Jumat, 31 Januari 2020

Padang, I’ll be back someday….

Tulisan lama saya di majalah kantor, TEMBIKAR, majalah Host National Staff di British International School saat itu. 
Ini adalah perdana saya menulis ulang trip perjalanan sahabat saya, Cahyo Sakti bersama keluarganya saat mereka liburan ke Padang Sumatra Barat.

Ditulis 30 Mei 2011 dan diterbitkan di majalah tsb pada bulan Juni 2011. Sengaja judulnya saya ganti dengan yang di majalah dulu. Yang lainnya sama, termasuk photo photo yang ada.


***** 

Sumatera barat adalah salah satu wilayah di negeri ini yang sangat lengkap sebagai tujuan wisata. Mulai dari wisata Budaya. Sejarah, Pendidikan, Kuliner, Kesehatan, Alam maupun wisata khusus lainnya seperti MIFAN Water Park atau pun sejenis Water Boom plus outboundnya, semuanya ada di propinsi ini. Semuanya tersebar di hampir semua DATI II yang ada.
Menuju Sumatera barat bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta yang berbagai airline yang ada dengan harga tiket yang sangat variatif, Frekuesi penerbangan menuju Bandara International Minangkabau (BIM) sangat ramai mulai dari subuh hingga malam hari. Lamanya penerbangan dari Soekarno Hatta menuju BIM lebih kurang 1.20 menit. Saat akan ‘landing” di BIM kita akan terpesona dengan pemandangan pantai yang sangat kontras dengan suasana pegunungan, kombinasi biru dan hijau yang sangat semukau. Beberapa pulau kecil yang terdapat di sekitar kota padang pun terlihat.
Semakin dekat dengan bandara, jika cuaca cerah kita akan melihat dengan jelas Padang Kota Tercinta. Begitu juga dengan bukit kapur tempat beroperasinya pabrik semen tertua di Indonesia, Semen Padang, dan kampus Universitas Andalas yang kedua nya berada di antara hamparan pegunungan bukit barisan.
Perjalanan dari BIM untuk menjelajahi sumatera barat bisa dimulai dari mana saja tergantung pada pilihan kita. Namun menggunakan mobil carteran sekelas Xenia dan Avansa, masih dalam tarif yang sangat murah. Rata-rata Rp. 250.000,- per hari. Hal ini bisa kita booking jauh-jauh hari sebelum mendarat di ranah minang.
Namun bila ada saudara yang siap mengantarkan kemana kita pergi tentu hal ini akan menghemat dalam pengeluaran. Seperti yang kami rasakan ketika pulang pertama kali setelah sekian tahun menikah dengan gadis keturunan minang.
Liburan 4 hari di awal februari nan lalu sengaja aku alihkan ke sumatera barat bersama seluruh anggota keluarga. Selepas dari BIM kami dijemput oleh keluarga untuk memulai petualangan, Malam pertama kami menginap di Pangeran Beach Hotel di Kota Padang. Hotel yang terdapat di pinggir pantai padang ini merupakan salah satu hotel yang bisa direkomendasikan di antara beberapa hotel lainnya. Suasana yang menghadap langsung ke laut lepas, samudera Indonesia, merupakan pilihan yang tepat bagi yang suka dengan “sunset” dan “sunrise”. Hotel yang berada di tengah kota Padang memudahkan kita untuk menjelajahi wisata kuliner yangtersebar di seantero kota atau mengnjungi objek wisata seperti Hutan Raya Bung Hatta di Indarung dan Pantai Air Manis tempat legendanya si Malin Kundang. Tempat berbelanja untuk oleh-oleh yang terkenal di Padang bisa ditemui di Cristien Hakim, Nipah, dan Mahkota yang hampir semua orang tahu di kota Padang ini.
Setelah melepas penat semalaman, esoknya kami meluncur ke Danau Maninjau via kabupaten pariaman. Sepanjang perjalanan yang kami tempuh mengingatkan akan dahsyatnya gempa yang terjadi pada 30 september 2009 nan lalu. Bekas reruntuhan bangunan sepanjang perjalanan masih terlihat. Namun pesona pantai yang terhampar di sepanjang jalan yang kami lalui dapat mengobati kegundahan tersebut. Begitu juga dengan wisata kuliner yang terkenal dengan aneka olahan ikan yang ada di sepanjang pantai ini. Di antara rumah makan yang terkenal di kawasan ini adalah Rumah Makan Gulai Ikan Pauah.
Memasuki Danau maninjau, seolah mata tak puas – puas nya menatap kawasan danau terbesar di Sumatera Barat ini, Danau yang dikelilingi oleh jejeran bukit barisan yang terjal sepanjang sisinya sangat memukau. Penginapan yang kami tuju disini adalah Nuansa Resort Hotel.
Di Maninjau ini kita akan ditemani oleh aneka masakan ikan air tawar, daging dan sayuran sesuai dengan pilihan selera masing-masing. Makan apapun disini dijamin enak, atau bahkan lebih enak. Udara yang dingin, apalagi menjelang malam hingga pagi hari membutuhkan kita akan tambahan jaket yang esktra tebal.
Jika ada kesempatan bisa melakukan tambahan “exercise” di Maninjau ini dengan bersepeda mengelilingi semua sisi danau ini. Jalan yang sangat bagus, udara yang sangat segar, penduduk yang ramah akan memberi kesan tersendiri. Butuh waktu lebih kurang 5/6 jam untuk mengelilingnya dengan kecepatan yang standar. Jika ingin mengelilingi danau ini dengan sepeda sebaiknya dilakukan di pagi hari. Namun bila tidak mau capek, acara keliling danau ini bisa dilakukan dengan sepeda motor dengan kisaran waktu 1.5 atau 2 jam. Baik sepeda ataupun sepeda motor bisa disewa di sekitar pasar Maninjau dekat Hotel yang kami tempati.
Di area penginapan hotel juga tersedia kapal-kapal yang bisa mengantarkan kita untuk menjelajahi danau dengan harga sewa yang sangat terjangkau. Dari tengah danau kita dibuat takjub dengan pesona alam yang luar biasa ini. Kemana mata memandang yang terlihat adalah jajaran bukit barisan yang ditumbuhi pepohonan nan hijau. Di  beberapa titik tertentu bekas longsoran akibat gempa 2009 masih terlihat.
Ke Bukittinggi
Selepas check out dari hotel tujuan kami adalah Bukittingi, kota wisata, kota tujuan utama bagi semua pelancong dari berbagai daerah ke Sumatera Barat ini. Hal yang perlu diperhatikan sebelum melanjutkan perjalanan adalah check kesiapan fisik kendaraan.
Menuju Bukittingi dari Maninjau ini kita akan melewati tanjakan yang panjang, penuh dengan tikungan yang tajam. Area ini lah yang terkenal dengan nama kelok 44. Bagi yang suka mabuk jalanan alias mual, disarankan untuk minum obat antimabuk sebelum berangkat.
Namun semuanya ini akan terbalas dengan segala kepuasan ketika sudah mencapai setengah perjalanan. Karena pemandangan yang sangat indah pun akan membuat mata seakan tidak mau lepas melihat pesona danau maninjau dari ketinggian. Jika sempat parkirkan mobil barang sejenak untuk mengambil view yang ada. Ada rumah makan yang terdapat di pinggang bukit ini yang menjadi tempat rehat, sambil menikmati panorama alam yang jarang kita temui di tempat lain. Daerah yang terkenal untuk melihat keindahan danan Maninjau dari ketinggian adalah “Ambun Pagi”.

