MRT Lebak Bulus, Ibu ndak mendapatkan mereka. Ibu berdoa, semoga di MRT Bundaran HI ada tukang bersih-bersih yang mau menerima sedekah Ibu. Mendengar jawaban itu, saya hanya bisa menangis. Ya Rabb, malu betul saya terhadap ibu ini. Uangnya padahal dicuri, tapi masih ingin memberi. Sedangkan Muta'ali, jangankan sedikit apalagi dicuri, banyak pun masih ingin terus diberi bukan memberi.

Tepat pukul 8.00 kami sampai di MRT Bundaran HI. Saya berkata kepada Ibu tadi. Bu, bolehkah saya ikut membantu membagikan nasi-nasi itu kepada cleaning service? Ndak usah merepotkan, Nak. Tidak Ibu, saya bersyukur dipertukan Allah dengan Ibu hari ini. Saya yang awalnya hendak naik gojek, akhirnya saya putuskan naik grabcar menuju Salemba bareng Ibu tadi. Ternyata kosan putranya tidak jauh dari UI Salemba. Sebelum berpisah, saya tanya, " Ibu siapa namanya, "Dijah, jawabnya. Mungkin Khadijah yang dimaksud.

Abraham Maslow seorang pakar motivasi Barat mengatakan, level terendah seseorang ketika masih berkutat pada materi dan level tertinginya ingin dihargai dan selalu ingin dipuji. Bu Dijah, bukan hanya keluar dari level terendah, justru ketika uangnya dicuri sisanya malah disedekahkan lagi. Ia rela jalan kaki dari kampung Rambutan ke Stasiun MRT. Bu Dijah tidak butuh penghargaan apalagi pujian. Penampilannya kumel bahkan tak sedap nir wangi. Hingga beberapa penumpang menghindarinya. Banyak yang baik rupa, tapi enggan memberi. Padahal kemuliaan bukan penilaian sesama, ia tak lain adalah hak prerogatif pencipta alam semesta. Bu Dijah bagi saya adalah orang terkaya. Tak punya bahkan dicuri masih memberi. Banyak orang kaya, serba ada, tapi selalu mengepalkan jari bahkan selalu ingin diberi. Siapa yang kaya sebenarnya?

Abdul Muta'ali
Ditulis Perjalanan Pulang MRT HI-Lebak Bulus, 25 Juli 2019

Jumat, 19 Juli 2019

Lintas Sumatra : Mudik Baralek akhir Juni 2019 (Part 1)

Alhamdulillah, sabtu lebih kurang jam 20.00 sampai di rumah. Seharian tadi kami, saya dan Dhifa, mengikuti Family Gathering British School Jakarta di Jungle Land Sentul City Bogor, Sabtu 29 Juni 2019. Sementara bundanya ada kegiatan Wisuda SMK Farmasi Tangerang 1 di Puspem Kota Tangerang dan berlanjut kondangan di sekitaran daan Mogot, dan juga baru pulang ke rumah selepas maghrib. Jadi dalam waktu yang hampir bersamaan sampai di rumah, sementara rencana pulang mudik masih kami diskusikan. Masih berbalut capek di badan, sembari tiduran saya ambil keputusan untuk pulang malam ini.

Nova pun tersentak. Kaget!!!
Tetapi segera bertindak, packing packing dan mengurus segala bekal buat di jalan nanti. Seadanya. Secepatmya.

Alhamdulillah menjelang jam 21.00 semuanya beres. Saya pun mandi segera, biar segar dalam perjalanan. Makan pun tak perlu, takut ngantuk di jalan. Setelah Cek n ricek segalanya, jam 21.30 mesin mobil pun dihidupkan, perlahan bergerak meninggalkan garasi.

