Minggu, 14 Agustus 2022

Samba Buruak

Gara gara makan siang di rumah Andes siang patang, di Bandung, katuju bana dek awak dan memang lamak. Makan batambuah awak dek samba Buruak ko. 

Eh ternyata pagi ko si Bundo mambueknyo baliak. Makin manjadi, dek salero awak nyo paturuik-an. 


Jan salah yo, nan Buruak Buruak ko pambukak salero mah. Picayokan? Picayokan ajolah... 


Hehee.. Sesekali tulisan ringan, kuliner asli dari minang. 



Samba Buruak ko Biasonyo terdiri dari

Lado hijau

Tomat hijau

Teri atau bada

Potongan tahu

Potongan tempe

Potongan kantang

Patai

Jariang

Rimbang

Taruang


#sambaburuak


Sabtu, 13 Agustus 2022

Cepat

Ketika beranjak dari rumah ke mesjid waktu subuh tadi pagi, terasa sekali waktu bergerak dengan cepat. Secepat lintasan pikiran yang menyatakan bahwa kemarinnya, minggu pagi sholat subuh saya masih di Masjid Agung Demak. Masjid Agung yang terletak di dekat Alun Alun Kota yang terkenal dengan Bundaran Simpang Enam-nya. 


Benar. Subuh di hari Minggu itu saya sudah sampai dalam sebuah perjalanan yang mendadak. Mendadak "dibajak" menjadi "supir tembak" dalam sebuah safar ke dua Kota Wali, yakni Demak dan Kudus. Sebuah ajakan dari Sulthan Ciledug, yang akhirnya saya jawab dengan kata InsyaAllah. InsyaAllah siap. Begitu juga dengan waktu yang berlalu dengan cepatnya ini. Kita harus selalu siap. Siap berarti ikut, tak siap berarti ditinggal. 


Alhamdulillah, saya selalu bersyukur, Allah karuniakan stamina yang selalu prima dan istri yang menjadi pasangan hidup saya, orang yang asyik diajak bicara terbuka dan mendukung saya selama untuk kebaikan. Kebaikan untuk semua. Tawakkal nya memang tingkat dewa. Meskipun di rumah harus ditinggalkan sendiri. Dan ini untuk pertama kalinya ditinggal setelah kami "pulang pokok". Biasanya kalo saya pergi, si bontot masih ada menemani sang Bunda. 


Sehabis acara Majelis Taklim Subulussalam Walisantri Gontor Tangerang Kota di masjid Ainul Yakin Kompleks Poris Indah siang kemarin, saya dan Bundo mampir ke rumah temannya di samping Green Lake City. Yang jaraknya sangat dekat, hanya se pelemparan tombak saja sampai. Hanya setengah jam saja lebih kurang Bundo bertamu dan berdiskusi dengan istrinya Cing Haji Musrin kamipun pulang, setelah perut kenyang tentunya. Kenyang karena nasi kebuli di pengajian dan ditambah dengan suguhan dari bu Haji ini, yang masuk dalam waktu yang hampir berdekatan. Kenyangnya pool. Alhamdulillah, berkah silaturahmi ya begini ini. 


Dalam perjalanan pulang ke rumah itulah ada WA yang berisi ajakan jalan jalan ke Kota Demak dan Kudus. Sembari bertanya jam berapa berangkat, siapa saja yang ikut dan berapa lama, sejatinya saya sedang 'berdiskusi hebat' dengan sang Bundo. Lebih tepatnya, menanyakan seberapa dalam keikhlasan sang Bundo untuk siap ditinggalkan. Itu intinya. Maklum, bagi saya andai ada sedikit saja keraguan dari Bundo, saya memilih untuk tidak ikut. Alhamdulillah, Bundo mantap untuk ditinggalkan barang semalam dua malammalam. WA dari Sulthan saya jawab, "InsyaAllah siap berangkat". 


Sehabis sholat ashar di masjid Hidayatul Ikhwan dekat rumah, dengan motor saya langsung mengambil laundry dan membeli telor bebek di pasar Arinda. Dalam perjalanan ke rumah dari pasar Arinda, berpapasan dengan sang "Sulthan" dengan Innova nya. Bersyukurnya, di rumah sang Bundo telah menyiapkan segalanya. "Koper mini" sandang dengan pakaian, handuk dan perlengkapan mandinya sudah tersedia di kamar. Tinggal dimasukin saja. 


Tiga orang tamu yang siap membawa saya sore itu, kami suguhi dahulu dengan teh telor dan cemilan yang tersedia, apa adanya. Dan selama obrolan di rumah, ternyata ada sedikit perubahan rencana keberangkatan. Awalnya hanya satu mobil, ternyata menjadi dua. Dan rombongan yang kedua ternyata sudah berada di Perumahan Taman Alfa Indah Kembangan Joglo Jakarta Barat. Terpaksa segera beberes, siap siap berangkat. 


Sore itu kami meninggalkan Puri Bintaro Hijau, langsung ke Taman Alfa Indah. Menjelang maghrib sampai di sana, bersilaturahmi sejenak sambil menunggu waktu maghrib. Selepas maghrib, dalam gerimis hujan yang penuh berkah, kami pamit kepada Ustadz sang tuan rumah dan Nyonya untuk memulai perjalanan. 


