Senin, 08 Februari 2021

Tambunsu Bumbu

 Tambunsu


Jumat dan sabtu yang lalu, tiga orang customer kami memesan masing masing 1.5kg tambunsu bumbu. Total 4.5kg tambunsu bumbu ini terkirim. 


Untuk customer yang terbatas oleh jarak dan ongkir yang mahal tambunsu bumbu adalah pilihan terbaik. Hanya tinggal tambahin santan dan siap digulai. Gampang, nggak repot. 


Untuk 1kg Tambunsu Bumbu cukup satu buah kelapa dengan airnya cukup satu gayung buat santannya. Bisa juga menggunakan santan kara, tinggal kekentalannya disesuaikan saja.  


Jika perlu ditambahkan sayur, tinggal pilih apa yang disukai. Biasanya nangka yang cocok untuk gulai tambunsu ini.  Tetapi mau polos juga uenak. Garam dsb tinggal tambah  sesuai selera. 


Dan akhirnya kami berpikir bahwa dengan tambunsu bumbu dari kami ini, para customer bisa memasak gulai tambunsu untuk keluarganya masing masing. Dengan cara olah atau masaknya masing masing. 


Ada customer kami yang mengolah tambunsu bumbu ini dengan menggoreng 'selayang', kemudian dipotong potong menjadi kudapan. Ada juga yang hanya menambahkan air tanpa santan, sehingga menjadi seperti asam padeh. Ada juga yang dibakar, seperti sosis bakar. 


Bahkan yang mesan kemarin dibuat menjadi lontong padang gulai tambunsu. :)


Ternyata, banyak hal yang bisa dilakukan dalam mengolah tambunsu bumbu ini. 


###


Oh ya selain tambunsu bumbu, kami juga siap kirim tunjang bumbu, gajeboh bumbu, cancang bumbu sesuai pesanan customer. Pengolahannya sama dengan dengan tambunsu bumbu di atas. Tinggal tambahin santan dan siap gulai. 


###


Dan minggu lalu juga ada new customer, yang bukan orang sumatra, tetapi suaminya orang Padang. Dia pesan karena ingin (belajar) menghadirkan masakan Kapau buat sang misua. Dengan sedikit tips dari sang Bundo, akhirnya bisa menyajikan masakan uenak buat sang suami. Gulai tambunsu dan gulai tunjang. Dia mendapatkan no kami atas rekomendasi sahabatnya. 


Keren kan? 

#DapurBundoNova memudahkan menyajikan kuliner uenak bagi semua. :) 


###


Dan sehari kemarin kami mengolah lagi tambunsu yang baru, alhamdulillah hari ini sudah ready.


Tambunsu itu lamak bana. Tambunsu itu sehat bana. 

Dan tambunsu kami isinya full telor, tanpa campuran tahu dan tepung. 


#DapurBundoNova 

#KulinerKapauOnline

#LamaknyoTaraso.



Hikmah: Kesempurnaan

 MURID BERTANYA PADA GURUNYA:


"Guru, saya tahu bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna karena hanya manusia yang dikaruniai nafsu, akal dan hati dalam satu tubuh. Yang ingin saya tanyakan, kesempurnaan apalagi yang ada pada manusia?"


Sang guru menjawab:


▶ "Saudaraku, Lihatlah dirimu. Bukankah Allah meletakkan otak lebih tinggi daripada mata? Itu berarti engkau harus lebih banyak berpikir daripada melihat. Berapa banyak ayat yg difirmankan Allah yang menyebutkan bahwa mengapa manusia tidak berpikir, atau menyebutkan bahwa kebesaran Allah hanya dipahami oleh orang yang berakal.


▶ Lihatlah dirimu, mata lebih tinggi daripada telinga. Itu berarti engkau harus lebih banyak melihat daripada mendengar. Bukankah banyak ayat yang difirmankan Allah bahwa banyak manusia yg tidak melihat kebesaran Allah. Atau lihatlah langit apakah engkau melihat ada yg retak?


▶ Lihatlah dirimu. Mulutmu terletak lebih rendah daripada telinga. Itu berarti engkau harus lebih sedikit berbicara, lebih banyak mendengar. 

Karena mulut sbg sumber penyakit, baik fisik maupun hati. 

Lebih baik engkau mendengar nasehat orang atau mendengar lantunan ayat suci. Atau gunakanlah mulutmu untuk mengingat Allah, atau membaca ayat suci, atau untuk saling menasehati.


▶ Itulah sebabnya mengapa kepala berada di posisi paling tinggi, dan nafsu berada di posisi paling rendah. Di antaranya ada hati yang bolak-balik keburukan dan ketakwaan. 

