Sabtu, 31 Desember 2022

Setahun Bersama Sembodo (Part 3)

Alhamdulillah selama menunggu transit dari Executive Class ke Executive Plus, yang lebih kurang satu jam lamanya, banyak hal yang bisa saya lakukan. Selain memanfaatkan waktu sholat di awal waktu, saya juga bisa memantau kedatangan bis dari rantau di Ranah Minang ini. Alhamdulillah ada Palala Belibis yang saya tumpangi tanggal 18 Desember yang lalu bersama Palala Sakeso yang masuk jam 12.30 di Terminal Bareh Solok ini. Di susul kemudian oleh Sembodo Al Aziz, Executive Plus. 

Masuk siang nya bus bus ini pertanda perjalanan aman selama jalur lintas timur yang mereka lalui. Dan berdasarkan info dari driver Al Aziz, kondisi merak Bakauheni juga aman. "Jarak tempuh selat Sunda pun stabil, dengan kapal executive ditempuh 1 jam", katanya. 

Dan di Terminal ini pula ada 3 atau 4 bus MPM serta satu ANS yang akan membersamai perjalanan kami ke rantau. 5 bus ANS sudah jalan lebih dahulu. Ada juga NPM Sutan Class yang berangkat lebih dahulu. 

Waktu transit juga kami nikmati dengan makan sate sesuai permintaan Dhifa. Serta beli sebotol susu dingin yang dia sukai. Perpindahan barang pun dibantu oleh kru Sembodo dari EC ke EP. Agent yang di terminal Solok pun ramah. Sembodo yang kami naiki ini berjulukan As Salam, yang artinya Maha Pemberi Keselamatan. InsyaAllah dengan Ar Rahiim dan As Salam ini kami sampai nanti di rantau dengan penuh kebersyukuran. Aamiin. 



Keluar dari terminal Solok sekitar jam 2 siang, termasuk terlambat dibandingkan bus lainnya yang sudah berangkat. Namun tak mengapa, yang penting kenyamanan tetap terjaga. Memang bus ini luar biasa servicenya. 

Ada pramugari nya, yang menginformasikan kondisi bus, service makan dan jam tempuh serta berdoa bersama yang disampaikan ketika bus sudah berjalan dari terminal. 30 jam perjalanan yang akan ditempuh, andai semuanya lancar. Penyampaian ini layaknya apa yang kita temui di atas pesawat saja. Setelah itu snack dibagikan kepada masing masing penumpang. Keren, pokoknya. 

Sepertinya pramugari itu ada di Executive Plus nya Sembodo, dan pramugara itu di Executive Class. Ini yang saya amati selama naik Sembodo dari Bukittinggi hingga saat tadi. Alhamdulillah beli satu tiket dapat merasakan perbedaan dua kelas Sembodo ini. Oh ya, pramugari atau pramugara ini menawarkan minuman kepada "passenger"nya. Boleh Terima atau tidak tergantung kita saja. Atau buat sendiri pun bisa. 

Tak lama berselang lepas terminal juga naik pemusik jalanan. Namun yang ini keren. Be-rabab dia di atas bus yang kami tumpangi ini. Hiburan asli ranah Minang yang sengaja saya videokan. Silakan dikomentari ya. Sayangnya saya tak sempat menyapa siapa namanya tadi, karena saat itu sebenarnya sedang fokus menulis jilid sebelumnya. 

Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan bus bus lainnya yang datang dari rantau. Ada ANS, NPM, Gumarang Jaya dan lainnya. Sempat mengejar ANS yang dahulu berangkat tadi dari terminal bareh Solok. Dan setelah itu saya sempat juga terlelap sejenak. Saya tak ingat berapa lama saya tertidur. Bangun menjelang Kiliran Jao, sekitar jam 16.10.

Dan di Pulau Punjung ada dua penumpang lagi yang naik, di nomor bangku 13 dan 14. Memasuki rumah makan Umega, bus Sembodo As Salam ini mengisi solat dahulu. Persiapan dalam perjalanan panjang nanti. Ini yang selalu menjadi kendala sepanjang Jambi dan Sumatra Selatan. Solar terbatas dan antri, apalagi di malam hari. 



