Jumat, 20 Mei 2022

Kolak Labu dan Teh Telor buat Berbuka

Memani buka puasa hari ini, dibuat dan dinikmati sedikit spesial. Masih ada labu yang diberikan Ama waktu balik ke rantau kemarin, hari ini bundo mengolahnya. Selama Ramadhan jarang kami membuat perbukaan. Cukup dengan nasi dan cemilan yang ada di rumah, sudah nikmat banget. 



Berbeda kali ini, buka puasa dimulai dengan air putih dan kolak labu plus ketan. Setelah itu kami sholat berjamaah di rumah berdua dengan si bundo. Dhifa masih tertidur bada ashar tadi. Kecapekan. Hujan yang mengguyur Puri Bintaro Hijau sedari sore tadi tak kunjung surut jua. 


Setelah selesai sholat, saya lanjut minum teh telor yang sudah disiapkan sebelum kumandang adzan maghrib tadi. Berbeda dengan teh telor dua hari yang lalu, kali ini kita tambahkan sedikit Susu Kental Manis. 


Alhamdulillah, tehnya pekat dan kental. Mantap dilihat. Aroma kulit manis dari 'bumbu teh telor' nya uenak dihirup, menyeruak setiap rongga yang ada di hidung. Dan setiap tegukan teh telor yang telah diaduk tadi makin mantap rasanya. Kemarin uenak, sekarang juga uenak. Sedikit lebih manis daripada yang kemarin tentunya, karena pengaruh susu kental manisnya. Namun tidak bikin eneg. Tetap nikmat. 



Layer yang didapat, seperti yang saya katakan kemarin ternyata bertambah sesuai kekentalan susu yang ditambahkan. Alhamdulillah kombinasi yang pas dan cukup buat buka puasa kali ini. 


InsyaAllah makan nasinya nanti saja, setelah sholat isya. Puasa sunnah syawal sudah tuntas, tinggal membiasakan dan melanjutkannya dengan puasa sunnah lainnya. InsyaAllah menggapai hidup sehat dengan tetap menjalankan ibadah wajib dan sunnahnya. Semoga ini bisa istiqomah hendaknya. 


Begitu juga dengan teman teman semuanya. Yuk manfaatkan waktu dengan tetap menjaga amalan seperti amalan Ramadhan kemarin. 


Qiamullail, tilawah alquran, puasa sunnah dan sedekah tetap jalan semampunya, sekuatnya. InsyaAllah semoga amalan amalan ini mencerminkan bahwa kita layak mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah SWT. 


Sekali lagi mari manfaatkan waktu yang tersisa, yang Allah berikan kepada kita dengan senantiasa taat beribadah pada Nya, tebar kebaikan dan manfaat pada sesama. 


Jangan lupa juga stamina dengan mengkonsumsi yang baik dan halal. InsyaAllah dengan berdoa, segala yang kita makan dan minum menjadi tambahan tenaga, menjaga kesehatan dan obat jika tubuh ada sakitnya. 


Parung Serab Ciledug,

19 Mei 2022, 18.35 WIB

Selasa, 17 Mei 2022

Teh Telor Gula Aren

Alhamdulillah sedari siang tadi ke pengen banget minum Teh telor. Sudah diniatkan saat buka puasa nanti rencananya. Tetapi rencana tinggal rencana, karena ada pesanan Ufia customer juga yang mesti diantarkan. Jadilah waktu berbuka mepet banget, tak bisa apa apa. 



Bada isya 'dilapeh an bana taragak ko lai'. Kebetulan telor bebek yang dibeli empat butir minggu lalu masih ada. Dipecahkan sebutir, dipisah kuning dan putih telornya. Putihnya disimpan dulu, buat esok entah buat Bundo ataupun Dhifa. Putih telor banyak manfaatnya, banyak yang bisa diolah dengannya. 


