Rabu, 05 Februari 2020

Kisah_Nyata_Bencana_Lembah_Palu (part 4) by Hayyun Zsavana

Detik-Detik Sangat Mencekam

Pukul 17.57 WITA. Jum'at, 28 September 2018. Lima menit sebelum peristiwa mengerikan itu.

Kami berenam. Di dalam kamar perawatan. Lantai 1. RSIA Nasana Pura.

Saya.
Yang 1 jam sebelumnya baru tiba dari BPJS. Yang di jalan Sisingamaraja itu.

Neng Susi.
Yang 6 jam lalu baru saja melahirkan bayi perempuan.

Putri ketiga kami. Inka.
Yang tiba di RS 1 jam sebelum kedatangan saya.

Kedatangan inka di RS sebenarnya tidak direncanakan. Karena hari itu dia sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke UGM. Besok Sabtu dia harus berangkat ke Yogya. Mewakili sekolahnya. SMA al-Azhar. Mengikuti olimpiade Biologi.

Dia penasaran dan tidak sabar. Ingin segera melihat adik barunya sebelum berangkat besok.

Dia datang berboncengan motor bersama Widi. Adik bungsu saya.

Rangga.
Orang keenam yang ikut gabung bersama kami di ruang perawatan sore itu. Dia tiba di RS sekitar 15 menit setelah kedatangan saya.

Tidak ketinggalan Mama. Yang sejak pagi menemani kami.

Berenam kami sedang bersenda gurau di kamar perawatan lantai satu. Sambil menutupi rasa penasaran. Menunggu kedatangan si Dede Bayi.

Kami semua sudah tidak sabar. Ingin segera melihat dan menggendongnya. Berdekat-dekatan dengannya.

Di antara kami berenam hanya saya sendiri yang sudah sempat melihatnya. Itu saja rasa penasaran saya tidak kalah besarnya dengan yang lain.

Pokoknya tidak sabar. Pake banget. Ingin segera berada di dekat anggota baru keluarga kami itu.

Si Dede bayi melengkapi jumlah kami sekeluarga. Menjadi 7 orang. Sore itu. Di RSIA Nasana Pura.

Si Dede bayi. Yang belum juga turun-turun. Dari lantai 2. Masih di ruang perawatan bayi. Yang terakhir saya lihat tidur dengan tenang di box bayi. Bersama puluhan bayi lainnya. Di boxnya masing-masing. Sebagiannya masih dalam perawatan khusus. Di dalam inkubator. Satu dua malah masih membutuhkan bantuan oksigen.

Jam 17.57 WITA. 5 Menit sebelum gempa 7,4 SR itu. 15 sampai 20 menit sebelum terjangan lumpur likuifaksi dari arah Timur RS Nasana Pura itu. Kami berenam masih di kamar perawatan lantai satu. Dan si Dede bayinya belum juga bersama kami.

Hari akan segera berganti. Malam segera tiba. Kumandang shalawat dari beberapa masjid sekitar, sudah pula terdengar. Kelamaan menunggu si Dede bayi yang tak kunjung datang, saya dengan Mama pamit pulang.

Mama mau pulang ke rumah. Ingin shalat maghrib di rumah. Sekalian mau menyiapkan makan malam buat papa. Yang ditinggal sendirian di rumah. Saya sendiri juga sekalian mau mengubur ari-ari (tembuni). Yang sudah 6 jam lebih belum sempat terurus.

Begitulah. Saya bersama Mama beranjak keluar. Menuju tempat mobil terparkir. Tepat di samping pos security. Di depan IGD RS Nasana Pura. Di pinggir jalan HM. Soeharto.

Kami berdua berjalan santai. Pelan saja. Melewati lorong RS. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Apalagi sesuatu yang dahsyat lagi luar biasa. Pun yang mengerikan dan mencekam.

Namun, baru sekitar 30 meter kami berjalan. Dalam hitungan kurang 1 menit sejak kami keluar dari kamar perawatan. Masih di lorong RS. Tepat di sebelah taman kecil tak beratap. Sekitar 20-30 Meter sebelum IGD. Tempat Neng Susi 6 jam sebelumnya menunggu jadwal operasi cesar. Tapi malah melahirkan normal.

Tiba-tiba kami mendengar suara gemuruh. Begitu besar. Hampir mendekati suara ledakan.

Sangat keras.

Bersamaan dengan itu, kami berdua seperti terlempar ke atas. Lalu dalam hitungan detik seketika terjatuh. Terguling di lantai ubin lorong RS.

Ketika terjatuh itupun, suara gemuruh masih terus terdengar.

Tanah di sekitar kami berguncang begitu kerasnya. Lantai ubin RS tempat kami terjatuh mengeluarkan suara berderak-derak. Seperti bergerak-gerak dan hendak terlepas secara bersamaan.

Dalam keadaan setengah tertelungkup, setelah terjatuh dan terguling itu, secara refleks saya berusaha menarik tangan Mama. Yang terhempas jatuh di samping saya. Saya berusaha berdiri. Sambil berupaya menarik tangan Mama. Supaya bisa ikut berdiri. Saya tarik sekuatnya. Tapi segera terlepas lagi.

Kami terjatuh lagi.

Berdiri lagi.

Terjatuh lagi.

Berdiri lagi.

Terjatuh lagi.

Berdiri lagi.

Tidak bisa.

Tak ada pijakan yang stabil. Lantai ubin di bawah kami seperti tak mau berhenti bergoyang.

Dalam keadaan panik dan kacau itu, sambil terus berusaha menarik tangan Mama, berulangkali saya berkata. Tepatnya berteriak pada Mama:

"Mama.. jangan di sini kita!! Jangan di sini kita!! Kita ke situ!!".

Berkata begitu, tanpa berhasil menunjuk arah manapun yang saya maksud. Tidak jelas pula apa jawaban Mama. Saya hanya mendengar suara gumaman. Cenderung hanya seperti menggerung.

Menyedihkan sekali kondisi Mama saat itu. Tertelungkup di lantai. Beberapa kali berusaha berdiri. Tapi terus terjatuh.

Akhirnya tangan Mama bisa saya raih. Segera saya tarik. Sebisanya Mama saya peluk. Sekali lagi kami terjatuh. Pikiran saya ketika itu, harus segera membawa Mama menyingkir dari lorong RS. Ke taman kecil tak beratap. Hanya 1 meter di sebelah kiri kami. Menghindari kejatuhan benda-benda keras dari atas. Yang pasti akan menimpa kami bila tidak segera pergi dari situ.

