Minggu, 18 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 2)

Lepas dari terminal Poris Tangerang tadi lewat sedikit dari jam 11 siang. Masih diiringi oleh content creator yang mengiringi telolet Palala E03 hingga masuk pintu Tol. Bahkan lambaian tangan saya masih bisa mereka balas, meskipun motor mereka sudah di bagian bawah jalan tol. Nampak kebahagiaan mereka bisa mendapatkan liputan klakson Palala yang heboh ini. 


Tak ketinggalan sebagian penumpang di bagian depan memvideokan juga aksi youtuber unik ini. Anak muda kreatif. Kadang tangan kiri sang pengendara motor meliuk liuk menyesuaikan musik telolet sang Belibis ini. 


Di jalan tol semuanya berjalan lancar. Hanya ada sedikit kemacetan karena ada perbaikan dan pelebaran jalan tol menuju Merak ini. Saya sendiri lupa di KM berapa itu tadinya. 


Jam 12.30 Palala ini sudah keluar dari tol. Berbelok ke kiri mengikuti jalur lama. Bukannya lurus seperti yang biasa terios kami tempuh. Mungkin ini memang jalur bus Sumatra, yang harus berbelok ke kiri selepas keluar dari pintu tol terakhir menuju pelabuhan Merak. 


Tak lama, Palala 03 ini berhenti sejenak. Ada pedagang yang naik. Pedagang yang sudah saya ingat betul selama ini melalui youtube nya Ridwan Nurman dan Aditya Immotorium. Ternyata betul, bapak yang menjual nasi bungkus. Nasi Padang yang dia "jojokan" kepada para penumpang. 


Dan berdasarkan video kedua youtuber kondang tersebut, masakan pak Emen ini memang enak. Ada banyak variasi lauk yang dia tawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Budget sekitar 20-25 ribu per bungkus tergantung lauk yang diambil dan itu sudah termasuk sayurnya juga. Tersedia juga paket lauk, tanpa nasi. 


Dan ternyata naiknya pak Emen ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi penumpang. Orangnya kocak, komunikasinya oke dan langsung nyambung bila diajak bercanda. Mungkin pengalaman di lapangan membuat dia harus seperti itu. Dan ternyata dia masih satu bendera dengan saya. Sama sama berkendara kuning. Luhak tuo. Luhak Tanah Datar. 


Masuk Pelabuhan lebih kurang sekitar jam satu-an dan saat itu pula snack box dibagikan oleh kru Palala. Lumayan buat ganjalan perut menjelang makan siang di kapal. 


Dan ternyata antrian kapal yang menjadi kendala, bisa jadi karena ombak lumayan besar. Agak lama menunggu kapal Port Link III. Begitu juga saat bongkar dan naik ke kapal. Mungkin karena kapal ini katagorinya besar. Sehingga agak lama semuanya. 


Di dalam kapal suasana sangat ramai sekali. Kapasitas kapal sepertinya sudah overload. Banyak penumpang yang duduk di geladak, di lantai. Tak mencukupi tempat duduk dan ruang lesehan yang ada. Umumnya didominasi oleh anak anak dan orang tuanya. 


Kami masuk kapal, langsung mencari masjid. Sholat jamak qashar baru kemudian kami makan siang. Makan dengan nasi bungkus daun yang telah disiapkan sang Bundo dari rumah dengan dendeng lambok sebagai lauknya. Buat Dhifa saya pesankan satu popmie kesukaannya. Harganya 'hanya' Rp. 15.000 di kapal penyeberangan Jawa Sumatra ini. Harga standar. Padahal kalo di pelabuhan kita bisa dapatkan dengan satu lembar uang sepuluh ribuan buat satu popmie siap makan ini. Kalo mau irit baiknya bawa dari rumah saja. Seduh dengan air panas yang ada, ataupun beli di kapal. 


Bagi saya yang penting Dhifa lahap makannya. Buat jaga stamina hingga nanti sampai di kampung sana. 


Di dalam kapal ini tadi terlihat ada 6 bus NPM, 2 bus Palala, 2 bus Sembodo, 1 bus Bintang Permata Bunda dan 1 bus Transport Express. Alhamdulillah kapal Port Link III ini, umumnya penuh dengan orang Padang. 