Kuning telur tadi saya masukan ke dalam gelas dan ditambah sesendok gula pasir. Sekedarnya saja, sebagai syarat buat kuning telor bisa mengembang. Selanjutnya ditambahkan gula aren seperlunya, diaduk dengan hand mixer beberapa saat sehingga kuning telor tadi mengembang. Air yang telah dididihkan sebelumnya, kemudian saya tambahkan teh bendera sehingga pekat warnanya. Biarkan mendidih lagi beberapa saat. 


Adukan telor yang sudah selesai, kemudian ditambahkan teh mendidih tadi ke dalam gelas, secukupnya. Kemudian saya tambahkan "bumbu teh telor" seujung sendok ke dalam gelas, lalu diaduk dengan sendok. Setelah cukup larut, kemudian ditambahkan lagi teh pekat yang mendidih lagi hingga hampir memenuhi gelas. 


Dibiarkan beberapa saat, hingga tampak beberapa layer. Jika ingin mantap lagi bisa ditambahkan susu kental manis. Tetapi yang ini, tidak saya lakukan, karena saya tak butuh layer yang lebih dari teh telor ini. Yang saya butuhkan adalah original tastenya. Dan sedari awal saya yakin, bahwa ini akan saya dapatkan. 


Setelah sesi pengambilan photo yang berdampingan Ufia botol yang selalu tersedia di rumah, saya nikmati teh telor gula aren ini. Saya aduk sambil menikmati aroma yang menyeruak perlahan memasuki rongga hidung saya. Aromanya khas. Rasanya pun sangat mantap. Seteguk demi seteguk saya nikmati. Dan alhamdulillah ini sesuai dengan ekspektasi yang saya harapkan. 


Aroma dan rasanya yang selalu saya dapatkan di "de Lapau Minangnese" Graha Raya. Resep ini alhamdulillah, saya dapatkan karena kedekatan dengan sang owner. Kami berbagi cerita tentang olahan Teh Telor  yang berkembang dengan banyak varian saat itu. Baik di ranah ataupun yang di rantau. Namun bagi Om Willy ini, 'original taste' selalu jadi andalan di de Lapau


Kuncinya di resep 'bumbu teh telor' nya ini. Kebetulan saya sempat membelinya di pasar Lereng Bukittinggi saat mudik Desember tahun lalu, sementara om Willy mendapatkannya di pasar Ibuah Payakumbuh. Untuk urusan de Lapau Om Willy ini, umumnya bumbu yang digunakannya dari ranah minang, untuk semua racikan utama masakannya. 


Meskipun kini de Lapau ini dia hanya "lihat lihat dari jauh saja", karena ada orang kepercayaannya yang sudah bisa meng-handle semuanya. Dia kembali lagi menggeluti usaha konveksinya yang sempat vakum selama pandemi Covid. Sesekali ikut mengantarkan mobil yang dibeli orang ke Sumatra dan Bali. 


Anak muda yang lebih suka berwiraswasta ketimbang menjadi karyawan. Mengobrol dengan Om Willy ini selalu nyambung. Anaknya sopan dan halus budi bahasanya. Anak gaul juga, pernah nge-band juga. Tetapi aslinya dia itu juga pernah nyantri, lanjut di STM di kampung halaman sebelum kuliah di tanah betawi ini. 


Jadi ngobrol dengan dia itu masuk ke segala lini. Asyiiiik kan? 

Dan dari dia saya dapatkan resep teh telor mantap ini. Thanks Om Willy. 


Parung Serab, 17 Mei 2022

21.10 WIB

Menulis sembari menikmati seteguk demi seteguk teh telor gula Aren.

Selasa, 10 Mei 2022

Idealnya itu .......

Hasil MCU awal tahun ini cukup mencengangkan. Secara keseluruhan semuanya ok. Kalo saran untuk pake kacamata sudah dari dulu, sayang malas menggunakannya saja. Namun BB membuat diri agak khawatir. Berat waktu itu memang naik selepas pulang kampung akhir tahun. Naik di angka 78.


