Selasa, 20 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 7)

Rehat ketiga di RM Umega terasa sempit sekali waktunya. Sampai sekitar jam 18.20 dan berangkat lagi sekitar jam 19.00. Sebagian penumpang Palala 03 yang berjulukan Belibis ini ada yang sempat makan, tak sempat sholat, sholatnya di bus jadinya. Ada yang sempat sholat tak sempat makan, seperti saya dan keluarga, akhirnya makan sate di atas bus. 


Semuanya ini bisa dimaklumi. Penyebabnya adalah kemacetan yang terjadi sebelumnya di Sungai Lilin. Biasanya bus Palala dan bus lainnya masuk siang di RM Umega yang sangat legend ini, ini datangnya sudah menjelang maghrib. Bahkan bus NPM belum ada yang datang di sini. 


Para supir dan kru Palala ini, dugaan saya jauh lebih mementingkan kedatangan para penumpang jangan sampai terlalu larut sampai di tujuan. Begitu juga dengan kru bus yang juga harus berangkat lagi esoknya. Rerata PO bus harus putar kepala sesampainya di tujuan. Maklum musim liburan, penumpang membludak, baik dari ranah maupun yang dari rantau, bus langsung putar kepala. Kru juga butuh jaga stamina dengan rehat yang cukup sesampainya di kota tujuan terakhir. 


Dan kondisi di dalam bus menuju Kota Solok ini, ada tidur lagi sehabis makan, ada juga yang harus mengkoordinasikan kedatangan mereka dengan pihak keluarga by phone, terutama yang harus turun di jalan, bukan yang di terminal. Kalo di terminal InsyaAllah relatif masih aman, karena pihak bus maupun pedagang lainnya masih rame. Mengapa? Karena semuanya armada terlambat masuk, berarti pedagang masih harus sabar menanti di terminal tersebut. Belum lagi para content creator alias youtuber yang ada di Terminal Bareh Solok yang selalu rame meliput. 


Penumpang pertama Belibis yang turun ada di Muaro Kalaban. Seharusnya mereka tujuan akhirnya di "Kota Batiah" Payakumbuh, akhirnya memilih turun di sini. Ada sanak familinya di Kota Sawahlunto. 


Perjalanan malam menuju Solok kadang ada lancarnya, kadang ada tersendatnya. Tersendat karena adanya beberapa truk yang jalan beriringan dengan sangat lambat, bermuatan berat. Alhamdulillah bang Rony, second driver dari Belibis ini, agak lihai kalo jalan malam hari. "Lihai bawa mobilnya", kata anak Medan. 


Jam 22.26 bus masuk TBS. Ada pedagang "paragede" yang pertama kali masuk ke dalam bus. "Menjojokan" pergedel jagung mini-nya seharga 10.000 untuk 8 biji. Paragede yang enak, hangat dan lembut enak buat cemilan malam. 


Para penumpang yang turun di Solok mulai turun. Ada sekitar 30 menit lebih bus Belibis berhenti di sini, sembari menunggu Palala kedua yang datang. Ada administrasi yang diselesaikan oleh "Supir Satu" dengan agen Solok buat kedatangan hari ini dan juga untuk keberangkatan esok paginya. 


Bus Palala ini adalah bus pertama yang datang dari rantau. Meninggalkan bus ANS Kirana dan Johny Walker serta Sembodo Executive Plus masih di belakang. Mereka adalah teman se-iring sejak Muaro Bulian hingga masuk kabupaten Muaro Bungo. Info kedatangan Palala sebagai armada tercepat malam ini valid, karena saya mendengarkan langsung penuturan pedagang sate yang saya nikmati satenya malam itu serta agent dan youtuber yang ada. 


Sate di terminal Solok "lamak", meskipun yang dagang menggunakan semacam "bentor". Ini saya denger dari youtuber yang ada di TBS juga. Alhamdulillah seporsi sate ini dengan tiga tusuk sate ayamnya, hanya 10.000. Plus 2 ribu untuk sebungkus "karupuak lado" nya. Total makan sate dengan keripik singkongnya, saya hanya bayar seharga 14.000 saja. 


Sambil makan sate saya juga ngobrol dengan penumpang lainnya. Uda Son dan Uda Ali dua sahabat baru saya dalam perjalanan, yang dulunya mereka berdua adalah 'Penari Lintas Sumatra' seperti saya, yang akhirnya memilih Bus untuk pulang kampung akhir tahun ini. Beralih karena ingin yang praktis dan ringan dalam hal pembiayaan dan tetap bugar dalam perjalanan. 


Sampai dua bus Palala ini meninggalkan terminal Kota Solok ini, belum ada bus lainnya yang masuk. Belibis menuju kota Payakumbuh dan Sageso menuju kota Padang.