Dan ternyata, sebelum masuk tol, kami diajak makan malam dahulu. Maklum ada anak anak yang ikut serta, dan makan makan di sini tentu lebih nikmat. Menu pecel lele, ayam dan bebek adalah pilihannya. Makan malamnya nikmat. Saya dengan satu nasi dan dua lelenya. Saya akui mantap banget sambelnya. 


Perut yang kenyang, menyebabkan saya tertidur dalam perjalanan awal ini. Duduk di depan, dengan Innova Matic keluaran rekatif baru ini menyebabkan nyaman banget disupiri sang "Sulthan". Tadinya berniat untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana caranya membawa mobil matic ini, tapi malah kebablasan tidur. Maklum selama ini saya memang belum pernah membawa mobil matic. 


Alhamdulillah tidur nyenyak, membawa berkah. Rehat di rest area KM 102 membuat saya seger. Segelas kopi dan kripik singkong yang menjadi teman ngobrol kami. Dan sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, saya test drive dulu mobilatic ini satu putaran. Alhamdulillah, meskipun agak grogi, tapi sang owner percaya, saya bisa. 


Dengan basmallah, saya mulai lanjutkan perjalanan, sebagai "supir tembak". Pelan, namun pasti kecepatan mulai meninggi. Akselerasi pun mulai nakal sesekali. Pelan pelan saya sudah mulai sehati dengan Innova matic ini. Kecepatan tertinggi saya jajal ada di kisaran angka 150. Masih sangat nyaman, sangat sangat stabil. Nggak seperti Terios yang di angka 140 saja, sudah terasa ngos-ngosan. Nafasnya mulai berat. Kadang agak limbung jika berpapasan dengan bus. 


Dengan Innova ini, belum berani lebih dari 150. Rerata kecepatan saya masih aman. Masih aman bagi penumpang dan bagi kendaraan. Saya sangat menghargai siapa siapa yang saya bawa ini. Orang yang mesti saya jaga dengan aman sampai di tujuan. Perjalanan mereka masih panjang, tidur dengan nyaman mereka selama perjalanan harus saya jaga. 


Di restoran Area 379A, kami lagi rehat di sini sambil  menunggu mobil satunya lagi, yang berisi dua keluarga pasutri dengan anak anaknya. Menjelang jam dua dini hari kami di sini. Agak lama kami menunggu kedatangan mobil satunya lagi. Dinginnya udara malam sangat terasa. Ada satu jam menunggu akhirnya yang dinanti datang juga. Rehat lagi sekitar setengah jam, sambil ngobrol dan membahas rencana selanjutnya. InsyaAllah dalam waktu satu jam lebih sedikit kami akan sampai di Kota Demak sesuai GPS. 


Tak lama berselang saya masih dipercaya membawa mobil ini. Yang lain masih lanjutkan mimpinya. Hanya saya dan Sulthan saja yang asyik ngobrol, meski kadang beliau tidur juga selayang. Melintasi tol Semarang yang mulai ramai hingga akhirnya saya keluar di dekat Pelabuhan Tanjung, stir saya serahkan ke om Sulthan. Gantian saya yang rehat. Sesekali saya tidur selayang. 


Dan akhirnya mendekati Alun Alun Kota Demak, terbangun sudah mendengar adzan subuh berkumandang. Kami parkir dan sholat subuh di masjid Agung Demak, sementara mobil satunya lagi langsung menuju mesjidnya Sunan Kalijaga. Kami yang salah arah. Setelah selesai sholat, kami segera melanjutkan ke Makam Sunan Kalijaga dimana teman kami sudah menanti di sana. Jarak antara kedua Mesjid ini tak jauh. Dan di masing masing mesjid itu ada makan Sunan dan keluarganya. Banyak yang berziarah di sana, tetapi saya tak begitu tertarik dengan ziarah kubur seperti itu. Hati saya hanya rindu untuk berziarah ke makam Rasullulah dan sahabatnya saja. Ke Madinah dan Mekkah sajalah asa ini dipelihara. 


Napak tilas keluarga di sini sebentar saja, kami lanjut ke makan Sunan Kudus. Jarak tempuh dari Demak ke Kota Kudus ini hanya setengah jam saja. Alhamdulillah, pagi Senin itu lancar, meskipun truk banyak ditemui di jalanan. Di dekat makan Sunan Kudus ternyata ada acara. Ada haul. Banyak pejabat dan warga yang hadir dan berharap berkat juga. Kami parkir agak jauh, di sisi kanan jalan. Maklum sisi kiri sudan rapat dengan kendaraan roda empat. 


Di sini pun tak lama. Setelah selesai ke makam, ki makan siang. Saya kembali menikmati soto daging kerbau, yang memang di Kudus ini itu yang banyak. Daging sapi tak banyak yang mengkonsumsi di sini. Maklum masih ada penghormatan kepada sapi di sini, persis sama dengan sahabat kita di Pulau Bali. 


Habis makan kami berpisah. Satu mobil masih lanjut dengan acaranya, dan kami balik ke Tangerang sekalian mengantarkan sepasang tamu agung kami ke terminal Jati Kota Kudus, yang kebetulan searah. Jam dua belas siang sampai di terminal, sebentar menunggu bus Patas yang akan membawa mereka ke Kota Pahlawan, Kota Surabaya. 


Setelah itu kami lanjutkan perjalanan pulang. Menjelang masuk pintu TOL, kami mampir di SPBU terdekat. Mengisi solat, mandi dan sholat juga. Rehat sekitar satu jam ada di sini. Ngobrol yang ringan ringan saja, pelepas penat saja. Selesai itu saya kembali pegang kemudi. Dua penumpang saya tidur. 


