Senin, 04 Januari 2021

Paxel, Gulai Tambunsu dan Sambalado Tanak

Testimoni: Gulai Tunjang dan Sambalado Tanak

Pengiriman masakan #DapurBundoNova hari Minggu kemarin, 03/01/2021 ada tiga paket menggunakan jasa PAXEL. Dua diantaranya sangat menarik untuk saya kupas, saya sampaikan disini sebagai testimoni. Sementara yang satunya lagi, paket tambunsu bumbu 2kg ke daerah Bekasi diterima sore sebelum jam 16.00 WIB, buat customer kami yang repeat order.  


Yang pertama paket ke Cikarang. Total beratnya lebih dari 5kg dengan biayanya Rp. 25.000, yang menurut saya sudah sangat terjangkau. Sejatinya paket ini terkirim jam 12.00-14.00 karena keterlambatan system aplikasi shipmentnya. Seharusnya dibuat sebelum jam 10.00 sehingga bisa dikirim jam 10.00-12.00 dan perkiraan sampai malam, antara jam 20.00-22.00. 


Tetapi karena ada catatan dari kurir, akhirnya paket tersebut dikirim sebelum jam 12 siang. Alhamdulillah, jam 18.30 sudah diterima oleh customer. Pas banget sebelum makan malam keluarga. 


Di balik itu semua, hal yang sangat membahagiakan kami adalah Gulai Tunjang yang dipesan ternyata diterima dalam kondisi baik

Ada enam potong gulai tunjang dengan nangka sebagai sayurnya. Ini adalah untuk pertama kalinya kami mengirim "gulai" menggunakan jasa pengiriman, biasanya menggunakan kurir langsung. Takut saja, nanti gulainya basi. Dulu pernah kami mengirim gulai tambunsu ke Cikarang ini menggunakan jasa ojek, namun ongkirnya mahal. Lebih mahal dari gulai tambunsunya.  Untung waktu itu customer kami, tidak ada masalah dengan tarif tersebut.


Kesimpulan pertamanya: pengiriman paket gulai dengan Paxel "sameday", di Jabodetabek insyaAllah aman dengan biaya relatif murah. Paxel telah memberi solusi. 


Yang kedua adalah pengiriman ke Sidoarjo Jatim. Pesanan sahabat kami, Om Rismon Guchi. Paketnya lebih dari 3kg dengan biayanya Rp. 35.000. Ini jauh lebih murah ketika kami mengirimkan paket buat Bunda Novyreal Vyantisah, ke Sidoarja juga. Sayang waktu itu kami hanya mengetahui Lion Parcel, belum kenal sama Paxel, yang ternyata point centernya dekat dari rumah. Waktu pengirimannya sama, sehari sampai. Sahari sampai tidak sama dengan "sameday" ya. Dan dengan Paxel harga jauh lebih irit. 


Hal yang menggembirakan kami ialah adanya Sambalado Tanak dalam pesanan tersebut. Alhamdulillah, ternyata kondisinya tak berubah. Masih tetap uenak sesuai kabar dari Om Rismon ini, yang saya sertakan sebagai bukti testimoni.


Kesimpulan kedua saya, selain harga kirim yang terjangkau untuk wilayah Jatim, rasa Sambalado Tanak kami tetap woke. 


Alhamdulillah, masakan #DapurBundoNova aman dalam perjalanan dan #LamaknyoTaraso tetap terjaga. Kami senantiasa memberikan yang terbaik dengan harga ongkir yang terjangkau.


Terimakasih Paxel yang telah membantu pengiriman paket kami ini. Tentu juga, tanpa menafikkan paket pengiriman lainnya yang pernah kami gunakan. 


PBH

Senin, 04/01/2021

21.10

Kamis, 31 Desember 2020

Catatan Akhir Tahun 2020

Sebelum tidur nyenyak malam ini sebagai pemulihan stamina selepas nonstop perjalanan dr Bukittinggi ke Tangerang sejak Rabu 6.45 - Kamis 2.30 sampai di rumah. 


Sesuatu banget bs men-chalange diri sendiri sebagai solo driver, alhamdulillah Allah masih titipkan stamina yang kuat hingga saat ini. Saya berfikir, "saya bukanlah seorang spinter yang hebat, tetapi saya adalah seorang pelari marathon yang cukup handal". 



Semoga setiap postingan saya memberi manfaat. Silakan share jika diperlukan. 


Have a nice dream guys... 


PBH: 20.49 WIB


#####


AGILITY


Minggu yang lalu, ada topik viral yang dibahas banyak orang. Presiden melantik beberapa menteri, termasuk seorang Menteri Kesehatan yang baru, dan bukan seorang dokter. 


Langsung topik ini viral, “Kok Menkes bukan seorang dokter?”