Di Sumani, turun lagi satu keluarga dan setelah itu kita menikmati suasana malam sepanjang Danau Singkarak hingga ke Ombilin. Lumayan indah dan syahdu juga suasana menjelang pergantian hari ini. Sebenarnya suasana jalan sore di sini yang saya harapkan. Akan banyak keindahan alam dan kuliner yang bisa kita nikmati dari atas bus. Sayang, malam pun tetap masih bisa menikmati keindahnya dengan lampu lampu para nelayan dari kejauhan. 


Di Ombilin, da Son dan keluarga nya pun turun. Saya ikut bantu bantu mengeluarkan barang mereka dari bagasi bus. Bantu mereka artinya juga membantu diri saya sendiri, suatu saat kelak. Ini prinsip yang saya coba lakukan. Membantu orang lain, sejatinya kita membantu diri kita sendiri. So simple kan? 


Lanjut menuju Batusangkar, jalan menanjak dan agak sempit mulai terasa. Dan di Simpang Gobah Rambatan, bang Ali pedagang Cipulir dan keluarganya pun turun. Tak berselang lama satu keluarga lagi, udanya ini pedagang di Tanah Abang, turun bersama istri dan dua putri mereka. Sama sama orang Turawan dan saling kenal mereka ini. 


Pergantian hari kami ada di terminal Dobok Piliang Batusangkar. Saya yang sengaja pindah ke depan sejak dari Ombilin, menikmati obrolan bersama kru Palala dan seorang youtuber dari Solok, yang aslinya orang Jawa kelahiran Lampung, Teddy JNP. Saya sempat melihat rumah orang tua yang sekarang dikontrakan di jalan lintas Limo Kaum. Ada satu lagi rumah yang sedang dibangun oleh Nitha, sepupu saya. Dan di Limo Kaum pun naik satu orang lagi youtuber yang akan meliput Palala ini esok hari ketika mulai start dari Kuranji Kota Payakumbuh. 


Tak terasa jam satu dini hari kami sudah berada di Padang Panjang dan sempat melihat Sembodo yang melintas di depan. Sembodo yang tak masuk ke terminal Dobok tentunya. 


Beriringan berjalan, bahkan sempat meninggalkan Sembodo ini ketika ada penumpang yang turun di Panyalaian Padang Panjang. Jam 01.30 bus Palala ini masuk di Jambu Aia, tempat agennya. Penumpang yang di Bukittinggi pun turun di sini. Di sini supir berkoordinasi dengan agent untuk pergantian beberapa spare part bus dan validasi penumpang untuk esok harinya. 


Setelah selesai urusan, perjalanan Belibis ini lanjut ke kota terakhir, Payakumbuh. Saya turun di Simpang Tanjung Alam, sesuai yang dijanjikan oleh bang Rony Baron. Jam 01.40 saya turun untuk merampungkan perjalanan bersama Palala 03 yang sangat menyenangkan. Menyenangkan karena saya dapat saudara baru, sesama penumpang dan kru Palala, serta dinda Teddy sebagai youtuber di ranah minang yang bukan orang minang. Selama di perjalanan kami selalu bercanda, penuh kebahagiaan. Keren kan? 


Amni Deka yang sudah menunggu di Simpang Tanjung Alam, sangat ringan tangan membantu mengangkat barang barang kami. Dan sebelum lanjut ke rumah, kami masih sempat memesan dua teh telor dan satu sekoteng buat dibawa pulang. Satu lagi teh telor buat pak Yos, "assisten driver" yang juga turun di sini. Pak Yos ini sebenarnya adalah supir Gumarang Jaya, yang sempat kehilangan SIM nya. So sementara waktu dia menjadi stokar sementara buat Palala hingga selesai nanti SIM nya yang lagi proses di kota Bukittinggi. Dan bang Fadli Kumarang dan bang Ronny ApRinando Maniacreceh ini adalah juga mantan drivernya Gumarang Jaya juga. Mantap juga kan hubungan baik mereka. Bersaing, namun tetap bersahabat. Saling membantu pun tetap. Keren kan? 


Dan sebagai penutup tulisan ini, saya pribadi menyampaikan pesan kepada para owner PO Bus apapun itu. Jadikanlah para driver ini sebagai keluarga besar PO anda, sebagai bagian terbesar dari asset perusahan anda. Di tangan mereka inilah maju mundur nya perusahaan yang anda miliki, yang anda kelola dan yang anda jalani. Andil mereka sangat menentukan akan kepuasan para penumpang. Berikan service terbaik kepada para driver anda semuanya. Kepuasan yang mereka dapat dari perusahaan akan memberikan kepuasan juga kepada pelanggan bus tentunya. 


Saat ini loyalitas penumpang sangat tergantung kepada service yang diberikan, baik dari segi armada maupun keramahan para driver dan agent yang Anda miliki. Dan itu saya dapatkan selama perjalanan bersama Palala E03 berjulukan Belibis ini. Pertahankan, kalau perlu bisa ditingkatkan. 