Parkir sejenak, mengunci pintu dan pagar dan terakhir disamperin oleh papi. Ada setoran atas pesanan rendang, udang dan cumi balado hari kamis nan lalu. Sekalian pamit dan titip kunci pada tetangga, akhirnya kami pun jalan menuju Graha Raya, Alam Sutera, dan masuk ke Tol Merak Banten. Lancar dalam perjalanan, jarak tersebut ditempuh selama dua jam. Sebelumnya di SPBU Alam Sutera, Terios kami isi dengan pertalite sejumlah 300.000,- rupiah.

Masuk dalam antrian dermaga, ternyata kami datang lebih awal. Menunggu masuk ke kapal lebih kurang setengah jam. Setelah tengah malam berlalu, kapal pun mulai bergerak menuju Bakauheni. Dalam pada itu, kami gelar makan malam itu di dek lesehan kapal. Makan dengan dendeng balado dan telur rebus, malam itu sengaja saya lebihkan, biar bisa tidur lebih cepat.

Kapal tak terisi setengah nya. Penumpang pun tak banyak, tetapi kapal ini lumayan besar. Menyebabkan perjalanan agak terasa lama. Lumayan bisa tidur hampir dua jam, menjelang jam 04 kapal pun bersandar di dermaga Bakauheni. Terios kami pun keluar perlahan, menuruni kapal menjajakan kaki di tanah Sumatera. Malam cerah menjelang subuh, udara lumayan dingin, angin malam sumatra  menyapa kami dengan lembutnya.

Menikmati perjalanan dengan kecepatan sedang, menuju tol sumatra dengan sabarnya, Terios pun mulai menanjak. Gate tol pun terlewati, siap berpacu dengan kecepatan stabil. Berlanjut terus hingga akhirnya kami mampir di rest area km terakhir exit toll Terbanggi Besar menunaikan sholat subuh di sana. Sembari menunggu selesainya sholat subuh istri, saya pun memesan teh manis hangat dan tawar penghangat perut, sementara si kecil masih terbuai mimpi.

Jam 05.30 kami pun melanjutkan perjalanan setelah tadi sempat ngobrol dengan pengendara Pajero Sport yang berniat ke Medan via jalintim. Dari pemilik warung, dapat info bahwa tol fungsional yang dulu sempat dibuka saat lebaran, ternyata tidak dibuka. Ada sas sus sebelumnya bahwa tol Terbanggi Besar hingga Kayu Agung digunakan lagi secara fungsional lantaran jembatan di mesuji putus. Tetapi sas sus nya tak benar.

Alhamdulillah lancar dalam perjalanan menjelang jam 9 lebih kurang kami melewati Bukit Kemuning. Tadinya sempat terfikir untuk berbelok ke kiri, melewati Liwa hingga menyusuri jalan lintas barat sumatra. Sesuatu asa yang belum terpenuhi selama ini.

Mengingat diburu waktu karena ingin hadir di milad Ama 1 Juli nanti, kami tetapkan untuk kembali menempuh jalan lintas tengah. Menuju martapura, baturaja, tanjung enim, muara enim, lahat, tebing tinggi hingga ke lubuk Linggau. Perkiraan sekitar jam 21.00 nanti akan sampai di kota ini. Normalnya jarak tempuh dari rumah ke sini 24 jam.

Di Baturaja, kami melakukan pengisian pertalite lagi sejumlah 280.000,- rupiah. Makan siang dan rehat kami di RM Kartika Jaya. Di sini adalah rumah makan yang berkesan bagi kami ketika mudik desember 2013. Berkesan karena di sini kami bisa tidur pelepas kantuk selama dalam perjalanan, makanannya pun oke punya, dan yang terakhir rumah makan ini persis di sisi sungai yang sangat besar. Waktu itu pak Dadang yang membantu kami mengendarai terios ini. Kali ke dua pak Dadang bersama kami melintasi sumatra, mengantarkan kami berlibur di kampung halaman, Sumbar dan Riau. Yang pertama bulan Juli saat kami melaksanakan umroh.

