Kamis, 29 Desember 2022

Kawa Daun Biaro

Alhamdulillah, akhirnya mampir juga di sini. Padahal sudah beberapa kali direncanakan, namun selalu saja ada halangan. Sudah lama melihat lokasi ini sepanjang jalan yang ditempuh ke Kapau terutama sejak tahun 2013. Sebuah penantian yang lama juga. 


Menjelang sore berakhir, setelah trip silaturahmi ke Situjuah menemui Datuak Itam. Dingin tangan sepanjang perjalanan dengan motor harus dihangatkan sejenak menjelang sampai di Kapau. Angin dingin dan cuaca yang sangat bersahabat membuat bagian yang terbuka menjadi dingin. 

Ketika masuk ke Kawa Daun yang ada di daerah Biaro ini parkiran sudah penuh dengan mobil dan motor. Menyelip di antara mobil dan akhirnya bisa juga terparkir dengan rapi Mio yang saya  tunggangi sedari Situjuah Kab. 50 Kota tadi. Ada sekitar 40 an menit berkendaraan plus rehat sebelum nya di masjid cantik dan mungil di pinggir jalan saat adzan mulai berkumandang. Kecepatan rata rata antara 40-50 km/jam.

Sangat mengasyikan mengendarai Mio di "labuah luruih" antara Payakumbuh dan Bukittinggi ini. Di saat sepi, agak bisa dipacu mendekati angka 60 dan di saat macet di tanjakan Baso, bisa slap slip di kiri atau kanan mobil yang berjalan perlahan. Di beberapa titik menjelang SPBU terlihat antrian mobil yang kadang memakan badan jalan. Begitu juga mendekati pasar Baso. Namun semuanya bisa dilewati, tanpa mengabaikan keamanan dan keselamatan sesama pengendara. Waspada di jalan raya, harus senantiasa dijaga. Jangan sampai lengah. 


Nah menjelang ke simpang Ampek Tanjuang Alam, kita rehatkan badan sejenak di sini. Suasana yang sedikit dingin, kita hangatkan dengan segelas Kawa Talua Jahe dan gorengan yang ditawarkan di dalam piring rotan yang dihidangkan. 


Ternyata setiap pengunjung yang datang, yang memesan minuman yang dipesan, gorengan ini adalah hidangan wajibnya. Terserah pengunjung mau makan berapa dan apa saja, nanti dibayar ketika akan meninggalkan lokasi ini. 


Ada banyak pilihan minuman di sini dengan berbagai harga yang bisa disesuaikan dengan ukuran kantong masing masing. Tetapi sejauh yang saya amati di "price list" yang terpasang di banner yang ada di dalam ruangan tak ada yang mahal mahal amat. Harga termahal bagi segelas minuman hanya Rp. 12.000,- yakni Kawa Telor Jahe. Yang lainnya dibawah itu dan yang terendah hanya Rp. 4.000,-. Sedangkan untuk setiap gorengan dihargai Rp. 1.500,-  satu nya. Murah bukan? 


Alhamdulillah, dalam keramaian ini saya bisa menikmati alam yang terbentang di bagian belakang. Area persawahan, rumah penduduk dan pepohonan memenuhi kaki, pinggang hingga ke puncak Gunung Marapi yang berdiri kokoh menjaga Ranah Minang. Dan dibalik gunung Marapi tersebut, adalah kampung halaman saya. Luhak Tuo Tanah Datar. 


Sambil menikmati Kawa Talau Jahe yang enak dan InsyaAllah sangat berkhasiat, disertai dengan tiga buah gorengan, catatan ini saya tuliskan. Alhamdulillah tulisan ringan, sambil menikmati kuliran yang ringan juga, hobby menulis ini tersalurkan. 


Di antara keriuhan pengunjung, baik dari anak muda yang sepantaran, maupun orang tua yang disertai anak anaknya, kunikmati tegukan terakhir dari Kawa ini. Telornya terasa, Jahe nya pun terasa. Kehangatan mengalir di tenggorakan setiap tegukannya. Alhamdulillah. InsyaAllah bentar lagi kita lanjutkan perjalanan ke rumah, yang jaraknya hanya 4.2km dengan waktu tempuh sekitar 8-10 menit. 


