Minggu, 14 Juli 2024

Transit (part 3)

Menjelang jam 12 siang kami sampai di terminal Bareh Solok. Bus berhenti di sini menunggu Al Hijrah Royal Platinum yang dari Lubuk Basung Pariaman dan Padang. Dua bus Al Hijrah akan berangkat ke rantau hari ini. Suite Family dan Royal Platinum. Akan terjadi pergantian bus sesuai dengan tiket masing-masing penumpangnya. Tetapi Bus akan berangkat beriringan nantinya dari Terminal Bareh Solok ini.


Sesuai info agen di terminal sekitar satu sampai dua jam waktu tunggu, tergantung kondisi jalan di Sitinjau Lauik. Dan bagi penumpang seperti saya harus menurunkan barang yang dibawa untuk dipindahkan ke Royal Platinum. Berharap bahwa bus yang akan membawa kami nantinya adalah Scania Tronton. Pengen sih menikmati bagaimana kenyamanan tronton di lintas timur Sumatra. Denger denger jenis tronton ini yang akan ditambah nantinya oleh PO yang relatif baru ini. 


Dan menurut agen nya juga, bahwa nanti dari Payakumbuh Bukittinggi Solok dan Lubuk Basung Pariaman Padang Solok, menuju Jabodetabek dan Bandung begitu juga sebaliknya, akan diberangkatkan sepasang bus Al Hijrah ini sehingga tidak ada lagu transit lagi ke depannya. Sepasang Suite Family dan Royal Platinum. Bus saat ini sedang di karoseri dan akan ditambah secara bertahap. Boleh dikatakan bis ini cukup mendapat tempat di hati para pelanggan disebabkan harga yang relatif murah dan bus Al Hijrah ini chasis premium semuanya menggunakan 0500Rs 1836, sementara PO lain cuma pakai 1626. Kenyamanan yang ditawarkan sangat oke. Walau ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan yang saya alami selama ini, antara lain AVOD yang tidak berfungsi dan ketersediaan air mineral yang dispenser habis. Catatan ini saya alami ketika berangkat dari Jakarta dengan Suite Family akhir Juni lalu. Walau bagi kami dua-duanya tak terlalu berpengaruh. Namun untuk stock solar yang dibawa selama perjalanan sangat baik. Solar yang langka di sepanjang jalur lintas Sumatra sudah diantisipasi. Ini keren.



Selama menunggu transit saya dan Bundo bisa berinteraksi dengan penumpang lainnya. Bahkan ada sepasang pengantin anyar yang ternyata berdekatan kampung, urang Patanangan dan Luak Tunggang Koto Tangah. Hanya berbatasan Nagari. Sebulan sudah mereka di kampung dan setelah nikah sama sama kembali ke perantauan.


Sholat dan makan siang kami di sini. Nasi bungkus daun pisang dan lauk yang disiapkan Mama menemani makan siang sambil ngobrol dengan pasutri baru ini. Dua gelas kopi hitam saya pesan dari pemilik kedai terdekat. Tak lama selesai makan Royal Platinum pun datang. Sekitar jam 13.25. Yang agak lama adalah perpindahan barang dan penumpang. Maklum urang awak kalo baliak ka rantau bawaannya banyak. Saya pikir saya dah banyak membawa barang, ternyata ada lagi yang jauh lebih banyak. Untung bagasi Royal Platinum ini jauh lebih besar dan lebih lega dibandingkan Suite Family. Memindahkan dan menyusun barang ini diatur oleh crew Al Hijrah. 


Jam 13.50 dua Al Hijrah ini berangkat menuju rantau. Al Hijrah Suite Family dahulu berangkat, full seat dan diikuti oleh Royal Platinum dibelakangnya, hampir penuh.


Pulau Punjung 

14/07/2024 17.00

Pesona Danau Singkarak (part 2)

Jam 9.33 Al Hijrah Suite Family yang kami tumpangi memasuki terminal BUSUR Padang Panjang. BUSUR singkatan dari Bukit Surungan. Terminal kecil yang indah di lingkup bukit barisan. 