Dari atas rumah makan Kartika Jaya ini akan terhampar sungai, berair deras dan perbukitan di kedua sisinya. Alam yang sangat indah dan belaian anginnya yang bisa meninabobokan kita, baik yang sedang makan maupun tiduran. Ada barang dua jam kami rehat di sini. Memang suasana yang sangat didamba bila perut kosong lewat kawasan ini.

Ada barang satu setengah jam kami rehat di sini. Perjalanan dilanjutkan memasuki kota Tanjung Enim, Muara Enim, Lahat. Memasuki Tebing Tinggi sudah menjelang maghrib.  Banyak bus bus dari Jawa yg menemani perjalanan kami saat itu. Ada NPM, ALS, ANS, Transport dan Gumarang Jaya, selain kendaraan pribadi yang "berkonde" menuju kampung halaman mengisi liburan sekolah.

Menjelang jam 20.30 kami sampai di kota Lubuk Linggau. Makan malam kami ingin yang panas, karena perut terasa agak dingin juga waktu itu. Kami singgah di salah satu warung di sisi jalan raya. Ada soto ayam, tek wan dan mpek mpek dagangannya. Soto adalah pilihan buat istri dan anak kami Dhifa.

Dari obrolan dengan pemilik warung yang sangat akrab ini kami dapatkan penginapan terdekat dengan tarif yang sangat murah. Penginapan Angeli namanya, dapat harga kamar 135.000 rupiah per malam. Ber AC dan dapat sarapan pula. Sangat murah dan sangat pas lah untuk sekedar tidur malam saja.

Segera sampai di penginapan kami teringat akan penggalan cerita dengan pemilik warung bahwa mereka terbiasa membuat dan mengirim mpek mpek bagi para pemesannya. Teringat akan banyaknya tamu nanti di Kapau, istripun pesan 100 buah mpek mpek dan tek wan seharga 50 ribu. Oh ya satu mpek mpek 1.500 ribu. Dan dijanjikan bisa diambil jam 9.00 pagi. Lumayan lah buat sekedar oleh oleh dari rantau. Khas Palembang pula.

Selepas obrolan itu kami pun tidur. Berharap esok tenaga pulih kembali dan siap melanjutkan perjalanan.










Jumat, 28 Juni 2019

TITIP: Pesan sang Kyai buat Wali Santri

Alhamdulillah, banyak hal yang sudah dijalani selama ananda masuk pasantren. Banyak suka dan duka yang sudah dilalui, tetapi sangat indah untuk dikenang. Boleh dikatakan enam bulan pertama adalah masa masa yang sulit kami jalani. Hanya bermunajat pada ALLAH semata, bersimbahkan airmata di setiap sujud dan doa buat ananda adalah salah satu cara "membunuh rindu". 

Sebagai orang tua, kita juga harus kuat. Kuat menahan rindu. Kuat dalam berdoa. Kuat dalam memotivasi ananda. Pokoknya harus kuatlah dalam segala galanya. Jangan sampai kegundahan kita, akan beresonansi buat mereka yang sedang berproses di pondok sana. Ikatan bathin kita dengan mereka sangatlah kuat. Apa yang kita rasakan, akan memberi respon signifikan buat mereka. So, kitalah yang dahulu harus KUAT.

Sejatinya mereka belajar di sana, kita pun belajar di rumah. Mereka puasa sunnah di sana, kita pun harus rajin puasa sunnah di rumah. Mereka tahajjud di sana, kita pun tahajjud di rumah. Mereka disiplin di sana, kita pun harus belajar disiplin di rumah dan dimana mana. Mereka "menatahati" di sana, kita pun "menatahati" di rumah.

Inilah yang sesungguhnya yang terjadi antara orangtua dan anaknya yang ada di pondok sana.