Semoga semuanya lancar hingga bisa "landing" di Pulau Sumatra. Semoga "lari sore" bareng PO bus Sumatra lainnya bisa kami nikmati sepanjang Jalur Tol Sumatra nantinya. Aamiin ya Rabb. 


Di atas Selat Sunda menuju Bakauheni

16.05 WIB.


Pilot Palala 03 "Belibis" Bang Fadli Kumarang


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-3.html

Malala jo Palala (Part 1)

Alhamdulillah, setelah selesai satu tugas hari jumat dan sabtu kemarin, sekarang saatnya menunaikan tugas berikutnya. Yakni pulang kampung ke Kapau menggunakan armada PO Bus Palala. 

Segala yang direncanakan berjalan sesuai waktunya. Terutama berkaitan trip ke Kudus,  menjemput sang buah hati yang menjalani libur semester pertamanya di Pondok Pesantren Ma'had Riyadhul Quran. Atas izin Allah segalanya Allah mudahkan, lancar dan selamat dalam perjalanan. Inilah kuncinya. Dari sini berlanjut untuk liburan di kampung halaman, sesuai permintaan Dhifa, anak kami yang bontot saat ini. 


Tiket dengan PO Palala ini sudah kita booking hampir sebulan yang lalu. Bus ini termasuk salah satu bis yang relatif cepat sampai di ranah minang ini, selalu full seat. Memesan lebih awal, jauh lebih aman. 

Jam 8 pagi saya sudah diingatkan oleh da Indra, agennya di Kreo. Memastikan bahwa kami ready untuk berangkat hari ini. Dikabarkan bahwa penumpang harus stand by jam 09.30 di bawah kolong tol di Ciledug. Saya baru paham bahwa kenapa tempat ini dipilih sebagai tempat naiknya penumpang. Para supir sebenarnya ingin menghindari macet arah Kreo. Dari titik ini, di kolong tol Ciledug/Cipulir bis berputar balik masuk tol, menuju tol bintaro serpong langsung menuju terminal Poris. Bus Palala ini tidak masuk ke terminal Kalideres. 


Alhamdulillah, menjelang jam 10 bus datang. Ketika kami naik bus sudah hampir terisi penuh. Bus dari Karawang, mampir di Cikampek, terminal Kampung Rambutan, pondok Pinang sebelum mengambil penumpang di daerah Ciledug. Lumayan rame yang naik di sini. Dan yang agak bikin kaget, ternyata ada yang menyapa saya. Irna Dewita orangnya. "Da Jeje", katanya. Alhamdulillah selain Dewi, adik kelas di Kimia Unand angkatan 95, batambah juo dunsanak dalam perjalanan pulang kampung saat ini. 

Ada rombongan dari Turawan, Rambatan, yang dagang di Cipulir. Ada yang dari Karawang. Dua duanya rombongan yang akan ada hajat pernikahan di kampung halaman. Satu di Rambatan satu lagi Batipuh Padang Panjang. Takana maso mudo awak dulu dek nyo. Dari rantau, nikahnya di Kapau, 21 tahun yang lalu. 

Dek lamak ota, alhamdulillah nggak terasa bus jam 10.30 sudah masuk terminal Poris Tangerang. Menanti penumpang terakhir untuk lanjut ke pelabuhan Merak Banten. Alhamdulillah pas ketika bus Palala yang akan ke Padang, kami akhirnya meninggalkan terminal Poris jam 11.05.

Di terminal Poris ini kami menyaksikan para 'content creator' meliput bus Palala ini. Ada yang sejak keluar tol hingga masuk tol lagi meliput telolet bus yang asyik bukan main ini. Bermodalkan motor, penumpang yang di belakang mem-videokan bus ini, tentu sang supir bang Fadli sangat paham. Klakson asyik bernyanyi sepanjang liputan. Suaranya asyik. Palala 03 keren teloletnya. Sayang saya nggak sempat merekamnya tadi. 

Dari terminal Poris, Palala 03 yang berjulukan Belibis, full seat. Dan sebelum berangkat bang Fadli, pilot Belibis dan kru nya sempat makan lontong Padang yang berada di sebelah kanan bis tadinya. "Paruik supir kanyang", InsyaAllah ota bakalan dengan tenang. 

Alhamdulillah saat ini, jam 11.35 kami nikmati jalan tol dengan dendamg lagu Minang. Ada kepuasan dari para penumpang dengan servis dan keramaham kru. Do'akan perjalanan kami ini lancar ke ranah Minang. 

