Jumat, 29 September 2023

Mandi Siang


Sudah lama nggak jalan jalan. Seringnya mendekam di teras rumah. Tubuhnya penuh debu, meski bagian dalamnya tetap bersih. 


Pagi ini sengaja dikeluarkan, diajak ke kantor. Sekalian tangkinya diisi lagi hingga penuh. Tidak kemana mana, kadang malas juga buat ngasih minum. 


InsyaAllah esok ngajak "mother rice" jalan jalan. Berduaan saja. Melihat keramaian anak-anak  yang datang dari tempat study nya, dari pelosok kota yang jauh dari Jakarta. Melihat keriuhan para wali dan keluarganya dalam menjemput buah hati mereka, para mujahid dan mujahiddah tercinta. Tahun ini kami absen, tetapi kami tetap hadir untuk meramaikan suasana. Menjaga dan mempertahankan silaturahmi yang sudah terikat sejak lama, enam tujuh tahun belakangan. 


Hari ini, "kuda Jepang" kami mandikan. Saya sholat dia dititipkan pada carwash yang terdekat dari mesjid dimana saya menunaikan ibadah wajib, sholat jumat berjamaah. 


Selesai sholat, dari kejauhan sambil makan siang di salah satu rumah makan padang, di pertigaan yang tak jauh dari kantor tempat saya bekerja, terbayang berapa kuda Jepang ini sangat berjasa. Dia sudah melintasi jalur Sumatera dan Jawa, entah berapa luluh kalinya. Seribu enam ratus ribu kilometer lebih sudah bersamanya. Dan dia tetap kokoh menapak. Tidak pernah rewel dibawa kemana-mana. 

Siang ini gagahnya makin terasa saja. Makin terasa jasa jasanya. Dan sudah satu setengah tahun dia tak menapak pulau Sumatera. Penyebabnya? 

Ternyata godaan naik bus lintas Sumatera untuk berdua atau bertiga, lain pula pesonanya. Irit di ongkos, ditenaga dan enjoy selama perjalanan bersama bundo dan sibungsu tercinta. 


Akhir tahun nanti? Entahlah, masih binggung mempertimbangkannya. 


Namun esok kami nikmati jalan bersama untuk jarak dekat dekat saja. Melihat keramaian InsyaAllah di pusat Tangerang Kota.

Selasa, 22 Agustus 2023

Surat Cinta Untuk Dhila (part 3)

 Surat Cinta untuk Dhila (part 3) 


Nak kanduang sibiran tulang, 

Ubek jariah palarai damam


Pailah nak, pailah sayang

Dakilah bukik nan tinggi

Turuni lurah nan dalam

Kelok baliku usah hiraukan

Tinggakan ayah mandeh jo untuangnyo


Bia diluluah aia mato

Raso kaputuih hati jo jantuang

Malapeh anak pai bajalan

Walau tagamang raso ka ilangan


Walau umuanyo alun satahun jaguang

Darah nan alun satampuak pinang

Aka singkek pangana pendek

Tapi, ditunjuak aja indak maupek


#####


Nak kanduang artinya anak kandung. Sibiran tulang adalah kiasan yang bermakna anak, atau boleh juga bermakna  jantung hati, orang yang sangat disayangi. 


Ubek jariah palarai damam adalah kiasan yang sering didengar dan diperdengarkan oleh "urang awak" baik di ranah Minang, Sumatra Barat atau yang diperantauan. Kiasan yang sarat dengan makna kasih sayang yang sangat mendalam. 


Ubek berarti obat dan Jariah berarti jerih. Ubek jariah artinya imbalan. Damam artinya demam. Jadi, palarai damam dapat bermakna penawar demam.


Bila orangtua yang mempunyai anak banyak, kesusahan dalam membesarkan anak-anaknya mulai dari kecil. Begitu repot dalam mengasuh dan merawat anak-anaknya masih kecil. Kemudian membiayai pendidikan anak sampai anak menjadi sarjana serta menutupi segala kebutuhan hidup anak.


