Minggu, 20 Oktober 2019

Kanada Lagi


Alhamdulillah siang tadi menjelang jam 12 memulai perjalanan lagi ke Kanada, memenuhi janji dengan si putri sulung kami. Kali ini perjalanan menggunakan bus Harapan Jaya, High Deck terbaru dari karoseri Tentrem. Pesan tiket juga baru pagi tadi dapat no 3B.

Bus baru keluar 4 bulan yang lalu, sangat lega dan yg penting pemberangkatan hari ini dapat tiket promo. Lumayan lah kelas VIP dengan harga 215.000,- dengan tujuan Ngawi. Biasanya 235.000. Khas nya bus Jawa dengan harga tiket segitu sudah termasuk makan malam dan snack pagi. Tetapi karena turunnya nanti di Gontor Putri 3 snack paginya nggak bakalan terpakai karena kita turun sebelum RM bus ini.

Perjalanan tadi lumayan lancar. Beberapa titik yang rawan macet selama ini sudah begitu parah lagi terutama simpang susun tol cikunir-jati asih. Hal ini mungkin karena sidah mulai rampungnya "elevated toll".

Saat ini masih dalam perjalanan menuju RM Aroma di Cirebon tempat istirahat berikutnya. Diperkirakan tiba di sana sekitar jam 18.00-18.30 WIB sehingga bisa menikmati makan malam, maghrib dan isya sekalian nanti.

Perjalanan sangat lancar dengan kecepatan bus stabil. Beberapakali bus ini disalib oleh kendaraan pribadi maupun beberapa PO bus lainnya, tetapi sang driver tetap tenang dalam membawa bus ini.

Penumpang penuh sejak dari Agen Bis di Bekasi Timur tadi. Saya pikir akan kosong beberapa bangku, ternyata terisi semuanya. Tujuan akhir bus ini adalah kota Tulungagung. Namun beberapa penumpang akan turun nampaknya di  beberapa kota menjelang pagi hari. Perkiraan nanti saya turun di GP 3  Mantingan sekitar jam 03 dini hari.

Doakan ya, semoga kami selamat dalan perjalanan ini.

#Kanadayangdirindukan
#KAmpungNAnDamai
#Darussalam.

Selasa, 15 Oktober 2019

Kisah inspiratif: Invisible Hands

Assalammualaikum wrwb, sahabat dumay ku

Hari ini saya dapatkan Kisah Inspiratif di salah satu WAG, yang sangat sayang kalo hanya dilewatkan membacanya. Untuk kisah yang satu ini sengaja saya save di blog saya ini, bisa dibaca suatu waktu kelak. Inspiring!!!

Tanggal 24 September yang lalu, di sebuah platform  subway di LA, seorang polisi secara diam2 merekam video seorang wanita homeless yang sedang menyenandungkan pantulan soprano operatik dalam bahasa Itali.
Jalur station kebetulan sepi, wanita ini seorang diri menggunakan kesempatan untuk menyenandungkan lagu yg memantul pada dinding subway.
Polisi ini berhasil merekam video yg berdurasi 1 menit, kemudian menyebarkan lewat media sosial.

Seketika video ini menjadi viral. Setelah ditemui wanita (52th) ini adalah seorang imigrant Rusia yang hijrah ke USA pada usia 24th.
Sebelum menjadi homeless, dia mengajar les piano dan biola. Tetapi karena dia punya problem kesehatan, dia terpaksa menjadi gelandangan yg memainkan biola di sepanjang jalan utk mencukupi kebutuhan hidupnya. Walaupun hidupnya jatuh, tapi dia sering memberi makan burung2 dara yang kelaparan.

Suatu saat, seseorang mencuri biola, satu2nya instrument yang membantu utk hidup (biola ini berharga sekitar 10.000$), pencuri bisa dibekuk, tapi melemparkan biola itu hingga hancur.

Wanita ini (Emily), disamping tidak punya rumah juga kehilangan sumber mata pencahariannya.

Disaat itulah, ketika dia sedang melantunkan suara soprano nya, seorang polisi berhasil merekam dan menyebarkannya, hal itu merubah nasibnya hanya dalam hitungan jam.
Segera, banyak netizen berkomentar agar polisi itu mencarinya kembali, karena banyak yang menggalang dana utk membantunya.

Baru 2 hari kemudian, Emily bisa ditemukan, dan dia sangat terkejut, karena dia tidak tahu sama sekali bahwa performance solonya beredar viral di media (dia tdk punya internet).