Belajar dari itu semuanya, alhamdulillah untuk si buyung IMAM anak kedua kami yang sejak tahun lalu diterima di GONTOR Ponorogo, sangat enjoy melalui tahun perdananya. Semuanya tentu belajar terhadap kakaknya yg lebih dahulu masuk di GONTOR Putri 3 Widodaren Ngawi Jatim. Dimana setiap ka mudifah, Imam dan Dhifa selalu diajak serta. 

Semuanya tentu belajar. Belajar dari komunitas walisantri yang ada, baik ketika mudifah maupun dalam WAG Walsantor yang ada. Selalu ada tips dan nasehatnya, serta yang terpenting adanya semangat saling menguatkan terhadap mujahid/mujahiddah yang tengah berjuang di pondok pasantren.

Tentu pesan KH. HASAN ABDULLAH SAHAL, pimpinan pondok gontor untuk para orangtua yang melepas putra-putrinya untuk menuntut ilmu perlu kita simak, sbb:“Kalau mau punya anak bermental kuat, orangtua-nya harus lebih kuat, punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orangtua harus berjuang lebih ikhlas.. ikhlas.. ikhlas”.
Anak-anak mu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang “gadget”. Insya Allah Anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Alqur’an..yakin.. yakin..dan harus yakin.
Lebih baik kamu menangis karena berpisah SEMENTARA dengan anakmu untuk menuntut ilmu agama, dari pada kamu nanti “yen wes tuwo nangis karena anak-anak mu lalai urusan akhirat.. kakean mikir ndunyo, rebutan bondo, pamer rupo..lali surgo..” (kalau sudah tua menangis karean anak2 kamu lalai thdp urusan akhirat….kebanyakan memikirkan urusan dunia, berebut harta, pamer rupa wajah…lupa surga)
“Jadi wali santri itu harus punya 5 sifat dan sikap, yaitu T I T I P.”
1.    Tega
Harus tega… harus tega… harus tega… harus percaya kalau di pesantren anakmu itu dididik bukan dibuang. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan…
2.    Ikhlas
Harus ikhlas…harus sadar kalau anakmu itu tidak akan dibiarkan terlantar… harus ikhlas anakmu dididik, dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dan sebagainya… kalau merasa anakmu dibuat nda senyaman hidup dirumah… ambil anakmu serkarang juga..!
3.    Tawakkal
Setelah itu serahkan sama Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang bisa merubah begitu saja santri-santrinya… maka berdoalah…
4.    Ikhtiar
Dana dan do’a. Ini adalah kewajiban. Amanat.
5.    Percaya
Percayalah bahwa anak kalian ini dibina, betul-betul DIBINA. Apa yang mereka dapatkan disini adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Itu adalah pendidikan.
Jadi,
Jangan SALAH PAHAM!
Jangan SALAH SIKAP!
Jangan SALAH PERSEPSI!
Mereka itu beribadah dengan menuntut ilmu
Mereka selalu diajarkan untuk mendoakan ibu-bapaknya.
Mereka pergi untuk kembali.
Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang.
(Abu Dawud, Ibnu Hibban)
http://www.embunhati.com/nasehat-kh-hasan-abdullah-sahal-gontor/
Photo dari profil FB uni Ambo Revi mailis

