Kamis, 16 Januari 2020

Lintas Sumatra: Sarolangun - Kapau (part 4)

Rabu, 25 Desember 2019

Alhamdulillah, pulas saya tertidur semalam dan bangun lebih awal, sebelum alarm berbunyi jam 3.45. Bugar luar biasa, penuh semangat. Berberes sebentar apa yang tersisa semalam, merapikan apa yang akan dibawa lagi ke mobil, dan tak berapa lama kemudian Nova bangun. Sampah durian semalam, saya bawa keluar dan saya masukan ke dalam tong sampah yang ada di depan kamar.

Hujan masih turun dengan lembutnya menyambut subuh. Saya segera ke kamar mandi, melakukan "rutinitas membuang sampah lambung" sekalian mandi. Berharap rapi sebelum adzan.

Alhamdulillah semuanya sesuai rencana, rapi dan badan pun sudah berganti aroma, kami pun berbagi tugas. Saya memasukan semua barang ke mobil,  Nova membangunkan Dhifa, ke resepsionis membayar sewa dan menyerahkan kunci kamar serta tak lupa mengambil kembali KTP yang ditinggal semalam sebagai jaminan. Beres semuanya, bertiga kami menuju mobil siap melanjutkan perjalanan.

Adzan subuh yang tak lama lagi berkumandang memberi kesempatan untuk kembali sholat di masjid Al Fallah Sarolangun. Gerimis yang turun memaksa saya untuk parkir lebih dekat ke area pintu mesjid. Baju kaos yang saya gunakan, saya lapisi dengan jaket ODOJ yang tertinggal di mobil semalam.

Sebelum adzan berkumandang saya masih sempat melakukan sholat sunnah dan menikmati suasana masjid pagi itu. Jemaah mulai banyak yang datang dan ketika sholat subuh mau dilaksanakan baru saya sadari "parfum" saya ternyata berbeda pagi ini. Mungkin jamaah di kiri dan kanan saya bingung darimana berasalnya aroma "parfum" durian yang saya cium pagi itu. Hehehee :)

Selesai sholat subuh, saya segera ke mobil. Tak ingin berlama lama, segera saya nikmati perjalanan pagi ini dengan penuh semangat. Nova bercerita tentang mama yang tadi malam menelpon tentang keberadaan dan keadaan kami. Ditemani ngobrol oleh sang istri, menjadikan saya agak santai mengendalikan mobil.

Penerangan jalan yang tak begitu terang, hujan yang mengguyur sepanjangan perjalanan membuat suasana di dalam mobil sangatlah romantis. Candaan dan gurauan kami nikmati seolah olah pengganti sarapan pagi.

Di beberapa SPBU yang kami lewati terlihat antrian mobil dan truk yang lumayan panjang. Bisa jadi mereka sudah di sana sebelum subuh. Anehnya di depan SPBU tersebut banyak orang yang jualan BBM dengan jerigen terisi penuh. Mungkin beginilah cara SPBU dan warga setempat berbagi rezeki. SPBU hanya melayani sedari pagi hingga malam, sementara warga setempat melayani "pembeli dadakan" dari malam hingga pagi. Sebagai catatan saja, bila kita melewati lintas tengah malan hari di propinsi Jambi dan Sumsel, ada baiknya pastikan dahulu BBM terisi penuh karena banyak SPBU yang tutup. Namun kalo kepepet ada juga yang jual dengan harga sedikit lebih mahal.


Menjelang jam 7, sebelum memasuki kota Bangko, saya mengisi pertalite di SPBU yang baru saja buka pagi itu. Terios "minum" di sini seharga Rp 285.000,-. Di belakang saya terlihat dua buah mobil PKS yang akan konvoi "rihlah" ke Sumatra Barat. Ternyata di jalan raya setelah keluar dari SPBU banyak lagi yang menunggu dua mobil tadi. Ada hampir sepuluh kendaraan pribadi dengan berbagai merk yang hendak jalan jalan menuju kota Padang. Mereka dari Muara Enim yang kabarnya akan mendapat "jamuan" dari korwil PKS Sumbar.

Kami lewati mereka dengan penuh kebanggaan. Beginilah rupanya anggota partai ini mengisi liburan bersama keluarganya menuju Sumatra Barat sekaligus mempererat silaturahim sesama mereka. Dugaan saya, mungkin sebagian besar dari mereka adalah para perantau minang yang ada di sana. Hhmmm


Agak kencang lari Terios saya pagi ini, selepas "minum" di kota Bangko tadi. Alhamdulillah, jam 9 lewat, kami sudah sampai di Gunung Medan. Tadinya ingin makan soto di RM Umega, dan mobil sudah masuk di area parkirnya. Namun dari kejauahan, jejeran warung di seberangnya menggoda kami untuk ke sana. Naluriah saja. Karena di sana lebih banyak pilihan. Di tempat ini, kami pesan makanan dari tiga tempat yang berbeda. Saya makan pagi dengan ikan asam padeh yang baru matang, Nova memesan miso dan soto nasi, Dhila memesan indomie dengan dua telor plus nasi. Miso karena memang kami "taragak bana" dengan makanan jadul ini, yang sudah sangat jarang ditemui. Plus ditambah lagi dengan seporsi sate dan segelas teh telor.

Hampir sekitar empat puluh menit kami makan dan rehat di sini, perjalanan dilanjutkan lagi, namun mampir dahulu di SPBU yang berdekatan dengan tempat kami makan tadi. Banyak juga mobil pribadi yang memanfaat SPBU di sini sebagai tempat istirahat. SPBUnya luas dan bersih, ada musholanya. Dan sebelum SPBU ini ada penginapan. Semuanya milik RM Umega.

Setelah selesai, kami tancap gas lagi menuju Pulau Punjung, ibukotanya kabupaten Dharmasraya ini. Ada icon barunya di sini, yakni jembatan bagus yang baru selesai dibangun. Lanjut hingga ke Kiliranjao, terus berbelok menuju Sijunjuang di simpang Tanah Badantuang. Hari sangat cerah, jalanan agak sepi, tak banyak kami temui bus maupun truk selama dalam perjalanan pagi itu. Jam dua belas siang kami sudah masuk di kota Muaro Sijunjung ini.