Sesampai di Bukittinggi kami langsung menuju hotel yang udah di booking jauh hari sebelumnya, yakni hotel the Hills. Hotel yang jaraknya “sepelemparan batu” dari jam gadang ini bener bener ruarrr biasaaaa. Pemandangan dari jendela yang menghadap ke gunung singgalang sangat eksotis. Belum lagi arsitektur dan interior nya yang bernuansa minang dicampur dengan unsur kolonial. Wahhhh bener bener keren deh, apalagi buat yang honeymoon. Hotel ini muanteepp banget.
 Semua lokasi wisata di Bukittingi ini bisa kita tempuh dengan berjalan kaki. Ada Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Kebun Binatang, Jembatan Limpapeh, dan Museum Rumah Gadang. Ada Ngarai Sianok, Lobang Japang yang terkenal sebagai tempat persembunyian di zaman penjajahan dahulunya. Rugi juga rasanya bila tidak menikmati lorong-lorong yang ada di bawah pusat kota ini. Selain itu kita juga bisa melakukan wisata sejarah ke Museum Bung Hatta serta rumah masa kecil Bapak Koperasi ini.

  Ngarai Sianok

Kemeriahan Jam Gadang di Malam Hari
Pasarnya pun terkenal ramai, terlebih ketika hari Rabu dan Sabtu, semua orang tumpah disana. Selain kota wisata, bukittingi juga adalah kota perdagangan. Ada Pasar Atas, Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuning yang terkenal. Para pedagang dari Jambi, Riau, Sumatera Utara bahkan Malaysia pun ada disini. Jadi selain plesiran, bagi yang suka shopping, bukittinggi ini bisa juga menjadi salah satu tujuan.
Bagi yang suka bordiran dan sulaman terawang, disini dengan sangat mudah di cari. Di pasar atas ini harga mukena, kain, dan kebaya bordir sangat miring. Untuk baju koko sulaman terawang bisa ditawar seharga Rp75.000 saja. Bakal kain yang sudah dibordir bisa didapat dengan harga Rp 50.000 saja (untuk atasan) dan Rp 100.000 untuk stelan (tergantung jenis kainnya juga). Yang paling premium adalah bordir krancang yang katanya membuatnya sulit banget karena hand made. Untuk sebuah bahan kebaya krancang bisa dihargai 400-500 ribu (apalagi yang terbuat dari sutera... wah bisa lebih mahal).

Untuk urusan perut alias yang senang dengan wisata kuliner,  Bukittinggi TOP Banget dah. Yang mesti didatangi adalah warung nasi Kapau yang ada di LOS LAMBUANG (Lambuang=perut). Hehehe, ini tempatnya wiskul terkenal, dimana orang padang berada pasti ingat dengan tempat ini.