Saking terharunya, dia ragu utk menerima undangan dari seorang councilman, yang segera mengatur untuk mendapatkan rumah untuknya, dan netizen berhasil menggalang dana mencapai 65.000 $.

*****

Pesan moral dari kisah ini.

Dalam hidup ini, setiap kejadian membawa makna dan alasan. Hukum alam tetap berlaku dan tidak akan salah alamat, bagi siapapun yang percaya atau tidak, yang menghilang dimanapun  berada.
Dengan berserah diri terhadap sesuatu yg tidak bisa kita rubah, pasti selalu ada invisible hands yang bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah kita harapkan.

Berbuat baik sekecil apapun (seperti yg dia lakukan pada burung2 dara) tetaplah sebagai tindakan yang terpuji, walaupun dia tidak mengharapkan imbalan apa2, tapi pasti  selalu ada invisible hands yang mengatur untuk menolongnya.

Maka itu, kita jangan lelah berbuat baik. Bukan kuantitasnya, tetapi qualitas keikhlasannya. Dan jika kita tidak bisa membantu orang yg sedang kesusahan/ kesulitan, setidaknya kita jangan menyakitinya.
Hidup ini penuh dg keajaiban yg tidak bisa kita prediksi.
Sebaiknya kita selalu mengasihi sesama, jauhi sifat iri, dengki, penuh kebencian, menghakimi, frustasi, putus asa, merasa hina dan tak berguna. Karena dalam pikiran bawah sadar (subconscious mind) terdapat infinite potential, itulah mengapa subconscious mind disebut subjective mind dan irrational mind.

Semoga bermanfaat

Bintaro, 15 Oktober 2019

Sabtu, 05 Oktober 2019

Kajian Anak

Kajian ANAK

Sudah lebih sebulan ini saya mempunyai "new job" setiap weekend. Sabtu - Minggu. Berburu info tentang kajian anak. Kalo biasanya hanya sekali sekali saja kita dapatkan info ini. Sekarang sudah rutin tiap minggunya ada. Dan itu ada di sekitaran Ciledug, Bintaro.

Kajian Anak yg diisi oleh kak Yogi dan kak Erlan. Luar biasa meningkatnya aktifitas kajian anak anak ini di dua kawasan ini saat ini. Kadang kala kami harus berkejaran waktu dari satu tempat ke tempat lainnya.

Biasanya tempat kajian anak ini ada di Masjid Al Muhajirin Kompleks Taman Asri, Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro, Masjid Immanudin Graha Raya, Masjid Nurul Amal Ubud Village Ciledug dan Masjid Al Jihad Mencong Ciledug. Kadang kak Yogi maupun kak Erlan ini berpindah tempat meskipun dalam satu hari.

Masya Allah sang ortu pun saya lihat tetap semangat mengantar dan menemani buah hatinya mengikuti kajian anak anak ini. Luar biasa. Bahkan pernah di sabtu sore di Masjid Emerald jamaah ciliknya sampai membludak. Tak bisa menampung anak anak ini. Begitu juga parkiran penuh baik yg bermobil maupun bermotor. Bahkan untuk pulang saja kita sudah harus bersabar.

Hari ini kami mengantarkan Dhifa di sini, di Masjid Al Muhajirin. Dhifa sangat bersemangat ketika kami berangkat, walaupun hari panas 'berdengkang', di atas motor tadi sempat tertidur dengan nyenyaknya sementara bundanya di belakang. Namun ketika sampai di tujuan lumayan segar. Alhamdulillah ada stamina full mendengar a story telling dari kak Yogi.

Kajiannya bagus, khas buat anak anak. Hebat kak Yoginya. Hebat DKM Masjidnya. Hebat Komunitasnya. InsyaAllah ke depan akan lahir anak anak muslim yang cerdas dan hebat juga.

Yang menarik sehabis kajian ini anak anak dapat paket. Hehehe :) :)







Jumat, 27 September 2019

Kisah Pilu Tragedi Wamena

Kisah Pilu Tragedi Wamena
"AYAM JANTAN ITU TELAH PERGI"

Mata Raulis basah dan sembab, wanita 65 tahun itu hanya duduk terpaku, suaminya, Kasdir juga membisu.

