Minggu, 08 Mei 2022

Ama



Kamis 21 April 2022, saat saya membaca doa zikir sore, terdengar HP Bundo berdering. Bundo yang lagi di dapur mempersiapkan 'pabukoan' langsung mengambil HP nya yang ada di kamar. Ternyata yang menelpon adalah Ama. Ama adalah panggilan Nova dan adek adeknya terhadap orangtua mereka. 


Saya yang dah selesai berzikir disamperin si bundo. Yang langsung duduk di samping saya dengan tetap menerima telpon dari ama. Saya hanya mendengar pembicaraan mereka. 


"Bilo terakhir sekolah?", tanya Ama. 

"Jumat ma", jawab Nova

"Tuh Jumat malam bisa barangkek?", tanya Ama lebih lanjut. 

"Antahlah ma. Tanyoan ka Dandi dulu ma", jawab Nova. 

"A yo, tanyoan lah dulu", harap Ama. 


Saya agak tersentak juga dengan harapan Ama ini. Begitu harapnya ama akan kami untuk segera pulang, sementara kami bertiga di rumah masih dalam kondisi flu dan batuk berdahak. Stamina belum fit. Tapi menunda pulang tentu akan mengecewakan Ama. 


"InsyaAllah kita lihat esok saja. Semoga esok sudah makin baik", pesan saya pada si Bundo. 


#####


Jumat pagi, Bundo sudah mulai berkemas. Imam sudah diminta menyiapkan segala keperluan baliknya ke pondok. Semuanya sudah harus ready dalam koper yang akan dia bawa nanti ke Ponorogo. 


Rencananya sabtu pagi kami akan berangkat, setelah sholat subuh. Saya yang masih flu dan batuk, dengan berat hati memutuskan untuk tidak ke kantor lagi. Tak enak hati sebenarnya. Tapi daripada nanti menularkan 'wabah', baiknya ya tetap di rumah. 


Setelah Jum'atan saya diskusi lagi dengan bundo. Saya sampaikan jika kita ingin pulang kampung, kita harus ganti ban mobil. Empat-empatnya sudah expired. Sudah lebih dari lima tahun dipakai. Meskipun 'ragi'-nya masih layak, tetapi sudah ada retak halus di beberapa bagian ban. Agak beresiko juga bila digunakan buat jalan jauh. 


Jam setengah tiga, saat cuaca mendung saya bawa mobil ke Shop and Drive di Sektor 9 Bintaro. Ternyata untuk ganti ban, saya harus antri empat mobil lagi.

"Masih mungkin nggak selesai malam ini. Saya tungguin, karena saya mau mudik mbak", tanya saya. Si mbaknya ragu. 

"Andai tak bisa malam ini esok pagi diambilnya pak", jawabnya. 


Akhirnya syaa diarahkan ke bengkel satunya lagi di Bintaro Jaya sektor 3. Masih ada antrian di sana, tetapi ban yang tersisa buat Terios saya hanya satu di sana, dan harus diambil di sektor sembilan, info lebih lanjut dari si mbaknya. 


Tak mau menunggu lebih lama lagi, saya langsung ke sana dalam guyuran hujan gerimis. Alhamdulillah sesampai di sana, menunggu sebentar, mobil saya langsung dicopot ke empat bannya, sambil menunggu tiga ban lagi yang dijemput. Ban serap saya minta check kondisinya dan ditambah anginnya. 


Alhamdulillah menunggu hingga jam 5 sore baru rapinya semuanya. Saya telpon bundo bahwa saya sudah selesai dan minta segalanya disiapkan. "InsyaAllah malam ini kita berangkat", kata saya. Entah semangat dari mana saya tidak tahu. Mungkin terngiang percakapan Nova dan Ama tadi yang sangat berharap kami segera pulang kampung. Kami berdua termasuk yang tak mau mengecewakan Ama. Kami taati permintaan Ama selama ini, temasuk keberanian untuk membuka Kuliner Kapau on-line ini. Semuanya karena 'instruksi' ama. Ama yang memberikan resepnya, jika kami ragu. 