Terimakasih kepada Bang Fadli dan Bang Ronny Baron sebagai Driver 1 dan 2 Belibis, serta bang Indra Tan Sati sebagai agent di Kreo. Keramahan anda semuanya sangat berkesan bagi saya pribadi. 


Kapau, 20 Desember 2022

21.13 WIB

Senin, 19 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 6)

Setelah rehat kedua di RM Simpang Raya Bayung Lencir, dua Palala ini segera menyusul ANS yang berjulukan Kirana. Kendali kemudi kali beralih ke bang Fadli Kumarang sedangkan bang Rony mengambil posisi di belakang, tidur di "kandang macan" nya. 

Saya masih bisa menikmati perjalanan hingga masuk ke Simpang tempino. Menikmati perjalanan dari atas bus ini sangat mengesankan ketimbang membawa mobil sendiri. Banyak hal yang bisa dilihat, termasuk bagaimana hamparan kebun sawit dan kebun karet di sepanjang lintasan. Begitu juga posisi duduk yang di tengah bus, bantingan ketika bus manuver sangat terasa juga. Apalagi sepanjang jalan yang ditempuh hingga Muaro Bungo masuk di lintas tengah Sumatra, kita akan dijejali tikungan yang tajam. Bus meliuk liuk di pinggang bukit. Turunan ataupun tanjakan yang disertai dengan belokan yang tajam agak mengocok perut yang baru saja terisi. Saya sedikit merasa mual. Tidur adalah pilihan tepat. 


Di beberapa spot saya benar benar tertidur. Ketika bangun ternyata di depan sudah ada ANS Kirana dan Johny Walker serta Sembodo Executive Plus dan Palala Sageso di depan. Entah kapan menyalip nya itu sang fenomenal Johny Walker dengan driver kandangnya da Ir. JW ini memang terkenal handal, sering menjadi ANS pertama yang masuk terminal Bareh Solok. 


Namun secara perlahan satu per satu kembali disusul dan dilewati oleh Sang Belibis, Palapa 03 ini. Kelincahan bang Fadli ini boleh juga. 


Dalam perjalanan saya nikmati dengan keripik tempe Bundo Nova. Keripik tempe enak, menurut kami dan juga customer #dapurbundonova. Berbagi dengan teman awal  seperjalanan adalah suatu kebahagiaan. Begitu juga dapat barteran dengan kuaci sebagai "parintang-rintang" hari, sambil menemani obrolan dengan da Son, teman sebangku saya. Begitu juga ketika melihat sungai Batanghari ada aktivitas orang menambang emas, menurut penuturan da Son. Ada beberapa titik tambang ini dengan mesin yang diapit oleh dua perahu bersisian. 


Sempat tertidur lagi dan terbangun ketika mau masuk pertigaan Muara Bungo menuju lintas tengah Sumatra dan mendapat kabar bahwa dua ANS Kirana dan Johny Walker sudah mendahului kami. Dan dari arah ranah minang sudah nampak satu per satu bus ANS, NPM, Palala, MPM, EPA Star dan lainnya. Saling klakson ketika berpapasan. 


Melihat waktu yang agak mepet, saya pun kembali ber tayamum untuk melaksanakan sholat zuhur dan ashar. Kondisi sangat tidak lagi memungkinkan untuk bisa melaksanakan nya di RM Gunung Medan. 


Tepat jam 18.20 bus kami sampai di rumah makan, tempat istirahat ketiga kalinya. Sudah ada EPA Star dan Yoanda Prima yang akan menuju kota Palembang sepertinya. Belibis masuk duluan, disusul oleh Sageso, Sembodo dan terakhir satu bus Transport Express yang masuk. NPM belum ada yang datang dari rantau sama sekali. Betul betul mengalami keterlambatan semua bus yang dari Rantau hari ini masuk ke ranah minang. 


Saya segera ke kamar mandi, karena ada yang ditahan sejak tadi. Urusan ke belakang selalu jadi persoalan bila naik bus umum jarak jauh ini. Setelah selesai saya sholat sambil menunggu Dhifa dan Bundanya juga. 


Melihat waktu yang sempit, tak mungkin makan malam di RM Umega ini, saya menyeberangi jalan. Ada sate yang jadi pilihan saya buat dimakan di atas bus. Saya pesan 3 bungkus sate ayam dan kerupuk singkong nya dengan total satu lembar uang berwarna biru, totalnya. Alhamdulillah, urusan kampung tengah terselesaikan sementara waktu. InsyaAllah aman hingga nanti sampai di Kapau. 


Dan ternyata bukan saya saja yang dikejar kejar waktu. Hampir semua penumpang merasakan hal yang sama. Waktu rehat yang terbatas seperti ini bisa dimaklumi karena para supir Palala baik Belibis dan Sageso pengen cepat sampai di terminal Bareh Solok, agar para penumpang tidak terlalu terlambat sampai di tujuan. 