Sesekali menyeka air matanya yang terus meleleh, kabar duka yang diterimanya bak petir disiang bolong. Tiga anak laki-lakinya tewas saat tragedi kerusuhan di Wamena, Papua.

Safrianto, anak lelaki sulungnya, Jafriantoni dan Hendra Eka Putra. Dua adik Safrianto belakangan diajak merantau ke Wamena, karena Safrianto ekonominya mulai membaik.

Raulis tidak menyangka tulang punggung keluarga itu telah patah.

"Dialah yang saban bulan membantu keuangan saya, walau ia telah beristri dan memiliki anak, tapi pedulinya pada saya dan adik-adiknya, tak saya lupakan" ucap wanita baya itu terisak.

Kasdir terlihat berusaha tabah, namun tatapnya kosong menembus dinding, berharap jenazah ketiga buah hatinya segera sampai.

Raulis dengan terbata bercerita, sebelumnya ia bermimpi, 3 ekor ayam jantannya hilang tak kunjung pulang.

"Dimimpi itu, saya berusaha mencari, tapi tak jua bertemu, namun saya bersua dengan taman bunga yang begitu indah dan wangi" ujarnya.

23 September 2019 menjadi hari yang paling kelabu dalam hidupnya, karena berita kabar yang sampai kepadanya, bahwa tiga anak lelakinya tewas dengan tragis.

Rantau Wamena, Papua mengakhiri kisah heroik Safrianto beradik kakak. Mereka yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, wafat dalam amarah anak bangsa.

Ya, semakna dengan mimpi Mak Raulis, ayam jantan itu telah pergi, membawa kenangan indah tentang perjuangan anak kampung melepas belenggu nestapa.

Tapi Tuhan menggariskan takdir lain, manusia berencana tapi keputusan-Nya berlaku sebagai ketentuan Ilahi.

Selamat jalan Pahlawan Keluarga, dedikasi kalian menjadi iktibar bagi kami semua, bahwa hidup adalah perjuangan, soal kematian, Tuhan punya urusan.

Mak Raulis, Ayam Jantan Itu Telah Pergi ke Taman Surga yang dihiasi bunga-bunga yang indah dan semerbak, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, Husnul Khatimah.

(Terinspirasi berita covesia.com) dan sengaja saya simpan sebagai pengingat di suatu masa nanti.

Kamis, 26 September 2019

Anak STM itu luar biasa.

THE AVENGER TEAM STM

Kafil Yamin

Kehadirannya tak terduga. Di luar sangkaan siapa pun. Aksi sedang deadlock karena penjagaan ketat dan keberingasan polisi, sudah banyak mahasiswa yang tumbang, tetiba mereka muncul dari satu arah, berseragam sekolah, hampir semuanya menggendong tas punggung sekolah.

Para mahasiwa heran: “Adik-adik mau kemana?” Dengan enteng salah seorang mereka bilang: “Sekarang kakak mundur dulu, kami yang maju. Kakak yang orasi. Kami yang eksekusi.” Cerita selanjutnya, sudah banyak diketahui warganet. Saya ingin mengabadikan kehadiran mereka melalui beberapa simpulan:

#Kekompakan#. Mereka bergerak teratur. Taktis. Luar biasanya, seperti tanpa komando. Tanpa pemimpin. Hanya saling teriak di antara mereka. Ini menunjukkan kerja tim yang luar biasa. Sampai sekarang, orang tak tau yang mana pemimpinnya, koordinatornya, sehingga polisi sulit menundukkan mereka. Beda dengan kakak-kakaknya, yang terlihat ada pemimpin, jurubicara, yang gampang diundang, dinego, diarahkan. Para anggota DPR yang mereka geruduk pun dulunya aktifis mahasiswa.

#Kepercayaan diri#. Mereka maju ke hadapan polisi bukan saja dengan berani, tapi dengan riang. Jauh dari panik. Dengan dengan peralatan unik berupa sapu lidi dan batangan kayu, mereka mengintimidasi polisi. Tak lama barisan polisi itu panik, tercerai berai, dan dengan ringan mereka membajak kendaraan polisi, menggiringnya ke barisan mahasiwa, lalu rame-rame berfoto dengannya.

