Senin, 25 April 2022

Horor di Jalintim: Trip Report 2

Lamanya terjebak macet semenjak Pangkalan Balai hingga tak tahu kapan akan berakhir menyebabkan kami tertunda sholat wajibnya. Menjelang jam 5 sore ditengah himpitan kendaraan dari belakang depan, kiri dan kanan, tak ada pergerakan sama sekali, saya dan Imam sholat di masjid bergantian. Satu orang standby di mobil. Sementara Bundo dan Dhifa hanya berwudhu di sana dan sholatnya di dalam mobil. Bersyukur nya posisi mobil saat itu pas searah kiblat. 


Lepas sholat, kami diskusi dengan supir truk di sebelah dan dapat kabar bahwa dia stuck di sana sudah sedari pagi. Sudah lebih 10 jam tak bergerak. Kami yang baru saja melewati truk yang terguling, tergeletak melintangi jalan, yang baru saja digeser oleh dua excavator berfikir ini sudah aman, sudah lancar jalan menuju Betung ternyata salah. Salah dalam berfikir. Ternyata macetnya ini sudah sangat panjang. Panjang sekali. Membuat tak ada pergerakan mobil yang berarti, setelah melewati sumber masalah. 


Sumber masalah yang sangat, sangat lambat ditangani oleh pihak terkait menyebabkan persoalan ini makin rumit. Menjadi rekor terpanjang, macet terparah antara Palembang Jambi selama ini. Padahal truk yang terguling ini sudah terjadi sejak jam 9 malam di hari Jumat. Ini jalan lintas negara, jalan lintas propinsi, tingkat kepadatan nya sangat tinggi, mengapa aparatnya lalai? 


Horor yang terjadi sepanjang hari jumat bahkan sabtu menjadi catatan tersendiri ke depannya. Semoga menjadi bahasan di tingkat propinsi Sumsel dan Jambi. 


Menjelang waktu berbuka, kami bisa berbagi takjil meskipun tak banyak. Ada air mineral Ufia dan qurma yang kami bawa dengan seorang bapak bersama istri dan anak bujang nya yang berniat menuju Kota Pekanbaru. Bertiga mereka di dalam mobil sedannya, berpuasa semuanya. 


Kami dengan bekal seadanya, buka puasa di mobil. Banyak warung ataupun rumah makan yang ada di sekitar area ini yang mendapatkan berkah. Apa yang mereka jual, ludes. Ada banyak pemuda dengan motornya menawarkan kopi dan pop mie bagi para supir, penumpang bis yang terjebak macet di sini. Ada roda ekonomi yang berputar di sini, yang Allah takdirkan. Ada rezeki yang tertumpah di sini bagi penduduk. Ini salah satu nikmah nya juga. 


Puluhan jam terjebak, bukan sesuatu yang nyaman tentunya. Selain itu, untuk urusan "kebelakang" merupakan persoalan tersendiri. Banyak rumah penduduk yang dapat 'tumpangan' sekedar buang hajat. Para supir yang diuji kesabaran tingkat dewanya juga. Ngantuk, capek dan saling serobot ataupun sebaliknya, saling buka jalan satu sama lain. Alhamdulillah, sepanjang jalan yang saya tempuh kemarin sejak jam 10 pagi sabtu hingga malam, tak ada keributan sama sekali. Semuanya sabar, saling menjaga perasaan. Saling memahami bahwa ini adalah ujian bersama. Ini juga termasuk hikmah. 


Malam menjelang, hujan dan gerimis pun saling mengisi satu sama lainnya. Di tengah suasana seperti ini polisi polisi muda mulai mengatur akses jalan. Ada yang ditutup sementara, ada yang dibuka aksesnya. Perlahan lahan terjadi pergerakan, termasuk jalur kendaraan saya yang menuju Betung. Merayap secara perlahan, meski kadang lama juga berhentinya. 


Sekitar jam 9an sang Bundo melihat ada plang penginapan di sebelah kiri jalan. Info ada penginapan 500 meter di depan. Saya yang memang sudah sangat lelah, akhirnya minta Imam bangun dan menemani Bundo untuk jalan kaki ke depan. Melihat kondisi penginapan ini terlebih dahulu. Tak tega saya membiarkan Bundo untuk jalan sendiri di malam seperti ini. Imam bangun, membuka pintu dan berjalan bersama bundanya menuju penginapan. 