Biaro, 29/12/2022

Jam 17.17 WIB.


Bagi yg mau ke sana bisa klik link berikut:

Dangau Kawa 0813-8752-0599 

Selasa, 27 Desember 2022

Ngarai Cafe

Setelah seminggu sampai di kampung halaman, di Kapau Bukittinggi baru sekarang kita sempat membawa buah hati main di Ngarai Sianok. Penyebabnya adalah "kaget" dengan cuaca di kampung halaman, sehingga pencernaan kami agak terganggu. 


Alhamdulillah cuaca hari ini sangat bersahabat. Dengan mengendarai sepeda motor kami berangkat dari rumah. Mendadak saja sifatnya. Tanpa perencanaan sejak pagi. Ini semuanya setelah melihat Dhifa sudah mulai makan banyak dan lahap. 


Suasana di Ngarai tetap rame meskipun hari ini hari kerja. Banyak Wisatawan Nusantara yang memanfaatkan waktu bersama keluarganya main di daerah yang sangat asri ini. 

Ngarai yang dialiri sungai yang bening sangat memanjakan kaki anak-anak maupun orang dewasa yang bermain di kedangkalan aliran sungai Sianok ini. 

Angin yang bertiup sepoi sepoi membuat mata ingin terpejam saja rasanya. Suasana yang tenang, meskipun agak banyak kendaraan pribadi yang berseliweran, sangat mendukung untuk "healing" di sini. 


Alam yang cantik, menu makanan yang enak dan terjangkau membuat kita mau berlama lama di sini. Dan tak kalah menu andalan yang saya sukai adalah teh Telor Tapai nya. 

Teh telor tapai nya sangat kental. Tapainya terasa halus sekali, manis. "Tagak tali sedotan dek-nyo".  Alhamdulillah, kan selalu diingat menu favorit ini di sini. Mantaaaap bana.

Dan kesukaan anak anak adalah roti bakar, pancake dengan topping es krimnya, nugget dan mie gorengnya serta indomienya. Aneka makanan dan minuman kekinian lainnya pun ada. Agak bersabar menanti bila pengunjungnya rame. Namun waktu tunggu akan terasa sempit bila kita bisa menikmati suasana alam yang asri ini dengan obrolan ringan di sini bersama keluarga atau bermain, menjelajahi daerah wisata yang murah meriah ini. 

Anak-anak suka ke sini. Area bermain dengan alamnya yang terbuka. Ngarai dengan tebingnya yang menjulang di dua sisinya, serta aliran sungai yang bening menjadikan liburan bersama keluarga terasa indahnya. Apalagi kulinernya yang enak dan nggak mahal. Sangat terjangkau oleh ukuran kantong siapapun. 


Dan ini adalah liburan ketiga kalinya bagi Dhifa ke sini. Desember tahun lalu Dhifa bareng kakaknya Dhila. Libur lebaran kemarin Dhifa bareng abangnya Imam. Dan saat ini bersama sepupunya, Rara dan Affan. Alhamdulillah selalu menyenangkan bagi mereka. 


Oh ya di sini, kamar mandi dan WC-nya bersih. Airnya bening dan dingin bagaikan air es. Musholah pun ada, lengkap dengan sajadah dan mukena bagi kaum Hawa. Jadi jangan takut untuk tidak bisa melakukan ibadah bersama keluarga tercinta di sini. 


Dan alhamdulillah, makan dan minum ber-enam kami di sini totalnya Rp. 126.000,-. Parkirnya pun gratis. Alhamdulillah, ini semua semoga bisa dipertahankan. Kadang masalah parkir di Kota Wisata ini sering menjadi masalah sensitif, apalagi kalau main "pakuak". 


Sukses bagi penggiat kuliner dimana pun berada, yang membebaskan areanya untuk parkir yang bersifat "main pakuak", terkhusus bagi pengelola Ngarai Cafe ini. 


Semoga tulisan ini menjadi promosi bagi penggiat kuliner di Ranah Minang. Alamnya elok, kulinernya lamak, harganya bersahabat, pengelolanya ramah dan parkirannya tertata serta bayar sewajarnya. 