Dan kemarin Menteri Kesehatan yang baru pun tampil di depan publik untuk menyampaikan update tentang penanganan krisis yang sedang berjalan.


Saya melihat YouTube nya dari awal sampai akhir, mengamati communication style, caranya menangani krisis dan saya berkata,”He is not a medical doctor, he is a great leader” (Dia memang bukan Dokter, tapi dia seorang Leader). And that’s the inspiration for our future.


Dan, dalam suasana krisis seperti saat ini, bukankah kita memerlukan seorang Leader? Apakah seorang CEO perusahaan telekomunikasi harus seorang insinyur? Apakah pelatih sepakbola harus pernah menjadi pemain sepakbola terbaik? Dan daftar pertanyaan itu bisa diperpanjang …?


Padahal ternyata, ada seorang CEO perusahaan minyak yang bukan lulusan perminyakan. Ada seorang CEO sebuah bank internasional yang lulusan Teknik Kimia. Dan ada pelatih sepakbola yang hebat (Jose Morinho) yang dulunya tidak pernah bermain di Liga sepakbola yang top.


Bee, seorang sahabat saya dulunya pramugari, sekarang menjadi Managing Director, sebuah perusahaan consulting terkenal. 


Saya adalah seorang insinyur computer (Master saya dalam bidang Artificial Intelligence) yang sekarang menjadi HR Director. Saya pernah bekerja di bank, dan merekrut seorang lulusan Micro-biology, dan sekarang dia menjadi banker yang ulung.


Kadang ada yang bertanya,” Terus ngapain kuliah di satu bidang, dan kemudian kerja di bidang lain?”

Well, Bahasa humornya adalah HIMASALJU (Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan). Itu yang untuk lucu-lucuan. Tapi secara serius, tentu saja kita bisa menganalisa dua hal. 


Pertama, semua orang berhak untuk memilih pekerjaan apa yang sesuai dengan passion-nya, dan membuat dia bermanfaat bagi lebih banyak orang kan?


Kedua, bukankah kita memang harus selalu belajar terus, meng-update diri kita dengan ilmu baru sesuai perkembangan jaman? 

Memangnya lulusan ekonomi harus selalu belajar ekonomi? Bagus dong kalau dia belajar IT? Memangnya lulusan perminyakan harus terus belajar perminyakan? Bagus dong kalau dia belajar tentang business management?


Banyak di antara kita yang tenggelam dalam bidang yang kita tekuni. Lupa untuk belajar something new. Padahal skills apapun yang kita kuasai suatu saat akan tergantikan oleh CPU yang senilai hanya 3 juta rupiah. That’s life. Your strength can kill you.


Seorang sahabat saya baru saja kehilangan pekerjaannya, terkena efisiensi dari perusahaannya, karena industri di mana dia bekerja sedang terkena krisis, dan tren bisnisnya terus menurun.


Sekarang dia kebingungan mencari pekerjaan karena dia hanya menguasai skills itu. Padahal dia pintar sekali. Lupa untuk mempelajari hal-hal lain di luar bidang keilmuannya.


Kenapa gak buka usaha sendiri? Buka usaha sendiri juga perlu kemampuan finance, marketing …dll, di luar bidang yang dia dalami selama ini.


Kuncinya adalah belajar terus, dan menghargai orang lain yang pernah berhasil membuktikan dirinya mampu mempelajari beberapa bidang keahlian, di luar bidang yang tadinya dialami di kuliahnya. That’s agility.


Artificial Intelligence sudah membuktikan bahwa komputer sudah bisa menggantikan penjaga tol, teller bank, sopir mobil, dokter, lawyer, guru, pembaca berita TV, peramal saham ...dan lain lain. Sebentar lagi hal ini akan semakin merajalela.


Apa yang harus kita lakukan? Belajar sesuatu yang baru, yang belum bisa digantikan oleh komputer atau robot. Apa saja! Karena itu akan mendidik kita untuk mengembangkan agility, sehingga kita mampu mempelajari hal yang baru.


Banyak orang yang hanya mempunyai satu skills dan suatu saat mereka akan berada dalam bahaya karena skills mereka tidak relevan lagi. Your skills can kill you (if you don’t learn new/other skills).


Makanya, harus membiasakan diri untuk belajar sesuatu yang baru, every year. Anak saya yang pertama tahun ini belajar Finance (meskipun dia kuliah Chemical Engineering), anak saya yang kedua belajar menjalankan online shop, anak saya yang ketiga belajar tentang pasar saham pada usia 16 tahun, istri saya kuliah lagi (dan menjadi mahasiswi yang paling tua di kelasnya). 


They all learn new things this year.


The question is ... Apa hal baru yang anda pelajari tahun 2021?


What is the new thing that you learn on 2021?