Memang kami sama sama ngantuk, cuma harus saling jaga. Ketika saya yang bawa, sang Sulthan biarlah tidur. InsyaAllah sampai nanti di Cirebon gantian. 


Siang menjelang sore, saya nikmati jalan tol Semarang Jakarta ini dengan kecepatan aman. Yang penting penumpang bisa tidur dengan nyaman. Tak terasa menjelang Brebes penumpang saya bangun. Ada teman ngobrol lagi. Dan sang Sulthan meminta saya rehat dulu. Maklum ada hampir empat jam saya membawa kendaraan. 



Rehat kami di restoran area KM 164. Kami nikmati suasana menjelang sore dan sholat Maghrib di sini. Sambil makan di CFC waktu itu, sebagai pengganjal perut. Habis sholat kami lanjutkan perjalanan, gantian saya yang tidur. Nyenyak banget, sampai sampai saya tak mendengar apa apa yang diobrolkan oleh pasutri ini. Benar benar pulas tidur saya hingga rest area sekitar Cikampek, yang ada mesjid Siti Maryam nya. Di sini kami mengisi solar lagi sejumlah 140 ribu rupiah. Selain ngisi solar juga melakukan buang air tentunya. 


Bablas lagi perjalanan malam hingga akhirnya keluar di tol Pondok Aren Bintaro. Sang Sulthan mengantarkan saya terlebih dahulu sebelum beliau ke rumahnya di Karang Tengah Ciledug. Namun sebelum itu kami tutup acara dengan makan malam. Seperti awal berangkat kemarin dengan pecel lele, malam ini pun dengan menu yang sama. Hanya tempatnya saja yang beda. Bagi saya pecel lele juga enak. Saya suka sambel dan lalapan segernya. Sementara sang Sulthan selain dengan lele ternyata favorit nya adalah bebek goreng. InsyaAllah suatu saat nanti saya akan coba juga bebek goreng. Menu yang jarang saya icip selama ini. 


Jam setengah sepuluh saya sampai di rumah. Kamipun berpisah. Suatu pengalaman yang luar biasa bagi saya jadi supir tembak. Dengan pengalaman pertama membawa mobil matic dengan performa terbaik di kelasnya. Ada kebanggaan, bisa menuntaskan kepercayaan teman dengan membawa mobilnya dengan aman dan nyaman. 


Saya akui bahwa mobil ini, mobil Innova Reborn adalah produk gagal. Produk yang gagal saya beli, maksudnya. Hahahaaa


InsyaAllah suatu waktu nanti bisa kembali membawa mobil matic. Entah dengan mobil siapa, dengan siapa, tetapi waktu yang akan menjawabnya. Waktu yang bergulir begitu cepat. Seperti yang saya jalani kemarin. Sehari semalam pulang pergi Tangerang Demak Kudus Tangerang. Sebuah pengalaman yang luar biasa. 


#####



Photo dengan menu teh telor dan mie goreng nya hanyalah pemanis saja. Selain itu juga sebagai bukti bahwa di tempat ini, tulisan ini berawal. De Lapau Minangness Graha Raya


Selasa, 10/08/2022

14.25 WIB

Rabu, 03 Agustus 2022

Ampok

Lauk khas Minangkabau yang jarang ditemui di rantau. Lauk yang sering dibuat apabila 'patah selera' alias kehilangan nafsu makan. Alhamdulillah, menu makan malam kali ini ditambahi dengan bandeng presto goreng pemberian kak Dewi Wuwuh S siang tadi ketika kami mampir ke apartemen nya di kawasan Kemayoran. 

Ampok menjadi penambah nafsu makan malam ini. InsyaAllah, semoga esok stamina pulih seperti sediakala. Maklum tadi malam, pulang sudah larut dari rumah teman di Karang Tengah, naik motor diiringi hujan yang lumayan deras, tanpa jaket sama sekali. Dinikmati saja dinginnya malam, namun ternyata agak patah selera sore tadi. 


Alhamdulillah, ampok yang terdiri dari ikan teri, pete dan kerupuk kulit yang sudah digoreng, dimasukan ke dalam air yang mendidih yang telah ditambahin cabe giling, asam kandis, bawang merah dan bawang putih. Praktis, tanpa santan. Alhamdulillah makan jadi lahap. 


Ditemani oleh buncis yang dikukus, MasyaAllah semuanya nikmat.

Selasa, 02 Agustus 2022

Menjelang.....

Dulu ketika baru merantau ke tanah Jawa ini dan mulai bekerja, punya penghasilan yang cukup dan kumpul kumpul dengan sesama alumni Kimia di Tangerang ataupun Cawang, sering diingatkan tentang hal:

Menikahlah menjelang 30 tahun. 

Karena lewat dari angka 30 itu sama saja menjelang 40 tahun, meskipun hanya lewat sehari. Bisa jadi ini hanya gurauan semata, tetapi saya merasa obrolan itu ada benarnya juga. Lewat 30 tahun usia, biasanya sudah mulai malas untuk menikah. Apalagi bener bener menjelang menginjak 40 tahun. 


