Jumat, 25 Juni 2021

Orjaka

 Orjaka


Hari ke empat olah raga jalan kaki pagi ini, berturut turut. Menjaga stamina, mengokohkan kaki kaki sebelum menikmati lintas sumatra sebentar lagi. 


Dari kaki semuanya bermula. Kaki sehat, tubuh sehat, apapun nikmat. Kaki yang kokoh, insyaAllah 1.300km antara Tangerang-Bukittinggi akan terasa ringan.


Kegiatan seperti ini rutin saya lakukan selama ini sebelum melaksanakan trip lintas jawa maupun sumatra. Setidaknya sebulan sebelumnya sudah disiapkan. 


Jogging ataupun jalan kaki seperti ini sangat dinikmati. Entah pagi ataupun sore hari.  Satu jam jalan kaki itu setara dengan 6.000 langkah, lumayan buat membakar lemak, mengeluarkan keringat. 



Trip sumatra menunggu jadwal yang tepat. Mood langsung jalan, insyaAllah. Stamina yang utama. Dengan stamina yang kuat apapun yang dimakan akan terasa nikmat. 


Daaaaan buat sobat yang di Jkt dsk #dapurbundonova akan libur nanti selama lebih kurang dua atau tiga minggu lamanya.

Rabu, 16 Juni 2021

Hikmah: Kisah Handuk Basah Di Atas Kasur

Seorang istri memiliki seorang suami yang mempunyai kebiasaan meletakkan handuk basah di atas kasur.


Si istri sering ngomel pada suaminya. Namun suaminya tak berubah.


Capek marah marah, si istri mulai ganti cara dengan menyindir nya.

"Bagus sekali ada handuk basah di tempat tidur!" dengan nada sinis, "Atau Kapan ya handuk bisa jalan sendiri ke jemuran."


Apakah suaminya berubah? Tidak....

suami malah makin sebel sama si istri.


Akhirnya si istri merasa capek, marah sudah, nyindir sudah tapi tak ada hasilnya.


Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yang sudah menjadi kebiasaan dari kecil, akhirnya si istri mengubah pikirannya sendiri!!


"Baiklah handuk basah ini akan menjadi permadani ku di surga nanti, semakin banyak aku memindahkan handuk basah ini ke jemuran,makin  banyak permadani indahku di surga."


Setiap melihat handuk basah di kasur di istri tersenyum bergegas menjemur nya. Perasaannya bahagia.


Apakah handuk nya berubah

Tidak....

Handuk basah tetap ada di kasur

yang berubah adalah cara pandang dirinya terhadap handuk basah itu.


Waktu berlalu... Si istri kaget

Tak ada lagi handuk basah di kasurnya.

Dia sudah lupa sejak kapan dia tidak melakukan nya.


Rupanya melihat keikhlasan istrinya

Sang suami tergerak untuk melakukan nya sendiri.


Inilah Management Qolbu & Mind set


Kadang ada hal sulit yang kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik maka ubahlah diri kita lebih dulu.


Selamat mengolah pikiran dan menjaga Hati Anda Sendiri.


Bahagia, sedih, syukur, mengeluh

Semua adalah tergantung diri kita

Kitalah yang memilih.



Selasa, 08 Juni 2021

Kisah Nyata: Ayah Super

PAK SAIFUDDIN, KISAH JUANG WALISANTRI GONTOR YANG MENGINSPIRASI

-----------------

Cerita yang panjang, tapi mudahan bermanfaat. :-)

----------------


KEMARIN, saya menjenguk anak lagi di Gontor Putri 2, Mantingan. Saya dapat informasi putri saya tertusuk paku. Saya khawatir lukanya parah lalu terancam kena tetanus. Makanya tanpa pikir panjang saya langsung cuss pergi ke Pondok Gontor Putri. 



Karena bukan hari libur, suasana Bapenta (ruang tunggu tamu) sangat sepi. Hanya ada dua walisantri yang saya jumpai. Salah satunya Pak Saifuddin yang fotonya saya pajang ini. Gagah kan? Hehee.


Selama beberapa kali mengunjungi Pondok Gontor Putri, saya tak pernah berjumpa dengan beliau. Pertemuan sore kemarin, adalah kali  pertama saya  berjumpa dengannya. Walaupun demikian, kami cepat akrab. 


Pak Saifuddin adalah tipe orang yang senang bercerita. Sementara saya, adalah seorang yang senang mendengarkan orang bercerita. Maka kloplah sudah kami berdua. :-)


Pak Saefuddin adalah seorang walisantri. Anaknya, Nurbainah seangkatan dengan anak saya yang masih duduk di kelas 1 KMN (setara dengan kelas 1 SMP) Gontor Putri 2 Mantingan. Asrama anaknya sama dengan Asrama yang ditempati putri saya. 


