Kamis, 17 Desember 2020

Trip to Bukittinggi (Part 1)


 Trip to Bukittinggi: Via Tempino 

(Part 1)


Sejatinya kami merencanakan untuk mudik akhir tahun ini antara 19-20 Desember, setelah selesainya urusan Bundo Nova  di sekolahnya. Tetapi telepon dari Ama sabtu dan minggu akhirnya kami berusaha mempercepat agenda pulang kampung ini. Alhamdulillah, semua urusan tugas dan izin selalu ada kemudahan. Semua kebutuhan Air mineral Ufia bagi pelanggan selama tiga minggu ke depan saya lengkapi sebisanya, baik galon, gelas maupun yang botol. Begitu juga mempersiapkan segala yang akan dibawa mudik, termasuk kesiapan mobil.  


Alhamdulillah, kamis pagi  urusan Bundo dan saya, kami berangkat jam 9.45 WIB dari rumah. Sebelum masuk tol Bintaro Jaya, saya mampir sebentar di SPBU mengisi full tank terios dengan pertalite, Rp 270.000 dan menambah angin di keempat ban.


Beres semuanya, perlahan mobil mengarah ke pintu toll Bintaro Kunciran.


Selama tol menuju kunciran kendaraan masih sepi, tetapi ketika masuk ke tol merak mulaibterasa rame, baik truk maupun kendaraan pribadi. Bus bus yang menuju sumatra belum terlihat banyak. 

Di Rest Area saya rehat sejenak untuk mencoba mangaktifkan aplikasi Ferizy yang sudah saya install sebelumnya untuk memesan tiket kapal penyeberangan ke bakauheni. Ternyata tak semudah saya bayangkan. Hampir setengah jam, saya menyerah. Akhirnya meminta petunjuk selama dalam perjalanan di tol kepada adinda Riko, dimana bisa beli tiket manual. 


Setelah keluar pintu tol cilegon timur, saya segera merapat ke SPBU pertama yang saya temui yang berada di sisi kanan jalan. Saya mampir di Alfamart memesan tiket di sini. Dan ternyata sudah ada yang lebih awal datang dari saya untuk tujuan ke Palembang. Tak lama berselang di belakang saya juga ada suami istri yang ikut antri. Hanya sebentar saja, dengan bermodalkan KTP dan no kendaraan, tiket kapal pun didapat. Saya berfikir manual begini jauh lebih praktis, nggak banyak isian, termasuk data anggota keluarga yang bakalan naik kapal. 


Sementara saya beli tiket ternyata sang bundo jyga telah selesai memesan nasi bungkus untuk makan siang kami nanti di kapal. Akhirnya terios mulai bergerak cepat memuju dermaga. Sengaja kami memilih kapal regular supaya nanti setelah makan siang, saya bisa tidur satu jam dua jam buat menjaga kebugaran selama dalam perjalanan di tol sumatra menuju Palembang. 


Masuk dermaga, langsung masuk kapal. Tak pake lama. Alhamdulillah, kapal pun tak terisi penuh. Lebih kurang jam 12.30 sudah berjalan perlahan meninggalkan pelabuhan Merak. Ombak yang agak besar siang itu membuat goyangan di kapal agak terasa membuat pusing si Dhifa. Bersyukur sebelum kapal berlayar tadi kami sudah makan siang dan sholat jamak antara zuhur dan ashar. Sempat sejenak bertegur sapa dengan satu keluarga etnis medan. Mereka bertiga dengan anaknya yang sudah mulai dewasa. 


Tak berapa lama kapal jalan saya pun pindah tempat ke ruang lesehan, dimana di sana ada tempat untuk tidur. Alhamdulillah, sebelum bersandar di Bakauheni bisa tidur satu jam-an lebih. Sehingga ketika keluar dari kapal jam 14.30 tetap bugar.

Selasa, 15 Desember 2020

Syukurku ku syukuri

Alam yang indah di pagi hari,

Singgalang tetap kokoh berdiri,

Menjaga ranah dan anak negeri


Ladang dan sawah sumber kehidupan petani, 

Hewan hewan saling bersinergi, 

Tak ada yang merasa kuasa apalagi pongah akan diri,

Semuanya menyatu, bisa berdampingan dan saling memberi.