Sebentar saja bus berhenti di sini karena penumpang nya nanti naik di jalan selepas terminal. Walau sebentar saya tetap membeli 'paragede' jagung dan 'pinukuik' yang 'dijojokan' oleh pedagang yang naik. Sebungkusnya 10.000 untuk masing-masing nya. Pergedel jagung ini adalah jajanan khas daerah Padang Panjang sedari dulu. Jajanan legend.


Bus berlanjut keluar terminal dan saya menikmati keindahan alam yang terpampang di kiri dan kanan jalan. Terkaget ketika Bundo menunjukkan Soto Sep yang kami rencanakan kemarin untuk dikunjungi. Soto yang MEWAH. Mepet Sawah. Asyik itu menikmati soto panas di tengah tengah dingin dan sejuknya suasana persawahan dan indahnya alam yang terbentang. Insyaallah lain waktu, panjang umur dan ada rezeki akan kami kunjungi. 


Macet agak terasa ketika masuk daerah Pitalah. Hari Balai ternyata sekarang. Beringsut kendaraan berjalan di sini. Jalan kecil penuh kendaraan. 


Namun selepas itu lancar jaya. Sebelum memasuki kawasan danau Singkarak ada via duck yang juga membuat bus tersendat. Harus berhati-hati Al Hijrah ini melewati nya. Maklum bis ini panjang dan tinggi.


Selama memasuki danau saya tak puas puasnya menikmati alamnya. Hampir setengah danau ini terkelilingi menuju Sumani sebelum masuk nanti ke Kota Solok.


Banyak kenangan sepanjang Danau Singkarak ini. Saya teringat satu masjid yang Indah ketika kami pertama kali mengendarai Terios tahun 2013 bersama pak Dadang, driver yang menemani perjalanan kami pergi dan pulang pada bulan Juli dan Desember tahun itu. Dengan pak Dadang saya banyak belajar bagaimana menjaga stamina dan menguasai kendaraan selama dalam perjalanan jarak jauh. Pak Dadang orang yang sabar dan mau mengajarkan saya. Alhamdulillah ilmu praktis yang dia ajarkan inilah yang membuat saya selalu nyaman setelah tahun 2014 hingga sekarang saya menyetir sendirian melintasi dan menikmati indahnya lintas Sumatra dan Jawa. Sayang pak Dadang sudah berpulang tahun lalu. Semoga ilmu ini menjadi ladang amal bagi almarhum.



Singkarak yang indah, sebagian tertutup kabut dan hujan dari kejauhan, namun sebagian lagi arah Padang Panjang cerah. Kadang terlihat tipisnya batas hujan dari kejauhan. Alam yang indah untuk dinikmati dengan berjalan kaki sesungguhnya. Manapak bersama berjalan kaki sepanjang sisi danau tentu pesona tersendiri suatu saat nanti. Aaah, semoga terwujud.


Di Sumani bus berhenti sejenak menaikan penumpang. Ada agennya di sini. Suite Family yang kami naiki ini full seat, begitu yang saya denger dari crew nya. Sama halnya dengan kami naiki dari Jakarta dua Minggu lalu. Sleeper Bus ini menjadi pilihan favorit bagi penumpang. Apalagi harganya termasuk yang termurah. 


Dan saat berhenti tadi bus kami didahului oleh Gumarang Jaya, ANS dan Palala. Semoga nanti ketemu lagi di terminal atau selama dalam perjalanan. Jarak masih jauh tentu teman dalam perjalanan sangat dibutuhkan.


Insyaallah sebentar lagi bus ini akan memasuki terminal Bareh Solok.


Solok 14/07/2024

11.33

Back To Rantau Bersama Al Hijrah (part 1)

Alhamdulillah, pagi ini kami kembali ke rantau setelah dua Minggu berada di kampung halaman. Dua Minggu berkesan. Memberi kesempatan kepada Bundo untuk membersamai mama nya sebagaimana bakti anak kepada orangtuanya. Semoga pulang kampung kami ini bernilai ibadah. Mendatangi orang tua mungkin lebih baik daripada mendatangkan orang tua. Setuju nggak tuh?