Pak Udin mengaku bekerja sebagai kuli bangunan. Ia berasal dari Dukuh Lo Bulakamba, Kabupaten Brebes. Jarak tempat tinggal beliau dari Pondok Gontor Mantingan sekitar 300 Km atau sekitar 10 jam perjalanan dengan menggunakan bis umum. 


Selama anaknya mondok di GP2, ia mengaku telah belasan kali mengunjungi anaknya. Tidak menggunakan bis umum, tapi menggunakan motor roda dua. 


Pak udin bercerita, kalau ia berangkat dari kampungnya pukul 9 malam, maka ia akan sampai di GP2 sekitar pukul 7 pagi. Selama 10 jam menempuh perjalanan itu, Pak Udin hanya berhenti 3-4 kali. 


Di tengah perjalanan itu, seringkali Pak Udin menerobos hujan. Tapi ia tak peduli. Ia enggan berhenti walau rintik hujan tajam menerjang. 


“Kalau menunggu hujan berhenti, saya tak bakalan sampai. Waktu saya akan habis di perjalanan”, ujar Pak Udin sambil tersenyum. 


Semua itu ia lakukan demi anaknya, Nurbainah. Nurbainah adalah putri pertamanya. Anak keduanya juga seorang perempuan. Sekarang masih duduk di kelas 5 SD.


"Saat masih remaja, saya pernah sangat ingin belajar di pesantren. Tapi sayang, ayah saya tak mengijinkan. Saya diminta ayah saya mengurus adik-adik saya serta membantu ayah saya mencari nafkah buat menghidupi keluarga. Akhirnya saya harus memendam cita-cita saya", ujarnya.


Pak Udin terpaksa harus mengikuti permintaan ayahnya. Setelah menamatkan sekolah dasar, Pak Udin tak melanjutkan sekolahnya. Ayahnya tak mampu membiayai sekolahnya. Sementara tenaganya sangat diperlukan untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. 


Namun, pada saat itu, Pak Udin bernazar bahwa jika nanti ia memiliki anak, maka anaknya harus bisa sekolah di Pesantren. “Tak apalah jika saat ini saya tak tak bisa sekolah di pesantren. Tapi anak saya nanti harus bisa”, begitu cerita Pak Udin mengenang masa mudanya. 


Saat telah dianugrahi anak, Pak Udin mendidik anak-anaknya agar giat belajar. Ia berharap anak-anaknya kelak harus bisa belajar di Pondok agar dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi darinya. 


Nurbainah, putri tertuanya itu lalu tumbuh sebagai anak yang cerdas. Menurut Pak Udin, anaknya selalu rangking satu di kelas. Prestasi belajarnya juga sangat menonjol di seluruh kecamatan. Anaknya bahkan sering dikirim oleh sekolah untuk mewakili kecamatan mengikuti berbagai lomba di tingkat Kabupaten. Dan dalam aneka perlombaan itu, anaknya selalu menang.


Saat lulus Sekolah Dasar, seorang kepala sekolah SMP negeri menawarkan putrinya masuk tanpa syarat apapun.  Bahkan tanpa membayar biaya sepeserpun. Tapi tawaran itu ditampik Pak Udin. Pak Udin tetap fokus pada tekadnya. Ia tetap ingin menyekolahkan anaknya di pesantren. 


“Lalu kok bisa pilihannya di Gontor, Pak? Emang dapat informasi dari mana?”, tanya saya.


“Dari Internet!”, ujarnya.


Pak Udin lalu bercerita ia tak punya satupun teman yang bisa ditanyai tentang pesantren terbaik. Rata-rata teman seprofesinya tak tamat SD pula. Walau demikian, Pak Udin ternyata bukanlah manusia gaptek. Ia berupaya mencari informasi lewat internet. 


“Trus apa yang Bapak ketikkan saat mencari informasi di Internet?”, tanya saya penasaran.


“Saya ketik ‘pesantren modern’ saja. Trus keluar Pesantren Modern Darussalam Gontor”. Ujar Pak Udin polos.


Sejak mengetahui PM Darussalam Gontor itu, ia semakin raji  mencari informasi yang berkaitan dengan Pondok Modern Gontor Darussalam. 


Informasi yang ia dapatkan itu lalu ia ceritakan pada anaknya. Ia bilang ke anaknya tentang kehebatan-kehebatan PM Gontor. Ia juga bilang pada anaknya, bahwa ia akan dapat cepat menguasai bahasa asing jika belajar di pesantren itu. 