Alhamdulillah saya menikah di usia 28 tahun lewat 4 bulan 20 hari lebih kurang. Walau dikatakan sudah cukup matang, tetapi melihat kenyataannya menurut saya lebih pas menikah itu di usia 25 tahun saja. Teringat saya usia Nabi Muhammad, di usia segitu. Usia yang pas. Tetapi saya tetap bersyukur, atas izin Allah bisa menikah sebelum usia 30 tahun. 


Menjelang 40 tahun. 

Dinamika berumahtangga itu di sini. Saat anak anak lahir, besar, sekolah dan kebutuhan lainnya yang semakin besar. Di sinilah saya dan juga kita semuanya, benar benar diuji. Lulus atau tidaknya dalam membina keluarga kecil. Ada yang bilang 5 tahun pertama sejak akad nikah adalah pondasi awal pernikahan kita. Kuat atau tidaknya pondasi, katanya ditentukan di lima tahun pertama ini. Alhamdulillah semuanya dilalui dengan baik. Tentu semuanya atas kemurahan Allah SWT semata. 


Dan benar apa yang dituliskan dalam buku "Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya" yang dulu pernah saya baca. Dan itu ternyata benar. Dengan menikah, sanggup menafkahi istri, anak dan mencukupkan kebutuhan keluarga. Mendayung biduk rumah tangga bersama istri tercinta, perlahan namun pasti semuanya mulai ada. 


Menjelang 50 tahun

Life start at 40, bahasa Padangnya. Ada lagi yang bilang "pubertas kedua" itu saat 40 tahun. Alhamdulillah, so fa so good. Yang ditakutkan ini InsyaAllah sudah hampir terlewati. Yang jelas keraguan keraguan seperti ini tak kami temui. 


Alhamdulillah, makin hari makin baik sajalah amalan kami. Berusaha makin banyak manfaat bagi sesama. Makin menghamba kepada Yang Maha Kuasa. Apalagi semenjak anak pertama, kedua dan ketiga satu per satu masuk pesantren. Anak yang di  pesantren, kami pun mengikuti apa yang mereka lakukan di sana. Mereka kadang puasa senin Kamis, kami pun ikut juga. Mereka qiamullail, kami pun ikut juga. Mereka terbiasa mengaji, kami pun ikut juga. Mereka di sana terbiasa berbagi, kami pun ikut juga. MasyaAllah.. Semuanya tak lepas dari munajat kami kepada Allah semata. Kami titipkan anak anak kami kepada Allah melalui pesantren tempat mereka belajar agama. Bersyukur nya, anak anak kami ini tak ada yang merasa dipaksa. Alhamdulillah mereka enjoy di sana. 


Hidup bagaikan air yang mengalir, kata orang. Tetapi sejatinya kita sendiri yang menentukan kemana air itu hendak kita alirkan. Tentu tak bisa kita sendiri yang menentukan. Pada Yang Maha Esa, seharusnya kita senantiasa sandarkan, pada setiap keputusan yang akan kita ambil. "Libatkan Allah senantiasa", begitu pesan sang Bundo Nova Yanti pada anak anaknya. 


Dan mulai hari ini hingga setahun ke depan adalah masa persiapan saya menjelang angka 50 tahun, dan bersiap siap menuliskan apa yang akan terjadi "Menjelang 60 tahun". Semoga Allah selalu karuniakan kesehatan yang prima, usia yang senantiasa produktif tanpa tergantung pada sesiapa, dan keluarga yang tetap utuh taat pada Allah SWT semata. Di saat anak anak, satu per satu "mentas" pada masanya. Masa masa yang Allah SWT sempatkan bagi kami menyaksikan kesuksesan mereka untuk tetap istiqomah di jalan-Nya, InsyaAllah. Aamiin Ya Rabb. 


#####


Siang ini menikmati kesendirian, sambil merenung dan menuliskan yang telah, sedang dan akan dijalani. Saat saat ini, kami menikmati masa masa awal "Pulang Pokok", terhitung sejak si bungsu mondok di Ma'had Riyadhul Qur'an Kudus, per 16 Juli lalu. 


Gambar hanya sebagai pemanis tulisan ini saja

Sebagai bukti bahwa dalam kesendirian masih tetap produktif menulis.  



De Lapau Minangness Bukittinggi

Graha Raya Fortune, 14.45

2/8/2022

Senin, 25 Juli 2022

Ma'had Riyadhul Qur'an Kudus

Sabbtu pagi, 16 Juli 2022, setelah sarapan soto mat Tjangkir, kami kembali ke penginapan. Segera berberes dan mandi agar bisa sampai di pondok lebih awal. Datang lebih awal bagi kami adalah suatu kenikmatan

Nikmat bisa lebih awal bersilaturahmi dengan pimpinan dan pengelola pondok. Menyapa wali santri yang baru hadir juga suatu kenikmatan tersendiri. Selain itu tentu menunjukan keseriusan kita dalam menitipkan anak di pondok. Hmmm


Jam delapan lewat kami berangkat dari Oyo Residence, menikmati suasana pagi yang asri. Masih lenggang di jalanan. Kiri kanan jalan yang penuh dengan pepohonan yang rindang menambah kesejukan pagi. 