Ngarai Cafe, 26/12/2022

16.50 WIB

Selasa, 20 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 7)

Rehat ketiga di RM Umega terasa sempit sekali waktunya. Sampai sekitar jam 18.20 dan berangkat lagi sekitar jam 19.00. Sebagian penumpang Palala 03 yang berjulukan Belibis ini ada yang sempat makan, tak sempat sholat, sholatnya di bus jadinya. Ada yang sempat sholat tak sempat makan, seperti saya dan keluarga, akhirnya makan sate di atas bus. 


Semuanya ini bisa dimaklumi. Penyebabnya adalah kemacetan yang terjadi sebelumnya di Sungai Lilin. Biasanya bus Palala dan bus lainnya masuk siang di RM Umega yang sangat legend ini, ini datangnya sudah menjelang maghrib. Bahkan bus NPM belum ada yang datang di sini. 


Para supir dan kru Palala ini, dugaan saya jauh lebih mementingkan kedatangan para penumpang jangan sampai terlalu larut sampai di tujuan. Begitu juga dengan kru bus yang juga harus berangkat lagi esoknya. Rerata PO bus harus putar kepala sesampainya di tujuan. Maklum musim liburan, penumpang membludak, baik dari ranah maupun yang dari rantau, bus langsung putar kepala. Kru juga butuh jaga stamina dengan rehat yang cukup sesampainya di kota tujuan terakhir. 


Dan kondisi di dalam bus menuju Kota Solok ini, ada tidur lagi sehabis makan, ada juga yang harus mengkoordinasikan kedatangan mereka dengan pihak keluarga by phone, terutama yang harus turun di jalan, bukan yang di terminal. Kalo di terminal InsyaAllah relatif masih aman, karena pihak bus maupun pedagang lainnya masih rame. Mengapa? Karena semuanya armada terlambat masuk, berarti pedagang masih harus sabar menanti di terminal tersebut. Belum lagi para content creator alias youtuber yang ada di Terminal Bareh Solok yang selalu rame meliput. 


Penumpang pertama Belibis yang turun ada di Muaro Kalaban. Seharusnya mereka tujuan akhirnya di "Kota Batiah" Payakumbuh, akhirnya memilih turun di sini. Ada sanak familinya di Kota Sawahlunto. 


Perjalanan malam menuju Solok kadang ada lancarnya, kadang ada tersendatnya. Tersendat karena adanya beberapa truk yang jalan beriringan dengan sangat lambat, bermuatan berat. Alhamdulillah bang Rony, second driver dari Belibis ini, agak lihai kalo jalan malam hari. "Lihai bawa mobilnya", kata anak Medan. 


Jam 22.26 bus masuk TBS. Ada pedagang "paragede" yang pertama kali masuk ke dalam bus. "Menjojokan" pergedel jagung mini-nya seharga 10.000 untuk 8 biji. Paragede yang enak, hangat dan lembut enak buat cemilan malam. 


Para penumpang yang turun di Solok mulai turun. Ada sekitar 30 menit lebih bus Belibis berhenti di sini, sembari menunggu Palala kedua yang datang. Ada administrasi yang diselesaikan oleh "Supir Satu" dengan agen Solok buat kedatangan hari ini dan juga untuk keberangkatan esok paginya. 


Bus Palala ini adalah bus pertama yang datang dari rantau. Meninggalkan bus ANS Kirana dan Johny Walker serta Sembodo Executive Plus masih di belakang. Mereka adalah teman se-iring sejak Muaro Bulian hingga masuk kabupaten Muaro Bungo. Info kedatangan Palala sebagai armada tercepat malam ini valid, karena saya mendengarkan langsung penuturan pedagang sate yang saya nikmati satenya malam itu serta agent dan youtuber yang ada. 


Sate di terminal Solok "lamak", meskipun yang dagang menggunakan semacam "bentor". Ini saya denger dari youtuber yang ada di TBS juga. Alhamdulillah seporsi sate ini dengan tiga tusuk sate ayamnya, hanya 10.000. Plus 2 ribu untuk sebungkus "karupuak lado" nya. Total makan sate dengan keripik singkongnya, saya hanya bayar seharga 14.000 saja. 