#Taktis-strategis#. Entah darimana kebisaan mereka menanggkal serangan polisi. Tapi jelas mereka ‘know what they are doing’. Memancing polisi menembakkan gas air mata, dan dengan refleks melemparnya balik ke arah polisi. Semprotan air mereka sambut seperti pesta, “gua mau air! Gua mau air! Sini tambah!” teriak mereka kepada polisi. Setelah beberapa lama polisi kehabisan air dan amuinisi, giliran mereka menyerang. Polisi mundur dan terkurung di apartemen Semanggi. Komandannya berbicara di airphone minta damai.

#Norma dan etika#. Beberapa warganet bilang mereka barbar dan dan liar. Itu penilaian kurang ajar. Mereka punya norma dan prinsip yang kuat. Ketika menggiring kendaraan polisi, seorang dari mereka teriak: “Jangan rusuh woi! Jangan rusuh!” Semua taat. Lalu membiarkan kendaraan itu lepas. DI satu sudut ‘pertempuran’, adzan magrib terdengar, poilisi masih menembakkan gas air mata, seorang mereka teriak: “Tahan dulu Woi! Ga belajar ngaji lo?”

#Mengalir lepas#. Dengan pikiran lepas mereka melihat dunia tak banyak batasan untuk melakukan aksi. 'Against the odds'. Mereka menerobos berbagai ketidakmungkinan. Seorang mereka bilang bantuan akan datang sebentar lagi, “Pake apa? Motor?” tanya kakak mahasiswa. “Kakak liat aja,” jawab si adik. Dan, gila, mereka datang dengan Transformer, kendaraan pengangkut kendaraan, yang tentu saja bisa mengangkut orang sekampung!

Bagaimana mereka bisa mendapatkan kendaraan itu, tak mungkin menyewa. Kebanyakan mereka bahkan tak punya ongkos. Mereka membajaknya. Sang sopir pasti tau risikonya kalau menolak. Tapi ini untuk perjuangan.

Mereka bergerak efektif, taktis, dan mengagumkan tanpa sokongan dana dan fasilitas dari siapapun. Malam harinya, seorang ibu memergoki sekelompok mereka sedang makan di warteg. Beberapa di antaranya siswa kelas I SMP. “Kalian ada ongkos pulang?” Yang mereka jawab dengan enteng: “Nunggu truk aja Bu.”

Si Ibu pemurah itu lantas membayari makan mereka dan memberi ongkos pulang.

Kadang kita perlu belajar dari mereka yang kita tak anggap penting.


Silakan klik link berikut sbg tambahan info: https://www.youtube.com/watch?v=TmEUiqan6w4

Sabtu, 14 September 2019

Learning Shutdown pada Anak (2)

MEWASPADAI LEARNING SHUTDOWN PADA ANAK (bag 2)

Sekitar dua tahun lalu, saat Alifa, putri kedua kami, masih belajar bahasa Inggris di sebuah lembaga, pernah ada kejadian yang bikin syok.
Saat itu, seperti biasa ayahnya mengantar jemput dia. Karena durasi les cuma 1,5 jam, biasanya sang ayah menunggui dia, tapi hari itu beda. Kebetulan, sang ayah harus bertemu seseorang di waktu Alifa les. Akhirnya, setelah mengantar Alifa, sang ayah pergi menyelesaikan urusannya. Jarak antara tempat les Alifa dengan tempat pertemuan sekitar 3 km. Dua tempat ini berada di lokasi ramai, di tepi jalan protokol.
Karena suatu hal, sang ayah terlambat 15 menit menjemput Alifa. Begitu ia sampai di tempat les, Alifa sudah tidak ada. Alifa tidak ada dimana pun. Kepanikan menjalari sang ayah, dan menjalari tempat kursusnya pula. Setelah bertanya kian kemari, dapat satu info. Ada yang melihat Alifa keluar tempat les, menyusuri jalan raya.

Sang ayah berusaha tenang. Ia berkendara pelan-pelan menyusuri jalan yang konon dijalani Alifa sepulang les. Setelah satu km, dia tidak menemukan Alifa, kepanikannya naik level, stressnya meningkat. Dia terus berkendara, 2 km terlewati. Alifa masih belum kelihatan. Menjelang tiga km lewat, di seberang jalan dia melihat seorang anak kecil, berjalan cepat, penuh percaya diri. Dia mendekat. Lututnya langsung gemetar. Itu Alifa. Berjalan penuh semangat menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. Sang ayah menenangkan diri terlebih dahulu sebelum memanggil anaknya. Dia tidak mau terlihat panik.