Tak lama kemudian WA call dr Bundo masuk, mengabarkan ada kamar yang terdiri dari dua kasur spring bed ukuran king buat kita tempati. Harganya pun terjangkau. Hanya Rp. 220.000. Akhirnya Bundo dan Imam menunggu kami di sana. Penginapan Tetesan Embun, namanya. Sebelah kiri jalan kami menuju Betung. 


Jadilah kami rehat di sini Sabtu malam minggu. Segera kami sholat berjamaah di kamar ini. Untungnya saat Bundo di resepsionis tadi sudah memesan makan buat kami bersantap malam ini sekalian buat sahur juga. Lauk dendeng dan rendang dari rumah sebagai tambahannya. 


Saya mandi yang pertama disuruh Bundo dan makan terlebih dahulu. Setelah itu saya tepar. Tidur nyenyak. Anak anak dalam pengaturan Bundo semuanya setelah saya tidur tersebut. Tetapi mobil sudah saya pastikan terkunci sebelumnya. 


Subuh saya dibangunkan oleh alarm, Bundo sedang sholat. Saya keluar kamar, melihat suasana jalan. Ternyata macetnya masih belum terurai. Horor sepanjang jalan Palembang Jambi ini belum selesai. Sempat berdiskusi sejenak dengan dua sekuriti penginapan dan beberapa supir menganalisis kondisi jalan yang akan kami tempuh. 


Saya akhirnya berketetapan untuk memilih jalur via Sekayu Lubuk Linggau saja. Jalur ini lebih sepi dibandingkan via Tempino Jambi. Penyebab macet yang ada disebabkan karena penumpukan truk truk besar dan kecil serta bus di sepanjang jalan. Ini adalah akses jalan utama dari Jambi, Riau, Sumut Aceh dan sebagian dari Sumbar.


Selepas sahur dan sholat subuh, kami keluar penginapan. Alhamdulillah saat itu sudah lancar jaya hingga sekitar 500 meter menuju simpang Betung. Kemudian tersendat lagi. Giliran dari arah Betung menuju Palembang lancar. Gantian. 


Tak berapa lama, saya belok kiri menuju Sekayu, sementara yang arah Sungai Lilin masih padat. Di goggle map pun begitu. Masih panjang warna merahnya. 


Menuju Sekayu lancar jaya. Injakan gas bisa lebih dalam. Kecepatan saya bisa antara 70-90 km/jam. Namun horor lain masih menghantui. Yakni kelangkaan BBM di SPBU. Untuk itu sengaja AC saya matikan, jendela kiri mobil dibuka secukupnya. Udara pagi sangat segar. Jendala kanan saya tutup, menghalangi debu jalan masuk. 


Di sekitar daerah Babat baru ketemu SPBU yang buka. Hanya satu pompa buat pertalite yang buka. Karena satu truk mereka sedang dalam pengisian. Truk datang terlambat karena terjebak macet sejak Pangkalan Balai, kata sekuritinya. Dapat saya bayang kondisi ini tentu hampir terjadi di berbagai tempat sepanjang jalan lintas. 


Lepas itu AC baru hidup dan kita menyegerakan lari biar bisa sampai di Lubuk Linggau menjelang tengah hari. Perhitungan saya kalo semuanya lancar berbuka bisa di daerah Dharmasraya. 


Dan alhamdulillah semuanya benar benar sesuai prediksi. Masuk jalan lintas tengah Lubuk Linggau menuju Dharmasraya saya sangat senang. Saya bisa menikmati kembali "jalur toll" gratis ini, setelah beberapa tahun tak saya lalui. Saya bisa memacu kendaraan diantara 80-100km/jam. Up and Down perbukitan di jalur yang boleh dikatakan lurus ini, sangat saya gandrungi. Apalagi kalo jalan siang seperti ini. 