Google map menunjukkan arah menuju jalan Menara Iman, hanya memakan waktu sekitar kurang dari 20 menit dari alun alun kota Kudus ini. Menjelang jam 8.30 kami sudah sampai di Ma'had Riyadhul Quran ini. Mencari tempat parkir yang agak teduh dan kemudian mengeluarkan bawaan Dhifa. Satu tas koper, satu tas tenteng dan satu dus berisi buku, makanan dan kebutuhan lainnya. Atas izin ustadzah nya semua barang barang bawaan buat Dhifa ini langsung diantar ke bagian penitipan di bagian putri, tanpa boleh saya antar lagi. Hanya bunda dan Dhifa saja yang masuk. Ikhwan dilarang sama sekali. 


Alhamdulillah setelah itu kami berkenalan dengan  wali santri dari Pati, Semarang dan Demak yang menyusul belakangan. Dan ada juga wali santri dari Bekasi yang anak putri nya sudah menginjak tahun ke dua di pondok ini. 


Setelah selesai semuanya, kami berkumpul di Mesjid Menara Iman. Ikhwan dan akhwat terpisah. Siap siap memulai acara serah terima santri, dari orangtua ke pihak pondok. 


Selain itu ada juga kajian, berupa materi "Mauidhoh Hasanah" yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa' Ad Dariny, M.A حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى selalu Dewan Pembina Ma'had Riyadhul Qur'an Kudus. Beliau seorang doktor lulusan Madinah, yang masih mengabdi setahun lagi di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii di kota Jember. STDI ini dibawah pimpinan ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah. 


Dalam Mauidhoh Hasanah, atau nasehat kebaikan yang disampaikan, saya catat dan rangkum sebagai berikut: 


1. Anak itu pemberian Allah

Allah juga menyebutkan anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia. Allah memberikan kepada siapapun yang dia kehendaki. Ada yang anak laki laki saja, ada yang perempuan saja dan ada yang anak laki laki dan perempuan. Dan ada yang tidak Allah berikan anak sama sekali. Semuanya itu adalah karena ilmu Allah. Kebijaksanaan Allah SWT. 

Bagi yang punya anak, itu adalah suatu kenikmatan. Kenikmatan dari Allah. 


Namun apa yang Allah berikan itu, akan Allah mintai pertanggungjawaban kelak. So kita harus menjaga amanah tersebut dengan baik. Salah satu hal penting dalam menjaga amanah tersebut adalah memberikan tempat pendidikan terbaik bagi anak anak kita ini. 


Anak pun bisa menjadi ladang pahala. Sejak menikah, mengandung, melahirkan, membesarkan dan memberi pendidikan terbaik adalah ladang pahala bagi orangtuanya. Bahkan ketika orangtua itu wafat, anak tetap menjadi ladang pahala, apabila anak itu adalah anak yang sholeh dan sholehah. 

Begitu pula sebaliknya. 


So tugas orangtua adalah memilih pendidikan terbaik bagi anak anaknya. Salah satunya ya di Ma'had Riyadhul Quran ini. 


2. Doakan Anak

Ketika anak anak sudah dititipkan di pondok, doakan anak anak kita. Ketika sudah sampai di rumah tetap doakan anak anak kita. Doa adalah kekuatan yang sangat besar. Doa adalah senjatanta orang orang mukmin. Dengan doa itulah anak anak kita akan berhasil. Denga doa itulah anak anak kita akan dibimbing oleh Allah SWT. 


Selain itu juga kita mintakan anak anak kita untuk mendoakan orang tuanya. Ketika orangtuanya kesulitan secara finansial, minta dia jugalah melalui anak. Sehingga antara anak dan orangtua saling mendoakan. 


3. Titipkan pada Allah

Setelah kita menitipkan anak pada Allah, baru kita titipkan anak pada pengelola pondok. Katakan pada anak kita, "Aku titipkan engkau kepada Allah, yang titipan titipannya tak pernah sia sia". Setelah itu bertawakal pada Allah dan husnuzon lah pada pondok. Jangan ada kekhawatiran yang berlebihan di dalam hati kita, selalu orangtua. 


Rasa khawatir itu harus ada sisa, jangan berlebihan. Karena dengan khawatir itu kita akan senantiasa berdoa untuk anak anak kita. 


4. Berikan Motivasi Kebaikan pada anak

Mendidik anak bukan hanya tanggungjawab pondok saja. Harus ada kerjasama antara pondok, anak yang belajar dan wali santri. Pondok harus memberikan pendidikan yang terbaik. Anak pun harus demikian, harus semangat belajar. Orangtua pun harus menguatkan anaknya. Harus memberi motivasi untuk anak anaknya. Untuk tujuan MULIA, menghafal Al-Qur'an, selagi usia mereka masih muda. Dengan menghafal Al-Qur'an orangtua akan bahagia dunia dan akhirat. 


5. Arahkan anak untuk selalu kembali pada Allah SWT

Karakter selalu kembali pada Allah dalam masalah apapun harus kita tanamkan pada anak anak kita. Segala persoalan yang ada harus dikembalikan pada Allah. Andai anak lemah dalam menghafal, sampaikan kepada anak untuk meminta kepada Allah untuk memudahkannya. Andai anak sering lupa atas apa yang telah dihafalkan, sampaikan kepada anak untuk meminta kepada Allah untuk menguatkan hafalan hafalannya. Mintalah kepada Allah dalam sujud sujudnya. Karakter selalu kembali pada Allah ini akan terbentuk dengan sendirinya dan akan besar manfaatnya kelak, meskipun anak tidak lagi berada di pondok. InsyaAllah masalah masalah dalam kehidupannya nanti akan mudah diselesaikan. 