Tapi untuk menjangkau taman tak beratap yang hanya berjarak 1 langkah itu, begitu susahnya. Kami benar-benar kehilangan tempat berpijak. Tanah di bawah kami terus bergoyang. Bergerak-gerak tiada henti. Diikuti suara berderak dan gemuruh yang aneh.

Sangat mengerikan.
Begitu mencekam.

Dan itu semua berlangsung begitu cepat.

Akhirnya saya bisa menarik Mama berdiri. Membawanya ke taman berlantai pavin tak beratap di sebelah kiri. Tapi baru selangkah, sekonyong-konyong dari arah belakang kami, seorang laki-laki, mungkin seusia saya, memangil:

"Ke sini bu. Ikut saya bu".

Melihat ada orang berbaik hati membantu, saya meminta Mama mengikuti orang tersebut. Ketika itu guncangan keras dan suara gemuruh sudah agak mereda.

Saya sendiri lalu segera berlari kembali ke arah dalam RS. Ke ruang perawatan. Tempat Neng Susi, Inka, Rangga, dan Widi terakhir kami tinggalkan.

Sepanjang lorong menuju ke arah dalam itu, berserakan pecahan beling.

Suasana kacau.

Terdengar di sana-sini suara teriakan. Semua orang panik. Setiap orang mencari jalan keluar. Takut kalau guncangan terjadi lagi.

Dalam suasana yang begitu kacau dan panik itulah saya berlari ke ruang perawatan. Sambil berusaha untuk tidak terjatuh. Karena menghindari pecahan beling. Atau malah bertabrakan dengan orang lain. Yang pasti sama-sama tak kurang paniknya.

Ketika berlari menuju ke dalam RS itu, dari jauh saya melihat seorang ibu terjatuh. Tepat di depan pintu ruang perawatan Neng Susi.

Ibu itu hanya menggunakan sarung. Dengan rambut awut-awutan. Masih dengan infus di tangan. Yang miris, di ujung bawah sarungnya, menyembul selang kecil. Itu selang kateter. Yang biasa dipasang di saluran kencing. Sesaat sebelum operasi cesar.

Saya tau itu selang kateter. Karena Neng Susi pagi tadi juga sempat dipasangi selang serupa. Sudah siap-siap untuk operasi Cesar juga. Hanya tinggal menunggu panggilan dokter. Untuk masuk ruang operasi. Tapi belum sempat panggilan datang, si Dede bayinya keburu lahir.

Seorang suster berusaha membantu ibu yang terjatuh itu berdiri. Saya berjarak sekitar 10 meter dari mereka. Begitu bisa berdiri, mereka berjalan pelan ke arah Utara. Melewati saya yang berlari ke arah sebaliknya. Saya sempat menunjukkan jalan keluar untuk evakuasi.

"Terus!!! nanti belok kanan ke lapangan di samping Timur", kata saya.

Tempat itu saya tau, karena sebelumnya saya melihat Mama dibawa oleh laki-laki yang tadi menolongnya ke situ.

Begitu tiba di depan pintu ruang perawatan, saya langsung membuka pintu kamar. Karena panik ditambah rasa khawatir yang sangat, pintu itu saya buka sambil tanpa sadar menendangnya.

Syukurlah hal yang saya takutkan tidak terjadi. Sambil berlari tadi, saya sangat kuatir kalau-kalau mereka, Neng Susi, anak-anak, dan Widi, tertimpa runtuhan bangunan atau benda keras apapun dari atas.

Syukurlah itu tidak terjadi. Hanya kamar memang dalam keadaan berantakan. Dua tempat tidur di kamar itu, rupanya saling bertabrakan ketika guncangan keras tadi terjadi. Tas dan helm yang tadinya di atas lemari, sudah berserakan di lantai. Begitu juga dispenser dan galon ikut terguling di lantai.

Tapi lega sekali rasanya melihat mereka berempat tidak apa-apa. Ketakutan dan kuatir tentu saja. Neng Susi dan anak-anak saya temukan saling berpelukan.

Tanpa ba-bi-bu, serta merta saya menyuruh mereka keluar. Setengah berteriak:

"Ayo keluar. Keluar. Cepat keluar!!!".

Melihat kedatangan saya, mereka berempat tentu saja lega. Tapi hanya sesaat. Mendengar saya berteriak menyuruh secepatnya keluar, kontan seketika mereka berdiri. Saya langsung menarik tangan Neng Susi dan anak-anak. Sejurus Neng Susi sempat mengingatkan:

"Tas bagaimana ayah".

Saya yang hanya memikirkan untuk sesegera mungkin membawa mereka keluar dari gedung RS itu, spontan menjawab:

"Sudah, tidak usah pikirkan yang lain dulu. Nyawa dulu yang penting".

Sambil berkata begitu, saya segera meraih tangan Neng Susi. Menuntunnya keluar ruangan.

Kondisinya yang masih lemah, tidak memungkinkannya bisa bergerak cepat. Apalagi berlari.

Belum lagi kondisi jalan sepanjang lorong keluar RS itu, memang sudah berantakan. Pecahan beling di sana sini.

Ditambah lagi orang-orang yang berlarian. Di depan dan di belakang kami.

Belum lagi, di tangan Neng Susi masih terpasang utuh sebotol infus. Dalam keadaan dengan infus di tangan itulah, kami bergegas keluar.

Inka, Rangga, dan Widi sudah di depan kami. Tujuan kami, lapangan di samping Timur RS.

Lapangan itu seingat saya berlantai pavin. Kurang lebih seluas lapangan futsal.

Suasana begitu mencekam. Sangat mencekam. Meski berusaha sekuatnya untuk tenang, tetap saja saya panik. Rasa kuatir kalau-kalau bangunan RS itu rubuh dan menimpa kami, membuat saya benar-benar panik.

Dalam suasana mencekam dan panik luar biasa itu, saya membawa Neng Susi berlari. Hampir lupa, kalau dia baru saja melahirkan. Hampir lupa kalau di lengannya masih menempel jarum infus. Utuh dengan botolnya.

Sambil menarik tangan Neng Susi, saya berteriak-teriak menyuruh Inka, Ranga, dan Widi untuk terus berlari. Kami harus secepatnya sampai di lapangan terbuka itu. Di samping sebelah Timur RS itu. Tepat di arah kelurahan Petobo itu.

Itu sudah jam 18.05 WITA. Kira-kira. 5-10 menit sebelum lumpur likuifaksi datang bergulung-gulung. Dari kelurahan Petobo. Setinggi 20 meter lebih. Menerjang lapangan tempat kami semua berkumpul. Lalu menghantam dinding sebelah Timur RS dengan keras.

Jam 18.05 itu. 5-10 menit sebelum terjangan lumpur likuifaksi itu. Kami berlima terus berlari. Menuju lapangan terbuka itu.