Menjelang Rumah Makan Umega kami bertemu dengan tiga unit Npm Sutan Class dengan segala cemonk nya. Bus ini jelas terlambat masuk. Kami bisa menyusul mereka, di depan mereka hingga RM. Umega. Tadinya mau makan di sini, tetapi melihat banyak bus lain yang parkir, kami lanjutkan perjalanan. Sudah terbayang banyaknya penumpang bus yang makan di waktu berbuka seperti ini. 


Akhirnya kami makan dan berbuka di RM. Sinar Ombilin di sebelah kanan jalan. Alhamdulillah semuanya makanan enak. Ada asam padeh ikan, gulai kuning ikan patin, ayam goreng balado plus jengkol, dendeng balado, kalio hati dan sambalado hijau plus jengkol serta keruluk emping disiram kuah gulai. Saya yang biasanya menahan diri untuk tidak tambah nasi selama perjalanan jarak jauh, akhirnya jebol juga. Dua kali nambah. Pereda kantuk akibat karbo yang berlebih ini akhirnya ditutupi dengan pesan sebotol kopi panas yang ditempatkan di dalam botol Ufia 600ml. Total makan kami berempat dengan kopi dua gelas itu Rp. 135.000,-. Murah banget. 


Lanjut perjalanan akhirnya kami mampir di salah satu SPBU menjelang Tanah Badantuang. Kami sholat wajib di sini sekalian saya menyegarkan diri akibat kantuk hebat yang datang. Tak cukup lagi kopi untuk menghilangkan kantuk ini. Sholat dan wudhu adalah obat yang mantap. 


Lanjut di Tanah Badantuang kami belok kanan menuju Lintau dan Batusangkar. Jalan di sini sudah bisa perlahan lahan saja. InsyaAllah sudah aman, hanya tikungan tajam saja yang jadi perhatian. Berselisih dengan sesama mobil pun harus bersabar, karena jalannya relatif sempit. 


Rehat karena ngantuk kembali saya lakukan di masjid Salimpauang. Hanya sekedar keluar dari mobil dan senam ringan melawan dinginnya malam. Lanjut lagi perjalanan hingga ke Baso dan berhenti lagi di Simpang Tanjuang Alam. Bersama Imam, saya menikmati Sekoteng dan Teh Telor. Di sini adalah langganan saya setiap pulang kampung. "Lamak teh talua nyo", kata Imam kepada saya. 


Jam 00.30 dini hari kami sampai di Kapau. 


Kami akan menemani kesendirian nenek hingga para amuncu datang lengkap menjelang lebaran nanti.

Tetap Mudik: Trip Report 1

Jumat tanggal 22, menjelang siang kami tetapkan untuk mudik sore ataupun malam harinya. Setidaknya sabtu subuh kita sudah berangkat. Meskipun kondisi kami bertiga dari berempat masih flu dan batuk berdahak, niat untuk pulang kampung sejak Imam pulang dari Pondok Modern Darussalam Gontor tetap dilaksakan. Apalagi sang nenek sudah bertanya kepada sang Bundo kamis sore kemarin sebelum berbuka, "kapan pulang? ". Ada sebuah pengharapan yang besar dibalik tanya itu. 


Jadilah saya, mempersiapkan segala sesuatunya menjelang jam tiga jumat itu. Terutama tentang kesiapan mobil. Tanpa pikir panjang dalam suasana yang masih gerimis saya segera ke bengkel Shop and Drive di Bintaro Sektor 9, di Andala tepatnya. Pergantian empat ban Terios ini mesti dilakukan, karena semuanya sudah terpakai selama 5tahun. Mengingat perjalanan yang jauh, saya tak mau mengambil resiko, meskipun ketebalan ban masih layak, namun memang sudah saatnya ganti. 


Di sektor 9 ini saya masuk dalam antrian no 5 untuk pergantian jam dan bisa jadi kalo tak kelar esok baru bisa diambil. Saya tak mau. Saya minta dicarikan Andala mana yang terdekat. Dan akhirnya jatuh ke sektor 3 Bintaro tetapi tiga ban barunya diambil dari sektor 9, karena di sana tersisa hanya satu ban saja untuk mobil Terios saya ini. Ya akhirnya saya meluncur ke sektor tiga. Ada waktu pengerjaan sekitar dua jam, saya akhirnya puas dan balik ke rumah. Dalam perjalanan saya kabari sang Bundo untuk siap siap. Bada isya kita berangkat. 