Ketika anak sudah berhasil dalam pendidikan dan mendapatkan pekerjaaan layak. Sang orangtua akan bangga dan bahagia. Keberhasilan anak tersebut dikatakan sebagai ubek jariah palarai damam.


Orangtua dengan penuh kesusahan mencari penghidupan demi anak-anaknya tetap bertahan hidup dan pendidikannya lancar. Anak pun tahu diuntung dan berkelakuan baik, rajin beribadah serta berprestasi dalam belajarnya. Anak yang seperti ini sering dikatakan ubek jariah palarai damam.


#####


Walaupun Kakak baru satu setengah tahun di Pakistan, tapi SK yang kirimkan kepada Bunda, sudah sangat membanggakan ayah dan bunda. Dengan amanah yang Kakak emban bersama teman teman, HUT RI yang ke 78 di Pakistan dapat dilaksanakan dengan baik. Bahkan hari ini Kakak kirimkan photo bersama Pak Dubes dan istri beliau beserta sebagian rekan rekan kakak. 


Alhamdulillah, ayah bersyukur. Setiap akan menghadapi ujian, setiap ada event ataupun agenda, Kakak selalu meminta doa kepada Ayah dan Bunda. Suatu bukti bahwa ayah dan Bunda selalu ada di hati Kakak. Kakak tidak hanya berkabar ketika doku menipis. Ayah dan Bunda bersyukur, Kak. Karena semuanya atas izin Allah semata. 


Kakak dengan sabar dan penuh pengertian ketika ayah dan Bunda menahan diri untuk tidak pulang. Ayah dan Bunda ingin Kakak bisa memanfaatkan waktu sebesar-besarnya di sana. Untuk belajar. Belajar akan banyak hal tentang hidup dan kehidupan di negeri orang. Dengan ketidakpulangan Kakak summer holidays ini, akak telah memberikan persembahan terbaik bagi ayah dan Bunda. Suatu capaian yang mungkin bagi sebagian orang biasa biasa saja, tapi bagi kami yang sempat menjadi "aktivis lokal" ketika mahasiswa dulu, apa yang kakak lakukan jauh melebihi kami. 


So manfaatkanlah waktu akak sebesar-besarnya di sana.Galilah ilmu sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, namun aktivitas sosial kakak selama masih berstatus mahasiswa manfaatkanlah sebesar-besarnya. Karena masa masa kuliah itu hanya sebentar saja. InsyaAllah dengan "social activity" ini akan banyak manfaat kelak ketika Akak tamat nantinya. Apalagi bidang study kakak sangat berhubungan erat dengan dunia diplomatik. Alhamdulillah, bolak balik ke KBRI, dekat dengan pejabat dan staffnya InsyaAllah akan bermanfaat di kemudian hari. 


Tetaplah humble ya Kak. Biarlah impian akak tergantung tinggi di langit, tetapi kaki dan hati Kakak tetaplah membumi. Selalulah bersujud dan bersyukur. 


Tetaplah dalam track yang telah kakak tempuh. Tetaplah menjadi kebanggaan dan contoh bagi Imam dan Dhifa. 


Salam sayang, salam bangga dari ayah Bunda atas prestasi yang akak toreh selama ini. Jangan berpuas diri, "asah selalu gergaji" nya Kak. 


Puri Bintaro Hijau

22 Agustus 2023, 21.23 WIB

Jumat, 11 Agustus 2023

Anak Mondok Itu Rezeki Orang Tua

Lagi viral anak artis masuk pesantren. Semoga saja langkah keluarga pasangan artis ini menjadi motivasi dan pendorong bagi para publik figur lainnya, dan juga masyarakat umum untuk membawa anak mereka menimba ilmu Islam di Pondok Pesantren.


Berikut beberapa nasehat dari KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor) untuk para orang tua yang masih enggan memasukan anaknya kedalam pondok pesantren.


1. Terlalu memanjakan anak itu akan menghambat masa depannya, sebab nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur'an, gak punya akhlaq, ujung-ujungnya gak bisa jadi amal jariyahmu kelak, kalau kamu telah tiada.


2. Ketika anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur'an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur.