Alhamdulillah jam 17.25 bus berhenti rehat di RM Umega. Rehat sejenak selama 30 menit sesuai apa yang disampaikan oleh drivernya.


https://dandidinda.blogspot.com/2023/01/setahun-bersama-sembodo-part-4.html

Setahun Bersama Sembodo (Part 2)

Setelah Sembodo Ar Rahiim yang kami tumpangi selesai nyolar, perjalanan dilanjutkan lagi. Lumayan juga waktu tunggu hingga solar terisi di sini. Lebih kurang setengah jam antri dan ngisinya. 

Ketika bus keluar dari SPBU, naiklah satu penumpang sesaat. Sesaat saja, ketika yang "dijojokan" nya ada yang beli. Babalanjo juo lah si Bundo akhirnyo. "Paragede jo panukuik angek" yang dijual oleh pedagang tersebut.


Dan ternyata bus tak masuk ke Terminal Bukit Surungan Padang Panjang. Hal ini disebabkan karena tidak ada penumpang yang naik di sana. Bus melaju memasuki kota Padang Panjang. Kami menikmati perjalanan dalam kota ini sambil makankudapan yang tadi dibeli Bundo. Pergedel jagung dan pancake nya enak. Masing masing nya Bundo beli 10.000 rupiah saja. 

Dan ketika sampai di Kubu Karambia, bus Sembodo ini melaju terus menuju Ombilin. Ternyata tak masuk ke Terminal Dobok Batusangkar. Tak ada penumpang sepertinya. Selepas ini saya sempat tertidur. Dan bangun bangun ketika sudah sampai di Pasar Ombilin. 

Saya bangunkan juga Dhifa dan Bundo untuk sama sama menikmati pesona Danau Singkarak. Tetapi mereka berdua memilih tidur. Saya yang berada di no seat no 1, tak bosan bosannya memandang ke arah Danau. Pesonanya begitu kuat. 


Riak Danau yang cukup besar menandakan angin berembus dengan kencang nya. View rumah makan yang berada di tepian danau Singkarak sangat menggoda saya. Jujur saja, jika berkendara di jalur ini saya ingin mampir untuk sekedar ngopi di sini. Ada banyak pilihan, diantaranya RM Angin Berembus, RM Tanjung Indah dll. Banyak pilihan, tak ada yang tak enak di sini. Apalagi semilir angin Danau yang berembus ditingkahi oleh cuaca cerah ceria, akan memanjakan mata kita. Bilih Singkarak yang terkenal disertai nasi panasnya akan memanjakan selera anda. Sayang hal begini tak bisa kita nikmati dengan bus, kecuali bus ALS saja. Hanya ALS yang berhenti makan di RM Angin Berembus. 

Dan disepanjang jalan di pinggir Danau Singkarak ini terlihat dia akses jalan menuju Gontor 9. Yang pertama selepas jembatan Ombilin dan satu lagi di Singkarak. Gontor 9 salah satu kampus Gontor yang berada di atas awan. 


Dan di sini juga timbul niat saya suatu saat nanti pengen berkeliling Danau Singkarak bersama anak anak. Entah itu dengan mobil ataupun sewa kapal. Sepertinya asyik, membersamai kegiatan seperti ini bersama mereka dan bundanya. Dengan mereka "bonding"-nya beda. Moga asa ini terwujud kelak. Asa yang simple simple saja. Murah meriah tentunya, tapi bermakna. 


Tak terasa juga Danau Singkarak terlewati, jam 12 kurang sudah sampai di perbatasan antara Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Perkiraan jam 12.20 sudah sampai di Terminal Bareh Solok. Kudapan yang masih tersisa masih saya nikmati. 

Dan akhirnya jam 12.23 Sembodo sudah sampai di loketnya di TBS. Ada pemeriksaan di pintu masuk Terminal sebelumnya. Formalitas saja sepertinya. Dan naik lagi tiga orang pedagang, yang jual sate, nasi goreng dan "pinukuik". Rezeki para pedagang ini ada juga di sini, di setiap bus yang masuk ke Terminal. Mereka sopan semuanya, ini terlihat dari cara mereka menyapa para penumpang. 


Di terminal ini kami melakukan sholat jamak qashar. Allah lebih suka fasilitas yang Dia berikan dimanfaatkan, apalagi digunakan di awal waktu. Dan bagi para musafir, sholat jamak qashar adalah fasilitas yang Allah berikan. Setelah selesai sholat saya dan Bundo menemani sang buah hati untuk jajan. Melepas selera sang buah sebelum dia balik ke pondoknya nanti. Sate adalah pilihan kami. Satu sate kami nikmati bersama. Seru kan itu? 