Jadilah kami berangkat malam itu dan sampai di Kapau senin dini hari, saat pergantian hari. Dalam kondisi yang masih flu, meski sudah mulai berkurang. Lama di jalan karena kami mengalami macet parah antara Palembang Jambi. Sempat nginap di Wisma Tetasan Embun Betung karena kondisi saya yang tak kuat lagi. 


#####


Alhamdulillah atas kemudahan yang Allah berikan selama perjalanan dengan niat mengabdi kepada Ama, kondisi kami segera pulih setelah sampai di kampung. Memang kami tak banyak kemana mana. Hanya di rumah saja. Kecuali ketika ada tugas menjemput Anda Yolanda ke Bandara, sisanya kami sekitaran Bukittinggi saja. Jaga stamina tentunya. 


Tak banyak kami kulineran di luar kecuali yang terdekat dari rumah. Seperti sekitaran Simpang Tanjung Alam, menikmati teh telor, sekoteng dan tomat top serta sate danguang danguang. Itupun setelah selesai sholat isya, tarawih dan witir di mesjid Nurul Huda Tanjung Alam. 


Nova sebagai anak tertua, yang memang Ama harapkan datang lebih awal. Banyak hal yang mesti dibantu menjelang lebaran. Ama sudah sangat senang bahwa anak minantu dan cucunya akan berkumpul lagi lebaran tahun ini. Selain kami, yang lainnya datang menjelang lebaran, karena terikat kerja dan cutinya masing masing. 



Sejak kami datang, banyak hal yang dilakukan. Memenuhi harapan Ama untuk membuat Kalamai. Ama sangat berharap kepada saya, karena membuat Kalamai ini butuh tenaga. Waktunya lama, berasap pula. Ada dua jenis kalamai yang kami buat, satu hitam satu lagi berwarna coklat. Beda bahannya. Dan rasanya emang luar biasa. Kalamai kami sabana lamak. 


Belum lagi membuat rendang dan tambunsu, alhamdulillah kami berdua yang mengerjakannya

Ama tinggal instruksi dan pantau saja. Ama sebagai quality control atas olahan tambunsu dan rendang kami. Tetapi Ama yang sudah terbatas tenaga dan gerakannya tetap semangat mendampingi kami di dapur. Ama masih turun tangan semampu yang dia bisa. Termasuk membuat kue kembang loyang ini. Ama sangat senang, bisa memberikan yang terbaik bagi para cucunya. 


Dan ketika anak anak telah datang menjelang dan saat lebaran, saya berperan sebagai "Kapalo Arak". Mengamankan anak anak dengan mengajak mereka jalan jalan seputaran kota Bukittinggi saja.



Alhamdulillah, Nova di kampung bisa fokus belajar masak dengan Ama. 


Dan tambunsu karya Dapur Bundo Nova sudah " "dapek paten" dari Ama dan sudah teruji oleh adek adek dari Batam, Padang, Duri dan Pekanbaru. "Mantap rasonyo, padek dan kamek", kata mereka. 

Alhamdulillah.


#####


Dan mohon maaf kami tak bisa banyak bersilaturahmi dengan kawan kawan selama di ranah. Tak mau berjanji bertemu juga karena takut tak bisa memenuhi. Kami fokus di Kapau saja. Kami fokus menyenangkan hati Ama.

Indahnya Kelok Sembilan



Barusan dapat kiriman gambar dari da Kojenk Rozy  di WAG FIPIA Jadul, dipandang pandangi lebih lama ternyata indahnya, masyaAllah. Konfigurasi yang tak sengaja oleh para pemudik yang hendak balik ke tanah Melayu, Pekanbaru dan sekitarnya, sangat menakjubkan. Tentu kepintaran sang photograper dalam memgambil momen dan angle-nya sangat luar biasa. Pas banget. 


Dalam kepadatan jalan, dalam kemacetan yang panjang ternyata melahirkan gambar yang sangat indah. Entah siapa yang memiliki photo ini, tentu sangat senang jika photo ini diteruskan, diabadikan oleh banyak orang.


Dan ternyata dalam kemacetan itu ada hikmahnya. 


=={{{{}}}}==


Macet Selama Lebaran. 