#####


Alhamdulillah selesai sholat isya di masjid, tarawih dan witir saya lanjutkan di rumah. Begitu juga dengan si Bundo dan Dhifaa sudah ready. Hanya Imam yang lupa dikabari sebelumnya, ternyata tarawihan dulu di masjid. Terpaksa kami menunggu.


Dan akhirnya kami berangkat dari rumah jam 20.20, langsung menuju merak. Lumayan rame kendaraan di sepanjang tol, terutama kendaraan pribadi. 


Di merak, menggunakan jasa 'someone' untuk mendapatkan tiket. Someone yang biasa menolong adik saya Riko. Tak perlu rapid test, yg penting jujur bhw kami semuanya sudah vaksin dua kali dan hanya saya saja yang sdh booster. Bertiga kami kurang fit, tetapi niat dan semangat untuk mengantarkan Imam bertemu dengan neneknya, yang sangat merindukannya. Karena tiga tahun sudah tak bertemu. 


Di dermaga Eksekutif kami menunggu sekitar dua jam antrian. Suasana pelabuhan memang rame. Kami naik kapal Port link 3. Alhamdulillah, segala fasilitas di kapal ini membuat kami puas. Kami dapat ruangan yang AC nya dingin, sofa nya yang empuk dan nyaman, saling berhadapan dengan meja bulat rotan ditengahnya. Ini saja sudah membuat nyaman, sehingga anak anak tidak mau exolore ruangan lain. Saya yang butuh tidur, sekejap bisa melepaskan kantuk. Menjelang sampai di Bakauheni, ganti saya yang menjaga tiga orang yang sudah tertidur pulas. 


Menjelang jam 3 kapal mendarat dan saya termasuk kendaraan yang agak cepat keluar dari Port Link 3 karena masuk lebih awal dan lebih dekat dengan pintu keluarnya. Dari Bakauheni kami lari pagi sekitar 35 km menuju KM 33. Rehat, sahur dan menanti waktu sholat subuh kami di sini. Di KM ini seolah sudah menjadi langganan untuk rehat. Semenjak masih dalam tahapan pembangunan, saat masih test area darurat kami sudah mampir. Dan terakhir Desember lalu bersama kakak Dhila juga di sini.


Menjelang jam 5 pagi kami sudah siapkan diri untuk kembali "lari pagi". Lari antar dua propinsi dari KM 33 hingga ujung toll di Kramasan Palembang, sejauh 333 KM.


Jalanan sepi, matahari belum menampakkan diri. Sebagian para supir masih melanjutkan mimpi di mushola tempat kami sholat subuh tadi. Begitu juga kemungkinan di restoran area lainnya. 


Laju kendaraan stabil di angka 80-90 km/jam. Lari santai saja. Sementara penghuni terios, kembali merajut mimpi. Hanya sebentar saja saya ditemani ngobrol, mendengkur ternyata lebih asyik. 


Jalan tol yang ditempuh sudah kembali mulus dibandingkan waktu mudik Desember tahun lalu. Perbaikannya tampaknya nyata. Aspal hitam sebagai pertanda. Meskipun kadang jalan bergelombang masih terasa di beberapa titik. Namun secara keseluruhan sudah mulai nyaman dan aman. Lobang menganga sudah tiada. 


Mentari mulai meninggi, beberapa kendaraan sudah mulai menyalip satu per satu.   Melihat ada teman berlari, saya pun mengiringi dengan meningkatkan kecepatan. Namun tetap dalam level aman.


Beberapa kali terpaksa menepi, mencari rest area untuk sekedar buang air dan berwuduk melepaskan kantuk. Menjelang keluar pintu TOL kayu Agung, Imam menjajal kemampuannya, yang didapat kemarin saat kursus setir mobil. Saya percayakan sebagai uji nyali sekaligus memberi tips tips ringan. Namun menjelang keluar tol Kramasan, saya ambil alih lagi, karena akan masuk jalan arteri. Jalan Soekarno Hatta. Takut saja kalo nanti ada razia dari pak polisi yang baik hati. Yang murah menyapa di saat pagi hari. 