Your strength can kill you, if you are not ready to learn the new skills.


Your skills, your diploma, your certificate, will not be relevant in the future.


Kemampuan anda mempelajari hal yang baru akan menyelamatkan anda di masa depan!


Terus bagaimana dong untuk mengembangkan agility kita?

Kita bisa melakukan beberapa hal di bawah ini:


a) Learn something new everyday. 

Pelajari sesuatu yang baru setiap hari. Apa saja. Bisa bidang ilmu baru, olahraga baru, cabang seni baru, bahasa asing baru. Anything!

Ini akan melatih otak anda untuk selalu bersiap menerima dan mengolah informasi baru, yang belum pernah dipelajari sebelumnya


b) Challenge yourself. 

Bee, sebagai pramugari, dulu banyak belajar tentang bisnis di waktu senggangnya, sementara teman-temannya asyik main-main.

Anak saya belajar Finance untuk membuktikan apakah dia mampu menguasai ilmu lain selain Chemical Engineering.

Anak saya yang kedua belajar bahasa Perancis untuk membuktikan apakah dia mampu mempelajari bahasa Perancis yang katanya sulit.

Do not limite your challenges.

Challenge your own limit!


c) Add variety to your routine. 

Kerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Kalau anda terbiasa menggunakan slide pada saat presentasi, coba suatu saat gunakan story telling tanpa slide.

Kalau anda terbiasa berdiskusi menggunakan flip chart, coba gunakan Post-It.

Kalau anda terbiasa meeting dengan duduk, coba semuanya berdiri.

Dengan begitu, otak anda tidak melakukan sesuatu berulang-ulang.

Ingat repetitive and routinity are the enemy of creativity and innovations.


d) Be the dumbest person in the room. 

Kadang-kadang hadirilah meeting yang anda tidak familiar dengan isinya. Jadilah orang yang paling bodoh di meeting itu.  Kalau anda orang HR coba ikuti meeting sales. Kalau anda orang Finance coba ikuti meeting marketing. Kalau anda orang sales coba ikuti meeting compliance...etc ...etc...

Kalau anda merasa bodoh, anda akan mencatat, menanyakan kemudian dan mempelajari hal yang baru. Kalau anda merasa pintar, anda tidak merasa perlu belajar.

Jangan setiap meeting menjadi orang bodoh, tapi Dua atau tiga kali dalam seminggu, jadilah orang yang paling bodoh dalam ruangan itu, dan belajarlah!


Jadi ingat ya, untuk mengembangkan agility kita, kita bisa lakukan empat rekomendasi ini:


a) Learn something new everyday

b) Challenge yourself

c) Add variety to your routine

d) Be the dumbest person in the room, and learn


Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto

Jumat, 25 Desember 2020

Banto Royo Kamang: Keren

 Banto Royo


Disebabkan ada perubahan agenda hari ini, yang saya lupa update sebelumnya, terpaksa hari ini mengisinya dengan mengajak anak kami Dhifa dan sepupunya Rara ke Banto Royo yang masih berada di Tilatang Kamang, sangat dekat dengan rumah di Kapau, sekitar 7.5 km dapat ditempuh dengan motor sekitar 15 menit. Agak siang kami berangkat dari rumah, sekitar jam 10 an disebabkan gerimis yang turun sejak pagi.



Hari ini kamis, kami salah pilih jalan, sehingga mengalami kemacetan di Pakan Kamih yang memang hari pasarnya hari ini. Seharusnya tadi kami memilih jalan ke Baringin, Tampuniak menghindari kawasan pasar yang hari ini sangat ramai. Mungkin karena hari ini hari yang diliburkan oleh pemerintah.


Menjelang jam 11 siang kami sampai di lokasi, saya parkirkan motor sementara sang Bundo sudah membeli tiket masuk. HTM: 10.000 per orang, untuk hari Selasa - Jumat. Sabtu - Minggu HTM nya 20.000 rupiah. Hari Senin objek wisata Banto Royo ini libur.    




Ketika masuk kami sudah takjub dengan suasana alam yang asyik dan asri. Cuaca tidak begitu terik ketika kami masuk. Dhifa dan Rara sangat senang melihat ikan ikan yang mendekat ketika menapak di track papan di atas area masuk Banto Royo ini. 


Ikan ikannya jinak, dan oleh Bundo mereka diberikan uang untuk membeli makanan ikan. Satu pack nya seharga Rp. 2.500,-. Mereka asyik sekali memberi makanan ikan tersebut, bahkan oleh penjaga yang ada di dekat mereka agar  disuapin langsung aja ikan ikannya. Hehehe, ternyata benar. Ada sensasi yang berbeda ketika makanan ikan itu diantarkan ke mulutnya daripada dilemparkan. Ikan ikan tersebut rebutan mendekati tangan tangan mungil mereka, bahkan ada yang loncat mendekati tangan anak anak ini. 