3. Coba bayangkan jika anak-anakmu hidup di luar sekarang, apa iya kamu tega setiap jam 4 pagi memaksa mereka untuk bangun Tahajud? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka?


4. Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira dengan sholatmu, puasamu, bisa membuat kamu masuk surga-Nya Allah?


5. Jika kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya barat yang sekarang lagi trend di luar sana.


6. Anak-anak kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu: baju, sepatu, tas ber-merk, lha pas di suruh ngaji blekak blekuk. Ditanya tentang agama prengas-prengep, arep dadi opo?


7. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Kira-kira kalau anakmu lebih bangga kenal artis, lebih bangga dengan barang ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur'an gak ngerti budi pekerti. Lha kamu mau jawab apa kelak dihadapan Gusti Allah?


8. Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi? Ingat kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, dan diamanahi.


Semoga Allah ﷻ memudahkan para generasi umat Islam untuk menjadi penghafal dan pembela Al-quran, yang kelak dengannya akan memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya, Aamiin.




Selasa, 01 Agustus 2023

50 Tahun Usia

Sebagian besar saya dan teman teman saya yang sama sama dulu di SD, SMP, SMA dan kuliah, saat ini usianya sudah menapak 50 tahun. Usia yang dikatakan orang "muda terlampaui, tua belum". Di usia yang sejatinya sudah matang ini, seharusnya lebih banyak mendekatkan diri pada Allah SWT. 


Mencapai 5 dekade usia, mungkin banyak hal yang harus kita lihat ke belakang. Banyak hal yang harus disyukuri dan banyak hal yang harus diperbaiki. 


Bisa jadi ada teman teman kita yang nggak sampai usianya seperti kita ini. Ada yang sudah Allah cukupkan umurnya. Ada juga yang masih Allah panjangkan umurnya, namun aktifitasnya sudah terbatas. Mungkin di antara teman teman kita ada yang sedang Allah uji dengan keterbatasan gerak ataupun keterbatasan untuk mengkonsumsi apapun. Dengan segala keterbatasan ini tentu akan berpengaruh juga kepada aktifitas sosial dan keterbatasan dalam beribadah. 


Dan bagi kita yang Allah berikan kesehatan yang masih prima, jangan pula jumawa. Kita harus bersyukur dengan apa yang Allah titipkan kepada kita hingga bisa seperti ini. Harusnya apa yang ada, yang melekat di diri kita ini, senantiasa kita jaga. Pola hidup dan pola makan harus tetap kita jaga. Jangan sampai organ tubuh yang kita gunakan selama ini, kita sia-sia kan untuk hal hal yang mudarat. "Spare-part" dan "maintenance"-nya mahal. 


Jangan terlalu sering begadang, hindarilah makanan dan minuman yang haram dan yang dapat merusak tubuh dan organnya. Perbanyaklah beribadah dan berolahraga. InsyaAllah raga dan jiwa akan selalu terjaga. 


Apa yang kita lakukan hari ini, kebiasaan kebiasaan baik yang kita terus pupuk dan lakukan, InsyaAllah akan dapat kita rasakan satu dua dekade ke depan, bahkan lebih. Sehat dan prima di usia tua serta tetap produktif dan bisa kemana-mana, tanpa harus tergantung alat dan orang lain, adalah rezeki yang tak terkira. Sesuatu yang harus kita jaga dari sekarang. 


Jika melihat usia Rasulullah yang Allah cukupkan 63 tahun, artinya kita masih ada 13 tahun lagi untuk menuju angka tersebut. Sehat selalu hingga wafat, selain dari takdir yang Allah tetapkan, tentu harus kita sendiri yang mempersiapkannya. Kita yang tahu pola hidup dan pola makan apa yang akan kita lakukan. Dan seingat saya hingga akhir hayat Rasulullah selalu sehat. Rahasianya apa ya? 