6. Tidak ada gading yang tak retak. 

Tak ada kesempurnaan tentunya. Mari saling mengisi. Pondok ada kekurangannya. Sehebat apapun anak, pasti ada kekurangannya. Wali santri pun demikian. Disini lah penting nya saling mengisi,  saling membantu dan saling membangun untuk tujuan yang mulia. Yakni Generasi Rabbani, Generasi yang menghafal alqur'an, generasi yang berakhlak mulia. Semoga Allah SWT memberi kemudahan bagi kita mewujudkannya. 


Semoga anak anak kita kelak bisa menghafalkan Al-Qur'an 30 juz, memahami dan mengamalkan serta menyebarkannya ditengah tengah masyarakat kelak. Aamiin ya Rabbal 'alamin. 


#####


Setelah selesai acara serah terima santri ini, kami disuguhkan makan siang bersama dan lanjut sholat zuhur berjamaah. Terakhir sebelum meninggalkan pondok ini, ada satu acara khusus bagi santriwati dan ibunya yang hadir yakni wisuda hafalan 10juz bagi santriwati yang baru saja naik ke kelas dua. Hanya bundo dan Dhifa saja yang ikut, saya standby di luar. 


Sekitar jam dua siang, kami kumpul sebentar bersama Dhifa dan pamit untuk kembali ke Tangerang. Alhamdulillah Dhifa sendiri senang, karena punya teman barunya. Ada yang kembar dari Pati, Nadin dan Nadia, yang namanya agak mirip dengan si bungsu kami Nadhifah.


Dari kejauhan di lepas kami dengan senyuman terbaiknya. Dan tak lupa salam komando, salam semangat dengan tangan kanan dari sang Ayah sebagai bentuk motivasi bagi calon hafidzah cantik kami ini. 


Jam 14.15 kami meninggalkan Ma'had ini. 


Dituliskan kembali pada: 

Parung Serab, Senin 25 Juli 2022

17.22 WIB

Minggu, 24 Juli 2022

Trip Ponorogo to Kudus

Trip to Timur Tengah part 3

Sekitar jam 10-an bundo memesan makan buat kami. Menu tadi malam diulangi lagi karena memang enak. Minuman diganti dengan wedang ewuh, dua gelas. Minuman ini yang sering kami pesan tiga tahun yang lalu ketika Corona belum hadir. Di ranah minang agak mirip dengan tampoyang. 


Saat makan, Imam menelpon lagi. Banyak hal yang dia ceritakan. Lebih dari 30 menit durasi ngobrol dengan Bunda nya. Motivasi dan pesan yang disampaikan bundo menjadi penyemangat bagi dia. Imam makin matang. Dapat dilihat dari cara dia bertutur. Kadang sambil bergurau, masuk juga pesan. Baik dari Bundanya maupun dari Imam. Imam sekarang mendapatkan amanah sebagai mudabbir kelas 1 intensif. Amanah yang tidak ringan juga sebenarnya. Dan kami mensupport apa yang dia inginkan kelak, setidaknya hingga tahun depan. Ada bocoran juga bahwa tahun ini berkemungkinan besar, ada libur 10 hari di bulan Oktober nanti. Sudah ada ancar ancar acara nampaknya bagi Imam. Aaaahh, semoga saja terwujud. 


Selesai makan kami ke warung sebelah. Warung Bu Sri, pas di depan Gontor Kampus Dua ini, membeli tambahan yang Imam butuhkan. Termasuk celana panjang hitam sebagai celana penggantinya. Satu celananya robek di selangkangan. Hahaaaaa, dia tertawa ketika menyampaikan bagaimana kejadian hingga celananya robek, saya mendengar dari phone speaker yang sengaja Bunda perdengarkan bersama. Tak lupa juga membelikan minuman buat anak anak yang jaga di gate untuk tiga orang. 


Jam 11.30 kami meninggalkan penginapan Pawon Dengok setelah melakukan pembayaran atas apa yang kami makan dan biaya penginapan. Total semuanya Rp. 398.000. Biaya penginapan yang kami pilih Rp. 180.000 dengan kamar mandi dalam, ber AC. Untuk makanan itung itungan saya tetap masih murah. 


Lepas dari penginapan jalanan sepi, tak begitu rame, walaupun di daerah Alun Alun. Maklum sebagian besar sudah pada jum'atan. Saya dan Nova memutuskan untuk sholat di rest area terdekat saja nanti, sekalian jamak qashar zuhur dan ashar. Tak lama melewati kabupaten Ponorogo langsung masuk kabupaten Madiun. Pintu TOL dah makin dekat. 


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam dari Siman Ponorogo, akhirnya kami rehat sejenak untuk sholat jamak qasar di rest area KM 597B yang berada di kabupaten Magetan. Masjidnya unik, baik yang di jalur B arah Solo Semarang maupun di jalur A yang menuju Surabaya. Saat tengah hari itu, panasnya poo bangetl. "Paneh badangkang", bahasa minangnya. 


Alhamdulillah, selesai sholat kami langsung masuk jalur tol lagi. Jalanan masih sepi, kendaraan pribadinya yang banyak lewat. Satu dua bus yang terlewati siang itu. Saya tak berani memacu kendaraan di suasana terik begitu. Resiko pecah ban, lebih besar. Dan akhirnya kami keluar di Tol Mantingan/Sragen.