Dan pagi ini kami kembali bersama Al Hijrah. Dari rumah jam 7.30 pak Kari, pemilik angkot merah trayek Tigo Baleh, Aua Kuning Pasa Ateh dan Pasa Bawah sudah ready menjemput kami. Mama sudah memesan kemarin sore ketika pulang "narik" menjelang Maghrib. Dan sekitar jam 6 lewat tadi pagi kembali saya samperin rumahnya untuk memastikan jemputan beliau. Alhamdulillah, semuanya on time. 


Kami pamit kepada Mama, Ante Nelti Jamaah dan Iwat yang datang tadi malam dari Pekanbaru. Selain pamit kami juga minta do'akan semoga selalu sehat, panjang umur dan banyak rezeki sehingga suatu waktu nanti bisa kembali ke sini. Ke Kapau Bukittinggi berkumpul bersama lagi.


Angkot yang dibawa pak Kari berjalan santai pagi ini. Angkot keluaran tahun 2005, Suzuki Carry, milik sendiri dan dibawa sendiri ini, sangat terawat dengan rapi. Pak Kari yang usianya saat ini sudah 61 tahun, orangnya supel dan suka bercerita. Beliau termasuk suka membantu mama bila ada pengiriman ke luar kota. Dia yang ambil barang dan dia juga yang mengantar langsung ke cargo yang diinginkan mama. Makanya menggunakan jasa beliau pagi ini untuk mengantarkan kami ke terminal Aua Kuniang bermakna ganda. Lebih dari sekedar uang transportasi tentunya. Ada cerita selama perjalanan. Ada kedekatan yang terjadi bagi saya pribadi dengan beliau. 


Beliau yang merantau selepas tamat PGA di Bukittinggi ke Jakarta sejak tahun 1986 hingga 1992. Berdagang koper dan waktu itu sangat menjanjikan. Ilmu agamanya di PGA terpakai saat awal awal merantau. Tinggal di mushola atau masjid menjadi garin, mengurangi biaya kontrakan. Jumatan nya hampir selalu di Istiqlal, tinggal berjalan kaki atau naik angkot dari Kota atau Senen saat membeli barang. 


Tahun 92 balik ke kampung dan akhirnya menikah, menetap dan berusaha di kampung saja sejak itu. Anak beliau empat orang, 4 sudah bekerja dan satu yang akan kuliah tahun ini. Satu satunya anak laki lakinya yang sulung sudah menikah dan tinggal di Dumai Riau. Lainnya tiga perempuan tinggal di Bukittinggi. Namun tugas sebagai muadzin bahkan menjadi Imam sholat tetap dilakoni. Maghrib selalu di rumah. Dia berbeda dengan supir angkot lainnya. Dekat dan konsisten di jalan Allah itu keren. Ya kan?


Sampai di terminal Aua Kuniang kami sudah dikasih senyuman oleh agen Al Hijrah. Barang-barang kami dibantu turun dan ditata dengan baik. Layanan bang Endrizal yang juga saya temui pagi kemarin memang ok. Pak Kari saya kasih lebihan untuk jasa transportasi dan sharing pengalamannya.


Saya lanjut untuk pembayaran tiket yang belum lunas dengan bang Endrizal. Kemudian titip barang sebentar kami menuju toilet yang ada di terminal ini. 


Tak lama menunggu Al Hijrah Suite Family datang. Sesuai waktu rupanya. Kami naik ini sebentar untuk nanti transit di Terminal Bareh Solok. Sekitar satu setengah jam perjalanan.


Alhamdulillah oleh sang driver saya pun diperkenankan untuk ber-kodak color sejenak,  acting as a bus driver. Berikut juga dapat photo bersama dengan bang Endrizal. Crew Al Hijrah yang ramah menurut kami.


Hal lain yang membuat saya merinding adalah ketika bertemu dengan seorang walisantri yang mengunjungi anaknya di Gontir Putri Kampus 4 Kediri. Merinding saya mendengar perjuangan beliau selama ini. Dulu sebelum Covid berusaha di Karimun. Berdagang pakaian. Aejal covid balik ke kampung di Kito Baru Salo yang ternyata tak begitu jauh dari Kapau.