Dan si Dede bayi belum lagi ada bersama kami.

Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-5-by.html

Kisah_Nyata_Bencana_Lembah_Palu (part 3) by Hayyun Zsavana

RS Nasana Pura: 5 Menit Sebelum Gempa

Itu benar-benar hari yang sangat mencekam. Bagi kami sekeluarga. Bagi seluruh pasien. Keluarga pasien. Seluruh pengunjung RSIA Nasana Pura. Pasti juga bagi seluruh masyarakat Kota Palu, Donggala, dan Sigi. Tiga daerah di wilayah Sulawesi Tengah yang mengalami dampak terparah oleh tiga rangkaian bencana dahsyat. Gempa, tsunami, dan likuifaksi. Yang datang hampir bersamaan.

Begitu tiba-tiba.

Tanpa pula di sangka-sangka.

Di hari naas itu. Jum'at, 28 September 2018.
Di hari yang sangat mencekam itu, benar-benar hanya kuasa ilahi yang memungkinkan siapapun bisa selamat. Salah mengambil keputusan sedikit saja, taruhannya kehilangan nyawa. Salah arah ketika berlari, akibatnya fatal. Bisa tertimbun lumpur atau tertimpa runtuhan bangunan.

Siapapun yang pernah merasakan guncangan gempa bermagnitudo 7,4 SR, seperti hari itu, hampir pasti berfikir, mungkin dunia sudah akan kiamat. Itupula yang sempat terlintas di benak saya ketika itu.

Betapa dahsyatnya guncangan itu.

Begitulah. Hari itu. Tepat jam 11.15. Anak ketiga saya lahir. Perempuan. Melalui rangkaian proses yang dramatis. Di RS Ibu dan Anak Nasana Pura. RS yang beberapa jam kemudian menjadi saksi gempa dahsyat dan terjangan lumpur likuifaksi dari Kelurahan Petobo.

RS itu sendiri, berada di wilayah Kelurahan Petobo. Di ujung paling Barat. Hanya sekitar 50 meter dari Jalan Dewi Sartika. Ke arah Timur. Ini jalan poros yang menghubungkan dua wilayah di Sulawesi Tengah. Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Kejadian-kejadian sesudah kelahiran putri ketiga saya itu, awalnya berjalan wajar. Berlangsung seperti biasa saja. Normal saja. Kepanikan dan kecemasan berganti rasa lega dan gembira.

Tak terkira senangnya.

Betapa tidak, proses persalinan yang tadinya direncanakan melalui operasi cesar, malah bayinya lahir normal.

Operasi yang dijadwalkan jam 13.00 di hari Jum'at itu, batal dengan sendirinya. Bayinya keburu lahir. Tepat dua jam sebelum operasi.

Segera setelah lahir, bayi perempuan itu diambil oleh seorang suster jaga. Dibawa untuk dibersihkan. Seingat saya, tak sampai 5 menit, diperlihatkan lagi kepada kami. Sudah dalam keadaan bersih. Sudah pula dibedong.

Berikutnya, oleh suster kami diajak memeriksa kondisi fisik bayi. Agaknya ini prosedur standar. Mungkin berlaku di seluruh RS atau Poli Bersalin. Seluruh organ fisiknya diperiksa bersama. Ada tidak yang bermasalah. Pendeknya dari ujung kepala sampai kaki.

Kesimpulannya kondisi fisik bayi normal. Tidak ada cacat. Timbangannya pun terbilang normal. 2,9 kg. Tidak perlu perawatan khusus. Tidak perlu masuk inkubator.

Tak terkira senangnya. Semuanya selamat. Ibunya selamat. Bayinya pun selamat. Tak cacat pula.

Setelah semuanya beres, bayi cantik itu oleh suster dibawa ke ruang perawatan. Setelah terlebih dahulu diberi gelang identitas. Semua bayi di RS itu memang diberi gelang identitas. Yang di bagian atasnya terdapat tulisan "BY". Diikuti nama ibunya. Itu tentu karena bayinya belum punya nama.

Jadi di gelang itu bertuliskan :

"BY. Ny. Susi Susilawati."

Tak disangka, 6 jam kemudian gelang kecil itu menjadi sangat penting artinya bagi kami.
Setelah sempat saya azani, bayi mungil kami itupun oleh suster dibawa ke ruang perawatan. Di lantai dua.

Tak lama sesudah itu, ibunya pun dipindahkan ke ruang perawatan. Di lantai satu.

Semuanya berjalan normal. Biasa-biasa saja.

Lepas jum'at, saya masih sempat ke kantor BPJS. Di jalan Sisingamaraja. Sekitar 7 km dari RS Nasana Pura. Mengurus tanggungan BPJS si bayi tentunya. Sekitar 1 jam lamanya saya di BPJS. Dari jam 14.00 WITA sampai jam 15.00 WITA lewat sedikit.

Ketika di BPJS itulah gempa pertama terjadi. Posisi saya ketika itu baru saja hendak kembali ke RS. Sudah di dalam mobil. Baru saja akan menghidupkan mesin. Sekonyong-konyong mobil terasa seperti bergoyang. Lumayan kencang. Tapi saya tak terlalu hirau. karena menyangka itu hanya akibat tekanan angin dari sebua mobil truck besar yang baru saja lewat dengan kecepatan tinggi.

Menyangka demikian sayapun santai saja. Bahkan setelah tau kalau goyangan itu akibat gempa bermagnitudo 5,9 SR, saya juga tidak risau sama sekali. Mungkin karena beberapa tahun sebelumnya, sudah merasakan gempa dengan guncangan lebih besar.

Info tentang gempa pertama itupun, saya peroleh dari Neng Susi. Yang tak sampai satu menit setelahnya, sudah menelpon saya. Memberi tau kalau barusan ada gempa. Saya hanya memberi respon sekedarnya saja. Hanya menanyakan situasi di RS. Karena dijawab semua baik-baik saja, saya malah menanyakan si Dede bayinya. Sudah dibawa turun ke ruang perawatan ibunya atau belum. Maklum penasaran. Pengen cepat-cepat menggendongnya. Pengennya begitu tiba di RS, Dede bayinya sudah ada bersama ibunya.

Dari BPJS saya segera kembali ke RS. Ya, itu tadi. Pengen segera ketemu bayinya. Supaya cepat sampai, saya mengambil jalan potong. Dari jalan Sisingamaraja, belok kiri ke jalan Veteran. Tembus ke jalan Garuda. Menyeberang perempatan AR. Saleh. Lalu di depan Hotel Sutan Raja, belok kiri ke jalan tanggul. Terus ke Selatan. Lalu belok kanan melewati Islamic Center. Ini sudah memasuki wilayah Kelurahan Petobo.