Tol Merak, 11.35


Part 2: https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-2.html

Rabu, 07 Desember 2022

Silaturahmi, Sinergi dan Kolaborasi

Lepas olahraga jalan kaki bersama Nova Yanti, kami kembali ke de Lapau Minangness Culinary, tempat dimana motor tadi di parkir. Namun dalam perjalanan ke sana, sempat berkabar sebelumnya dengan da Taufani Tasmin Sutan Saiyidi via WA, saat kami menikmati soto Surabaya Cak Bejo, dekat Family Club Graha Raya. Soto yang bikin Nova penasaran selama ini. 

Ternyata beliau habis kajian subuh di mesjid yang ada komplek Pinang Griya, langsung menuju lokasi dimana kami sudah menunggu. Tanpa mampir ke rumah. Alhamdulillah, sambil menikmati teh telor gula aren, berdua dengan Nova banyak hal hal bermanfaat yang kami dengar dari da Af ini. Sebuah perjalanan hidup yang penuh lika likunya, sarat makna ketika beliau dan istri bertekad hijrah. Ya hijrah total. Dan setiap hijrah selalu ada tantangan yang Allah berikan sebagai ujian. Ujian 'kenaikan kelas' tentunya. 

Terutama ketika beliau bercerita bagaimana perjalanan umroh yang beliau lakukan, yang sangat berkesan. Bisa umroh ketika ekonomi sedang di titik terbawah. Bukan ketika sedang 'berada' dulunya. Dan bertekad melakukan banyak perubahan dalam hal kebaikan, menutupi kesalahan yang pernah ada. Begitu juga tekad beliau untuk bisa kembali umroh, bersama istri dan anak anaknya. Pesan lain yang saya tangkap adalah seringnya kita berbagi untuk orang lain, sementara untuk anak dan istri terabaikan. Nah ini juga point yang bagus yang musti kita perhatikan. Jangan lupakan anak dan istri ketika bepergian. Oleh oleh utama adalah untuk mereka. 


Begitu juga dengan rencana mereka yang ingin back to hometown. Suatu hal yang menarik bagi saya, terutama rencana rencana yang akan dilakukan, takkan kalah serunya. Kampung halaman selalu menggiurkan. Namun mempunyai penghasilan tetap di kampung, musti dipertimbangkan dengan matang. Butuh persiapan dari sekarang. 


Dalam kehangatan dan manisnya obrolan serta seruputan teh telor, kami juga kedatangan sahabat saya, pak Abbas, yang juga teman Jajang Fadli Sutan Ibrahim di AC dulunya. Beliau yang kini aktif di ASAR Humanity, lembaga yang mirip dengan ACT. Andaikata ACT masih eksis sampai sekarang, pak Abbas ini pastilah tetap di sana. Namun ada hikmah dibalik ini semua, terutama bagi teman teman yang bergerak di lembaga kemanusiaan. 


Ada yang nyambung dengan apa yang saya lakukan dua minggu yang lalu dengan di Cianjur. Ada kepedulian yang sama, ada sinergi dan kolaborasi. Dan di tengah keseruan kami bercerita, pak Abbas harus pulang duluan. Dan surprise bagi saya, ternyata pak Abbas sudah membayar minuman kita semuanya. Alhamdulillah selalu ada keberkahan dalam setiap pertemuan. Selalu ada rezeki dalam setiap silaturahmi. Dan ini terbukti. Tak lama berselang da Af pun berpamitan, karena si Uni sudah bertanya via WA. 


Pulang dari de Lapau, sang Bundo langsung mandi, saya masih harus mengantarkan pesanan Ufia untuk tetangga yang sudah berkabar sejak di Graha Raya. Ada tiga tetangga yang memesan air mineral ukiran galon dan botol mini. Namun menyapa mereka, lain pula pesonanya. Apalagi ada teman di RT 02 yang lagi gotong royong, sapaan pagi, saling cerita dan guyonan menambah keakraban bertetangga. Pagi terasa indah dan penuh kehangatan. 


