Minggu, 24 Juli 2022

Bahaya Mudhif/Mudhifah

 πŸŒ·Bahaya mudhif🌷

(kunjungan orang tua)


Bagi santri mudhif itu seperti air πŸ’§

Jika sesekali ia akan cukup menyegarkan πŸ’¦


Jika kebanyakkan ia akan menenggelamkan πŸŒͺ

Menenggelamkan jiwa kemandirian ❄

Menenggelamkan semangat πŸ’ͺ 


Pada akhirnya anak akan hanyut dalam karakter manja ⚫

Dan jiwa-jiwa santri semakin lama akan semakin terkikis πŸ”Ί


Biarkan ia menangis saat ini 😭

Kelak air matanya akan mampu menumbuhkan jutaan bunga πŸ’


Biarkan ia sedih saat ini πŸ˜₯

karena suatu saat akan berganti dengan senyuman kebahagiaan πŸ€—


Perhatikan πŸ“£

Tujuan kita memasukkan anak ke pesantren untuk dididik bukan untuk dikunjungi πŸ™


Langitkan doa 🀲

Tingkatkan amalan πŸ•Œ


Mereka adalah hafidz hafidzah alim alimah yang akan menghantarkan kita ke surga 🌳

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


 ⭕Ketika anak mengeluh dan mengadu tentang pesantren⭕

Dengarkan ceritanya dengan baik πŸ”


beri ia waktu untuk meluapkan rasa πŸ“·

ketika selesai berikan ia senyuman terindah dan katakan padanya πŸ˜„


πŸ’Žmenuntut ilmu membutuhkan perjuanganπŸ’Ž


Perjuangan meninggalkan kenyamanan rumah πŸ›

Berjuang untuk qonaah (menerima apa adanya) bukan selalu mencari apa yang tidak ada. πŸ˜”


Tugas orangtua menguatkan dan meyakinkan bukan mengiyakan dan menyetujui setiap keluhan hingga mengajukan argumen yang berlebihan. 🀦‍♀


Biarkan ia mandiri menghadapi tantangan, rintangan hingga sikap sabar dan tanggung jawab akan segera tertanam. πŸ€—


Agar kelak ia mengerti bahwa kesuksesan akhirat dan dunia itu diraih dengan perjuangan dan pengorbanan...


#####


Alhamdulillah, semoga dengan pengalaman pengalaman memondakan anak selama ini di Gontor Putri Kampus 3 dan Gontor Putra Kampus 2, InsyaAllah menjadikan kami kuat untuk ananda ketiga kami, Dhifa, di Ma'had Riyadhul Quran Kudus. 


InsyaAllah tiga bulan lagi kami akan mengunjungi Dhifa sesuai aturan yang pondok lakukan. Tiga bulan pertama tak boleh dikunjungi. Tentu ini adalah cara pondok untuk mengikat hati santri santri nya untuk tetap istiqomah dalam belajar, terutama dalam menghafal Al-Quran. InsyaAllah kami patuhi. 





Benar apa yang disampaikan tulisan di atas, jangan terlalu sering dikunjungi. Dan kami belajar juga atas pengalaman wali santri lainnya. Kemandirian anak akan tenggelam, begitu juga dengan semangatnya. 


Ada yang punya pengalaman lainnya? Silakan sharing di kolom komentar di bawah ya...


Senin, 18 Juli 2022

Silaturahmi di Mall Metropolitan Bekasi

Beberapa hari sebelumnya ditelpon sama bro Indra Priyana. Taragak maota judulnyo. Alhamdulillah karena kamis masih dalam safar ke Timur Tengah (baca ke Jawa Timur dan Jawa Tengah, ya) akhirnya, digeser ke Minggu. 



Dari Kudus Jateng kami berangkat Sabtu siang jam 14.11 dan sampai di rumah dini hari, saat pergantian hari. Sehabis subuh membersihkan rumah, menyapu dan mengepel. Lumayan capek juga, namun alhamdulillah terbayarkan dengan dua kali tidur setelahnya. Lalok batambuah... Hahahaaa


Bada zuhur, ngobrol sejenak dengan teman teman di Mesjid, baru berangkat ke Mall Metropolitan Bakasi. Alhamdulillah, nggak begitu macet hingga menjelang pintu keluar toll. Lancar Jaya sebenarnya, ketemu masalah ketika dari sebelum keluar pintu TOL hingga bisa parkir di basement Mall Metropolitan ini. 


Dari tol Bintaro hingga menjelang pintu tol bekasi barat ini, waktunya sama dari menjelang pintu tol hingga bisa parkir. Totalnya hampir dua jam. Parah banget macetnya. Parah juga mencari lokasi parkirnya. Ini masalah klasik di Bekasi Barat yang belum terpecahkan hingga saat ini. Begitu juga dengan membludaknya orang yang shopping ke Mall ini. Ramenya minta ampun. Memang ini Mall lama, namun tetap menjadi favorit shopping atau sekedar cuci mata. Ditambahkan dekat akaes pintu toll bekasi barat. 