Efek kemacetan akibat adanya truk tabrakan menjelang Sungai Lilin Sumsel kali ini berakibat fatal juga bagi bus yang menuju ranah minang. Biasanya Palala ini selalu masuk siang di RM Umega, sekitar jam 11 - 12, menurut info tukang sate yang saya beli tadi. 


Bahkan ketika kami meninggalkan rumah makan, belum satu pun NPM yang sampai. Ada keterlambatan sekitar 5-6 dari waktu normal sepertinya. Namun yang penting semua penumpang selamat sampai di tujuan. Bisa berlibur di ranah minang, di kampung halaman. 


Saat ini menuju Solok, kendali kemudi Belibis ditangan  bang Rony. InsyaAllah nanti bang Rony akan menurunkan kami di Simpang Tanjuang Alam. 


19 Desember 2022

20.30 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-7.html

Malala Jo Palala (part 5)

Salah satu kenyamanan dengan PO Palala dan juga beberapa armada bus kini adalah ketersediaan tempat buat men charge HP. Ini yang dibutuhkan oleh para penumpang sehingga komunikasi tetap terjaga, seperti yang saya lakukan saat ini. Alhamdulillah sudah di episode ke lima trip report saya saat ini, tanpa takut battery akan low, ataupun lupa bawa power bank sekalipun. 


Selain itu ada fasilitas AVOD di tiap seat nya. Penumpang tinggal bawa earphone atau headset saja, sudah bisa menikmati audio video. Selain Palala, yang ada AVOD nya adalah PO Sembodo. Yang lainnya baru sebatas TV LCDnya. 


Tepat jam 9.30 Belibis masuk ke halaman RM Simpang Raya yang ternyata sudah didahului oleh ANS Kirana sebagai satu satunya wakil ANS yang datang duluan. Setelah Belibis diikuti oleh Sageso. 


Sebagian penumpang langsung menuju kamar mandi, termasuk saya dan keluarga. Alhamdullilah sambil menunggu dua bidadari yang masih di kamar mandi, saya sempatkan juga sholat Dhuha dua rakaat. 


Tak lama berselang kami masuk ke rumah makan, memesan satu porsi soto pake nasi, satu porsi tanpa nasi, satu teh manis hangat dan satu gelas teh telor. Sisanya kami menghabiskan nasi bungkus dengan daun pisang dan dendeng lambok made in asli #dapurbundonova. Plus sebungkus karupuak jariang nan kamek yang ada di meja makan. Total makan yang kami bayar 78.000 semuanya. Alhamdulillah, makan lamak, makan kanyang harga minimalis. Karena bekal dari rumah masih ada. Hanya tinggal sepotong dendeng saja lagi. 


Dalam asyiknya makan, ada telpon dari Riko yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama. Alhamdulillah, atas izin Allah kami dipertemukan di sini. Riko adalah adik saya juga dari kampung halaman di Limo Kaum. Profesinya sebagai driver truck yang bolak balik Batusangkar Jakarta, sering rehat dan makan di sini. Entah mengapa sebelum sampai di Simpang Raya saya sempat telpon dia, tapi tak terjawab. Dia call back saat saya lagi makan dan dia baru mau jalan meninggalkan rumah makan ini. Akhirnya dia tunda keberangkatan nya, dia ditemui dan temani saya makan, sambil ngobrol ringan. Sempat saya tanya, "Mau nggak pindah menjadikan bus driver?". Dia jawab dengan senyuman. Tentu ada plus minusnya. Semoga tanya saya tadi bisa menjadi bahan fikiran buat Riko ini. Hidup penuh dengan tantangan dan pilihan. Ya kan? 


Tak lama kemudian kami berpisah. Kirana sudah siap jalan, Belibis dan Sageso pun demikian. Namun sebelum jalan, sambil menunggu penumpang naik ke dalam, crew Palala kompak membantu sedikit problem di wiper nya Sageso, seperti gambar yang saya ambil. Kekompakan sesama kru adalah satu kekuatan tersendiri. Bagi penumpang ini ada hikmahnya. Mereka yakin bahwa dalam perjalanan kenyamanan dan keselamatan adalah hal yang utama, apalagi sesama PO. 


Penumpang sudah naik semuanya dan sang Bundo masih sempat membeli buah duku atas permintaan sang putri tercinta. Rp 25.000/kg harga yang dijual pedagang di sini. Laris manis. Banyak penumpang yang beli. Bundo mungkin dapat sisanya saja lagi. Namun tak mengapa, yang penting sang buah hati senang. 