Maka gunakanlah hatimu untuk memahami ayat-ayat Allah jika engkau ingin menjadi hambaNya yang bertakwa. 

Maka manakah yang akan engkau pilih, berjalan tegak dengan kepala di atas, dengan banyak menggunakan akalmu ataukah berjalan dengan kepala sejajar dengan nafsumu, seperti binatang ternak, karena engkau mengutamakan nafsumu daripada akalmu?"


Semoga bermanfaat (CP)

Rabu, 27 Januari 2021

Ujian yang Saya tidak mau mengulang seumur hidup

By: Oky Rachmatulloh


Sepertinya baru kemarin ujian kelas enam Gontor ini saya alami. Sebulan yang penuh konsetrasi, sebulan yang penuh perhatian, sebulan yang sulit melupakan. Ujian ini dimulai ketika kami dikarantina. Sebuah proses belajar total melepaskan semua tanggung jawab pesantren kepada adik-adik kelas lima. Kami dikumpulkan di Aula Gontor. Kami boleh teriak-teriak, boleh tegang-tegangan, boleh bertingkah asalkan semuanya dalam rangka belajar. Tidak boleh keluar, kecuali jadwal mandi, makan, dan Sholat. Tidurpun juga harus di Aula gedung pertemuan.


Selesai? Tentu saja belum, itu baru permulaan. Setelah itu ada amaliah, praktek mengajar, lalu dimulailah ujian lisan. Kami dipanggil dua orang-orang. Menghadapi Guru-Guru kami yang rata-rata S-2 dan S-3 lulusan luar negeri  dan didampingi Guru pengajar kami yang S-1. Pertanyaanya semuanya berbahasa Arab dan Inggris. Materinya dari mulai Bahasa Arab dasar, Muthalaah (bacaan arab), Nahwu, Sharf, Mantiq, Balaghah, Reading, Grammar, Compostotion, Dictation, Kepondok modernan, Tarbiyah wa Ta’lim (Pendidikan dan Pengajaran), dan semua materi itu dimulai dari kelas satu sampai kelas enam…!!! 6 tahun kita belajar… semua di ujikan… semua dipersiapkan…


Baiklah, sudah selesai? Sama sekali belum. Tibalah kita pada puncak ujian ini. Ujian tulis yang betul-betul saya tidak akan pernah mau mengulanginya seumur-umur. Semua pelajaran, berbahasa Arab dan Inggris, dan 20% mata pelajaran berbhasa Indonesia. Dan semuanya ESAI…!! Tidak ada yang pilihan Ganda. Jadi harus dihapalkan, harus dimengerti, harus dikonsentrasikan, diluar kepala. Ini yang membuat strees. Ada yang mungkin setiap pagi selalu susu dan telor setengah matang, siang hari redoxon, dan malam hari konsumsi cerebrofit. Itu akhirnya ndak kuat, ada yg muntah. Badannya panas meninggi. Matanya sayu. Tapi  tapi kami memaksa diri untuk ujian, tau alasannya?? Tidak ada istilah ujian susulan di Gontor. Ga ikut ujian ya sudah.. wassalam… ujian lagi tahun depan…


Suasana ujiannya? Kami duduk berdua dengan jarak 1-1,5 M. Diawasi oleh Guru-Guru senior yang semuanya lelaki..!! Dengan resiko berat yang harus kami tanggung…NYONTEK DIUSIR..!!


Kalau melihat betapa stresnya kami, boleh dikatakan kami lebih berhak untuk teriak-teriak sambil naik motor merayakan selesainya ujian kelulusan ini bukan? Kami tentu lebih berhak mencorat-coret baju kami sebagi tanda tuntasnya stress kami selama menempuh ujian bukan? Kami tentu lebih berhak berkeliling pondok dengan knalpot meraung-raung lalu merayakan selesainya ujian “gila” ini dengan penuh kemenangan??


Tapi…kami tidak melakukannya. Kami berjas dan berbaris rapi lalu menghadap kiblat, didepan masjid Gontor, kami bersujud bersama-sama mensyukuri bahwa ujian akhir telah selesai dan sudah kita lewati. Untuk kemudian menyalami teman kami satu per satu, sambil mengucap selamat berjuang… Sebab bisa jadi kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena memang kita akan dipisah jarak dan waktu, sambil beruntai air mata dan senyum kami ucapkan…Terima Kasih Gontorku… Terima kasih…

Minggu, 24 Januari 2021

Empat Hari Swap Positif:

Pengalaman dokter Rahyus Salim 


Sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit pusat rujukan terbesar di negeri ini saya patut bangga terutama dalam kebijakannya menerapkan green hospital yang bermakna bahwa nakes dan karyawannya selalu dipantau early detection sehingga seluruh nakes wajib terkonfirmasi swab negatif pada saat berpraktek dan melayani pasien.