Saya segera menuju masjid Tuo yang ada di sisi kanan jalan. Masjid Taqwa Muaro, namanya. Masjid dengan bagunan dua lantai dan ber-AC. Nova dan dhifa rehat di mobil, saya melaksanakan sholat jamak di sini. Setelah selesai tak lupa memasukan sedekah di kotak masjid.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sitangkai, Lintau untuk nanti berbelok ke kiri menuju Kota Batusangkar. Oh ya, beberapa ruas jalan yang berada di perbatasan kabupaten Sijunjung ini agak rusak. Genangan air sisa hujan menutupi lubang yang ada, membuat kita harus berhati hati melewatinya. Rusaknya jalan di sini sudah beberapa tahu yang lalu, entah ada perbaikan, entah tidak. Kalo pun ada pastinya tambal sulam saja.

Setelah melewati kantor wali nagari Atar yang terlihat indah di atas bukit, saya teringat teman SMA saya di Duri dulu yang tinggal di daerah Barulak Tanjuang Ameh. Saya telpon, siapa tahu dia ada di rumah dan bisa sekalian bersilaturahim. Nurdin namanya, terhubung kembali setelah beliau bergabung di WAG SMA PJ akt 92 beberapa waktu yang lalu.

Alhamdulillah, komunikasi saya tersambung dengan beliau dan ternyata toko yang baru saja dia tempati tak jauh dari jalan yang akan saya tempuh. Akhirnya kami pun mampir di sini. Saya dan Nova di ajak beliau "duduak di lapau" yang ada di depan toko perabotnya. Sementara Dhifa yang turun asyik main dengan ikan ikan yang baru ditangkap oleh salah seorang teman Nurdin, sahabat saya ini. Rumah Nurdin yang ada di belakang SD yang tampak dari jalan raya, di sebelah kanan kami, di tengah hamparan sawah. Kepada beliau saya janjikan, isnya ALLAH suatu waktu kami akan mampir.

Lama tak bertemu dengan beliau ini. Lebih dari 27 tahun. Banyak kisah yang saya dengar dari beliau yang bisa saya ambil. Merantau selepas SMA ke Cikokol Tangerang, membuka usaha rumah makan hampir dua tahun, banting stir merantau lagi ke Palembang dan kursus "meubel" di sana hingga akhirnya berkembang di sini, di Barulak. Mempunyai anak enam orang, yang sulung sudah menikah dan mempunyai seorang anak dan tinggal di Batam. Anak keduanya sedang dalam persiapan untuk melanjutkan pendidikan di BLK Kota Padang untuk kemudian bersiap siap  "short course" di Jepang, yang empat orang ada di sini dikampung.

27 tahun tak terdengar kabar sama sekali adalah suatu keajaiban yang ALLAH berikan kepada saya untuk bertemu kembali dengan Nurdin ini. Sahabat saya yang gigih dalam berusaha. Sahabat yang yang sama sama berjuang di kelas Fisika di SMAN 2 Duri. Banyak kenangan kami saat masih sekolah dahulu. Dan tak banyak perubahan di wajah dan sifatnya.

Hampir satu jam kami di sini, saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ini adalah kali kedua saya mampir untuk bersilaturahim dengan sahabat saya di daerah ini. Mudik lebaran yang lalu saya juga singgah di Saruaso, di rumah mertuanya John Mikhrad teman kuliah saya, yang kebetulan saat itu ada syukuran walimahan. "Mandoa" bahasa minangnya.

Menanjak jalan menuju Istana Pagaruyung, gerimis turun lagi. Jalan berliku hingga ke perempatan lampu merah kota Batusangkar. Banyak cerita kami di dalam mobil, bertiga.
Alam yang indah, udara yang sejuk selepas perempatan lampu merah di jalan yang umumnya lurus menanjak hingga panorama Tabek Patah membuat saya merekam semuanya dalam camera HP yang terpasang di mobil.

Bagi yang ingin menikmati pemandangan alam dan celotehan kami sepanjang jalan hingga ke simpang baso bisa dilihat di youtube saya :


Setelah panorama Tabek Patah jalan berliku lagi hingga keluar di simpang Baso. Hujan masih setia menemani perjalanan kami. Di beberapa titik yang kami lewati tadi ada beberapa tebing yang longsor, yang agak memakan badan jalan. Kendaraan beriringan, karena selain hujan juga adanya truk besar yang melewati jalan yang kecil ini. Kendaraan berplat selain BA banyak kami temui, menandakan bahwa Sumatra Barat memang daerah tujuan wisata bagi para perantau maupun pelancong.

Di simpang baso, berbelok ke kiri kemacetan mulai kami rasakan. Gerimis dan macet kami alami hingga perempatan simpang Tanjung Alam. Namun karena suasana bahagia yang kami rasakan, ditambah lagi telpon dari mama yang menanyakan kami membuat semuanya terasa sebentar saja.

Menjelang adzan berkumandang sore itu, kami sudah berada di simpang Tanjuang Alam, berbelok ke kanan, kami mampir sebentar di depan masjid Nurul Huda karena ada yang jual "cindua langkok". Cendol ini adalah salah satu kuliner favorit jika kita ke Bukittingi, berisi ketan dan duriannya. Rasanya uenak, pas banget kalo diminum di saat teriknya matahari. Tetapi cuaca yang dingin, gerimis yang masih turun, tak menyurutkan Nova untuk melepas seleranya. Dua bungkus kami beli untuk dibawa pulang.

Sepanjang perjalanan dari simpang Tanjung Alam hingga ke rumah bisa dinikmati di channel saya:


Alhamdulillah, jam 4 kami sudah berada di rumah dengan selamat disambut oleh Mama dengan penuh keceriaan, dan yang paling kencang suaranya adalah Dhifa. "Neneeeeeeeek...", serunya.

Total perjalanan dari Sarolangun hingga ke Kapau lebih kurang 11 jam.

Rabu, 15 Januari 2020

Lintas Sumatra: Palembang - Sarolangun via Sekayu (part 3)

Selasa, 24 Desember 2019

Selepas makan pagi dan rehat hampir satu jam di salah satu rumah makan, selepas batas kota Palembang kami lanjutkan perjalanan walau masih dalam guyuran hujan yang sudah mulai berkurang. Tak mungkin berlama lama rehat di sini karena akan memperlambat perjalanan yang belum kami tahu bagaimana kondisi jalannya. Tadi sempat ngobrol dengan pemudik yang hendak ke kota Padang dan bertukar pikiran jalan mana yang hendak ditempuh. Mereka awalnya hendak melewati Bayung Lencir, tetapi entah berubah pikiran entah tidak setelah saya sampaikan bagaimana kondisi jalan tersebut saat musim hujan seperti ini. Kondisi bayung lencir berdasarkan info sebelumnya di WA grup Jalinsum masih parah. Mereka telah berangkat lebih dahulu dari kami, setengah jam yang lalu.