Indahnya alam semuanya karunia Illahi

Yang mesti senantiasa kita jagai dan syukuri


Aryandi 

Kapau, 15/12/2020

10.17



Minggu, 13 Desember 2020

Inspiring Bisnis: Pondok Teh Talua Tapai

Bermula ketika beberapa waktu yang lalu viral Teh Talua Tapai ini di media sosial. Sebagai pecandu Teh Talua, sudah tentu ada keinginan untuk dapat mencoba mampir ke sana. Rasa penasaran akan rasa, view yang katanya indah di tengah ladang serta awal memulai bisnis ini sudah membuncah ketika ada rencana mudik akhir tahun ini. Kebetulan dekat dari Kapau. 

Alhamdulillah sore ini, setelah dirasa badan sudah bugar, setelah isolasi di hari ke tiga di kampung, iseng aja saya mengajak Bundo Nova untuk menemani jalan jalan sore ini keliling kampung. 

Menggunakan motor kami nekad aja jalan, meski di awalnya gerimis mulai turun sesaat. Berbekal google map, lokasi ini kami susuri dari Giriang Giriang Kapau ke beringin, tampuniak hingga meluncur terus sesuai arahan si Mbah "Google". 

Enjoy dalam jalan jalan sore ini, kami sempat melihat dari kejauhan di sebelah kiri Kawasan Wisata Bonto Royo yang rame pengunjung. Terlihat banyak mobil parkir dari kejauhan. InsyaAllah nanti kami rencanakan akan ajak Dhifa ke sana. Bersama dia lebih seru. Biar dia tahu bahwa di kampung halaman banyak lokasi wisata menarik, di dekat rumah neneknya. 

Lurus terus lebih kurang 15 menit kami sampai di Pondok Teh Talua Tapai ini. Keindahan alam yang terpampang selama perjalanan sangat memanjakan mata. Tak terasa  waktu setengah jam dari rumah berkendaraan begitu cepat. 

Setelah parkir, yang saya kagumi adalah lokasinya. Dari pondok yang ada jelas terpampang indahnya alam sejauh mata memandang. Hamparan sawah yang dikelilingi oleh hijaunya bukit serta nun di ujung sana terlihat jelas genangan air yang banyak, yang tak lain tak bukan adalah Terusan Kamang yang juga sudah terkenal sebelumnya. Kami sudah pernah mampir ke sana beberapa tahun yang lalu bersama anak anak, Full Team.

Ketika masuk lokasi pondok ini, hampir semua tempat yang ada penuh. Tak lama berpikir, kami langsung pesan satu teh telor dan semangkok mie rebus, sebagai penghangat suasana sore. Cemilan "jadul" siap santap ada di toples, pisang pun tersedia. 

Saya sempat videokan suasana sore itu sambil menunggu pesanan datang. 

Ide mengelola kuliner seperti ini sangat berarti dalam suasana ekonomi yang susah saat ini. Butuh keberanian untuk memulai usaha setelah banyaknya PHK akibat Covid 19 ini. Peluang untuk bekerja sangatlah tipis, kecuali bagi mereka yang punya akses "menggarong" uang rakyat. Entah itu benur, apalagi dana sosial Covid yang sangat menarik. Duitnya jangan dikira sedikit. Banyak, man. M M an, bahkan trilyunan. Amazing banget itu. 

Pengunjung silih berganti, hingga sedikit bersabar menunggu pesanan datang. Ada yang datang dengan mobil, ada juga yang datang rombongan kendaraan roda dua. 

Alhamdulillah akhirnya dapat juga bergeser ke ujung di meja yang ada bangkunya. Tempat semula saya incar. Itupun setelah menunggu sekitar 5 menit pengunjung tersebut beranjak pulang. 

Sebagai pemain baru di bisnis kuliner, #DapurBundoNova, Allah takdirkan di meja depan kami seorang ibu dengan anak bujangnya. Yang ternyata beliau adalah owner kedai nasi di depan pasar Baso. Yang juga menyediakan teh telor di samping nasi soto, nasi goreng, mie rebus/goreng juga. Beliau ke sini karena anak bujang nya yang ngajak. 