"Alifa," panggil sang ayah. Alifa berhenti dan menoleh. Begitu melihat ayahnya, ia tampak gembira. Sang ayah langsung menyadari sesuatu, Alifa ternyata menyusulnya ke tempat pertemuannya. Mungkin Alifa berpikir sang ayah masih ada urusan, jadi supaya tidak merepotkan, dia pergi saja menemui ayahnya begitu les berakhir. Sang ayah langsung memeluknya erat-erat. Alih-alih menghakimi Alifa, sang ayah malah memuji.
"Alifa mau nyusul ayah ya? Wah hebat, Alifa ingat jalan ke sini ya, padahal baru sekali ayah ajak ke tempat tadi (tempat pertemuan ayahnya)".
Alifa mengangguk. Ia tampak bangga.
Lalu sang ayah bertanya bagaimana cara Alifa menyeberang jalan protokol yang sangat ramai, Alifa menjawab, bahwa ia menyeberang di zebra cross lampu merah, dan kendaraan berhenti saat ia lewat.
Sedikit pun sang ayah tidak menyinggung kecemasannya, rasa paniknya, atau menyesali tindakan Alifa. Sebaliknya, ia malah memberi Alifa hadiah atas keberaniannya.

HARGA DIRI ANAK

Saya percaya bahwa keberhasilan anak juga ditentukan oleh terpeliharanya harga diri anak. Anak-anak yang punya harga diri dan citra diri yang baik, akan punya penilaian diri yang baik. Ini akan melahirkan sikap positif dan rasa percaya diri. Mereka yang percaya diri umumnya mampu belajar dengan baik, karena mereka percaya mereka bisa. Stanley Coopersmith yang menulis buku tentang pola pengasuhan orang tua, menemukan, setidaknya ada tiga perilaku orang tua yang bisa mendorong munculnya harga diri anak-anak ini.

Pertama, penerimaan. Orang tua menerima anak-anaknya dengan penuh. Jika orang tua masih membanding-bandingkan, berarti mereka belum menerima. Apa yang disebut dengan menerima, adalah, menunjukkan dengan hati, sikap dan kata-kata, bahwa anak-anak dicintai dan dihargai. Orang tua memperhatikan kebutuhan tiap anak tanpa kecuali.

Kedua, memberi kemerdekaan tapi juga menetapkan batas. Orang tua tidak mengekang anak, anak boleh melakukan apapun yang mereka suka, selama mereka patuh pada rambu-rambu. Misal, anak boleh bermain games, tapi ia harus berprestasi Anak harus tahu bahwa hak datang bersama kewajiban. Penetapan yang jelas, akan mencegah lahirnya sikap manja, pengabaian, ingin menang sendiri.

Ketiga, ada penghargaan untuk setiap keunikan anak, untuk setiap perbuatan baik mereka. Orang tua tidak cepat menghakimi apalagi menghukumi anak. Penghakiman dan penghukuman, terutama tanpa cek dan ricek yang jelas, akan mengikis harga diri anak pelan-pelan. Jika ini terjadi, lama-lama kondisi learning shutdown datang padanya.
Itulah yang ditakutkan sang ayah, dalam kasus Alifa di atas. Sehingga alih-alih menghakimi tindakan Alifa, ia malah memuji keberaniannya.

Saya tidak tahu persis bagaimana teori mengatasi learning shutdown yang terjadi pada anak. Saya pikir, mungkin, jika ini terjadi, orang tua bisa memecahkannya dengan tiga teori yang disampaikan Coopersmith di atas. Ditambah satu menurut saya, yaitu, mengubah mindset orang tua.

Pada dasarnya, anak-anak sangat memperhatikan pendapat orang-orang di sekitarnya, karena itu, learning shutdown biasanya juga diawali dari orang-orang yang ia kenal. Orang tua, keluarga, guru, teman, dll. Boleh jadi, peran orang di luar keluarga banyak berperan dalam learning shutdown anak. Jika ini benar, maka kunci memecahkan masalah ini ada pada orang tua. Sebab, pada umumnya, anak sangat tergantung secara emosi pada orang tuanya.






Learning Shutdown pada Anak (1)

Dua tulisan yg saya ingin save and share buat kita sebagai ortu. Bagus dan menarik untuk dijadikan ilmu.