Kamis, 27 Juni 2019

Selamat Jalan Wiwin

Lebih kurang jam 03 dini hari tadi dapat kabar dari salah satu WAG. Serasa tak percaya, saya coba buka WA mu Win dan terakhir status mu aktif persis 24 jam sebelumnya. Lama tak bertemu, tetapi komunikasi kita terjalin lagi via WA bulan februari yang lalu.
Undanganmu untuk kami agar berkenan mampir di Pemalang, rencananya akan kami penuhi di bulan ini. Bersama istri, kami berencana akan mampir berkunjung ke Ngawi dan Ponorogo untuk bersilaturaHMI dengan mu, Win, di kediaman mu di Pemalang. Bahkan dirimu akan menjemput kami selepas exit tol.
Tetapi WA dini hari ini, membuyarkan semuanya Win. Tak percaya diri ini, Win. Kenapa begitu cepatnya dirimu dipanggil Yang Maha Kuasa. Lama tak bertemu, banyak hal yang kami tak tahu tentang mu Win.
Fb mau ku sibak untuk memastikan akan kabar ini. Ternyata benar bahwa apa yang disampaikan suatu kenyataan. Win, tak banyak yang ku tahu tentang mu. Tetapi dalam akhir akhir ini, kita banyak kesamaan. Banyak status saya yang kau komentari dan kita seolah bersepakat. Berkesesuaian dalam pilihan politik, bertemu pemikiran tentang perjalanan bangsa ini. Kita saling mendukung. Tak pernah ada kontradiksi di antara kita.
Masih terbayang status terakhir di awal juni ini tentang pertemuan mu dengan sang belahan jiwa. Tentang pernikahanmu dengan Dwi Indiastuti, tembang Jogjakarta-nya Kla Project mengiringi status itu. Aku hanya bisa like, tak sempat komentari Win. Aku turut bahagia, tetapi win.... Tetapi itu ternyata cara Allah "meninggalkan perangai" baikmu untuk orang orang terkasih. Engkau tinggalkan sang buah hati bersama bundanya dengan suatu kesan terbaik.
Wiwin Sulistya, biar status di FB kita akan jadi saksi bahwa kita adalah berteman dengan baik sekali. WA yang ada ini status ini akan jadi saksi bahwa kita punya janji untuk bertemu, bersilaturaHMI.
Win, Allah berkehendak lain. Tak ada waktu di dunia ini, kita bertemu, insya Allah Allah akan pertemukan kita kelak di Jannah-NYA.
Selamat jalan bung Wiwin. Aku bersaksi bahwa selama ini engkau termasuk hambaNya yang sholeh. Akhir hidupmu, insya Allah husnul Khotimah.
*****
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...Turut belasungkawa atas berpulangnya sahabat kita Wiwin Sulistya..Smg Alm diampuni dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan dijadikan kuburnya sbg Raudhatul Jannah. Keluarga yg ditinggal, diberi keikhlasan..Aamiin YRA
Note:
Wiwin Sulistia seorang hakim di PN Pemalang,
Pernah pengurus HMI Cabang Padang.
Kabar dari Meni, hakim di Pekanbaru.

Selasa, 18 Juni 2019

MENGAJAR itu WAJIB bagi alumni Gontor


Sebuah tulisan menjelang subuh tadi sangat berarti bagi saya, berjudul: JANGAN SEPERTI KAMBING. Tulisan yang membuat saya jadi teringat akan obrolan beberapa tahun yang lalu saat dengan beberapa walisantri yang saya temui. Obrolan yang menarik yang disampaikan, yang saya simak saat itu adalah tentang setinggi apapun jabatan ataupun profesi seorang alumni Gontor, tetaplah mereka itu GURU. Mereka WAJIB MENGAJAR.

Dalam obrolon kami disebutkanlah beberapa nama alumni Gontor yang duduk sebagai anggota DEWAN yang TERHORMAT di Senayan sana, MENTERI yang pernah menjabat ataupun sedang menjabat, bahkan PENGUSAHA juga. Apapun jabatan/profesi-nya, mereka tetaplah hakikatnya seorang guru. Boleh dikatakan pekerjaaan utama mereka itu adalah MENGAJAR, jabatan ataupun profesi lainnya adalah ladang pengabdian ke sekian.

Mana ada institusi pendidikan lainnya yang seperti GONTOR ini? Bahkan institusi pendidikan sekalipun, tak ada yang mewajibkan alumni untuk mengajar. Boleh percaya, boleh tidak, tetapi itulah kenyataannya.

So mengapa MENGAJAR itu WAJIB bagi alumni Gontor? Sangat menarik ditelaah lebih dalam.