Bagi saya, tidur di awal waktu dan bangun di sepertiga malam adalah kuncinya. Ini resep yang utamanya. Artinya mari kita maksimal kan rehat malam, jauhi aktifitas malam yang unfaedah dan di penghujung malam mari kita maksimalkan beribadah pada-Nya. Biasakan qiamullail, subuh berjamaah di masjid dan membaca Alquran hingga waktu syuru datang. Itu artinya kita tidak tidur di waktu subuh dan sesudah subuh. Ini pola sehat yang sesungguhnya. Secara medis, mungkin bisa ditelaah lebih jauh. Setelah itu kita mulai kehidupan normal seperti biasanya, seperti bekerja dan berolahraga. Hidup kita tetap produktif. 


Jika ini bisa kita rutinkan, InsyaAllah kita sudah punya pola hidup yang sehat. Bagi kita yang jadi karyawan, usia pensiun mungkin tak lama lagi. Bisa jadi, 5-10 tahun masa pensiun akan kita rasakan, akan kita alami. Siapkah kita dengan kondisi seperti ini? 


Boleh jadi kita bisa berkaca pada lingkungan yang ada di sekitar kita. Kita tentu sangat berharap, sebisa mungkin tetap produktif selepas pensiun. Tetap produktif di usia tua. Tetapi, tetap sehat adalah kunci utamanya. 


Bisa jadi Allah akan panjangkan umur kita seperti Dato' Mahathir Muhammad, dari Malaysia. Beliau tetap sehat di usia 94 tahun saat kembali menjadi Perdana Menteri beberapa tahun lalu. Sehatnya senantiasa terjaga atas izin Allah SWT hingga saat ini usianya sudah 98 tahun. 


Saya kutip dari artikel CNN Indonesia "Rahasia Umur Panjang Mahathir Mohamad" di: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191104122951-260-445401/rahasia-umur-panjang-mahathir-mohamad. sebagai berikut:


Mengutip Asia One, dia bersikeras bahwa tak ada rahasia dari usia panjangnya. Hanya saja ada dia tetap harus disiplin menjaga kebiasaan makannya.


"Jangan makan makanan berlemak, terlalu banyak karbohidrat dan gula. Anda harus tetap aktif, olahraga, latih tubuh dan otot agar tetap digunakan atau mereka akan jadi lemah," katanya.


"Aktif berarti menggunakan seluruh sistem tubuh dan memakai otak untuk bicara, berdebat, berargumen, semua ini akan mengaktifkan otak sehingga berfungsi dengan baik."


"Jika tidak terutama setelah Anda pensiun, lebih sering tidur dan istirahat, otak dan tubuh akan kehilangan kemampuan mereka dan organ memburuk."


#####


Kita juga bisa melihat orang-orang tua kita yang ada di sekitar kita. Tetap punya usaha, tetap bisa jalan jalan kemana saja. Masih bisa berhaji dan umroh, dengan maksimal meskipun usianya sudah lanjut. Di Ponorogo tiga minggu yang lalu, ibu temannya saya baru pulang menunaikan ibadah haji di usianya yang 92 tahun. Dan ada lagi teman satu kloter beliau yang usianya 95 tahun. Masih sehat, matanya pun masih bisa membaca alquran. Hanya pendengaran saja yang sedikit berkurang. 


Atau bila ada kesempatan mainlah ke pondok pesantren, bisa jadi kita bertemu dengan pimpinan pondoknya yang usianya jauh di atas kita saat ini. Mungkin ada yang usianya di atas 70an tahun, masih sanggup memimpin pondok dengan maksimal. Masih bisa mengajar dan mendidik para santri santrinya tanpa keterbatasan apapun. Ya Allah, tentu kita akan iri dengan para kyai ini. Tak terbayangkan betapa banyak amal sholeh yang mereka peroleh disisi Allah SWT atas ilmu ilmu yang mereka ajarkan. Ilmu dunia dan akhirat. Ilmu agama yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Shadaqah jariyah yang mereka tanamkan pada santri santrinya. Usianya bisa saja nanti Allah cukupkan, tetapi amal ibadahnya akan selalu mengalir, meskipun mereka tiada. Ilmu yang berkah, usia yang berkah. Allahuakbar. 


Dan jika anda bertemu dengan mereka, silakan tanya apa rahasianya? Boleh share sebagai ilmu bagi kita semuanya.