Itu sudah hampir jam 15.30. Kurang 2 jam setengah sebelum kejadian.

Setibanya di Jalan HM. Soeharto, sekira 200 meter sebelum RS, saya sempat berhenti. Sekitar 15 menit lamanya. Menerima telpon dari seorang kawan.

Kurang 15 menit jam 16.00 WITA, saya tiba di RS. Langsung ke ruang perawatan lantai satu.

Bayinya ternyata belum ada.

Belum dibawa turun dari ruang perawatannya. Di lantai dua.

Karena tidak sabar, saya langsung menanyakannya ke perawat jaga. Kenapa bayinya belum dibawa ke ibunya.

Dijawab, sebentar lagi akan segera diantarkan.

Padahal itu kali ketiga hal yang sama saya tanyakan. Saking tidak sabarnya ingin segera dekat-dekat dengan si Dede bayi.

Sebelum ke BPJS saya memang sudah 2 kali menanyakan itu. Malah karena tidak sabar, saya sempat menjenguk langsung si Dede. Di lantai dua. Di ruang perawatannya itu. Masih di dalam box bayi. Itu saja sudah tak terkira girangnya. Tapi tetap juga tak bisa menghilangkan rasa penasaran. Untuk segera berdekat-dekatan dengan si Dede. Masih sempat pula setelah itu, dua kali saya kembali naik ke ruang perawatan bayi itu.

Pertama, mengantarkan adik pertama saya, Hayya. Yang juga penasaran ingin segera melihat ponakan barunya.

Kedua, lagi-lagi untuk memenuhi permintaan untuk mengantar. Kali ini dua orang sekaligus. Inka , putri pertama saya itu, dan Widi. Adik saya paling bontot. Dua-duanya gagal. Tak diizinkan masuk.

“Bukan jam besuk”, kata suster jaga.

Ya sudah. Tunggu saja. Nanti juga Dede bayinya diantar. Biarpun rasa penasaran sudah melampaui ubun-uban.

Ketika tiba di RS, jam 16.15 itu. Dua jam sebelum kejadian, di ruang perawatan suasana sudah ramai. Sudah ada 4 orang. Neng Susi yang masih lemes paska bersalin. Mama yang dari awal setia menemani. Plus Widi dan Inka yang tiba beberapa saat sebelumnya. Boncengan motor berdua.

Sambil menunggu kedatangan si Dede bayi, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol. Suasananya gayeng. Penuh canda. Rame dan seru. Sampai yang masih lemes, yang baru habis melahirkanpun ikut tertawa-tawa. Sambil sesekali masih meringis. Maklum, sedang gembira menyambut anggota baru. Si Dede bayi yang dengan rasa penasaran, dengan kuota kesabaran sudah hampir habis, sedang ditunggu-tunggu kedatangannya.

Sekitar 30 menit kemudian, Rangga, putra kedua kami, ikut bergabung. Langsung dari sekolahnya. SMP al-Azhar. Tak lagi pulang ke rumah. Di Kawatuna. Rumah sejak pagi sudah kosong.

Kedatangan Rangga melengkapi jumlah kami. Menjadi 7 orang. 6 orang yang sedang menunggu si Dede bayi di ruang perawatan bundanya. Di lantai 1. Plus si Dede bayi yang masih juga belum dibawa turun dari lantai dua.

Itu sudah 17.57.

Kurang 5 menit sebelum kejadian. Jelang maghrib. Kami semua masih mengobrol di kamar. Si Dede bayi belum juga bersama kami. Masih di ruang perawatan bayi. Yang di lantai 2 itu. Bersama puluhan bayi lainnya. Yang sebagiannya dalam perawatan khusus. Di dalam inkubator.

Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-4-by.html

Kisah_Nyata_Bencana_Lembah_Palu (part 2) by Hayyun Zsavana

Lahir Tanpa Operasi

Saya yang sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Neng Susi, sempat jengkel sekali. Levelnya tingkat dewa. Jengkel pada petugas RS. Jengkel pula (astaghfirullaah) pada Mama.

Pikir saya, kenapa pula Mama pake acara maksa Neng Susi tadi sarapan. Coba kalau Mama tidak maksa. Pasti sekarang, begitu tiba, bisa langsung dioperasi.

Sempat pula saya membatin, kenapa tadi ketika ditanya, Neng Susi menjawab terlalu jujur. Pake mengaku segala kalau sebelum ke RS sudah sarapan. Bilang kek, belum. Atau kalau tidak mau bohong, cukup diam saja.

Aduhhh, benar-benar saya jengkel dan kalut karenanya.

Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Harus ikut prosedur. Itu juga untuk kepentingan suksesnya operasi. Untuk keselamatan Neng Susi juga.

Selama waktu menunggu itu, menit demi menit, situasi berubah dari tegang menjadi sangat menegangkan. Lagi dramatis. Rasa khawatir plus kalut pun tak terkira.

Bagaimana tidak, di atas tempat tidur IGD itu, Neng Susi terus mengalami kontraksi.

Makin sering.

Terus pula mengerang kesakitan. Sampai-sampai saya harus beberapa kali memanggil perawat jaga.

Saya agak sedikit lega, ketika Dokter Wulan -yang akan menangani operasinya menyempatkan datang untuk melihat kondisi Neng Susi. Mungkin atas permintaan perawat jaga. Mungkin perawat jaga tidak tahan dengan desakan saya. Sehingga merasa perlu meminta dokter Wulan yang sedang di ruang operasi, datang. Melihat kondisi Neng Susi begitu, dokter Wulan langsung memerintahkan kateterisasi dan pencukuran.

Sumpah, di situ saya baru tau, kalau orang mau dioperasi harus terlebih dahulu dikateter.

Pencukuran selesai.
Kateterisasipun selesai.

Masalah tak selesai.
Rasa kuatir dan tegang tak usai.

Neng Susi malah makin sering kontraksi dan mengerang kesakitan. Saya hanya bisa berdiri. Memegangi. Tepatnya, dipegangi. Dengan kuat. Sangat kuat. Setiap kontraksi, pegangan dan erangannya makin kuat. Lengan saya sampai terasa sakit dan ngilu dipegangi kuat-kuat begitu.

15 menit setelah dikateter dan dicukur, dalam erangan kontraksinya, Neng Susi mengatakan seperti ingin buang air besar. Saya spontan berteriak pada perawat jaga. Yang langsung mendatangkan seorang bidan. Jalan lahir diperiksa. Tak sabar saya bertanya:

"Bagaimana, Suster? "

Dijawab:

"Sudah pembukaan 3".