Disarankan tim medis untuk giat olahraga biar turun secara bertahap. Alhamdulillah kondisi itu bisa tercapai saat ini dan semoga tak naik lagi BMI nya ini. Awal puasa sudah bisa stabil di angka 72-73, namun sejak pulang lebaran kemarin sedikit khawatir juga. Biasanya naiknya cepat turunnya lambat. 




Alhamdulillah setelah ditimbang lagi dalam dua hari berturut turut setelah tiga hari balik dari Kapau, kisarannya kembali sama, persis sebelum Ramadhan tiba. Semoga kondisi ini bisa bertahan. Semoga bisa mencapai angkat 70 pertengahan tahun ini. Sesuai target. 


Ideal nya, kalo menurut BMI ini di angka 64. Tetapi masih jauh mencapai angka tersebut. Bertahap, InsyaAllah jauh lebih baik. 


Perlahan dicoba di iringi dengan puasa sunnah InsyaAllah. Doakan bisa ya...

Minggu, 08 Mei 2022

Ama



Kamis 21 April 2022, saat saya membaca doa zikir sore, terdengar HP Bundo berdering. Bundo yang lagi di dapur mempersiapkan 'pabukoan' langsung mengambil HP nya yang ada di kamar. Ternyata yang menelpon adalah Ama. Ama adalah panggilan Nova dan adek adeknya terhadap orangtua mereka. 


Saya yang dah selesai berzikir disamperin si bundo. Yang langsung duduk di samping saya dengan tetap menerima telpon dari ama. Saya hanya mendengar pembicaraan mereka. 


"Bilo terakhir sekolah?", tanya Ama. 

"Jumat ma", jawab Nova

"Tuh Jumat malam bisa barangkek?", tanya Ama lebih lanjut. 

"Antahlah ma. Tanyoan ka Dandi dulu ma", jawab Nova. 

"A yo, tanyoan lah dulu", harap Ama. 


Saya agak tersentak juga dengan harapan Ama ini. Begitu harapnya ama akan kami untuk segera pulang, sementara kami bertiga di rumah masih dalam kondisi flu dan batuk berdahak. Stamina belum fit. Tapi menunda pulang tentu akan mengecewakan Ama. 


"InsyaAllah kita lihat esok saja. Semoga esok sudah makin baik", pesan saya pada si Bundo. 


#####


Jumat pagi, Bundo sudah mulai berkemas. Imam sudah diminta menyiapkan segala keperluan baliknya ke pondok. Semuanya sudah harus ready dalam koper yang akan dia bawa nanti ke Ponorogo. 


Rencananya sabtu pagi kami akan berangkat, setelah sholat subuh. Saya yang masih flu dan batuk, dengan berat hati memutuskan untuk tidak ke kantor lagi. Tak enak hati sebenarnya. Tapi daripada nanti menularkan 'wabah', baiknya ya tetap di rumah. 


Setelah Jum'atan saya diskusi lagi dengan bundo. Saya sampaikan jika kita ingin pulang kampung, kita harus ganti ban mobil. Empat-empatnya sudah expired. Sudah lebih dari lima tahun dipakai. Meskipun 'ragi'-nya masih layak, tetapi sudah ada retak halus di beberapa bagian ban. Agak beresiko juga bila digunakan buat jalan jauh. 


Jam setengah tiga, saat cuaca mendung saya bawa mobil ke Shop and Drive di Sektor 9 Bintaro. Ternyata untuk ganti ban, saya harus antri empat mobil lagi.

"Masih mungkin nggak selesai malam ini. Saya tungguin, karena saya mau mudik mbak", tanya saya. Si mbaknya ragu. 

"Andai tak bisa malam ini esok pagi diambilnya pak", jawabnya. 


Akhirnya syaa diarahkan ke bengkel satunya lagi di Bintaro Jaya sektor 3. Masih ada antrian di sana, tetapi ban yang tersisa buat Terios saya hanya satu di sana, dan harus diambil di sektor sembilan, info lebih lanjut dari si mbaknya. 