Awal tahun baru itu barangkali adalah mimpi buruk bagi saya ketika manajemen rs tempat saya bekerja itu meminta saya cek swab rutin pada jumat 8 januari 2021. Walaupun tidak ada gejala yang berarti kecuali batuk ringan di awal tahun baru saya tidak menyangka bahwa hasil pemeriksaan swab saya ternyata positf dimana terdeteksi RdRp dengan Cq 31,84.


Siapa sih yang tidak lemas mendapat kabar seperti itu. Setelah melapor ke pimpinan kantor saya lalu dicutikan utk isolasi mandiri dan melakukan upaya pemulihan.


Isolasi mandiri bagi saya berarti mencegah orang lain tertular virus dari saya. Yang menjadi pertanyaan buat saya adalah bagaimana melepaskan diri sesegera mungkin dari cengkeraman virus ini.


Saya punya tekad untuk melawan virus itu dan mengusir dia sesegera mungkin enyah dari sistem pernafasan saya. Lalu mulailah saya membuat rencana rencana. 


Selain berdoa dan semakin tawakkal padaNya... sebagai orang yang mengerti bagaimana patofisiologi infeksi virus sars cov2 itu saya mencanangkan program bersih diri dan olah raga yang memicu hyperventilasi.


Upaya pengobatan yang saya kerjakan hanyalah meminum obat standar obat batuk dan obat panas. Dan aktifitas yang wajib saya kerjakan adalah olah raga mandiri berjarak dengan siapapun. Saya melakukan main bola mandiri, mengiring bola dilapangan terbatas dan main badmimton sendiri..


Upaya kebersihan diri saya lakukan 2 sd 3 kali sehari mandi dan mengganti pakaian...


Empat hari berturut turut aktifitas itu saya kerjakan dengan penuh kesadaran dan telaten..


Alhamdulillah pemwriksaan swab hari keempat menunjukkan hasil yg menggembirakan swab NF dan OF saya alhamdulillah terkonfirmasi negatif.


Alhamdulillah ya Allah... engkau kabulkan doa kami...engkau kebalikan kesehatan kami...


Kata kunci 

Olah raga dan jaga kebersihan diri.





Duka dan Kebersamaan Kami

Hari ini, Minggu pagi Allah beri kesempatan untuk takziah ke rumah alm da Zulfikar yang wafat beberapa hari yang lalu di Griya Yasa Pasir Gadung Tangerang. 

Rewrite from:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157651489224174&id=750344173

Alhamdulillah kehadiran ini bs mewakili alumni dan pengurus Ika Kimia, bersama para senior/seniorita dr kimia angkatan 90 yg ada di Jabodetabek beserta perwakilan dari kimia angkatan 91 dan 93. Khusus kimia akt 90, mereka sebagai kakak pembina saat Ospek dahulu di awal perkuliahan kami kimia 92. Tentu secara personal saya pribadi punya kedekatan tersendiri dengan mereka mereka ini. Sehingga ajakan untuk hadir takziah tadi malam dari da Abeng, saya sanggupi dan saya share ke grup alumni. 



Dalam kesempatan ini kami juga menyerahkan dana duka yang dihimpun dari alumni kepada kak Ida, istri almarhum. Semoga ini menjadi pengikat hubungan silaturahim kami dan bagi para donatur menjadi ladang amal di sisi Allah swt. 


Selepas takziah, kebersamaan kami masih berlanjut hingga makan siang bersama di RM Cahaya Delima di Citra Raya Cikupa. Di rumah makan yang dahulunya adalah perkongsian milik kakanda Irnaidi Koto kimia 89 dan rekannya. Sayang kami tak bertemu dengan beliau yang ternyata ada kegiatan di Ciputat.


Pecah kongsi dari RM ini membuat beliau mendirikan lagi RM yang sama di daerah Karawaci sebanyak dua tempat. Mantap juga ternyata. Dan ini alamat RM beliau yang baru: 


Rumah makan Padang Sinar Alam Ruko Grande Aryana.

Jl. Raya Parigi No. 8.Sukabakti Karawaci.


#####


Kebersamaan kami di RM Cahaya Delima ini sangat terasa. Sangat terasa ukhuwah di antara kami, yg terdiri dari empat angkatan yang berbeda ditambah sumando dan anak anak alumni 90 yg hadir. 


Sembari makan, banyak hal yg kami diskusikan. 