Sengaja mengambil jalur ini, karena menurut google map beda tipis waktunya jika dibandingkan full di jalur tol keluarnya nanti di Semarang, terus ke kota Demak menyisiri pantai utara Jawa. Selain waktu yang relatif sama, budget nya jadi membengkak. Ada perbedaan selisih harga tol nya sekitar 160 ribuan. 


Pilihan tepat adalah via Sragen Purwodadi. Selain untuk mengingat kembali jalan yang pernah kita tempuh dulunya via Gemolong, sebelum tol ke Surabaya ini selesai. Dulu exit Tol nya hanya sampai Bawen, lanjut disambung dengan jalan propinsi melalui kota Salatiga, Gemolong dan Sragen. 


Jalur dari Sragen ke Purwodadi juga pernah kita tempuh. Waktu itu GPS kami error, sehingga kami nyasar, berputar di Purwodadi dan lanjut balik ke Semarang. Nah jalur ini yang kembali saya tempuh siang ini. Sudah banyak perubahan. Jalannya sudah banyak yang dicor, namun di beberapa titik terjadi banyak rengkahan, atau amblas. 


Menikmati jalur ini antara Sukadana, Gemolong Purwodadi seperti menempuh lintas Sumatra saja. Banyak hutan di kiri kanan jalan, turunan dan tanjakan, kadang disertai dengan tikungan tajam. Dominan di jalur ini sepeda motor, baik oleh orang tua ataupun oleh anak anak sekolah. Tak banyak bis yang kami temui di jalanan. 


Masuk kota Purwodadi, sekitar jam 3-an, banyak kami temui bus bus yang hendak menuju Jakarta dan sekitarnya. Antara lain Kramat Djati, Sinar Jaya, Zentrum, Garuda Mas dll. 


Akibat mengikuti google map akhirnya kami sedikit kesasar. Masuk jalur perkampungan, jalur antar desa, bahkan ada yang sempat ditutup akses jalannya karena ada proyek pembangunan irigasi. Pengalaman yang luar biasa. Jangan terlalu percaya dengan google map. Percayakan saja dengan jalur awal, jalur lintas propinsi atau negara. 


Ada sekitar 13 km jalan kampung yang kami tempuh. Jalannya kecil dan sempit. Kalo ada lawan pas pasan banget, harus berhenti salah satunya. Namun agak terobati dengan pemandangan alam yang ada. Kiri kanan sawah terbentang, ada gunung dan perbukitan. 


Dan akhirnya kami kembali ke 'jalan yang benar'. Jalan lintas Purwodadi dan Kudus. Banyak terlihat kendaraan lagi, baik motor, mobil truk serta bus besar. Laju kendaraan sudah mulai naik lagi, antara 50-70 km per jam. Lumayan lah, ketimbang melewati jarak yang 13KM tadi. Jaraknya dekat, tetapi mobil tak bisa dipacu. Kecepatan hanya sekitar 20-30 km per jam. 


Masuk kota Kudus sekitar jam empat sore. Sedikit tersendat menjelang sore itu, karena ada proses pengecoran jalan yang yang agak panjang. Sistem buka tutup yang dilaksanakan pekerja proyek. 


Dan akhirnya kami saja sampai juga penginapan yang sudah saya pesan beberapa hari sebelumnya saat masih di Tangerang. Penginapan Oyo yang tak jauh dari Alun Alun kota Kudus. Penginapan yang sama dengan yang kami dapatkan akhir Mei lalu. Namun beda kamar nya saja. Dulu kamar no 13, sekarang no 14. Lebih luas namun harganya lebih murah. Hanya 144.000 rupiah semalam. 


Rehat sejenak, mandi dan mencari sesuatu buat makan malam. Tak lupa beli kebutuhan si adek buat esok. Makan malam kami di Jalan Sunan Kudus. Makanan sederhana saja, yakni pecel lele. namun uenak nya bukan main, nambah seporsi pecel lelenya. Totalnya empat porsi. Bertiga kami makan, hanya kena 48.000 rupiah saja. Murah meriah kulineran di kawasan simpang tujuh Kudus ini. Yang menariknya, kulineran di sini ada price liat setiap menunya. Luar biasa... 


Kudus, Jumat 15 Juli 2022

I ❤️ Kudus

Ini adalah kedatangan kami ke dua kalinya di Kota Wali ini. Pertama kali hadir disini akhir bulan Mei lalu, saat 'long weekend: Waktu itu tujuan ke Kota Kudus ini hanya untuk memastikan dimana posisinya pesantren Riyadhul Qur'an tempat si bungsu kami akan mondok. Tempat dia melanjutkan studinya, selepas SD. Dengan kunjungan itu, semoga sang buah hati kami, langsung nyantol hatinya di "Al Quds" Jateng ini. 


Alhamdulillah, dalam kunjungan perdana tersebut anak kami langsung suka. Bahkan sempat bilang ke bundanya, "Kenapa aku nggak langsung mondok saja di sini bun?". MasyaAllah... Dia sudah suka dengan suasana pondok tersebut. Jatuh cinta pada pandangan pertamanya dengan ma'had Riyadhul Qur'an ini. Hanya sehari saja di sini, kami lanjut safar ke Klaten dan Jogjakarta hingga sampai lagi di Tangerang minggu siang. Satu hari itu ternyata sanggup membuat sang buah hati terpikat. Alhamdulillah, kami bersyukur pada Allah SWT. 