Dan ketika saya naik, sapaan saya ke bang Fadli Kumarang yang dibalik kemudi berbuah senyuman manis khas keramahan nya. Begitu juga dengan bang Rony yang mau istirahat di "kandang macan" nya. Dua orang Driver Belibis ini adalah ex Gumarang Jaya. Masih muda, usia sekitar 36 dan 31 tahun, tapi lincah nya di belakang kemudian, bukan main. 

Saat ini menuju Muara Bulian hingga rehat berikutnya di RM Gunung Medan. Mengiringi ANS Kirana dan Sembodo Executive Plusnya. Sembodo ini adalah teman jalan sejak masuk kapal di Merak kemarin sore. Bahkan kami parkir bersisian. 


Senin, 19/12/2022 

11.22 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-6.html

Malala Jo Palala (Part 4)

RM Bukit Indarung adalah rehat pertamanya PO Palala ini. Ada dua bus Palala yang beriringan masuk ke rumah makan ini menjelang jam 7 malam. Belibis datang lebih awal disusul oleh Sageso. Rehat di sini selama hampir satu jam. Penumpang sholat dan makan. 


Sageso keluar lebih dahulu disusul oleh Belibis. Kendali Belibis diambil alih oleh Bang Rony. Bang Fadli Kumarang istirahat. Jalan malam di tol Sumatra yang relatif kurang penerangan, tak membuat Palala 03 ini kurang greget larinya. Jalan berdua dengan Sageso terasa asyik ditemani cahaya rembulan yang seperempat. Satu per satu kendaraan lain didahului. 


Terlelap dalam keheningan bus dengan iringan musik yang seadanya hingga terbangun ketika sudah sampai di kota Palembang. Bus "nyolar" selepas sekitar pergantian hari. Duo Palala mengantri di SPBU sekitar terminal Alang Alang Palembang. Alhamdulillah tak begitu panjang antriannya. Belibis di depan, baru Sageso. 


Dalam antrian ini saya mampir sejenak ke Alfamart yang ada di SPBU ini membeli air mineral yang sudah menipis dan beberapa batang silver queen buat Dhifa. Penghilang kejenuhannya nanti. 


Tak lama sesudah "nyolar", bus jalan kembali menuju lintas timur Sumatra. Dinginnya AC makin terasa membuat tubuh ini spontan menarik selimut dan bantal yang disediakan oleh PO Palala ini. Selimutnya cukup tebal. Hampir semua penumpang terlelap. 


Tersentak bangun kembali ketika macet parah menjelang subuh menjelang daerah Sungai Lilin. Ada truk patah as katanya. Macet dua sisi. Jadi teringat "Horor di Lintas Sumatra" saat mudik ramadhan kemarin. Ketika Palembang-Betung itu ditempuh selama 12 jam. Bisa dilihat lagi catatan saya berikut: http://dandidinda.blogspot.com/2022/04/horor-di-jalintim-trip-report-2.html?m=1

Sholat subuh kami laksanakan di bus dengan tayamum saja. Sang supir sempat minta maaf kepada penumpang karena tak bertemu dengan mushola atau mesjid selama macet parah ini. Bang Rony meminta penumpang untuk sholat di dalam bus saja. Alhamdulillah saya dan Dhifa sudah melaksanakannya. 


Ada kebanggaan dengan si bontot ini. Dia tak perlu lagi ditunjuki bagaimana ber-tayamum. Satu semester di pondok sudah bisa diandalkan bagaimana menjalankan ibadah di perjalanan. Sudah paham semuanya, tanpa perlu bimbingan lagi dari ortunya. Itu kami amati sejak dia dijemput di Mahad Riyadhul Qur'an Kudus, Sabtu lalu. 


Sepagi ini masih dalam kemacaten. Sepertinya bus Palala kami adalah yang di depan. Banyak bus lainnya yang berada di belakang, seperti NPM, ANS, Sembodo dll. Belibis ini masih bisa ngeblong di iringi oleh Sageso di belakangnya. 


Dan baru beberapa menit ini baru papasan dengan bus-bus dari ranah minang yang menuju Jakarta. Ini menunjukkan bahwa macet terjadi di dua sisi. Baru mulai beranjak perlahan, tak lagi tertahan seperti sebelumnya. Prediksi saya ada keterlambatan sekitar 3-4 jam dari waktu normalnya. 


Semoga sebentar lagi kami bisa rehat di RM Simpang Raya. Makan pagi judulnya. Karena sarapan telah kami lakukan di dalam bus. Dengan segelas kopi panas dan sepotong roti ba'da subuh tadi. 


Dan kemudi Belibis sudah kembali diambil alih oleh bang Fadli. Gantian bang Rony nya yang istirahat di "kandang macan".