Tak mau menunggu lebih lama lagi, saya langsung ke sana dalam guyuran hujan gerimis. Alhamdulillah sesampai di sana, menunggu sebentar, mobil saya langsung dicopot ke empat bannya, sambil menunggu tiga ban lagi yang dijemput. Ban serap saya minta check kondisinya dan ditambah anginnya. 


Alhamdulillah menunggu hingga jam 5 sore baru rapinya semuanya. Saya telpon bundo bahwa saya sudah selesai dan minta segalanya disiapkan. "InsyaAllah malam ini kita berangkat", kata saya. Entah semangat dari mana saya tidak tahu. Mungkin terngiang percakapan Nova dan Ama tadi yang sangat berharap kami segera pulang kampung. Kami berdua termasuk yang tak mau mengecewakan Ama. Kami taati permintaan Ama selama ini, temasuk keberanian untuk membuka Kuliner Kapau on-line ini. Semuanya karena 'instruksi' ama. Ama yang memberikan resepnya, jika kami ragu. 


Jadilah kami berangkat malam itu dan sampai di Kapau senin dini hari, saat pergantian hari. Dalam kondisi yang masih flu, meski sudah mulai berkurang. Lama di jalan karena kami mengalami macet parah antara Palembang Jambi. Sempat nginap di Wisma Tetasan Embun Betung karena kondisi saya yang tak kuat lagi. 


#####


Alhamdulillah atas kemudahan yang Allah berikan selama perjalanan dengan niat mengabdi kepada Ama, kondisi kami segera pulih setelah sampai di kampung. Memang kami tak banyak kemana mana. Hanya di rumah saja. Kecuali ketika ada tugas menjemput Anda Yolanda ke Bandara, sisanya kami sekitaran Bukittinggi saja. Jaga stamina tentunya. 


Tak banyak kami kulineran di luar kecuali yang terdekat dari rumah. Seperti sekitaran Simpang Tanjung Alam, menikmati teh telor, sekoteng dan tomat top serta sate danguang danguang. Itupun setelah selesai sholat isya, tarawih dan witir di mesjid Nurul Huda Tanjung Alam. 


Nova sebagai anak tertua, yang memang Ama harapkan datang lebih awal. Banyak hal yang mesti dibantu menjelang lebaran. Ama sudah sangat senang bahwa anak minantu dan cucunya akan berkumpul lagi lebaran tahun ini. Selain kami, yang lainnya datang menjelang lebaran, karena terikat kerja dan cutinya masing masing. 



Sejak kami datang, banyak hal yang dilakukan. Memenuhi harapan Ama untuk membuat Kalamai. Ama sangat berharap kepada saya, karena membuat Kalamai ini butuh tenaga. Waktunya lama, berasap pula. Ada dua jenis kalamai yang kami buat, satu hitam satu lagi berwarna coklat. Beda bahannya. Dan rasanya emang luar biasa. Kalamai kami sabana lamak. 


Belum lagi membuat rendang dan tambunsu, alhamdulillah kami berdua yang mengerjakannya

Ama tinggal instruksi dan pantau saja. Ama sebagai quality control atas olahan tambunsu dan rendang kami. Tetapi Ama yang sudah terbatas tenaga dan gerakannya tetap semangat mendampingi kami di dapur. Ama masih turun tangan semampu yang dia bisa. Termasuk membuat kue kembang loyang ini. Ama sangat senang, bisa memberikan yang terbaik bagi para cucunya. 


Dan ketika anak anak telah datang menjelang dan saat lebaran, saya berperan sebagai "Kapalo Arak". Mengamankan anak anak dengan mengajak mereka jalan jalan seputaran kota Bukittinggi saja.



Alhamdulillah, Nova di kampung bisa fokus belajar masak dengan Ama. 


Dan tambunsu karya Dapur Bundo Nova sudah " "dapek paten" dari Ama dan sudah teruji oleh adek adek dari Batam, Padang, Duri dan Pekanbaru. "Mantap rasonyo, padek dan kamek", kata mereka. 

Alhamdulillah.