Lepas exit tol Kramasan, kami memilih ke arah kanan, masuk ke jalan Soekarno Hatta. Bisa juga belok kiri untuk ke Sumatra Barat, via Prabumulih, Muara Enim, Lahat dan Lubuk Linggau. 


Menjelang jam 10 an kami sudah menjajal jalan lingkar luar Palembang ini. Jalanan lancar, tak ada kemacetan yang berarti. Beda dengan Desember tahun lalu. Macet parah. 


Tak disangka menjelang pangkalan balai menuju Betung kami mengalami macet yang sangat sangat luar biasa. Sampai saat ini kami masih tercekat macet menuju Betung. Sudah lebih 8 jam menikmati suasana ini.  Ada truk yang melintang, tergeletak dari tadi malam yang menghalangi jalan. Entah mengapa telat dalam penanganannya. Seolah dibiarkan. 


Macet parah dua arah. Dari Palembang dan Jambi. Saling salib, saling nyodok terjadi di dua sisi jalan. Kadang jalan penuh satu arah. MasyaAllah, belum pernah mengalami macet separah ini. 


Menjelang waktu berbuka, kami masih 'stuck' di sini. Belum bergerak. Padahal ke simpang Betung hanya berjarak 10km. Luar biasa. 


Satu lagi dapat kabar di dekat pasar sungai lilin ada lagi truk yang berisi pupuk, tergeletak melintang menghalangi jalan. Macetnya tak kalah juga parahnya, tuturan supir sebelah kanan saya, yang dari sana. Dia di sini sudah sejak subuh. 


Mantap pengalaman kali ini. Alhamdulillah semuanya yang di mobil sabar, aman terkendali. Bekal berbuka pun ada. Minuman air mineral Ufia cukup banyak tersedia. Hanya waktu dan tempat sholat saja yang kami ragukan. 


InsyaAllah nanti kami rehat menginap di daerah Betung saja. Capek sudah pasti ada. 


Selamat berbuka.

Sabtu, 23 April 2022 menjelang waktu berbuka di Betung.

Senin, 29 November 2021

KISAH NYATA SEORANG DOKTER SETELAH IKTIKAF DI MESJID 3 HARI

 KISAH NYATA yg inspiratif di Bandung .

Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga  hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.

Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.


Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah. 

“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.

Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah. 

Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat. 


Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.

Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”


Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah. 

Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.

“Bapak sebelum ke sini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"

Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan


Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.


Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb. untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat. 


Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh? 

Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah. 


Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati. 

Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.


Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi. 

Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzikir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.

Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.


Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih. 

Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.


Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.

Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.


Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan. 

Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin:  sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.


“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”

Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.

“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.

Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.

------

Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan membawa banyak manfaat,..... kisah nyata........... 

Dr. Agus Thosin, SpJP (Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah) praktek di RSAI Bandung

                   ┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈

πŸ“‘ Raih amal shalih dengan menyebarkan, semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron....

πŸƒπŸŒΌπŸƒπŸ€πŸƒπŸŒΌπŸƒ


SILAHKAN DI SHARE SEBANYAK MUNGKIN JANGAN LUPA FOLLOW IG & TWITTER UNTUK INFO-INFO KESEHATAN MILENIAL

Instagram : @doktermilenialindonesia
Twitter       : @doktermilenial
Founder doktermilenialindonesia : @dr_ivan_albar

http://www.liputannews.net/2019/06/kisah-nyata-seorang-dokter-setelah.html

Senin, 16 Agustus 2021

Hikmah: Membeli Keringat Guru

Penulis: No Name 


Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada guru nya,


Murid : "jika memang benar para guru adalah orang orang pintar!, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang orang kaya raya itu?


Gurunya tersenyum bijaksana, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.


Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".


"Berapa harga emas seberat itu?"


Murid mengerutkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia menjawab,


"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 miliar rupiah".


Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepada mu membawa timbangan ini dan ingin menjual nya seharga itu, adakah yang bersedia membeli nya?"


