Rabu, 23 Desember 2020

Maut Mengintai di Tol Pekanbaru Dumai

 Maut Mengintai di Tol Pekanbaru Dumai


Pagi ini saya mendapatkan video tabrakan lagi di jalur Tol Pekanbaru Dumai untuk ke sekian kali ini. Jujur saya tak kuat menonton hingga tuntas. Tak kuat saya melihatbdan mendengar tangisan anak anaknya yang selamat sementara orang tuanya terjepit mobil yang dikendarainya di bagian belakang truk yang diseruduk.


####  



Kamis, 17/12, minggu lalu saya menjajal tol Pekanbaru ini menuju kota Duri pada siang hari, saat terik matahari sedang puncak puncaknya. Jujur saja saya nggak berani ngebut di toll ini. Kecepatan saya usahakan disekitaran 80 km/jam sesuai saran yang ada dianjurkan, antara 60 - 80 km/jam.


Selain ini tol baru, yang saya belum tahu kontur jalannya, juga disebabkan saya mengendarai mobil dalam suasana terik. Saya sadar saya nggak mungkin mengendarai dengan kecepatan tinggi karena takut bila ban mobil pecah, karena kontur jalan yang saya belum tahu serta teriknya matahari siang itu yang bisa saja menyebabkan ban cepat panas. 


Saya nikmati sepanjang jalan tol ini hingga keluar di KM 67 Pinggir menuju kota Duri. 


Esoknya Jumat siang saya kembali ke Pekanbaru dengan rute yang sama, jalan yang sama arahnya saja yang berbeda. Karena sudah merasakan kondisi jalan ini kemarin, sengaja saya jajal dengan kecepatan agak tinggi, antara 100 - 110 km/jam. Dengan kecepatan ini, saya bahkan diminta Bundo untuk mengurangi kecepatan. Padahal dia tahu bahwa kalo di jalan tol Bakauheni Palembang kadang kecepatan saya bisa lebih, tapi nggak pernah "dicubit sayang" seperti kemarin. 


Dengan kecepatan saya yang sengaja saya jajal antara 100 - 110 km/jam ini, bukan saya niatkan untuk ngebut, karena saya nggak juga diburu waktu ke Pekanbaru, tetapi hanya ingin merasakan sensasi tol ini saja seberapa aman dengan kecepatan tersebut. Namun ternyata masih banyak mobil mobil lainnya yang melewati mobil saya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ada yang cc nya di bawah Terios saya, maksain banget dengan kecepatan di atas 120 km/jam siang itu, dalam kondisi terik matahari yang cukup tinggi. 


Jujur saya akui, dibandingkan akhir tahun lalu saya menjajal Tol Sumatra dari Bakauheni yamg masih gratis dari Terbanggi hingga Jakabaring, serta baru dibukanya tol Cipali beberapa tahun yang lalu, yang juga saya lewati saat ke Ngawi, kondisi tol Pekanbaru Dumai jauh lebih baik. Jalannya lebih mulus, beraspal dan tidak banyak yang bergelombang, "sambungan" antara gap jalan/jembatan juga  relatif lebih halus dibandingkan yang ada di tol layang cikampek atau cipali saat itu. 


Dengan kondisi yang saya sampaikam di atas, sejatinya tak banyak kecelakaan yang terjadi seandainya prilaku pengendara yang taat akan aturan. Sadar bahwa tol itu dibuat untuk memperlancar perjalanan, bukan buat kebut kebutan, apalagi menjajal batas maksimal kendaraan. Padahal di beberapa spot di tol ini jelas terpampang dan gampang dibaca tulisan: "Keluarga MENUNGGU Anda Di Rumah bukan di Rumah Sakit".

Saya yang membaca sekali, sangat sadar bahwa himbauan seperti ini tentu sudah berdasarkan kejadian kejadian yang ada selama tol ini beroperasi. Sudah banyak kecelakaan yang ada, sudah banyak nyawa yang melayang, sudan banyak keluarga yang kehilangan sanak famili, janganlah ditambah lagi. Mari perbaiki cara kita berkendaraan di jalur tol ini. Berhentilah ugal ugalan di jalan tol, berhentilah adu balap di jalan bebas hambatan ini. Sadarlah, jangan menjadi penyebab kecelakaan bagi diri sendiri apalagi orang lain. 


Dan harus diingat juga dalam  mengendarai mobil sejatinya sadar juga akan cc mobil yang dibawa. Janganlah yang cc rendah dipaksa balap mendahului mobil yang cc lebih tinggi. Kasihan mobilnya, meskipun mobil tersebut keluaran terbaru sekalipun.

Selasa, 22 Desember 2020

Saat Ayah berkata, "Jaga Dia, Dan"

 Saat Ayah berkata, "Jaga dia, Dan"





Dahulu, saat semester 5 segera dimulai namun uang utk bayar kuliah tak kunjung ketemu. KRS sudah kuisi bersama teman-teman di kampus. Teman-temanku mengambil SKS sesuai dgn bobot nilai mereka berkisar 24 sks, sementara aku tak berani jadi aku kurangi sampai 19sks.  Tadinya malah mau 11 SKS saja, tapi khawatir akan banyak pertanyaan  dari dosen pembimbing nanti. Sejujurnya aku takut Ayahku tak cukup uang utk membayarnya. 