Sambil makan sate saya juga ngobrol dengan penumpang lainnya. Uda Son dan Uda Ali dua sahabat baru saya dalam perjalanan, yang dulunya mereka berdua adalah 'Penari Lintas Sumatra' seperti saya, yang akhirnya memilih Bus untuk pulang kampung akhir tahun ini. Beralih karena ingin yang praktis dan ringan dalam hal pembiayaan dan tetap bugar dalam perjalanan. 


Sampai dua bus Palala ini meninggalkan terminal Kota Solok ini, belum ada bus lainnya yang masuk. Belibis menuju kota Payakumbuh dan Sageso menuju kota Padang.


Di Sumani, turun lagi satu keluarga dan setelah itu kita menikmati suasana malam sepanjang Danau Singkarak hingga ke Ombilin. Lumayan indah dan syahdu juga suasana menjelang pergantian hari ini. Sebenarnya suasana jalan sore di sini yang saya harapkan. Akan banyak keindahan alam dan kuliner yang bisa kita nikmati dari atas bus. Sayang, malam pun tetap masih bisa menikmati keindahnya dengan lampu lampu para nelayan dari kejauhan. 


Di Ombilin, da Son dan keluarga nya pun turun. Saya ikut bantu bantu mengeluarkan barang mereka dari bagasi bus. Bantu mereka artinya juga membantu diri saya sendiri, suatu saat kelak. Ini prinsip yang saya coba lakukan. Membantu orang lain, sejatinya kita membantu diri kita sendiri. So simple kan? 


Lanjut menuju Batusangkar, jalan menanjak dan agak sempit mulai terasa. Dan di Simpang Gobah Rambatan, bang Ali pedagang Cipulir dan keluarganya pun turun. Tak berselang lama satu keluarga lagi, udanya ini pedagang di Tanah Abang, turun bersama istri dan dua putri mereka. Sama sama orang Turawan dan saling kenal mereka ini. 


Pergantian hari kami ada di terminal Dobok Piliang Batusangkar. Saya yang sengaja pindah ke depan sejak dari Ombilin, menikmati obrolan bersama kru Palala dan seorang youtuber dari Solok, yang aslinya orang Jawa kelahiran Lampung, Teddy JNP. Saya sempat melihat rumah orang tua yang sekarang dikontrakan di jalan lintas Limo Kaum. Ada satu lagi rumah yang sedang dibangun oleh Nitha, sepupu saya. Dan di Limo Kaum pun naik satu orang lagi youtuber yang akan meliput Palala ini esok hari ketika mulai start dari Kuranji Kota Payakumbuh. 


Tak terasa jam satu dini hari kami sudah berada di Padang Panjang dan sempat melihat Sembodo yang melintas di depan. Sembodo yang tak masuk ke terminal Dobok tentunya. 


Beriringan berjalan, bahkan sempat meninggalkan Sembodo ini ketika ada penumpang yang turun di Panyalaian Padang Panjang. Jam 01.30 bus Palala ini masuk di Jambu Aia, tempat agennya. Penumpang yang di Bukittinggi pun turun di sini. Di sini supir berkoordinasi dengan agent untuk pergantian beberapa spare part bus dan validasi penumpang untuk esok harinya. 


Setelah selesai urusan, perjalanan Belibis ini lanjut ke kota terakhir, Payakumbuh. Saya turun di Simpang Tanjung Alam, sesuai yang dijanjikan oleh bang Rony Baron. Jam 01.40 saya turun untuk merampungkan perjalanan bersama Palala 03 yang sangat menyenangkan. Menyenangkan karena saya dapat saudara baru, sesama penumpang dan kru Palala, serta dinda Teddy sebagai youtuber di ranah minang yang bukan orang minang. Selama di perjalanan kami selalu bercanda, penuh kebahagiaan. Keren kan? 


Amni Deka yang sudah menunggu di Simpang Tanjung Alam, sangat ringan tangan membantu mengangkat barang barang kami. Dan sebelum lanjut ke rumah, kami masih sempat memesan dua teh telor dan satu sekoteng buat dibawa pulang. Satu lagi teh telor buat pak Yos, "assisten driver" yang juga turun di sini. Pak Yos ini sebenarnya adalah supir Gumarang Jaya, yang sempat kehilangan SIM nya. So sementara waktu dia menjadi stokar sementara buat Palala hingga selesai nanti SIM nya yang lagi proses di kota Bukittinggi. Dan bang Fadli Kumarang dan bang Ronny ApRinando Maniacreceh ini adalah juga mantan drivernya Gumarang Jaya juga. Mantap juga kan hubungan baik mereka. Bersaing, namun tetap bersahabat. Saling membantu pun tetap. Keren kan? 