Sengaja dari Baso. Dan anak bujangnya, yang bernama Dayat, adalah spesialis pembuat Teh Telor di kedai nasi mereka ini. Nah?? Ketahuan kan bahwa banyak yang penasaran tentang kualitas teh talua yang viral ini, termasuk da Dayat ini. 

Jadi kami yang datang dari Tangerang tak salah tempat datang ke sini. 


Dalam obrolan kami betempat, beberapa menit kemudian baru datang teh telor dan mie rebus pesanan saya, baru kemudian ibu dan anak bujangnya ini. 


Saya akui bahwa teh talua tapai ini tidak mengecewakan. "Lai manggigik" sesuai tanya mas Triyogo Priyohadi ketika saya share di WAG kami. 


Porsi nya besar, sesuai ukuran gelasnya yang lumayan jumbo. Menggunakan telor bebek dan tapai ubi yang sangat terasa. Bagi yang tak suka gula berlebihan, menurut istri saya ini sangat cocok. Rasanya ok. 


Selain rasa dan kualitasnya, keberanian untuk memilih dan menata tempat di lokasi seperti ini, saya harus akui owner Pondok Teh Talua Tapai ini sangat berani. Nun di ujung desa, di pelosok negeri beliau sangat berani membuka usaha ini. Akses ke sini dari kota Bukittinggi lebih kurang satu jam, tetapi banyak orang yang datang. Datang untuk menikmati Teh Talua Tapainya dan menikmati suasana alam desa yang asri. 

Sayang tak sempat "maota" dengan owner yang sibuk tanpa henti membuat teh telor ini, saya akhirnya bertanya dengan yang melayani saja. 

Usaha ini baru dimulai sejak lebaran idul Fitri lalu. Dan itu dikelola sendiri oleh sang Bapak pemilik usaha. Beliau yang bikin langsung untuk customer nya. Andai berhalangan baru diserahkan ke yang lain. Selagi dia ada, dia yang membuatnya. Semuanya demi cita rasa buat pelanggan yang sudah datang dari jauh. Jangan sampai ada yang kecewa. Saya saluuut. Saya akui beginilah seharusnya pemilik usaha kuliner. Harus totalitas, seperti juga usaha Masakan Kapau Online #DapurBundoNova yang kami rintis sejak Agustus 2020 ini. Harus totalitas, harus cooking with passion and love.

Makanya saya tak heran hingga kami pulang, pelanggannya datang silih berganti. Luar biasa. Semoga ini bisa menginspirasi sahabat ataupun saudara saudara kita yang lain yang berminat memulai bisnis kuliner seperti ini. Setidaknya harus berani dalam memilih menu utamanya, lokasi dan setting-an tempat. Kalo semuanya oke, pelanggan akan datang. Bak semut mendatangi gula. 

Oh ya harga segelas teh telor tapai ini hanya 8.000 rupiah saja. Sangat murah dan terjangkau. 


Lepas dari Pondok Teh Talua Tapai ini kami pamit kepada ibu dan uda Dayat ini, membayar apa yang dimakan, kami susuri alam yang indah sepanjang jalan yang ditempuh oleh motor kami. Alamnya memang sangat indah. 



Kami menempuh jalan yang berbeda, dan sempat mampir di dekat Tarusan Kamang menuju pakan Sinayan, terus ke Kamang Magek menuju rumah di Kapau. 

Sangat berkesan sekali. Semoga suatu waktu bisa ke sana lagi dan "maota lamak" dengan si pemilik usaha. Semoga!!!

Kapau, Bukittinggi 13/12/2020

20.40

Sabtu, 12 Desember 2020

Baso Cryspi di Batusangkar

Tadi ketika mau ke V Kaum selepas pertigaan pincuran tujuah Batusangkar mampir sejenak di sini karena tertarik dengan dagangannya. 

Awalnya pengen lihat bentuknya ajah. Dan karena peminat mulai datang sata titip pesan enam buah saja sebagai tester, sekedar pelepas rasa penasaran saya saja. 