Ranah minang yang elok, yang macetnya hanya ketika pulang kampung ketika hari raya adalah sesuatu fenomena tahunan, sejak dulunya. Sudah rutin. Bukan sekali ini saja. 


Bisa jadi macet tak ada selama lebaran hanya dua tahun belakangan ini saja. Ketika para perantau dilarang pulang kampung akibat Pandemi Covid tahun 2020 dan 2021. Tahun ini dianggap macetnya lebih parah disebabkan membludaknya perantau yang pulang kampung. Akibat tertahan rindu dua tahun lamanya. So macet ya dinikmati saja, dimaklumi saja. Seharusnya tak ada umpatan atau apapun kepada pihak manapun. Karena ini adalah pilihan. Pilihan libur saat lebaran, yang sebenarnya bisa disiasati. 


Hampir dua juta perantau mudik libur lebaran tahun ini, wajarlah macet ada di sepanjang jalur dari dan menuju Bukittinggi. Harus pintar pintar memilih waktu jika ke Bukittinggi, dan/atau harus pintar juga menghindari jalur ini dengan memilih akses lainnya, seperti dari Payakumbuh, Batusangkar memutar ke Solok, Sitinjau Lauik Padang. Meski jarak bertambah, tetapi jauh lebih cepat. Dan ini akan meringankan akses dari Bukittinggi, Padang Panjang dan Kayu Tanam. 


Solusi ke depan? 


Pertama: Akses jalan tol yang belum jadi, karena kendala pembebasan lahan yang tak berkesudahan, harus bisa selesai secepatnya. Sehingga ketersambungan tol dari Riau ke Sumbar segera bisa dinikmati. Ikan sepat, ikan gabus. Makin cepat makin bagus. Sehingga di tahun tahun yang akan datang kemacetan parah ini bisa dikurangi bertahap. 


Pembangunan tol di antara Kota Padang Panjang - Bukittinggi - Payakumbuh harus menjadi prioritas. Karena sumber macetnya di hari normal maupun weekend selalu di sini, ketimbang Tol Padang Sicincin. Banyaknya pasar sepanjang jalan yang relatif sempit bisa diimbangi oleh jalan tol yang akan dibangun. 


Yang kedua: Perlu dipikirkan kapan akan dilaksanakan pelebaran jalan secara bertahap, di tempat-tempat yang masih memungkinkan. Akses jalan selama ini seperti Labuah Luruih antara Bukittinggi - Payakumbuh, Padang - Kayu Tanam, Ombilin - Padang Panjang dan Simpang Piladang - Batusangkar perlu dibuatkan rencana pelebarannya.  Pelebaran secara bertahap harus dilakukan. Jangan dilupakan.Jangan segitu gitunya terus. 


Alternatif pelebaran jalan ini jauh lebih ringan ketimbang membangun jalan Lingkar Luar di sepanjang Kota Bukittinggi. Bukittinggi yang tanahnya kotanya sempit, susah diharapkan, kecuali kerjasama dengan pemerintahan Kabupaten Agam. 


Dua poin di atas jika dilakukan lebih cepat, InsyaAllah perantau yang dari tahun ke tahun meningkat tentu akan senang setiap pulang kampung. Akan banyak turis domestik lain yang akan menjadikan Sumbar sebagai destinasi utama dalam menikmati liburan bersama keluarganya. Akan banyak uang dari rantau yang mengalir ke Ranah. 


Demikian sebuah tulisan menjelang siang ini, yang terinspirasi dari gambar Kelok Sembilan tadi malam. Sebuah view gambar yang syantik sekali. Andai tak macet, tentu tak ada gambar seindah ini. So selalu ada hal yang positif yang bisa diambil dalam setiap kesulitan (baca kemacetan ya?) 