Setelah parkir, waktu adzan ashar sudah berkumandang dari tadi, segera saya menuju mesjid melaksanakan sholat ashar. Sholat tetap lebih utama. Apapun kondisinya. 


Alhamdulillah, selesai sholat ada yang negur saya. Wajahnya masih ingat. Ingat banget. Cuma namanya masih sempat buka buka file dulu. File lama yang ada di memori. Maklum lama nian tak bertemu dengan kakanda saya yang satu ini. Sambil bergurau, menjawab sapaan beliau tadi baru ingat namanya. Komting abadi di Kimia 87. Da Adek Nizar namanya. Adek Tami nama efbi-nya. 



Alhamdulillah bertemu juga dengan "induak bareh" dan anak gadih nyo nan memang sedang jalan jalan ke mall ini. Baru datang juga seperti saya. Ternyata beliau masih aktif bekerja. Dulu di BPPT sekarang sudah berganti judul. BRIN namanya, namun kantornya masih di Thamrin Jakarta. Ada beberapa nama senior dan junior alumni Kimia Universitas Andalas yang beliau sebutkan, di BRIN ini. Photo bersama beliau sebagai bukti bahwa kita bertemu dan tersimpan juga no HP beliau yang baru, yang langsung saya add kanda yang satu ini di WAG Alumni Kimia. 


Kami berpisah ketika sama sama menapakkan kaki di lantai dasar Mall. Beliau lanjut bersama keluarga nya, saya segera menyusul Indra yang telah datang lebih awal. 


Di lantai dua dekat Gramedia saya bertemu dengan Bro Indra. Ngobrol asyik, berbagi cerita pengalaman dan keinginan tentang silaturahmi dengan para alumni. Keinginan mengembangkan unit bisnis yang beliau bangun selama ini bersama alumni. 


PT. ALKAN adalah sebuah perusahaan yang beliau rintis dan kembangkan. ALKAN adalah singkatan dari ALumni Kimia ANdalas sebagai bentuk kecintaan beliau pada almamater. Perusahaan yang bergerak dan concern pada bidang ilmu yang dia geluti sejak awal, yakni bidang electroplating. 


Tak banyak orang yang tahu tentang hal ini, tetapi peluang dan potensi electroplating sangat sangat mungkin berkembang. Apalagi sekarang beliau sudah mendirikan lembaga baru yang bernama ALKAN Training Centre sebagai pusat risetnya, terbuka untuk siapapun yang berminat melakukan pelatihan tentang electroplating. Lembaga training ini tentu terbuka bagi pihak kampus yang mencari mitra Magang Kampus Merdeka. Terutama bagi mahasiswa yang mau dan tertarik menekuni bidang ilmu Kimia Fisik, Physical Chemistry, electroplating. 


Dan di akhir akhir diskusi ringan kami ini, Nila Kimia 94, istri Indra dan anak gadisnya datang. Mereka sengaja shopping ketika kami diskusi. Obrolan ini saya nikmati dengan seporsi tongseng kambing dan segelas jus alpukat sementara Indra dan keluarganya dengan pilihan menu kesukaan mereka pula. Lama saya yang menikmati tongseng enak ini. Sangat sangat recommended banget. 



Alhamdulillah, lapeh juo taragak maota jo Indra dan Nila. Insyallah kami akan lanjutkan dengan rencana safari silaturahim ke beberapa alumni nantinya. Akhirnya maghrib jua yang memisahkan kami. Saya harus balik ke Tangerang, sesegera nya. Karena sang Bundo di rumah sendiri. 


Alhamdulillah, selama dalam perjalanan ke Bekasi dan diskusi kami kemarin, #dapurbundonova sudah bisa melayani permintaan customer tercinta. Sembari diskusi saya tetap melayani jalur pesanan dan pengantaran dari kurir langganan kami. Dua kg Dendeng Lambok terkirim buat dua orang customer, di Komplek Emerald Bintaro Jaya dan di Silkwood Residence, Maple Tower di kawasan Alam Sutera. 


Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Silaturahmi tetap lancar, usaha tetap lancar. Jalur pulang pun lancar. Jam 19.30 sudah sampai di rumah setelah satu jam lebih perjalanan. 


Senin, 18 Juli 2022

09.34 Arinda, sambil menunggu servis motor

Sabtu, 16 Juli 2022

Semalam di Ponorogo

 Trip to Timur Tengah part 2

Semalam di Ponorogo


Selepas pengisian BBM, sebentar kami mampir di ATM BNI yang ada di sebelah kanan jalan. Saya parkirkan mobil di sebelah kiri dibawah pohon yang rindang, di tempat yang agak aman. Maklum jalur ini rada rame juga dengan kendaraan seringnya dengan kecepatan tinggi melintas. Di depan kami itu adalah jalur menuju kota Pacitan. Kota kelahiran pak Presiden Susilo B. Yudhoyono. Sekitar satu jam perjalanan ke sana, InsyaAllah sampai di kota ya g terkenal dengan pantainya yang indah. Pantai yang langsung menghadap ke Samudra Indonesia, pantai selatan Jawa. 


