Minggu, 23 Oktober 2022

Nyekerman: Orjaka

Sabtu kemarin, pagi harinya menjelang jam 6 saya dan Bundo jalan kaki di sekitaran rumah. Ada lebih kurang satu setengah jam berjalan berdua. Dan siangnya badan terasa enak sehingga bisa tidur siang dengan nyaman. 


Tadi malam kami niatkan lagi untuk jalan kaki lagi namun dengan suasana yang berbeda. Pengen agak jauh dari rumah. Ada dua pilihan, yakni Boulevard Bintaro Jaya sektor 9 atau Boulevard Graha Raya Paku Jaya. Belum ada keputusan malam itu. 


Pagi tadi, saat subuh gerimis masih turun. Mengguyuri Parung Serab merata, entah sejak kapan. Namun subuh tetap masih bisa tertempuh ke Masjid Hidayatul Ikhwan. Ba'da subuh gerimis halus masih tersisa. Dan terus habis tak bersisa menjelang jam 6.


Jam 6.30 kami keluar rumah menuju de Lapau di Graha Raya. Melewati Parung Serab, menuju jalan Akasia tembus di belakang nya Cluster Fortune Graha Raya dan akhirnya ketika anggota de Lapau masih bersiap siap membuka "Lapau" nya, saya izin menumpang parkir motor di halamannya. Say hello pagi dengan mereka, saya dan Bundo lanjut jalan kaki sepanjang jalan Boulevard Graha Raya. 


Sandal saya gantung di motor sengaja nyeker biar tapak kaki ini lebih kuat. Lebih kuat lagi menahan kerikil kerikil yang akan di temui di sepanjang jalan nanti. Bundo tetap dengan sepatunya. Tak mengapa. Karena memang telapak kaki saya agak tegang akhir akhir ini. Namun kemarin selepas jalan kaki, agak mendingan. Saya memahami bahwa kesehatan kita tergantung juga kepada sehatnya telapak kaki. 


Sengaja saya memilih di sini ketimbang Boulevard Bintaro Jaya sektor 9 dengan pertimbangan bahwa akan banyak menemui kulineran di sepanjang jalan di Graha Raya ini. Ini yang kami cari. Berdua menyusuri jalanan Raya ini dengan sesekali bergandengan tangan, bahkan rangkulan dan candaan menambah kemesraan kami yang memang lagi "pulang pokok" sementara ini. 



Banyak hal yang kami diskusikan, terutama dalam melihat usaha kulineran yang ada di kiri kanan jalan. Ada yang rame ada juga yang sepi. Ada yang di emperan toko dengan waktu terbatas, ada juga yang di gerobak, ada juga yang menggunakan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Dan tentu yang berupa ruko pun tak ketinggalan. 


Dalam perjalanan ini tak lupa kami diskusikan juga tentang Ethylene Glycol yang heboh dalam beberapa waktu belakangan ini. Obat batuk yang ditarik dan dilarang pemerintah. Seberapa sering anak anak kami mengkonsumsinya dulu. Namun dari 5 brand yang dinyatakan pemerintah dilarang saat ini, alhamdulillah berkemungkinan besar tak satu pun yang dikonsumsi oleh anak anak kami. Saya percaya selama ini sang Bundo lebih selektif dalam hal konsumsi obat. Andai tak terpaksa, takkan diberikan sama sekali. Andai pun terpaksa, selalu dengan dosis serendah mungkin. Alhamdulillah, beruntung punya istri seorang pharmacist. Dan tak lupa tentang peluang bisnis #dapurbundonova ke depannya, dalam bentuk format off-line tentunya. Sssttt, diam diam aja ya. Masih dalam rencana soalnya. 


Satu setengah jam berjalan bolak balik, dari de Lapau hingga Gardenia Loka, kami tempuh dengan jarak 5,6km. Dan akhirnya "kampung tengah" pun terasa berontak. Sudah ada signal yang sampai ke otak dan terucap melalui bibir dan lidah, menjelang pasar Modern Graha Raya. Sepertinya Soto Surabaya, Soto Tangkar yang tadi mau dinikmati di jalan akan tergantikan oleh Soto Padang saja. Membawa perut yang terisi agak berat, sementara titik perhentian sangat tanggung.