Parung Serab Ciledug, 

8 Mei 2022, 11.50 WIB

Kamis, 05 Mei 2022

Menunggu Giliran Mandi

Alhamdulillah, terios yang kami sayangi ini, yang telah mendampingi selama 9 tahun april lalu, saat ini menunggu waktunya mandi. Setelah menjalani perjalanan panjang dari 22 April lalu hingga tadi pagi sampai kembali di rumah, di Puri Bintaro Hijau, kembali harus dimandikan. Banyak tempat mandi mobil saat ini yang tutup terpaksa mandi manjanya dengan hidrolic ditunda. Biasanya setelah perjalanan panjang, kami mandi manjakan dengan snow wash yang menggunakan hidrolic, supaya segala daki dan kotoran yang menempel bener bener bersih dari tubuhnya. Sayang sore ini, salah satu tempat langganan terios kami mandi manja tutup, karena karyawan nya masih libur lebaran. 

Dan kemarin adalah perjalanan yang luar biasa yang kami lakukan. Seolah olah saya dapat kuda tunggangan yang mengerti akan kebutuhan tuannya. Berlari sepanjang malam sejak dari masjid Agung Darussalam kabupaten Muara Rawas selepas sholat maghrib di tengah guyuran hujan yang lebat dan sedang, hingga sampai di Muara Enim. Dalam guyuran hujan tersebut seolah tahu bahwa tuannya harus sampai di tujuan sekitar jam 10 pagi esok. Menyatunya keinginan sang tuan dan kekuatan Terios ini terbukti, tak ada yang bisa mendahului kami. Semua yang di depan tersalip dengan baik. Berpacu menuju pintu toll Kayu Agung dan terus berlari kencang sepanjang Toll Sumatra. 

Berhenti sejenak hanya ketika mengisi pertalite dan sholat subuh saja, dan yang agak lama ketika sudah sampai di Bakauheni. Rehat selama penyebrangan. Dan kembali lagi berpacu di sepanjang Toll Cilegon hingga Bintaro. Alhamdulillah, jam 10.10 sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah total perjalanan 28 jam dari Kapau hingga ke rumah adalah capaian terbaik saya selaku "solo driver". Sepanjang perjalanan, tak ada kantuk sepicing pun. Catatan tersendiri 24 jam pas dari Kapau hingga Bakauheni. Alhamdulillah stamina saya masih oke, dan yang penting makin bernyali sepanjang lintasan, termasuk saat saat masuk daerah rawan sepanjang linteng di malam hari. Hanya tawakal pada Allah semata, yang lain lain mah lewat, InsyaAllah. 

Dan cemongnya bedak Sumatra yang menempel pada Terios kami pun harus segera dibersihkan. Sama halnya ketika sampai di Kapau waktu mudik kemarin pun langsung dibersihkan. Tak peduli tuannya masih jetlag, yang penting ada kesempatan, langsung dimandikan. 

Sembilan tahun bersama, mengantarkan kebersamaan kami sekeluarga sepanjang lintasan Jawa dan Sumatra menjadikan Terios ini bagian dari kehidupan kami. Dan sang "junior" kami, Imam pun sudah mulai mendapatkan "rasa" dengan Terios ini. Sudah dijajal oleh Imam di Toll Sumatra sekitaran Tol Kayu Agung hingga keluar tol Kramasan dan juga dari komplek Jondul Padang hingga ke Bandara Internasional Minangkabau. 

Apapun itu, kondisi Terios ini tetap kami jaga. Kami rawat semaksimal mungkin. Semoga kelak Imam pulang, lulus sebagai alumni Gontor siap menunggangi Terios ini sama baiknya dengan sang ayah nya. 

Dan segala bedak Sumatra harus disingkirkan. Malam ini menunggu giliran dengan no urut empat. Terios ini memang tangguh, setangguh tuannya. Staminanya kuat, sekuat staminanya tuannya, InsyaAllah. 
☺😃🙃



Selasa, 03 Mei 2022

Menjulang, cerdas dan berakhlak

Namanya Rafi. Mahasiswa semester 6 IPB jurusan Biokimia. Secara silsilah keluarga, jatuhnya bagi si Bundo Nova Yanti adalah cucu. 


Tiga tahun yang lalu saat diterima di IPB sebagai mahasiswa undangan melalui jalur Bidik Misi kami yang mengantarkannya ke wisma IPB sebagai mahasiswa baru. Dan setelah perjalanan waktu, alhamdulillah sore kemarin, lebaran pertama di Kapau, Rafi datang bersama ni Eza dan anak anaknya. 