Dan di TBS ini kami menanti bus Executive Plus Sembodo. Saya sempatkan juga dengan jalan jalan ke PO bus lainnya yang baru datang dari rantau serta yang akan berangkat bareng dengan Sembodo. 


15.00 WIB 

https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/setahun-bersama-sembodo-part-3.html

Setahun Bersama Sembodo (Part 1)

Alhamdulillah pagi ini tepat jam 9.40 kami memulai perjalanan balik ke Tangerang bersama Sembodo. Perjalanan balik ini pas bertepatan di akhir tahun, tanggal 31 Desember. Perjalanan yang panjang menempuh lebih kurang 1.300 km di mulai dari saat ini, dari Pool Sembodo di Jambu Aia Bukittinggi. 

Kami ke pool tadi diantar oleh adik ipar, Yan, yang tadi malam datang sekalian menjemput anaknya Rara, yang telah menjadi teman bermain Dhifa selama liburan akhir tahun ini. Kebersamaan antara Dhifa, Rara dan Affan yang dari Pekanbaru, melengkapi kebahagiaan sang nenek. Nenek yang didatangi oleh tiga orang cucunya dari tiga kota yang berbeda. Ikatan emosional yang dibentuk oleh mereka ini InsyaAllah akan terasa hingga nanti mereka dewasa. Sayang suasana ini belum sempurna sebenarnya dibandingkan libur lebaran tahun lalu, yang jauh lebih lengkap karena yang dari Batam juga datang. 


Nenek yang tinggal sendiri semoga terpuaskan. Semoga bahagia dan semoga doa doa untuk anak cucunya untuk kembali berkumpul lagi, Allah wujudkan. Dan tugaskan kami untuk menghadirkan kebahagiaan selama dua minggu di kampung halaman Allah jadikan sebagai amal ibadah dan pembelajaran bagi anak anak kami tercinta. InsyaAllah, bagaimana kami hadir untuk nenek saat ini, semoga begitu pula kelak ketika kami sudah tua nantinya. Ikhtiar kami hanyalah memberi contoh bagi mereka. 

Dan entah mengapa Allah takdirkan pula kami naik Bus Sembodo yang berjulukan Ar Rahiim ini hingga terminal Bareh Solok nanti. Ar Rahiim yang merupakan salah satu sifat Allah SWT yang kita yakini, yang bermakna Maha Pengasih, pas banget dengan kondisi yang kami alam selama ini. Dan InsyaAllah di TBS nanti kami akan berganti dengan Executive Plus Sembodo. Namun diantar dengan Ar Rahiim tentu melengkapi rasa kebersyukuran kami menuju rantau. Belum tahu Sembodo yang berjulukan apa yang akan kami naiki nanti. Tp yakin inilah bus pilihan terbaik saat ini. 


Menulis sambil menikmati daerah Lemersing sangat membuat saya enjoy. Sebelah kiri saya terlihat daerah Sungai Pua, yang sering saya lewati jika bepergian dari Kapau menuju Padang. Shortcut yang asyik untuk dinikmati. Alamnya yang indah dan dari sungai Pua ini jelas terlihat kota Bukittinggi. Jalan alternatif menghindari macet di Padang Lua. Namun dengan bus Sembodo yang beriringan saat ini dengan MPM, tak terasa sampai di pertigaan jalan dari Sungai Pua, jam 10.04.


Pasar Koto baru sepi karena bukan hari pasarnya membuat perjalanan ini lancar. Padahal di sini biasanya termasuk salah satu titik macet. Pos Polisi di sebalah kanan mengingatkan saya akan momen "Mandaki" bersama teman teman dulunya. Entah itu mendaki gunung Marapi ataupun Singgalang. Lokasi ini adalah starting awalnya. 

Menikmati alam sambil sesekali menulis hingga nanti bis berhenti di Terminal Busur Padang PanjangPanjang adalah kesenangan tersendiri. Saya memang sangat menikmati suasana seperti ini, andai tak pegang stir. Daerah Lembah Marapi Singgalang adalah daerah yang subur dengan segala olahan pertanian. Gunung di kiri kanan jalan seolah memuaskan mata memandang. Tertutup pesan, InsyaAllah kami akan pulang. Pulang seperti ini ataupun pulang untuk masa tua nantinya. 


Ponpes Nurul Ihlas terlewati sudah. Setahun yang lalu kami mampir di sana. Ada sahabat yang menjadi guru matematika nya. Sahabat dari HMI yang juga orang Kapau. Sementara di sisi saya Dhifa sudah tertidur dengan pulasnya. 