Selain ke Kediri anaknya bungsunya juga mau masuk ke Gontor tahun depan. Insyaallah akan masuk Penampungan Capel Gontor Putri di Kampus Dua Mantingan Ngawi. Sebuah perjuangan orang tua dan keinginan sang anak yang luar biasa. Semoga segala ikhtiar dan harapannya ini bisa terwujud kelak. Aamiin


Padang Panjang

14/07/2024 09.33 WIB

Jumat, 12 Juli 2024

Safar dan Silaturahmi

Kamis menjelang sore saya, Nova dan ustadz Efri sengaja berkunjung ke Masjid Abu Darda. Penasaran saja selama ini dengan mesjid yang iconik dan sering dibicarakan orang. Selama ini kami belum pernah mampir meskipun sering berkunjung ke kota Pekanbaru. Sebelum sampai ke tujuan kami mampir sejenak ke rumah Efri, mengambil sesuatu yang tertinggal.


Dalam perjalanan menuju ke Abu Darda dapat kabar untuk berkunjung ke UIN Sultan Syarif Kasim di Panam. Ajakan mampir ini oleh Edi Erwan sahabat lama saya. Jadilah kami ke sana terlebih dahulu disebabkan waktu dinasnya yang mulai mepet.


Sebuah perjalanan persahabatan yang dulu terbina di antara saya dan Bung Eron ini. Sama sama "Budak Melayu" yang kuliah di Unand beda fakultas, meskipun satu angkatan. Sama sama berproses di HMI. Sama sama pernah mendapat amanah sebagai ketua umum komisariat pada era yang sama saat itu. Sama sama juga mengikuti Up Grading Kepemimpinan di HMI Cabang Padang. Sama sama wisuda juga di bulan Maret 1997. 


Setelah wisuda dan menjadi alumni, kami tak pernah bertemu lagi. Hanya berkabar di medsos dan chat WA saja.


Dalam pertemuan yang singkat kemarin, kami baru bercerita perjalanan hidup masing-masing. Saya yang ditemani oleh adik sepupu ini, beberapa waktu lalu wisuda magisternya di UIN Suska dan kenal nama saja dengan Prof. Edi Erwan. Allah takdirkan kami bertemu dan bisa ngobrol santai.


Oh ya Efri ini adalah seorang ustadz lulusan S1 nya di Islamic University of Madinah dan saat ini mengajar Ma'had Tahfiz Abu Darda. Tetapi orang umum, lebih banyak mengenal Masjid Abu Darda, yang memang berdampingan langsung dengan Ma'had nya. Masjid yang selalu viral di setiap bulan Ramadhannya. Masjid yang dibangun utuh oleh satu orang saja, dan setiap harinya selama bulan Ramadhan selalu menyediakan "pabukoan" antara 1 000-1.500 paket. Plus dimalam itikaf, sahur dan berbuka puasa.


Masjid yang tidak menerima sumbangan dari para jamaah dan donatur manapun. Pemiliknya adalah pak Dasrul, pemilik PT Wahana. Orang yang humble, yang hasil usahanya juga digunakan untuk dakwah. Kabarnya saat ini juga sedang membangun masjid lainnya setara di Masjid Abu Darda ini di pinggiran kota Pekanbaru.

Jadi kami ke UIN ini adalah bonus. Bonus bagi siapa saja yang mau menjalin silaturahmi. Alhamdulillah Edi Erwan, Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan ini ada keluangan waktu dan atas izin Allah kami bisa bersilaturahmi kembali. Rasanya kami sudah tidak pernah bertemu hampir  27 tahun lamanya. Namun suasana pertemuan kemarin tak mengurangi kehangatan kami seperti dulu.


Perjalanan hidup beliau mungkin bisa menjadi pelajaran bagi adik-adik alumni Unand ataupun alumni dari mana saja, yang baru tamat. Izin saya sampaikan secara ringkas sebagai berikut.


Sejak tamat beliau bekerja sebentar di koperasi Pertamina di Dumai, sempat juga mengikuti WAMIL juga di Dumai. Lolos tes hingga akhir, tetapi kalah bersaing akibat titipan ORDAL waktu itu.


Tak puas di Dumai, beliau back to Padang. Ada kabar buka lowongan dosen waktu itu di Unand dan Jambi. Dengan segala pertimbangan, termasuk bukan "urang awak" dia memilih untuk menjadi dosen di Jambi. 