Puri Bintaro Hijau

1 Agustus 2023, 06.36 WIB

Sabtu, 22 Juli 2023

Bergerak

Alhamdulillah pagi ini selesai juga memaksakan diri untuk olah raga. Olahraga itu kalo tak dipaksa, malas jadinya. Badan melar, apalagi ketika tak ada rutinitas kantor sebagaimana biasanya. Libur kalo tak dimanage dengan baik, akan baik untuk penambahan berat badan. Ya kan? 


Dan pagi ini, selepas mengantarkan si Bundo ke sekolahnya, saya segera mencari lokasi parkir yang asyik untuk memulai olahraga yang sudah lama saya tinggalkan. Saya memilih parkiran di jejeran ruko di Graha Raya, yang ada kulinerannya. Dulu di de Lapau, namun sejak tutup saya memilih yang dekat Kolam Renang Graha Raya. 


Jam 8 saya parkirkan motor Revo tahun 2009 dengan aman, saya langsuang jalan kaki. Seputaran, sepanjang jalan raya Graha Raya itu, lebih kurang 6.2km tertempuh selama 2 jam 26 menit. Jalan ini saya paksakan agak cepat, biar peredaran darah ini bisa lebih kencang dari biasanya. 


Pegal di kaki saya abaikan, kebas di tangan pun begitu juga. Ayunan langkah tak berkurang, bahkan ketika lelah malah saya paksakan lebih cepat. Begitu juga dengan kebas di ujung ujung jari, saya ayunkan tangan ke atas ke bawah dengan sekencang kencangnya. 


Badan ini tak boleh terlalu dimanjakan. Harus bergerak. Bergerak itu tanda hidup. Sebagaimana yang sampaikan kemarin ketika makan siang bersama dengan om Susilo AmellNf. Tanda kita hidup itu, ya bergerak. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain.Namun bergerak ataupun pergerakan itu harus jelas, harus ada manfaat yang dirasakan, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Begitulah seharusnya. 


Dan diakhir pergerakan itu kita harus rehat sejenak. Introspeksi diri ataupun pemulihan stamina untuk memulai aktivitas selanjutnya. 


Begitupun badan ini. Setelah hampir satu jam setengah berjalan, rehat sejenak memulihkan stamina dan mengisi kembali energi yang terkuras tadi dengan semangkok soto nasi. Sembari rehat dan menikmati sarapan pagi, tulisan ini tersajikan kepada sahabat semuanya. 


Graha Raya, 22 Juli 2023

09.53 WIB

Sabtu, 01 Juli 2023

Parkir Inap Bandara Soetta


Jam 3.30 alarm di HP berdentang dengan lembutnya. Soft tone yang jadi pilihan itu mampu membangunkan diri ini dengan cepat. Di dalam kegelapan kamar yang nyaris tanpa cahaya tangan ini mampu bergerak cepat mematikan alarm tersebut. Namun tentu tidak untuk tidur lagi. 


Mother rice yang bergolek di samping segera tak kecup jidatnya. Membangunkan dia perlahan, selembut alunan nada ring tone tadi. Berdua kami singkirkan bedcover yang menutupi tubuh kami ini. Saya segera bangun perlahan menuju kamar mandi. Ada aktivitas pagi yang rutin tak bisa ditunda. Alhamdulillah so far, BAB pagi yang rutin menjelang subuh, bagi saya itu menandakan bahwa kondisi sehat paripurna. Alhamdulillah, dalam kepadatan jadwal sejak hari rabu dan kamis, yang menguras energi dan pikiran tak membuat tubuh ini limbung. Meskipun makan pun ala kadarnya dan konsumsi air dingin lumayan banyak dari biasanya. Ini yang saya syukuri. 


Meskipun olah raga jalan pagi tak seefektif dulu, namun aktifitas 'mukim' di mesjid lebih banyak dari biasanya, dengan banyak tilawah dan sholat sunnah nya, menjadi alternatif energi tambahan. Allah SWT yang menjaga segalanya. Ketika makin dekat dengan Nya, Dia tentu akan menjaganya. 