Murid terdiam sejenak!, merasa mulai mendapatkan sedikit pencerahan dari sang guru, lalu ia berkata : "timbangan emas tidak lebih berharga dari emas nya!, saya bisa mendapatkan timbangan ini dengan harga dibawah dua juta rupiah!, mengapa harus membayar sampai 4 miliar? "


Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasi mu, kalian lah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar pengetahuan mu."


"Jika ada seseorang datang kepada mu membawa sebongkah berlian ditangan kanan nya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "ditangan kiri ku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kanan ku ini, tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian, maka beli lah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"


"Apakah ada yang mau membeli keringat nya?"


"Tentu tidak."


"Orang hanya akan membeli berlian nya dan mengabaikan keringat nya.

Biarlah kami, para guru menjadi keringat itu, dan kalian lah yang seharusnya menjadi berlian nya. "


Sang murid menangis, ia memeluk guru nya dan berkata : "wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya, kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kepintaran kami, setiap kilau permata kami, ada tetes keringat mu...


Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak pernik dunia ini, mohon jangan lupakan nama kami dalam doa kalian."

Sabtu, 14 Agustus 2021

Teh Talua Tapai plus Kopi

Melihat pagi ini masih ada sisa tapai kemarin masih ada, ke pengen aja membuat 'teh talua tapai'. Namun berbeda dengan teh talua tapai yang pernah saya posting sebelumnya, kali ini kita tambahkan sedikit kopi bubuk. 


Dengan satu butir kuning telor bebek dan dua sendok makan gula pasir dan seujung sendok kopi bubuk, kita aduk dengan mixer beberapa saat, hingga warnanya berubah dari kuning hingga agak putih. Kekentalannya pun bisa dirasakan. Disebabkan adanya bubuk kopi, warnanya tak utuh putih seperti biasanya. 


Setelah itu, kita tambahkan sesendok makan, atau secukupnya, tapai manis dan kemudian diaduk lagi dengan mixer.  

Sementara itu teh dan airnya mulai kita panaskan hingga mendidih, sambil menunggu selesainya diaduknya tapai dengan adonan tadi. 


Setelah diaduk beberapa menit, teh yang mendidih dan berwarna pekat tadi kita tuangkan ke dalam gelas yang berisi kuning telor dan tapai tadi hingga setengah gelasnya. Setelah itu diaduk dengan sendok hingga merata, homogen. Lanjutkan tambahkan teh mendidih tadi hingga penuh, dan teh talua tapai siap dinikmati. 


Sebagai tambahan asesoris, bisa lanjut ditambahkan susu kental manis putih buat tambahan 'layer' atau 'tingkek' di dasarnya. Dan untuk 'topping' bisa digunakan susu kental manis coklat, bubuk coklat, ataupun serbuk pinang muda yang telah dihaluskan sebelumnya. Selain untuk topping tersebut, bisa ditambahkan juga seiris jeruk nipis untuk menghilangkan bau air dari kuning telor yang kita gunakan. 


Tetapi bagi saya, rasa original ini sudah lebih dari cukup. Kalo ditambahkan susu kental manis lagi, takut terlalu manis... 



Parung serab, Ciledug 

09.40 WIB - 14/08/21

Rabu, 21 Juli 2021

Teh Talua Tapai

 Teh Talua Tapai: Kreatif di kala PPKM


Sebenarnya sudah dari kemarin kemarin pengen teh telor ini. Kebetulan sebelum lebaran haji ada tukang tape yang lewat dan sang bundo suka dengan tape sebagai makanan selingan. Menurut beliau tape ini adalah makanan probiotik alami. Sehat bagi usus. 


Alhamdulillah masih ada sisa nya pagi ini, bundo menggorengnya dan saya hanya butuh satu sendok saja. Di dapur kami ditemani si bungsu mengolah tape ini masing masing. 


Satu butir telor bebek, saya pecahkan dan ambil kuning telornya saja. Putihnya diambil bundo buat tambahan bihun goreng pagi ini. 


Kuning telor tadi dimasukan ke dalam gelas dan ditambahkan satu setengah gula pasir, diaduk dengan mixer hingga berubah warnanya dari kuning/orange menjadi putih. 


Selanjutnya mixer dimatikan sejenak, ditambahkan satu sendok tape manis tadi, dan diaduk lagi hingga tekstur tape tersebut halus. Hal ini bisa ditandai dengan makin entengnya putaran mixer. Lebih kurang sekitar satu dua menit, cukup. 