Setiap kali moment mengisi KRS kejadian seperti ini bukan kali pertama. Hampir tiap ngisi KRS hati ini selalu harap-harap cemas bisa bayar atau ngga. Tapi kali ini Ayah makin lemah, makin sering murung mungkin karena makin tua dan sakit-sakitan. Dan makin tak berani aku minta bayarkan uang kuliah. Waktu terus berjalan seolah  sang waktu tak peduli bahwa aku butuh perpanjangan waktu, agar bisa berusaha pinjam uang sana sini ke teman2 yang hidupnya tajir. Namun sampai akhirnya seorang teman senior berkata, "Mestinya lo  jgn ngisi KRS dulu ri, lu isi form cuti ke kampus aja, drpd masa studi lu abis kl ternyata lu ga bayar". 


Batas akhir bayaran pun sudah tiba, tapi aku tetap ke kampus ngumpul sama teman2 agar  penat ini hilang. Sudah fixed semester ini ga bisa lanjut kuliah dan bakal dpt gambaran nanti dpt nilai E semua alias ga lulus, krn sudah terlanjur ngisi KRS, tapi yah sudah qadarullah mau diapain lagi. 


Pulang dari kampus, ada tukang koran di halte yg masih buka, iseng2 beli koran yg paling banyak lowongannya. Karena koran itu murah jd masih sanggup aku membelinya. Sesampai dirumah, akupun sibuk bikin surat lamaran kerja. Bermodal ijazah SMA plus transkrip nilai kuliah. Nekat, mending 6 bulan ini dipakai buat kerja saja. 


Ternyata Ayah diam-diam memperhatikan, dan dia bertanya. "Apa yg kau buat ri?"

"Bikin lamaran kerja Yah"

"Halah, janganlah.. kau kan masih kuliah"

"Yah, maaf ya Ayah.. batas akhir bayaran semester ini udh tutup, jd 6 bulan ini riri terhitung cuti, drpd ga ngapa-ngapain dirumah ri kerja aja sekalian ngumpulin duit buat bayar KRS semester depan".

"Knp kau ga bilang, aku pikir msh panjang waktu buat bayaran", Ayah berkata dengan rasa sedih sambil memegang kepalanya, ciri khas Ayah kl lagi penat, dia mengusap-usap kepalanya.

"Maaf yah, riri tau Ayah lg ga ada uang makanya ri ga perlu ingetin ayah lg ntar ayah tambah pusing, lagi jg ga apa2 Yah, banyak kok temen-temen senior yi yg begitu, kl ga bisa bayaran mereka pada cuti. Ayah tenang aja yg penting nanti bakal lulus, cuma mesti sabar aja kita", ujarku sambil mengutak ngatik surat lamaran kerjaku tanpa menengok ke wajah ayah. 

Ayah terdiam, aku tak sadar bahwa di terdiamnya dia, dia sedang menangis, namun tangisan sunyinya tak mampu ia tahan hingga akhirnya dia nangis tersengguk. Lalu aku pun langsung memeluknya. Ayah berkata, " ayah menyerah nak, angkat tangan aku tapi ayah kasian lihat kau, ayah takut kalo kau kerja, kau malah jadi putus kuliah". 

Akupun makin erat memeluk Ayah, "InshaaAlloh ngga Yah, riri akan berusaha bagaimana pun caranya biar sampe lulus, mulai skrg yi ga akan ngerepotin Ayah lagi, kalo ayah ada rezekipun, itu buat Ayah aja, utk kebutuhan Ayah aja, obat Ayah atau buat beli telor dan beras aja. Ayah skrg ga perlu mikirin riri lg. Alhamdulillah dikampus pun buat kebutuhan kuliah dan makan sehari-hari, riri dibayarin sama Dana terus, dan si Toel, Ita ama Amut jg sering nolongin riri yah. Jd InshaaAlloh riri aman".ujarku menenangkan Ayah.

"Iya nak, akupun tau, udh lama ku tengok kau kalo ke kampus, pamit ke aku tanpa kau minta uang, tiap kali ku tanya kau jawab masih ada, tapi aku pun tak berani pula nanya, krn memang aku pun tak punya uang utk ku kasih ke kau bekal kuliah". Tangis ayah pun makin pilu.


Aku pun ikut menangis, terkadang aku ingin curhat ke Ayah, betapa kerasnya aku berjuang agar bertahan di kampus kadang kuliah seharian ga punya ongkos dan uang jajan utk makan. Tapi syukur Alhamdulillah punya sahabat baik-baik, terutama Dana. Dia tak perlu bertanya aku ada uang atau tidak, setiap pulang kuliah dia kadang memberi uang ongkos agar besok bisa ke kampus, hingga aku tak perlu minta ke Ayah. 


Suatu ketika Dana mengantar ke rumah dan ketika ia pamit pulang ke Ayah, lalu Ayah berkata, "jaga si Riri Dan", mata ayah berkaca-kaca. Seolah dia meminta tolong agar Dana mengurusku.


Dana, bukan orang kaya, ibunya penjahit, bapaknya berkebun. Namun dia orang yang baik, dia berusaha hidup hemat merantau dari Bangka, agar uang bulanannya terkadang dibagi dua utk aku. Padahal dia tau orangtuanya kerja keras bukan kepalang utk bisa mengirim uang bulanannya. Dana juga yg hadir setiap kali aku sakit, suatu ketika aku jatuh sakit dan harus dirawat, niatnya dia menjengukku di rumah sakit. Namun dia terkejut saat keluargaku semua pulang ke rumah dan menitipkan aku padanya agar berjaga di RS. Saat itu seumur hidupnya belum pernah mengurus orang sakit dan apalagi disuruh menginap di RS, namun entah karena kasihan lihat aku, dia pun menginap dan tidur di kursi tunggu rumah sakit. 


InshaaAlloh karena kesiagaan Dana lah, Ayah melihat, dan ingin segera aku menikah dengannya. 