Oh ya, saya sangat apresiasi masakan di RM ini. Kami datang dengan jumlah yang cukup rame, dua meja panjang yg disusun ternyata masih kurang. Di dua meja tersebut dijejer segala lauk yang ada. Hampir semua menu ada mengundang selera semuanya. Nasi putih di piring terhampar di hadapan kami dan di sela sela lauk yang ada tertata "nasi tambuah" nya. 



Ada jengkol balado, petai goreng tempe, terong balado dicampur teri medan adalah diantara penggugah nafsu. Gulai ayamnya berkuah kental, begitu juga dengan telur bulatnya. Ayam bakar dan ayam goreng pun ada. Ikan bakar, balado, gulai pun ada. Olahan dagingnya pun tersedia seperti rendang, cancang dan dendeng. Sehingga nasi tambuah yg tersedia pun kurang, saking nggak sabar menunggu akhirnya terpaksa ada yang jemput bola. 


Dan diakhir cerita, total yang kita bayar pun sangat sangat wajar untuk kelas RMP seperti ini. Kami pun tercenggang dengan bill yang disodorkan. Kualiatas masakan bintang lima, harga nya sangat miring. 


Saya kasih bintang lima buat RM Cahaya Delima Citra Raya ini. Makan uenak, harga puas. 


Selesai makan kami menunaikan sholat zuhur di Masjid At TAQWA yang tak jauh dari rumah makan ini. Lepas dari sini baru kami kembali ke posko masing masing.


#####


Suasana kebersamaan ini sangat cair meskipun kami berbeda angkatan dan jarang bertemu. Kuncinya adalah kesetaraan namun tetap dalam norma yang ada. So, Lepaskanlah segala jabatan ataupun profesi ketika berkumpul seperti ini. Sehingga takkan ada kekakuan. That's it, guys.

Jumat, 22 Januari 2021

Nasi Bakar

Menjelang mau sholat jumat tadi, HP berdering. 

"Assalammualaikum", sapa dari seberang bertanya. 

"Waalaikumsalam wrwb", jawab saya sambil menerka suara siapa yang akrab ini. Maklum no beliau belum saya saved. 

"Pak Andi ada di rumah?", lanjutnya.

"Ada pak", jawab saya.


"Mau ngantarin nasi bakar buat pak Andi. Ada 5 buah saya siapkan", lanjutnya. 

"Siap pak Ari, saya tunggu" jawab saya. 

Saya langsung ingat siapa pemilik suara ini ketika beliau menyebutkan nasi bakar. Sahabat yang sangat senang guyonan sama saya, tetangga yang baik dan jamaah tetap di masjid Hidayatul Ikhwan. Orang manggil dia pak Ari, tetapi saya lebih sering memanggil dia pak Wakil. ☺


Tak lama berselang dia sudah di depan pagar, dengan tentengan nasi bakar sambil menyapa, "Assalammualaikum pak Andi".

Saya datangi, sambil menjawab, "Waalaikumsalam wrwb".

Nggak sempat masuk karena waktu ke mesjid sudah mepet, saya bayar nasi tersebut sejumlah Rp. 60.000,- sesuai yang disampaikan oleh beliau, sembari mengucapkan terimakasih. 


Setelah itu saya berwudhuk dan ganti pakaian, bersiap ke mesjid, sementara sang Bundo sudah membukakan nasi bakar tersebut untuk Dhifa. Awalnya dia ragu. 

"Kok nasi dibakar?", tanyanya. Sejenak saya jelaskan. "Ini nasinya uenak, ayah pesan khusus dan adek harus cobain, biar tahu rasanya juga".


Tak sempat saya lihat dia makan, saya sudah jalan keluar rumah menuju mesjid.


##


Pas pulang dari mesjid, saya dengar dari sang Bundo ternyata Dhifa kekenyangan. "Kenyang banget", katanya sambil tiduran di kamar sama bundanya. 


Saya pun kemudian mengambil sendok dan sebutir telor asin yang sudah beberapa hari ini tergelatak sendirian di atas meja makan. Tak ada yang menyentuh. Saya pikir ini cocok dengan nasi bakar yang sudah disediakan bundo di ruang tamu tempat Dhifa tadi makan. Dari ruang tamu ini makan bisa sekalian mendengar obrolan sang bundo sama Dhifa. Dan yang bikin saya takjub, ternyata dia kekeyangan karena makan dua porsi nasi bakar tersebut. 


Dia kalo lagi mau makan emang begitu. Kalo lagi nggak mood, sudah juga dipaksa makan. Ini artinya nasi bakar pak Ari ini emang nikmat. Sama persis ketika saya pertama kali memakannya. 