Sementara dalam pengadukan tadi, bundo sudah mendidihkan air dengan teh celup yang ada. Teh celup Sosro, sesuai ketersediaan di rumah pagi ini. Hingga tehnya pekat dan mendidih, sedikit ditambahkan ke dalam gelas. Lebih kurang setengah gelas terisi, diaduk lagi beberapa detik. 


Setelah semuanya homogen, ditambahkan lagi seduhan teh yang masih panas tadi hingga gelas hampir penuh. Dengan cara begini akan terlihat layer tipis nantinya. 

Teh telor tapai siap dihidangkan dan dinikmati. Akan terlihat 3 'layer', dan jika ingin terlihat 4 'layer' bisa ditambahkan dengan susu kental manis putih. 


Faktor merk teh sangat mempengaruhi warna teh telor saya pagi ini. Sebaiknya menggunakan teh Bendera karena warnya lebih pekat dan lebih syantik lagi ketika sudah jadi. 


Dan untuk 'topping'-nya bisa digunakan susu kental manis coklat atau bubuk coklat, ataupun serbuk halus pinang muda. 


Tetapi berhubung apa yang saya buat pagi ini sudah cukup manis, topping yang biasa saya temui di kedai teh telor lainnya tak saya gunakan.  Tetapi jika tuan dan puan mau menggunakan topping ini, rahasianya sudah saya sampaikan. 


Dan jika mau menghilangkan rasa 'anyir' kuning telor bisa ditambahkan dengan seiris jeruk nipis. 


Alhamdulillah, pagi ini saya menikmati teh telor dengan tape goreng. Bihun goreng dinikmati oleh si Kakak dan sang Adek beserta bundo.



Dalam masa PPKM ini, memang kreatifitas kita diasah. Dan efek jajan di luar selama ini bisa dipraktekan di rumah. Soal rasa kagak kalah dibandingkan dengan teh telor nikmat yang pernah saya saya rasakan di tempat lain selama ini. Trik untuk membuat layer pun dapat. 



Sayang, rahasia teh telor 5 tingkat, seperti yang pernah saya nikmati di Rantau Barangin Bangkinang belum saya ketahui. Memang waktu itu tidak banyak bertanya kepada ibuk yang membuatnya. Jika ada dunsanak yang tahu, silakan komentar di bawah ini ya. 


Teh telor 5 tingkat yang enak hanya ada di Rantau Barangin ini, yang pernah saya temui. Semoga suatu waktu nanti bisa ke sini lagi mampir, menikmatinya sembari menikmati indahnya jejeran bukit barisan tang hijau mempesona. 


#tehtaluatapai

#tehtalualamak


Parung Serab 21/07/21

06.54

Selasa, 20 Juli 2021

SilaturaHMI jo Antan

Alhamdulillah atas izin Allah menjelang siang tadi bisa ke rumah antan Prof. Dayar Arbain. Boleh dikatakan mendadak sifatnya. 


Semuanya berawal dari WA tadi malam dari salah seorang anak kesayangan Antan, Doktor Fith Khaira Nursal nan meminta tolong kapan bisa berkirim gulai tunjang buat Antan. Saya tak tahu bagaimana awalnya, tetapi yakin disebabkan postingan bu doktor farmasi ini di statusnya. Setelah selesai pesanan ini, baru saya lihat status beliau yang ternyata sudah rame sekali. Respon dari ni Yasmatori Yusra, da Gustampera Syawir dan Gressy Novita, sambung menyambung. Saya baca dengan detail, tetapi saya tak mau ikut menanggapi. Takut ke-geer-an duluan saja saya nya. 


Disebabkan ada agenda pagi ke kemenag Kota Tangerang pagi ini yang sudah terjadwal, saya diskusikan semuanya dengan sang Bundo. Dan akhirnya kita usahakan semuanya bisa ready. Semuanya buat Antan. Karena Nova anak Antan juga. 