Hai kawan! Kalau orang Padang pulang dari rantau, tak makan disini berarti belum pulang kampong, menteri aja makan disini booo. Rasa, bentuk penyajian dan suasananya tidak akan pernah anda temui di tempat lain. Makanan disajikan seperti tangga (bertingkat). Pedagangnya berdiri di atas, dengan cekatan mengambilkan makanan yang jauh dari jangkauannya memakai sendok yang begitu panjang (+/- 2 meter). Kita duduk di bangku panjang di depan hidangan sambil menengadah melihat keunikannya. Jangan lupa anda bisa memesan cindua langkok (cendol dicampur emping beras pulut) yang terletak disamping nasi kapau oleh penjual yang berbeda.
Di Pasar Ateh kita bisa belanja oleh-oleh: Kerupuk Sanjai, Kacang Tojin, Rendang Telur, dendeng yang siap goreng, aneka ikan kering dan makanan khas minang lainnya. Ataupun bisa mampir di Sanjai Mintuo, Nitta sebagai tempat membeli buah tangan.

Back to Jakarta
Setelah puas menikmati suasana bukittinggi, menjelang pulang ke Jakarta kami teruskan perjalanan menuju kota padang panjang.
Di padang panjang, kota serambi mekah, kita bisa mampir di Minang Fantasi (Mifan) di Padang Panjang, area yang selalu ramai di akhir minggu dengan aneka permainan air dan outbound. Atau bisa mampir di sate Mak Syukur atau sate Saiyo yang terkenal, atau makan di RM Datuak yang semuanya ada di dekat area Mifan tersebut.
Selepas itu kita bisa istirahat sejenak di Lembah Anai dengan menikmati panorama AIA TAJUN, air terjun. 
Lingkungan Lembah Anai sangat mengagumkan. Hutan tropis yang lebat yang mengesankan dan merupakan hutan lindung. Didasarnya mengalir Sungai Batang Anai dengan airnya yang bening dan kelihatan sebuah air terjun setinggi 40 meter dekat sekali dengan jalan raya.
Selepas lembah anai ini ada satu lagi maskot wisata yang mesti kita singgahi yakni Anai Resort Golf Course dan MALIBO ANAI tempat wisata dan penginapan yang sangat menarik seperti daerah puncak, bogor. Namun suasana di sini sangat lah tenang dan jauh dari keramaian. Dan bagi yang senang golf, tempat ini salah satu event yang sering di pakai di sumatera barat.
Anai Resort terletak 550 m di atas permukaan laut, merupakan Golf Course terbaik di Sumatera Barat yang berstatus Internasional dengan 18 hole, dirancang oleh Designer Lapangan Golf International Thomas dan Perret. Berbagai fasilitas terdapat di lokasi bungalow seperti kolam renang alami dan restoran.
Perjalanan yang panjang, yang sangat menyenangkan bagi kami sekeluarga. Memang benar bahwa sumatera barat adalah tempat salah satu tujuan wisata yang lengkap. Dengan hanya menggelilingi sebagian kecil, mungkin sepertiga bagian dari Sumatera Barat dalam liburan 4 hari tiga malam februari yang lalu memberi keyakinan bahwa daerah ini adalah syurga bagi segala wisata yang ada. 

Padang, I’ll be back someday….




Rabu, 29 Januari 2020

Hikmah: Anak Sumpahin Papanya Cepat Mati

CERITA DARI RUANG KONSELING NOVITA TANDRY
"ANAK SUMPAHIN PAPANYA CEPAT MATI"

Seorang pria muda dikirim Mamanya untuk konseling dengan saya beberapa waktu yang lalu, usianya 27 tahun,
lulusan S2,  kata Mamanya ;
- tidak punya daya juang,
- bangun jam 2 siang,
- makan siang jam 3 yang diantar ke kamar,
- main games sampai malam terkadang tidak mandi dan sudah berlangsung selama 16 bulan.

Ketika ditanyakan sebut saja, namanya TJ, kog gitu hidupnya?
Jawabnya :
Laah..  apa yang salah?
Kenapa saya harus kerja capek2?
Bangun jam 6 pagi pulang jam 8 malam,
gaji Rp 5 juta, potong bensin dan tol plus makan siang,
sisa setiap bulan hanya Rp 1 juta!
Belum lagi kerjaan yang gak kunjung habisnya,
dimarahin Boss,
lebih baik tinggal di rumah sambil nunggu Papa MATI!

Melototlah mata saya!
Hah?!  Kenapa begitu?
Iyalah,  Papa sudah kena sakit jantung dan sudah pasang cincin beberapa buah,
kolestrol, trigliserida dan darah tinggi,
rasanya gak lama lagi mati deh 😞 , 
klu mama sich kayaknya panjang umur deh,
soalnya jarang sakit, jadiii klu Papa meninggal,
saya kan anak tunggal,
hartanya bisa dibagi dua sama Mama.

Lalu saya tanya,
kamu gak berasa berdosa atau salah ngomong seperti itu?  Hmmm.. gak juga yah
soalnya Papa kan suka ngomong sejak dulu,
sejak saya kecil,
Papa sibuk kerja buat kamu,
cari uang buat kamu sekolah tinggi dan semua milik Papa buat kamu nantinya,  kalau Papa meninggal nanti.
Yaahh daripada cape2 kerja,
saya tunggu Papa mati aja yah, trus hartanya nanti bagi dua sama Mama,
saya sich.. sambung pria jangkung ini, gak mau nikah yah,  cewe2 pada matre,  yang ada harus bikin prenuptial dan pasti mereka gak mau karena saya jelek,
uang warisan didepositokan di bank aja, saya ambil bunganya aja,  trus nikmati hidup begini aja sampai mati,
gak mau kayak hidup Papa yang kayaknya kog gak hepi banget yah kerja keras terus dari muda.