Ternyata anaknya sangat berminat. Pak Udinpun tambah semangat. 


Pak Udin pun mencari informasi lagi tentang biaya masuk yang diperlukan dan aneka persyaratan lainnya lewat internet. Ia mencatat semuanya. 


Dari internet itu ia mengetahui bahwa biaya awal yang harus ia siapkan untuk masuk di PM Gontor sebesar Rp 5,3 juta.


“Saat itu saya tak punya uang sepeserpun. Jangankan uang tabungan, uang untuk makan sehari-hari saja seringkali kami kesulitan. Tapi saya berdoa kepada Allah siang dan malam. Saya yakin Allah Maha Kaya. Ia pasti akan mencukupi kebutuhan hambanya. Pasti!”, jelas Pak Udin mantab.


Lalu Pak Udin berikhtiar. Ia telah memantabkan diri agar bisa berangkat ke Pondok Gontor Mantingan pada tanggal 3 syawal. Masih ada beberapa hari untuk menyiapkan uang untuk mendaftarkan anaknya ke pesantren itu. 


Sayangnya semakin dekat waktu keberangkatan, Pak Udin tak kunjung mendapatkan rejeki. 


“Minimal saya harus punya uang Rp 10 juta. 5,3 juta untuk biaya masuk. Sisanya untuk perbekalan dan membeli perlengkapan mondok anak saya. Tapi hingga 3-4 hari jelang keberangkatan, saya belum mendapatkan uang sepeserpun”, jelasnya.


Tapi tak disangka-sangka, satu hari sebelum keberangkatan, Pak Udin mendapatkan rejeki. “Saya tak tau dari mana. Ada yang tiba-tiba membayar hutang, ada pula yang memberikan pekerjaan”, cerita Pak Udin. 


Singkat cerita, Pak Udinpun akhirnya berangkat bersama anaknya dengan bekal uang Rp 10 juta di tangan. Saat itu, ia dan anaknya berangkat dengan menggunakan bis umum. Ia tak berani naik motor karena tak tahu arah jalan. 


Setelah mendaftarkan anaknya di Gontor Putri, iapun meninggalkan anaknya di pesantren itu. Ia harus pulang kampung.


“Saya tak mungkin lama-lama menunggui anak saya. Saya harus bekerja kembali agar bisa menafkahi keluarga. Maka dengan berat hati, saya menitipkan anak saya yang masih kecil itu pada orang tua salah satu calon santri. Setelah itu, saya langsung balik kampung. Saya harus bekerja lagi”, ujarnya.


Menjelang pengumuman, Pak Udin kembali lagi ke Pondok Putri Mantingan. Kali ini ia mengendarai motor bebeknya. Ia beralasan, menggunakan motor lebih hemat. Kalau naik kereta atau bis biayanya bisa 90 ribu. Kalau naik motor hanya perlu mengisi bensin full tank sebanyak dua kali. Biayanya hanya sekitar Rp 40 ribu.


Setelah merayapi jalan berdebu dan terik matahari di sepanjang jalan, Pak Udinpun sampai di Pondok Gontor Putri 1 Mantingan. Ia telah tak sabar untuk mendengarkan pengumuman. 


Sayangnya, hingga pengumuman terakhir, nama anaknya tak kunjung disebutkan oleh pengelola pondok. Itu berarti anaknya tak diterima di Pondok idaman ayah dan anak itu. 


Kedua insan itu menangis tersedu-sedu sambil berpelukan. Sedih karena harus menerima kenyataan putrinya tak lulus ujian.


Namun, Pak Udin tak berlarut dalam kesedihan. Ia tetap bertekad, anaknya harus bisa sekolah di Pondok idamannya. 

Dan ia yakin bahwa Allah pasti akan memberikan jalannya. 


Akhirnya Pak Udin berencana memasukan putrinya ke Pondok Alumni. Pondok Alumni adalah pondok yang didirikan oleh Alumni Pondok Modern Gontor. Pondok Alumni ini biasanya membuka desk pendaftaran di Pondok Gontor. Tujuannya untuk mempermudah proses pendaftaran calon santri yang gagal lolos pada ujian masuk.


Tanpa menunggu lama, Pak Udin langsung mendaftarkan anaknya di Pondok Alumni. Ia berharap tahun depan anaknya bisa mencoba lagi ikut ujian masuk di Pondok Modern Gontor Putri.


Ayah dan anak itu berpantang pulang surut ke belakang. Perjuangan tetap harus dilanjutkan! Warbiyassah!