Dan sebagai penutup tulisan ini, saya pribadi menyampaikan pesan kepada para owner PO Bus apapun itu. Jadikanlah para driver ini sebagai keluarga besar PO anda, sebagai bagian terbesar dari asset perusahan anda. Di tangan mereka inilah maju mundur nya perusahaan yang anda miliki, yang anda kelola dan yang anda jalani. Andil mereka sangat menentukan akan kepuasan para penumpang. Berikan service terbaik kepada para driver anda semuanya. Kepuasan yang mereka dapat dari perusahaan akan memberikan kepuasan juga kepada pelanggan bus tentunya. 


Saat ini loyalitas penumpang sangat tergantung kepada service yang diberikan, baik dari segi armada maupun keramahan para driver dan agent yang Anda miliki. Dan itu saya dapatkan selama perjalanan bersama Palala E03 berjulukan Belibis ini. Pertahankan, kalau perlu bisa ditingkatkan. 


Terimakasih kepada Bang Fadli dan Bang Ronny Baron sebagai Driver 1 dan 2 Belibis, serta bang Indra Tan Sati sebagai agent di Kreo. Keramahan anda semuanya sangat berkesan bagi saya pribadi. 


Kapau, 20 Desember 2022

21.13 WIB

Senin, 19 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 6)

Setelah rehat kedua di RM Simpang Raya Bayung Lencir, dua Palala ini segera menyusul ANS yang berjulukan Kirana. Kendali kemudi kali beralih ke bang Fadli Kumarang sedangkan bang Rony mengambil posisi di belakang, tidur di "kandang macan" nya. 

Saya masih bisa menikmati perjalanan hingga masuk ke Simpang tempino. Menikmati perjalanan dari atas bus ini sangat mengesankan ketimbang membawa mobil sendiri. Banyak hal yang bisa dilihat, termasuk bagaimana hamparan kebun sawit dan kebun karet di sepanjang lintasan. Begitu juga posisi duduk yang di tengah bus, bantingan ketika bus manuver sangat terasa juga. Apalagi sepanjang jalan yang ditempuh hingga Muaro Bungo masuk di lintas tengah Sumatra, kita akan dijejali tikungan yang tajam. Bus meliuk liuk di pinggang bukit. Turunan ataupun tanjakan yang disertai dengan belokan yang tajam agak mengocok perut yang baru saja terisi. Saya sedikit merasa mual. Tidur adalah pilihan tepat. 


Di beberapa spot saya benar benar tertidur. Ketika bangun ternyata di depan sudah ada ANS Kirana dan Johny Walker serta Sembodo Executive Plus dan Palala Sageso di depan. Entah kapan menyalip nya itu sang fenomenal Johny Walker dengan driver kandangnya da Ir. JW ini memang terkenal handal, sering menjadi ANS pertama yang masuk terminal Bareh Solok. 


Namun secara perlahan satu per satu kembali disusul dan dilewati oleh Sang Belibis, Palapa 03 ini. Kelincahan bang Fadli ini boleh juga. 


Dalam perjalanan saya nikmati dengan keripik tempe Bundo Nova. Keripik tempe enak, menurut kami dan juga customer #dapurbundonova. Berbagi dengan teman awal  seperjalanan adalah suatu kebahagiaan. Begitu juga dapat barteran dengan kuaci sebagai "parintang-rintang" hari, sambil menemani obrolan dengan da Son, teman sebangku saya. Begitu juga ketika melihat sungai Batanghari ada aktivitas orang menambang emas, menurut penuturan da Son. Ada beberapa titik tambang ini dengan mesin yang diapit oleh dua perahu bersisian. 


Sempat tertidur lagi dan terbangun ketika mau masuk pertigaan Muara Bungo menuju lintas tengah Sumatra dan mendapat kabar bahwa dua ANS Kirana dan Johny Walker sudah mendahului kami. Dan dari arah ranah minang sudah nampak satu per satu bus ANS, NPM, Palala, MPM, EPA Star dan lainnya. Saling klakson ketika berpapasan. 