Aku cuti kuliah 2 tahun, karena keasyikan bekerja sebagai copy writer dan design graphic di salah satu perusahaan asing. 2004 Dana dan aku menikah. Kami Lulus S1 di tahun 2005, kami wisuda S1 berbarengan, karena Dana pun dulu ikut cuti kuliah krn bekerja di sebuah perusahaan media.


Dan ketika kami punya anak ketiga. Dana memutuskan untuk membiayai aku kuliah S2. Dengan alasan yang membuat aku terharu, dia berkata, "Papa mau membiayai kuliah mama setinggi apapun, karena Papa menyesal dulu saat S1 Papa ga sanggup bayarin mama kuliah, sekarang InshaaAlloh papa sanggup, kuliahlah setinggi yang mama mau, papa bayarin, mama ga usah pusing kayak dulu nangis-ngangis tiap mau ngurus KRS". 


MasyaAlloh Tabarakallah, dititipkan sahabat seperti Dana, adalah hal yang paling merubah hidup aku yang dulu rasanya seperti sendirian dan tidak diprioritaskan oleh keluarga. Seperti yg dulu ayah selalu bilang, "keadaanlah yang membuat kami tidak bisa lagi mengurus kau Ri". 


Dulu itu setiap aku datang ke rumah saudara, selalu meresahkan mereka, karena saking seringnya minjam uang buat bayar kuliah. Walau ga pernah dikasih, tp tetap saja kehadiranku di rumah saudara, agak meresahkan. Cuma dekat Dana dan sahabat-sahabat kampusku saja yg mau menerima susahnya aku. Terimakasih untuk suamiku dan best friend ku semua Ade Rahmah, Marita, Ade Mutia Herlambang, kalian paling sering ngasih makan aku, dan nyelametin aku dari minta-minta 'remahan gorengan' ke tukang gorengan di halte kampus. Semoga Alloh subhanawata'alla membalas kebaikan kalian. 

Semoga Alloh subhanawata'alla menempatkan Ayah dan Mama rahimahullah di surga firdausNya. Aamiin Allohumma aamiin. 


Jangan pernah putus asa, karena Alloh subhanawata'alla selalu memberikan solusi dari setiap ujian.



Lubuak Bangku


 Lubuak Bangku


Rehat sejenak disini setelah bada zuhur tadi meninggalkan Harapan Raya Pekanbaru dan mampir silaturahmi di rumah sahabat saya sedari SD-SMA hingga sama sama kuliah di Padang, Ratna Dewi . Sampai di sini menjelang maghrib dan cuaca sehabis hujan, bersyukur masih dapat moment bagus dengan alam yang indah.


Di sini sudah lama sekali tidak mampir. Padahal dahulu sejak kecil tempat ini adakah transit terakhir bagi "pasisia" ketika akan masuk ke kota kota besar di sumatra Barat, menjelang subuh. Setelah sholat subuh baru bis bis ini berangkat sehingga ketika masuk di kota kota tujuan pagi hari atau menjelang siang. 


Dinginnya udara di sini jangan ditanyakan di saat berwudhuk. Bagaikan menggunakan air es. Penumpang umumnya menggunakan jaket tebal dan ada dipan besar sebagai tempat tidur yang disediakan oleh pemilik rumah makan bagi yang mau rebahan. Tang mau mendengarkan "rabab" di tengah malam ini pun ada sebagai hiburan. Rabab adalah alat musik tradisional ranah minang yang sekarang sudah mulai jarang dimainkan. 


#####


Back to laptop. 

Di RM Ranah Minang ada dua tempat makannya. Satu menyediakan masakan padang dengan lauk pauknya dan satu lagi khusus menyediakan sop, soto dan mie rebus, khusus masakan panas. Nah pilihan kami pada tempat yang kedua ini. Tempat nya terpisah memang. 


Ada mushola dan kamar mandinya di bagian belakang. Dan saya mendahulukan sholat di sini, sementara istri dhifa dan Ama sudah dahulu memesan sop, soto dan mie rebus.  


Dengan makan tiga porsi soto, satu porsi sop dan mie rebus, plus satu bungkus kerupuk kulit, tanpa nasi karena nasi kami bawa dari rumah, total semuanya yang dibayarkan Rp. 78.000. Harga yang sangat murah di kantong. Sang Bundi kaget, ternyata memang makan di sini nggak mahal. Padahal sop dan sotonya uenak, daging soto dan sop nya banyak. Kami rekomendasi buat sahabat sahabat yang menempuh jalur ini, makan lah di Lubuk Bangku ini. Suasananya sangat nyaman, sejuk, udaranya dingin dan kulinernya mantap. 


Selesai makan kami lanjutkan perjalanan ke Kapau yang tertempuh sekitar satu setengah jam. Jalan santai saja. Menikmati suasana malam di kota payakumbuh yang rame. Sate danguang danguang sementara kita abaikan dahulu ya... 

Ada momennya nanti. :)


Sabtu, 19 Desember 2020

Trip To Bukittinggi (Part 4)


 Trip to Bukittinggi: Via Tempino 

(Part 4)


Selepas sholat jumat yang masjidnya terletak di sebelah kanan RM Umega ini, ternyata suasana sudah rame sekali di depan rumah makan ini. Dan ternyata sudah terparkir dua bus NPM yang salah satunya kami lewati bada subuh tadi di daerah Tempino. Dua bus dengan penumpang yang sepertinya full seat nampak kotor bagian luarnya, yang tak kalah sama dengan terios kami. Hujan selama perjalanan yang sangat jauh ini membuat hampir seluruh badan mobil kotor, bercampur antara debu dan tanah yang menempel. 