Naah mulailah tugas saya sebagai seorang Psikolog Anak dan Remaja (walaupun yang ini bukan anak atau remaja lagi) untuk mendengar, merasakan, memberikan advis, menguatkan dan berbicara ttg makna hidup, kronos dan kairos untuk beberapa bulan ke depan yaah dan yang tentunya melibatkan kedua orang tuanya 😉

Pesan saya...
Kalau gak mau disumpahin mati ama anak sendiri,
mulailah bicara makna hidup ke anak2mu yah, parents...
jangan melulu nanyanya
- sudah bikin PR belum,
- sudah mandi belum?
- Sudah sikat gigi belum?
- Nilai ulangan dapat berapa? - Bimbel dan bimbel lagi,

Mulai  tanyakanlah tentang perasaan mereka, makanan yg dimakan,  seru gak tadi main basketnya,  siapa teman paling dia sukai,  guru yang terbaik,  guru terlucu,  guru yang galak, kenapa suka menggambar, dll.
Pelajari apa kesukaannya,
kapan matanya berbinar mengamati sesuatu, lontarkan pertanyaan apa, mengapa, di mana, bagaimana, kemana, dan bagaimana?
Sentuh hatinya bahwa kalian HADIR dalam hidupnya.
Dan semuanya butuh investasi WAKTU BERKUALITASMU bukan WAKTU SISA-SISAMU!

Ingat yah... anak mengeja kata cinta bukan dengan C-I-N-T-A   Tapi  dengan
W-A-K-T-U!

Happy Parenting!
The hardest job you will ever love ❤

Novita Tandry
Psikolog Anak dan Remaja
NTO Nurture Teach Observe
Childcare and Early Education

Sumber: https://www.facebook.com/1428387130/posts/10222601820060714/?d=n

Cerpen: Majikan Cantik

Cerpen: Majikan Cantik

Setelah lelah bekerja, mereka memutuskan duduk di bawah pohon kelapa yang rindang, menikmati menu makan siang.
Makanan sudah dibuka, kini waktunya makan. Sambil menikmati sajian di hadapan mereka pun berbincang-bincang.
"Sepertinya saya mulai menyukai istri Bapak," ucap Andika di hadapan majikannya.
"Kok, bisa. Sejak kapan?" Sambil mengunyah makanan, pria berbadan subur itu memandang lawan bicaranya.
"Sejak ketika saya melihatnya beberapa bulan terakhir, di mata saya ibu Ratna semakin cantik saja. Rasanya ada yang beda di dada saya, setiap melihatnya hati saya seperti runtuh." Andika menghentikan suapannya ke mulut. Sepertinya dia hanya ingin fokus membicarakan hal ini dari hati ke hati dengan majikan.

Sembari memandang Sang majikan, dia kembali melanjutkan. "Saya menyukai semua yang ada di ibu Ratna, bahkan sesuatu yang mungkin tidak bapak sukai-saya justru sebaliknya, begitu menyukainya." Andika mengatakan itu tanpa rasa bersalah. Malah kembali mengunyah makanan yang disimpan di temboloknya yang besar.
"Minum?" tawar sang majikan. Andika pun menyambar gelas yang disodorkan.
Matahari siang cukup terik. Mereka masih asik duduk dalam satu tikar, di bawah riap sinar matahari yang sesekali menerobos masuk ketika nyiur melambai disentuh angin.
Setelah meletakkan gelas minumannya, pria gendut itu pun menimpali. "Jangan asal bicara kamu. Dia itu istriku. Sebaiknya kamu cari perempuan lain saja," jawab pak Marta. Masih dalam kondisi biasa, tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalau begitu, mulai sekarang biar saya saja yang mencintainya. Tidak tega rasanya hati saya, melihat wanita cantik seperti ibu Ratna, tapi Bapak sia-siakan."

Pak Marta malah tertawa mendengar ucapan Andika, kemudian berkata, "Sejak kapan kamu mulai berani mendikte saya? Saya itu majikan kamu. Kamu tidak patut berbicara seperti itu, atau kamu mau saya suruh kerja dari pagi sampai malam tanpa makanan?"
Andika menggaruk kepalanya. Kemudian menjawab, "Kalau begitu tolong jaga dan rawat Ibu Ratna atau saya--"
"Apa?" Pak Marta memotong ucapannya sambil tersenyum. Dia berusaha meraih puncak kepala Andika. Namun Andika keburu menunduk, berusaha mengelak dari telapak lebar pak Marta.

"Apa alasan kamu sampai sebegitunya mencintai majikan perempuanmu?"
"Dia wanita yang baik, sering sekali memperhatikan saya, mengajak bicara saya ketika bapak sedang pergi ke rumah janda. Cobalah bapak pikir, kurang apa lagi ibu Ratna ini. Dia wanita cantik, anggun, baik, penurut dan penyabar," ucap Andika, tidak lupa menggaruk punggung dan kepala. Kebiasaan buruk, yang sulit dihilangkannya. Ingin sekali ia mengubahnya, terutama ketika sedang bicara dengan majikan wanitanya. Tapi semua sia-sia.