Di de Lapau akhirnya nya kami rehat, bisa duduk di sofa nya sambil menuliskan perjalanan pagi ini. Lama sudah tak menulis panjang seperti ini, sesantai ini sambil ditemanu sangat Bundo yang menikmati kajian onlinenya. 


Rehat kami pagi ini, sambil menikmati segelas teh telor dan teh tawarnya, seporsi Soto dan Nasi serta Mie Tahu. 


Graha Raya Fortune District

08.50, 23 Oktober 2022.

Jumat, 16 September 2022

Hari I: 30 Tahun Forsika 92

 

Sabtu pagi setelah landing di BIM kami dijemput oleh Ananda Putra. Hyundai H-1 berwarna hitamnya telah siap mengantarkan kami menuju Kampus Unand Limau Manih. Kapasitas yang besar menampung kami berempat dan dua lagi teman yang juga sudah sampai di Bandara. Siti Gemala yang dari Payakumbuh dan Murdahayu Makmur dari Batusangkar juga telah sampai di Bandara Internasional Minangkabau, plus Lady Yulia yang duluan terbang dengan Batik Air juga sudah standby ketika kami landing. 


Bagasi yang besar memuat semua koper, satu unit printer dan satu dus berisi 40 mug mengisi bagasi mobil Nanda ini. Delapan orang kami di dalam mobil, langsung keluar Bandara, menuju jalan by pass untuk selanjutnya menuju kampus. Agak berdebar juga di jalan disebabkan Sabtu ini juga ada acara wisuda di kampus Universitas Andalas. Sudah barang tentu kemacetan akan terjadi. 

https://youtu.be/zUkSQOZ0HYc

Alhamdulillah ternyata apa yang kami takuti tak terjadi. Lancar meskipun ketika memasuki gerbang kampus aura wisuda itu sudah mulai terasa. Ada banyak pedagang yang menjual bouket untuk para wisudawan. Dan sebelah kiri di area kampus kami melihat ada SPBU Unand yang baru lanching kemarin. 

Ada diantara kami yang sudah lama tak ke kampus. Terkaget kaget dengan perubahan kampus yang sangat pesat dibandingkan ketika kami dulu berstatus mahasiswa. Ada banyak prodi dan fakultas baru juga. Suasana kampus juga sudah berubah. Pepohonan rindang di sepanjang jalan sangat menyegarkan mata. 

Ketika sampai di area kampus FMIPA, Hyundai berbelok ke kiri menuju lahan parkir dosen Kimia. Dan ternyata teman teman yang dari Padang dan Pekanbaru sudah berkumpul di gazebo. Banyak yang hadir dengan menggunakan seragam yang telah kami kirim sebelumnya. Namun ada diantaranya yang harus menunggu baju yang saya bawa. Di dekat pintu menuju departemen kimia ternyata sudah terpasang spanduk kami. 

Berkodak sebentar di sini, kami langsung menuju ruangan yang sudah disiapkan oleh adik adik pengurus Himka. Ruangan yang dulu berada di dekat kantin Farmasi yang dulu. Ketika Farmasi masih berstatus jurusan, belum berubah menjadi Fakultas. Ruangan yang adem dengan pendingin yang telah dihidupkan sebelumnya oleh adik adik kami ini. 


Berhubung ketua departemen Kimia masih menghadiri acara wisuda di tingkat Fakultas acara kami mulai lebih dahulu. Kadang kadang kita harus flexible juga, harus kreatif mengatur agenda jika tetiba ada hal yang berubah mendadak. 

Acara kami mulai dengan ramah tamah, saling memperkenalkan diri masing masing dengan adik adik Kimia dan berbagi pengalaman. Sharing experience ini kami pandang perlu, sebagai penyemangat bagi mereka sebagai aktifis kampus. Alhamdulillah kolektivitas kami selama ini menjadi point penting yang perlu kami tularkan. Bagaimana pentingnya membangun ukhuwwah, membangun kebersamaan selagi menjadi mahasiswa. Waktu yang sempit ketika mahasiswa harus bisa dimaksimalkan. Maksimal dalam study, juga maksimal dalam beraktivitas sebagai aktifis kampus. 