Tak lama berselang saya pun membayar makan siang kami dan pamit sama bapak yang melayani, yang selalu senyum dan ramah. Lumayan lama kami rehat di sini, satu setangah jam lebih kurang. Total makan dengan 3 porsi sato nasi, plus seporsi soto saha dan teh telur hanya 108.000 saja. Murah sangat. 


Terios perlahan pamit dari RM ini langsung menuju SPBU yang juga milik RM Umega ini. Posisiny ada di seberang berdekatan dengan Hotel milik orang yang sama. 


Total pertamax yang "diminum" Terios sejumlah 42 liter Rp 290.000 dengan jarak tempuh sejauh 569 km. Alhamdulillah hitungan kawan kawan Jalinsum masih tergolong irit. Masih bisa 1:13.


Keluar dari SPBU kami nikmati kembali perjalanan menuju kampung halaman dengan penuh semangat. Jalanan masih lurus hingga kami melewati kota Pulau Punjung. Jembatan nan indah, jembatan baru yang berdiri kokoh di sebelah kanan jembatan lama kami lewati berwarna merah dan di bawah mengalir Sungai Dareh. 


Di sebelah kiri jembatan lama ini, di pinggir Sungai Dareh  terlihat masjid. Dan di sekitar masjid tersebut almarhummah ibu saya dilahirkan. Di sini masih banyak kerabat "bako" ibu tinggal. Dan rumah tempat ibu dilahirkan masih ada, masih terjaga walaupun sudah tua, sudah tak ada lagi yang tinggal di sana. Trip beberapa tahun yang lalu, saya dan Fera Indrawati mampir di sini, bersilaturahim dengan semua keluarga besar yang ada. Kami diantarkan ke rumah lama ini, rumah tempat ibu lahir dan dibesarkan. Banyak kisah yang diceritakan yang saya dapatkan di sini, baik ketika nenek saya berjodoh di sini, membina keluarga dengan seorang buya tokoh muhamadyah pada masanya, melahirkan ibu saya sebagai anak sulungnyq, serta harus kembali ke Tanah Datar ketika kakek sudah "dicari cari" oleh anggota PKI saat itu. Adik adik sepupu ibu masih banyak di sini, bahkan ada juga yang merantau ke Martapura Sumsel. Ibu dulu bangga bercerita tentang saudara saudaranya yang ada di Pulau Punjung ini. 


Selepas jembatan, kami berhenti sejenak di pasar membeli buah dan pengen juga mampir di keluarga bako ini, tetapi apalah daya, kami dari daerah red zone, sangat riskan untuk singgah dalam pandemi Covid ini. Apalagi kami belum sempat mandi sejak berangkat kemarin. 


Hanya sebentar di sini, kami lanjutkan perjalanan lagi. Lika liku jalan di antara bukit bukit yang indah kami nikmati. Alam yang indah, khas Sumbar sudah di depan mata. Hijau dimana mana. Tak banyak kendaraan saat itu, tetapi bus bus menuju tanah Jawa sudah banyak kami temui semenjak meninggalkan Rumah Makan Umega tadi. 


Di pertigaan Tanah Badantuang kami belok kanan menuju Sijunjung. Jalan ini sudah hapal, karena seringnya kami lewati di setiap trip ke ranah minang. Bahkan jalan jalan rusaknya pun sudah hapal. Namun kondisi jalan rusak tahun ini makin parah, sepertinya sejak setahun yang lalu belum ada perbaikan. Terutama yang berbatan menuju Sitangkai Lintau. Andai jalan malam dalam keadaan hujan, sangat berisiko. Harus ekstra hati hati, terutama yang ground clearance rendah seperti sedan. 


Jalanan menuju kota Batusangkar dari sini sangatlah berkelok kelok, baik ditanjakan ataupun di turunannya. Mengocok ngocok isi perut. Tikungannya sangat tajam di beberapa spot. Harus penuh kesabaran dan kehati-hatian. Tetapi hutan yang rimbun, suasana alam yang asri sangat menghibur. 


Selama dalam perjalanan istri sibuk mencari penginapan buat semalam. Di Kota Budaya ini kami rencanakan rehat dan membersihkan diri sebelum masuk ke rumah di Kapau. Andai diteruskan, kami bisa saja sampai menjelang maghrib, tetapi kami yakin, kami takkan sanggup untuk membersih diri sesampai di sana dan siap bertemu dengan mama dan sanak keluarga. 


Di Yoherma Hotel Batusangkar dengan tarif Rp 200.000 akhirnya kami menginap. Sampai di sana sekitar jam 4 sore.


Kami langsung mandi dan berganti pakaian, rehat sejenak sambil menunggu waktu sholat tiba. Kebetulan didekat hotel ini ada masjid besar. Saya sholat di sana dan Dhifa serta Bundanya sholat di hotel berjamaah. Sholat jamak. 


Dan di depan hotel ada restoran Kubang. Makan malam kami di sini. Alhamdulillah makan di sini dengan menu antara lain nasi goreng, dua porsi soto nasi, martabak mesir jumbo dengan telor bebek, teh telor dan teh manis hangat. 


Setelah makan kami langsung tidur. Total perjalanan dari Ciledug - Batusangkar sekitar 30 jam, solo driver. Dan ini adalah capaian terbaik selama ini dalam mudik ataupun kembali ke rantau. 


#####


Sabtu 12 Desember pagi, kami bertiga sarapan di hotel dengan menu nasi sop. Alhamdulillah Dhifa sangat senang di sini. Dari lantai 3 hotel tempat kami sarapan, dia asyik melakukan tugas photography nya. Hahaha, belajar menjadi photographer. :) 


Setelah semuanya mandi pagi dan rapi, kami menuju Kiambang dengan niat mencuci mobil di sini. Biar sekalian bersih semuanya sampai di Kapau nanti.