Hujan dan macet menemani kami dalam beberapa kilometer. Hampir satu jam lamanya baru kami menikmati jalan yang lancar. Google map yang saya ubah arah menuju kota Lubuk Linggau, mengarahkan kami menuju area perkantoran PEMDA Betung. Jalan yang tadinya satu jalur sekarang menjadi dua jalur dan cukup lebar. Di sini dengan penuh keraguan saya jajal saja jalan ini, berharap segera sampai di jalan utama Betung Sekayu. Jalanan sepi dan perkantoran terlihat agak jauh dari jalan utama ini. Makin ke ujung jalan sedikit berlubang dan mulai sepi banget. Hanya beberapa motor saja terlihat.

Di ujung jalan terlihat pertigaan, dan sesuai permintaan "google map" ini, mobil saya arahkan ke kiri. Nampak jalan beraspal mulus walau tak lagi dua jalur. Jalanan masih sepi, hanya sesekali saya berpapasan dengan mobil pribadi. Saya percaya dengan google map ini, meskipun jalan ini pernah saya tempuh dari arah yang berlawanan ketika pertengahan Ramadhan th 2013 bersama pak Dadang sebagai driver kami waktu itu. Namun perjalanan malam yang kami tempuh waktu itu penuh "kengerian". Jalan yang sebagian besar masih jelek, bertanah, dan banyak "penunggu"nya ketika harus melewati jembatan yang sedang dibangun. Untung saja "para penunggu" ini masih mau menerima uang seribu dua ribu yang kami berikan. Saat itu kami tersasar karena mengikuti konvoi mobil yang jalan juga. Mereka putar balik, sedangkan kami tetap jalan sesuai GPS yang ada saat itu. Google map waktu itu belum ada. Perjalanan malam tak banyak tempat yang bisa kami amati. Setelah sampai di Palembang esok harinya, melalui BBM Grup sang kuncen Jalinsum menyampaikan bahwa rute yang kami tempuh semalam adalah "jalur neraka". Untung saja kami selamat sampai di Betung menjelang subuh. Kami baru rehat setelah sampai di kota Palembang lebih kurang menjelang jam 10 di sebuah mesjid. Terpaksa perjalanan yang tadinya ingin melewati jalinteng pindah kejalintim. Semuanya karena kesasar. Ngeri ngeri sedap waktu itu, apalagi saat mencari rumah makan untuk sekedar bisa sahur. Tak ada rumah makan yang terlihat sepanjang jalan. Alhamdulillah hanya berbekal air putih saj, puasa tetap kami jalani. Berbuka di daerah Lampung.

Nah pagi itu hingga siang kami menikmati perjalanan Betung Sekayu ini dengan puas. Berbeda dengan waktu itu. Rerata jalanan masih baru diaspal, mulus. Hanya di beberapa titik saja yang terlihat rusak. Menyisiri sungat Musi yang lebar sepanjang jalan adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ada kengerian juga melihat derasnya arus sungai saat itu. Dan di beberapa titik ada badan jalan yang amblas. Kalo tidak hati hati, fatal akibatnya.

Ada penambangan juga di beberapa tempat di tengah sungai ini. Airnya terlihat "butek" kekuning-kuningan. Namun dari kejauahan hutan terlihat sebagai batas sungainya. Hutan yang masih terjaga keasliannya.

Dan di beberapa lokasi terlihat beberapa penduduk setempat menjual hasil buminya, seperti durian, pete, madu dan ikan salais. Ikan salais adalah ikan yang diolah dengan pengasapan selama beberapa. Sumatra Selatan ini adalah salah satu sumber terbaiknya. Ikan Salais ini sangat cocok dan enak untuk digoreng balado ataupun digulai dengan "pucuak ubi".

Setelah tengah hari kami pun memasuki kota Sekayu, google map mengarahkan ke jalur Sekayu -Lubuk Linggau melalui terminal Randik. Pinggiran kota. Nama terminal ini unik bagi saya. Dan di sekitar jalan yang ditempuh dekat terminal ini ada masjid masjid bagus. Sayang waktu zuhur sudah berlalu, saya lanjutkan perjalanan ini berencana sholatnya nanti di Lubuk Linggau saja. Prakiraan sampai di sana sekitar jam empat sore.

Tanpa istirahat, jalur ini kami tempuh jalan ini dengan penuh keraguan. Setengah hati berharap tidak salah jalan. Tidak keluar di daerah Muara Enim. Saya pastikan pada Nova untuk setting di HP nya menuju Lubuk Linggau, sebagai comparator yang ada di HP saya. Alhamdulillah rute nya masih tetap sama, jam kesampaian di tujuan pun sama. Saya makin pede. Jalanan yang kami tempuh masih mirip, mulus dan menyisiri pinggiran sungai. Masih sungai yang sama, sungai yang sangat lebar dan airnya deras. Yang berbeda hanyalah posisinya sekarang sudah berada di sebelah kanan saya.

Beberapa spot jalan menuju Lubuk Linggau ini ada yang berlobang, kurang mulus. Waktu terasa lama karena sudah mulai jenuh hanya memandangi aliran sungai di sisi jalan dan hutan di kiri kanan jalan. Di beberapa tempat kami melewati perkampungan penduduk dan pasarnya. Menjelang jam empat sore itu kami agak lega, karena jalan lintas tengah sumatra sudah dekat. Itu artinya sebentar lagi akan memasuki kota Lubuk Linggau.

Di pertigaan jalan menuju Kota Lubuk Linggau, kami berhenti sebentar karena melihat ada yang jual durian di sisi sebelah kanan jalan. Transaksi sebentar, sang penjual memasukan ke mobil dua karung kecil berisi sebelas buah durian seharga 150.000,-. Sebelumnya sang penjual meminta saya mencoba satu durian yang telah dibuka, sedikit ada ulatnya tetapi rasanya sangat manis.

Sepanjang jalan aroma durian ini mulai menganggu. Menganggu hidung saya dan Nova. Dhifa belum tahu karena masih tertidur. Menjelang masuk kota Lubuk Linggau kami mengikuti arah google map melalui jalur lingkar luar. Agak memapas jarak dan waktu. Jalanan lebih kecil tetapi lebih lancar, hingga ketemu lagi di jalan lintas Lubuk Linggau - Sarolangun. Jalur trek lurus yang saya senangi.