Menikmati dendang Panbers sambil menuliskan trip report ini

07.12


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-5.html

Minggu, 18 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 3)

Selesai sholat dan makan dengan bekal yang dibawa dari rumah kami lanjut obrolan ringan bertiga. Obrolan ringan sehabis makan antara suami, istri dan anak adalah sesuatu yang asyik dan mengasyikan. Apalagi dalam suasana perjalanan seperti ini, saya yakin akan menjadi rekaman yang hebat dan kuat bagi si bungsu kami ini. Ada banyak memori yang bersileweran dalam momen makan bersama di Kapal seperti ini. Sudah jadi tradisi setiap pulang kampung. Namun nuansanya kali ini agak beda. 


Dulu ketika mobil baru saja masuk kapal, kami langsung cari tempat yang nyaman buat rehat dan tiduran, sholat dan makan. Saya yang makan lebih dulu, karena sebagai supir saya harus tidur selama di kapal untuk beberapa saat. Satu jam, dua jam tidur bagi saya sangat cukup untuk menempuh perjalanan malam selepas "menginjak" pulau Sumatra. Namun kali ini sangat sangat santai sekali. Saya bisa nimbrung ngobrol dengan Dhifa dan Bundanya. 


Puas ngobrol, kami keliling mencari suasana lain. Maklum di ruang lesehan tempat kami makan ini, pendingin ruangannya sangat kurang. Agak gerah. Namun untuk mencari ke tempat lain, agak susah juga. Karena hampir semua ruangan penuh. Bahkan lantai dan lorong pun terisi, saking overload-nya penumpang di kapal Port Link III ini. 


Kami bertiga mengitari kapal, luar dan dalam, sambil memanfaatkan momen photo berdua dengan sang Bundo. Si bontot masih belum mau ber-"kodak" bersama kami. 


Dan ketika sampai pada satu rungan ber AC dan bersofa banyak, memori kami berputar pada mudik lebaran bulan puasa yang lalu. Ruangan itu tempat kami rehat dan saya tertidur pulas di sofanya. Waktu itu kami pulang kampung berempat. Ada abang Imam. Kakak baru memulai kuliahnya di Islamabad Pakistan. Jadi nggak ikut bersama kami. 


Tak terasa sebagian penumpang sudah turun ke dek bawah, kami pun ikut menyusul. Di luar sudah mulai tampak pulau Sumatera. Bakauheni makin dekat. 


Dua bus Palala ternyata parkir berdekatan. Seri Al dan Seri B. Seri A menuju Payakumbuh dan seri B menuju Kota Padang. Dan yang saya ingat pasti bahwa bus yang kami tumpangi tadi berada bersisian dengan Executive Plus-nya Sembodo. 


Saya langsung masuk, diikuti oleh Dhifa dan Bundanya. Saya sempat bertanya kepada Bang Fadli Kumarang pilot-nya Belibis ini, dimana rehat dan berapa lama jaraknya ke sana. Alhamdulillah Palala punya supir yang ramah dan sigap menjawab tanya penumpangnya. Sekalian saya dapatkan nama FB beliau, yang akhirnya di-tag dalam trip report saya kali ini. Bang Fadli akan mengawaki Palala E03 ini hingga ke RM Bukit Indarung Bandar Jaya. 


Keluar dari kapal beriringan dengan bus NPM dan Bintang Permata Bunda. Menapaki tol Sumatra sepertinya sang Belibis tidak langsung tancap gas. Agak tersendat di tanjakan yang lumayan tinggi ini. Namun pasti, perlahan lahan kecepatan mulai meningkat selepas KM 33. Satu per satu kendaraan lain disalip oleng bang Fadli. 


Batas tipis antara siang dan malam mulai terlihat di ufuk barat. Masuknya waktu maghrib ternyata tampak jelas bagi saya di atas Palala ini. Gerimis sesekali menyirami tol yang kami tempuh hingga keluar di gerbang Toll Gunung Sugih. 


Jam 18.45 sang Belibis sampai di RM Bukit Indarung. Para penumpang sebagian besar menuju kamar mandi, berwudhuk dan sholat jamak qashar maghrib dan isya. RM ini sedang berbenah. Ada renovasi bagian depan rumah makan dan juga perluasan musholanya. 


Selesai kami sholat ternyata, Palala Seri B sudah sampai. Rumah makan rame. Kami tidak makan di sini, karena perut masih terasa kenyang. Dendeng lambok #dapurbundonova masih terasa nikmat. Warna merah sambelnya tadi menggoda untuk menambah porsi nasi dan kentang baladonya "lamak bana". Namun Dhifa minta dibelikan ea krim yang tadi sempat dia intip. Dan saya membeli sebungkus roti coklat kacang, buat ganjalan jika tengah malam nanti berasa lapar. 


Ketika naik ke bus, ternyata oh ternyata aroma pop mie menggoda "galang-galang". Ada beberapa anak anak menikmatinya. Maklum di bus Palala ini ada dispenser buat air panas. Jadi ortu tinggal siapkan pop mie nya saja. Begitu juga bagi yang mau ngopi atau bikin susu buat anaknya juga gampang. Semuanya siap seduh.