Maka hari itu pula, Pak Udin membawa anaknya menggunakan motor bebek SupraX andalannya untuk mendaftar ke Pondok Alumni di daerah Jawa Timur.  Setelah menempuh perjalanan darat selama 3 jam, Pak Udin sampai di Pondok Alumni yang dituju, lalu mengurus pendaftaran masuk anaknya. 


Setelah selesai, Pak Udin lalu bergegas pulang ke kampung lagi. Ia harus kembali bekerja karena perbekalannya sudah habis.


Setahun setelah mondok di Pondok Alumni, Pak Udin mengajak anaknya untuk mendaftar kembali ke Pondok Gontor Putri Mantingan. Anaknya ternyata masih bersemangat. 


Sayangnya, saat itu Pak udin tak mempunyai dana untuk membayar uang pendaftaran anaknya.


 “Saya kembali harus menyiapkan uang pendaftaran sekitar lima juta dan uang untuk biaya perlengkapan nyantri dan perbekalan sekitar 5 juta. Minimal saya harus punya 10 juta lagi. Dan saya tak punya uang sepeserpun saat itu”, ujar Pak Udin.


Pak Udin terus berikhtiar. Sembari memohon kepada Allah siang dan malam. 


Ia sangat yakin Allah akan kembali memenuhi kebutuhannya. “Saya sangat yakin Allah pasti akan memenuhi  kebutuhan hambanya. Saya kan tak meminta rejeki untuk hura-hura. Saya hanya meminta rejeki untuk kebutuhan anak saya dalam menuntut ilmu agama. Dan saya yakin Allah pasti mengabulkannya”, cerita Pak Udin.


Dua hari menjelang keberangkatan, uang yang diharapkan tak kunjung ada. “Eh sehari sebelum berangkat, tiba-tiba Allah memberi saya rejeki. Saya mendapatkan uang yang jumlahnya pas dengan kebutuhan saya. Dan uang yang saya dapat itu, bukanlah uang hasil utangan. Uang itu adalah uang yang berasal dari hasil kerja yang saya lakukan sebelumnya”, ujar Pak Udin.


Dengan bekal uang ngepas itu, ia berangkat kembali menggunakan motor bebek kesayangannya, menjemput anaknya di Pondok Alumni lalu mendaftarkan kembali ke Pondok Gontor Mantingan. 


Perjalanan yang ia tempuh lebih dari 13 jam. 10 jam menuju ke Mantingan, 3 jam menunju Pondok Alumni. Esoknya ia kembali lagi ke Pondok Gontor Mantingan untuk mendaftarkan anaknya untuk yang kedua kalinya.


“Allah Maha Baik. Saat pengumuman, alhamdulilah anak saya diterima di Gontor Putri dua”, ujar Cerita Pak Udin. Matanya berkaca-kaca.


Padahal saat itu, cerita Pak Udin, saudara dan teman-teman di kampungnya banyak yang mencemooh tekad Pak Udin untuk menyekolahkan anaknya di Gontor. “Bahkan ada yang bilang bahwa Gontor itu  sekolah orang kaya, sekolah para pejabat, sekolah anaknya menteri. Sementara saya hanyalah orang kampung, kuli bangunan, hanya tamat sekolah dasar. Tak mungkinlah saya bisa menyekolahkan anak saya di pondok hebat ini”, lanjut Pak Udin dengan logat banyumasan yang kental.


“Tapi saya tak peduli. Saya hanya percaya bahwa Allah pasti akan membantu saya. Dan Alhamdulillah anak saya dapat diterima di pondok idaman kami ini”, ujar Pak Udin.


Pak Udin lalu menceritakan prestasi anaknya saat mondok di Gontor Putri 2. Ia bilang bahwa anaknya baru saja dikukuhkan sebagai MISS LANGUAGE di Pondok Gontor Putri 2. 


Miss Language adalah sebuah predikat yang diberikan kepada santriwati yang sangat menonjol dalam penguasaan bahasa arab dan bahasa Inggris. Ruang lingkup predikat itu bukan hanya satu kelas saja, tapi meliputi kelas 1 hingga kelas 3 yang jumlahnya bisa ribuan santri. 


Hal itu berarti diantara ribuan santriwati kelas 1 hingga kelas 3 se-gontor putri 2, Nurbainah, putri kesayangan Pak Saefuddin adalah santriwati terbaik dalam penguasaan bahasa asing. 


Saat menceritakan prestasi anaknya sebagai Miss Language itu, Pak Udin meneteskan air mata. Sementara saya...sudah lebih dulu ....hik-hik. :-(


Ayah yang hebat!