Tak lama berselang kami tapaki track kayu yang berada di atas Banto tersebut. Oh ya, Banto itu artinya rawa. 


Memang daerah ini adalah rawa dahulunya, baru dijadikan area seperti saat ini dua tahun yang lalu, oleh dan atas bantuan pak Andi Surandi, seorang tokoh Kapau yang berdomisili di Jakarta. Namun setelah jadi semuanya diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat sekitar Banto Royo tersebut. Ada yang bercerita ke saya, semuanya dikelola oleh BUM Nagari. Sebuah pemberdayaan objek wisata yang sangat disenangi oleh masyarakat sekitar tentunya. 


Dengan pola seperti ini tentunya masyarakat akan menjaga semuanya dengan sebaik mungkin, karena akan merasa bahwa ini adalah asset mereka semuanya, sehingga "sense of belonging" nya akan lebih terasa. Ini adalah pusat perekonomian mereka dan itu harus dijaga, sebaiknya, selamanya.


Di ujung di kaki bukit, suasana nya agak berbeda. Seolah kita berada di hutan. Ada gua yang terlihat dari tapakan kayu yang kita tempuh dan bisa masuk kita hingga ke bibir gua tersebut. Dan tak jauh dari sana ada pos untuk naik Flying Fox. Dan ternyata Dhifa sangat mau untuk mencobanya, sementara Rara agak takut. 



Kami sepakat meloloskan keinginan Dhifa tersebut. Harga tiket untuk Flying Fox ini hanya 15.000,- rupiah. Saya temanin Dhifa naik hingga ke puncak tertingginya. Sementara Bundo dan Rara ke ujung satunya, tempat landing nya nanti. Saya perhatikan dengan seksama semuanya, namun Dhifa sangat enjoy sekali, sementara saya ngos ngosan juga sampai ke atas. Umur memang tak bisa dipungkiri. 



Kamis menjelang siang itu, Dhifa adalah peserta pertama yang mencoba naik Flying Fox ini, dan sesudahnya ada keluarga dengan satu bapak dan sepasang anaknya yang kuliah dan SMA di Padang mengikuti kami dari belakang.


Ada sedikit kegamangan bagi Dhifa ketika sudah sampai di atas, ketika semuanya perlengkapannya terpasang, namun dengan support dari ayahnya yang kadang terbiasa jadi tukang kompor, rasa gamang itu enyah. Dengan bantuan abang penjaga akhirnya meluncur juga dia ke ujung di mana Bundanya dan Rara sudah menunggu dia turun sedari tadi, dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan. 


Alhamdulillah, video ketika Dhifa meluncur dari pinggang bukit dari saya dan ketika sampai di bawah rekaman dari bundanya. Suatu kombinasi dan kerjasama yang apik bagi kami dalam meliput Dhifa mencoba Flying Fox ini di sini. 


Setelah dia meluncur tadi saya menyusul mereka di dekat area pintu masuk. Lumayan juga jarak saya ke sana, dan ternyata mereka sudah berpindah tempat ke Play Ground. Di sana giliran Rara yang mencoba naik Flying Fox mini dan juga bermain trampolin bersama. Lumayan juga area main anak anak di sini. 



Melihat saya dari kejauhan mereka segera mendekat dan  entah kenapa, akhirnya mereka memaksa kami untuk memenuhi keinginan mereka naik perahu bersama yang ada di sana. 


Dengan empat dayung dan empat jaket pengaman kami mencoba menaiki dan mendayung perahu ini bersama mengelilingi seluruh kawasan rawa yang indah ini. Harga tiketnya 40.000 rupiah untuk satu perahu yang bisa diisi 5/6 orang. Jika suasana rame naik perahu ini hanya sekitar 30 menit, tetapi karena tadi sepi dan juga karena kami asyik dan ramah dengan penjaganya kami dipersilakan naik sepuasnya. Ada empat perahu ketika kami mengitari rawa tersebut, tetapi kami adalah peserta yang terakhir keluar perahu dan sempat mengitari dua kali putaran. 


Suasananya sangat luar biasa untuk dinikmati bersama keluarga. Karena dalam mendayung perahu itu ada kerjasama yang apik dan ada yang bertindak sebagai "leader".


Setelah itu saya sholat zuhur di mushola yang tersedia di sana. Mushola kecil namun bersih. 


Ada juga di sana aula yang bisa menampung sekitar 500 orang. Dan kebetulan ketika kami datang hingga pulang tadi ada dua rombongan besar yang hadir. Satunya dari alumni FKIP Muhammdyah Padang Panjang angkatan 1983 dan satu lagi dari rombongan SMAN 1 Pariaman. 