Dan di depan, bundo bisa melihat kampus dua Gontor Ponorogo. Mungkin banyak hal yang melintas dalam fikiran bundo selama saya ke ATM. Area ini dulu sering kami nikmati berjalan kaki, mencari gorengan dan sarapan pagi ketika corana belum menerjang negeri ini. Selama corona hingga sekarang larangan mudif atau berkunjung ke pondok masih belum dicabut. Pondok punya kebijakan yang mesti ditaati. 


Andai tak ada larangan, kawasan ini akan terlihat rame oleh kunjungan para wali santri. Ada bapenta di pondok yang sanggup menerima kunjungan para wali santrinya. Begitu juga penginapan di sekitaran Ponorogo ini akan terisi penuh. Kadang perlu booking juga jauh jauh hari, bila ada event tertentu seperti Drama Arena, Panggung Gembira ataupun awal tahun ajaran baru serta akhir liburan saat santri balik ke Gontor. 



Selesai dari ATM, perlahan lahan saja mobil saya kendarai. Melewati Gerbang Gontor dua sejenak berhenti, mengintip apa yang ada di dalamnya. Ternyata sepi. Sepi banget. Hanya ada dua penjaga Gerbang yang bertugas. Adzan ashar tadi baru saja berkumandang, tentu santri masih berada di mesjid. 


Berbelok ke kiri setelah warung Bu Sri, kami segera buka bagasi mobil dan mengambil paket yang telah disiapkan buat Imam. Langsung di antar ke pos penjagaan tadi. Sebentar saja, sesuai aturan, tak bisa berlama lama. Paket diterima sudah kegembiraan yang luar biasa. Ada buku kepramukaan Imam di dalamnya. 


Segera balik ke penginapan kami yang hanya berjarak 10 meter tak sampai dari Gerbang tadi. Penginapan sekaligus restoran dengan harga yang sangat sangat terjangkau. Pawon Dengok namanya. Kami menginap semalam di sini, karena esoknya Jumat akan lanjutkan perjalanan ke Kota Kudus. Semalam sekamar bertiga, dengan ruangan AC dan kamar mandi di dalam, seharga 180.000 rupiah. 


Mandi dan jalan jalan ke depan, berbelanja sekedarnya di warung bu Sri. Melepas kangen dengan sang owner. Tiga tahun sudah bundo tak mampir ke sini. Sepi. Sepi dari wali santri. Hanya bertemu dengan sepasang pasutri dari kota Malang yang sama sama menginap di Pawon Dengok. Anak mereka kelas tiga intensif. Hanya menggunakan sepeda motor mereka dari Malang, hanya untuk kangen pondok. Syukur syukur bisa bertemu. Hehehe, kondisi dan harapan yang sama dengan kami. 


Menjelang maghrib kami pesan makan malam. Ada cah brokoli, plecing, pecel lele dan ayam bakar serta minumannya teh, es teh manis serta Manado. Pesanan minuman datang duluan sebelum adzan maghrib berkumandang. Menu unik yang bernama manado ini adalah kumpulan buah dan agar potong dadu warna merah dan hijau serta sirsak yang diblender halus ditambahi dengan susu kental manis. Rasa penasaran saya terlampiaskan. Enak banget. Saya dan bundo sangat menyukainya. Seperti sop buah, tapi ini agak beda. Lebih enak daripada sekedar sop buah. 


Selepas sholat maghrib dan isya yang kami jamak, hidangan makan malamnya tersaji kan. Kami makan sambil diskusi ringan tentang rencana esok sebelum siang ke Kudus. Sambil makan saya mengundang pak Wawan untuk bersilaturahmi dengan kami di sini. Makan malam kami masih ditemani oleh gulai cincang yang masih ada. 


Bada isya pak Wawan datang bersama istri dan seorang anak bontot nya, yang TK nol kecil. Kami hanya menemani pak Wawan makan malam seadanya. Alhamdulillah, masih ada gulai cincang buat pak Wawan dan nyonya nya. Gulai dari #dapurbundonova. Fadlan, anak mereka kami pesanan mie goreng dan es teh manis. Pak Wawan dengan segelas kopi dan Bu Annisa istrinya dengan teh manis. 



Obrolan malam kami berlanjut. Pengalaman pengalaman rohani yang mereka jalani sebelum dan setelah menikah, luar biasa. Belum lagi ketika berganti nama dari Anastasia menjadi Anissa Fitria, ketika sang istri menjadi mualaf ketika usianya 21 tahun. Perjuangan yang panjang dalam mencari, menjaga dan mempertahankan aqidahnya nya sangat sangat luar biasa. Aktif di mualaf centre, dekat dengan Anton Medan dan komunitasnya serta sering terlibat di PITI. Diskusi menarik, berbobot dan penuh semangat. Meskipun badan sama sama lelah dengan aktifitas dan rutinas seharian tadi, namun ketika berbicara tentang keislaman dan gerakan sosial kemanusiaan energi ini seperti terbarukan. MasyaAllah. 