Sebelum adzan zuhur berkumandang, kami lanjutkan dengan makan siang bersama. Alhamdulillah berkat koordinasi yang apik dari Nanik dan Trisna Juita lauk yang disuguhkan luar biasa mantap. Sabana lamak. Porsi nasi boxnya super jumbo. 


Setelah makan kami, lanjutkan sholat di Masjid FMIPA yang berada agak di atas gedung yang kami tempati. Sembari menunggu pak Mai Efdi yang menjabat sebagai Kadept Kimia wisuda, sebagian kami melepaskan kangen dengan mampir ke kantin Uncu. 

Tak lama kemudian kami lanjutkan acara. Masih ada teman teman yang baru datang. Ada yang dari solok dan Bukittinggi juga. Alhamdulillah luar biasa respon teman teman Forsika 92 dalam reuni 30th kebersamaan kami. Acara dimulai dengan sambutan dari pak Ketua Dept. Kimia, sambutan dari kami dan penyerahan hadiah sebagai bukti cinta masih kami kepada pengurus Himka. Sebuah printer yang juga bisa digunakan untuk sacnning dan photo copy semoga bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk urusan kemahasiswaan. 

Ada sepuluh orang pengurus Himka yang berhadir. Kehadiran mereka so special bagi kami. Mereka menyaksikan bagaimana membangun kekompakan dan itu terasa hingga saat ini, seperti kami ini. Alhamdulillah, apa yang kami berikan diterima dengan baik oleh Tommy dan sekretaris nya. 

Sekitar jam tiga kami lanjutkan perjalanan kami menuju masjid Al Hakim di pantai Padang. Melepas taragak dan juga menikmati suasana sore di Taplau, nama yang selalu kami kenang. Taplau selalu penuh arti. Sebagian teman teman ada yang sholat ashar di sini juga. Tentu takan ada artinya jika suasana sore ini dinikmati dengan berkodak pula. 

Menjelang maghrib kami lanjutkan perjalanan menuju Lubuk Minturan. Menuju Villa Rumah Kayu yang telah kami booking sebelumnya. Namun tak semua dari kami yang hadir di kampus tadi siang, bisa nginap bareng. Sebagian ada yang langsung pulang ke Sicincin dan Bukittinggi.



Penginapan yang asri telah menunggu kami, lengkap dengan hiburan orgennya. Tak lupa makan malam disiapkan oleh Ina. Selain makan nasi, ada juga jagung bakar dan duriannya. 


Kami nikmati suasana selepas sholat isya hingga menjelang jam 11 malam. Suasana sangat rame karena sebagian teman teman ada juga yang suka berdendang.

Minggu, 11 September 2022

Simpang Amak Juri

Salah satu pojok kampus yang sangat fenomenal ketika pindahnya kampus FMIPA Unand dari Air Tawar ke Limau Manis awal tahun 90. Pojok ini adalah tempat "transit" nya mahasiswa ketika transisi mata kuliah, saat ujian, saat menunggu jam praktikum, saat melepas penat dan stress serta saat ma-intai sekalipun. 


Bagi yang kuliah di era 90 hingga awal 2000an pasti ingat tempat ini. Amak Juri, bukan lah nama sebenarnya amak yang menjual dagangannya. Aneka gorengan, cemilan ringan dan rokok tersedia di sini. Amak Juri yang menjualnya adalah amak yang sangat sangat sabar. Saking sabarnya beliau bahkan beliau ikhlaskan ketika ada di antara "anak anak"nya makan tanpa bayar saat itu. Bayarnya bisa nanti nanti saja. Namun adakalanya ada juga yang lupa atau memang tak punya uang saat itu. 


Amak juri mungkin sudah almarhum, tetapi "anak anak" amak Juri banyak yang sudah jadi orang. Banyak yang sudah sukses, tetapi tak sedikit yang ingat betul jasa amak Juri ini. Jasa ketika dulu tak ada uang boleh ngutang jajanan dengan amak juri ini. Ketika sudah bekerja dan sukses, banyak yang sudah "membayar utang" saat pulang ke kampung halaman. Sengaja mampir ke Unand, pastilah singgah di simpang ini. Kangen dengan sang Amak yang jadi alasan, padahal bayar hutang. 