#####


Dan mohon maaf kami tak bisa banyak bersilaturahmi dengan kawan kawan selama di ranah. Tak mau berjanji bertemu juga karena takut tak bisa memenuhi. Kami fokus di Kapau saja. Kami fokus menyenangkan hati Ama.

Indahnya Kelok Sembilan



Barusan dapat kiriman gambar dari da Kojenk Rozy  di WAG FIPIA Jadul, dipandang pandangi lebih lama ternyata indahnya, masyaAllah. Konfigurasi yang tak sengaja oleh para pemudik yang hendak balik ke tanah Melayu, Pekanbaru dan sekitarnya, sangat menakjubkan. Tentu kepintaran sang photograper dalam memgambil momen dan angle-nya sangat luar biasa. Pas banget. 


Dalam kepadatan jalan, dalam kemacetan yang panjang ternyata melahirkan gambar yang sangat indah. Entah siapa yang memiliki photo ini, tentu sangat senang jika photo ini diteruskan, diabadikan oleh banyak orang.


Dan ternyata dalam kemacetan itu ada hikmahnya. 


=={{{{}}}}==


Macet Selama Lebaran. 


Ranah minang yang elok, yang macetnya hanya ketika pulang kampung ketika hari raya adalah sesuatu fenomena tahunan, sejak dulunya. Sudah rutin. Bukan sekali ini saja. 


Bisa jadi macet tak ada selama lebaran hanya dua tahun belakangan ini saja. Ketika para perantau dilarang pulang kampung akibat Pandemi Covid tahun 2020 dan 2021. Tahun ini dianggap macetnya lebih parah disebabkan membludaknya perantau yang pulang kampung. Akibat tertahan rindu dua tahun lamanya. So macet ya dinikmati saja, dimaklumi saja. Seharusnya tak ada umpatan atau apapun kepada pihak manapun. Karena ini adalah pilihan. Pilihan libur saat lebaran, yang sebenarnya bisa disiasati. 


Hampir dua juta perantau mudik libur lebaran tahun ini, wajarlah macet ada di sepanjang jalur dari dan menuju Bukittinggi. Harus pintar pintar memilih waktu jika ke Bukittinggi, dan/atau harus pintar juga menghindari jalur ini dengan memilih akses lainnya, seperti dari Payakumbuh, Batusangkar memutar ke Solok, Sitinjau Lauik Padang. Meski jarak bertambah, tetapi jauh lebih cepat. Dan ini akan meringankan akses dari Bukittinggi, Padang Panjang dan Kayu Tanam. 


Solusi ke depan? 


Pertama: Akses jalan tol yang belum jadi, karena kendala pembebasan lahan yang tak berkesudahan, harus bisa selesai secepatnya. Sehingga ketersambungan tol dari Riau ke Sumbar segera bisa dinikmati. Ikan sepat, ikan gabus. Makin cepat makin bagus. Sehingga di tahun tahun yang akan datang kemacetan parah ini bisa dikurangi bertahap. 


Pembangunan tol di antara Kota Padang Panjang - Bukittinggi - Payakumbuh harus menjadi prioritas. Karena sumber macetnya di hari normal maupun weekend selalu di sini, ketimbang Tol Padang Sicincin. Banyaknya pasar sepanjang jalan yang relatif sempit bisa diimbangi oleh jalan tol yang akan dibangun. 


Yang kedua: Perlu dipikirkan kapan akan dilaksanakan pelebaran jalan secara bertahap, di tempat-tempat yang masih memungkinkan. Akses jalan selama ini seperti Labuah Luruih antara Bukittinggi - Payakumbuh, Padang - Kayu Tanam, Ombilin - Padang Panjang dan Simpang Piladang - Batusangkar perlu dibuatkan rencana pelebarannya.  Pelebaran secara bertahap harus dilakukan. Jangan dilupakan.Jangan segitu gitunya terus. 


Alternatif pelebaran jalan ini jauh lebih ringan ketimbang membangun jalan Lingkar Luar di sepanjang Kota Bukittinggi. Bukittinggi yang tanahnya kotanya sempit, susah diharapkan, kecuali kerjasama dengan pemerintahan Kabupaten Agam. 