Kebetulan juga tadi kami sempat berkenalan dengan rombongan alumni dari Padang Panjang tersebut, yang umumnya guru guru senior yang sebentar lagi mereka akan masuk usia pensiun. Sangat bahagia bisa berkenalan dengan beberapa guru senior tersebut. 


Pulangnya, tak jauh dari Banto Royo ini kami mampir makan Sate Mak Tuah. Kami pesan 3 porsi dan seporsi harganya 15.000 rupiah. Porsi yang besar dengan dua ketupat dan enam tusuk sate. 



Alhamdulillah, puas bersama anak anak hari ini. Setidaknya kegiatan kami hari ini bisa melepaskan mereka dari HP mereka, mengisi dengan acara yang menghibur dan berkesan, penuh keakraban antara Dhifa dan sepupunya Rara. 


Kapau, 24 Desember 2020

22.29 WIB

Kamis, 24 Desember 2020

Damailah Bangsaku


Ada yang bilang happy ending setelah perjalanan yang panjang, penuh orak dan duri yang dilalui. 


Yaaaah yang happy ending mereka, dan kita yang sudah babak belur harus kembali merekat luka sebisanya, sesama anak bangsa. Walau ada yang kecewa, itulah nasib. Setelah ini harusnya tak ada lagi istilah cebong, ceceby,  kampret, kadrun, buzzeRP, influenseRP. Sudahlah, hentikanlah. Bagi yang ada organisasinya, bubarkanlah.


Mereka yang telah kita perjuangan sudah bisa duduk bersama di istana, sementara diantara pendukungnya ada yang menetap di penjara. Ada yang teraniya hidupnya. 


Namun itulah hidup, hidup dalam kancah permainan politik. Kadang kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan. 


Akankah masih percaya dengan janji para politisi?

 

Saya masih percaya, masih percaya ada sekelompok orang yang tetap memegang integritas dan loyalitas yang tinggi untuk negeri ini. Mereka akan tetap berjuang meski dalam diam. 


Sejatinya hidup ini ada keseimbangan. Dan apabila keseimbangan ini terganggu, alam dan seisinya akan mencari keseimbangan yang baru sesuai petunjukNya, menurut sang Maha Pemilik atas segala galanya. Sejatinya kepada Dia lah kita selalu berharap dan selalu bermunajat. 


Damailah Indonesiaku atas ridhoMu. Berdirilah dengan kokoh bagi yang memegang amanah untuk negeri ini. Buktikan bahwa anda adalah tokoh bangsa, bapak bangsa, bukan kaum pecundang.


Yang pengkhianat pasti akan mendapatkan laknat, cepat atau lambat.

Rabu, 23 Desember 2020

Maut Mengintai di Tol Pekanbaru Dumai

 Maut Mengintai di Tol Pekanbaru Dumai


Pagi ini saya mendapatkan video tabrakan lagi di jalur Tol Pekanbaru Dumai untuk ke sekian kali ini. Jujur saya tak kuat menonton hingga tuntas. Tak kuat saya melihatbdan mendengar tangisan anak anaknya yang selamat sementara orang tuanya terjepit mobil yang dikendarainya di bagian belakang truk yang diseruduk.


####  



Kamis, 17/12, minggu lalu saya menjajal tol Pekanbaru ini menuju kota Duri pada siang hari, saat terik matahari sedang puncak puncaknya. Jujur saja saya nggak berani ngebut di toll ini. Kecepatan saya usahakan disekitaran 80 km/jam sesuai saran yang ada dianjurkan, antara 60 - 80 km/jam.


Selain ini tol baru, yang saya belum tahu kontur jalannya, juga disebabkan saya mengendarai mobil dalam suasana terik. Saya sadar saya nggak mungkin mengendarai dengan kecepatan tinggi karena takut bila ban mobil pecah, karena kontur jalan yang saya belum tahu serta teriknya matahari siang itu yang bisa saja menyebabkan ban cepat panas. 


Saya nikmati sepanjang jalan tol ini hingga keluar di KM 67 Pinggir menuju kota Duri. 


Esoknya Jumat siang saya kembali ke Pekanbaru dengan rute yang sama, jalan yang sama arahnya saja yang berbeda. Karena sudah merasakan kondisi jalan ini kemarin, sengaja saya jajal dengan kecepatan agak tinggi, antara 100 - 110 km/jam. Dengan kecepatan ini, saya bahkan diminta Bundo untuk mengurangi kecepatan. Padahal dia tahu bahwa kalo di jalan tol Bakauheni Palembang kadang kecepatan saya bisa lebih, tapi nggak pernah "dicubit sayang" seperti kemarin. 