Tak lama berselang saya mandi dan bersiap kondangan. Ada undangan baralek dari Rahmatina Zubir , sahabat kuliah dulu dari Padang. Anak kakaknya, nikah dan resepsi di Seskoal, Aula Yos Sudarso. Minggu lalu, saya berkabar saya tentative saja datangnya. Maklum tugas ke Cianjur belum bisa dipastikan pulangnya kapan. Namun alhamdulillah, atas izin Allah semuanya lancar, sabtu malam minggu sudah kembali di rumah. 

Meskipun capek, pagi minggu tetap dipaksakan berolahraga. Ada perjalanan ribuan km yang akan ditempuh pertengahan bulan ini. Butuh stamina yang prima. Olahraga jalan kami kami usahakan. Dan tadi lebih kurang 5 km berjalan selama satu setengah jam. Lumayan membuat badan berkeringat. 

Jam 12 siang kami sampai di Seskoal. Masuk gedung, mengisi daftar hadir dan tak lama disambut oleh kanda Yusrizal, sejawat di British School Jakarta dulunya, yang kebetulan juga kakak ipar dari Itin. Ada sedikit perubahan, terutama di berat badannya, agak kurusan, namun alhamdulillah sehat. Kemudian bertemu dengan Itin, Nanik dan da Deri, Agem Siti Gemala dan da Cecep, saudara saudara Itin lainnya yang kami kenal baik dan terakhir bertemu dengan Dessy Yulia yang kami nantikan. Yang kami ingin dengar 'olah-vokal'nya yang selalu power full. Lady rocker pada zamannya kami kuliah dulu, terutama pada ajang JAMSIKA (Jumpa Musik Kampus). Event tahunan yang selalu digelar oleh Senat Mahasiswa FMIPA. 


Pulang kondangan, saya tertidur. Bangun bangun setelah ada dering telepon dari kakanda Budi Nurul Hamdi. Senior saya di Farmasi Unand angkatan 84. Pensiunan dari Darya Varia, yang sekarang buka usaha apotek dan alkes serta semacam Roti Boy atu Roti O begitu. Seorang senior yang tetap produktif di masa tuanya. Keren kan? 


Janjian kami di RM Putra Minang dekat SMK Penabur. Janji untuk menyerahkan sebagian donasi dari alumni FIPIA FMIPA Unand buat rekan rekan di DPP Ika Farmasi Unand yang akan berangkat ke Cianjur, Selasa pagi. Alhamdulillah sinergi dan kolaborasi sesama alumni tetap terjaga. Ada kepedulian yang sama. Jujur saya agak terbantu karena kemarin di mobil barang juga penuh. Penuh banget, bahkan untuk melihat kondisi belakang mobil dari spion saja sangat sedikit celah yang ada, akibat tumpukan barang. 


Ada empat kantong yang berisi jilbab dan sajadah serta pampers yang kami berbagi dalam menyalurkannya. Selain itu juga berbagi informasi tentang kondisi di lapangan dan berbagi pengalaman, termasuk juga tentang Rumah Teduh Sementara yang digagas oleh sahabat saya Jajang. 

Dan di rumah makan ini kami ditemani oleh adinda Ranti Parma. Alumni Kimia Unand angkatan 2018 yang baru wisuda September kemarin. Sudah mulai bosan, pengen cari kerjaan. Alhamdulillah semoga dari obrolan kemarin dengan da Budi, Ranti bisa melihat celah yang ada, dimana kebetulan anaknya da Budi baru bekerja marketing di salah satu perusahan kosmetik, di kawasan Jakarta Barat kantornya. Ranti ini anaknya pak Haji Japar Skb salah satu ownernya RM Putra Minang Grup. 

Saya menikmati jus naga, dan da Budi teh telor, diselingi karupuak lado dan kue bawang khas minang. Alhamdulillah teh telornya enak dan da Budi suka. Rekomendasi dari saya sangat tepat. Alhamdulillah. 


Pulang ke rumah, pas adzan isya berkumandang. Lelah masih saja bergayut, tapi hati senang, bisa memanfatkan waktu dengan baik. Bisa bersilaturahmi, bersinergi dan berkolaborasi. 


Semoga berkah dan Allah SWT ridho hendaknya. Aamiin


Parung Serab. 

Senin, 5 Desember 2022

Jam 06.30

Senin, 28 November 2022

Kapau Jaya Cipanas

Ahamdulillah setelah selesai semua yang bisa dilakukan di lokasi Gempa, Kampung Baros Pacet Cipanas, tim Nakes Banten segera pulang, sesuai agenda masing masing. Ada 4 profesi Nakes yang ikut serta dalam tim ini. Ada Dokter, Apoteker, Bidan dan Perawat bersatu, bersinergi dan berkolaborasi. 