Di salah satu SPBU yang biasa kami singgahi, kami rehat disini sejenak. Rehat buat kami dan buat mobil juga setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam lamanya. Saya sholat jamak di sini. Nova meminta untuk melanjutkan perjalanan karena tanggung kalo makan di sini. Kebetulan di SPBU ini ada rumah makannya juga.

Melanjutkan perjalanan di trek lurus ini sangat menyenangkan. Apalagi tubuh ini masih berbalut air wudhuk. Kecepatan mobil bisa saya pacu karena kondisi tubuh kembali bugar. Sore menjelang masuk kabupaten Sarolangun cuaca agak bersahabat, jalanan sepi. Durian dan duku berjejeran di pinggir jalan dijajakan penduduk setempat.

Menjelang maghrib, jam enam sore kami pun sampai di Kota Sarolangun. Saya yang terpaku melihat masjid yang ada selepas jembatan di kota ini. Saya menawarkan ke Nova untuk melakukan sholat maghrib dan makan malam di sekitar pasar dekat mesjid ini. Nova pun setuju.

Mobil saya belokan ke arah kiri, menuruni jalan dan berbelok ke kanan langsung menuju parkiran masjid yang luas. Masjid yang berada di pinggir sungai ini, berada di bawah badan jalan lintas tengah sumatra. Mesjid yang anggun. Masjid Al Fallah dekat Pasar Sarolangun. Gerimis sedari tadi masih mengiringi kami langkah kami memasuki mesjid ini dan baru reda ketika selesai sholat.

Selesai sholat, kami menuju pasar yang tak jauh dari sini. Makan malam dengan nasi soto dan Dhifa meminta indomie telur dengan nasinya. Sambil makan Nova menanyakan apakah ada penginapan yang bersih dan murah di sekitar masjid ini pada penjual soto. Nova tak ingin saya melanjutkan perjalanan malam ini dan meminta untuk istirahat saja. "Jangan paksakan diri", katanya.


Detail live report saat di kota Sarolangun ini saya tuliskan di FB saya; https://www.facebook.com/aryandi.ilyas/posts/10157738695569174


Selanjutnya kami menginap di "Losmen" RM Sinar Ogan yang posisinya telah kami lewati tadi. Harganya sangat bersahabat, murah, Rp. 175.000 semalam. Dengan kamar yang cukup besar, TV, berAC dan ada wifinya. Kami rehat di sini kira kira jam 20.30.

Penginapan yang bersih dan asri. Di sini kami mandi, rehat dan bercengkrama sejenak. Dan ujung ujungnya Dhifa minta durian juga. Saya yang menjaga stamina hanya mencicipi dua biji saja. Sekedar mencoba.

Tak lama berselang saya pun tertidur. Nova dan Dhifa tak tahu jam berapa mereka tertidur. saya betul betul rehat. Memulihkan stamina buat perjalanan besok.








Hikmah: Kontradiktif


#####

Yang tinggal di gunung merindukan​ pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan​ gunung.

Di musim kemarau merindukan​ musim hujan.
Di musim hujan merindukan​ musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan​ bepergian.
Setelah bepergian merindukan​ rumah.

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entreprene​ur supaya punya kebebasan waktu.
Begitu jadi Entreprene​ur ingin jadi karyawan, biar tidak pusing.

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan​.

Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/is​tri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/is​tri cantik, pengen yang biasa-biasa saja, bikin cemburu aja/takut selingkuh.​.

Punya anak satu mendambaka​n banyak anak.
Punya banyak anak mendambaka​n satu anak saja.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.

Kapankah kebahagiaa​n akan didapatkan​ kalau kita hanya selalu memikirkan​ apa yang belum ada, namun mengabaika​n apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ?

‘Semoga kita menjadi pribadi yang yang senantiasa bersyukur dengan berkah yang sudah kita miliki’

‘Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil’
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif.

Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua.
Syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.

#goresan hati

Selasa, 14 Januari 2020

Donor Darah








Alhamdulillah, menjelang siang ini diperkenankan lagi donor darah untuk yang ke 56 kalinya. Kali ini pelaksanaanya di kantor.

Berbeda dengan yang biasanya, kali ini darah yang diambil sebanyak 450ml. Itu artinya tubuh sangat memungkinkan untuk diambil dengan jumlah terbesar, kondisi tubuh dalam keadaan prima. Dan terutama kantong darahnya pun tersedia.
Biasanya hanya di angka 350ml.

Dan yang agak berbeda dari biasanya adalah souvenirnya. Setelah november lalu, mendapatkan tas pinggang, di awal tahun ini saya mendapatkan tas sandang. Lumayan bagus dan besar.

Thanks PMI Tangsel

#donordarah
#ayodonor


Senin, 13 Januari 2020

Hikmah: Ternyata Hidup Itu Indah



*_Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh_*

*_Semangat Subuh_*

*TERNYATA HIDUP ITU INDAH*

Seorang dosen tengah berjalan santai bersama seorg  mahasiswa di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yg sudah usang & lusuh.

Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yg sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

_Sang mahasiswa melihat kpd dosennya & berkata :_
*Bgmn kalau kita candai tukang kebun ini dgn menyembunyikan sepatunya,* kemudian kita bersembunyi dibelakang pepohonan, nanti ketika dia datang, kita lihat bgmn dia kaget & cemas krn kehilangan sepatunya...

_Dosen itu menjawab:_
Mahasiswaku, _*tidak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin.*_
*Kamu kan seorg yg kaya & kamu bisa saja menambah kebahagiaan utk dirinya...*

*Sekarang  coba kamu masukkan bbrp  lembar uang kertas ke dlm sepatunya,* _kemudian saksikan bgmn respon dari tukang kebun miskin itu?_

_Sang mhsiswa sangat takjub dgn usulan dosennya._
*Dia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dlm  sepatu tukang kebun itu.* _Setelah itu ia bersembunyi di balik semak2 bersama dosennya sambil mengintip apa yg akan terjadi dgn tukang kebun._

Tak brpa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju, tempat dia meninggalkan sepatu sblm bekerja.

Ketika ia memasukkan kakinya ke dlm sepatu, ia menjadi terperanjat, krn ada sesuatu yg mengganjal di dalamnya.

Saat ia keluarkan ternyata, *uang...*
Dia memeriksa sepatu yg satunya lagi, ternyata juga berisi *uang...*
Dia memandangi *uang* itu ber-ulang2 seolah ia tidak percaya dgn penglihatannya.

Ia pun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorg pun.

_Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :_
*“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Alloh, Tuhanku yg maha Pengasih & Penyayang...*
_Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit & anak2-ku  kelaparan, mrk belum mendapatkan makanan hari ini._

*Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”*

_Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi langit sbg ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari *Alloh Yang Maha Pemurah*._

Sang mhsiswa sangat terharu dgn pemandangan yg di lihatnya dari balik persembunyian itu Air matanya menetes tanpa dapat ia bendung.

_Sang dosen yg bijak tsb.pun berkata pd mahasiswanya :_
_“Bukankah sekarang kamu *merasakan kebahagiaan yg lebih* dari pada kamu melakukan usulan pertama dgn menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”_

_Sang mahasiswa menjawab :_
*"Aku telah mendapatkan pelajaran yg tidak akan aku lupakan seumur hidupku."*
_Sekarang aku paham makna kalimat :_
*“Ketika kamu memberi,* _kamu akan memperoleh *kebahagiaan yg lebih banyak* daripada ketika kamu diberi”._

_Sang dosen melanjutkan nasehatnya, & ketahuilah bhw *bentuk pemberian itu ber-macam2 :*_
1. _Memaafkan kesalahan org di saat kamu mampu melakukan balas dendam_,...adalah suatu *pemberian.*

2. _Mendoakan teman & saudaramu di belakangnya_ (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga *pemberian.*

3. _Berusaha berbaik sangka & menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu *pemberian.*

4. _Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita dibelakangnya_ adalah *pemberian* juga.

Ini semua adalah *"pemberian"*

Marilah kita saling *"memberi & berbuat baik"*, niscaya _*hidup kita akan menjadi lebih indah.*_

*"Ternyata hidup itu Indah"*

*_Selamat menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid, semoga Allah menerima amal ibadah kita Aamiin_*

Jumat, 10 Januari 2020

Lintas Sumatra: Menjajal Tol Bakauheni Palembang (part 2)

Selasa, 24 Desember 2019

Selepas sholat subuh, suasana hati agak tenang. Ada kebahagiaan ketika amanah yang ALLAH perintahkan telah selesai kita tunaikan. Disebabkan Nova lagi berhalangan, segera saja saya menuju mobil, mengajak mereka untuk segera melanjutkan perjalanan bada subuh ini. Biasanya kalo Nova Sholat saya agak lama juga nungguin dia hingga selesai.

Udara segar saya biarkan masuk barang sejenak sejak Rest Area KM 33 ini. Sengaja sedikit jendela di empat sisi saya buka. Dhifa yang tadi sempat bangun dan keluar bersama kami, kembali terlelap dalam embusan angin sepoi subuh ini.

***
Ada sedikit kecemasan saya tadi, saat dia kembali ke toilet.

"Yah, minta uang buat ke WC", katanya.
"Buat apa dek", tanya saya lagi.
"Tadi sama bunda belum bayar, yah", sahutnya
Lalu saya kasih uang dua ribu satu lembar, dan dia kembali bertanya, "Nggak kurang nih yah? Soalnya aku mau sekali lagi ke WC. Yang "tadi" belum keluar".
Saya tertawa, sambil melanjutkan, "Bilang saja ke abangnya, yang "tadi" belum selesai bang. Mau dilanjutkan lagi bang". Saya pun tersenyum.

Dia tertawa dan si Abang penjaga WC yang di depan kami juga tertawa.

Setelah saya selesai, ternyata saya panggil panggil Dhifanya tak ada. Saya agak cemas, saya tanya ke Abang penjaga, "Bang, anak saya sudah keluar atau masih di dalam?"
"Sepertinya masih di dalam pak", jawabnya.
Saya lalu mencari sandal yang biasa dia pake, ternyata tak ada. Saya coba berjalan ke Mushola, ternyata sedang duduk manis sendirian di tangga, melihat bundanya dari kejauhan.

***

Kejadian yang saya alami itu menjadi pembuka diskusi dengan Nova, bagaimana kita harus hati hati menjaga anak selama dalam perjalanan maupun dalam keramaian. Termasuk di sekitar kawasan toilet umum karena rawan dengan pelecehan maupun penculikan. Alhamdulillah, kami sama sama memaklumi. Namun di samping kejadian tersebut, ada hal lainnya yang saya amati dari Dhifa, yakni dia pun sudah punya keberanian dan hafal dengan situasi dimana orang tuanya berada meskipun di lokasi baru.

Ketika gerimis mulai agak turun, perlahan AC saya hidupkan dan jendela pun ditutup lagi. Lumayan oksigen yang masuk tadi sudah menyegarkan kami, terutama udara di dalam mobil. Rinai mulai banyak menghempaskan diri di kaca depan mobil yang kami kendarai, namun kecepatannya saya coba pertahankan di angka 100 km/jam. Jalanan masih sepi, namun menanjak. Dan ketika tanjakan mulai berkurang, kecepatan mobil pun saya coba di atas angka 100. Sesekali melambat, namun angka tertinggi nya tak lebih dari 120.

Pagi mulai tersibak dan lampu mobil pun saya matikan. Suasana asri sepanjang jalan tol sumatra ini sangat layak untuk dinikmati. Perkebunan di kiri kanan jalan adalah pemandangan tersendiri. Nuansa hijaunya sangat kental.

Setelah melewati gerbang tol Terbanggi Besar, menjelang jam enam, di sebelah kiri jalan ada rambu rambu dari petugas. Perlahan kecepatan mobil saya kurangi. Saya amati apa yang terjadi. Nova yang dari tadi tertidur saya bangunkan. Ternyata jalur sebelah kiri sengaja ditutup petugas karena adanya kecelakaan tunggal.

Sepintas saya lihat ke kiri, sebuah mobil merah maron yang terbalik, dengan plat no BM. Kendaraan dari Riau, kampung halaman saya. Nampaknya kecelakaan tunggal karena tak ada lagi kendaraan lainnya yang mengikuti setelah mobil ini. Sepertinya pengemudi mobil ini menabrak sisi kanan pembatas jalan, terbanting dan terbalik lagi ke sisi kiri jalan. Dan tadi terlihat di beton kiri jalan, tiga orang lelaki dewasa yang bersandar di sana. Dugaan saya ini adalah para penumpang dari mobil berplat BM ini. Di bagian kiri depan, ada lagi petugas yang mengamankan lokasi berikut dengan mobil dereknya.