Melihat waktu yang agak mepet, saya pun kembali ber tayamum untuk melaksanakan sholat zuhur dan ashar. Kondisi sangat tidak lagi memungkinkan untuk bisa melaksanakan nya di RM Gunung Medan. 


Tepat jam 18.20 bus kami sampai di rumah makan, tempat istirahat ketiga kalinya. Sudah ada EPA Star dan Yoanda Prima yang akan menuju kota Palembang sepertinya. Belibis masuk duluan, disusul oleh Sageso, Sembodo dan terakhir satu bus Transport Express yang masuk. NPM belum ada yang datang dari rantau sama sekali. Betul betul mengalami keterlambatan semua bus yang dari Rantau hari ini masuk ke ranah minang. 


Saya segera ke kamar mandi, karena ada yang ditahan sejak tadi. Urusan ke belakang selalu jadi persoalan bila naik bus umum jarak jauh ini. Setelah selesai saya sholat sambil menunggu Dhifa dan Bundanya juga. 


Melihat waktu yang sempit, tak mungkin makan malam di RM Umega ini, saya menyeberangi jalan. Ada sate yang jadi pilihan saya buat dimakan di atas bus. Saya pesan 3 bungkus sate ayam dan kerupuk singkong nya dengan total satu lembar uang berwarna biru, totalnya. Alhamdulillah, urusan kampung tengah terselesaikan sementara waktu. InsyaAllah aman hingga nanti sampai di Kapau. 


Dan ternyata bukan saya saja yang dikejar kejar waktu. Hampir semua penumpang merasakan hal yang sama. Waktu rehat yang terbatas seperti ini bisa dimaklumi karena para supir Palala baik Belibis dan Sageso pengen cepat sampai di terminal Bareh Solok, agar para penumpang tidak terlalu terlambat sampai di tujuan. 


Efek kemacetan akibat adanya truk tabrakan menjelang Sungai Lilin Sumsel kali ini berakibat fatal juga bagi bus yang menuju ranah minang. Biasanya Palala ini selalu masuk siang di RM Umega, sekitar jam 11 - 12, menurut info tukang sate yang saya beli tadi. 


Bahkan ketika kami meninggalkan rumah makan, belum satu pun NPM yang sampai. Ada keterlambatan sekitar 5-6 dari waktu normal sepertinya. Namun yang penting semua penumpang selamat sampai di tujuan. Bisa berlibur di ranah minang, di kampung halaman. 


Saat ini menuju Solok, kendali kemudi Belibis ditangan  bang Rony. InsyaAllah nanti bang Rony akan menurunkan kami di Simpang Tanjuang Alam. 


19 Desember 2022

20.30 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-7.html

Malala Jo Palala (part 5)

Salah satu kenyamanan dengan PO Palala dan juga beberapa armada bus kini adalah ketersediaan tempat buat men charge HP. Ini yang dibutuhkan oleh para penumpang sehingga komunikasi tetap terjaga, seperti yang saya lakukan saat ini. Alhamdulillah sudah di episode ke lima trip report saya saat ini, tanpa takut battery akan low, ataupun lupa bawa power bank sekalipun. 


Selain itu ada fasilitas AVOD di tiap seat nya. Penumpang tinggal bawa earphone atau headset saja, sudah bisa menikmati audio video. Selain Palala, yang ada AVOD nya adalah PO Sembodo. Yang lainnya baru sebatas TV LCDnya. 


Tepat jam 9.30 Belibis masuk ke halaman RM Simpang Raya yang ternyata sudah didahului oleh ANS Kirana sebagai satu satunya wakil ANS yang datang duluan. Setelah Belibis diikuti oleh Sageso. 


Sebagian penumpang langsung menuju kamar mandi, termasuk saya dan keluarga. Alhamdullilah sambil menunggu dua bidadari yang masih di kamar mandi, saya sempatkan juga sholat Dhuha dua rakaat. 