###


Pertama kali makan nasi bakar pak Ari ini pada tanggal 6 November tahun lalu. Saat itu sehabis jumatan juga, saya mendampingi ustadz Komara yang hadir sebagai khotib di masjid kami ini. Saya dampingi beliau, karena waktu itu beliau sebagai ketua Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor Darussalam wilayah Tangerang Raya, yang juga punya program untuk menyalurkan dai dai muda alumni Gontor sebagai khotib/juru dakwah. 


Sebelumnya dengan perubahan status dari musholah menjadi masjid, saya mengusulkan kepada pengurus DKM beliau dkk bisa menjadi khotib jumat. Waktu itu lagi disusun jadwal khotib hingga akhir desember 2021 sejak 4 September 2020 sebagai pertama kalinya sholat jumat kami adakan. 


Di teras masjid itu kami makan siang bersama dengan pengurus DKM dan jamaah yang hadir. Saya waktu itu disuguhi nasi Padang, tetapi menolak karena melihat ada yang berbeda. Yang berbeda ini saya minta karena nasi Padang terlalu "berat" bagi saya. Saya ambil porsi yang agak kecil aja, sekalian pengen mencoba nasi bakar ini. 


Dan saya akui, nasi bakar ini memang nikmat. Dan yang saya takjub dari ujung ke ujung lauknya full. Ada ikannya, ada juga ayam yang disuir suir. Ada cabenya juga. Aroma daun pisang yang dibakar melekat ke nasinya. 


Setelah makan, baru saya tahu ternyata nasi bakar ini adalah donasi sedekah Jumat dari saudaranya Pak Ari. 


Saya tak tahu berapa jumlah donasi mereka saat itu. Tetapi saya pesan ke pak Ari kalo nanti ada lagi donasi, lebihkan saya 5 bungkus, saya beli. Saya pengen Bundo dan Dhifa juga menikmatinya.


Pas tanggal 12 Desember lalu di daerah Damasraya, sekitar jam 11-an saya ditelpon pak Ari, bahwa pesanan nasi bakar buat saya sudah beliau siapkan. Dengan rasa menyesal saya sampaikan bahwa saya dalam perjalanan pulang kampung. Saya sampaikan kepada beliau, permohonan maaf saya tetapi nanti tetap saya bayar, tambahkan saja nasi bakar tersebut buat sedekah jumat.


Masih "tagantuang salero", pikir saya saat itu. 


###


Alhamdulillah, hari ini saya dan keluarga bisa menikmati nasi bakar tersebut. Dan Dhifa ternyata sangat menyukainya. Itu yang lebih penting bagi saya. Bertambah juga "rasa" yang dia dapatkan, selain masakan #DapurBundoNova, masakan bundanya. 


Ciledug, 22/01/2021

17.00

Minggu, 17 Januari 2021

Sekoteng

 Sekoteng 


Inilah salah satu minuman favorit bagi saya ketika pulang ka ranah minang. Setiap pulang, ini nggak pernah ketinggalan. 


Sekoteng namanya. Berbeda dengan yang ada di rantau, yang ini nikmatnya luar biasa. Apalagi ditambahin dengan telor, rasanya semakin mantap saja. 


Terbiasa minum ini sejak menginjakkan kaki di Kota Padang, Kota Tercinta sejak tahun 1992 ketika berubah status dari siswa menjadi mahasiswa. Entah mengapa, antara teh talua dan sekoteng ini bagi saya sama saja. Sama sama ngangenin. 


Dan setiap pulang ke Bukittingi tempat favorit dan paling cocok bagi saya ada di daerah Stasiun di pusat kota Bukittingi atau di simpang Tanjuang Alam. Yang lainnya rasanya kurang, tetapi di dua tempat ini menurut saya yang paling nikmat.



Kadang kalo sudah "taragak bana" dinginnya malam tak jadi masalah, tetap Simpang Tanjuang Alam kawasan terdekat buat menikmatinya. Dengan jaket di badan, ba'da maghrib biasanya naik "honda" sendiri ataupun berdua dengan si bunda tak ada masalah. Habis minum ini sebelum pulang sholat dahulu di masjid besar yang ada di sana. 



Menikmati sekoteng ini, baik di kawasan stasiun ataupun Tanjuang Alam selalu dekat berdampingan dengan sate Danguang Danguang yang terkenal uenak itu. Malam yang dilalui sembari menikmati dua kuliner ini tentu sesuatu hal yang sulit dilupakan. 


Minangkabau alamnya rancak,

kulinernya lamak dan awak taragak.


Ciledug, 17/01/2021

21.31

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...