Saya sendiri entah tahun berapa masih bertemu dengan Amak Juri ini. Wajahnya masih sama, selalu ceria, apa adanya. Amak juri selalu enak diajak bercanda. Senyum nya senyuman seorang amak yang sayang betul dengan anaknya. 


Dan bagi mahasiswa tahun satu dan dua, simpang Amak Juri ini adalah tempat "angker". Angker nya terasa saat ada mahasiswa senior yang duduk di sana. Biasanya mahasiswa akhir yang masih berkutat di Lab Penelitian ataupun yang menunggu masa masa wisuda. Maklum saat itu wisuda dilaksanakan hanya dua kali setahun. Jadi masa menunggu wisuda itu selalu dimanfaatkan "ma-intai" adik kelas. Syukur syukur ada yang bisa jadian, lumayan mendapatkan teman sebagai pendamping wisuda. Dahulu ketika akan wisuda sudah tersebar sas-sus siapa PW-nya. Dan dari simpang Amak Juri ini ada yang jadian, termasuk salah satu dari teman angkatan Kimia 92.


Simpang Amak Juri ini juga adalah simbol kebersamaan di kalangan mahasiswa FMIPA. Baik sejak tiga jurusan, hingga bertambahnya jurusan Fisika dan Matematika di tahun 1996 melengkapi Jurusan Biologi, Kimia dan Farmasi. Hampir semua aktifis dari segala jurusan nongkrong nya di sini. Penat dengan suasana di HIMA ataupun di Senat dan BPM, simpang Amak Juri ini adalah pelepasan segalanya. 


Dengan cemilan bakwan, kapel sagan, kacang tojin, kopi sachet dan sebatang rokok di tangan, terasa beban dunia kemahasiswaan dan berat penelitiannya selalu menjadi ringan. Obrolan dengan amak Juri sebagian besar menjadi obatnya. Curhat dengan Amak Juri dan ma-intai mahasiswa baru yang seger seger lewat adalah suatu hikmah.


Sekarang Simpang Amak Juri sudah lengang. Sudah tak ada lagi yang jualan di simpang ini. Mahasiswa sudah sangat rame, nggak ada tempat buat menggelar dagangan di simpang ini. Fenomena Amak Juri ini memang hanya milik kami, generasi awal kampus pindah ke kampus yang berada di puncak bukit Karimuntiang. Dari kampus ini terlihat indahnya kota Padang. Batas laut dan daratan tampak jelas. Indahnya alam tiada duanya ketika berada di sini. 


Nama Amak Juri menjadi kegenda bagi kami. Amak Juri sudah "membesarkan" banyak anak anaknya. Banyak yang merantau di hampir seluruh pelosok negeri ini, tetapi ada juga yang menjadi saksi sejarah dengan menjadi tenaga pengajar di Universitas Andalas. Ada beberapa "anak amak juri"  ini yang sudah bergelas Profesor, baik di FMIPA maupun di Fakultas Farmasi. 


Tulisan tentang Simpang Amak Juri ini terinspirasi dari permintaan kakanda Hermanto GrosirIkanairtawar Sumatera sabtu kemarin. Ada kerinduan beliau, karena saya termasuk saksi bahwa da Manto ini paling sering duduk di sini. Menjadi teman bagi Amak Juri sekaligus pelanggan setianya. 


Villa Rumah Kayu, Lubuk Minturun

11/09/2022: 05.15

Jumat, 09 September 2022

Tetaplah Menjadi Baik

Tetaplah Menjadi Baik

Tetaplah Menjadi Tauladan


Karena di luar sana banyak yang belum mengetahui ajaran ajaran nilai Gontor. 


#####


Alhamdulillah, anak kami yang sulung alumni Gontor Putri Kampus Tiga Mantingan Ngawi. Selesai pengabdiannya juga di Gontor Putri Kampus 7 Rimbo Panjang Pekanbaru Riau sebagai ustadzah. Total waktu di Gontor tujuh tahun lamanya. 


Alhamdulillah berkat didikan di Gontor secara usia dia jauh lebih matang, lebih dewasa dibandingkan teman teman seusia.Kami yang juga berkecimpung di dunia pendidikan dapat merasakan bedanya. Terutama bunda nya yang mengajar di sekolah menengah atas, tahu persis bagaimana menilai anak seumurannya. 