Dan pagi ini selesai mandi, kami packing ringan, then saya mengeluarkan mobil dari garasi. Bundo menyusul setelah mengunci rumah dan pagar tentunya. Berdua kami nikmati perjalanan ke Bandara ketika melalui tol Bintaro. Jalanan yang sepi, kami tetap sesantai nya. Tak ada yang perlu diburu. Dan waktu masih cukup buat check-in. 


Setengah jam perjalanan sesuai google map akhirnya tertempuh juga. Kami segera menuju area parkir Inan Bandara di dekat terminal Satu Bandara Soekarno Hatta. 


Ini adalah pertama kalinya kami manfaatkan dengan beberapa pertimbangan. Yang pertama, kami melakukan traveling kali ini dengan durasi waktu yang pendek. Short time travelling. InsyaAllah hanya empat hari saja. Dengan parkir inap ini tentunya cost trip PP, rumah Bandara relatif murah, jika dibandingkan menggunakan taxi online. Dengan tarif hari pertama Rp. 80.000,- dan hari kedua dst Rp. 60.000,- total biaya untuk inap ini, hanyalah Rp. 260.000,- saja. Sementara tarif dari Bandara ke rumah saja, rerata sekitar Rp. 200.000. Itung itungan padang nya masuk. 🤭😂. 


Yang kedua, lebih praktis dan lebih mudah. Kami bisa berangkat dari rumah bisa diatur sedemikian rupa, tanpa perlu adanya waktu tunggu, baik bagi kami ataupun supir taxi yang akan mengantarkan, baik dr rumah ataupun dari Bandara. 


Sehingga dua hal di atas, menjadi diskusi hangat dengan si Bundo sebelumnya mengapa saya cendrung memilih naik kendaraan pribadi dan parkir inap. Sebelumnya bundo sempat protes juga. Alhamdulillah, semuanya menjadi ringkas ketika Bundo paham saat kami sampai di area Parkir Inap ini. 


Dari area parkir inap ini, kami di antar oleh petugas yang ada di sana ke terminal tiga, terminal keberangkatan kami. Namun untuk masuk ke area parkir ini kita harus menggunakan e-money. Kartu ini sebagai pass card nya. Jangan lupa ya, pastikan juga saldonya cukup saat keluar nanti.


Di area parkir inap ini kita tak perlu menunggu lama. Mobil yang ada di sini ada tiga unit, dan silih berganti mengantar dan menjemput penumpangnya. Dan itu gratis. Nah ini menjadi service dari apa yang kita bayarkan. Dan ketika kita mau balik ke area parkir inap, tinggal hubungi no yang disediakan. Salah satu nya no yang ada di bawah ini. 


Ada tiga area parkir inap di bandara ini dengan tarif flat, seperti yang saya sampaikan di atas. Namun ada juga area Premium nya juga. Yakni ada di masing-masing terminal. Baik terminal 1, 2 dan 3. Ini tarifnya berdasarkan jam jam an nya. Biasa sampai sekitar 150-160 ribu sehari. Akses memang dekat, bisa jalan kaki ke Bandara. Namun ini sesuai namanya ya. Premium Class. So jangan sampai salah pilih di area parkir inap di Bandara Soetta ini.


Ditulis atas Pelita Air

Jumat 30 Juni 2023, 08.17 WIB

Senin, 23 Januari 2023

Sehari Banyak Nuansa

Sabtu kemarin melalang buana ke beberapa tempat di seputaran Tangerang Kota bertemu dan merangkai agenda, ternyata ada banyak hikmahnya. Ada yang terencana, ada tidak. 


Menjelang jam 10 bertolak dari rumah menuju terminal Poris Tangerang dengan motor. Hendak bertemu dengan Om Adi Adam Rangkuti, sahabat JLo yang berangkat dari Jember hendak pulang kampung ke Solok bersama istrinya. Beberapa hari sebelumnya sudah ada diskusi dan ngobrol by phine di antara kami. Beliau naik Rosalia Indah dari Jember sampai di terminal Pulogebang sabtu dini hari. Dan atas rekomendasi dan juga didasarkan catatan perjalanan saya pulang kampung akhir tahun kemarin beliau tertarik untuk mengikuti. Akhirnya no telpon agen yang di Pulogebang didapat dari Bang Indra Tan Sati agen Kreo yang saya miliki. 