Tak lama berselang kami masuk ke rumah makan, memesan satu porsi soto pake nasi, satu porsi tanpa nasi, satu teh manis hangat dan satu gelas teh telor. Sisanya kami menghabiskan nasi bungkus dengan daun pisang dan dendeng lambok made in asli #dapurbundonova. Plus sebungkus karupuak jariang nan kamek yang ada di meja makan. Total makan yang kami bayar 78.000 semuanya. Alhamdulillah, makan lamak, makan kanyang harga minimalis. Karena bekal dari rumah masih ada. Hanya tinggal sepotong dendeng saja lagi. 


Dalam asyiknya makan, ada telpon dari Riko yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama. Alhamdulillah, atas izin Allah kami dipertemukan di sini. Riko adalah adik saya juga dari kampung halaman di Limo Kaum. Profesinya sebagai driver truck yang bolak balik Batusangkar Jakarta, sering rehat dan makan di sini. Entah mengapa sebelum sampai di Simpang Raya saya sempat telpon dia, tapi tak terjawab. Dia call back saat saya lagi makan dan dia baru mau jalan meninggalkan rumah makan ini. Akhirnya dia tunda keberangkatan nya, dia ditemui dan temani saya makan, sambil ngobrol ringan. Sempat saya tanya, "Mau nggak pindah menjadikan bus driver?". Dia jawab dengan senyuman. Tentu ada plus minusnya. Semoga tanya saya tadi bisa menjadi bahan fikiran buat Riko ini. Hidup penuh dengan tantangan dan pilihan. Ya kan? 


Tak lama kemudian kami berpisah. Kirana sudah siap jalan, Belibis dan Sageso pun demikian. Namun sebelum jalan, sambil menunggu penumpang naik ke dalam, crew Palala kompak membantu sedikit problem di wiper nya Sageso, seperti gambar yang saya ambil. Kekompakan sesama kru adalah satu kekuatan tersendiri. Bagi penumpang ini ada hikmahnya. Mereka yakin bahwa dalam perjalanan kenyamanan dan keselamatan adalah hal yang utama, apalagi sesama PO. 


Penumpang sudah naik semuanya dan sang Bundo masih sempat membeli buah duku atas permintaan sang putri tercinta. Rp 25.000/kg harga yang dijual pedagang di sini. Laris manis. Banyak penumpang yang beli. Bundo mungkin dapat sisanya saja lagi. Namun tak mengapa, yang penting sang buah hati senang. 


Dan ketika saya naik, sapaan saya ke bang Fadli Kumarang yang dibalik kemudi berbuah senyuman manis khas keramahan nya. Begitu juga dengan bang Rony yang mau istirahat di "kandang macan" nya. Dua orang Driver Belibis ini adalah ex Gumarang Jaya. Masih muda, usia sekitar 36 dan 31 tahun, tapi lincah nya di belakang kemudian, bukan main. 

Saat ini menuju Muara Bulian hingga rehat berikutnya di RM Gunung Medan. Mengiringi ANS Kirana dan Sembodo Executive Plusnya. Sembodo ini adalah teman jalan sejak masuk kapal di Merak kemarin sore. Bahkan kami parkir bersisian. 


Senin, 19/12/2022 

11.22 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-6.html

Malala Jo Palala (Part 4)

RM Bukit Indarung adalah rehat pertamanya PO Palala ini. Ada dua bus Palala yang beriringan masuk ke rumah makan ini menjelang jam 7 malam. Belibis datang lebih awal disusul oleh Sageso. Rehat di sini selama hampir satu jam. Penumpang sholat dan makan. 


Sageso keluar lebih dahulu disusul oleh Belibis. Kendali Belibis diambil alih oleh Bang Rony. Bang Fadli Kumarang istirahat. Jalan malam di tol Sumatra yang relatif kurang penerangan, tak membuat Palala 03 ini kurang greget larinya. Jalan berdua dengan Sageso terasa asyik ditemani cahaya rembulan yang seperempat. Satu per satu kendaraan lain didahului. 


Terlelap dalam keheningan bus dengan iringan musik yang seadanya hingga terbangun ketika sudah sampai di kota Palembang. Bus "nyolar" selepas sekitar pergantian hari. Duo Palala mengantri di SPBU sekitar terminal Alang Alang Palembang. Alhamdulillah tak begitu panjang antriannya. Belibis di depan, baru Sageso. 


Dalam antrian ini saya mampir sejenak ke Alfamart yang ada di SPBU ini membeli air mineral yang sudah menipis dan beberapa batang silver queen buat Dhifa. Penghilang kejenuhannya nanti. 