"Ada lagi yang lain?" tanya sang majikan, sambil memajukan wajah setengah hasta, dan manarik satu alisnya ke atas.
"Saya menyayanginya dengan tulus, ceraikan saja kalau memang bapak sudah tidak cinta. Biar saya yang menikahinya. Saya yakin bisa memberinya nafkah lahir bathin."
"Haahaa ... untuk satu pisang yang kamu makan saja kamu mendapatkannya dari saya, bagaimana mungkin?" Pak Marta kembali tertawa. Kali ini lebih keras.
"Jangan terlalu meremehkan saya. Bukannya terbalik, ya. Justru bapak yang makan dari jerih payah saya memanjat kelapa beribu pohon tiap bulannya. Masih mau membantah?"
Pak marta terdiam. Apa yang dikatakan Andika semuanya benar. Tanpa Andika mungkin dia tidak punya nama di Desanya.

Dengan nada merendah pak marta menjawab," Maafkan saya. Kamu benar, tanpa kamu saya bukan apa-apa," jawabnya lesu.
"Kalau begitu, boleh jika saya menikah dengan ibu Ratna?"
"Boleh, saja. Kenapa tidak?"
"Bapak serius, kapan?" tanya Andika dengan raut wajah girang.
"Nunggu kamu sampai jadi manusia. Bukan monyet lagi."

Mendengar jawaban dari sang majikan, Andika tertunduk lesu. Baru sadar kalau cintanya yang begitu besar hanya isapan jempol belaka. Hanya mimpi yang tak pernah menjadi nyata.
-
End.
Ditulis: Hamam Rudin

Minggu, 26 Januari 2020

Hikmah: Karantina menurut Rasulullah

Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Nabi Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa."

Di masa ke Khalifah Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya.
Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan.

Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Kholifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

"Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu," ujar sesepuh Quraisy sebagaimana dikutip dalam buku Pesona Akhlak Nabi, (Ahmad Rofi' Usmani, 2015).

Sabtu, 25 Januari 2020

Pengukuhan IKA Unand Jabodetabek


Alhamdulillah siang tadi bisa menghadiri pelantikan/pengukuhan kepengurusan IKA Unand Jabodetabek periode 2019-2023 yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta Pusat. Gedung yang baru sekali ini saya datangi, ternyata menurut kakanda Ilhamsyah Bkt-kt adalah salah satu temoat terbaik bagi wisata keluarga. Di sini bagi "pecandu" buku dan pencari literatur buat menulis karya ilmiah adalah tempat terbaiknya. Lokasi yang strategis, suasana yang sangat elok, ruangan yang sangat "rancak", dan view yang bagus menghadap ke lapangan Monas serta mempunyai mushola yang keren merupakan tempat yang sayang kalo tidak disinggahi bagi warga Jakarta. Ada rasa penyelasan bagi saya mengapa sekarang baru tahu. Thanks buat da Ilhamsyah dan Aldayan Dhayan Dja Nur yang sudah merasakan nikmatnya perpustakaan ini.

Agak telat saya datang ke sini, hadir setelah pelantikan kepengurusan pak dokter Mulyadi Muchtiar, selaku nakhoda Ika Unand Jabodetabek, tak mengapa daripada tidak datang sama sekali. Ada hikmah yang saya dapat, meskipun terlambat.

Menjelang masuk ke gedung, saya sudah dipanggil oleh kakanda Ilhamsyah dan diperkenalkan dengan uni Betty, alumni Ekonomi Unand angkatan 80. Beliau adalah anggota DPR RI periode yang lalu, 2014-2019, yang bakalan maju sebagai salah satu kandidat Bupati Tanah Datar, kampung halaman saya.

Tak lama berselang kami mengobrol bertiga, Aldayan pun datang dan disusul seniorita alumni ekonomi angkatan 84, staff ahli ekonomi di Kemenkopulhukkam.

Inilah kalo alumni berkumpul, banyak cerita yang didapat, termasuk peluang peluang politik bagi alumni yang berminat maju di pilkada serentak tahun ini di ranah minang. Tak lama kami pun meninggalkan lokasi ini, setelah ni Betty sudah ditungu oleh suaminya yang juga mantan Bupati Tanah Datar periode sebelumnya.

Menuju ke lantai enam gedung, naik lift saya dan Aldayan langsung menuju mushalah menunaikan sholat zuhur berjamaah. Mushola yang "rancak" dengan interior yang sangat apik, ada nuansa "scientific"nya. Nama Allah dan nama Rasulullah terpampang di bagian depan sangat menarik. Rancak bana.

Selesai sholat kami menuju ke lantai empat tempat dimana acara pengukuhan DPD IKA Unand Jabodetabek, ternyata sedang ada pembacaan puisi oleh kakanda Taslim Dt Tambogo, Ketua Umum IKA Unand periode sebelumnya. Ternyata banyak kepandaian beliau yang belum saya ketahui sebelum ini. Seorang alumni kimia yang punya bakat berpuisi.

Kakanda Taslim, alumni kimia angkatan 89 ini adalah anggota DPR RI komisi 3 periode tahun 2009-2014. Beliau terpilih sebagai Ketua Umum saat menjabat sebagai anggota dewan dan sekretaris beliau adalah kakanda Ilhamsyah alumni Teknik 89.