Sabtu pagi om Adi ini sudah di bus Palala. Dan info sebelumnya bahwa bus yang dari Pulogebang tak mampir di Kreo karena tak ada penumpangnya. Dari terminal pondok pinang, langsung ke terminal Poris. Tadinya saya mau cegat di Kreo, ternyata harus ke Poris. Bagi syaa sendiri tak mengapa karena ada agenda lainnya arah sana. 


Dan WA terakhir yang saya baca sebelum berangkat, posisi bus sudah di tol lebak bulus. Sesuai prediksi antara jam 10.30-11.00 sudah sampai di terminal Poris. Sesampai di terminal, saya lihat ada satu Palala yang stand by. Saya tanya agennya ternyata belibis sudah berangkat sekitar tujuh menit yang lalu. Palala E05 yang berjulukan Alwis ini sudah siap untuk jalan, dan akhirnya titipan saya bawa buat Om Adi dan bang Ronny saya titip ke driver Palala E05 ini. Biasanya mereka akan bertemu juga nantinya di Merak. Saya yakin karena biasanya begitu. 

Setelah itu saya bertemu juga dengan da Amry Syaawalz dan ni Titi yang akan berangkat ke Padang. Da Am ini adalah senior saya di alumni Kimia Unang. Beliau angkatan 65, angkatan pertama ketika jurusan kimia baru di buka di Universitas Andalas. Selain sesama alumni, beliau dan ni Titi adalah best customer kami, kuliner kapau online #dapurbundonova. Terkhusus untuk dendeng lambok dan sambalado tanaknya, sebagai pilihan favoritnya. 


Minum teh talua kami, da Am dan saya, menunggu NPM Sutan Class yang berangkat dari Bogor yang menurut agenda datang sekitar jam 11 siang. Ngobrol ringan bertiga tentang banyak hal sambil membahas kulineran dan janji ketemu meraka senin nanti dengan pak Katik. Pak Katik ini adalah dosen saya dan juga dekan FMIPA ketika saya wisuda dulu. Pak Katik yang akan terbang dari Australia pada hari yang sama dengan keberangkatan da Am ke Padang. Tertitip salam saya buat Prof Hazli Noerdin sama da Am ini. 

Tak lama berselang, saya melihat bang Ridwan Nurman . Saya pikir hanya sekedar meliput, ternyata libur tiga hari ini beliau trip report lagi bersama Transport Express keluaran terbaru. Rute lintas tengah Sumatra. Padahal minggu lalu saya lihat liputan nya di youtube sebanyak 8 seri bersama NPM Sutan Class juga namun dengan livery terbaru, yang mengingatkan kita pada livery NPM tahun 1993, edisi gergaji. Livery edisi khusus di ultah PO NPM. 


Saya juga bertemu dengan bang Rahmat agen Sembodo. Dan dari beliau saya dapatkan juga no agen Sembodo yang di Kota Padang, siapa tahu nanti ada yang membutuhkan, saya bisa bantu berikan no tersebut. 


Selesai da Am berangkat, saya pun tak lama kemudian lanjutkan perjalanan ke rumahnya pak Rusman Wijaya . Ada rencana mau silaturahmi lagi. Namun teh telor dua gelas ini, saya bayar dahulu ke pak Dasril, urang awak yang buka lapak di terminal ini. Rp. 20.000 buat minum pagi dengan teh telor di sini bersama da Am. 


Lanjut balik ke Pinang, ke rumahnya pak Jaya. Di sana dapat konfirmasi bahwa ustadz Hussein berkenan bertemu dengan kami di sekitaran Trade Centre Cimone. Beliau stand by di sana. Tak lama berselang saya bersama pak Jaya naik mobil ke sana. Sholat zuhur kami di masjid sekitaran Banjar Wijaya. 


Selepas sholat dalam perjalanan ke Cimone saya telponan dengan om Adi, yang ternyata masih di Merak menunggu kapal yang akan membawa mereka menyeberang ke Bakauheni. Dan dapat kabar bahwa bus Palala yang berjulukan Belibia sudah duluan. Sudah nenyeberang. Saya tersentak. Astaghfirullah... Ternyata om Adi di bus yang saya temui di terminal Poris tadi. 