Alhamdulillah diterima di sana dengan ijazah S1 nya. Tujuh tahun mengajar dan istri beliau tetap bekerja di Telkom Padang, dan akhirnya baru bisa pindah ke UIN Suska tahun 2007. Di UIN diamanahi sebagai sekretaris Jurusan, hanya sekitar empat bulan dia langsung dapat kesempatan studi S2 ke Malaysia. Tamat 2010 langsung lanjut lagi S3 nya di Jepang. 


Mungkin karena terasah sebagai seorang aktivis dan juga seorang pembelajar ketika mahasiswa, karirnya menanjak selepas pulang dari Jepang. Menjadi Dekan Fakultas Peternakan dan menyandang gelar Profesor dalam usia relatif muda di UIN Suska dan sekarang menjadi Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan.


Sebuah perjalanan bertemu dengan seorang sahabat yang tetap humble sedari dulu. Senyumannya khas, tak ada kesan kesombongan dari apa yang telah beliau nikmati dan raih saat ini.


Anak-anak beliau empat orang, lelaki semuanya. Dua orang kuliah di Universitas Brawijaya Malang dan dua orang masih di sekolah lanjutan di kota Pekanbaru. Sejak beliau di UIN Suska, istri beliau fokus mengurus keluarga. Sebuah keluarga yang harmonis, insyaallah.



Selesai silaturahmi kami pun berpisah. Sholat ashar kami dahulu di lantai dasar gedung rektorat ini, sebelum ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke mesjid Abu Darda sesuai niat semula.




Di kawasan abu Darda saya dan Nova bisa merasakan aura yang berbeda dari suatu keseriusan dalam mengelola institusi pendidikan secara swasta yang berkelas dan berkelanjutan. Sejak dari TK hingga SMA dan Ma'had Tahfiz Alquran. Suatu kawasan yang membutuhkan lahan yang luas dan sebuah mesjid yang sangat besar dan megah, terintegrasi. Dan itu dapat kami temui di kawasan terpadu Abu Darda ini. Oh ya,  perumahan untuk pengurus yayasan, ustadz juga disediakan jika ada yang berminat menempati.


Demikian sekedar catatan lagi ini atas safari ke Bumi Melayu kemarin, menjelang sore dalam waktu yang sangat singkat dan namun berkesan.


Hidup akan terus mengalir, semoga mengalirnya selalu ke tempat tempat kebaikan dan tempat tempat terbaik. Tempat terbaik di muka bumi ini adalah rumah Allah dan rumah tangga 


Demikian, semoga bermanfaat.


Kapau, 6 Juli 2024

22.20 WIB

Sabtu, 06 Juli 2024

Hamparan Permadani Alam

Menjelang jam 7 pagi tadi sengaja keluar rumah untuk kembali olahraga jalan kaki, untuk ketiga kalinya selama sampai di Kapau sejak Minggu malam. Dua hari pertama, Senin dan Selasa kami jalan kaki berdua bersama Bundo. Namun pagi tadi saya jalan sendiri. Rabu Kamis hingga Jum'at rehat jalan kaki, karena ada aktivitas lainnya.


Setelah sampai tadi malam dari Pekanbaru, jam 00.30 dini hari, tidur dan tetap subuh di Surau, Alhamdulillah kondisi tubuh tetap prima, seperti tidak ada capeknya. Makanya pagi ini saya usahakan kembali berolahraga.


Keluar dari rumah, cuaca hangat. Beda dengan hari hari sebelumnya yang berkabut dan dingin tentunya. Pagi cerah, Singgalang dan Marapi kelihatan jelas dari kejauhan. Tak ada kabut atau awan yang menutupi mereka.


Baru saja melangkah keluar dari rumah, saya "kodak-lah" hamparan sawah yang ada di sekitaran rumah. Kodak rancak tentunya. Alhamdulillah empat gambar pertama yang saya posting di awal melangkah, ternyata mendapat respon yang luar biasa dari para sahabat FB saya. Bagaikan lukisan alam. Saya pun takjub sebenarnya.