Jam sepuluhan malam waktunya berpisah. Sebuah pertemuan yang penuh berkah. Dan sebuah 'rencana mulia' tertitip ke pak Wawan untuk kita jalankan bersama. Rencana mulia. 


#####


Jumat pagi, selepas sholat subuh, kami mulai hari dengan semangat. Ada acara yang ditunggu tunggu. Yakni lari pagi para santri Gontor Dua. 


Alhamdulillah, dua kali dalam seminggu para santri Gontor ini lari pagi. Menjaga stamina dan kebugaran fisik. Alhamdulillah sudah lebih enam minggu seperti ini sesuai obrolan dengan owner Pawon Dengok dengan saya. Biasanya sebelum corona, lari pagi hanya tiap jumat saja. Namun sekarang sudah ada penambahan satu hari. InsyaAllah dengan begini anak anak akan sehat dan bugar selalu. 


Sangat beruntung kami, Imam terlihat dalam rombongan pagi ini. Bisa melihatnya saja sudah sangat bersyukur. Melihat kegembiraan santri pagi ini saja kami sangat senang, meskipun masih belum diizinkan masuk ke dalam pondok, tak mengapa. Puas sudah rindu ini. Lepas segala hasrat melihat anak anak ini, berlari pagi. Ada beberapa cuplikan video yang kami ambil sebagai kenangan. 


Setelah mereka selesai, kami pun balik ke penginapan. Bundo mulai berkemas, bersiap siap, saya minta izin menggunakan air untuk 'memandikan' mobil yang sedikit kotor. 


InsyaAllah sebelum siang kami akan lanjutkan perjalanan ke Kota Kudus dengan penuh kesyukuran. Satu harapan sudah terpenuhi, tinggal satu lagi yang mesti ditunaikan. Yakni mengantarkan dhifa ke pesantren Riyadhul Qur'an Kudus. Harapan kami si Adek ini bisa menjadi seorang hafidzah kelak. 

Aamiin ya Rabbal 'alamin. 


Jumat, 15 Juli 2022

Pawon Dengok.

Jumat, 15 Juli 2022

Trip Tangerang to Ponorogo

Alhamdulillah, tepat jam 05.15 kami meninggalkan rumah dengan tujuan ke Ponorogo. Awalnya mau berangkat sekitar jam 3 dini hari, sebagaimana biasanya kami kalo mau safar. Berhubung bundo tadi malam sampai di rumah dari Bandung jam 22.30, kami ketiduran. Terbangun seperti biasanya dengan "dentuman alarm bertubi tubi, tepat jam 3.45. Kami segera bersiap siap. Akhirnya sebagai supir satu satunya, saya putuskan untuk berangkat bada subuh saja. 


Saya ke mesjid dan bundo serta dhifa sholat berjamaah di rumah. Pulang dari mesjid semuanya sudah ready, termasuk bekal yang mau dibawa. Ada nasi dan gulai cincang serta tiga butir telor rebus sisa kemarin. Lumayan buat sarapan atau makan siang kami nanti. 


Dengan penuh kesegaran dan semangat yang luar biasa, kami jelajahi jalur menuju pintu TOL Pondok Aren Bintaro. Semburat pagi menyapa kami di sepanjang tol. Bak dapat kawan, saling pacu terjadi di sepanjang tol yang belum begitu padat. Terlambat sedikit saja keluar dari rumah, bakalan merasakan macet. Dan menurut google map sampai di Ponorogo diprediksi sekitar 10 jam

Artinya perjalanan pagi ini, terhindar dari macet. 


Sedikit agak macet menjelang kampung rambutan, namun segera terurai lagi setelahnya. Lancar jaya hingga masuk tol Japek (Jakarta Cikampek), tol layang yang terkenal dengan nama tol MBZ nya. Singkatan dari 'owner' nya Syech Mohammed Bin Zayed. Jam 6.10 sampai di sini dan keluar di KM 47 setengah jam kemudian. 


Macet kembali terjadi antara KM 52 hingga KM 54 akibat banyaknya kendaraan yang mau keluar di exit tol Cikarang. Alhamdulillah selanjutnya kembali lancar. Biasanya kami selalu rehat di KM 57, sholat atau sekedar melepaskan penat. Namun karena perjalanan tadi relatif lancar, tak terlalu capek, bye bye dari jauh saja ke rest area yang memiliki mesjid nya yang sangat megah ini. 


Rehat pertama saya lakukan di rest area KM 102 disebabkan pengen buang air saja. Sebentar saja di sini, hanya sekedar melepaskan hajat. :) 

Rehat kedua sekalian ngisi BBM kami lakukan di Rest Area KM 207. Pengisian Pertalite hingga full sejumlah Rp. 250.000.