Tapi belum boleh mengejan. Posisi kepala si calon bayi belum pas.

Panggilan dari ruang operasi tak juga kunjung tiba.

Tegang.

Makin tegang.

Tenang sebentar.

Kontraksi lagi.

Mengerang lagi.

Lalu tiba-tiba Neng Susi mengeluh ingin buang air besar lagi. Untuk kedua kalinya. Makin kuat tanganku dipegang. Kali ini saya diam. Tepatnya bingung. Tak tau lagi mau berbuat apa.

Tapi ketika pada kontraksi dan erangan berikutnya, keluhan mau buang air itu muncul untuk ketiga kalinya, spontan saya berteriak panik ke perawat jaga.

Yang diteriaki tergesa melihat. Memeriksa dan tanpa ba bi bu, langsung memberikan arahan.

Rupanya proses persalinan sedang terjadi. Hanya dengan sekali mengejan.

Bluuuus.

Keluarlah si bayi. Hampir-hampir masih dalam selaputnya. Yang biasa disebut tembuni itu.

Masih teringat dengan jelas. Bagaimana mata bayi itu, sejenak melongo. Nyaris seperti kebingungan. Sempat pula Mama nyeletuk:

"Kenapa tidak menangis?".

Tapi dalam hitungan detik setelah itu, terdengarlah suara bayi menangis.

Begitu keras.

Begitu indah.

Begitu merdu.

Lega.

Sungguh lega.

Levelnya tingkat segala dewa.

Saya sempat melirik jenis kelaminnya.

Perempuan.

Tak terlalu kaget. Sesuai hasil USG yang dilakukan hampir tiap bulan sebelumnya.

Hampir bersamaan dengan suara tangis merdu si Dede (panggilannya selama dalam kandungan), pintu kamar operasi terbuka. Seorang petugas memanggil nama Neng Susi. Rupanya giliran operasi telah tiba.

Tapi kalau sebelumnya saya yang tidak bisa memaksa, ini kali perawatnya yang tidak bisa. Si Dede sudah keburu lahir. Tak mungkin dimasukin lagi ke dalam perut. Saya sampai bergurau ke Neng Susi,

"Wah si Dede seperti tau aja keinginan ayahnya".

Ketika ibunya sedang dibersihkan untuk persiapan operasi, saya memang sempat berseloroh. Mungkin juga setengah mengeluh.

"Perut bunda bakal gak mulus lagi nieh. Bakalan ada streching luka bekas operasi".

Tapi lebih dari itu, setelah si Dede lahir, saya juga tak tahan mengungkapkan kesan pada bundanya.

"Si Dede seperti buru-buru sekali mau keluar ya !! Agaknya dia tidak mau bundanya dioperasi. Seperti tau aja keinginan ayahnya".

Dan ini memang kesan sangat kuat yang saya rasakan. Terhadap seluruh proses persalinan anak ketiga kami ini. Begitu cepat dan tak terduga. Tak lebih dari tiga setengah jam sejak pertama kami tiba di IGD RSIA Nasana Pura. Kami tiba di situ sekitar jam 08.45. Tepat jam 11.15, si Dede sudah lahir.

Normal.

Tak sempat lagi dioperasi.

Tak terduga sama sekali. Bila kemudian, ternyata, semua urut-urutan kejadian ini, mulau dsri kontraksi di penghujung malam itu, sampai proses kelahiran si Dede yang begitu cepat, merupakan bagian dari suatu skenario Ilahiah. Skenario yang sangat rapi. Yang kesemuanya memberi peluang bagi kami untuk lolos. Dari terjangan maut. Hanya beberapa jam sesudahnya.

Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-3-by.html

Selasa, 04 Februari 2020

Kisah_Nyata_Bencana_Lembah_Palu (part 1) by Hayyun Zsavana

Kontraksi

Ketika itu. Kami bertujuh. Saya, Mama, Neng Susi Susilawati (istri saya), anak pertama dan kedua saya, Priyanka Amanda Savana (Inka) dan Priyanggara Zuhaynanda Zavana (Rangga), Widi (adik bungsu saya), dan bayi kami yangg baru lahir.

Tepat ketika musibah gempa, tsunami dan likuifaksi itu. Kami berada di RSIA Nasana Pura. RS Ibu dan Anak ini terletak di bagian paling Timur wilayah kelurahan Petobo. Sebuah kelurahan di wilayah Kota Palu. Terletak di arah paling Selatan Kota. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sigi. Berbatasan langsung pula dengan Kelurahan Kawatuna. Tempat kami sekeluarga tinggal. Ujung paling Selatannya.

Kelurahan Kawatuna sendiri, merupakan batas paling Timur wilayah Kota Palu. Berupa dataran tinggi. Dengan sebagian pemukiman berada di perbukitan. Setidaknya berbatasan langsung dengan bukit-bukit kecil dan gunung.

Di Kawatuna ini terdapat Bulu (Gunung) Masomba. Sebuah gunung yang legendaris. Bagi masyarakat Kota Palu. Berbentuk serupa layar perahu. Ada legenda tentang gunung ini. Legenda yang sangat terkenal. Di seantero jazirah Sulawesi. Legenda Sawerigading. Yang kisahnya mirip Nabi Nuh itu. Melayari seluruh pulau dengan sebuah perahu. Bersama seekor anjing. Bernama si Buri.

Perahu itu akhirnya bersandar di suatu tempat. Di lembah Kaili. Palu. Yang kini tempat itu berbentuk gunung serupa layar perahu. Itulah Bulu Masomba. Gunung yang dipercaya sebagai layar perahu Sawerigading. Tokoh yang menurut legenda melayari seluruh perairan Sulawesi. Hingga perahunya terdampar di lembah Kaili.

Dari Bulu Masomba inipula nama Pasar Masomba di Kelurahan Tatura Kota Palu, berasal. Pasar ini berada tepat di samping Mall Tatura Palu. Yang ikut ambruk hampir tak berbentuk akibat bencana itu.

Posisinya yang di dataran tinggi, membuat Kawatuna ketika itu, menjadi salah satu titik pengungsian paling aman. Sekaligus juga menjadi salah satu jalur evakuasi utama korban tewas dari kelurahan Petobo dan Sigi. Ke posko utama Tim Evakuasi.

Waktu itu. Hampir tiap saat. Siang dan malam. 24 jam tiada henti. Ambulance evakuasi melewati kampung halaman saya ini
Kelurahan Petobo. Di mana RSIA Nasana Pura berada. Tempat istri saya melahirkan anak ketiga kami. Benar-benar menerima dampak sangat parah. Akibat gempa berkekuatan 7,4 SR. Di Jum'at petang. Jelang maghrib itu.