Dengan kecepatan saya yang sengaja saya jajal antara 100 - 110 km/jam ini, bukan saya niatkan untuk ngebut, karena saya nggak juga diburu waktu ke Pekanbaru, tetapi hanya ingin merasakan sensasi tol ini saja seberapa aman dengan kecepatan tersebut. Namun ternyata masih banyak mobil mobil lainnya yang melewati mobil saya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ada yang cc nya di bawah Terios saya, maksain banget dengan kecepatan di atas 120 km/jam siang itu, dalam kondisi terik matahari yang cukup tinggi. 


Jujur saya akui, dibandingkan akhir tahun lalu saya menjajal Tol Sumatra dari Bakauheni yamg masih gratis dari Terbanggi hingga Jakabaring, serta baru dibukanya tol Cipali beberapa tahun yang lalu, yang juga saya lewati saat ke Ngawi, kondisi tol Pekanbaru Dumai jauh lebih baik. Jalannya lebih mulus, beraspal dan tidak banyak yang bergelombang, "sambungan" antara gap jalan/jembatan juga  relatif lebih halus dibandingkan yang ada di tol layang cikampek atau cipali saat itu. 


Dengan kondisi yang saya sampaikam di atas, sejatinya tak banyak kecelakaan yang terjadi seandainya prilaku pengendara yang taat akan aturan. Sadar bahwa tol itu dibuat untuk memperlancar perjalanan, bukan buat kebut kebutan, apalagi menjajal batas maksimal kendaraan. Padahal di beberapa spot di tol ini jelas terpampang dan gampang dibaca tulisan: "Keluarga MENUNGGU Anda Di Rumah bukan di Rumah Sakit".

Saya yang membaca sekali, sangat sadar bahwa himbauan seperti ini tentu sudah berdasarkan kejadian kejadian yang ada selama tol ini beroperasi. Sudah banyak kecelakaan yang ada, sudah banyak nyawa yang melayang, sudan banyak keluarga yang kehilangan sanak famili, janganlah ditambah lagi. Mari perbaiki cara kita berkendaraan di jalur tol ini. Berhentilah ugal ugalan di jalan tol, berhentilah adu balap di jalan bebas hambatan ini. Sadarlah, jangan menjadi penyebab kecelakaan bagi diri sendiri apalagi orang lain. 


Dan harus diingat juga dalam  mengendarai mobil sejatinya sadar juga akan cc mobil yang dibawa. Janganlah yang cc rendah dipaksa balap mendahului mobil yang cc lebih tinggi. Kasihan mobilnya, meskipun mobil tersebut keluaran terbaru sekalipun.

Selasa, 22 Desember 2020

Saat Ayah berkata, "Jaga Dia, Dan"

 Saat Ayah berkata, "Jaga dia, Dan"





Dahulu, saat semester 5 segera dimulai namun uang utk bayar kuliah tak kunjung ketemu. KRS sudah kuisi bersama teman-teman di kampus. Teman-temanku mengambil SKS sesuai dgn bobot nilai mereka berkisar 24 sks, sementara aku tak berani jadi aku kurangi sampai 19sks.  Tadinya malah mau 11 SKS saja, tapi khawatir akan banyak pertanyaan  dari dosen pembimbing nanti. Sejujurnya aku takut Ayahku tak cukup uang utk membayarnya. 


Setiap kali moment mengisi KRS kejadian seperti ini bukan kali pertama. Hampir tiap ngisi KRS hati ini selalu harap-harap cemas bisa bayar atau ngga. Tapi kali ini Ayah makin lemah, makin sering murung mungkin karena makin tua dan sakit-sakitan. Dan makin tak berani aku minta bayarkan uang kuliah. Waktu terus berjalan seolah  sang waktu tak peduli bahwa aku butuh perpanjangan waktu, agar bisa berusaha pinjam uang sana sini ke teman2 yang hidupnya tajir. Namun sampai akhirnya seorang teman senior berkata, "Mestinya lo  jgn ngisi KRS dulu ri, lu isi form cuti ke kampus aja, drpd masa studi lu abis kl ternyata lu ga bayar". 


Batas akhir bayaran pun sudah tiba, tapi aku tetap ke kampus ngumpul sama teman2 agar  penat ini hilang. Sudah fixed semester ini ga bisa lanjut kuliah dan bakal dpt gambaran nanti dpt nilai E semua alias ga lulus, krn sudah terlanjur ngisi KRS, tapi yah sudah qadarullah mau diapain lagi. 


Pulang dari kampus, ada tukang koran di halte yg masih buka, iseng2 beli koran yg paling banyak lowongannya. Karena koran itu murah jd masih sanggup aku membelinya. Sesampai dirumah, akupun sibuk bikin surat lamaran kerja. Bermodal ijazah SMA plus transkrip nilai kuliah. Nekat, mending 6 bulan ini dipakai buat kerja saja. 