Dan pendapat saya pribadi, seorang walisantri, boleh jadi mengajar adalah dakwah terbesar dan terberat bagi setiap muslim. Amalan yang diberikan ALLAH sangat besar dan akan mengalir terus menerus selama ilmu yang diberikan dipakai terus. Dan GONTOR sesungguhnya sudah menyiapkan semuanya bagi setiap santrinya untuk itu semuanya. Makanya harus dimaksimalkan, dimanfaatkan. Jangan sekali sekali ditinggalkan dunia mengajar ini. So banggalah dengan tugas anda yang SELALU MENGAJAR.

Silakan baca lebih lanjut tulisan yang saya dapat dari WAG Walsantor dibawah ini.
Sangat menarik.

*****

JANGAN SEPERTI KAMBING

Saya kemarin mendapat sebuah cerita berharga dari teman saya.  Dia adalah alumni Gontor yg mendapat amanat sebagai penyelenggara haji dan umroh. Suatu ketika ketika ada kunjungan KH Syukri Zarkasyi ke rumahnya,  dia kemudian memperlihatkan kepada Kyai tentang bagaimana usahanya,  dan keberhasilannya dalam membangun usahanya.  Kyai syukri mengangguk-anggukkan kepalanya,  sampai akhirnya teman saya tadi selesai bercerita.  Kyai Syukri spontan berkata :

"Wedus.. kambing kamu...!! Kalau manusianya bisanya cuma kawin punya anak,  punya rumah,  punya mobil, dan ndak mengajar,  itu bukan mental pejuang... mentalnya kambing.. ndak ada bedanya dengan kambing.. Kamu Lulusan Gontor ndak boleh hanya jadi kambing. Lulusan Pakistan kok cuma bisa bikin Travel umroh, ngajar kamu..! Ngajar ke ISID (Sebelum berganti Unida) sana..!!  Biar ndak jadi kambing..!! "

Bak tersengat aliran listrik rasanya.  Maka dia segera menghungi staff ISID untuk mengajar di sana. Sampai saat ini,  dia masih mengajar di Unida,  meskipun bukan di kampus utama di Siman.

Kyai Syukri faham,  kita butuh penghidupan layak, Istri yg menarik dan anak-anak sebagai penerus cita-cita. Tapi jika kita tidak ikuti dengan "berjuang", memperjuangkan agama ini, maka sirnalah existensi kita sebagai manusia. Karena kami adalah alumni pesantren utamanya Gontor,  maka medan perjuangan yg dipilihkan oleh Allah adalah mengajar. Mengajar walau sekecil apapun. Kyai Zarkasyi pernah menyampaikan bahwa orang besar menurut Gontor adalah orang yg mau mengajar mengaji kepada anak-kecil di Mushola di tengah-tengah hutan. Itulah orang besar menurut Gontor.

Maka jadi apapun antum,  jadi pengusaha,  jadi politikus,  jadi dokter,  jadi polisi,  jadi Tentara jadi pengacara,  jadi hakim atau apapun profesi kita... Jangan pernah lupakan tugas utama kita : Mengajar!!

Biar kita ndak jadi kambing....

Kamis, 13 Juni 2019

IMAM

Dan sang buah hati pun harus kembali ke GONTOR dengan penuh senyuman. Terima kasih nak atas kebersamaan nya selama liburan Ramadhan kali pertama ini.
Masih panjang jalan yang harus kau tempuh, tetapi ayah akan selalu mendukungmu. Kekar tubuh mu dalam setahun ini menunjukkan Engkau kelak akan jadi lelaki tangguh.
Imam yang kuat dan teguh dalam pendirian serta konsekuen dalam setiap kebijakan.
Imam yang sabar dan teliti dalam menyikapi persoalan serta adil dalam mengambil keputusan.
Imam yang sebenar benarnya imam, yang memberi manfaat dalam setiap derap kehidupan bagi agama dan bangsa kelak.
Teruslah berjuang nak.
InsyaAllah Allah meridhoimu, melindungimu, meninggikanmu dengan ilmuNya.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...