Saya tetap saja terpana melihat nya. Tingginya yang mencapai angka 195cm dan kecerdasan yang tetap terasah membuat saya dan Bundo benar benar takjub. Tinggi yang menjulang ini tetap menjadikan dia menjadi mahasiswa tertinggi di IPB dalam tiga tahun terakhir ini. Ini artinya sejak jadi mahasiwa IPB hingga saat ini dia masih memegang rekor. 


Begitu pula dengan kecerdasan yang dia miliki, menjadikan dia sebagai anak kampung, yang berasal dari pelosok desa di Kapau, ternyata otaknya yang brilian mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya dalam prestasi akademik. Saat ini, dia sudah mulai mengerjakan riset buat tugas akhirnya dan juga merangkap sebagai asisten dosen di kampusnya. InsyaAllah di semester tujuh nanti, dia mendapatkan tawaran untuk mengambil program fast track di IPB. Program ini adalah suatu tawaran untuk lanjut study ke jenjang S2 sekaligus.


MasyaAllah... 

Saya tak habis pikir, begitu cara Allah mengangkat derajat hambaNya. Ibunya sudah tiada dan dibesarkan oleh neneknya selama sekolah di kampung. Allah mudahkan dia dalam keberlanjutan study sejak jadi mahasiswa hingga saat ini. Dengan program bidik misi, artinya dia menjalani study nya dengan biaya pemerintah. Dapat beasiswa FULL. Dan itu InsyaAllah berlanjut hingga ke jenjang master nantinya. Suatu hal yang tak banyak bisa dinikmati oleh mahasiswa lainnya. 


Alhamdulillah, ada kebanggan dengan kesantunan yang tetap terjaga hingga saat ini kami rasakan. Dengan mau datang bersilaturahmi di saat hari raya, di hari pertama pula Rafi benar benar anak yang hebat, anak yang santun. Anak yang berakhlak. Tak ada kesombongan sama sekali. Luar biasa. Semoga tetap terjaga hingga akhir hayatnya nanti. 


Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi adik adik lainnya. Bagaimana kesungguhan dalam study selalu saja ada jalan yang Allah siapkan, bila kita tetap menjaga kedekatan dengan-Nya. Doa dan restu dari orang orang terdekat tentu ada pengaruhnya. Allah akan bantu dari mana jalan yang takkan mungkin kita sadari. Tapi tetap yakin dengan pertolongan Allah itu adalah keharusan. 


Doa dan ikhtiar, adalah dua mata uang yang tetap kita lakukan. Seiring tanpa terpisahkan. 


Kapau, 2 Mei 2022

20.25

Minggu, 01 Mei 2022

Jam Gadang: The Iconic Kota Bukittinggi

Sabtu pagi anak anak mengajak untuk memanfaatkan waktu jalan jalan bersama. Mumpung kota belum sesak, masih lega buat jalan jalan kemana saja. Andai nanti lebaran tiba tentu pusat kota Bukittinggi ini akan padat. Padat sekali. 



Mengapa kota yang satu ini selalu padat setiap lebaran dan liburan? 


Yang Pertama: 

Semua objek wisata yang ada di Kota ini berpusat di tengah kota. Dan jaraknya pun berdekatan semuanya. Bisa ditempuh berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya. Semua objek wisatanya terkelola dengan baik dengan harga yang sangat terjangkau untuk ukuran para perantau. Ada Kebon Bintang yang terhubung dengan Benteng Ford De Cocknya melalui Jembatan Limpapehnya. Ada Panoroma Ngarai Sianok yang terintegrasi dengan Lubang Japangnya. Ada Ngarai Sianok nya juga. 