Cara berpikir, bersikap dan bertutur, sangat lah beda. Dari segi kemandirian tak terkalahkan dibandingkan kami saat sma ataupun ketika tamat kuliah sekalipun.Benar benar terlatih dan terdidik. 


Untuk urusan kuliah ke Pakistan sekalipun, dia yang mengurus semuanya. Alhamdulillah, lancar. Bahkan saat ini di kampus IIUI sering aktif membantu kegiatan di KBRI. Andaikan bukan karena didikan Gontor, saya yakin takkan seperti ini. 


Anak yang kedua saat ini ada di Gontor Kampus Dua Ponorogo. Kelas 5 setara kelas 11 SMA. Sama saja dengan kakaknya. Dewasa cara berpikirnya. Aktif juga di Gontor. Siap memimpin dan siap dipimpin. Gontor membuat dia berbeda dibandingkan teman seusianya. 



Sekali lagi, kami bangga menjadi wali santri dan wali ustadzah Gontor. InsyaAllah Gontor masih tetap menjadi institusi pendidikan terbaik di negeri ini. Gontor itu dinamis. Gontor itu juga adaptif. Gontor selalu dan akan selalu berbenah, selama itu di Jalan Allah. 


Terimakasih Gontor dan para kyainya. 97 tahun perjalanan, banyak hikmah dan tantangan

Minggu, 21 Agustus 2022

Ayo Naik Bus!!!

Judul di atas merupakan tagline di baju dinas salah satu agent armada PO Bus di terminal Pondok Pinang Lebak Bulus pagi tadi menjelang jam 7. Tagline yang menarik buat teman teman di jalur trans Jawa dan Sumatra beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak Covid merebak dan harga tiket pesawat yang meroket. Harga tiket yang meroket, jalur toll yang terus mengular di Jawa dan Sumatra, membuat armada PO bus saling bersaing dengan memberikan fasiltas yang sangat memanjakan para penumpangnya. Bahkan Bus dengan fasilitas bak hotel berjalan mulai bermunculan, dengan julukan sleeper busnya. 


Begitu juga dengan kami saat ini. Saya dan Bundo yang sudah "pulang pokok" sebulan yang lalu, sudah mulai ancar ancar menjadi bisser mania. Untuk trip jarak jauh, baik ke Jawa ataupun nanti ke Sumatra sudah memperhitungkan bahwa lebih nyaman dan aman bagi kami berdua naik bus. Selain itu juga jauh lebih irit dari segi pembiayaan perjalanan. Badan pun tidak terlalu capek tentunya. 


Berbekal pemesanan tiket bebarapa hari yang lalu melalui aplikasi redbus, pergi dan pulang kami Tangerang Kudus PP, menggunakan Bus dengan armada yang berbeda. Hari ini dengan PO Haryanto dan esok sore InsyaAllah dengan PO Kalingga Jaya.


Jam 5.30 tadi pagi kami naik bus Haryanto dari Terminal Lembang Ciledug, merambat Bus menghampiri agent nya sepanjang Ciledug Raya hingga masuk di Terminal Pondok Pinang. Di sana kami harus ganti Bus. Bus yang menuju kota Kudus pagi ini armadanya dari Ciputat, sementara bus yang kami tumpangi tadi menuju Wonogiri. Jadwal yang ke Kudus jam 7 berangkatnya. Sambil menunggu kedatangan bus saya menikmati se-cup Popmie, buat pengganjal perut pagi yang belum sempat terisi. Oh ya kami meninggalkan rumah jam 4.30 diantar oleh pak Ferry, tetangga depan rumah kami yang baik hati. Sholat subuh di masjid Jamie' menjelang perempatan Ciledug. Habis sholat baru ke agent PO Haryanto di pasar Lembang, menjelang setengah enam. 


Menjelang jam 7 bus datang saya dan Bundo langsung naik. Dua barang dititip di bagasi, satu kantong kresek berisi cemilan dibawa naik ke atas bus. Jam 7 bus berjalan dengan AC nya yang dingin membuat saya terlelap dalam perjalanan sepanjang jalur tol hingga Bekasi. Setelah itu gantian Bundo yang tidur. 