Selanjutnya perjalanan masih tetap saja lancar. Kendaraan masih sepi. Tak banyak truk truk besar yang kami temui sepanjang jalan. Hanya bus Rosalia Indah dan Harapan Jaya yang kami temui selepas pengisian BBM tadi hingga exit tol Kendal. Bus Bus ini jelas dari Sumatra, dari Sumatra Selatan dan Lampung. Mereka sepertinya sengaja beriringan dengan kecepatan sedang. Tak terlihat ngebut sedikitpun. 'Bedak Sumatra' sangat tebal menempel di bodynya.Kalo dari arah Jakarta dsk biasanya baru berangkat siang hari. Atau kalopun ada armada bus yang berangkat pagi, tentu belum lewat jam segini, sekitaran jam sembilan. 


Setelah masuk Semarang, 'my mother rice' merasakan lapar. Tak kuat lagi kudapan kacang medan dan kue koya mengisi perutnya. Maklum sejak berangkat subuh tadi, kami memang belum makan. Dan akhirnya makan siang serta sholat kami lakukan di rest area KM 429. Rest Area terindah pemandangannya, konon. Kami sampai di sini jam 11.15. Itu artinya, telah enam jam perjalanan kami. 



Rehat makan dan sholat di sini selama satu jam. Saya makan dengan gulai cincang, bundo makan dengan soto yang dia pesan dan dhifa makan cincang plus indomie telor. Soto di warung pojok no 16 itu uenak banget. Harga seporsi hanya 16.000. Kami semuanya mencicipinya. Emang uenak. Harganya juga murah dengan kualitas seperti itu. Pujasera Rest Area 429, warung pojok 16, sotonyo mantap banget. Indomie telor dipesan di warung lain dengan harga 16.500. Setelah makan kami sholat dan Dhifa pesan satu lagi kudapan kesukaannya, Waffle, yang outletnya berada antara pujasera dan masjid. Alhamdulillah kenyang dan sholat pun tertunaikan dengan baik. 


Jam 12.15 perjalanan kami lanjutkan. Up and down di toll kami nikmati. Alam yang indah terpampang di antara bukit dan pergunungan. Kendaraan bisa dipacu agak cepat, dengan tetap memantau sepi atau tidak nya kendaraan sepanjang jalur tol menuju kota Surabaya dan Malang ini. 


Exit tol Madiun kami lewati dengan tiga 'bar' pertalite sisa. Berarti sepanjang Rest Area KM 207 hingga exit tol Madiun BBM terpakainya Rp. 250.000.


Madiun terlewati, langsung disambut dengan gerbang kabupaten Ponorogo. Jalur masih sepi namun kendaraan roda dua agak dominan di jalanan membuat saya harus mengurangi kecepatan. Masuk alun alun kota Ponorogo, makin terasa dekat Pondok Modern Darussalam Gontor kampus Dua yang dberada di daerah Siman. 


Alhamdulillah, sekitar jam 3 sore saya mengisi BBM lagi sebanyak Rp. 315.000 di SPBU yang baru ganti kepemilikan nya yang tak jauh dari Gontor Dua. Hanya sepelemparan tombak saja jaraknya. SPBU ini dulu, kurang menarik. Agak jorok. Kalo tak terpaksa takkan ngisi BBM di sini. 


Namun sekarang SPBU ini sudah rapi. Rapi banget. Ganti pemilik, ganti manajemen, ganti karyawan dan ganti suasananya. Halamannya terkesan luas, kombinasi cor-an dan paving blok. Mushola nya bagus dan sedang dibangun cafe juga. Nah SPBU nya sekarang dengan mesin baru. Benar benar keren... Darimana saya tahu? Tentu dari pandangan mata dan dari obrolan dengan petugas SPBU tentunya, yang merupakan karyawan baru di sana. SPBU ini baru semuanya.



Pawon Dengok, Siman Ponorogo

14 Juli 2022


Selasa, 05 Juli 2022

Anak Nan Jolong Gadang

Sebentar lagi si bontot kami akan melanjutkan studinya di Kudus. Bukan tempat yang biasanya bagi sebagian orang tua. Dan juga bukan tempat yang biasa biasa saja bagi kami selalu orang tuanya dan juga kakak serta abangnya. InsyaAllah yang bontot ini, si cantik kami ini akan melanjutkan pendidikannya di Pondok Tahfiz Riyadhul Quran Kudus. Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar, sejak mengikuti seleksi masuk hingga kami survei lokasi akhir bulan Mei lalu. Dhifa senang, kami pun senang. Kami sangat yakin bahwa semuanya atas izin Allah semata. Allah kabulkan apa yang menjadi harapan kami semuanya. 


Dan kemarin adalah waktunya bersama sangat Bundo jalan jalan. Jalan jalan mencari kelengkapan apa yang akan dibawa nanti ke Kudus. Ternyata, pemikiran yang buah hati kami ini mulai dewasa. Ketika bundo menawarkan baju yang pas dengan ukuran badannya, dia minta satu ukuran di atasnya. Padahal ukuran M itu sangat pas. Sangat ideal dia pake. "Bun, aku ini cepat besarnya. Jangan yang ini ya Bunda. L saja", dalihnya. 