Saya ingatkan ke Nova, semoga ini jadi hikmah buat kita. Andai saya yang ngantuk, jangan marah kalo nanti saya bangunkan. Biasanya kalau saya ngantuk, kecepatan mobil sangat lambat dan saya suka minta sesuatu untuk bisa dikunyah kunyah. Nova sudah paham hal ini, karena biasanya ada cemilan cemilun yang sudah dia siapkan. Yang saya sangat sukai adalah kurma, selain bisa pengganti karbo, kalorinya sangat tinggi. Apalagi kurma Sukari yang sering kami konsumsi, manisnya itu suka membuat gigi saya agak cenat cenut bila ada yang nyangkut. Dan itu sangat efektif menghilangkan kantuk karena lidah saya akan menari nari di dalam mulut. Hehehe

Di beberapa titik dalam perjalanan pagi ini, awan tebal masih bergelayut. Di sekitar Pematang Panggang, jarak pandang kami terbatas. Ada beberapa lamanya rasanya kami diliputi awan. Pandangan sangat terbatas, sehingga kecepatan mobil pun saya kurangi. Kami serasa berada dalam lingkup awan yang gelap. Lampu mobil pun terpaksa saya nyalakan.

Kecepatan kendaraan rerata diantara ambang teratas di tol ini, 100 km/jam. Apalagi setelah kecelakaan yang tadi kami lihat Nova sudah mengingatkan untuk tidak terlalu kencang.

Pematang Panggang hampir terlewati, petunjuk gerbang tol Kayu Agung mulai terlihat dari kejauahan. Saya perhatikan di google map yang settingannya ke Kapau Bukittingi. Mengarahkan saya untuk keluar di exit tol Kayu Agung ini. Sepertinya ini mengarahkan ke jalan raya Kayu Agung - Prabumulih, Muara Enim, Lahat dan Lubuk Linggau. Sempat berfikir sebentar, ikuti google map ini atau ikut rencana awal via Betung - Sekayu - Lubuk Linggau.

Menjelang pintu keluar tol Kayu Agung ini, saya hentikan mobil sejenak. Ada petugas di pertigaan jalan dan ada mobil lain yang bertanya bertanya pada petugas tersebut. Setelah mobil itu berlalu, saya sapa petugas tersebut, "Assalammualaikum, pak".
"Alaikummussalam. Ada yang bisa saya bantu pak?", jawab dan bertanya balik ke saya.
"Ya, pak. Apakah jalan lurus ini, nantinya akan keluar ke Jakabaring, Palembang?, saya bertanya.
"Betul pak, tinggal ikuti jalan ini saja nanti bapak akan keluar di Jakabaring", jawabnya.
"Alhamdulillah, makasih ya pak", jawab saya atas info yang dia sampaikan.
"Sama sama, Pak"' jawabnya balik.
Semua aksen bapak petugas ini khas Palembang. Enak didengar.

Akhirnya saya putuskan tetap via Betung Sekayu Lubuk Linggau. Ada keraguan bagi saya melewati Prabumulih berdasarkan pengalaman orang lain yang saya tonton di youtube ketika arus balik lebaran kemarin. Mereka tersasar setelah lepas dari kota Lubuk Linggau, mengikuti google map menuju kota Prabumulih. Mereka konvoi beberapa mobil tetapi diarahkan ke jalan jalan proyek, jalan jalan bertanah yang dikelilingi oleh hutan karet dan sawit. Dengan bantuan penduduk setempat, mereka diantar dengan motor hingga ke jalan raya Prabumulih - Muara Enim. Sudah sore hari waktu itu. Entah apa yang mereka rasakan saat itu. Tentu saya tak ingin mengalami hal serupa.

Saya lajukan kendaraan lurus mengikuti jalur tol sumatra ini. Rasanya tak akan lama lagi akan sampai di pintu keluar. Saya perhatikan rest area sudah tak ada lagi terllihat, sementara hasrat "kebelakang" makin mendera. Udara dingin memang membuat ingin buang air kecil.

Alhamdulillah, sebelum pintu keluar Jakabaring, ada posko Pengamanan Natal dan Tahun Baru di bawah exit tol yang belum jadi. Saya lupa nama daerahnya. Saya berhenti di sini, dan terlihat ada beberapa posko, baik kepolisian, PMI, mushola dengan karpet warna merahnya dan beberapa warung tenda yang menyediakan kebutuhan para musafir yang singgah.

Di bagian belakang sekali ada "toilet mobile" beberapa buah. Kami turun, bergantian, tanpa mematikan mesin mobil. Di seberang jalan tol yang tanpa pembatas ini saya perhatikan kondisi posko yang sama tersedia. Pagi ini memang belum rame. Hujan gerimis masih menemani kami, namun badan jalan yang ada di atas membuat kami terlindungi.

Dan berdasarkan info petugas, pintu keluar Jakabaring sudah tak jauh lagi. Ini yang membuat kami lega. Setelah semuanya selesai, perjalanan ini kami lanjutkan dengan santai. Saya nikmati akhir perjalanan di tol sumatra ini dengan sebaik mungkin. Sambil bercanda dengan dengan Dhifa yang sudah tak mau tidur lagi. Kami perhatikan rumah rumah penduduk yang ada di pinggir tol. Rumah yang berdiri di atas rawa. Rumah Panggung, khas sumatra selatan.



Tak berapa lama, jalan mulai mengecil. Di ujung jalan terlihat pintu tol yang hanya ada dua buah, masih bersifat sementara. Saya sapa petugas yang ada, dan mempersilakan saya lewat. Tol ini belum berbayar, masih dalam tahap uji coba, belum diresmikan.

Jadi total biaya yang saya nikmati sepanjang tol hingga Palembang ini masih di angka Rp. 112.000,- masih sebatas Bakauheni - Terbanggi Besar saja yang berbayar. Entah berapa yang seharusnya nanti jika sudah diberlakukan tarif tolnya.

Dalam suasana yang masih gerimis, saya mengikuti arahan google map. Tak berapa lama kami sudah sampai di jalan lingkar luar palembang. Saya kurang hapal daerahnya, dan kalo tak salah ingat, nama jalannya Soekarno Hatta. Waktu sudah menunjukan angka 08.15. Berarti selama perjalanan kami dari rest area KM 33 hingga saat ini dengan jarak tempuh + 350 km tertempuh dalam waktu tiga setengah jam lamanya.

Berhenti sejenak, di SPBU pertama yang kami temui. Terios sudah patut pula diisi lagi. Dengan pertalite. Total pengisiannya Rp 236 ribu.
Keluar dari SPBU jalanan sudah mulai rame. Di sisi kiri jalan, dalam kemacetan sebelum google map menyuruh belok kiri, saya melihat terminal bus Type A Kota Palembang.