#####


Momen pulang kampung kali ini terasa bedanya. Tanpa pegang kemudi, lain suasananya. Namun kebersyukuran membersamai Nenek senantiasa terjaga. 


Datang kami dari rantau dijemput adik ipar yang dari Pekanbaru, Amni Deka Desra dan balik kami ke rantau diantar adik ipar yang dari Padang,Yan Rifnal. Seolah sudah ada kesepakatan saja rasanya, bersama "pambayan" saya ini. 


Hal yang tak terlaksana seperti biasanya kali ini adalah makan bersama, bertiga. Biasanya kami makan bertiga di Pakan Kamih. Makan nasi Kapau ni Nen dengan menu pilihan masing masing.


Nuansa saja yang biasa kami cari, namun kalo soal rasa, olahan samba mintuo, sing ada lawan. Segala lauk yang dimasak oleh Ama Asma Yati "lamak bana". Dan dari ama lah #dapurbundonova mendapatkan restu untuk merintis kuliner Kapau Online. 


Dan pulang kali ini ada lagi tambahan ilmu yang didapatkan sang Bundo Nova. Semoga ada varian baru lagi di menu DBN.


#####


Jam 8.30 tadi dari rumah, kunci Avanza diserahkan Yang ke saya. Saya yang kangen membawa mobil, bagaikan mendapatkan durian runtuh. Gatal tangan bawa mobil akhirnya teratasi. Hehehe


Jam 9 kami sampai di pool Sembodo, langsung lapor dan nggak sampai setengah jam bus pun datang. Barang barang saya dibantu masuk dan susun di bagasi oleh kru kru yang ramah. 

Saat ini Sembodo nyolar dulu sebelum nanti mampir di terminal Bukit Surungan Padang Panjang. 


10.35 WIB

Sambil mendengar obrolan Bundo dengan anak gadisnya yang di Pakistan. 


SEMBODO MANIA COMMUNITY 

SEMBODO  (Semesta Bolo Transindo) MANIA


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/setahun-bersama-sembodo-part-2.html

Teh Talua Organik at Biaro


Menjelang jam 10 pagi, ada ajakan dari uni Hesti, alumni Kimia Unand Angkatan 87, untuk mampir di kulineran yang dia kelola. Namanya tempat nya sesuai judul di atas, Teh Talua Organik. Posisinya pas di seberang SPBU Biaro, yang ada mushola mungilnya yang beberapa kalo saya singgahi. Mushalo yang cantik dari luar dan dalamnya dan dibelakangnya berdiri kokok Gunung Marapi. 


Setelah selesai urusan di Kapau menjelang jum'atan, saya segera meluncur ke mesjid Nurul Huda yang berada di simpang Ampek Tanjuang Alam. Sengaja sholat di sini, karena sekalian mengambil jahitan yang titip jahit minggu lalu ketika baru datang dari rantau, Selasa 20 Desember lalu. Sesuai perjanjian dengan "kang jahit", hari ini selesainya. 

Selesai sholat dan mengambil jahitan, langsung meluncur ke BTJ, lokasi Teh Talua Organik ini. BTJ ternyata singkatan dari Biaro Takana Juo. Nama yang kerenkan? Yang ternyata jaraknya tak jauh dari Dangau Kawa, yang saya liput sebelumnya. 


Namun sebelum sampai di tujuan, sempat diguyur hujan beberapa detik dan saya terpaksa berteduh di AA Mart yang ada di sebelah kanan jalan. Setelah hujan reda perjalanan saya lanjutkan. Tak berapa lama sampai di BTJ. Masih sepi, begitu juga dengan SPBU di seberang BTJ, tak terlihat antrian kendaraan panjang. 


Saya lihat menu dan price listnya dan saya pesan minuman dan makanan buat disantap siang ini. Pesanannya adalah "Teh Talua Organik Original" yang menggunakan gula aren dan seporsi soto ayam dengan nasinya. Untuk teh telor harganya Rp 12.000,- dan soto serta nasinya Rp. 15.000,-. Untuk detail menu lainnya bisa dilihat di tabel yang sengaja saya sertakan. Alhamdulillah, masih terjangkau. 