Yang Kedua: 

Selain objek wisata, pusat kulineran dan oleh olehnya juga ada di sini. Semuanya ada di "Pasa Ateh Bukittinggi" dan "Los Lambuang" yang terkenal dengan pusat masakan Nasi Kapau nya. Semuanya tetap bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Belum lagi ada Mall Ramayana dan Fast Food Resto lainnya. Semua gampang ditemui, semuanya uenak untuk dicicipi. Dan semuanya harganya sekarang ini sudah ada standartnya. Baik untuk makanan ataupun belanja oleh olehnya. Sudah tak ada lagi harga "main pakuak" nya. Image belanja dengan harga yang terjangkau sesuai kualitas barangnya sudah terjaga dengan turut sertanya pemerintah dalam membina para pedagang yang ada. InsyaAllah dengan begini Bukittinggi bisa menjadi kota perdagangan yang layak bagi semuanya pendatangnya. Belanja nyaman dan aman, pembeli dan penjual sama sama senang. 


Yang Ketiga: 

Ada kerinduan akan Jam Gadang. Seolah olah kalo belum berkodak di Jam Gadang, belum sah artinya pulang ke ranah minang. Berphoto di Jam Gadang menjadi bukti sejarah buat masa depan. Bahkan yang sudah sering pulang pun masih tetap saja mau datang ke sana. Memang dari tahun ke tahun, Jam Gadang selalu berbenah. Alhamdulillah sekarang ini sudah jauh berubah, sudah tertata dengan baik. Suasana di sini selalu rame dikunjungi dari pagi hingga malam hari. Jika siang, keindahan alamnya bisa dinikmati dengan latar belakang gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Jika malam hari dengan taman dan lampu LED yang menyala terang menjadikan Jam Gadang bak Bintang Gemintang, bercahaya terang. Ada taman dengan air mancur nya yang bisa bergoyang. 



Tiga point di atas sudah mewakili kerinduan para perantau untuk selalu datang saat liburan, termasuk kami yang berkumpul. Arab yang dari Padang, Pekanbaru, Batam dan Jakarta. Nggak pernah bosan bosannya ke sini. Suasana seperti ini kami rasakan empat tahun yang silam. Saat Anak Minantu dan Cucu (Amincu) ama Asma Yati pulang kampung semuanya. 


Mumpung masih lengang, kami bisa leluasa duduk duduk di pelataran Taman Jam Gadang. Anak anak masih bisa berlarian, masih bisa terjangkau dalam pantauan. Dan sebagai penutup agenda di sini, tak lupa photo photo sebagai bukti. 



Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Banto Royo yang jaraknya sekitar 20 menit dari pusat kota Bukittinggi. Tulisan kami di Bonto Royo sudah tayang kemarin. 


Masjid Raya Bukittinggi, 1 Mei 2022

Jam 9.30, sambil menunggu anak anak main di BonBin

Malapeh Taragak jo Nasi Kapau



Sore tadi sengaja meliput "pasa pabukoan" yang ada di simpang Tugu Kapau. Sebenarnya sudah sejak awal kedatangan memantau kondisi di sini, tetapi baru tadi sempat. Itupun tak sengaja, ketika Sang Bundo berbelanja kebutuhan di warung temannya, saya manfaatkan waktu untuk meliput suasana yang memang sangat ramai dibandingkan hari hari sebelum nya. Mungkin para "pulkamers" sudah banyak yang datang perantauan dan kangen dengan masakan Khas Kapau yang dibeli langsung di daerah asalnya. 



Alhamdulillah banyak yang datang, banyak yang beli tentu akan membuat roda perekonomian masyarakat setempat bergerak dengan cepatnya. Ada perpindahan ekonomi masyarakat di kota-kota besar di perantauan ke kampung halaman selama liburan lebaran tahun ini. Tentu sangat berbeda suasananya dibandingkan dua tahun lalu ketika Covid melanda. Ketika para perantau dilarang pulang kampung dengan aturan yang sangat ketat. 

Kondisi di Kapau tentu sama halnya dengan nagari nagari lainnya yang ada di seluruh ranah minang. 1,8 juta perantau yang pulang kampung tahun ini ke ranah minang tentu membuat perubahan ekonomi secara signifikan. Ranah bangkit ekonominya, dan para perantau lepas seleranya. 