---***---


Beni Sulastiyo

Jogja, 13.2.2018

Kamis, 03 Juni 2021

Gulai Anduak #dapurbundonova


Mungkin bagi sebagian orang agak aneh mendengar nama "gulai anduak" ini. Ini adalah bahasa minang. Nah, di luar orang minang mungkin lebih aneh lagi mendengarnya.


"Anduak" dalam bahasa Indonesia nya adalah handuk. Disebabkan babat itu seperti handuk, maka kadang orang menyebut gulai babat alias gulai babek dengan gulai anduak. 


Gulai ini juga terkenal nikmatnya di ranah minang, sama halnya dengan gulai tambunsu. Meskipun keduanya dari jeroan sapi ataupun kerbau, di tangan orang minang menjadi makanan favorit. Meskipun cara olahnya berbeda, namun kedua gulai ini adalah kuliner minang yang nangenin. 


Alhamdulillah, dibawah ini adalah testimoni dari salah seorang costumer kami yang memesan Gulai Anduak di awal minggu ini, yakni da Amry Syaawalz.


Olahan gulai babek atau gulai anduak dari #dapurbundonova,  yang lunak dan empuk sangat pas untuk segala usia. Gulainya pun lamak.


Dan yang lebih menyenangkan bagi kami adalah gulai anduak ini mengingatkan da Am Datuak ini, akan suatu tempat dimana dulu bisa makan gulai yang seenak ini. "Serasa makan di daerah Benteng, Bukittinggi" kata beliau. 


####


Hadirnya Kuliner Kapau Online kami ini, #dapurbundonova, salah satunya yaitu ingin menyajikan masakan kapau sesuai rasa aslinya. Sehingga dengan mencicipi kuliner kami ini bisa mengingatkan kembali dimana dulu pernah merasakan hal yang sama. 


Selain itu tentunya kami ingin menghadirkan kuliner Nasi Kapau di ruang makan keluarga masing masing. Suasana makan bersama dengan seluruh anggota keluarga, dengan adanya lauk pauk khas Kapau dari kami insyaAllah bisa bisa meningkatkan kebersamaan dalam keluarga. "Makan lamak, salero lapeh, harga terjangkau".


Gulai Babek ataupun Gulai Anduak ini, harga untuk 1/2kg babek hanya Rp. 75.000,- yang biasanya 5 atau 6 potong. Sangat tarjangkau sekali.

Sabtu, 29 Mei 2021

Teh Talua Tapai ala Jeje

 Teh Talua Tapai 


Alhamdulillah, bada maghrib tadi disempatkan juga membuat teh telor tapai dengan bahan yang ada di rumah. Suasana hujan dan dingin sangat mendukung pelepas "taragak" akan minuman khas ranah minang ini. 


Ada telor ayam dan tapai sudah cukup untuk memulainya. Kebetulan beberapa hari yang lalu sudah membuat juga teh talua dan kopi talua juga, tetapi rasanya belum memuaskan. Biasa biasa saja rasanya. Hehehee.


Satu kuning telor dimasukan ke dalam gelas, ditambahin satu setengah sendok makan gula pasir, kemudian saya mixer beberapa saat hingga warnanya berubah dari kuning menjadi agak putih. Itu sudah cukup menjadi tanda bahwa adonan tersebut sudah mengembang. 


Satu sendok makan lebih sedikit, tapai yang warnanya kuning dan manis itu saya ditambahkan ke dalam adonan gula dan kuning telor tadi, kemudian dikocok lagi dengan mixer. Setelah dirasa cukup homogen, teksturnya sudah kelihatan halus, mixer saya matikan. Sisa yang ada di mixer, saya colek sedikit dengan tangan dan saya icip, wow rasanya mantap banget. Akhirnya yang ada di mixer tersebut bersih. Licin. 

Lamak bana. Ini saja sudah membuat saya puas. 


Seduhan teh tubruk dari jawa, yang kami lupa merknya, yang telah mendidih saya tuangkan ke dalam gelas yang berisi adonan tadi. Meskipun warna nggak begitu pekat, tak apalah, karena memang itu yang ada di rumah saat ini, sudah lebih dari cukup. Lagian ini baru "trial", masih uji coba. 