Sementara pesanan saya dibuatkan, saya sempatkan untuk mengisi full tangki Mio yang saya gunakan. Ini sudah kebiasaan kami di Kapau, kalo mau balik ke rantau, motor harus terisi penuh. Dengan harapan mama tak repot dengan "minyak honda" bila ada yang akan menggunakannya nanti. Meskipun bukan motor keluaran terbaru, Mio ini "minumnya" pertamax, sesuai permintaan Mama Nova sejak dulunya. Alhamdulillah sampai sekarang motor ini senantiasa terjaga kondisinya dengan baik. Nggak pernah rewel. Yang agak rewel mungkin kantong yang ngisi "minyak"nya. Hahahaa. 


Tak lama berselang, teh telor yang saya pesan sudah siap untuk diminum. Dinginnya hari membuat yang dihidangkan tak menunggu lama untuk di sruput. Dari penampilan nya teh telor ini unik. Perpaduan antara SKM dan gula aren yang ditambahkan dibagian bawah gelas, indah untuk dilihat. Kentalnya bagian atas teh telor, membuat membal sedotan yang ditancapkan. Kentalnya terasa. 


Sengaja saya nikmati dahulu tanpa ditambahi jeruk nipis. Hmmm nikmatnya sangat terasa. Amisnya kuning telor nyaris tak saya rasakan. Setelah itu saya bandingkan dengan menambahkan jeruk nipis. Saya peras semuanya, setelah itu saya nikmati lagi dengan sedotan. Daaaaaan, kesimpulan saya, saya lebih suka tanpa jeruk nipis. Mungkin jeruk nipis nya terlalu banyak. But it's your choice, which one you like it. Tapi jujur saya lebih suka dengan pilihan pertama, tanpa jeruk nipis. Originalnya lebih terasa. Lamak bana. 


Tak lama kemudian, soto ayamnya datang. Sayang selayang, "angeknyo" agak kurang. Cuaca yang cukup dingin membuat panasnya cepat berkurang. Segera saja soto yang hangat ini saya habiskan. 


Suasana yang hening mulai terasa rame, karena satu per satu kendaraan terus bertambah. SPBU yang ada di seberang mulai nampak antriannya. Makin lama makin bertambah. Begitu juga bus bus mulai lewat, seperti Sempati Star, bus Pariwisata dan minibus lainnya. Menjelang jam 3 sore sempat terlihat Npm Sutan Class lewat menuju Payakumbuh. Dugaan saya ini bis dari rantau yang masuk, atau bisa juga bus yang akan verpal buat esok hari dari Payakumbuh menuju tanah Jawa. 

Tak lama kemudian uni Hesti mendatangin saya. Saling sapa dan akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Si uni sempat di jakarta juga dulunya. Tahun 2011 balik ka kampung halaman. Diskusi ringan kami ini sesekali ditingkahi oleh angin yang bertiup cukup kencang. Cuaca yang sejuk, namun oleh angin yang dingin membuat punggung terasa dingin juga dihantamnya.


Lokasi yang dipinggir jalan, dengan dilingkupi oleh area persawahan dan bukit serta gunung di ujung mata memandang sangat asri untuk dinikmati. Obrolan ringan tak terasa, hingga saya sadar jarum jam sudah menunjukan angka 15.30 WIB. 


Saya segera pamit karena masih ada satu tugas lagi yang harus dilakukan. Yakni mengambil pesanan Bundo di Simpang Tugu Kapau.


Namun ketika akan membayar di kasir, si Uni mencegahnya. "Kan uni yang mengundang", katanya. Alhamdulillah, saya senang, tapi sungkan juga. 


Dan akhirnya obrolan berlanjut hingga ke parkiran. Meskipun motor sudah saya hidupkan, ternyata obrolan makin menarik. Ni Hesti ini ternyata adalah kakak kandung dari da Aidil Hiksan, senior saya di HMI dari fakultas Teknik Unand, angkatan 89. Da Aidil ini pernah menjabat sebagai ketua umum SMPT Unand, yang sering main ke jl. Beringin no 45 Lolong Padang. 


Alhamdulillah banyak kenal juga uni ini dengan tokoh IASMA termasuk kegiatan rutin IASMA yang ada di RM Sederhana jl. Pemuda Rawamangun. Artinya, uni Hesti ini suka reuni. Suka reuni berarti temannya banyak. Kesimpulan akhir saya. :) 


By the way, di area BTJ ini masih ada lapak yang bisa dijadikan mitra bersama dalam hal mengelola kulineran lainnya. Ni Hesti terbuka tangan, bila ada pihak lain yang mau bekerjasama mengembangkan dan menjadikan area Biaro TakanaJuo ini sebagai tempat kuliner maupun rest area di jalur rame sepanjang Bukittinggi Payakumbuh ini. 