Betapa tidak, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, punahnya sebuah kelurahan. Dari ujung Timur hingga Barat. Utara ke Selatan. Sejauh mata memandang. Hanyalah gunungan lumpur dan reruntuhan rumah penduduk. Berikut ribuan penghuninya.

Pepohonan dan hewan-hewan yang beberapa hari lalu masih diternakkan warga, kini semua tinggal gunungan lumpur. Benar-benar amblas rata dengan tanah. Punah tak bersisa. Tinggal puing-puing tak berbentuk.

Di ujung paling Barat kelurahan yang kini hampir punah lebih dari 50 persennya inilah, kami berada ketika guncangan besar itu terjadi.

Keberadaan kami di RSIA tersebut, terkait dengan kondisi Neng Susi. Yang sedang siap-siap hendak melahirkan.

Sesuai janji dengan dokter Wulan sehari sebelumnya, Neng Susi sedianya akan menjalani operasi cesar pada hari Sabtu di RS ini.

Untuk kepentingan itu, mestinya kami baru berada di RS pada Jum'at sore. Setidaknya 12 jam sebelum tindakan operasi. Tentu untuk persiapan operasi itu sendiri.

Namun jadwal masuk RS, ternyata harus dipercepat. Di malam Jum'at itu. Sekira pukul 01.00 WITA. Tanpa disangka. Neng Susi sudah merasakan kontraksi. Jelang subuh kontraksinya semakin ajeg. Setiap 15 menit sekali. Kondisinya yang seperti itu, memaksa rencana harus diubah. Tak bisa lagi menunggu hingga sore. Sesuai janji dengan dokter. Harus segera masuk RS. Pagi itu juga.

Hanya saja tidak bisa seketika itu. Pasalnya di rumah, kami hanya berempat. Bersama 2 anak. Inka dan Rangga. Harus menunggu mereka berangkat sekolah dulu.

Untunglah jelang pagi itu, kontraksinya agak mereda. Neng Susi juga sedikit lebih tenang. Meski sesekali masih merintih kesakitan.

Kami baru bisa bergerak ke RS, setelah kedua anak itu berangkat ke sekolah masing-masing.

Inka kelas 2 SMA Al-Azhar. Di jalan Garuda. Rangga kelas 1 SMP al-Azhar. Di Tanjung Malakosa.

Meskipun saya sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Neng Susi, kami baru benar-benar bisa bergerak ke RS, sekitar pukul 08.15 WITA. Itupun setelah terlebih dahulu menjemput Mama. Yang ketika diberitau, meminta untuk ikut menemani kami.

Sampai di sini, ketika menulis kembali kisah ini, saya baru menyadari. Ternyata beberapa rentetan peristiwa. Di pagi itu. Sungguh tak terduga. Merupakan bagian dari skenario sangat rapi. Yang seolah sengaja disiapkan Kuasa Ilahi buat kami.

Terutama kepada Neng Susi.

Skenario ilahi yang memungkinkan kami bisa selamat dari bencana dahsyat. Lagi sangat mengerikan itu.

Tanpa rentetan kejadian yang sesungguhnya sederhana. Bahkan terbilang sepele itu. Mungkin salah satu, sebagian, bahkan seluruhnya dari kami, telah ikut menjadi korban. Di antara ribuan korban yang hingga kini, belum juga ditemukan. Ikut tertimbun ribuan ton lumpur dan reruntuhan rumah yang datang dari arah Timur RS. Dari arah Kelurahan Petobo itu.

Malah bisa jadi pula, kalau bukan karena ikut sibuk dengan kelahiran adiknya. Mungkin saja sore itu, Inka atau salah satu dari kami, berada di lokasi acara Palu Nomoni. Di pinggir pantai Talise. Tempat yang di saat sama juga diterjang gelombang tsunami. Mengakibatkan ratusan korban jiwa. Sebagiannya ditemukan dalam keadaan tanpa busana.

Kejadian-kejadian sepele itu. Dimulai sejak berubahnya jadwal masuk RS. Yang tiba-tiba. Yang harusnya hari Jum'at sore. Berubah menjadi Jum'at pagi. Sampai pada kenyataan bahwa Neng Susi akhirnya tidak jadi dioperasi. Malah tanpa diduga, 'terpaksa' melahirkan normal.

Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada Neng Susi. Bila proses bersalinnya benar-benar melalui tindakan operasi. Tak terbayangkan bagaimana setelah selesai dioperasi, sesuai prosedur, ia harus melewati masa pemulihan selama 6 jam. Di suatu kamar khusus. Tanpa boleh ditemui oleh siapapun.

Bila itu terjadi. Hampir pasti. Ketika guncangan dahsyat dan datangnya banjir bandang lumpur dari arah Petobo yang menerjang RS itu, ia masih berada di ruang isolasi.

Entah dalam keadaan sadar atau tidak.

Kalaupun sadar, tentu dalam kondisi sangat lemah. Pasti tak mampu bergerak secara mandiri. Apalagi untuk bergerak cepat. Untuk menyelamatkan diri dari terjangan ribuan ton lumpur. Yang datang dengan sangat tiba-tiba.

Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan pasti telah terjadi.

Begitulah. Pagi itu. Bertiga kami bergegas menuju RSIA Nasana Pura. Sebelum berangkat, masih sempat pula kami sarapan bubur nasi campur kacang ijo. Meski enggan, karena pengen secepatnya tiba di RS, kami tetap harus sarapan. Karena Mama memintanya dengan setengah memaksa. Sampai lupa kalau untuk dioperasi, harus berpuasa beberapa jam sebelumnya.

Akibatnya, begitu tiba di IGD RS, Neng Susi yang sepanjang jalan terus meringis kesakitan karena kontraksi, tak bisa langsung dioperasi. Harus menunggu beberapa jam. Setidaknya sampai perutnya relatif kosong.

Menunggu beberapa jam itu, artinya paling cepat jam 13.00. Tak bisa kurang dari itu. Itupun harus antri. Menunggu selesainya operasi tiga pasien lain. Yang sudah datang sebelum kami. Itu artinya lagi, antrian keempat.

Huuuftt...

Next: https://dandidinda.blogspot.com/2020/02/kisahnyatabencanalembahpalu-part-2-by.html

Hikmah: TERUSLAH BERSILATURAHIM

Assalamualaikum Wr Wb

😪  Ketika ada kesempatan, pergilah bersama saudara/teman. Berkumpul - kumpul, bukan sekadar makan, minum dan bersenang, tetapi ingat, waktu hidup kita semakin singkat. Maka dari itu, bangunkanlah Persaudaraan

😪 Mungkin lain waktu kita Tidak akan bertemu lagi.