Dan kami setelah meluncur dari lokasi, berpamitan dengan dokter Atep selalu ketua tim, izin mampir bersilaturahmi dengan keluarga yang ada di Cipanas. 


Ante Rat dan om Buchari serta keluarganya, pemilik RM Kapau Jaya yang ada di pasar Cipanas adalah tempat yang kami singgahi. Yang sejatinya tidak jauh dari tempat kami menginap di BBPK Kemenkes, berseberangan dengan RSUD Cimacan. Beberapa kali hanya lewat saja di depan RM ante ini. Tak sempat ber telpon, hanya berkomunikasi via WA saja. Maklum sama sama sibuk. 


Alhamdulillah keluarga Ante Rat ini aman semuanya. Rumah makannya aman, rumahnya pun aman. Alhamdulillah. Namun kepedulian nya sangat tinggi. Masih memikirkan bagaimana orang tua yang seumuran beliau tinggal di pengungsian. 

Masih sanggup berkirim nasi bungkus untuk relawan. Luar biasa. Padahal umuran mereka sudah 70an. Tak muda lagi. 


Alhamdulillah, bersyukur kita punya rasa kepedulian yang sama. Dan siang ini kita berdiskusi, bercerita tentang yang dialami saat gempa sambil makan siang tentunya. 


Energi agak terbantu dengan masakan Kapau ini. Makan dengan gulai jariang dan dan ayam lado hijau ante yang lamak. Salamak ota jo ante, om dan Puti anak mereka serta satu snag cucu yang ada di sini. 


InsyaAllah sebentar lagi kami akan balik ke Tangerang setelah menyerupai segelas kopi kampuang, palapeh taragak.


Cipanas, 27 November 2022

13.15 WIB

Sabtu, 26 November 2022

Sinergi dan Kolaborasi untuk Cianjur

Bangun tadi pagi masih seperti biasanya. Alarm tetap berdering sebagaimana biasanya tepat jam 03.45 dan 4.00. Meskipun tidur malam itu jam 2an lewat, namun rutinitas pagi tetap normal. Ke 'belakang' dan sholat subuh tetap pada jadwalnya, meskipun sampai di penginapan di Wisma Kemenkes jam satu dini hari, setelah menempuh perjalanan dari rumah jam 22.15 menunggu tim Nakes (Tenaga Kesehatan) Banten di Gadog beberapa lama. 


Selepas sholat subuh masih sempat men check WA yang masuk, terutama yang berkaitan dengan donasi dan pesan personal lainnya yang mesti dijawab jika urgent. Lalok lalok ayam masih saja sempat hingga jam 05.30, saat hari mulai terang. 


Mandi dan beberes, bersiap siap menunggu agenda menuju lokasi Gempa berdua dengan sang Bundo Nova, kami harus ready lebih awal. Maklum status hanya 'penggembira'. Namun kesempatan untuk bertemu dengan Feby dan Indra pagi itu tetap saya usahakan terjadi, sesuai rencana awal sejak kemaren sudah tik tok an. 


Alhamdulillah mereka yang nginap semalam di At Ta'awun Puncak datang pada saat yang tepat. Mereka lah yang membawa apa apa yang akan disumbangkan buat korban gempa Cianjur, termasuk pesanan saya. Feby mewakili pengurus DPD IKA Fakultas Pertanian Unanda Jabodetabek dan Indra mewakili Alumni FIPIA FMIPA Universitas Andalas. Indra adalah alumni Fiska FMIPA angkatan 2014, sangat antusias bertanya kepada saya Jumat pagi dan alhamdulillah tersambung dengan Feby, yang juga membawa Nana dan Eko mengantarkan bantuan tersebut. 


Empat orang generasi muda Alumni Unand membuat saya bangga. Ternyata kami bisa bersinergi dan berkolaborasi, meskipun beda angkatan, beda jurusan, tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi bisa ber"galintin-pintin" menyalurkan bantuan yang sudah dihimpun dari banyak alumni. 