Tulisan ini saya tulis ketika sebagian penumpang sudah mulai lelap dalam impiannya masing-masing. Hanya musik dengan suasana sayup sayup sampai, menemani saya. Tol Sumatra yang gelap, dua bus Palala menikmati perjalanannya. Nyaris tak ada penerangan jalan. 


Bang Fadli, driver satu Belibis mungkin sudah tidur rehat sehabis makan di RM Bukit Indarung tadi. Kemudi diambil alih oleh bang Rony yang ditemani oleh bang Eri di depan. Ada satu lagi penumpang di bangku CC. 


Belibis ini akan tetap berjalan, merayap di sepanjang lintas Sumatra hingga nanti rehat subuh di RM Simpang Raya Bayung Lencir Sumsel. Semoga tak ada halangan, Allah lindungi kami dalam perjalanan malam ini. 


Tol Sumatra menuju Palembang

20.23 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-4.html

Malala Jo Palala (Part 2)

Lepas dari terminal Poris Tangerang tadi lewat sedikit dari jam 11 siang. Masih diiringi oleh content creator yang mengiringi telolet Palala E03 hingga masuk pintu Tol. Bahkan lambaian tangan saya masih bisa mereka balas, meskipun motor mereka sudah di bagian bawah jalan tol. Nampak kebahagiaan mereka bisa mendapatkan liputan klakson Palala yang heboh ini. 


Tak ketinggalan sebagian penumpang di bagian depan memvideokan juga aksi youtuber unik ini. Anak muda kreatif. Kadang tangan kiri sang pengendara motor meliuk liuk menyesuaikan musik telolet sang Belibis ini. 


Di jalan tol semuanya berjalan lancar. Hanya ada sedikit kemacetan karena ada perbaikan dan pelebaran jalan tol menuju Merak ini. Saya sendiri lupa di KM berapa itu tadinya. 


Jam 12.30 Palala ini sudah keluar dari tol. Berbelok ke kiri mengikuti jalur lama. Bukannya lurus seperti yang biasa terios kami tempuh. Mungkin ini memang jalur bus Sumatra, yang harus berbelok ke kiri selepas keluar dari pintu tol terakhir menuju pelabuhan Merak. 


Tak lama, Palala 03 ini berhenti sejenak. Ada pedagang yang naik. Pedagang yang sudah saya ingat betul selama ini melalui youtube nya Ridwan Nurman dan Aditya Immotorium. Ternyata betul, bapak yang menjual nasi bungkus. Nasi Padang yang dia "jojokan" kepada para penumpang. 


Dan berdasarkan video kedua youtuber kondang tersebut, masakan pak Emen ini memang enak. Ada banyak variasi lauk yang dia tawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Budget sekitar 20-25 ribu per bungkus tergantung lauk yang diambil dan itu sudah termasuk sayurnya juga. Tersedia juga paket lauk, tanpa nasi. 


Dan ternyata naiknya pak Emen ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi penumpang. Orangnya kocak, komunikasinya oke dan langsung nyambung bila diajak bercanda. Mungkin pengalaman di lapangan membuat dia harus seperti itu. Dan ternyata dia masih satu bendera dengan saya. Sama sama berkendara kuning. Luhak tuo. Luhak Tanah Datar. 


Masuk Pelabuhan lebih kurang sekitar jam satu-an dan saat itu pula snack box dibagikan oleh kru Palala. Lumayan buat ganjalan perut menjelang makan siang di kapal. 


Dan ternyata antrian kapal yang menjadi kendala, bisa jadi karena ombak lumayan besar. Agak lama menunggu kapal Port Link III. Begitu juga saat bongkar dan naik ke kapal. Mungkin karena kapal ini katagorinya besar. Sehingga agak lama semuanya. 


Di dalam kapal suasana sangat ramai sekali. Kapasitas kapal sepertinya sudah overload. Banyak penumpang yang duduk di geladak, di lantai. Tak mencukupi tempat duduk dan ruang lesehan yang ada. Umumnya didominasi oleh anak anak dan orang tuanya. 


Kami masuk kapal, langsung mencari masjid. Sholat jamak qashar baru kemudian kami makan siang. Makan dengan nasi bungkus daun yang telah disiapkan sang Bundo dari rumah dengan dendeng lambok sebagai lauknya. Buat Dhifa saya pesankan satu popmie kesukaannya. Harganya 'hanya' Rp. 15.000 di kapal penyeberangan Jawa Sumatra ini. Harga standar. Padahal kalo di pelabuhan kita bisa dapatkan dengan satu lembar uang sepuluh ribuan buat satu popmie siap makan ini. Kalo mau irit baiknya bawa dari rumah saja. Seduh dengan air panas yang ada, ataupun beli di kapal. 


Bagi saya yang penting Dhifa lahap makannya. Buat jaga stamina hingga nanti sampai di kampung sana. 