Kami ibarat menjalani "honey moon" saja. Banyak canda dan tawa dalam perjalanan ini naik bus saat ini. Perjalanan berdua seperti ini terakhir kami lalui pasca menikah. Di awal tahun 2002, naik bus Lorena dari kota Padang. Waktu itu kami kehabisan tiket. Maklum pasca menikah, masih suasana lebaran. Tiket habis di kota Bukittinggi. Dapat dua dengan Lorena pun dengan kursi terpisah dan itupun di kota Padang,sekitar 3 jam perjalanan dr kampung halaman. Apa daya, meskipun 'tersiksa' sebagai pengantin baru, dinikmati saja selama dalam perjalanan Padang - Jakarta. Nah kondisi itu kami jalani lagi, hari ini. 


Pengalaman sama terjadi lagi, tetapi hanya di setengah perjalanan. Hahaaaa. Kok bisa ya? 


Selama dalam perjalanan dari Lebak Bulus hingga bus yang kami tumpangi keluar di GT Kanci Cirebon, kami masih bersama. Duduk dibangku yang berdekatan di no 11 dan 12. Perjalanan lancar jaya, kecepatan bus di atas 100 km/jam. AC pun dingin banget. Namun menjelang keluar pintu TOL, bus mengalami kerusakan. Kecepatannya tak bisa dipacu. Maksimum hanya 40 km/jam. Dan akhirnya berhenti total setelah keluar pintu toll. Para penumpang dipindahkan ke tiga unit bus Haryanto lainnya. Dan akhirnya sata dan Bundo duduk di kursi yang berbeda. Saya di bangku nomor dua, Bundo di nomor tujuh. Bersyukur kami masih kebagian "seat", sementara penumpang lainnya ada yang duduk beralas kardus. Hehehee. Pengalaman yang penuh rupa, bagi kami berdua. 

Dan makan siang kami, sebagai servis bus di RM Menara Kudus. Masih milik PO Haryanto juga. Dan free, tak berbayar, layaknya bus Jawa umummya. Sekali servis makan ditanggung PO Bus. Saya makan dengan  ayam goreng dengan sayur labu plus kerupuk, sementara Bundo dengan Soto Kudus nya. Alhamdulillah makanan yang disajikan enak. Plus air minumnya, segelas teh manis hangat. Setelah makan kami sholat, dan segera balik ke bus yang sudah siap untuk berangkat. 

Alhamdulillah sampai saat ini perjalanan lancar, memasuki Kota Demak, bus mencari jalan alternatif biar sampai cepat di tujuan. Bus menghindari jalan utama Semarang Demak yang masih saja sering macetnya, terutama sore begini. 


InsyaAllah sebentar lagi kami sampai di Kota Kudus. Lebih kurang satu jam lagi. 


20/08/2022, 17.42 WIB

Masih di atas PO Haryanto

(Gladiator - Arunika)

Rekayasa Kasus

Baru baru ini muncul lagi rekayasa kasus yang terjadi di Cimahi. Korbannya purnawirawan TNI AD, mantan Dandim Tarakan oleh seseorang yang bernama ASENG. Pembunuhan yang sadis, terhadap Letkol M. Mubin ini sengaja diplintir oleh polisi setempat, dengan mengatakan bahwa pelaku kenal dengan orang dekat di Polda Jabar. Gilaaaaaa ya? 

Untung kasus ini di 'blow-up' oleh dua orang anggota DPR RI, dan bersambut oleh para mantan purnawirawan TNI AD. Andai korban adalah rakyat biasa, pasti sudah dianggap selesai, diselesaikan secara kekeluargaan atau dipeti-eskan. 


Rekayasa kasus oleh polisi di Cimahi ini muncul di tengah tengah hebohnya kasus pembunuhan polisi oleh polisi di Duren 3 Pancoran. Pelaku utamanya seorang Jendral yang sangat berkuasa di Mabes Polri. Ada yang menyebutkan bahwa jendral tersebut bintang dua, tapi kuasanya bak bintang lima. Dan dari terkuaknya kasus ini, sepertinya merembet ke banyak sejawat beliau juga. Dari rekayasa kasus Duren Tiga ini juga sepertinya akan merebak, menguak praktik kejahatan yang mengerikan di tubuh kepolisian. Hal ini tentu akan menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian secara drastis, jika tidak diselesaikan secara transparan. 