Perjalanan yang susah, bukan halangan untuk suatu kebaikan, yang di luar nalar orang kebanyakan. Namun kami yakin apa yang kami lakukan adalah untuk meringankan beban saudara saudara kita yang mengalami ujian. Ujian gempa yang meluluhlantakan banyak rumah dan bangunan, sarana dan prasaran, bahkan korban meninggal ratusan jiwa. Biarlah ini menjadi catatan sejarah. Bahkan kita pernah berbuat kebaikan yang sama. Punya pengalaman yang sama, yang akan susah dilupakan. Dan yang terpenting ini menjadi amalan di sisi Allah kelak, di Yaumul Akhir. 

#####

Sinergi dan kolaborasi lintas instansi dan profesi dalam membantu korban gempa Cianjur pagi ini menjadi catatan di blog saya, dandidinda.blogspot


Alhamdulillah di Sabtu pagi itu, kami pada tempat yang sama berkumpul di wisma Kemenkes. Ada Nakes dari Banten, yang terdiri dari dokter, bidan, perawat dan apoteker serta kami wakil dari Ika Pertanian Jabodetabek dan Alumni FIPIA FMIPA Universitas Andalas bersatu, bergerak ke lokasi yang berbeda. 


26 November 2022, 16.50

Di tengah kemacetan parah dari Gasol Cianjur menuju penginapan. 

Kamis, 27 Oktober 2022

TEMAN

 Ada teman yang bersifat keras, 

dialah sebetulnya yang mendidik kita untuk berani dan bersikap tegas.


Ada teman yang lembut, 

dialah yang mengajarkan kepada kita cinta dan kasih sayang terhadap sesama.


Ada teman yang cuek dan masa bodoh, 

dialah sebetulnya yang membuat kita berpikir bagaimana agar kita bersikap perhatian terhadap orang lain.


Ada teman yang tidak bisa dipercaya dan kata-katanya sulit dipegang kebenarannya, 

sebetulnya dialah yang membuat kita berpikir dan merasa betapa tidak enaknya dikhianati, maka kita  belajar untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.


Ada teman yang jahat dan hanya memanfaatkan kebaikan orang lain, 

sebenarnya dia adalah orang yang membuat kita sadar bagaimana bisa berbuat banyak kebaikan namun tetap waspada.


Setiap karakter manusia diatas akan selalu baik dan mendidik kita. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.


Tanpa orang-orang seperti itu kita akan selalu terlena dalam zona nyaman sehingga tidak berkembang.


Bersyukurlah selalu dalam setiap keadaan, dan terimalah setiap orang dengan berbagai karakter dalam hidup kita. Karena Allah tidak pernah keliru mempertemukan kita dengan siapa pun. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.


Sejatinya karakter orang-orang seperti diatas secara tidak langsung selain melatih kesabaran kita, juga membuat kita semakin dewasa dan bijaksana. 


Ketika ada orang bicara mengenai kita di belakang, 

itu pertanda bahwa kita sudah ada di depan mereka.


Ketika orang bicara merendahkan diri kita, 

itu pertanda bahwa kita sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka. 


Ketika orang bicara dengan nada iri mengenai kita, 

itu pertanda bahwa kita sudah jauh lebih baik dari mereka.


Ketika orang bicara buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, 

itu pertanda bahwa kehidupan kita sebenarnya lebih indah dari mereka.


Payung tidak dapat menghentikan hujan, tetapi payung membuat kita bisa berjalan menembus hujan hingga mencapai tujuan".


Orang pintar bisa gagal.

Orang  hebat bisa jatuh. 

Tetapi orang yang rendah hati dan sabar dalam segala hal akan selalu mendapatkan jalan untuk berdiri dengan tegar dan kokoh hingga menggapai keberhasilan. 


Jadikanlah kesabaran sebagai payung untuk meraih kesuksesan. 


Selamat beraktivitas, saudara-riku tercinta...

😊🙏❤️💕


#####



Posted saat "maota lamak" dengan H. Rizal Sikumbang di RM Putra Minang Graha Bougenville

Minggu, 23 Oktober 2022

Nyekerman: Orjaka

Sabtu kemarin, pagi harinya menjelang jam 6 saya dan Bundo jalan kaki di sekitaran rumah. Ada lebih kurang satu setengah jam berjalan berdua. Dan siangnya badan terasa enak sehingga bisa tidur siang dengan nyaman. 