Dalam satu meja, kami pun duduk bersama. InsyaAllah kakanda Taslim pun akan maju sebagai kandidat Bupati Kabupaten Agam dari PAN, sesuai anggota partai yang telah beliau besarkan sejak era Reformasi. Ketika menjadi alumni muda tahun tahun bergolak 98 beliau sudah terjun sebagai pengurus inti Barisan Muda PAN Sumbar yang akhirnya mengantarkan beliau sebagai anggota DPRD Propinsi Sumbar dua periode berturut turut, 1999-2004 dan 2004-2009.

Sebagai politisi yang pernah menjabat sebagai anggota dewan mulai setingkat propinsi hingga nasional, sudah tentu paham bagaimana melihat peluang dalam pilkada tahun ini. Saya secara pribadi dan juga sebagai alumni Unand sangat mendukung pilihan beliau untuk maju sebagai kandidat cabup Agam.

Sejatinya ada satu lagi alumni Unand yang berminat maju di pilkada tahun ini di kabupaten Solok, yakni adinda Maigus Tinus, seorang pengusaha muda. Sayang saya tidak bertemu dengan beliau siang tadi. Tetapi rencana maju dalam pilkada ini, sudah beliau sampaikan ketika Musda Ika Unand Jabodetabek beberapa bulan yang lalu di aula RS Yarsi Cempaka Putih. Beliau saat itu juga maju sebagai kandidat ketua Umum Ika Unand dari IKA Fisip, selain kakanda Welly Bend dari Ika Farmasi dan kakanda Mulyadi Ika Fdok Unand. Dalam kepenguruan saat ini beliau terpilih sebagai Wakil Ketua Umum IKA Unand Jabodetabek.

Semoga dengan semangat membangun ranah minang secara rancak berakhlak kita dukung para alumni Universitas Andalas yang akan maju di pilkada tahun ini.

Dalam acara ini saya bertemu dengan senior Kimia juga yakni kakanda Rozyan Yazid Kimia 71, yang lebih dikenal dengan nama da Kojenk dan ni Lina Muslim Kimia 82 yang mengadakan promo produk.

Menjelang sore acara pun berakhir. Sekitar jam tiga, saya dan Aldayan pun meninggalkan gedung ini, kembali ke rumah masing masing.

Jogging, BSJ Olimpic and Global Challenge

Pagi ini saya nemulai lagi aktifitas jogging yang sempat tertunda sejak awal tahun 2020 ini. InsyaAllah ke depan akan dirutinkan lagi. Selain untuk menjaga stamina, juga disebabkan karena sudah terdaftar sebagai salah satu team di British School Jakarta untuk mengikuti Global Challenge dalam beberapa waktu ke depan. 
Dari BSJ katanya sudah tutup pendaftaran buat Global Challenge ini. Ada 29 grup yang akan mengikuti agenda tahun ke dua kali ini, dimana masing masing grup terdiri dari 7 anggota. Tahun lalu saya, tak berkesempatan ikut karena terlambat daftar. Dan tahun ini, begitu buka pendaftaran, alhamdulillah Science Dept Plus, langsung saya daftarkan. InsyaAllah, Allah beri kemudahan dan kesehatan yang prima bagi kami untuk berpartisipasi dalam Global Challenge tahun ini. 

Back to jogging.

Awal oktober tahun lalu sebenarnya jogging ini mulai saya rutinkan karena  dua alasan. Yang pertama karena adanya BSJ Olimpic dan kedua sebagai persiapan stamina buat trip mudik akhir tahun. Kesungguhan ini saya wujudkan dengan membeli celana training dan "running shoes" baru karena yang lama sudah menjadi milik anak di pondok. 

Selama bulan November BSJ Olimpic diadakan oleh pihak sekolah, melibatkan karyawan, security maupun tenaga kerja "ourcourcing" yang berminat, sesuai cabang olah raga yang diingini. Saya fokus mengikuti badminton, baik tunggal maupun ganda. Di partai tunggal badminton langkah saya terhenti hingga perempat final dan di ganda alhamdulillah berhasil melangkah ke partai final. Kram di bagian betis adalah kendala terbesar selama mengikuti badminton ini. "Runner up" dalam badminton double adalah suatu prestasi terbaik tahun lalu karena lumayan lama "gantung raket" dan lawan yang dihadapi di pertandingan tersebut juga sangat handal. Beruntung juga tidak kalah straigh set. Hehehe. 

Berlanjut dengan jogging di bulan desember, mengikuti Jalan Santai di Kapau dengan rute hampir mengelilingi seluruh kenagarian Kapau, +- 10 KM,  hingga berakhirnya trip libur tahun lalu lintas Jawa dan Sumatra sangat membantu stamina saya. Sebagai "solo driver" dalam total  perjalanan 4872.8 kilometer selama 18 hari hingga hari ini kebugaran selalu terjaga. 
Tentu selain jogging (olahraga), asupan nutrisi yang dikonsumsi, ketercukupan tidur (istirahat) dan ibadah yang teratur adalah hal lain yang perlu dijaga. Semuanya saling terkait satu sama lainnya. 
Demikian sekedar catatan hari ini disempurnakan setelah tidur sejenak pasca jogging pagi ini. 