Tak tertutup juga kemungkinan kasus KM 50 yang menyebabkan tewasnya enam orang anggota salah satu Ormas terbesar di negeri ini, yang juga sadis, penuh dengan rekayasa. Rekayasa kasus, bahkan juga rekayasa politik sehingga Ormas ini pun akhirnya dibubarkan oleh pemerintah. Maklum sang Jendral dkk nya diduga terlibat dalam kasus KM 50 ini. 


Akankah semuanya terungkap secara gamblang dan menjadi rekayasa kasus terakhir di bumi pertiwi ini? Semoga saja. 


Semoga pak Kapolri dan seluruh jajaran dibawahnya bertekad membasmi dan menegakkan kembali marwah kepolisian dengan sebaik baiknya. Marwah institusi adalah segala galanya. Mengembalikan kepercayaan masyarakan terhadap polisi adalah suatu keharusan. 


Polisi pengayom masyarakat, bukan pelindung para penjahat. Polisi seperti almarhum Jendral Hoegeng harus dikloning sebanyak banyaknya. Polisi harus bisa menjadi tauladan dan kebanggaan masyarakat. 



#####


https://www.viva.co.id/militer/militer-indonesia/1511154-geger-isu-rekayasa-polisi-letkol-ditusuk-ternyata-sohib-panglima-tni?page=3


Ditulis di atas PO Haryanto

Jam 06.00, 20/08/2022

Senin, 15 Agustus 2022

30 tahun Forsika 92

Forsika 92 itu adalah nama angkatan kami, yang merupakan singkatan dari Forum Silaturahmi Kimia Angkatan 92. Penamaan ini melekat sejak kami mulai kuliah di FMIPA Universitas Andalas, Kampus Limau Manih sejak Agustus 1992.


Penggodokan nama ini dilakukan di awal awal perkuliahan, dengan diskusi yang asyik saat itu bersama 72 anggotanya. Jumlah kami sebagai mahasiswa baru, waktu itu totalnya 72 orang, namun beberapa waktu menyusut karena ada yang pindah, baik pindah fakultas ataupun pindah ke Universitas lainnya. Yang pindah di lingkup Universitas Andalas antara lain ke fakultas kedokteran ada dua orang, ke fakultas ekonomi dua orang. Yang pindah ke Universitas Bung Hatta satu orang, ke Universitas Budi Luhur satu orang, ke Universitas Padjajaran satu orang dan yang tak melanjutkan studi satu orang. Namun alhamdulillah kami juga mendapat satu orang teman pindahan dari Universitas Bengkulu juga. 


Kami bersyukur bahwa kebersamaan itu tetap terawat hingga saat ini. Bukan hal yang mudah melewatinya, bagi sebagian orang ataupun angkatan lain seperti kami ini. Panjang perjalanan yang sudah kami jalani. Panjang nya itu mungkin karena kami dulunya suka jalan jalan juga. Jalan Jalan itu ya JJ juga ya singkatannya? Hahaaaaa... 


Bukan, bukan itu tentunya. Yang membuat bersatu itu mungkin karena merasa senasib sepenanggungan. Marasa anak anak rantau di kota Padang pada umumnya. Digembleng dalam masa ospek yang lumayan juga, baik ditingkat jurusan ataupun ditingkat Fakultas. Satu semester tak terasa, masa masa itu disetiap pekannya. Kami mengalami masa perkuliahan dan praktikum lab yang sama dan lama. 


Sama sama jadi asisten lab ketika sudah merasa senior di kampus. Sama sama "berhondoh-pondoh" ketika ada kesempatan mendapatkan beasiswa. Nah dua point terakhir ini yang membuat kami sering jalan jalan ataupun camping. Boleh dikatakan ketika beasiswa cair ataupun menerima "gaji" sebagai asisten Lab di akhir semester, semuanya, yang punya uang ini, kompak saweran mengeluarkan uang untuk refreshing. Jalan jalan dengan menyewa bus kampus ataupun bis kota ke lokasi lokasi wisata di luar kota Padang, entah itu ke Bukittinggi, Solok dan Batusangkar. Atau seminim minimnya anggaran jalan jalan ke Batu Busuak atau pantai Padang. 