😪 Mungkin lain waktu kita sudah semakin Susah untuk berjalan.

😪 Menghabiskan sebagian waktu dengan Teman atau Saudara akan membuat Hidup lebih Sehat secara Mental dan Fisik.

😪 Umur itu Seperti es batu, Dipakai atau tidak akan tetap mencair dan berakhir.

😪 Begitu juga dengan umur kita. Digunakan atau Tidak Digunakan, umur kita akan tetap berkurang,  dan Akhirnya kembali ke hadirat ILLAHI.

😪 Tersenyumlah dan berfikir positif. Air yang Mengalir tidak dapat berbalik arah. Kita tidak mungkin dapat berbalik menjadi muda lagi.

😪 Kita akan menjadi tua, sakit, dan meninggal.. Jalani hidup ini dgn ceria,  sabar dan santai.

😪 Jangan suka mau menang sendiri,  sementara orang lain selalu salah.

😪 Terimalah persaudaraan. Jangan suka mengeluh atau membenci.

😪 Hidup ini terlalu singkat untuk selalu benar sendiri (Pentingkan diri sendiri)

😪 Jangan buang sahabat/saudara cuma karena tak sepakat.

😪 Satu keburukan teman/saudara bukan berarti hilang sembilan kebaikannya.

😪 Perbanyaklah waktu untuk berkumpul dengan teman teman dan saudara saudara kita.

😪 Siapa tahu mereka nanti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Buanglah jauh jauh sifat egois dan iri hati

😪 Terimalah kekurangan dan kelebihan dari saudara/ sahabat.

😪 Bertemanlah dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.

😪 Nikmati semua waktu, senda dan tawa. Hargai semua perbedaan. Percayakan kemampuan teman kita.

😪 Jaga perasaannya, tutupi aibnya. Bantu ketika dia jatuh, Sediakan bahu ketika dia menangis.

😪 Tepuk tangan dan gembira ketika dia sukses. Sebut namanya dalam doa kita.

😪 Bertemanlah dengan hati yang baik dan tulus. Ketika hatimu baik dan tulus, percayalah, Allah juga akan selalu bersama mu.



Teruslah  bersilaturahmi sampai Allah berkata waktunya pulang.♥

Senin, 03 Februari 2020

Hikmah: Mencium Hajar Aswad dan Keluarga

Tulisan seorang teman yang baru pulang umroh.

*****

Di Masjidil Haram, sehabis menyelesaikan tawaf, saya segera menepi mencari tempat strategis yang berhadapan langsung dengan Multazam untuk berdoa. Saya menemukan tempat yang kebetulan lowong di hadapan Ka'bah. Lalu saya bersimpuh dan memanjatkan do'a sambil menunggu waktu subuh menjelang.

Saat itulah saya melihat seorang lelaki hitam legam dari benua Afrika datang dan langsung mengambil tempat di samping kanan.

Terlintas dalam hati, "Dengan potongan perawakan dan tampang seperti ini, lelaki kulit hitam ini pasti orang kasar yang tidak berpendidikan".

Lalu sebagaimana kebiasaan di masjid ketika duduk bersebelahan dalam satu jama'ah, saya menyalaminya.

Tiba-tiba ia bertanya dengan Bahasa Inggris yang bagus sekali tentang asal saya. "Saya dari Nigeria, kamu dari mana?". Saya bilang, saya berasal dari Indonesia.

"Kenapa orang indonesia suka sekali berusaha mencium batu Hajar Aswad"?, tanyanya memulai percakapan.

"Mungkin karena cinta. Kabah adalah rumah Tuhan, dan Hajar Aswad adalah batu yang pernah dicium Rasulullah. Maka mencium Hajar Aswad adalah refleksi cinta orang Indonesia terhadap Tuhan dan Rasulnya", jawab saya sekenanya.

"Apakah orang Indonesia juga bertingkah laku seperti itu terhadap cinta Allah SWT yang dianugerahkan kepada mereka?", katanya.

"Maksud anda? Cinta Allah SWT seperti apa yang dianugerahkan kepada kami"?, jawab saya dengan bingung.

Lalu lelaki hitam itu menjawab, "Jika Allah Ta'ala menganugerahkan kalian istri, anak-anak dan orang tua yang masih hidup, Itulah wujud cinta Allah kepada kalian."

"Pertanyaan saya", katanya. "Apakah orang-orang Indonesia, berusaha dengan keras dan gigih mencurahkan kasih sayang terhadap anak, istri dan orang tua mereka yang masih hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala sebagaimana mereka berusaha mencium Hajar Aswad ?" katanya.

"Jika terhadap batu saja refleksi cinta kalian begitu dahsyat, lebih lagi terhadap makhluk Allah yang telah diamanahkan kepada kalian?", tegasnya lagi.

Saya tercekat, hilang akal dan tak mampu berkata lagi...

Apalagi saat ia bercerita bahwa ia menyelesaikan PhD-nya di AS namun memilih pulang membesarkan anak-anaknya yang 6 orang agar mampu menjadi muslim yang baik.

Maka hancurlah semua persangkaan saya terhadap orang ini. Allah membayarnya langsung tunai saat itu juga.

Setelah shalat subuh, sebelum berpisah ia memberi aasehat yang sampai saat ini masih teringat di kepala saya...

Keberhasilan  haji atau umroh kita, mabrur atau tidaknya, dinilai bukan pada saat kita menyelesaikan ritual-ritual haji/umroh seperti, seperti "tawaf" atau bahkan mencium "Hajar Aswad", namun dinilai pada saat kita kembali ke keluarga dan lingkungan.

Apakah kita mampu menunaikan amanah-amanah, anugerah-anugerah, kasih sayang Allah Ta'ala kepada kita dengan bersungguh-sungguh, bersusah payah, mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai, pekerjaan dan masyarakat.

Saya genggam tangannya, saya memeluknya dan menyampaikan terima kasih. 😭

Saat dia pergi diantara kerumunan orang, saya faham, inilah cara Allah Taala menegur saya dan menyampaikan makna mencium Hajar Aswad.

Oleh karena itu mari kita bersama belajar untuk menjadikan orang tua kita, istri, anak-anak, saudara-saudara serta sahabat dll sebagai ladang amal ibadah kita dan bukan merupakan sumber gosip atau ladang dosa-dosa kita.

Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْئًا  ۖ  وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ  ۗ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri". (QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)

Sabtu, 01 Februari 2020

Cerpen: Hutang

PINJEM DUIT

"Di., pinjem duit 400 ada gak? Nanti sore langsung aku ganti " Ari yang seorang kabag pagi - pagi buta datang kerumah Ardi untuk berhutang.
"Bentar ya ri, aku tanya istri dulu, duitnya di pegang istri soalnya." Ardi masuk ke dapur menemui istrinya yang sedang memasak sarapan untuk suami dan anak balitanya.
"Mah,  Ari pinjem uang 400 ada gak?"
"Ada  pah, tapi kalo dipinjem 400 sisa cuma seratus, aku cuma pegang lima ratus pah"
"Katanya nanti sore dibalikin mah"
"Ya udah ambil aja pah di dompetku, mungkin Ari butuh banget sampai pinjem uang pagi-pagi begini."
Ardi memberikan uang sebesar empat ratus ribu untuk ari.

Namun, janji ari yang mengembalikan uang di sore hari ternyata tidak ditepati. Hingga petang menjelang, ari tak menampakkan batang hidungnya. Memang ari dan Ardi berteman sejak SD. Ari orang kaya sedangkan ardi hanya sopir bajaj omprengan,itupun cuma ikut orang.

"Pah, uang yang seratus tadi mamah belanjain susu dedek, sama beli gas, tinggal tiga puluh ribu pah" istri Ardi bercerita pada suaminya.
"Iya mah, mudah-mudahan besok dibayar ya, mungkin gak sempet kesini" Ardi mencoba menenangkan istrinya.

Hingga keesokan harinya tetap tak ada tanda-tanda ari datang ke rumah Ardi. Hal ini membuat istri ardi berbelanja hanya beras dan tahu saja. Karena kebetulan beras juga habis.

"Sarapannya cuma pake tahu pah" istri Ardi menyodorkan tahu goreng hangat dan nasi.
"Iya mah, gak apa-apa, tahu juga enak"
"Bayaran papah kan masih seminggu hari lagi, kalo ari gak bayar hutang sekarang besok kita makan apa?"
"Nanti papah berangkat kerja coba mampir ke rumah ari ya mah, siapa tau udah bisa bayar."

Ardi mengeluarkan sepeda motornya  ke halaman depan. Dia coba menyalakan mesinnya tapi macet. Ternyata bensin kering.
"Kenapa pah? Rewel motornya?"
"Bensin abis mah!"
Istri ardi mengeluarkan uang dari saku bajunya. Hanya ada dua lembar uang. Sepuluh dan lima ribuan.
"Pah, ini buat beli bensin." Sang istri menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Ardi.
"Nanti kalo dedek minta jajan gimana?"
"Masih ada lima ribu kok"

Ardi menjalankan motornya menuju tempat kerja. Tak lupa ia mampir ke rumah ari. Ketika Ardi sampai, ari sedang duduk santai minum teh dengan camilan pisang goreng dan beberapa kue kering.
"Ri, udah ada belum, katanya bayar siang, istriku udah gak pegang uang"
"Sabar!!! Kalo ada udah aku bayar! Nanti siang aku bayar!" Ari mmbentak Ardi dan meninggalkannya di teras. Ardi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi menuju tempat kerjanya.

Ketika sore sebelum Ardi pulang, istri Ardi dan anaknya sedang bermain di ruang tamu. Datanglah tukang bakso dan mangkal di sekitar rumah Ardi. Tukang bakso itu adalah langganan anak ardi.
"Mama, dedek mau bakso!"
"Nanti ya, tunggu papah pulang"
"Dedek maunya sekarang!"

Istri Ardi tak sanggup menjelaskan keadaan ekonominya pada sang buah hati. Ia terus menerus merengek pada ibunya. Sesekali ia mengintip dari balik kaca, melihat teman-temannya membeli bakso.
Harga 1 porsi bakso tujuh ribu, sedangkan uang yang dimiliki istri Ardi hanya lima ribu saja.
Tak tega melihat anaknya merengek akhirnya uang itu digunakan untuk membeli bakso.

"Bang, beli baksonya lima ribu boleh?yang kecil aja gak apa-apa."
Tukang bakso membolehkan dan segera meracik bakso untuk anak Ardi.
"Ini mbak baksonya!" Tukang bakso itu memberikan tiga plastik bakso dengan porsi penuh.
"Lho Bang! Aku cuma beli lima ribu!"
"Iya, itu bonus buat mbak yang udah langganan bakso saya"
"Makasih bang"
Istri Ardi membawa bakso itu dan memberikannya seporsi untuk anak semata wayangnya. Tak lama, Ardi pulang.

"Pah, kebetulan sekali, kita dapet rejeki dari Abang tukang bakso, dikasih tiga bungkus padahal beli lima ribu, ayo bang kita makan bareng"
Suaminya terlihat bahagia melihat istrinya senyum2. Merekapun makan bakso hingga kenyang..
"Pah, aku udah gak pegang uang, bagaiman belanja besok?"
"Papah, udah coba tagih ari, tapi papah malah dibentak, besok papa libur, nanti papah tagih lagi ya mah." Ardi membelai lembut kepala sang istri.
Keesokan harinya, di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap. Tak ada lagi uang untuk dibelanjakan. Sang anak menolak untuk makan. Istri Ardi hanya bisa menangis.

Ardi pun bergegas, melihat istri dan anaknya makan nasi dan kecap. Ia pergi ke tempat ari dan menagihnya lagi.

"Ari, aku udah bener-bener gak ada uang buat makan"
Ari yang sedang menyeruput kopi tak menjawab ucapan Ardi. Ia masuk ke kamar, tak lama ia keluar lagi membawa uang.
"Nih, makan tuh uang!! Pinjem duit segitu aja ditagih terus, takut apa aku gak akan bayar?" Ari melempar uang pada Ardi. Empat lembar uang seratus ribuan jatuh di lantai.
Ardi memungutnya dan pergi pulang.
"Mah, ari udah bayar, buruan belanja sana" Ardi memberikan uang pada istrinya tanpa menceritakan apa yang terjadi.

Sang istri bergegas ke warung sayur dan dijalan ia berpapasan dengan ari,
Istri Ardi baru akan menyapa ari, namun ari malah buang muka terlihat sekali ia marah.

Setelah belanja sang istri bercerita pada suami tentang apa yang dialaminya. Barulah Ardi menceritakan semuanya...

 ####

Terkadang orang memberikan hutang bukan berarti dia kaya, dia hanya memposisikan dirinya jika yang berhutang adalah dirinya yang sedang butuh uang. Namun kebanyakan orang yang diberi hutang menyepelekan hal itu. Dan sudah jadi rahasia umum jika yang berhutang memang lebih galak..
Kerja keras itu biasa,merasa cukup itu baru luar biasa...

#copas

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...