Begitu juga diakhir liputan saya di Nasi Kapau Ibu Letti, bertemu dengan ante (baca uni) Za yang juga perantau dari Jakarta. Beliau adalah juragan nasi Kapau di pasar Senen. Tahun ini pulang kampung beserta anak-anak nya. Alhamdulillah, sapaan beliau kepada saya menyebabkan kaget juga. Saya pikir tak ada orang yang akan mengenal saya di sini. Tetapi, ternyata.... Klip video terpaksa dihentikan, berlanjut dengan saling sapa saling cerita. Dan ujung ujungnya bawa pulang bekal buka puasa, sekantong "godok batinta" dan sebungkus nasi Kapaunya. Free alias perai. 


Lalu saya pun menjemput Bundo dan mengajak kembali ke kadai Nasi bu Letti tadi. Dan akhirnya drama seru terjadi lagi. Saling cipaka cipiki, saling tawa dengan renyahnya. Sejatinya Nova adalah sepupu dengan nte Za ini, tetapi karena beda usia akhirnya uni harus dipanggil ante. Kelirulogi dalam silsilah keluarga. Banyak cerita terjadi di sini, lebih seru dibandingkan saya. 


Uni Za ini adalah tempatan pertama Nova ketika diantar ama dulu merantau ke Jakarta, Mei 2001. Ponakan kandung dari apa Nova. Begitu juga dengan anak anak ni Eza, Nova kenal baik. Ada Rima, Rika dan Rezi sore itu menemani mamanya. Seru deh, pokoknya kalo sesama orang rantau ketemunya malah di ranah. 


Kami pulang ke rumah setelahnya dan tak lama kemudian waktu buka pun tiba. Dan Nasi Kapau ynag dipesan sebelumnya dari Kadai Evi dan tambahan sebungkus lagi dari Kedai Bu Letti, menjadi santapan kami. Saya dan Imam makan berdua. Anda Yolanda Nova dan ama Asma Yati satu bungkus bertiga sedangkan Wati, Amni Deka dan Aira juga satu bertiga. Keinginan makan nasi bungkus Kapau akhirnya terkabulkan juga. 


Lain olahan sendiri, lain pula nikmatnya makan nasi bungkus dari Lapau Nasi saudara atau famili sendiri. Suasana makannya beda. Cara menikmatinya pun beda. 


Yang jelas: Laper Taragak.

Sabtu, 30 April 2022

Lokwis: Banto Royo

 Keseruan siang ini kami manfaatkan dengan membawa seluruh cucu ama Asma Yati, kecuali si sulung kakak Fadhilah Azzahra yang absent karena sedang study di Islamabad Pakistan. Kami menikmati kebersamaan anak anak ini di salah satu lokasi wisata terdekat dari rumah, yakni Banto Royo. 


Dengan berdesakan di mobil Terios suasana menjadi ceria. Tak ada kesempitan, karena seluruh rongga yang ada adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang baru terulang lagi setelah empat tahun berlalu. Efek Covid yang membatasi kami berkumpul. Terakhir itu lebaran 2018.


Sejatinya lokasi wisata ini sudah tutup sejak awal Ramadhan dan akan dibuka lagi lebaran hari ke dua nanti. Saat ini para crew sedang bertugas memperbaiki semua wahana agar layak dan aman dinikmati oleh para wisatawan domestik. Kami yakin saat dibuka pada hari Selasa, tanggal 3 Mei akan dibanjiri oleh para pengunjung hingga akhir masa liburan lebaran nanti. 


Lokasi yang tak jauh dari pusat kota Bukittinggi sangat asyik untuk dinikmati. Alam perbukitan yang membentang sepanjang mata memandang. Suasana hijau asri ini dilingkupi oleh birunya langit terpampang serta perpaduan kuning dan hijaunya sawah di sepanjang jalan menuju lokasi sangat memanjakan mata bagi anak rantau yang ingin mengisi hari-hari dalam liburan lebaran tahun ini. Keramaian para perantau yang tertahan rindu selama dua tahun ini, membludak lebaran tahun 2022 ini. Perkiraan pemda Propinsi ada sekitar 1,8 juta yang mudik ke ranah minang saat ini. 