Begitu juga ketika sudah mulai penelitian. Banyak saling bantu, saling menemani teman di kab hingga malam menjelang. Bagi sebagian yang menjadi aktifis kampus, sebagian lain pasti menjadi partai pendukungnya. Aaaah banyak lagi kebersamaan itu.. Walau sudah berlalu, banyak hal hal manis untuk dikenang. Mendaki gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Camping bersama saat Periodecal Camp, Kemah Bakti Mahasiswa dengan malam bagamaik nya, lain lagi ceritanya. Lain lagi pesonannya. Intai maintai sesama teman, ataupun kepada adik adik praktikan ataupun adik angkatan, beda lagi nuansanya. Banyak yang tak jadi, lain persoalan. Hahaaaa.... 


Ketika tamat kuliah, satu per satu melanjutkan perjuangan di perantauan. Mulai punya pekerjaaan, namun tiap gajian tetap aja makan makan sekalian traktiran, atau pun sesekali nginap di kawasan Puncak pada jamannya, namun semuanya tetap sebagai teman. Tak kenal dengan istilah pacaran sesama teman, kecuali yang sudah bawaan sejak dari kampusnya, manalah bisa kita tahan. Namun yang begini hanya sepasang saja, alhamdulillah sampai saat ini tetap bertahan. 


Lanjut ada penghasilan, kami pun beberapa kali memberi santunan beasiswa bagi adik angkatan. Beasiswa Forsika namanya. Ada beberapa tahun lamanya. Namun setelah itu beasiswa beralih buat anak anak kami secara internal, di tiap semester nya dan di hari lebaran. 


Dan di dunia kerja, sebagian besar kami adalah orang orang yang betah. Sangat jarang berpindah pekerjaaan. Banyak yang di swasta, banyak juga yang di dunia pendidikan, baik di perguruan tinggi ataupum di sekolahan. Yang mengabdi di kampus ada yang tetap Universitas Andalas, di Universitas Negeri Padang, di Universitas Bengkulu, Universitas Riau, Universitas Jambi dan Universitas Sriwijaya. Hingga saat ini yang sudah bergelar Profesor ada dua orang. Ada rasa bangga bagi kami di angkatan. 


Yang menjadi guru juga banyak, baik di Bukittinggi, di Padang Panjang, di kota Padang, ataupun di Jakarta. Yang menjadi ASN di kantor pemerintahan juga ada. Ada yang kami panggil bu Kakan. Terakhir yang merintis usaha kulineran juga ada... 


Tetapi apapun pekerjaaannya, apapun jabatannya, ketika kumpul bukan itu yang ditanyakan. Bukan itu yang dibangga banggakan. Tetapi canda gurau, gelak tawa hampir tak ada batasannya. Bagarau masih co dulu juo, masih sarupo katika berstatus mahasiswa. Ndak banyak nan berubah. Alhamdulillah... 


Dan saat ini kebersamaan itu sudah memasuki usia 30 tahun. Suatu perjalanan yang panjang tentunya. Masa perkuliahan kami rerata hanya 5-6 tahun, tetapi langgengnya persahabatan itu terasa hingga sekarang, bahkan menurun ke anak anak kami, meskipun belum semuanya. Tetapi  anak anak kami yang di Jabodetabek dan Bandung, sudah saling kenal satu sama lainnya. Begitu juga teman teman yang berdomisili di Padang Sumatra Barat, Pekanbaru Riau dan Batam Kepulauan Riaunya. Alhamdulillah semuanya karena sering berkumpulnya sejak dulunya.


Agenda ulang tahun perak Forsika, lima tahun yang lalu masih saja terbayang keriuhannya. Masih tersimpan rapi di FB kawan kawan sadonyo. Dan tahun ini, InsyaAllah akan kita rayakan kembali di angka 30. 


Tak terasa sudah 30 tahun kita bersama. Akan ada keseruan ketika saat saling sapa, saling jumpa. Ada banyak kebahagiaan tentunya. InsyaAllah, 10-11 September jadwalnya. Kita akan bersua di kampus Limau Manih Universitas Andalaa dan Padang Kota Tercinta. 


Siapkan waktunya. Siapkan keseruannya. 

Taragak Basuo menjadi temanya.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...