Di dalam kapal ini tadi terlihat ada 6 bus NPM, 2 bus Palala, 2 bus Sembodo, 1 bus Bintang Permata Bunda dan 1 bus Transport Express. Alhamdulillah kapal Port Link III ini, umumnya penuh dengan orang Padang. 


Semoga semuanya lancar hingga bisa "landing" di Pulau Sumatra. Semoga "lari sore" bareng PO bus Sumatra lainnya bisa kami nikmati sepanjang Jalur Tol Sumatra nantinya. Aamiin ya Rabb. 


Di atas Selat Sunda menuju Bakauheni

16.05 WIB.


Pilot Palala 03 "Belibis" Bang Fadli Kumarang


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-3.html

Malala jo Palala (Part 1)

Alhamdulillah, setelah selesai satu tugas hari jumat dan sabtu kemarin, sekarang saatnya menunaikan tugas berikutnya. Yakni pulang kampung ke Kapau menggunakan armada PO Bus Palala. 

Segala yang direncanakan berjalan sesuai waktunya. Terutama berkaitan trip ke Kudus,  menjemput sang buah hati yang menjalani libur semester pertamanya di Pondok Pesantren Ma'had Riyadhul Quran. Atas izin Allah segalanya Allah mudahkan, lancar dan selamat dalam perjalanan. Inilah kuncinya. Dari sini berlanjut untuk liburan di kampung halaman, sesuai permintaan Dhifa, anak kami yang bontot saat ini. 


Tiket dengan PO Palala ini sudah kita booking hampir sebulan yang lalu. Bus ini termasuk salah satu bis yang relatif cepat sampai di ranah minang ini, selalu full seat. Memesan lebih awal, jauh lebih aman. 

Jam 8 pagi saya sudah diingatkan oleh da Indra, agennya di Kreo. Memastikan bahwa kami ready untuk berangkat hari ini. Dikabarkan bahwa penumpang harus stand by jam 09.30 di bawah kolong tol di Ciledug. Saya baru paham bahwa kenapa tempat ini dipilih sebagai tempat naiknya penumpang. Para supir sebenarnya ingin menghindari macet arah Kreo. Dari titik ini, di kolong tol Ciledug/Cipulir bis berputar balik masuk tol, menuju tol bintaro serpong langsung menuju terminal Poris. Bus Palala ini tidak masuk ke terminal Kalideres. 


Alhamdulillah, menjelang jam 10 bus datang. Ketika kami naik bus sudah hampir terisi penuh. Bus dari Karawang, mampir di Cikampek, terminal Kampung Rambutan, pondok Pinang sebelum mengambil penumpang di daerah Ciledug. Lumayan rame yang naik di sini. Dan yang agak bikin kaget, ternyata ada yang menyapa saya. Irna Dewita orangnya. "Da Jeje", katanya. Alhamdulillah selain Dewi, adik kelas di Kimia Unand angkatan 95, batambah juo dunsanak dalam perjalanan pulang kampung saat ini. 

Ada rombongan dari Turawan, Rambatan, yang dagang di Cipulir. Ada yang dari Karawang. Dua duanya rombongan yang akan ada hajat pernikahan di kampung halaman. Satu di Rambatan satu lagi Batipuh Padang Panjang. Takana maso mudo awak dulu dek nyo. Dari rantau, nikahnya di Kapau, 21 tahun yang lalu. 

Dek lamak ota, alhamdulillah nggak terasa bus jam 10.30 sudah masuk terminal Poris Tangerang. Menanti penumpang terakhir untuk lanjut ke pelabuhan Merak Banten. Alhamdulillah pas ketika bus Palala yang akan ke Padang, kami akhirnya meninggalkan terminal Poris jam 11.05.

Di terminal Poris ini kami menyaksikan para 'content creator' meliput bus Palala ini. Ada yang sejak keluar tol hingga masuk tol lagi meliput telolet bus yang asyik bukan main ini. Bermodalkan motor, penumpang yang di belakang mem-videokan bus ini, tentu sang supir bang Fadli sangat paham. Klakson asyik bernyanyi sepanjang liputan. Suaranya asyik. Palala 03 keren teloletnya. Sayang saya nggak sempat merekamnya tadi. 

Dari terminal Poris, Palala 03 yang berjulukan Belibis, full seat. Dan sebelum berangkat bang Fadli, pilot Belibis dan kru nya sempat makan lontong Padang yang berada di sebelah kanan bis tadinya. "Paruik supir kanyang", InsyaAllah ota bakalan dengan tenang. 

Alhamdulillah saat ini, jam 11.35 kami nikmati jalan tol dengan dendamg lagu Minang. Ada kepuasan dari para penumpang dengan servis dan keramaham kru. Do'akan perjalanan kami ini lancar ke ranah Minang. 

Tol Merak, 11.35


Part 2: https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-2.html

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...