MEWASPADAI LEARNING SHUTDOWN PADA ANAK

Berapa kali anak-anak menerima komentar positif dan negatif dalam sehari? Pada tahun 1982 ada penelitian terhadap 100 anak. Penelitian itu mencatat berapa banyak komentar positif negatif yang mereka terima dalam satu hari. Jack Canfield, yang populer dengan buku-buku Chicken Soup for the Soul menemukan bahwa rata-rata anak menerima 75 komentar positif setiap hari. Banyak? Tunggu dulu. Bandingkan dengan komentar negatif yang mereka terima: 460! Itu artinya, rata-rata anak menerima komentar negatif enam kali lebih banyak dalam sehari.

Komentar negatif itu datang dalam berbagai bentuk, salah satunya umpan balik dari sebuah kegiatan. Jadi, apa yang disebut komentar negatif bukan sekadar 'dasar anak bodoh' atau 'kamu ini pemalas', tapi lebih jauh dari itu.

Mari kita ingat-ingat periode awal tumbuh kembang anak-anak. Saat mereka mulai belajar duduk, belajar merangkak, lalu berdiri, nyaris tak satu pun orang dewasa yang memberi umpan balik negatif pada mereka. Pada saat anak belajar jalan, misalnya, saat anak jatuh, orang dewasa justru memberi semangat, ekspresi wajah pun gembira, mendukung. Nada suara hangat dan riang. Anak-anak sangat sensitif terhadap suara dan perubahannya. Ketika mereka menangkap nada riang di dalamnya, dengan segera mereka mengetahui kalau mereka diterima, tak ada yang salah dengan jatuh. Maka mereka bangkit lagi dan belajar jalan kembali. Mereka berani melangkah, sebab, perasaan diterima ini menguatkan kepercayaan diri mereka. Dalam kata lain, penerimaan melahirkan self esteem atawa penilaian diri yang baik.

Begitu anak-anak besar, perlahan semua berubah. Ketika mereka berada di sebuah kelompok, taruhlah sekolah, mereka mulai meragukan kemampuan diri mereka sendiri, dan itu kadang dimulai dari insiden-insiden kecil yang tidak terperhatikan. Misal, ketika dia menjawab pertanyaan dan salah, lalu ditertawakan. Atau dia menggambar lalu mendapati nilainya tujuh sementara temannya sembilan. Atau dia mendapati, ketika dia melamun sejenak, mungkin karena bosan atau teringat suatu hal, lalu dia ditegur dan ekspresi wajah guru sangat negatif. Atau ketika dia mendengar ayah ibunya membanding-bandingkan dia dengan saudara atau teman-temannya. Atau ketika orang tua nggak merespon saat ia menunjukkan tumpukan batunya, yang menurut ia karya seni hebat. Hal-hal seperti inilah yang disebut umpan balik negatif.

Apa yang terjadi ketika anak mendapatkan lebih banyak umpan balik negatif? Yang terjadi adalah, mengutip Bobbi de Porter, learning shutdown, alias matinya semangat belajar. Umpan balik negatif memunculkan hal baru dalam diri anak-anak, namanya keraguan. Mereka mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Lalu mulai menganggap diri tidak capable. Saat kecil, saat mulai belajar jalan, mereka tidak mengenal konsep gagal, sebab tak satu pun orang dewasa di sekitar mereka yang meragukan kemampuan mereka. Namun, saat mereka mulai besar, konsep ini mulai masuk ke benak. Anggapan bahwa diri tidak mampu mulai menghantui. Belajar dianggap sebagai beban, rutinitas membosankan. Jangankan melakoninya, mendengar kata 'belajar' saja, anak-anak sudah ngeri. Karena itu nggak heran, ada anak-anak yang gembira saat guru tidak datang, sekolah libur, atau terjadi hal-hal yang membuat kegiatan belajar mengajar batal. Kenapa gembira? Sebab, tak ada beban yang harus mereka jalani saat itu.

Proses learning shutdown ini lama. Jadi, anak gak ujug-ujug langsung menganggap belajar sebagai beban. Ada peristiwa-peristiwa yang datangnya satu demi satu, mematikan keinginan belajar ini pelan-pelan. Saya dulu melihat ini terjadi pada putri pertama saya. Apa-apa yang dulu membuatnya tertarik, perlahan tidak menarik lagi buatnya. Akhirnya, tak ada pilihan lain bagi saya selain menariknya, mengembalikannya ke rumah. Dan pelan-pelan, ia kembali seperti semula. Mulai tertarik pada banyak hal, dan berkarya.

(bersambung)

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...