Bundanya terpana. Apa yang disampaikan benar adanya. Kemarin masih menganggap dia kecil, ternyata sekarang sudah mulai dewasa, termasuk cara berpikirnya. Akhirnya sang Bundo mengambil tiga gamis buat dia nanti. Dan tadi malam di rumah menjelang tidur, ada lagi satu baju kakak Dhila yang pas di badannya yang akan dia bawa. Wah, wah, takjub saya bukan main. Baju kakaknya yang sudah jadi alumni Gontor, pas di badannya yang akan menjadi santri. Padahal badan kakaknya saja sudah lumayan besar, lumayan tinggi. Tetapi begitulah Dhifa, si bontot kami ini. Pas saja baju kakaknya buat dia. 


Mungkin ini akan menjadi pengikat kasih sayangnya dengan sang kakak, yang sedang merantau di negeri orang melanjutkan studinya. Jauh jarak namun tak memutuskan rasa sayang sama kakak tercinta. Begitu juga dengan sang Kakak. Beberapa waktu yang lalu dia belikan adiknya ini Al Quran yang unik. Al Quran yang tertera nama adiknya di cover depannya, Nadhifah Az Zahra sebagai hadiah ulang tahun adiknya bulan Mei lalu. 


Alhamdulillah, dua anak gadis kami ini sangat akur. Yang kakak sangat sayang sama adiknya ini. Dan adiknya sangat patuh sama kakaknya. Kebersamaan selama kakak selesai pengabdian di Gontor Putri 7 Pekanbaru hingga berangkat ke IIUI Islamabad Pakistan akhir Januari lalu, menambah kedekatan mereka berdua. Apalagi ketika pulang kampung bersama akhir tahun lalu. Kemana mana berdua. Semoga akan selalu begitu hingga nanti mereka punya keluarganya masing masing. 


Yang satu sudah sangat dewasa, dan yang ini mengikuti jejak kakaknya. Anak yang jolong gadang, tetapi sarat pengalaman selama ini. Dia yang melihat dan merasakan bagaimana abang dan kakaknya di pondok kami layani. Dia yang selalu dikutsertakan kalo kami ke pondok melihat abang dan kakaknya. Begitu juga ketika mereka liburan ke rumah, selalu terpenuhi kasih sayang dari kami selalu orang tuanya. Selalu ada kebersamaan dengan mereka. Selalu ada waktu untuk mendengar cerita cerita mereka. Dan yang terpenting ketika mereka libur, selalu pas dengan waktu yang kami miliki. Dan tentu saja ini semua karena kasih dan sayang Allah semata kepada kami. 


Dan pertengahan Juli nanti kami akan jalani waktu berdua saja selaku orang tua. Anak anak kami nan "jolong gadang" kami ikhlaskan mereka belajar di pondok pesantren. Si Kakak di IIUI Islamabad Pakistan, si Abang di Ponorogo Jawa Timur dan si Bontot di Kudus Jawa Tengah. InsyaAllah dengan keikhlasan kami ini anak anak akan betah di sana. Belajar, belajar dan belajar bukan buat dia semata, tetapi untuk tegaknya Dien Allah di muka bumi ini kelak. 


Semoga mereka menjadi anak anak yang sholeh dan sholehah, yang selalu mendoakan kami selaku orang tuanya, yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Anak anak yang bermanfaat dimana pun kelak nanti mereka berada. InsyaAllah, insyaAllah kami yakin itu. Kami yakin karena Allah yang akan memudahkan segala urusan mereka nantinya. 



Ikhtiar terbaik telah kami lakukan. Doa doa terbaik telah, akan dan senantiasa tercurah buat mereka dalam sujud kami, selalu orang tuanya. InsyaAllah dengan keikhlasan dan keyakinan kami secara totalitas, Allah akan jaga mereka, anak anak kami nan "jolong gadang". InsyaAllah, InsyaAllah kami yakin itu. 


Selasa, 5 Juli 2022

Bintaro 11.30, menjelang rehat siang.

Note: Jolong Gadang bahasa minang, yang artinya menjelang dewasa.

Kamis, 09 Juni 2022

Mempererat Silaturahmi, Menjalin Potensi Alumni

Halal bi Halal IKA Unand Jabodetabek yang diadakan pada hari Minggu, 5 Juni 2022 sangat berkesan. Ada nuansa yang berbeda dibandingkan agenda agenda reuni yang pernah ada sebelumnya di tingkat Universitas Andalas. 