Setelah teh mendidih tadi memenuhi gelas, saya videokan bagaimana proses yang terjadi di dalam gelas. Setelah itu baru saya aduk, biar merata panas yang ada di dalamnya, sehingga tidak ada gumpalan gumpalan di dinding gelas. 

https://youtube.com/shorts/mlS157mdssM?feature=share

Rasa penasaran dengan "layer" atau lenggek teh talua yang selama ini saya lihat, akhirnya saya tambahkan juga susu kental manis, sedikit saja. Beda dengan yang ada di kadai teh talua yang biasa saya nikmati,  biasanya ketebalan SKM ini sekitar 1 - 2 cm. Namun yang inj, SKM yang saya tambahkan tak sampai segitu karena saya yakin dari gula dan manisnya tapai sudah mencukupi. 


Dari tiap adukan teh talua tapai ini, saya nikmati aroma yang keluar. Daaaaaan ternyata aroma tapainya menyeruak memenuhi rongga rongga hidung saya, menggetarkan nafsu saya untuk segera menikmati teguk demi teguk.


Saya hirup perlahan bagian teratas dari teh talua tapai ini. Busanya. Begitu nikmat, begitu halus dan begitu lamaknya. Asli top banget. Bukan saya promosi ya. Ini benar benar suatu kenikmatan yang ada, nyata. Bukan polesan cerita, apalagi pencitraan. Sabana lamak, man.   



Saya aduk lagi, saya nikmati dengan meneguk teh talua ini bagian tengahnya. Dan ternyata sama. Nikmatnya meskipun masih panas. Perlahan saya meminumnya. Menikmati tiap rasa yang ada, setiap teguknya. 


Setengah gelas habis dan ternyata adzan isya berkumandang. Saya segera berwudhu dan meninggalkan rumah sejenak menuju mesjid.


Lepas sholat, sampai di rumah, ketika pintu dibuka mata saya tertuju pada teh talua tapai yang tersisa. Saya perhatikan sekilas, warnanya tetap homogen. Tidak ada perbedaan warna ataupun "layer"nya. Saya puas. 


Lepas menarok sajadah dan kopiah, saya nikmati lagi teh talua tapai ini, sambil mendengar obrolan sang Bundo dengan anak gadisnya yang ada di Pekanbaru. Sekali kali saya ikut nimbrung ataupun menimpali pembicaraan mereka, melalui speaker HP yang sengaja diperdengarkan oleh Nova. 



Alhamdulillah, sekali ini saya puas sekali dengan teh talua tapai olahan tangan sendiri. Ada kebanggaan tersendiri dan itu sangat berbeda dengan teh talua dan kopi talua, beberapa hari lalu yang saya buat. Formulasinya dapat, cara membuatnya masih ingat. 


Dan untuk yang satu ini sudah terbayang bagi saya "Kadai Teh Talau Jeje" di tanah rantau ini. :) :) 


Parung Serab Ciledug, 19/05/2021

20.50 WIB

Kamis, 27 Mei 2021

Back to Gontor, Back to Reality

Alhamdulillah, lepas sudah kebersamaan 50 hari bersama anak bujang kami pada 26 Mai nan lalu. Suatu kebersamaan yang sarat makna dalam liburan akhir tahun ajaran di Gontor. 


Abang Imam siap kembali ke pondok setelah "recharging energy" selama liburan kali ini. Segala cerita di pondok dia curahkan. Kebanggaan dan kedekatan dengan ustadz dia sampaikan. Kebersamaan dan keceriaan di pondok kami dengarkan. Bahkan keinginan dia menjadi mudabbir dan ketua rayon kelak, dia utarakan. 


Bersama dengan adiknya Dhifa tinggal jadi cerita. Abang Imam sekarang ini jauh lebih sabar dibandingkan tahun lalu, saat dimana adiknya selalu saja usil dan cari perhatian dari abangnya ini. Tahun ini walau tanpa kakaknya, Fadhilah Azzahra yang sedang pengabdian di Gontor Putri 7 Pekanbaru tak mengurangi kebersamaan mereka. Apalagi di saat Ramadhan, saat kakaknya bebas menggunakan HP komunikasi mereka lancar. Mereka bisa video call. 


Kakak yang sangat menganyomi adek adeknya saat ini. Suka mendengarkan info tentang Imam dan Dhifa dari bundanya, yang kemudian ternyata dari info ini memberikan nasehat dan saran buat mereka berdua. Suatu komunitas yang berbeda di antara mereka sebelumnya. Arahan kakaknya menjadi acuan. Didengarkan dengan baik.


"Im, baik baik ya di Pondok", pesan kakak sebelum kami sampai di masjid Al Azhom, adalah pesan yang samar samar saya dengar.