Lumayan lama mandinya terios di sini. Puas dengan cara kerjanya. Mobil benar benar dibersihkan, meskipun bagasi masih penuh barang. Dhifa makan lagi di kantin car wash ini. Dua porsi indomie telor dia habiskan. 


Sementara saya dan Nova jalan jalan memuaskan mata sekalian berjemur di sepanjang jalan kiambang ini. Matahari pagi yang cerah, udara segar, pematang sawah dan gunung Merapi yang terbentang dari kejauhan, gagah menjaga ranah Minang.


Setelah selesai mencuci mobil kami balik ke hotel mengambil barang barang yang tertinggal di kamar. Kami pamit kepada resepsionis dan penjaga yang ramah yang membantu kami. 


Selanjutnya kami mampir sebentar di V Kaum di rumah sanak famili dan berlanjut makan mieso yang cukup terkenal di daerah ini. Sang Bundo sangat suka dengan mieso, kuliner asli minangkabau yang jarang ditemui lagi, tergerus oleh baso dan mie ayam. 


Oh ya sebelum sampai di V Kaum, kami mampir di jalan selepas lampu merah pincuran tujuah, membeli apa yang dibutuhkan. Dan di samping warung tersebut ada yang menjual baso cryspi. Saya tertarik dan memperhatikan dengan seksama karena banyak yang membeli. Ternyata yang menjual adalah orang Jawa yang berasal dari Wonogiri. Sengaja merantau ke ranah minang karena ada kakaknya yang menjual bakso jufa di sini dan dia menjual baso dengan varian baru. Basonya lumayan besar, digoreng dengan bumbu cryspi dan di jual 1.000 per buahnya. Makannya nanti dicampur dengan kuah kacang, plus kecap jika dibutuhkan. Kami membeli di sini enam buah buat makan di jalan dan ternyata memang uenak. Inilah kekuatan hijrah atau merantau. Orang minang merantau ke Jawa dan orang Jawa banyak pula yang merantau ke minang. Inilah asimilasi Indonesia ke depan.


Menjelang tengah hari kami lanjutkan perjalanan kami ke Kapau. Suasana alam yang indah sepanjang jalan kami nikmati dengan suka cita. 


Sejatinya zuhur kami niatkan di masjid Quba, tetapi waktu belum masuk kami lewatkan. Masjid Quba, masjid yang indah di ketinggian bukit di tengah sawah yang terbentang sepanjang mata memandang. Masjid ini di pinggir jalan, dan sekarang area parkir mobilnya sudah lebih luas. Ada lahan baru di bagian bawah mesjid. Keren deh. 


Gerimis yang turun dan awan gelap terpampang menjelang Tabek Patah memastikan kami tidak jadi mampir di sini. 


Akhirnya kamisholat zuhur di daerah Baso. Masjid indah yang anggun di sisi kanan jalan, yang ternyata plafonnya sudah memakai PVC, seperti yang juga kami pasang beberapa bulan yang lalu ketika gypsum yang terpasang sudah mulai retak di beberapa titik.Masjid ini baru saja direnovasi, tempat wudhu nya sudah modern, airnya bersih dan dingin bak air es siang itu. Karpetnya juga baru. 


Selesai sholat kami lanjutkan perjalanan hingga sampai di rumah di Kapau jam setemgah dua. Kami sampai dengan kondisi yang sudah bersih, mobil juga dalam kondisi bersih. Kami siap bertemu dengan mama dan sanak famili dalam kondisi bersih meski tetap menjaga jarak aman. 


Semua barang diturunkan dengan penuh semangat. Sebagian ada yang dimasukan ke rumah induk, sebagian di paviliun tempat kami mengisolasi selama dua hari, sabtu dan minggu.


Kapau, 21 Desember 2020

Jumat, 18 Desember 2020

Duri - The Oil City

Alhamdulillah dikunjungi sahabat Wan Alfian di sela sela kesibukannya hari ini di komplek Krakatau CPI Duri. Masuk ke sini agak ketat, ternyata. Dan kami dijemput di gate 3 dan keluar pun diantar di gate 2 oleh tuan rumah yang baik hati. Sementara sahabat saya bisa masuk karena ada "kartu sakti", bisa agak bebas masuk ke sini. 



Sesuatu banget bisa masuk dan mampir bertamu di komplek Caltex ini, setelah hampir dua puluh tahun rasanya tak pernah ke sini. 


Suasana agak berbeda dibandingkan dahulu. Perumahan ini sepi, tak banyak penghuni. Padahal kompleks ini sangatlah asri. Rumahnya tak ada pagar, punya halaman yang luas, pepohonannya rindang, udaranya segar. Rapi dan bersih, tertata asri. 


Di tengah pandemi ini memang harus bisa menahan dan membatasi diri. Berkumpul atau didatangi, mendatangi pun harus tetap jaga diri, tetap harus jaga protokol kesehatan diri sendiri. 


Alhamdulillah, saya sejak datang kamis kemarin dan balik lagi siang tadi banyak hal yang telah berubah di Kota Duri, terutama sepanjang jalan pertanian dari ujung hingga ke jalan sudirman, banyak toko/ruko berdiri. 


Andai tak terikat waktu dan pandemi mau juga berlama lama di sini. Menyapa sahabat dan kawan kawan serta sanak famili. InsyaAllah lain kesempatan di ulang lagi ke sini. Apalagi jarak antara Pekanbaru Duri sekarang sudah sangat singkat. Tak ada lagi keraguan berlama lama di jalan, menghabiskan waktu hampir empat jam bahkan lebih kadang. 