Dan bagi alumni Unand umumnya, silakan singgah ke sini. Dijamin Tah Talua Organik nya enak untuk dinikmati. Ada banyak variannya serta kudapan lainnya untuk dinikmati bersama teman teman dan keluarga, tentunya. 


Kapau, 31/12/2022

06.15 WIB

Jumat, 30 Desember 2022

Silaturahmi di Oil City

Menjelang maghrib kami beranjak dari Perumnas Tahap 3 Duri. Ada kerinduan melewati area masa kecil dahulu di sekitaran lapangan kuning Duri Barat, yang telah berubah menjadi terminal. Terminal yang belum maksimal digunakan. 


Setelah memarkirkan kendaraan, saya menuju gerobak miso Pice. Saya berpikir beliau tak ingat sama sekali dengan saya. Namun dugaan saya salah. Melihat saya datang beliau sudah tersenyum dan menjabat tangan saya. Lama sekali tak bertemu dengan da Pice ini. Usia beliau beberapa tahun di atas saya. Namun lapangan kuning, yang sekarang menjadi terminal, dulunya adalah pemersatu bagi kami. Di sini kami bermain bola, dari seluruh penjuru, dari delapan mata angin. Di sini kami saling kenal satu sama lainnya, dari segala umur. Selain bermain bola, di lapangan ini kami bermain dan bertanding layangan dulunya. Istilah "balandik" dulu sangat familiar bagi kami, dan saya rasa istilah ini sudah hilang dari peredaran. Mungkin hanya generasi saya ke atas saja yang masih ingat kata "balandik" ini. 


Setelah memesan mieso da Pice ini, saya melihat bang Madi. Bang Madi dulunya jago sepakbola. Pemain handal dengan klub Venusnya. Saya sempat masuk tim Venus Junior tetapi tak bisa berkarir di bola kaki ini seperti teman saya Dodi Yuzarman. Saya akhirnya lebih fokus ke studi. Walau masih main bola, saya nggak banyak mengikuti kompetisi antar sepak bola. Selain itu saya juga sempat cedera bahu ketika usia 13tahun. Ada yang retak di bahu sebalah kiri waktu itu. Teman saya Dodi dll sempat lanjut menjadi pemain club Venus ini. Klub yang sangat disegani waktu itu, selain PS. Caltex, PS. RMI dsb. 


Dari bang Madi saya akhirnya mencicipi teh talua nya. Bang Madi ini sudah sangat jauh berubah. Alhamdulillah, kami sama sama sholat maghrib di mushola yang ada di terminal ini. Musholah yang cukup rame jamaah nya ketika saya sholat maghrib tadi malam. 


Setelah selesai sholat dan membayar apa yang dimakan dan diminum saya, saya lanjutkan silahturahmi ke rumah Gesfi Kenda. Dari wall efeknya saya mendapatkan kabar bahwa mama dan adiknya meninggal dalam waktu yang berdekatan beberapa waktu yang lalu. Alhamdulillah, bisa ketemu dengan papanya Iges, yang sekarang menjadi pak RW 09 Duri Barat. Selain menyampaikan duka, kehadiran saya juga untuk merawat silaturahim almarhum mah ibu saya dengan keluarga Iges ini. Banyak cerita kami di sini. Menjelang azan ista saya Nova dan Dhila pamit melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. 


Sebenarnya pengen berlama lama di kawasan pertanian ini, bersilaturahmi dengan lanjut dengan teman teman ibu lainnya, yang juga anak anak mereka adalah teman teman saya juga, namun waktu terlalu kasip. Sudah ada lagi janji dengan teman teman alumni SMP Gaya Baru jam 20 di warung juice Melvia Body. 


Sudah di infokan oleh Imel di WAG kami, dan katanya ada ketan durian yang menjadi jamuan malam nantinya. Awal nya saya agak ragu juga, karena malam ini bertepatan dengan final leg pertama Indonesia vs Singapura. Ragu saya hanya sedikit yang bisa hadir. Dan ternyata... 


Lumayan banyak yang datang. Lapeh taragak jo kawan kawan. Ada Hendra Sutra Samsuar SH Megawati, Susanty Lee Syaiful. Habis durian nna dibali, habis katanya nan dimasak dek Imel. Suasana perkawanan kami masih seperti dulu dan juga bangga karena sang bundo Nova dan Dhila pun bisa "masuk" dalam obrolan kami malam itu. "Sabana mantap, sabana sero basuo jo kawan lamo".