Berbelok ke kiri, kemacetan makin parah. Jalan pun banyak berlubang. Angkot banyak menyodok dari bahu jalan, yang tak beraspal. Ini adalah jalan lintas timur sumatra. Jalan Betung Palembang. Hujan yang turun tak menyurut kendaraan kendaraan lokal untuk saling salib di kiri maupun kanan jalan, termasuk para pemotor. Motor dalam kondisi begini selalu yang saya takutkan. Makanya saya sangat berhati hati di jalan raya Betung ini. Beringsut ingsut tak mengapa, yang penting jangan bersinggungan dengan kendaraan roda dua ini. Berbahaya!!!

Akhirnya, dentuman dari dalam perut lebih terasa. Saya perhatikan jam sudah menujukan angka 9. mau tak mau harus cari rumah makan. Dalam kondisi seperti ini, soto atau pindang khas palembang adalah pilihan utama.

Beruntung, tak lama berselang ada di kiri jalan sebuah rumah makan. Berhentilah kita di sini. Mengisi lambung. Alhamdulillah, di sini kami makan dengan pindang, soto dan pecel lele buat Dhifa. Lebih kurang satu jam kami rehat disini. Makan dan melepas penat sebelum memulai perjalanan menuju Betung - Sekayu - Lubuk Linggau - Sarongalun.

Di sini pula kami bertemu dengan Avansa putih plat A hendak menuju Padang. Mereka hanya berdua saja di mobil. Yang satu orang serang, beristrikan orang Padang dan satu lagi dari Garut temannya. Mereka ke padang hendak menjemput istri dan anaknya. Dia melihat mobil saya ketika di Pelabuhan Merak, posisinya dibelakang saya, katanya.

***
Nantikan kelanjutannya ya....









Lintas Sumatra: Menjajal Tol Bakauheni Palembang (part 1)

Senin 23 Desember 2019, menjelang jam 4 sore, terios yang saya kendarai langsung menuju salah satu bengkel di sektor 9 Bintaro untuk diservis. Setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam dari pagi tadi, mobil harus direkondisikan untuk bersiap menempuh perjalanan selanjutnya.

Trip ke Jawa sejak Rabu lalu melihat sang buah hati di Ngawi dan Ponorogo telah berakhir sesuai harapan kami semuanya. Tuntas sudah semua janji kepada kakak Dhila dan abang Imam. Alhamdulillah. Sekarang saatnya menunaikan janji kami dengan mama di kampung halaman.

Setelah deal dengan petugas bengkel, diperkirakan sesudah maghrib mobil sudah bisa diambil. Tune up, pergantian oli mobil, balancing dan spooring serta pengecekan hal hal lainnya untuk perjalanan jauh ke sumatra menjadi prioritas saya terhadap Service Advisor bengkel sangat saya tekankan. Penting bagi saya untuk memastikan tiada kendala dalam perjalanan nanti malam. 

Setelah memesan taxi online buat pulang ke rumah, sebagian kecil barang kami turunkan. Sementara yang lainnya masih tertinggal di mobil. Mungkin bagi mereka yang melihat kami sore itu di bengkel nggak habis pikir dengan apa yang kami lakukan. Mobil 'dekil' ditingkalkan di bengkel, sementara barang banyak tidak diturunkan, malah pulang dengan taxi dengan penuh riang gembira. Penuh candaan. Bertiga. Hehehe

Hanya hitungan menit kami sudah sampai di rumah. Saya mencoba untuk rehat sejenak. Nova menyuruh saya untuk tidur sebisanya, sementara dia dan Dhifa sibuk mempersiapkan bekal buat perjalanan nanti malam. 

Sesuai yang direncanakan, habis maghrib kami mampir ke optik untuk mengambil kacamata Dhifa yang dititip seminggu yang lalu. Setelah itu Nova mengantar saya ke bengkel dengan motor. Tiduran sejam lebih membuat saya segar malam ini.

Dari bengkel saya sholat isya di mesjid At Taqwa Puri Bintaro Hijau. Saya perlama sujud dan doa mohon kekuatan dan keselamatan pada Allah untuk trip ke Sumatra sebentar lagi.

Memang semuanya di luar rencana. Tadinya kami ingin mencoba naik bis ke Bukittinggi tapi apa daya tiket tak kunjung didapat untuk hari selasa esok sesuai rencana semula. Baru dijanjikan Rabu tanggal 25 Desember, itupun kalo ada tambahan bus NPM. Padahal seminggu nan lalu kami sudah hunting tiket ke loket NPM di terminal Poris Tangerang dan sudah pula meninggalkan no HP ke agentnya.

Karena tidak ada kepastian seperti itu, makanya ketika masih di toll Cipali menjelang siang tadi saya putuskan ke Nova, bahwa kita pulang dengan Terios saja. Kita lanjutkan tour de Java hingga Sumatra.

Sesampai di rumah, segera kami atur pergantian barang yang akan ditinggal dan yang akan dibawa. Sementara saya menyusun barang dan siap berangkat, ternyata Nova sudah selesai pula dengan cucian pakaian kotor kami yang tak seberapa. Tinggal jemur. Sebagian lagi sudah dicuci sebelumnya selama di penginapan kami di Ponorogo.

Jam 9 malam, kami meninggalkan rumah dengan sebelumnya pamit dengan tetangga depan rumah. Tak lupa pula titip kunci rumah pada tetangga. Kebiasaan yang kami lakukan bila hendak jalan jauh.

Memasuki kawasan Bintaro goggle map yang saya set, ternyata mengarahkan saya untuk memasuki tol Serpong Kunciran yang baru beberapa waktu lalu diresmikan oleh pak Jokowi. Sekedar mencoba saya ikuti arah yang ditunjuki oleh goggle map ini.

Ternyata benar rutenya keluar di Kunciran langsung nyambung dengan tol Jakarta Merak. Di pintu tol harga tiketnya tertera Rp 12.000,-. Memangkas waktu sekitar 20 menit menurut perkiraan saya. Memasuki tol menuju Merak terasa jalur lebih rame dari biasanya. Saya fikir senin ini agak sepi. Ternyata beda. Biasanya rute ini kalo malam hari bisa tertempuh selama kurang dari dua jam. Tetapi karena rame bisa jadi agak lebih.

Di Rest area KM 68, tak lupa saya mampir sejenak mengisi BBM dengan pertimbangan menempuh rute tol sumatra hingga ke Palembang sejauh hampir 400 KM, saya tak mau lagi kehabisan "minyak" di tengah jalan. Terios "minum' pertalite seharga Rp 163.000,-.
Selain itu juga memastikan ketersediaan saldo yang cukup buat tol dan biaya penyeberangan yang sudah menggunakan e-money. Tak sampai 20 menit termasuk ke toilet, kami lanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Merak.