Dua poin di atas jika dilakukan lebih cepat, InsyaAllah perantau yang dari tahun ke tahun meningkat tentu akan senang setiap pulang kampung. Akan banyak turis domestik lain yang akan menjadikan Sumbar sebagai destinasi utama dalam menikmati liburan bersama keluarganya. Akan banyak uang dari rantau yang mengalir ke Ranah. 


Demikian sebuah tulisan menjelang siang ini, yang terinspirasi dari gambar Kelok Sembilan tadi malam. Sebuah view gambar yang syantik sekali. Andai tak macet, tentu tak ada gambar seindah ini. So selalu ada hal yang positif yang bisa diambil dalam setiap kesulitan (baca kemacetan ya?) 


Parung Serab Ciledug, 

8 Mei 2022, 11.50 WIB

Kamis, 05 Mei 2022

Menunggu Giliran Mandi

Alhamdulillah, terios yang kami sayangi ini, yang telah mendampingi selama 9 tahun april lalu, saat ini menunggu waktunya mandi. Setelah menjalani perjalanan panjang dari 22 April lalu hingga tadi pagi sampai kembali di rumah, di Puri Bintaro Hijau, kembali harus dimandikan. Banyak tempat mandi mobil saat ini yang tutup terpaksa mandi manjanya dengan hidrolic ditunda. Biasanya setelah perjalanan panjang, kami mandi manjakan dengan snow wash yang menggunakan hidrolic, supaya segala daki dan kotoran yang menempel bener bener bersih dari tubuhnya. Sayang sore ini, salah satu tempat langganan terios kami mandi manja tutup, karena karyawan nya masih libur lebaran. 

Dan kemarin adalah perjalanan yang luar biasa yang kami lakukan. Seolah olah saya dapat kuda tunggangan yang mengerti akan kebutuhan tuannya. Berlari sepanjang malam sejak dari masjid Agung Darussalam kabupaten Muara Rawas selepas sholat maghrib di tengah guyuran hujan yang lebat dan sedang, hingga sampai di Muara Enim. Dalam guyuran hujan tersebut seolah tahu bahwa tuannya harus sampai di tujuan sekitar jam 10 pagi esok. Menyatunya keinginan sang tuan dan kekuatan Terios ini terbukti, tak ada yang bisa mendahului kami. Semua yang di depan tersalip dengan baik. Berpacu menuju pintu toll Kayu Agung dan terus berlari kencang sepanjang Toll Sumatra. 

Berhenti sejenak hanya ketika mengisi pertalite dan sholat subuh saja, dan yang agak lama ketika sudah sampai di Bakauheni. Rehat selama penyebrangan. Dan kembali lagi berpacu di sepanjang Toll Cilegon hingga Bintaro. Alhamdulillah, jam 10.10 sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah total perjalanan 28 jam dari Kapau hingga ke rumah adalah capaian terbaik saya selaku "solo driver". Sepanjang perjalanan, tak ada kantuk sepicing pun. Catatan tersendiri 24 jam pas dari Kapau hingga Bakauheni. Alhamdulillah stamina saya masih oke, dan yang penting makin bernyali sepanjang lintasan, termasuk saat saat masuk daerah rawan sepanjang linteng di malam hari. Hanya tawakal pada Allah semata, yang lain lain mah lewat, InsyaAllah. 

Dan cemongnya bedak Sumatra yang menempel pada Terios kami pun harus segera dibersihkan. Sama halnya ketika sampai di Kapau waktu mudik kemarin pun langsung dibersihkan. Tak peduli tuannya masih jetlag, yang penting ada kesempatan, langsung dimandikan. 

Sembilan tahun bersama, mengantarkan kebersamaan kami sekeluarga sepanjang lintasan Jawa dan Sumatra menjadikan Terios ini bagian dari kehidupan kami. Dan sang "junior" kami, Imam pun sudah mulai mendapatkan "rasa" dengan Terios ini. Sudah dijajal oleh Imam di Toll Sumatra sekitaran Tol Kayu Agung hingga keluar tol Kramasan dan juga dari komplek Jondul Padang hingga ke Bandara Internasional Minangkabau. 