Dan sore kemarin kami sampai di kota ini lagi, menginap ditempat yang sama. Yakni di Oyo Residence yang sangat dekat dengan Alun Alun Kota Kudus ini. Hanya kamarnya saja yang berbeda. Kalo dahulu di kamar no 13, sekarang di no 14. Lebih luas sedikit dan lebih nyaman. Harganya alhamdulillah, dapat lebih murah karena pemesanan dilakukan secara online. Hanya 144.000 semalam. 

Di dekat Alun Alun ada mesjid Agung nya, ada kantor Bupatinya, ada pasar tradisional nya dan ada Ramayana nya. Ada kulineran pagi hingga siang yang enak yang disukai oleh sang Bunda. Yakni soto Mat Tjangkir yang berdiri sejak 1902. Soto legend dari Jogjakarta dengan menu tambahan yang beraneka ragam. Bertiga makan pagi ini kena harga Rp 65.000,- dengan tambahan sejumlah pergedel, sate paru, keripik tempe dan tempe goreng serta minumnya teh manisnya. 


Kalo malam sepanjang Alun alun dan jalan Sunan Kudus berjejer kulineran dengan banyak pilihan. Ada yang pake meja, ada yang lesehannya seperti di Malioboro. Alhamdulillah tadi malam bertiga kami menikmati pecel lele dengan minumnya es jeruk, kena harga Rp. 48.000,-. Murahkan??? Yang lebih nyaman dan aman di kantong adalah kulineran disini terpampang jelas tarif makanan dan minumannya. Jadi bisa langsung disesuaikan dengan budget kita. 



Dan di pasar tradisional lebih banyak lagi pilihannya. Baik untuk kulineran ataupun buat oleh olehnya. Lengkap di sini. Ada yang terkenal dengan menu spesial yang tak kita temui di tempat lain, yakni soto atau sop daging kerbau. Pasar ini tak jauh dari kantor Bupati yang berada di pinggir Alun Alun Kota. 


Semua area di atas bisa ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang kami lakukan tadi malam dan pagi ini. Kota ini terkenal juga dengan 'City Walk' nya. 


Makin cinta dengan kota Kudus ini. Tak banyak mobil bersilewaran di tengah kota. Kendaraan yang banyak adalah roda dua, termasuk juga sepeda. Bersepeda di sini aman. Naik motor di sini aman. Kota yang bersih, masyarakatnya juga tertib berlalu lintas. Tak ada kendaraan yang menginjak zebra cross. Tak ada pengendara yang menerobos lampu merah. Mereka ikuti alur dan taat pada aturan berlalu lintas. 


Pagi ini, saat menulis tulisan langsung di FB saya duduk di depan Oyo Residence di samping trotoar, tak mencium sama sekali sesaknya polutan kendaraan seperti kita tinggal di Jabodetabek. Pohon rindang di sepanjang jalan terawat dengan baik. Jalur pemotor dan mobil terpisah. Jauh lebih banyak motor yang digunakan masyarakat sebagai media transportasinya. Mungkin ini yang jadi penyebabnya tak tercium sedikitpun polutan. 


Alun alun kota ini bersih udaranya. Dari tempat saya duduk terlihat di Alun Alun anak muda berolahraga pagi dan ada orang tua yang berjalan kaki. Alun alun ini punya 'track jogging'-nya sehingga tak perlu turun ke aspal untuk berolahraga. Keren kan?? 


Dan di Masjid Agung, yang dibiayai oleh pemerintah kabupaten Kudus, selalu rame jika malam menjelang. Area mesjid ini menjadi tempat hiburan keluarga. Anak anak bebas bermain di teras mesjid yang luas, berlari larian. Sementara yang beribadah di dalamnya tak terganggu sama sekali, saking luasnya mesjid ini. Air yang mengalir di kamar mandi dan area wudhu' nya bening banget. Layak diminum sepertinya. 


Sementara para pengendara roda dua bisa parkir bebas dengan biaya seikhlasnya. Kotak amal parkir terpampang di dekat gerbang. Bayar boleh, tak bayar pun tak mengapa. 'Orang mau beribadah kok dipaksain bayar?', begitu kata juru parkir yang menjadi teman ngobrol saya dua kali datang ke sini.  Bagi yang membawa mobil, ya terpaksa di luar masjid, dipinggir jalan. Namun tak banyak, tak menghambat lalu lintas. Mungkin hanya di mesjid ini, parkir berbayar seikhlasnya. Mantapkan? 


Kota ini aman. Terbukti sepanjang subuh tadi bertemu dengan orang tua yang mengantarkan anaknya melanjutkan studi di sini. Yang satu dari Kalimantan, lanjut ke MAN Kudus dan satu lagi dari Tulung Agung mengantarkan cucunya mencari pondok pesantren di 'Al Quds' Jateng ini. Sama seperti kami... 


Ah ternyata banyak hal yang dah tergambar dalam dua kali datang ke sini. Semuanya nyaman dan aman. Kota yang bersih. Kota yang sangat nyaman buat ukuran kantong orang kebanyakan seperti kami ini. Kotanya adem, sering hujan juga. Kota santri, selain kota atlet bulu tangkis dan kota Kretek dengan brand Djarum nya. 


Akhirnya harus kuakui kota ini memang layak untuk dicintai oleh warganya. Kota yang akan sering kami datangi dimasa masa yang akan datang.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...