Jujur saya teringat dengan Om Susilo Amell Nurulfajri yang juga sahabat saya di walsantor Tangerang Raya. Usahanya juga baso. Baso dua saya pesan selain buat sop, juga untuk dijual lagi ke beberapa customer #DapurBundoNova dalam bentuk baso balado ataupun rendang baso. Nah ini apalagi inspirasi yang saya temui sian tadi di kampung halaman saya. 

Tanya punya tanya ternyata si mas yang menjual ini aslinya dari Wonogiri. Datang merantau ke ranah Minang ikut saudaranya yang dagang baso juga, di belakang outlet dia ini. 

 


Dari wonogiri banyak bis ke Jakarta dan dari Jakarta dia lebih suka memilih bus NPM ke Batusangkar ini. Ata kalo tak dapat bus NPM pilihannya SAN.

Inilah realita hidup, bagi orang orang yang memiliki jiwa pedagang, pejuang dan petarung. Kuncinya adalah kemauan hijrah, atau merantau. Orang minang banyak yg ke Jawa dan ternyata yang dari Jawa tak sedikit pula yang ka Minang. Dan keturunan anak anak PUJAKUSUMA ini adalah bentuk keindonesiaan kelak di negeri ini, selain yang juga melakukan perkawinan dengan orang minang di ranah minang itu sendiri.

Pujakusuma adalah singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatra seperti sahabat saya Om Susilo tadi yang kelahiran Palembang, yang kedua ortu berasal dari Jawa, dan dia sendiri tetap memilih istrinya juga orang jawa. Dan kami dipersatukan oleh anak anak kami yang juga bersekolah di tanah Jawa, di pondok Gontor Darussalam. 

Demikian sekelumit cacatan perdana saya setelah trip perdana ke sumatra tahun ini, tahun 2020.

Kapau, 12 Desember 2020

Jam 20.56

Rabu, 09 Desember 2020

Joey

Joey, adalah pria kulit putih dari Amerika  yang sedang berkunjung ke Inggris.


Suatu malam Joey masuk ke sebuah restoran  di London. Begitu masuk, ia melihat seorang pria Afrika  kulit hitam dengan santai duduk sambil  membaca koran di sudut restoran.

"Pelayan!" teriaknya.
"Saya traktir semua orang di restoran ini,  kecuali orang kulit hitam Afrika di sana!"  ucapnya dengan lantang sambil menunjuk  pria Afrika itu.

Pelayan mulai melayani untuk semua orang  yang ada di restoran, kecuali si pria Afrika.
Pria Afrika tersebut hanya menatap Joey dan  berkata, "Terima kasih!"
Ucapnya sambil mengangguk.

"Wah ngeledek nih orang," pikirnya.

Joey menuju bar: "Bartender! Minuman gratis untuk semua disini, kecuali orang Afrika yang duduk di pojok sana!"

Sekali lagi, bukannya marah, si Afrika hanya  tersenyum sambil mengangguk ia berkata, "Terima kasih."

Joey, si Amerika kulit putih semakin bingung  dibuatnya. Ia memanggil si pelayan: "Apa dia itu sudah  gila?" Sambil menunjuk pria hitam itu.
"Tidak, ia tidak gila" Pelayan itu tersenyum, "dia adalah pemilik restoran ini."

Joey terkejut mendengar penjelasan si  pelayan dan merasa sangat malu.
Saking malunya, ia langsung pergi keluar dan  menyebrang jalan. Tanpa Joey sadari, sebuah mobil yang berlari  kencang tiba-tiba menabraknya. Mobil itu tidak berhenti menolong Joey dan langsung kabur.

Para pelanggan restoran berhamburan keluar ingin melihat apa yang terjadi dengan Joey.
Namun tak ada yang peduli dengan Joey.  Tidak satu orang pun dari semua yang telah  ia traktir makan dan minum, mau  membantunya.
Pria Amerika itu terkapar di jalanan dan  hanya menjadi tontonan warga.

Dengan sigap pria Afrika kulit hitam kembali  ke restoran, menyalakan mobilnya dan  membawa si Amerika ke rumah sakit  terdekat.
Setelah siuman, Joey bersusah payah,  mencoba bangkit dari tempat tidur dan ingin  meminta maaf.

Namun belum sempat terucap dari mulutnya,  si Afrika langsung berkata, "sudahlah, aku  sudah memaafkanmu sejak awal."