#####


Kembali ke Gontor Ponorogo dalam kondisi sekarang ini agak berbeda rasanya bagi Imam. Meskipun tahun lalu juga masih dalam kondisi yang sama. Sama sama dalam kondisi pandemi Covid 19. Namun ada rasa yang berbeda dia rasakan.


Saya merasakan aura ini disebabkan ini adalah masa transisi dia yang sebenarnya menuju dewasa. Dari usia SMP menuju SMA, di saat saya dahulu. Banyak hal yang secara fisik terlihat nyata. Jakunnya sudah jelas terlihat. Ketenangan dalam bersikap, bertutur dan berfikir sudah mulai tertata. Apalagi dalam sikap tubuh nya yang tegap, baik ketika duduk maupun berdiri. Selintas sudah mulai tertarik dengan "muslimah sejati" dalam bahan obrolannya dengan sang bunda, meski kadang kadang ada juga rasa malu malunya kalo saya ikut menimpali obrolan tersebut. 



Tetapi tentang impian dan keinginannya menjadi ustadz pengabdian di Gontor nanti, suatu cerita yang berbeda. Sangat dewasa, menurut saya. Asa untuk tetap melanjutkan studi ke Islamic University of Madinah adalah target utamanya. Entah itu nanti untuk strata S1 maupun S2nya. Ini sesuatu yang luar biasa. Biarlah tulisan ini akan menjadi saksi perjalanannya kelak, di tahun tahun yang akan datang.


#####


Dalam kondisi pandemi saat ini, Gontor adalah salah satu tempat pendidikan terbaik bagi anak anak kami. Gontor adalah segalanya bagi tumbuh kembang mereka secara alami.


Di Gontor lah mereka bisa belajar dengan tatap muka secara langsung dengan para guru mereka, ustdaz - ustadz mereka. Mereka mendapatkan ilmu langsung secara keseluruhan, baik di ruang kelas ataupun di luarnya. Sedari bangun tidur hingga tidur lagi. Mereka menulis dan membaca di ruang kelas maupun kamar mereka. Mereka menghapal dimana mereka suka. Di sana mereka bisa belajar sendiri ataupun belajar kelompok. Inilah realita pendidikan sejatinya bagi mereka, di usia transisi mereka dari anak anak menuju dewasa.



Di Gontor mereka bisa bermain bersama dan olah raga bersama. Dengan teman teman yang sangat banyak. Bermain dan olahraga  bagi mereka bisa dengan yang sebaya, dengan adik kelasnya ataupun kakak kelasnya. Dan jumlah mereka di sini bisa ribuan orang. Jumlah yang sangat tak mungkin bisa ditemukan di sekolah umum lainnya. Tentu dalam suasana seperti ini, secara fisik dan kejiwaan mereka tumbuh maksimal. Mereka paham bagaimana etika bergaul  dan beradaptasi dengan teman sebaya, dengan yang lebih tua dan yang lebih muda. Dan yang paling penting bagaimana bisa membangun kebersamaan dalam segala lapisan usia. Inilah kelak yang akan menjadi ilmu dasar bagi mereka ketika terjun di tengah masyarakat. 


Di Gontor ini banyak klub yang bisa mereka pilih, seperti sepakbola, futsal, basket, beladiri, kaligrafi dsb. Mereka boleh memilih lebih dari satu klub jika mereka mau, sesuai bakat dan keinginan mereka. Tentu dengan semakin banyaknya klub yang dipilih, mereka akan semakin disiplin dalam mengatur waktu. Semakin banyak klub, semakin disiplin dalam mengatur waktu.


Dan saya sangat bangga bahwa Imam telah ikut dalam salah club yang memang saya sarankan sejak dia di terima di Gontor. Dia ikut dalam klub beladiri Darussalam. Saya tekankan pentingnya ilmu beladiri bagi seorang ustadz di masa yang akan datang. Setidaknya tak ada lagi "orang gila" yang macam macam dengan ustadz, seperti banyak kejadian yang ada saat ini. Dan hanya di rezim ini pula "orang gila" yang paling banyak menyerang para ustadz dan alim ulama. Semoga Imam kelak punya kemampuan untuk menjaga diri dan keluarga dari "orang gila", itu saja sudah cukup.


Di Gontor mereka bebas dari ketergantungan handphone, walau tidak kudet juga dalam bidang IT. Dan kondisi saat ini berat bagi orangtua untuk mendisiplinkan anak anaknya dalam menggunakan HP. Berat melepasakan anak dari pengaruh HP, dari kecanduan games maupun dari kecanduan animasi, film yang nggak jelas manfaatnya. Di gontor mereka sibuk dengan buku bukunya, kitab kitab yang wajib mereka baca. Membaca rutin al Quran dan hadist hadist setiap harinya. Uang pulsa biarlah menjadi uang jajan bagi mereka di sana.