Duri, the Oil City. Minyak mu 1.000.000.000 barel lebih sudah digunakan untuk membangun NKRI, tetapi geliat pembangunan mu sangat lambat sekali. Kondisi yang ada sekarang seharusnya ada puluhan tahun yang lalu. 


Seharusnya kondisi Duri setidaknya mirip dengan komplek CPI dari dulu hingga kini. Tertata asri bak perumahan di luar negeri ataupun komplek super elite yang ada di Jakarta dan sekitarnya saat ini. Sayang buat NKRI jauh lebih kau senangi, atau ada segelintir yang masuk ke kantong kantong pribadi. 


Bye bye Duri, insyaAllah akhir tahun depan bisa datang lagi. Dan semoga Koh Rona ini segera pergi.

Kamis, 17 Desember 2020

Trip To Bukittinggi (Part 3)

 Trip to Bukittinggi: Via Tempino

(Part 3)



Selepas mengisi BBM, jalanan masih sama seperti ketika keluar dari exit tol Jakabaring, tersendat sendat karena banyaknya truk yang jalan malam ini. Ini kesempatan bagi mesin mobil untuk kerja agak ringan dibandingkan ketika di tol tadi. Alhamdulillah jarak tempuh 362 km tertempuh dalam waktu 4 jam, sudah termasuk rehat hampir setengah jam di rest area KM 277.


Lumayan harus bersabar jalan malam ini, tetapi semuanya terhibur dengan tertibnya lalu lintas di Palembang malam itu. Hampir tak ada yang zig zag ataupun nyalib mendadak seperti di Jawa umumnya, entah di tol ataupun di jalan arteri ketika jalan tersendat. Kecepatan antara 30-40 km per jam. 


Melintasi jalan raya palembang betung sudah bisa agak bernafas sedikit, kadang bisa agak dalam juga menekan gas nya, tetapi tetap harus hati hati. Truk truk yang berjalan malam ini lumayan banyak, harus hati hati dalam menyalibnya. Kadang antrian mereka berjalan bisa tiga truk, membuat kita harus hati hati dalam mengambil timing kapan akan mendahului mereka. 


Jalan malam itu sangat ramai. Tiada keraguan akan ada gangguan ketika jalan malam sepanjang jalintim ini. Tadinya ingin beristirahat di daerah Betung, menginap semalam esok pagi gabis subuh langsung jalan lagi. Tetapi melihat ramenya jalanan, dan stamina pun masih oke, kami akhirnya tetap jalan saja. Yang penting terios sudah full tank, karena memang banyak SPBU yang tutup jika jalan malam di daerah Sumsel Jambi ini. 


Setelah Dhifa terjaga, kami akhirnya mulai mencari rumah makan yang aman dan nyaman serta bisa buat rehat serta sholat. Pilihan akhirnya jatuh pada RM Pagi Sore yang berada di Sungai Lilin, sebelah kiri jalan. 


Sudah ada referensi sebelumnya melalui bisser mania yang saya tonton dari youtube. Menjelang pulang kampung saya selalu update info jalan yang akan ditempuh melalui Youtube dan ini sangat bermanfaat karena banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika menempuh jalan tersebut. 


Di RM Pagi Sore ini biasanya tempat singgahan bus NPM baik yang dari ranah maupun dari rantau. Sementara di bayung Lencir, RM Simpang Raya adalah tempat singgahan bus ANS dan MPM. 


Kami sholat jamak qashar di sini, berjamaah. Alhamdulillah kondisi masih sepi, belum ada bus yang masuk. Suasana yang bersih, air nya bening, serta masakannya juga uenak. 


Buat Dhifa bundanya pesankan sop Iga, karena butuh makanan hangat. Dan saya tertarik dengan gulai ikan mas yang masyaAllah ukurannya lumayan besar dan warna gulainya kuning, sangat menarik. Sementara sang bundo memilih asam padeh ikan gabus, atau ikan rutiang bahasa minangnya. Seporsi ikan tadi dengan nasinya 36.000 sementara sop Iganya dengan nasi harganya 61.000. Sop Iganya dua potong dengan ukuran yang lumayan besar. Dhifa hanya sanggup makan sepotong daging iga tersebut dengan nasi tambah. Yang sepotong sisanya buat kami berdua. Dan memang uenak. 


Dengan harga segitu memang agak mahal terasa, tetapi dengan kualitas rasa dan tempatnya ala restoran seperti ini menurut saya masih wajarlah. Bertiga kami makan dengan tambahan tambahan reg telor dan teh manis, totalnya 170.500 rupiah. 


Ada lebih satu jam kami rehat disini. Saya mendapatkan info dari kasirnya bahwa bus NPM dari Jawa biasanya masuk jam 12 malam, sementara yang dari ranah masuk sekitar jam 2 dini hari. 


Menurut saya ada baiknya kita berjalan lebih dahulu dari bis bis ini, karena speed mereka kalo jalan malam jauh lebih dari kita. Jadi ketika nanti di jalan bisa bertemu sebagai teman dalam perjalanan. 


Jam 11an kami melanjutkan perjalanan, meskipun masih banyak kendaraan pribadi yang bertahan istirahat di RM ini.


Lebih kurang satu jam jalan akhirnya mata ini rehat sejenak di SPBU yang tutup, tetapi banyak truk dan kendaraan yang istirahat di sini. Hampir seluruh area di sini penuh oleh kendaraan. Saya kebagian di bagian luar, tempat yang tersisa dan juga biar gampang keluar karena memamg niatnya hanya tidur selayang saja. 