Setelah dirawat beberapa hari, Joey  dinyatakan sembuh dan boleh pulang.
Namun Joey kaget melihat di bawah tagihan  Rumah Sakit tertulis 'Lunas'.

"Siapa yang membayar ini semua?"
"Teman yang menemani bapak selama  dirawat di rumah sakit ini," jawab pihak  rumah sakit.

Joey bergegas menuju restoran pria kulit  hitam. Ia langsung ke sudut restoran mencari pria kulit hitam itu biasa berada, namun,  orang yang dicarinya tidak ada disana.
"Dimana pria kulit hitam pemilik restoran  ini?"

Belum sempat si pelayan menjawab, muncul  seorang pria kulit hitam berpakaian rapi dari  belakang menimpali,
"Saya pemilik restoran ini, ada apa ya pak?"

"Bukan anda yang saya maksud, saya mencari pria tua kulit hitam yang beberapa hari lalu  duduk di pojokan itu,"

"Itu ayah saya, dia baru saja meninggal 5 hari lalu dan sekarang saya adalah pemilik  restoran ini," jawab pria muda itu.
"Sebelum meninggal dia menitipkan ini jika  ada orang kulit putih yang mencarinya,"  ucapnya sambil menyodorkan kertas.

Dipenuhi rasa sedih bercampur penasaran, ia membaca isi kertas itu.
Si pria Afrika kulit hitam tersebut menulis untuknya :

"Tolong sampaikan kepada sahabat kita semuanya untuk senantiasa menjaga Protokol Kesehatan dengan tetap melaksanakan 3M secara ketat."

"_Andai butuh makanan uenak sesuai salero kampuang asli Kapau, Bukittinggi silakan hubungi #DapurBundoNova 08121962368._
πŸ˜‰πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

Senin, 09 November 2020

Sinergi Kulineri

P



agi ini dapur Bundo Nova mengolah paket kiriman dari kampung halaman saya, Limo Kaum Tanah Datar Batusangkar. 


Minggu lalu kami "kedatangan" Lele asap, kerupuk jengkol dan Kopi Rangkiang Kaum. Kopi Rangkiang ini ternyata kipi legend di ranah minang. Sudah terkenal sedari dulunya, namun dengan berkembangnya warung warung kopi berkelas, tempat nongkrongnya anak anak mililenial saat ini, kopi ini jadi menjadi komoditi ekspor dari Tanah Datar. Bahkan kadang menjadi barang langka di kampung sendiri. Hehehee. Alhamdulillah, tester yang saya berikan kepada beberapa teman teman yang suka kopi, ternyata kopi Rangkiang ini uenak tenan katanya. 


Lupakan sejenak tentang kopi yang sudah saya konsumsi sejak datangnya, sekarang kota beralih ke Lele Asap dan Kerupuk Jengkol. 


Lele Asap dan Puak Jariang ini adalah olahan dari da da Alen Asril, senior saya yang "terpaksa" pulang kampung dari rantaunya di tanah Betawi disebabkan karena keinginan merawat ibunda tercinta di kampung halaman. Di Limo Kaum Tanah Datar beliau membuat ternak lele awalnya, sebagai sumber income dan juga memanfaat lahan yang ada di kampung. Kolam lele berkembang lele, masuk ke pasar pasar di tanah datar, akhirnya ini berkembang menjadi lele asap sebagai bentuk alternatif pengganti ikan salais yang selama ini terkenal enak dan lumayan mahal harganya. "Lele asap ini bisa bersaing dengan ikan salais yang telah duluan booming. Bahkan lebih nikmat lagi karena dagingnya lebih lembut dari ikan salais", begitu tutur da Alen.


Nah, selain lele asap ada lagi Kerupuk Jengkol alias Karupuak Jariang. Kerupuk yang sangat terkenayk bagi yang pernah tinggal di sumatera tengah. Apalagi kalo dipakein cabe, nikmatnya luar biasa. 


Sebenarnya banyak lagi usaha yang dikembang oleh da Alen ini di ranah minang, tetapi hanya ini yang saya pesan sebagai tester. Dan ternyata uenak uenak. 