Ternyata Ayah diam-diam memperhatikan, dan dia bertanya. "Apa yg kau buat ri?"

"Bikin lamaran kerja Yah"

"Halah, janganlah.. kau kan masih kuliah"

"Yah, maaf ya Ayah.. batas akhir bayaran semester ini udh tutup, jd 6 bulan ini riri terhitung cuti, drpd ga ngapa-ngapain dirumah ri kerja aja sekalian ngumpulin duit buat bayar KRS semester depan".

"Knp kau ga bilang, aku pikir msh panjang waktu buat bayaran", Ayah berkata dengan rasa sedih sambil memegang kepalanya, ciri khas Ayah kl lagi penat, dia mengusap-usap kepalanya.

"Maaf yah, riri tau Ayah lg ga ada uang makanya ri ga perlu ingetin ayah lg ntar ayah tambah pusing, lagi jg ga apa2 Yah, banyak kok temen-temen senior yi yg begitu, kl ga bisa bayaran mereka pada cuti. Ayah tenang aja yg penting nanti bakal lulus, cuma mesti sabar aja kita", ujarku sambil mengutak ngatik surat lamaran kerjaku tanpa menengok ke wajah ayah. 

Ayah terdiam, aku tak sadar bahwa di terdiamnya dia, dia sedang menangis, namun tangisan sunyinya tak mampu ia tahan hingga akhirnya dia nangis tersengguk. Lalu aku pun langsung memeluknya. Ayah berkata, " ayah menyerah nak, angkat tangan aku tapi ayah kasian lihat kau, ayah takut kalo kau kerja, kau malah jadi putus kuliah". 

Akupun makin erat memeluk Ayah, "InshaaAlloh ngga Yah, riri akan berusaha bagaimana pun caranya biar sampe lulus, mulai skrg yi ga akan ngerepotin Ayah lagi, kalo ayah ada rezekipun, itu buat Ayah aja, utk kebutuhan Ayah aja, obat Ayah atau buat beli telor dan beras aja. Ayah skrg ga perlu mikirin riri lg. Alhamdulillah dikampus pun buat kebutuhan kuliah dan makan sehari-hari, riri dibayarin sama Dana terus, dan si Toel, Ita ama Amut jg sering nolongin riri yah. Jd InshaaAlloh riri aman".ujarku menenangkan Ayah.

"Iya nak, akupun tau, udh lama ku tengok kau kalo ke kampus, pamit ke aku tanpa kau minta uang, tiap kali ku tanya kau jawab masih ada, tapi aku pun tak berani pula nanya, krn memang aku pun tak punya uang utk ku kasih ke kau bekal kuliah". Tangis ayah pun makin pilu.


Aku pun ikut menangis, terkadang aku ingin curhat ke Ayah, betapa kerasnya aku berjuang agar bertahan di kampus kadang kuliah seharian ga punya ongkos dan uang jajan utk makan. Tapi syukur Alhamdulillah punya sahabat baik-baik, terutama Dana. Dia tak perlu bertanya aku ada uang atau tidak, setiap pulang kuliah dia kadang memberi uang ongkos agar besok bisa ke kampus, hingga aku tak perlu minta ke Ayah. 


Suatu ketika Dana mengantar ke rumah dan ketika ia pamit pulang ke Ayah, lalu Ayah berkata, "jaga si Riri Dan", mata ayah berkaca-kaca. Seolah dia meminta tolong agar Dana mengurusku.


Dana, bukan orang kaya, ibunya penjahit, bapaknya berkebun. Namun dia orang yang baik, dia berusaha hidup hemat merantau dari Bangka, agar uang bulanannya terkadang dibagi dua utk aku. Padahal dia tau orangtuanya kerja keras bukan kepalang utk bisa mengirim uang bulanannya. Dana juga yg hadir setiap kali aku sakit, suatu ketika aku jatuh sakit dan harus dirawat, niatnya dia menjengukku di rumah sakit. Namun dia terkejut saat keluargaku semua pulang ke rumah dan menitipkan aku padanya agar berjaga di RS. Saat itu seumur hidupnya belum pernah mengurus orang sakit dan apalagi disuruh menginap di RS, namun entah karena kasihan lihat aku, dia pun menginap dan tidur di kursi tunggu rumah sakit. 


InshaaAlloh karena kesiagaan Dana lah, Ayah melihat, dan ingin segera aku menikah dengannya. 


Aku cuti kuliah 2 tahun, karena keasyikan bekerja sebagai copy writer dan design graphic di salah satu perusahaan asing. 2004 Dana dan aku menikah. Kami Lulus S1 di tahun 2005, kami wisuda S1 berbarengan, karena Dana pun dulu ikut cuti kuliah krn bekerja di sebuah perusahaan media.