Saya yang salah baca. Saya menyangka dia naik bus Belibis dengan awak bang Ronny ApRinando Maniacreceh dan bang Fadli Kumarang. Akhirnya banyak cerita, banyak tertawa. Ternyata paket titipan saya sudah diserahkan oleh driver Alwis ke bang Ronny di Merak tadi, saat om Adi ketiduran. Dan sudah dinikmati oleh bang Ronny satunya. Ternyata belum rezekinya om Adi. Andaikata, andaikata akhirnya keluar juga dari saya..... Hikmahnya bagi saya, harus hati hati dalam membaca. Membaca saja harus hati hati, apalagi dalam menulis, apalagi dalam mengeluarkan lisan. Ya kan? #hikmah

Tak lama kemudian kami bertemu dengan ustadz Hussein di tempat yang membuat saya takjub. Tempat dimana dia membina dan mengadakan pengajian bagi mereka mereka yang terpinggirkan. Termarjinalkan. Tetapi alhamdulillah dakwah masuk di komunitas ini. Sesuatu yang luar biasa. 


Diskusi kami membahas rencana Silaturahmi Akbar walisantri Gontor Tangerang Raya bersama pengurus IKPM. Sesuatu yang hilang selama Covid melanda. Alhamdulillah kami siap bekerjasama dan menyukseskan agenda pada tanggal 5 Februari ini, termasuk untuk mendapatkan narasumber satu lagi melalui beliau ini. Melalui beliau selalu Ketua IKPM Tangerang Raya. Semoga apa yang kita rencanakan, Allah mudahkan untuk merealisasikan nya. 

Menjelang jam 3 sore kami pamit. Saya dan Jaya masih lanjut silaturahmi di dua tempat lagi. Yang pertama ingin bertemu dengan pak Suwito di Masjid Kuba Taman Royal 2 dan satu lagi ke kediamannya pak Bambang di Poris Jaya. Semuanya searah. 


Alhamdulillah, di masjid Quba kami melaksanakan sholat ashar dan langsung bertemu dengan pak Wito. Saya menyampaikan permohonan maaf karena tak bisa hadir saat pengajian Majlis Taklim Subulussalam tanggal 8 Januari yang lalu di masjid Kuba ini dimana pak Wito selalu tuan rumahnya. MasyaAllah mesjidnya indah dan tertata dengan baik. Selain itu kami juga menyampaikan rencana Kopdar tanggal 5 Februari nanti dan mengajak seliau untk ikut membantu di kepanitiaan. Setelah itu kami pun pamit. 


Perjalanan selanjutnya ke Poris Jaya, kediaman pak Bambang. Bagi saya ke sini adalah yang kedua kalinya, namun bagi pak Jaya pertama kali. Pak Jaya memang suka banget silaturahmi, dan itu yang saya suka. Saya hanya mendampingi saja. Dan di sini, kami disuguhi siomay yang enak made in Nyonya Rumah dan martabak sebagai kudapan sore. 

Sekitar jam 5 lewat kamipun pamit pulang. Malam minggu sudah menanti pak Jaya. Ada agenda rutinnya bersama sangat istri, yakni kulineran. Sebagai pelaku usaha di bidang kuliner, mereka berdua suka kulineran juga. Usaha mereka ada di kantin Balai Kota Jakarta Barat. Namun kulineran berduaan saja di malam minggu, biasanya yang dicari. Hehehee


Menjelang adzan maghrib, kami sampai di Jalan H. Kup. Mobil pak Jaya diparkirkan di luar karena mau jalan lagi. Saya tak berlama di sini. Pamit dan sholat di masjid Biru di seberang jalan H. Kup. Selepas itu saya langsung pulang ke rumah. 


Perjalanan seharian, di banyak tempat, alhamdulillah berakhir dengan bahagia. Meskipun masih banyak PR yang harus dilakukan. 


Minggu, 22 Januari 2023

08.50

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...