Setelah memosting, langkah kaki saya teruskan ke jorong Baringin Koto Tangah. Memilih rute berbeda dari dua rute sebelumnya juga berbeda. 

Memasuki gapura Jorong Baringin, sebelah kanan jalan kita akan diperlihatkan rambu rambu yang bertuliskan Asmaul Husna sepanjang jalan. Sebuah rambu yang langka yang mungkin tidak kita temui di jalan pedesaan seperti ini. Jorong yang luar biasa. Semuanya jelas terbaca. Bertuliskan Allah Yang Maha Esa di atas setiap nama-nama Allah yang ada di sepanjang jalan itu. Saya akui ini keren. Wali Jorong dan masyarakat nya hebat hebat. Mengingatkan 99 nama nama Allah bagi setiap yang melewati.


Beberapa view rumah gadang, mushola dan bentangan sawah yang luas sepanjang mata memandang. Apalagi ketika keluar dari jorong Baringin, belok ke kiri menuju Jorong Tambuo Nagari Koto Tangah. 



Di sebelah kiri kita, hamparan permadani yang Allah titipkan di nagari ini menghadap ke dua gunung yang tegak menjulang. Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang sangat kokoh berdiri. Begitu juga di sebelah kanan, hamparan yang sama jelas kelihatan. Batasnya bukit barisan yang berjejeran. Hijaunya menyegarkan dan udaranya segar tak terkirakan. Oksigen bebas yang tak berbayar, bebas dihirup memenuhi rongga paru paru kita. Udara nya bersih.



Hamparan permadani yang berwarna hijau dan kuning, yang menjadi sumber ekonomi bagi para petani. Negeri ini memang menjadi salah satu  lumbung pangan bagi Sumatra Barat ataupun propinsi tetangga. Dengan nama berasnya Kuruik Kusuik, Sokan dan Anak Daro menjadi beras primadona bagi rumah makan yang ada di ranah Minang atau pun yang ada di perantauan. Beras premium dengan harga nya juga di atas rata-rata.


Kembali ke laptop, hamparan sawah yang kuning dan hijau ini, berbatasan gunung dan bukit yang juga hijau serta beratapkan langit yang biru, seakan-akan mata ini tak puas memandang anugerah yang Allah titipkan kepada Nagari Koto Tangah dan Kapau ini.

Masya Allah, nikmat mana lagi yang kau dustai.


Di ujung jalan, di perempatan, langkah saya arahkan ke kiri menuju Pakan Kamih. Sepanjang jalan rada banyak kendaraan. Motor dan mobil agak berpacu di sini, membuat saya harus berhati-hati dalam melangkah. Waktu telah menunjukan jam 7.50. Hampir satu jalan saya berjalan dan teringat pesan yang dijanjikan Nova bahwa jam 8-an usahakan sudah sampai di rumah karena ada hal lainnya yang akan kami kerjakan. Marandang.


Langkah kaki makin saya cepatkan. Di pertigaan Simpang Gobah, belok ke kiri menuju Dangau Baru. Di sini pun sama. Sawah kiri dan kanan jalan terhampar. Beda dengan jalan di Pakan Kamih tadi yang banyak berisikan rumah dan "kadai" di sepanjang jalannya. Di sini puas memandang alam yang terbentang sepanjang jalan menuju rumah di perbatasan antara Nagari Koto Tangah dan nagari Kapau.


Allah telah titipkan negeri yang subur ini untuk kita nikmati. Untuk dikelola dengan sebaik mungkin. Padinya menjadi, ladangnya pun ada di sana sini. Ternak pun bisa berkembang dengan baik sekali. Nikmat Allah SWT ini harus disyukuri. Bukan untuk dikufuri.


Jam 8.30 sampai di rumah. Satu setengah jam berjalan dengan jarak tempuh diperkirakan sekitar 7-8 km.


Kapau, 6 Juli 2024

18.06 WIB

Kamis, 04 Juli 2024

Galuang Sungai Pua

Sore kemarin jam setengah empat saya dan Bundo naik motor menuju jorong Galuang nagari Sungai Pua. Bermotoran berdua menikmati suasana sore yang telah lepas dari terik nya mentari. Di beberapa spot masih terasa hangat tetapi menjelang jalur mendaki ke Sungai Pua terasa sejuk. Mungkin angin yang berembus dari Gunung yang berkabut di sebagian puncaknya mengantarkan kesejukan bagi bagi.