Di Gontor mereka berkumpul dari segala pelosok daerah yang ada di nusantara ini. Mereka mengenal karakter masing masing daerah melalui daerah asal teman mereka. Melalui konsulat ataupun rayon mereka yang ada di Gontor. Tentu mereka akan hapal nama nama propinsi yang ada di NKRI ini. Mereka tahu nama nama ibukota Propinsi, bahkan juga DATI II yang ada. Di Gontor mereka akan mengenal Indonesia secara utuh.


#####


Di Gontor adalah realita kita sejatinya bagi mereka. Bagi mereka yang sedang belajar ilmu agama dan ilmu dunia, yang juga belajar tentang tumpah darah Indonesia. Semuanya akan menjadi bekal hidup kelak di kemudian hari. 


Ukhuwah mereka sebagai anak bangsa akan terbentuk dengan kuatnya. Kemampuan bahasa Arab dan English dalam keseharian mereka di pondok akan menjadi jembatan untuk mengembara di seluruh dunia di suatu masa nantinya.


So di Gontor adalah realitanya kehidupan kita. Segala persoalan akan selesai di jalan yang ALLAH sukai, dengan asas musyawarah mufakat, bukan dengan pencitraan ataupun kebohongan.


Bintaro, 27/05/2021

2.50 WIB

Senin, 24 Mei 2021

Gontor Mempersaudarakan Kami

 Bersama sebagian tim dansos kemarin sore kami hadir lagi di Ciputat Tangerang Selatan. Bersilaturahim dan berbagi demi santri kami, santri Gontor Tangerang Raya. 



Kami dijamu oleh keluarga bu Lisnawati, anak dan minantunya. Ada nuansa keakraban yang terjalin di antara kami. Gontor tak hanya mempersaudarakan santri santrinya, tetapi juga mempersaudarakan kami para walisantrinya. Gontor mendidik santri tanpa memandang status dan jabatan orangtua atau walisantri nya, begitu juga dengan kami. Kebersamaan kami apa adanya, saling membantu sebisanya, tak pandang status. 


Ada boss yang bisa santuy saja memanggul air mineral ataupun apa saja. Ada "bussiness women" yang juga santuy saja dibonceng naik motor, padahal dia kemana mana selalu dengan kendaraan roda empatnya. Bagi kami semuanya sama saja, yang penting bisa berbuat bagi sesama.


Selepas dari Ciputat menjelang maghrib kami sengaja ke Warung Borowali, milik almarhum pak de Kohar. Beliau adalah salah satu inisiator terbentuknya TIM DANSOS Tangerang Raya ini. Usaha beliau dilanjutkan oleh mbak Rifa, istri beliau. Selain lepas kangen dengan masakan di warung ini, tempat kami sering nongkrong sebelum Covid para walisantri Tangerang Raya, kami juga ingin memberi kekuatan bagi bu Rifa dan anaknya Rara yang akan menjadi capel Gontor tahun ini. 



InsyaALLAH siang ini Rara dan seluruh calon pelajar Gontor dari Tangerang Raya akan berangkat dari mesjid Al Azhom di bawah bimbingan ustad/ustadzah IKPM Tangerang Raya. Semoga dalam perjalanan nanti mereka bisa sampai di tujuan Ngawi dan Ponorogo dengan selamat, sehat dan penuh semangat dalam memperjuangkan kesempatan untuk menjadi santri dan alumni Gontor kelak.


Lepas kangen dan makan malam dari sini kami masih berlanjut ke rumahnya Om Susilo sesuai dengan janji bu Rahayu sebelumnya. Belum lepas rasa kenyang yang ada, sudah harus menikmati lagi seporsi baso khasnya Om Susilo ini. Om Susilo juga punya anak di Gontor Putri 1 kelas 4 saat ini. 



Sebuah perjalanan yang sebenarnya capek juga, tetapi makna akan kebersamaan dan silaturahim yang terjalin di antara kami sangat sangat meminimalisir segala capek yang ada. InsyaALLAH lelah kami Lillah.


Jam sembilan malam akhirnya semua bubar, kembali ke rumahnya masing masing. InsyaALLAH hal hal begini akan indah untuk dikenang ketika anak anak sudah dewasa kelak, ketika mereka menjadi alumni Gontor ataupun ketika mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kelak, di suatu waktu kelak.


Gontor mempersaudarakan, itu terbukti bagi kami.


Tangerang, 23 May 2021

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...