Tadi malam kami niatkan lagi untuk jalan kaki lagi namun dengan suasana yang berbeda. Pengen agak jauh dari rumah. Ada dua pilihan, yakni Boulevard Bintaro Jaya sektor 9 atau Boulevard Graha Raya Paku Jaya. Belum ada keputusan malam itu. 


Pagi tadi, saat subuh gerimis masih turun. Mengguyuri Parung Serab merata, entah sejak kapan. Namun subuh tetap masih bisa tertempuh ke Masjid Hidayatul Ikhwan. Ba'da subuh gerimis halus masih tersisa. Dan terus habis tak bersisa menjelang jam 6.


Jam 6.30 kami keluar rumah menuju de Lapau di Graha Raya. Melewati Parung Serab, menuju jalan Akasia tembus di belakang nya Cluster Fortune Graha Raya dan akhirnya ketika anggota de Lapau masih bersiap siap membuka "Lapau" nya, saya izin menumpang parkir motor di halamannya. Say hello pagi dengan mereka, saya dan Bundo lanjut jalan kaki sepanjang jalan Boulevard Graha Raya. 


Sandal saya gantung di motor sengaja nyeker biar tapak kaki ini lebih kuat. Lebih kuat lagi menahan kerikil kerikil yang akan di temui di sepanjang jalan nanti. Bundo tetap dengan sepatunya. Tak mengapa. Karena memang telapak kaki saya agak tegang akhir akhir ini. Namun kemarin selepas jalan kaki, agak mendingan. Saya memahami bahwa kesehatan kita tergantung juga kepada sehatnya telapak kaki. 


Sengaja saya memilih di sini ketimbang Boulevard Bintaro Jaya sektor 9 dengan pertimbangan bahwa akan banyak menemui kulineran di sepanjang jalan di Graha Raya ini. Ini yang kami cari. Berdua menyusuri jalanan Raya ini dengan sesekali bergandengan tangan, bahkan rangkulan dan candaan menambah kemesraan kami yang memang lagi "pulang pokok" sementara ini. 



Banyak hal yang kami diskusikan, terutama dalam melihat usaha kulineran yang ada di kiri kanan jalan. Ada yang rame ada juga yang sepi. Ada yang di emperan toko dengan waktu terbatas, ada juga yang di gerobak, ada juga yang menggunakan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Dan tentu yang berupa ruko pun tak ketinggalan. 


Dalam perjalanan ini tak lupa kami diskusikan juga tentang Ethylene Glycol yang heboh dalam beberapa waktu belakangan ini. Obat batuk yang ditarik dan dilarang pemerintah. Seberapa sering anak anak kami mengkonsumsinya dulu. Namun dari 5 brand yang dinyatakan pemerintah dilarang saat ini, alhamdulillah berkemungkinan besar tak satu pun yang dikonsumsi oleh anak anak kami. Saya percaya selama ini sang Bundo lebih selektif dalam hal konsumsi obat. Andai tak terpaksa, takkan diberikan sama sekali. Andai pun terpaksa, selalu dengan dosis serendah mungkin. Alhamdulillah, beruntung punya istri seorang pharmacist. Dan tak lupa tentang peluang bisnis #dapurbundonova ke depannya, dalam bentuk format off-line tentunya. Sssttt, diam diam aja ya. Masih dalam rencana soalnya. 


Satu setengah jam berjalan bolak balik, dari de Lapau hingga Gardenia Loka, kami tempuh dengan jarak 5,6km. Dan akhirnya "kampung tengah" pun terasa berontak. Sudah ada signal yang sampai ke otak dan terucap melalui bibir dan lidah, menjelang pasar Modern Graha Raya. Sepertinya Soto Surabaya, Soto Tangkar yang tadi mau dinikmati di jalan akan tergantikan oleh Soto Padang saja. Membawa perut yang terisi agak berat, sementara titik perhentian sangat tanggung.


Di de Lapau akhirnya nya kami rehat, bisa duduk di sofa nya sambil menuliskan perjalanan pagi ini. Lama sudah tak menulis panjang seperti ini, sesantai ini sambil ditemanu sangat Bundo yang menikmati kajian onlinenya. 


Rehat kami pagi ini, sambil menikmati segelas teh telor dan teh tawarnya, seporsi Soto dan Nasi serta Mie Tahu. 


Graha Raya Fortune District

08.50, 23 Oktober 2022.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...