Apapun itu, kondisi Terios ini tetap kami jaga. Kami rawat semaksimal mungkin. Semoga kelak Imam pulang, lulus sebagai alumni Gontor siap menunggangi Terios ini sama baiknya dengan sang ayah nya. 

Dan segala bedak Sumatra harus disingkirkan. Malam ini menunggu giliran dengan no urut empat. Terios ini memang tangguh, setangguh tuannya. Staminanya kuat, sekuat staminanya tuannya, InsyaAllah. 
☺😃🙃



Selasa, 03 Mei 2022

Menjulang, cerdas dan berakhlak

Namanya Rafi. Mahasiswa semester 6 IPB jurusan Biokimia. Secara silsilah keluarga, jatuhnya bagi si Bundo Nova Yanti adalah cucu. 


Tiga tahun yang lalu saat diterima di IPB sebagai mahasiswa undangan melalui jalur Bidik Misi kami yang mengantarkannya ke wisma IPB sebagai mahasiswa baru. Dan setelah perjalanan waktu, alhamdulillah sore kemarin, lebaran pertama di Kapau, Rafi datang bersama ni Eza dan anak anaknya. 



Saya tetap saja terpana melihat nya. Tingginya yang mencapai angka 195cm dan kecerdasan yang tetap terasah membuat saya dan Bundo benar benar takjub. Tinggi yang menjulang ini tetap menjadikan dia menjadi mahasiswa tertinggi di IPB dalam tiga tahun terakhir ini. Ini artinya sejak jadi mahasiwa IPB hingga saat ini dia masih memegang rekor. 


Begitu pula dengan kecerdasan yang dia miliki, menjadikan dia sebagai anak kampung, yang berasal dari pelosok desa di Kapau, ternyata otaknya yang brilian mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya dalam prestasi akademik. Saat ini, dia sudah mulai mengerjakan riset buat tugas akhirnya dan juga merangkap sebagai asisten dosen di kampusnya. InsyaAllah di semester tujuh nanti, dia mendapatkan tawaran untuk mengambil program fast track di IPB. Program ini adalah suatu tawaran untuk lanjut study ke jenjang S2 sekaligus.


MasyaAllah... 

Saya tak habis pikir, begitu cara Allah mengangkat derajat hambaNya. Ibunya sudah tiada dan dibesarkan oleh neneknya selama sekolah di kampung. Allah mudahkan dia dalam keberlanjutan study sejak jadi mahasiswa hingga saat ini. Dengan program bidik misi, artinya dia menjalani study nya dengan biaya pemerintah. Dapat beasiswa FULL. Dan itu InsyaAllah berlanjut hingga ke jenjang master nantinya. Suatu hal yang tak banyak bisa dinikmati oleh mahasiswa lainnya. 


Alhamdulillah, ada kebanggan dengan kesantunan yang tetap terjaga hingga saat ini kami rasakan. Dengan mau datang bersilaturahmi di saat hari raya, di hari pertama pula Rafi benar benar anak yang hebat, anak yang santun. Anak yang berakhlak. Tak ada kesombongan sama sekali. Luar biasa. Semoga tetap terjaga hingga akhir hayatnya nanti. 


Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi adik adik lainnya. Bagaimana kesungguhan dalam study selalu saja ada jalan yang Allah siapkan, bila kita tetap menjaga kedekatan dengan-Nya. Doa dan restu dari orang orang terdekat tentu ada pengaruhnya. Allah akan bantu dari mana jalan yang takkan mungkin kita sadari. Tapi tetap yakin dengan pertolongan Allah itu adalah keharusan. 


Doa dan ikhtiar, adalah dua mata uang yang tetap kita lakukan. Seiring tanpa terpisahkan. 


Kapau, 2 Mei 2022

20.25

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...