30 Desember 2021


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid021iTtSTpag1s6YUPwHd6o6UhpmkjRyHQEszNsGcyRoPRo7g5AHkX9UveZveNHfJswl&id=750344173&mibextid=Nif5oz



Kamis, 29 Desember 2022

Kawa Daun Biaro

Alhamdulillah, akhirnya mampir juga di sini. Padahal sudah beberapa kali direncanakan, namun selalu saja ada halangan. Sudah lama melihat lokasi ini sepanjang jalan yang ditempuh ke Kapau terutama sejak tahun 2013. Sebuah penantian yang lama juga. 


Menjelang sore berakhir, setelah trip silaturahmi ke Situjuah menemui Datuak Itam. Dingin tangan sepanjang perjalanan dengan motor harus dihangatkan sejenak menjelang sampai di Kapau. Angin dingin dan cuaca yang sangat bersahabat membuat bagian yang terbuka menjadi dingin. 

Ketika masuk ke Kawa Daun yang ada di daerah Biaro ini parkiran sudah penuh dengan mobil dan motor. Menyelip di antara mobil dan akhirnya bisa juga terparkir dengan rapi Mio yang saya  tunggangi sedari Situjuah Kab. 50 Kota tadi. Ada sekitar 40 an menit berkendaraan plus rehat sebelum nya di masjid cantik dan mungil di pinggir jalan saat adzan mulai berkumandang. Kecepatan rata rata antara 40-50 km/jam.

Sangat mengasyikan mengendarai Mio di "labuah luruih" antara Payakumbuh dan Bukittinggi ini. Di saat sepi, agak bisa dipacu mendekati angka 60 dan di saat macet di tanjakan Baso, bisa slap slip di kiri atau kanan mobil yang berjalan perlahan. Di beberapa titik menjelang SPBU terlihat antrian mobil yang kadang memakan badan jalan. Begitu juga mendekati pasar Baso. Namun semuanya bisa dilewati, tanpa mengabaikan keamanan dan keselamatan sesama pengendara. Waspada di jalan raya, harus senantiasa dijaga. Jangan sampai lengah. 


Nah menjelang ke simpang Ampek Tanjuang Alam, kita rehatkan badan sejenak di sini. Suasana yang sedikit dingin, kita hangatkan dengan segelas Kawa Talua Jahe dan gorengan yang ditawarkan di dalam piring rotan yang dihidangkan. 


Ternyata setiap pengunjung yang datang, yang memesan minuman yang dipesan, gorengan ini adalah hidangan wajibnya. Terserah pengunjung mau makan berapa dan apa saja, nanti dibayar ketika akan meninggalkan lokasi ini. 


Ada banyak pilihan minuman di sini dengan berbagai harga yang bisa disesuaikan dengan ukuran kantong masing masing. Tetapi sejauh yang saya amati di "price list" yang terpasang di banner yang ada di dalam ruangan tak ada yang mahal mahal amat. Harga termahal bagi segelas minuman hanya Rp. 12.000,- yakni Kawa Telor Jahe. Yang lainnya dibawah itu dan yang terendah hanya Rp. 4.000,-. Sedangkan untuk setiap gorengan dihargai Rp. 1.500,-  satu nya. Murah bukan? 


Alhamdulillah, dalam keramaian ini saya bisa menikmati alam yang terbentang di bagian belakang. Area persawahan, rumah penduduk dan pepohonan memenuhi kaki, pinggang hingga ke puncak Gunung Marapi yang berdiri kokoh menjaga Ranah Minang. Dan dibalik gunung Marapi tersebut, adalah kampung halaman saya. Luhak Tuo Tanah Datar. 


Sambil menikmati Kawa Talau Jahe yang enak dan InsyaAllah sangat berkhasiat, disertai dengan tiga buah gorengan, catatan ini saya tuliskan. Alhamdulillah tulisan ringan, sambil menikmati kuliran yang ringan juga, hobby menulis ini tersalurkan. 


Di antara keriuhan pengunjung, baik dari anak muda yang sepantaran, maupun orang tua yang disertai anak anaknya, kunikmati tegukan terakhir dari Kawa ini. Telornya terasa, Jahe nya pun terasa. Kehangatan mengalir di tenggorakan setiap tegukannya. Alhamdulillah. InsyaAllah bentar lagi kita lanjutkan perjalanan ke rumah, yang jaraknya hanya 4.2km dengan waktu tempuh sekitar 8-10 menit. 