PBH, Parung Serab Ciledug 
09.36 - 25/01/2020

Kamis, 23 Januari 2020

Lintas Sumatra: Amazing Trip Bukittinggi - Pekanbaru

Senin, 30 Desember 2019

Menjelang jam 7 pagi kami sudah bersiap siap hendak memulai perjalanan ke Pekanbaru. Makan pagi, lebih dari sekedar sarapan lumayan padat mengisi lambung. Nasi "angek", udara yang dingin dengan lauk ama yang "lamak" membuat saya makan pagi itu agak berlebih. Namun kebugaran dari tidur yang lelap membuat saya bersemangat melawan kantuk dalam perjalanan nanti. Apalagi alam yang akan dilewati sangat indah untuk dinikmati. Sejatinya, jadwal ke Pekanbaru ini kami rencana Minggu siang kemarin sehabis Jalan Santai se-kapau, tetapi rangkaian acara yang menarik hingga menjelang ashar, rencana ini tertunda hingga pagi ini.

Setelah semuanya beres, rumah bersih dan pintu terkunci, tak lupa kami pamit ke ni Nani yang tinggal di depan rumah. Terios keluaran tahun 2013 pun melaju perlahan  meninggalkan rumah menuju simpang Tanjuang Alam. Di perempatan ini, sejenak berhenti menunggu giliran untuk bisa berbelok ke kiri menuju kota Payakumbuh. Tak banyak kendaraan pagi itu. Namun keberhati-hatian dalam perempatan jalan tetap menjadi prioritas dalam berkendaraan.

Melaju di jalan lurus dan menurun menuju kota Payakumbuh membelah kabut yang agak lambat tersibak pagi ini. Sejatinya sepanjang jalan ini kita disuguhkan oleh pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan sawah di kiri dan kanan jalan raya Bukittinggi - Payakumbuh sangat memanjakan mata. Sepanjang mata memandang seolah olah sawah sawah ini dipagari langsung oleh jejeran bukit barisan. Namun kabut pagi, tak memberikan kita keleluasan menikmatinya. Gerimis turun di beberapa tempat dan kabut enggan meninggi.

Di SPBU Biaro, sebelum lanjut ke Pekanbaru terlebih dahulu saya mengisi "minyak" seharga Rp 300.000,- . Ini adalah pengisian ke empat kalinya selama lintas sumatra ini. Sebelumnya diisi menjelang kota Bangko Jambi.

Setelah itu kami berhenti sebentar di pasar Baso, karena Ama meminta Nova membeli oleh oleh. Di kiri jalan telah dipenuhi angkot dan kendaraan pedagang yang menurunkan barang dagangan, saya terpaksa mencari sisi kanan jalan buat parkir. Sembari menunggu Nova, saya membeli satu dus air mineral buat di jalan. Stok Ufia botol yang kami bawa dari rumah sudah habis.

Tak berapa lama kami di sini, perjalanan dilanjutkan. Gerimis mulai turun mengimbangi terios yang juga turun menuju kota Batiah. Jalan yang relatif lurus dan mulus serta tak banyak kendaraan yang lewat pagi itu menyebabkan kami terasa lebih cepat sampai di pusat kota Payakumbuh.

Lanjut terus melewati Sarilamak, hingga akhirnya menjelang Lubuk Bangku, saya mampir lagi di SPBU yang berada di sisi kiri jalan, karena adanya "desakan dari dalam". Jam delapan lebih kurang kami sampai di sini. Saya memanfaatkan sejenak menikmati suasana alam yang sangat asri di sini. Betul betul indah alamnya. Udaranya pun sejuk, kaya oksigen. SPBU ini sangat luas. Toiletnya bersih, airnya dingin dan berlimpah entah dari mana asalnya. Masjidnya megah dan anggun berdiri kokoh, dijaga dengan gagah oleh tebing bukit di belakangnya. Ini adalah standar SPBU yang umumnya kita temui sepanjang lintas trans Jawa, baik di jalan tol maupun arterinya. Dan pagi ini adalah suatu keberuntungan bagi saya bisa melihat dan merasakan lebih dekat dengan alam yang sangat mempesona ini.

Setelah "selfie" beberapa kali, saya lanjutkan perjalanan sesantai mungkin. Tak ingin saya berlalu begitu cepat dari alam perbukitan yang indah ini. Udara pagi yang segar, membuat saya enggan menghidupkan AC. Biarlah kantong paru paru kami terisi sebanyak mungkin oleh oksigen dari hutan sepanjang bukit barisan ini. Sementara itu di sisi kanan kami ada aliran sungai yang bening terlihat dari jalan yang kami tempuh.

Jejeran rumah makan di kiri kanan jalan Lubuak Bangku ini terlihat sepi. Hanya beberapa kendaraan pribadi yang terlihat parkir. Tak seberapa. Tetapi bayangan masa kecil saya dengan "apa" hingga kuliah, yang sering mampir di beberapa rumah makan ini sangat indah untuk dikenang.