Pagi minggu itu saya memang agak terlambat untuk berhadir dan itu sudah saya kabarkan kepada tim panitia yang telah mengundang saya. Undangan itu pun telah saya teruskan kepada komunitas WAG yang saya miliki. Tentu semuanya yang berkaitan dengan alumni Universitas Andalas, baik dari level angkatan, Jurusan dan Fakultas. Aroma ingin berhadir dalam acara reuni seperti ini sangat dinantikan oleh alumni sejak pandemi Covid ini mulai berakhir. Terkungkung selama hampir tiga tahun, tak ada izin untuk acara yang bersifat massal, tentu menjadi alasan untuk hadir di HbH ini. 


Bundo yang saya bujuk sebelumnya untuk ikut hadir bersama saya ternyata tetap keukeuh tak mau pergi. Alasannya masih sama. Ingin mendampingi dan mempersiapkan tugas si bontot yang belum kelar. Ada banyak yang mesti disiapkan untuk 'Training Day' Dhifa buat esok Senin pagi. One day Training dari pagi hingga sore mesti diikuti oleh Dhifa bersama teman temannya kelas enam nya sebagai agenda kebersamaan mereka sebelum lulus dan wisuda pada tanggal 12 Juni nanti. 



Dengan mengendarai terios saya singgah sejenak di Bintaro. Di samping Living Plaza menunggu Ilsam Muharti dan suaminya yang akan ikut bersama saya. Icha adalah adik kelas saya, alumni Matematika angkatan 2003, yang kebetulan juga pernah menjadi Ketua Umum Komisariat FMIPA kedua setelah Olivia Triyosi dari Kohati. Jadi ada benang hitam hijau nya. 



Bertiga kami menuju Lumere Hotel tempat acara menjelang siang. Alhamdulillah satu jam lebih kurang waktu tempuh, kami pun sampai di lokasi acara. Parkir di basement dan naik tangga ke Lobby Hotel dan di Lobby ini saya bertemu dengan adinda Fuji Fernanda yang kebetulan datang dari Padang. Berempat kami naik ke lantai satu. Di sambut dengan jepretan kamera dari para photograper yang mencoba mendapatkan rezeki dari para alumni. Kami bagaikan artis ataupun pejabat publik. Tak bisa menghindar. Hmmmm. 



Alhamdulillah acara yang baru saja dimulai. Masih terdengar sambutan dari ketua pelaksana saat itu. Mengisi daftar hadir dan menyapa senior dan adik adik yang telah datang lebih dulu yang saya kenal. 


Alhamdulillah ketika masuk tampak ruangannya sangat luas. Sangat representatif buat acara selevel Universitas. Sangat tertata dengan baik. Ada banyak meja bulat dengan kursi yang tertata melingkar. Begitu juga dibagian belakang yang agak terhalang oleh pintu, menjadi tempat yang pas buat kumpul angkatan ataupun sejawat. 


Ada banyak tokoh yang berhadir. Seperti Gubernur Sumatra Barat Buya Mahyeldi yang juga merupakan alumni Fakultas Pertanian, Prof Fasli Jalal mantan wamen Diknas dan sekarang menjadi Rektor Univ. Yarsi Jakarta, Pak Sahrul Ujud yang pernah menjadi Walikota Padang yang dulu sangat dekat dengan mahasiswa, kakanda Dr. Apt. Rustian MKes selaku Ketua Umum DPP IKA Unand yang juga menjabat sebagai salah seorang direktur di BNPB, Prof. Insannul Kamil WR 3, yang mewakili Rektor Unand, Bang Firdaus Hb yang sedangkan menggalang hajat nasional Sinergi Ranah dan Rantau di Ranah Minang dalam waktu dekat ini, serta banyak alumni lainnya, dari lintas angkatan dan lintas fakultas. 


Tak kalah rame juga alumni FMIPA yang hadir yang saya temui. Di antaranya da Kojenk Rozy, da Dasriel Adnan Noeha, da Febrianto da Yunis ni Lina ni Neny Rochyany ni Lin Yendri Surlini SSi serta Jelib Jelib Boy Martin Pch Muhardiman Yuwanita Annie M Donny Abdillah Sabrina Dahlizar Novan dll. 


Berdasarkan info dari ketua IKA Unand Jabodetabek, dokter Mulyadi Muchtiar bahwa ada sekitar 10ribuan alumni Unand yang ada di Ibukota saat ini. Dari sebanyak itu alumni tentu banyak potensi yang tersembunyi, yang belum terekspos dan terdata dengan baik. Inilah yang menjadi inisiasi ke depan bagi Ika Unand Jabodetabek sesuai tema yang diusung yakni "Mempererat Silaturahmi, Menjalin Potensi Alumni". 


Semoga pasca Halal bi Halal ini tema yang sangat baik ini bisa terwujud. Alumni Unand ini terdata dengan baik dan tentu terkoordinasi juga dengan DPP IKA Unand dan pihak Universitas Andalas. Pendataan alumni ini harus diintensifkan lagi, up to date.


Apalagi dengan status Unand yang baru saja berubah menjadi PTNBH, membutuhkan kerjasama yang solid dengan alumninya. Begitu juga sebaliknya, Alumni pun perlu mendukung program program unggulan yang diusung oleh pihak kampus, dalam segala hal. Silaturahmi dan Potensi Alumni harus dalam satu sinergi tak terpisahkan. Harus berkelanjutan. 