Galuang adalah jorong yang termasuk parah ketika terjadinya Banjir Lahar Dingin pada bulan Mei lalu. Banjir yang hanya sekitar 15 menit di Galuang meluluhlantakkan segala jalur yang dilalui. Di Galuang sembilan orang yang meninggal. Ada banyak rumah, masjid dan sekolah diterjang air dan menyisakan lumpur di dalamnya. Ada rumah yang roboh dan hanyut. Lima belas menit menyisakan nestapa yang mendalam di pertengahan bulan Mei lalu.


Dan ketika adzan ashar terdengar kami sudah sampai di Masjid Jami' Galuang. Masjid yang tak terlalu besar, tetapi sangat kokoh berdiri. Masjid yang bersih dan interior nya sangat luar biasa indahnya. Allah SWT menjaga rumahnya ini saat kejadian banjir lahar dingin ini terjadi. Begitulah kuasa Allah. Air masuk, ada kaca jendela yang pecah dan ada satu pintu yang jebol. Tetapi ketika kami sholat ashar di sini, boleh dikatakan tak ada tanda bahwa ada banjir terjadi di sini. Semuanya sudah bersih kembali. Jamaah nya pun terisi satu saf dibagian depan. 


Tetapi ketika melihat dibagian luar, di sisi kiri mesjid, masih tampak sisa bangunan yang telah hanyut ataupun rubuh sebagian. Ada tukang yang lagi bekerja selepas sholat ashar. 


Di seberang mesjid ada tiga rumah berjejer. Rumah lama, rumah yang baru selesai dibangun dan rumah yang sedang dibangun. Rumah lama milik ortu Meri Susanti , rumahnya Meri dan Iwan Mulyawan dan satu lagi rumahnya saudari Meri. Meri adik kami di Kimia Unand angkatan 97 dan suaminya Iwan kimia 95, yang juga satu angkatan dengan Nova di SMA 1 Bukittinggi.


Ketiga rumah ini dihantam banjir lahar dingin. Air masuk setinggi satu meter dan lumpur yang tersisa pasca kejadian sekitar 30cm. Mobil Terios dan motor milik keluarga Meri ini sampai terjun ke jurang yang ada di belakang rumah. 


Mendengar kisah langsung dari orang yang mengalami sangat berbeda rasanya dengan apa yang kita baca dan video yang kita tonton. Penuturan dan Mak Cin, mama dan papa serta adiknya Meri, membuat saya merinding. Banyak hal yang susah untuk dituliskan.


Tetapi atas setiap kejadian tentu menjadi bagan instrospeksi bagi kita bersama. Fenomena alam yang terjadi sejak November tahun lalu, erupsi gunung Marapi yang hampir tiap hari dan banjir lahar dingin menjadi bukti bahwa Allah SWT adalah pemilik kuasa atas segalanya. Yang tersisa masih Allah sayangi, Allah beri kesempatan untuk hidup dan menjadi hikmah di kemudahan hari.


Kerjasama segala pihak dalam pemulihan keadaan pasca kejadian sangat membantu bagi para korban menata kembali kehidupan nya masing masing. Dan Alhamdulillah hingga saat ini Gunung Marapi sudah kembali tenang. Boleh dikatakan erupsi sudah tak tampak lagi, meskipun "Batuk-nya Marapi" sesekali terdengar. Anggap saja sebagai pengingat bagi kita semuanya.


Dan di rumah Meri, kami mengantarkan sedikit amanat alumni ketika Reuni Akbar Alumni FIPIA pada tanggal 19 Mei lalu. Amanat yang harus disampaikan, meskipun tak banyak, tetapi anggaplah ada keterikatan bahwa kita satu almamater. Menjaga ukhuwah Islamiyyah. Amanat yang ditekankan oleh adinda Humahera Daniel, yang telah kami tunaikan.


Alhamdulillah. Semoga ada hikmah. Semoga ada berkah.


Kapau, 4 Juli 2024

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...