Jam 23.30 kami sampai di pelabuhan. Terlihat antrian kendaraan dimana mana. Sudah hampir sama dengan lebaran. Saya diarahkan petugas, bukan ke tempat pembelian tiket biasanya. Diarahkan ke kiri, yang saya kurang hapal posisinya. Di sini pun antrian kendaraan pribadi menumpuk. Ada enam loket yang buka.

Setelah pembelian tiket seharga Rp. 374.000,- saya lihat antrian terakhir naik ke dek atas kapal sudah panjang. Saya kembali diarahkan oleh petugas ke arah antrain truk dan bus. Menyelip di sebelah kiri, paling kiri banget, saya bisa sedikit bernafas. Setidaknya tak begitu lama lagi akan masuk kapal. Andai telat, tentu saya akan menunggu kapal berikutnya. Ternyata di belakang saya mengikut beberapa mobil lagi.

Kurang lebih menunggu sepuluh menit, mobil bergerak. Saya bersyukur fuso yang ada di samping kanan saya masih diam. Saya maju perlahan, mengambil posisi sedikit ke kanan di depan truk fuso, perlahan masuk ke lambung kapal. Masih sepi, eh ternyata saya diarahkan lagi turun ke bagian terbawah dari kapal ini. Alamak jang!!!! Sudah ketahuan ini nanti akan menjadi bagian terakhir yang keluar dari kapal. Sambil senyum senyum, saya geleng geleng kepala sambil berucap dalam hati, "Tak mengapa lah, karena ini tetap lebih baik daripada harus menunggu satu kapal lagi".

Nova dan Dhifa yang telah lebih dulu ke dek atas, saya susul dari jalur yang berbeda. Jalur yang mereka tempuh tadi sudah tertutup karena kendaraan di lantai bawah sudah penuh. Saya mengambil jalur sebelah kanan. Menanjak tiga kali baru sampai di dek atas. Ternyata mereka berdua, naik eskalator yang ada di kapal ini. Kami bertemu di dekat resepsionis di lantai tiga. Saya mencari tempat untuk tidur dan mereka berdua duduk di area penumpang yang berjajar sofa-sofa dimana mereka bisa menonton film selama perjalanan di atas kapal ini. Posisi kami tak jauh.

Saya langsung terlelap dengan bantal angin sebagai alas kepala. Saya tak ada waktu untuk memantau kondisi kapal yang baru pertama kalinya kami naiki ini. Karena selama ini, baru kali ini ketemu kapal yang mempunyai eskalatornya.

Tak terasa menjelang jam setengah tiga saya tersentak. Bangun dan melihat orang sudah rame bersiap siap hendak turun, kembali ke mobil masing masing. Saya berberes dan menuju ke tempat Nova dan Dhifa yang masih anteng di depan televisi.

Pengumuman dari announcer kapal, bahwa dek terbawah diharap bersabar menunggu. Antrian yang turun sangat rame. Karena merasa akan keluar terakhir saya santai saja. Masih bisa berdiskusi dengan petugas kapal di bagian reseptionis tadi. Bahkan beliau memberikan kartu nama buat saya, sambil berucap, "Kalo bapak mau memilih kapal kami ini, silakan hubungi di nomor yang ada di kartu ini".

Saya akui kapal ini, kapal besar. Bersih dan sangat memanjakan para penumpangnya. Ruang tidurnya banyak, ada juga VIP dan VVIP Roomnya yang berbayar antara 150.000 dan 200.000 per kamar dan bisa diisi empat orang maksimal. Kamar tidurnya seperti kapsul, ada ruang tamu dan TVnya. Dan menurut istri, kapal ini juga termasuk cepat. Hampir dua jam perjalanan antara Merak dan Bakauheni.

Sesudah agak sepi, saya ajak mereka melewati jalur yang saya tempuh tadi. Lebih cepat kami sampai di mobil karena jalannya menurun dan akses ke mobil juga agak dekat. Dan benar, sesuai perkiraan saya, kami adalah mobil terakhir yang keluar dari kapal ini. Bahkan sudah ada beberapa mobil yang telah masuk ke lambung kapal di pelabuhan Bakauheni ini hendak menuju pulau Jawa, padahal saya masih di dalamnya.

Keluar dari kapal, saya nikmati suasana pelabuhan ini dengan santai saja.


Saya tidak perlu buru buru menuju gerbang tol Bakauheni Selatan. Malam pekat. Kendaraan yang mendampingi kami pun tak banyak. Mungkin sebagian besar yang sekapal dengan kami tadi sudah berpacu menjajal tol sumatra. Bagi saya perhitungan waktu dan rehat menjelang subuh di rest Area KM 33 masih dalam jangkauan.


Agak sedikit antri ketika sampai di pintu tol. Truk dan bis lebih dominan saat itu. Dengan sedikit bersabar saya akhirnya sampai juga di loket. Kartu member Jalinsum yang juga merupakan kartu E-money saya gesek dan palang pun terbuka.

Dengan kecepatan sedang dan jalan yang menanjak saya kembali menikmati tol sumatra ini. Tak perlu ngebut, karena kendaraan tak banyak dan malam ini pun kelihatan agak pekat. Rembulan berbentuk sabit setengah malu menyapa kami.

Menjelang jam 4 pagi, terios saya arahkan menuju rest area KM 33. Banyak juga yang rehat di sini. Bahkan ada yang tertidur di dalam mushola yang sedang dibangun. Saya segera toilet lagi karena ada yang harus dituntaskan menjelang adzan subuh. Ini sudah jadi rutinitas menjelang subuh. Hampir setiap hari.

Selepas urusan ke belakang, saya berwudhuk dan melaksanakan sholat sunnah. Waktu terasa agak lama berjalan. Begitu juga dengan waktu subuh agak melambat di daerah Lampung ini. Tak seperti di Jawa Timur beberapa hari yang lalu. Setelah melaksana beberapa rakaat sholat sunnah, saya coba berbaring. Meluruskan badan, menempel ke bumi. Rasanya ini sangat diperlukan, dibutuhkan oleh tubuh beberapa saat.

Sempat terlayang, namun segera bangun ketika ada jamaah yang mengumandangkan adzan. Segera kami melaksanakan sholat sunnah lagi sebelum melaksanakan sholat subuh berjamaah.







TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...