Tentu hal ini akan memberikan multiflier effect bagi pembangunan masyarakat Sumatra Barat secara langsung maupun tidak langsung. Untuk pembangunan dan pengembangan pariwisata di Ramah Minang, pak Gubernur mengajak serta seluruh komponen masyarakat. Terbuka bagi siapa saja yang peduli dalam hal ini, termasuk alumni dan pihak kampus Universitas Andalas. 


Bahkan dalam penyampaian pak Gubernur, libur lebaran yang lalu, triliyun uang yang beredar di ranah minang. Ini terdata dari tempat tempat wisata yang berbayar saja. Dan itu belum termasuk lokasi wisata yang gratisan. Namun semuanya sangat berpengaruh terhadap pergerakan roda ekonomi masyarakat yang ada di ranah minang. Banyak uang yang beredar di Sumatera Barat. 


Dan diakhir sambutan pihak Rektor Universitas Andalas dan Gubernur Sumatra Barat, ada tausiah agama yang diisi oleh ustadz 5 Benua, yakni K.H Dr Agus Setiawan Lc MA. Keren banget tausyiahnya. Merangkum apa yang disampaikan oleh para tokoh yang memberi sambutan, memberi energi positif akan penting silaturahmi. 


Selanjutnya acara Ishoma. Sholat dilaksanakan di lantai empat, terpisah tiga tingkat dengan tempat acara. Makan siang nya dengan nasi box yang keren dari Lumere Hotel. Lauknya mantap, buahnya pun ada, kerupuknya tersedia dan air mineral 600ml dalam satu box yang agak besar.


Sambil makan acara masih diisi "sharing" pengalaman dengan alumni Unand yang menjadi Dirut Bank DKI saat ini. Keren kan alumni Unand? 


Terakhir pembagian door price bagi yang hadir, setia hingga penghujung acara. Acara ini disambut dengan antusias, ditunggu tunggu, sembari mendengarkan dendang lagu dari alumni. Namun saya yang jarang menang dalam "Undian Berhadiah" seperti ini, akhirnya pulang jam dua lewat.


Rabu, 8 Juni 20202

Jam 23.15

Pak Samsuri

 Pak Samsuri


Olahan ayam dari dapur kami, Dapur Bundo Nova, selalu dari sini. Dari pak Samsuri yang membuka lapak ayam potong nya yang  tak jauh dari rumah. Beliau sewa lapak di sini dan tinggalnya di Pondok Kacang. 



Yang menjadikan saya suka belanja di sini disebabkan karena jaminan kehalalan dalam pemotongan ayam yang dia lakukan. Ini point pentingnya. Saya sudah saksikan beberapa kali. Selain itu selama bekerja, beliau sering mendengarkan muratol al Quran dari lantunan HP yang beliau bawa. Ketaqwaan tampak dari wajah dan cara beliau bertutur. 


Beliau sangat tenang. Tak ada yang terburu buru dalam cara beliau bekerja maupun melayani pelanggannya. Sabar. Beliau hanya bekerja di sini menjelang tengah hari saja. Boleh dikatakan beliau bekerja setengah hari saja. Dari jam enam pagi hingga maksimal jam 12 siang. Kadang jam 11 beliau sudah pulang. 


Istri beliau guru ngaji di rumah, kadang kadang ada juga yang privat. Kehidupan keluarga mereka seperti orang kebanyakan. Anak anak nya tetap sekolah seperti orang kebanyakan. Ada yang sudah bekerja, yang sulung. Bekerja sejak akhir perkuliahan di Universitas Pembangunan Jaya. Kampus swasta yang terbilang mahal di daerah Tangerang Selatan. Namun dengan prestasi akademik yang tinggi saat sma, anaknya mendapatkan kemudahan untuk kuliah di sana

Alhamdulillah, sekarang sudah lulus. Sudah bekerja di bidang IT. 


Namun kehidupan pak Samsuri ini tetap berjalan sebagaimana biasanya. Sederhana, bersahaja dan tetap bertawakal kepada Allah SWT. Berkah dari rezeki yang Allah tetapkan. Bekerja itu selingan, yang utama itu beribadah menjalankan syariat agama sesuai tuntunan Rasulullah. Syukuri apa yang ada, Allah akan ringankan segalanya. Bekerja untuk akhirat, dunia akan mengikutinya. Toh usia hidup di dunia takkan lama. 

https://youtu.be/ppdsVkhFpNg

Begitu hikmah yang saya dapat dari obrolan selama ini dengan pak Samsuri ini. Langganan kami untuk setiap kebutuhan olahan ayam buat pelanggan #dapurbundonova. Baik itu buat rendang ayam, ayam balado, ayam gulai, ayam patah lado mudo maupun ayam gorengnya. 


InsyaAllah, halal dan toyyiban bahan yang kita gunakan dan pasti sumbernya.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...