Biaro, 29/12/2022

Jam 17.17 WIB.


Bagi yg mau ke sana bisa klik link berikut:

Dangau Kawa 0813-8752-0599 

Selasa, 27 Desember 2022

Ngarai Cafe

Setelah seminggu sampai di kampung halaman, di Kapau Bukittinggi baru sekarang kita sempat membawa buah hati main di Ngarai Sianok. Penyebabnya adalah "kaget" dengan cuaca di kampung halaman, sehingga pencernaan kami agak terganggu. 


Alhamdulillah cuaca hari ini sangat bersahabat. Dengan mengendarai sepeda motor kami berangkat dari rumah. Mendadak saja sifatnya. Tanpa perencanaan sejak pagi. Ini semuanya setelah melihat Dhifa sudah mulai makan banyak dan lahap. 


Suasana di Ngarai tetap rame meskipun hari ini hari kerja. Banyak Wisatawan Nusantara yang memanfaatkan waktu bersama keluarganya main di daerah yang sangat asri ini. 

Ngarai yang dialiri sungai yang bening sangat memanjakan kaki anak-anak maupun orang dewasa yang bermain di kedangkalan aliran sungai Sianok ini. 

Angin yang bertiup sepoi sepoi membuat mata ingin terpejam saja rasanya. Suasana yang tenang, meskipun agak banyak kendaraan pribadi yang berseliweran, sangat mendukung untuk "healing" di sini. 


Alam yang cantik, menu makanan yang enak dan terjangkau membuat kita mau berlama lama di sini. Dan tak kalah menu andalan yang saya sukai adalah teh Telor Tapai nya. 

Teh telor tapai nya sangat kental. Tapainya terasa halus sekali, manis. "Tagak tali sedotan dek-nyo".  Alhamdulillah, kan selalu diingat menu favorit ini di sini. Mantaaaap bana.

Dan kesukaan anak anak adalah roti bakar, pancake dengan topping es krimnya, nugget dan mie gorengnya serta indomienya. Aneka makanan dan minuman kekinian lainnya pun ada. Agak bersabar menanti bila pengunjungnya rame. Namun waktu tunggu akan terasa sempit bila kita bisa menikmati suasana alam yang asri ini dengan obrolan ringan di sini bersama keluarga atau bermain, menjelajahi daerah wisata yang murah meriah ini. 

Anak-anak suka ke sini. Area bermain dengan alamnya yang terbuka. Ngarai dengan tebingnya yang menjulang di dua sisinya, serta aliran sungai yang bening menjadikan liburan bersama keluarga terasa indahnya. Apalagi kulinernya yang enak dan nggak mahal. Sangat terjangkau oleh ukuran kantong siapapun. 


Dan ini adalah liburan ketiga kalinya bagi Dhifa ke sini. Desember tahun lalu Dhifa bareng kakaknya Dhila. Libur lebaran kemarin Dhifa bareng abangnya Imam. Dan saat ini bersama sepupunya, Rara dan Affan. Alhamdulillah selalu menyenangkan bagi mereka. 


Oh ya di sini, kamar mandi dan WC-nya bersih. Airnya bening dan dingin bagaikan air es. Musholah pun ada, lengkap dengan sajadah dan mukena bagi kaum Hawa. Jadi jangan takut untuk tidak bisa melakukan ibadah bersama keluarga tercinta di sini. 


Dan alhamdulillah, makan dan minum ber-enam kami di sini totalnya Rp. 126.000,-. Parkirnya pun gratis. Alhamdulillah, ini semua semoga bisa dipertahankan. Kadang masalah parkir di Kota Wisata ini sering menjadi masalah sensitif, apalagi kalau main "pakuak". 


Sukses bagi penggiat kuliner dimana pun berada, yang membebaskan areanya untuk parkir yang bersifat "main pakuak", terkhusus bagi pengelola Ngarai Cafe ini. 


Semoga tulisan ini menjadi promosi bagi penggiat kuliner di Ranah Minang. Alamnya elok, kulinernya lamak, harganya bersahabat, pengelolanya ramah dan parkirannya tertata serta bayar sewajarnya. 


Ngarai Cafe, 26/12/2022

16.50 WIB

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...