Ada setengah jam rasanya tertidur di sini dan ketika mata terbuka melintas dengan kecepatan tinggi bus ANS.  Semangat saya kembali menyala, saya yakin di belakangnya masih ada vus ANS lainnya. Lagian, RM Simpang Raya tempat mereka ngumpul nanti sudah tak jauh lagi. Mereka akan konvoi menuju Terminal Solok dari sana. 


Satu jam lebih berjalan, rasa penasaran saya muncul, pengen tahu suasana RM ini. Saya putar kemudi ke sebelah kanan dan benar ternyata sudah ada empat bus ANS yang ada di sana. Tetapi nggak tahu apakah ini dari jawa atau da rantau karena memang biasanya mereka ngumpul di sini semuanya dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan waktu sudah jam dua an lewat. Akhirnya sang bundo memaksa saya untuk istirahat di sini, habis subuh nanti jalan lagi katanya. Permintaan ini saya turuti, karena tak enak hati untuk menolaknya. 


Jam 3.45 alarm Hp saya berbunyi, lelap tidur buyar sudah berganti bugar. Tidur lebih dari satu jam suda lebih dari cukup. Satu butir Vitalong C saya minum sebelum mobil bergerak meninggalkan rumah makan ini. Alhamdulillah sekali jalan malam ini, dua rumah makan fenomenal bagi bisser mania saya jajali. Setidaknya saya sudah tahu kondisinya. Berbeda dengan RM Pagi Sore, RM Simpang Raya ini selain oleh bus juga banyak "dihuni" oleh truk truk yang rehat malam. Dan saya diarahkan oleh petugas parkir tadi malam di area truk truk ini. 


Belok kiri di simpang tempino kami adzan subuh mulai terdengar. Sahut bersahut di lagi ini. Tadi kami sempat di dahului oleh satu bus NPM dan saya berusaha mengejar dengan harapan bisa sholat subuh bersama penumpangnya sekalian saling sapa. Namun ternyata, akhirnya kami memilih di salah satu rumah makan truk, yang musholanya ada di ketinggian dan nampak jelas di sisi kiri jalan. 


Kami mampir di sini karena kebutuhan hajat pagi yang tak bisa ditolak. Sudah saatnya harus berhenti. Bertiga kami sholat berjamaah di sini.

Selepas sholat subuh perjalanan dilanjutkan lagi. 


Jalan sedikit rusak namun tak terlalu parah kami tempuh, namun secara keseluruhan sudah merupakan jalan cor yang baru jadi. Tak lama berjarak kami lewati NPM di sisi kanan jalan yang rehat dan penumpangnya menunaikan  subuh.


Secara keseluruhan jalannya bagus. Saya menikmati jalanan ini, jalanan yang pertama kalinya saya tempuh. Kalo tak salah di Muaro Tebo, jalanannya sudah sangat bagus. Jalannya lebar sekali, tanpa pembatas. Kami masuk daerah ini sekitar jam 8 an lewat. Satu jam lagi akan masuk di lintas tengah sumatra. 


Alhamdulillah menjelang jam 10 kami sudah sampai di pertigaan Muaro Bungo lintas tengah sumatra. Dan jalan lurus itu sudah tampak di depan mata. 


Agak berpacu dengan waktu, menjelang jumatan, gas agak dalam sata tekan. Sudah lelah juga kaki dengan kecepatan 50/60 km per jam, dan saatnya agak diluruskan sedikit kaki kanan ini dengan kaki kiri rehat tanpa terlalu sering menginjak kopling. 


Alhamdulillah, semakin lama semakin terasa aroma kampung halaman. Perbatasan makin terlihat dan nikmatnya soto padang yang kami inginkan menjelang siang ini makin terbayang. Rumah makan Umega adalah tempat istirahat yang kami inginkan.


Jam 11.25 wib akhinya terios sudah perkir di halaman rumah makan ini, tepat di pintu masuknya. Sengaja saya memilih disini, karena wikayah ini adalah wilayah kekuasaan oara bus sumatra. Karena mereka belum ada yang datang, saya kasih isyarat bahwa menjelang siang ini saya bisa datang lebih awal dari mereka. Hehehee


Ada dua kendaraan pribadi lainnya yang berada bersama kami saat itu. Suasana di dalam RM ini masih sepi tetapi makannya sudah tersedia. 


Pelayanan sangat ramah, kami disambut dengan senyuman. Ditawarkan makanan yang prasmanan atau hidangan. Tetapi karena kami pengen sekali makan soto Padang nya yang terkenal, kami lupakan prasmanan yang ditawarkan. 


Tiga porsi nasi soto kami pesan, habis tuntas dan akhirnya sang bundo minta tambahan semangkok lagi sotonya saja. Kalo dah begini, apabila sang bundo minta lagi,  saya akui memang ssotonya luar biasa. 


Dan pelayan yang melayani kami sangat senang, sambik berkata dengan senyuman, "Kami sanang pak, jika makanan kami bersih seperti ini. Kami senang karena makanan kami disenangi oleh pelanggan." 

Nah, ini sama konsepnya dengan #DapurBundoNova yang kami tawarkan ke pelanggan. Awak suko, urang pun suko. 


Alhamdulillah juga, saya bisa melaksanakan sholat jumat di sini. Masjid tetap menjalankan prokes pada bagian dalam masjid, namun pada bagian terasnya sudah rapat karena banyaknya jamaah.

Trip To Bukittinggi (Part 2)

 Trip to Bukittinggi: Via Tempino

(Part 2)



Keluar dari lambung kapal Terios kami berjalan perlahan karena antrian truk yang berjalan beringsut. Alhamdulillah menjelang masuk ke Bakauheni gelombang laut relatif tenang sehingga kapal dapat dengan mudah bersandar. 