Selepas subuh dan zikir pagi saya bersegera ke pasar Ciledug, melengkapi kebutuhan dapur sang Bundo dan sesegera mungkin balik, karena kita akan 'berpacu' dengan waktu. Janji jam 10 di Kemenag jangan sampai telat. Diperkirakan di sana hanya sebentar saja, dan bisa langsung masuk tol lagi menuju Savarna Sutera di Cikupa sana. Insyaallah jika dilaksanakan sesuai waktunya, semuanya akan terlaksana dengan pas. Sampai di rumah Antan bisa sekitar jam 12 siang. 


Alhamdulillah, sekitar jam 8.30 semuanya matang. Gulai tunjang, gulai tambunsu dan dendeng lambok pun ready. Siap packing.


Kami semuanya pagi ini memanfaatkan waktu untuk keluar rumah semuanya. Sekedar refreshing bersama. Kakak yang sebenarnya ada urusan di kemenag. Kami selalu ortu hanya mendampingi. 


Jam 9 berangkat dari rumah dan mampir sebentar buat photokopi berkas dan lanjut menyisiri jalan yang rada sepi pagi ini hingga sampai di Living Word Alam Sutera mendapat telpon bahwa urusan di kemenag direschedule ke Rabu atau Kamis karena hal yang tak bisa dihindari. Sangat dimaklumi bahwa kondisi masih WFH dan kita harus taat i. 


Akhirnya kami menuju tol tangerang menuju Cikupa. Menuju sebuah kawasan elite yang dibangun pengembang dengan konsep tak jauh beda dengan BSD, Alam Sutera, Lippo Grup, Citra Raya yang punya akses pintu tol tak jauh dari gerbang utama. Perumahan yang mempunyai jalan yang sangat lebar, dua jalur. Area pemukiman nya sangat luas, bercluster cluster, meskipun masih banyak lahan kosongnya. Tetapi ke depan ini akan menjadi kawasan yang akan sangat berkembang dengan cepat. 


Tak lama berselang kami pun sampai di rumah Antan dengan diantar oleh sekuriti yang sangat ramah. Jejeran rumah yang sangat asri, yang di depannya ada taman yang luas tempat bermain ataupun buat nongkrong. Tamannya sepanjang jalan. Konsep hunian yang sangat mantap. Keren. 


Saya mengetuk pintu mengucapkan salam langsung di sambut istri Antan, yang kadang saya panggil ibu kadang ni Cema sesuai panggilan beliau di alumni. Saya perkenankan nama, Jeje, ni Cema langsung ingat dan memanggil Antan yang masih ada di kamar. 


Setelah Antan duduk, baru satu per satu bergabung Nova dan duo Dhi kami. Selain itu anak Antan pun baru pulang dari pasar. Putri satu satunya dari empat anak Antan dan ni Cema. Plus suasana bertambah meriah dengan adanya Uda Nabil dan adiknya Sarah yang memperkenalkan dirinya 'Putri Cantik'. Sang Putri ini langsung lengket dengan bundo Nova. Saking lengketnya dengan bundo membuat Dhifa anak kami sedikit cemburu. 


Sang Putri, cucu Antan ini, tak sungkan meminta jalinkan rambutnya, pasangkan jepit rambut, bernyanyi dan bercerita tanpa henti dengan Nova. Bahkan ketika sesi poto selalu ikut dan nempel dengan bundo Nova. Berbeda dengan sang Uda Nabil, yang masih jaga jarak dan sedikit pemalu. Beda banget dengan Antan. Hahahaaa



Lama kami ngobrol di rumah Antan ini. Maklum dalam kondisi seperti ini, kerinduan untuk bertatap muka sangatlah mahal. Namun prokes tetap kami jaga. Kami melepas masker hanya karena kebutuhan untuk sesi photo saja. 


Alhamdulillah sekitar jam 11.30 kami pun pamit meninggalkan rumah Antan ini. Meninggalkan kenangan yang sangat memuaskan bagi kedua putri kami. Dan juga bagi dua cucu Antan juga. 



Dari #dapurbundonova kami mengantarkan amanah dari anak Antan. Memperkuat ukhuwah, malapeh taragak sarato semoga bisa lo malapeh salero. :)



Alhamdulillah, dalam perjalanan pulang pun masuk lagi pesanan.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...