###

Dan pagi ini bundo Nova segala kerupuk yang ada buat cemilan kami di rumah, terutama bagi Dhifa yang doyan "ngulek" sambil belajar atau baca buku. Ada kerupuk udang, kerupuk magek dan kerupuk jengkol ini. Disimpan di toples kedap udara supaya tak masuk angin.


Dan terakhir minyak dari sisa penggorengan kerupukj baru digunakan untuk menggoreng ikan Lele Asap ini. Terakhir karena biasanya habis menggoreng ikan salais, minyak menjadi hitam. Masih bisa digunakan sih, tetapi dilihatnya sudah nggak enak aja. Setelah penggorengan ikan ini, minyaknya sudah tak digunakan lagi. 


Alhamdulillah, menjelang jam 6.30 pagi semuanya sudah matang buat makan pagi dan makan siang hari ini. 


Noted. 


Bagi yang berminat beli ikan Lele Asap dan kerupuk Jengkol ini silakan hubungi saya di 08121962369. Selagi stok ada, bisa dikirim, tetapi andai habis nunggu pengiriman selanjutnya.


Kerupuk Jengkol: Rp 35.000/250gram

Lele Asap: Rp 40.000/250gram

Plus ongkir.


Selasa, 20 Oktober 2020

Takana Mandeh




Sebuah testimoni dari sejawat saya di kantor. Pak Yusman namanya. Saya dan beliau hampir bersamaan masuk di British School Jakarta, di akhir th 1997, beliau sebulan lebih awal. 


Beliau urang awak, tetapi besar dan lahir di Palembang, lulusan Unsri. Istri beliau pun urang awak. Kami sudah berteman akrab. Tetapi saya hormat pada beliau, usia beliau 10 tahun di atas saya. Dua putri beliau sudah berkeluarga, dua dua berprofesi sebagai dokter. Salah seorang minantu beliau pun seorang dokter.


Pak Yus dan istri tinggal berdua di rumah, namun salah satu anaknya tak jauh tinggalnya dari mereka. Dan satunya lagi di Surabaya. Pak Yus dan istri sudah mempunyai empat orang cucu dari yang seharusnya lima orang.


Sejak awal september lalu  lalu menjadi pelanggan #DapurBundoNova. Pesanan kadang ayam rendang buat anak dan cucunya, yang juga tinggal di Depok, kadang dendeng lambok dan gulai tunjang khas Kapau, yang umumnya jarang ada di rumah makan padang. 


Namun minggu lalu, hari kamis beliau mencoba memesan seporsi Samba Lado Tanak, pesanan baru dan 1/2kg Dendeng Lambok yang sudah pernah pesan sebelumnya. 


Alhamdulillah ternyata Samba Lado Tanak kami, sangat sesuai dengan lidah istri beliau. Bahkan cita rasanya mengingatkan beliau kepada mendiang "mandeh"nya, seperti screen shoot yang saya sertakan dalam tulisan ini. "Mandeh" beliau dahulunya sering menbuat Samba Lado Tanak ini. 


Saya sangat terharu membaca pesan ini. Tersentuh hati saya ketika ada orang yang kembali mengingat apa yang dulu pernah dirasakan bersama mendiang orangtuanya, terutama sentuhan kasih sayang dan olahan dapur sang "mandeh". Dan melalui olahan kuliner kami, kami bisa menghadirkan kembali sosok yang mungkin sudah lama hilang, hadir kembali dalam ingatan melalui lauk yang kami hadirkan. 


Hal hal seperti ini juga pernah saya rasakan. Saya merasakan kehadiran almarhum ibu beberapa kali dengan nuansa yang berbeda. 


Saya tuliskan ini sebagai pengingat bahwa banyak cara yang bisa mengantarkan kita kembali ke nuansa lama bersama orang orang yang kita cintai, terutama yang berkaitan dengan masakan. Terimakasih pak Yus, izinkan saya menuliskan ini semuanya sebagai bentuk penghargaan kita kepada mandeh yang pernah membesarkan kita. Semoga dengan begini, insyaAllah sebagai bukti bahwa kita bisa medoakan mendiang mandeh. 


#####


Takana: Teringat

Mandeh: Ibu

Mendiang: Almarhum/almarhummah


Bintaro, 20/10/2020

11.20 Wib


TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...