Dulu, Lubuk Bangku ini adalah pemberhentian utama dari hampir seluruh bus yang datang dari Riau menjelang pagi. Ada yang makan "sahur", minum kopi atau sekedar teh telua, namun ada juga yang "bakaruah" di atas bus. Ada juga sebagian "pasisia" bus menikmati suasana menjelang subuh itu dengan mendengarkan "rabab ataupun saluang", musik tradisional minang. Di rumah makan ini juga tersedia dipan panjang buat tidur. Namun kadang kala dalam keramaian di Lubuak Bangku ini, kadang terselip juga cerita tentang kecopetan. Setelah para penumpang selesai sholat subuh, bus bus yang dari Riau ini segera meninggalkan rumah makan menuju kota-kota tujuan yang ada di ranah minang. Sayang sekali, hampir semua PO bus yang dulu pernah ada, tak ada lagi yang bertahan hingga saat ini, kecuali PO ANS, yang kini kembali melayani trayek Padang - Pekanbaru - Dumai.

Lintasan kenangan ini mengantarkan saya hingga hampir masuk ke kelok sembilan. Mobil saya hentikan sejenak, saya coba videokan sepanjang perjalanan, dan silakan nikmati dilink berikut ini:


Gerimis yang menghiasi selama perjalanan kami ini, akhirnya bertemu titik kulminasinya saat mobil mulai menuruni bukit bukit Barisan ini. Jarak pandang yang terbatas disebabkan kabut yang tebal serta gerimis belum juga berhenti. Kecepatan kendaraan sangat pelan, antara 20-30 km per jam, dengan tikungan tajam di antara tebing dan jurang. Dan menjelang Koto Alam, ternyata kami mengalami sedikit kemacetan. Ada badan jalan yang sebagian amblas, yang masih dalam tahap perbaikan. Alhamdulillah, hampir dua puluh menit kami terpaksa "rehat" di sini. Suasana selama perjalanan berkabut saya abadikan di video ini:



Tak berapa lama lepas dari  "Tanah Bergerak" Kota Alam ini, barulah cuaca mulai bersahabat. Tak ada lagi kabut yang tadi menghalangi pandangan. Bisa jadi karena sudah setengah pinggang bukit ke bawah, kabut ini mulai tersibak sehingga kecepatan mobil bisa agak di pacu hingga masuk Pangkalan. Di SPBU Ombak Pangkalan kami sejenak rehat, karena hasrat "pipis" yang tertahan sedari tadi. Alhamdulillah, di sini ada Rest Area yang sangat bagus dan disenangi oleh anak anak. Ada play ground dan saungnya. Rumah makan Ombak ini pengganti rumah makan Sederhana yang ada sebelumnya.

Lanjut perjalanan selepas Pangkalan, kami bagai disuguhkan pemandangan "danau" yang sangat luas. "Danau Buatan" dari hasil bendungan aliran sungai buat PLTA Kota Alam adalah objek wisata yang berkembang saat ini bagi masyarakat Riau dan Sumbar. Alam yang indah sepanjang jalan, bahkan katanya terdapat miniatur Raja Ampat di sini. Tempat yang sangat rame ketika weekend ataupun liburan.

Namun pagi ini tak begitu banyak orang yang kami lihat kecuali mobil mobil yang parkir, rehat di beberapa kedai yang berjejer di sepanjang jalan yang "view"-nya sangat strategis untuk melihat keindahan danau dari atas maupun di sekitar jembatan. Kendaraan pribadi yang memanfaat lokasi ini sebagai tempat persinggahan dalam liburan keluarga, biasanya menuju Sumatra Barat.

Saya sangat menikmati perjalanan ini. Sangat berkesan. Dalam keadaan hujan maupun gerimis, jalan yang mulus, alam yang indah, tak terasa sudah sampai di daerah Rantau Barangin.

Di sini kami rehat sejenak, untuk sekedar makan menjelang siang. Berempat kami di sini memesan 2 porsi soto daging, 1 soto ayam, 1 mie rebus dan segelas teh telur kesukaan saya serta 3 gelas teh manis hangat. Baru di "kedai nasi" Rantau Barangin ini saya bertemu dengan "Teh Talua Limo Tingkek".
Total konsumsi kami di sini sekitar 102,000,- rupiah.

Dari Rantau Barangin ke Pekanbaru kami tempuh selama lebih kurang dua setengah jam. Jalanan antara Bangkinang hingga Pekanbaru saat ini sedang dalam tahap pelebaran, di beberapa titik sudah ada yang dua jalur. Di sepanjang jalan yang kami temui banyak yang dagang durian di pinggir jalan. Ada juga yang jual bibit pohon durian di sekitar daerah Bangkinang. Saya pikir, suatu saat kota Bangkinang ini bisa menjadi sumber utama durian buat propinsi Sumbar dan Riau, menggantikan durian yang "diimport" dari Medan Sumatra Utara.

Oh ya sholat zuhur dan isya kami lakukan di daerah Bangkinang ini, di sebuah masjid yang juga kami singgahi tahun lalu di bulan yang sama. Panam yang jauh berkembang kami lewati lepas jam satu siang dengan sedikit kemacetan di beberapa titik, terutama pada perempatan lampu merahnya.
Pesat sekali perkembangan daerah ini sejak kampus UNRI dan UIN Suska pindah. Panam telah berubah menjadi salah satu pusat bisnis di Pekanbaru. Luar biasa pesat perkembangannya.

Alhamdulillah kurang dari jam dua kami sudah sampai di rumah Ami dan Iwat, di daerah Harapan Raya. Saya pun istirahat sejenak. Tidur siang adalah pilihan terbaik buat pemulihan stamina.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...