InsyaAllah lokasi wisata ini dan juga tempat tempat lainnya sudah siap memanjakan selera anak rantau. Seperti yang kami amati kemarin hari Jumat, sepanjang lembah Anai, tempat pemandian alami sedang berbenah diri. Sudah terbayang akan terjadi kemacetan sepanjang jalur ini setelah lebaran hari pertama nanti. Lokasi ini juga menjadi tempat favorit untuk kumpul bersama sanak famili. Tempat rekreasi yang sangat terjangkau. Selain menikmati alam yang indah, udara yang sangat bersih dan bisa mandi-mandi tanpa ada batasan waktu. Pemandian alam ini sangat dinanti-nanti. Murah meriah so pasti. 


Begitu juga dengan Banto Royo dan Tarusan Kamang yang sangat berdekatan. Ada lokasi kulineran Teh Talua Tapai dengan aneka jajanan khas lainnya di antara ke dua tempat lokasi wisata ini. 


Nah kami ke sini tadi, terpaksa sedikit memaksa. Area Banto Royo ini memang belum buka. Tetapi dengan alasan bahwa kami akan balik ke rantau lebih awal, yakni tanggal DUA Syawal sesuai rencana, si bapak yang jaga akhirnya luluh juga.



Apalagi ketika beliau bertanya, "Anak anak darimana?". Spontan saja saya menjawab bahwa kami semua dari kota yang berbeda. Ada yang dari Batam, Pekanbaru, Padang dan Jakarta. Jawaban ini membuat si bapak makin tersentuh dan akhirnya kami diizinkan untuk masuk. Tanpa tiket, tanpa ada petugas yang menemani, tanpa bisa menikmati keseluruhan wahana. Tapi bagi kami tak mengapa, karena anak anak butuh kebersamaan saja. 


Bahagia mereka semua tak tertahankan. Ketika diizinkan masuk mereka langsung mencari tempat main yang mereka suka. Anda Yolanda yang sedang menuju ke tempat kami dengan ojeknya, terpaksa kami telepon untuk membeli makanan ikan. Sejatinya di Banto Royo ini paka ikan pun dijual di tempat, namun karena petugas tak ada, penjualan makanan ikan pun tak ada. 



Alhamdulillah Yolanda datang dengan membawa satu kilo pakan ikan, anak anak jadi rebutan. Rebutan mengambil ikan dan memberi ikan makan. Ikan ikan yang banyak ini, selama ramadhan ikut berpuasa karena tak ada pengunjung yang datang. Ikan mencari makannya sendiri sendiri dengan menu standar alami yang ada di rawa ini. 



Teriakan dan celotehan anak anak memberi makan menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Saya sempat berkomentar, "Memberik makan ikan ini saja alangkah bahagianya. Apalagi jika kelak mereka mereka ini bisa memberi makan banyak orang". Sang Bundo yang disamping saya, tersenyum dan mengaminkan. Pada Imam, Akbar dan Aira yang mendengar, semoga apa yang saya sampaikan tertanam di alam bawah sadarnya masing masing. 


Bahagia mereka adalah kebahagiaan kami. Ada di antara mereka yang bisa membelai kepala dan punggung ikan, ada juga yang mencoba menyuapkan ikan makan dan ada yang mencoba memasukan telunjuk nya ke dalam mulut ikan. Tentu ini menjadi keseruan bagi mereka. Menjadi teriakan bahagia mereka. Alhamdulillah ada kepuasan. 


Lebih sekitar satu jam-an kami di sini, mentari makin meninggi, panas pun sudah menyapu kulit dan muka kami, dan akhirnya kami pun pamit meninggalkan lokasi. Takut kelamaan di sini, anak anak jadi dehidrasi. Jangan sampai puasanya batal di tengah hari. Selain itu tentu kami tak ingin pula menggangu petugas yang sedang renovasi. 


Kami pamit dan mengucapkan terimakasih serta memberi tips sekedar basa-basi. Kami senang, petugas yang mendampingi pun puas. Dan semoga tulisan saya ini, menjadi media promosi crew Banto Royo dan bagi sanak saudara yang akan menikmati suasana lebaran nanti. 


Semoga tempat wisata ini bisa menjadi alternatif untuk disinggahi dan dinikmati bersama sanak famili. 


Kapau, 30 April 2022

14.41 WIB

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...