Dan ketika kami punya anak ketiga. Dana memutuskan untuk membiayai aku kuliah S2. Dengan alasan yang membuat aku terharu, dia berkata, "Papa mau membiayai kuliah mama setinggi apapun, karena Papa menyesal dulu saat S1 Papa ga sanggup bayarin mama kuliah, sekarang InshaaAlloh papa sanggup, kuliahlah setinggi yang mama mau, papa bayarin, mama ga usah pusing kayak dulu nangis-ngangis tiap mau ngurus KRS". 


MasyaAlloh Tabarakallah, dititipkan sahabat seperti Dana, adalah hal yang paling merubah hidup aku yang dulu rasanya seperti sendirian dan tidak diprioritaskan oleh keluarga. Seperti yg dulu ayah selalu bilang, "keadaanlah yang membuat kami tidak bisa lagi mengurus kau Ri". 


Dulu itu setiap aku datang ke rumah saudara, selalu meresahkan mereka, karena saking seringnya minjam uang buat bayar kuliah. Walau ga pernah dikasih, tp tetap saja kehadiranku di rumah saudara, agak meresahkan. Cuma dekat Dana dan sahabat-sahabat kampusku saja yg mau menerima susahnya aku. Terimakasih untuk suamiku dan best friend ku semua Ade Rahmah, Marita, Ade Mutia Herlambang, kalian paling sering ngasih makan aku, dan nyelametin aku dari minta-minta 'remahan gorengan' ke tukang gorengan di halte kampus. Semoga Alloh subhanawata'alla membalas kebaikan kalian. 

Semoga Alloh subhanawata'alla menempatkan Ayah dan Mama rahimahullah di surga firdausNya. Aamiin Allohumma aamiin. 


Jangan pernah putus asa, karena Alloh subhanawata'alla selalu memberikan solusi dari setiap ujian.



Lubuak Bangku


 Lubuak Bangku


Rehat sejenak disini setelah bada zuhur tadi meninggalkan Harapan Raya Pekanbaru dan mampir silaturahmi di rumah sahabat saya sedari SD-SMA hingga sama sama kuliah di Padang, Ratna Dewi . Sampai di sini menjelang maghrib dan cuaca sehabis hujan, bersyukur masih dapat moment bagus dengan alam yang indah.


Di sini sudah lama sekali tidak mampir. Padahal dahulu sejak kecil tempat ini adakah transit terakhir bagi "pasisia" ketika akan masuk ke kota kota besar di sumatra Barat, menjelang subuh. Setelah sholat subuh baru bis bis ini berangkat sehingga ketika masuk di kota kota tujuan pagi hari atau menjelang siang. 


Dinginnya udara di sini jangan ditanyakan di saat berwudhuk. Bagaikan menggunakan air es. Penumpang umumnya menggunakan jaket tebal dan ada dipan besar sebagai tempat tidur yang disediakan oleh pemilik rumah makan bagi yang mau rebahan. Tang mau mendengarkan "rabab" di tengah malam ini pun ada sebagai hiburan. Rabab adalah alat musik tradisional ranah minang yang sekarang sudah mulai jarang dimainkan. 


#####


Back to laptop. 

Di RM Ranah Minang ada dua tempat makannya. Satu menyediakan masakan padang dengan lauk pauknya dan satu lagi khusus menyediakan sop, soto dan mie rebus, khusus masakan panas. Nah pilihan kami pada tempat yang kedua ini. Tempat nya terpisah memang. 


Ada mushola dan kamar mandinya di bagian belakang. Dan saya mendahulukan sholat di sini, sementara istri dhifa dan Ama sudah dahulu memesan sop, soto dan mie rebus.  


Dengan makan tiga porsi soto, satu porsi sop dan mie rebus, plus satu bungkus kerupuk kulit, tanpa nasi karena nasi kami bawa dari rumah, total semuanya yang dibayarkan Rp. 78.000. Harga yang sangat murah di kantong. Sang Bundi kaget, ternyata memang makan di sini nggak mahal. Padahal sop dan sotonya uenak, daging soto dan sop nya banyak. Kami rekomendasi buat sahabat sahabat yang menempuh jalur ini, makan lah di Lubuk Bangku ini. Suasananya sangat nyaman, sejuk, udaranya dingin dan kulinernya mantap. 


Selesai makan kami lanjutkan perjalanan ke Kapau yang tertempuh sekitar satu setengah jam. Jalan santai saja. Menikmati suasana malam di kota payakumbuh yang rame. Sate danguang danguang sementara kita abaikan dahulu ya... 

Ada momennya nanti. :)


Sabtu, 19 Desember 2020

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...