Kami berlabuh di dermaga baru yang relatif dekat menuju akses keluar pelabuhan. Agak lambat terios saya jalankan karena kami sangat menikmati laut yang terpampang di sebelah kiri jalan. Seolah tak puas puasnya memandang keindahan alam sore itu. 


Selepas pintu tol barulah saya menekan gas lebih lebih dalam. Menyusul fortuner hitam plat L yang dikemudikan oleh teman ngobrol saya di kapal tadi. Mereka orang batak, suami istri dan seorang anak bujangnya, yang akan menuju Kota Medan, sama sama memilih jalintim, namun mereka akan terus ke Jambi, Pekanbaru dan Medan. Mereka dari Surabaya. 


Ketika ditanjakan, saya klakson mereka minta izin mendahului. Beberapa km fortuner tersebut masih mengiringi saya dari belakang, namun lambat laun tak lagi terlihat. 


Sore itu saya sangat menikmati suasana perjalanan. Saya teringat mudik tahun lalu namun suasananya sedikit berbeda. Kalo tahun lalu, kami lalui jalan ini masih tetap sama hingga ke Palembang, namun itu menjelang subuh dari Bakauheni. Subuh kami di KM 33 dan sampai di sana sebelum adzan berkumandang. Komposisi kami masih tetap sama, seperti saat ini, bertiga. 


Namun tahun kemarin itu suasana rest area nya sangat terbatas, ala kadarnya saja. Namun saat ini hampir semua rest area yang kami temui sudah bagus bagus. Ornamen bangunan memiliki ciri khas daerah masing masing, baik yang di Lampung maupun yang di Sumsel. Sayang suasana masih relatif sepi jika kita bandingkan dengan jalur tol Jawa. Namun saya yakin suatu saat nanti, pasca pandemi Covid-19 ini akan berubah, apalagi bila jalur tol ini terus bertambah. Apalagi kalo dilihat kecendrungan bus bus sekarang lebih rame dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Armada bus Sumbar-Jawa sekarang terus bertambah, baik dari PO ataupun jumlah armadanya. Rata rata armada keluaran terbaru. 


Beberapa kali kami di jalan diterpa hujan, baik yang kecil maupun yang deras sekali, sehingga kendaraan harus menyalakan lampu dengan kecepatan rendah-sedang. Keselamatan adalah hal yang utama, jangan sampai terjadi tabrakan ataupun kecelakaan. Saya pribadi dalam kondisi huja lebat lebih suka menyalakan "hazard lamp" hingga kondisi aman. Banyak juga truk atau kendaraan pribadi yang terpaksa berhenti di bahu jalan di bawah jembatan penyebrangan, menunggu redanya hujan. Semuanya karena jarak pandang yang sangat terbatas oleh derasnya hujan. 


Oh ya, sangat diperhatikan kondisi jalan yang sedang dalam perbaikan, di beberapa titik ada yang berlobang dan bergelombang. Jangan terlalu ngebut di jalan ini, berbahaya. 


Yang perlu diperhatikan di jalan tol menuju Palembang dalam waktu dekat ini sbb:


1. Di km 90 arah palembang. Ada jalan rusak, agak panjang, dan penyempitan jalan. Terlebih khusus harus ekstra hati hati kalau jalan malam.


2. Di km 248 - 252, jalan rusak,  berlobang hampir sepanjang  4 km.


Semoga kondisi jalan ini segera diperbaiki oleh pengelola jalan tol menjelang libur natura yang tinggal beberapa hari lagi . 


Dalam perjalanan hingga menjelang exit tol Jakabaring Palembang saya punya rekaman videonya. Durasinya lumayan lama, lebih dari saty jam. Yang membuat saya takjub adalah ketika perubahan waktu antara sore dan malam hari, saya punya liputan video yang sangat indah. Alam yang berwarna biru muda nan indah terekam dalam video tersebut di tengah gerimis. 


Oh ya, kami sempat istirahat sebentar di KM 277. Hampir setengah jam rehat di sini, meluruskn otot dan buang air kecil di sini. Tersisa lebih kurang 90km lagi menuju pintu tol, sementara BBM masih tersisa 3 bar lagi. 


Tadinya mau ngisi disini, tetapi saya teringat bahwa selepas pintu tol nanti ada SPBU, dimana tahun lalu saya juga mengisi BBM di sini. Tiga bar masih cukup untuk sampai di sana. 


Jam 18.30 kami keluar pintu tol, dan saya rehat lagi sebentar sekedar buang air di masjid yang ada lepas pintu tol Jakabaring ini. Saat itu tersisa satu bar. Tadinya mau sholat di sini, tetapi istri dan anak masih tertidur. Akhirnya lanjut perjalanan hingga ke SPBU tempat kami mengisi pertamax sebanyak 41.80 liter dengan biaya sejumlah 290.000. Tadinya mau ngisi dengan pertalite, tetapi antrian lumayan panjang akhirnya milih pertamax biar cepat. 


Sehabis pengisian dengan pertamax, saya nol kan speedo meter A, dengan maksud ingin mengetahui seberapa jarak yang tertempuh hingga kembali sisa satu bar lagi. 


Di samping itu, juga sebagai persiapan dan antisipasi kelangkaan BBM selama menempuh perjalanan malam di Sumsel Jambi yang SPBU nya banyak yang tutup di malam hari. Nah pengisian BBM di ujung toll sumatra ini adalah pilihan yang sangat tepat. Hitung hitung kalo full bisa amanlah ntuk 300 Km ke depan.

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...