Tak lama sesudah "nyolar", bus jalan kembali menuju lintas timur Sumatra. Dinginnya AC makin terasa membuat tubuh ini spontan menarik selimut dan bantal yang disediakan oleh PO Palala ini. Selimutnya cukup tebal. Hampir semua penumpang terlelap. 


Tersentak bangun kembali ketika macet parah menjelang subuh menjelang daerah Sungai Lilin. Ada truk patah as katanya. Macet dua sisi. Jadi teringat "Horor di Lintas Sumatra" saat mudik ramadhan kemarin. Ketika Palembang-Betung itu ditempuh selama 12 jam. Bisa dilihat lagi catatan saya berikut: http://dandidinda.blogspot.com/2022/04/horor-di-jalintim-trip-report-2.html?m=1

Sholat subuh kami laksanakan di bus dengan tayamum saja. Sang supir sempat minta maaf kepada penumpang karena tak bertemu dengan mushola atau mesjid selama macet parah ini. Bang Rony meminta penumpang untuk sholat di dalam bus saja. Alhamdulillah saya dan Dhifa sudah melaksanakannya. 


Ada kebanggaan dengan si bontot ini. Dia tak perlu lagi ditunjuki bagaimana ber-tayamum. Satu semester di pondok sudah bisa diandalkan bagaimana menjalankan ibadah di perjalanan. Sudah paham semuanya, tanpa perlu bimbingan lagi dari ortunya. Itu kami amati sejak dia dijemput di Mahad Riyadhul Qur'an Kudus, Sabtu lalu. 


Sepagi ini masih dalam kemacaten. Sepertinya bus Palala kami adalah yang di depan. Banyak bus lainnya yang berada di belakang, seperti NPM, ANS, Sembodo dll. Belibis ini masih bisa ngeblong di iringi oleh Sageso di belakangnya. 


Dan baru beberapa menit ini baru papasan dengan bus-bus dari ranah minang yang menuju Jakarta. Ini menunjukkan bahwa macet terjadi di dua sisi. Baru mulai beranjak perlahan, tak lagi tertahan seperti sebelumnya. Prediksi saya ada keterlambatan sekitar 3-4 jam dari waktu normalnya. 


Semoga sebentar lagi kami bisa rehat di RM Simpang Raya. Makan pagi judulnya. Karena sarapan telah kami lakukan di dalam bus. Dengan segelas kopi panas dan sepotong roti ba'da subuh tadi. 


Dan kemudi Belibis sudah kembali diambil alih oleh bang Fadli. Gantian bang Rony nya yang istirahat di "kandang macan".


Menikmati dendang Panbers sambil menuliskan trip report ini

07.12


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-5.html

Minggu, 18 Desember 2022

Malala Jo Palala (Part 3)

Selesai sholat dan makan dengan bekal yang dibawa dari rumah kami lanjut obrolan ringan bertiga. Obrolan ringan sehabis makan antara suami, istri dan anak adalah sesuatu yang asyik dan mengasyikan. Apalagi dalam suasana perjalanan seperti ini, saya yakin akan menjadi rekaman yang hebat dan kuat bagi si bungsu kami ini. Ada banyak memori yang bersileweran dalam momen makan bersama di Kapal seperti ini. Sudah jadi tradisi setiap pulang kampung. Namun nuansanya kali ini agak beda. 


Dulu ketika mobil baru saja masuk kapal, kami langsung cari tempat yang nyaman buat rehat dan tiduran, sholat dan makan. Saya yang makan lebih dulu, karena sebagai supir saya harus tidur selama di kapal untuk beberapa saat. Satu jam, dua jam tidur bagi saya sangat cukup untuk menempuh perjalanan malam selepas "menginjak" pulau Sumatra. Namun kali ini sangat sangat santai sekali. Saya bisa nimbrung ngobrol dengan Dhifa dan Bundanya. 


Puas ngobrol, kami keliling mencari suasana lain. Maklum di ruang lesehan tempat kami makan ini, pendingin ruangannya sangat kurang. Agak gerah. Namun untuk mencari ke tempat lain, agak susah juga. Karena hampir semua ruangan penuh. Bahkan lantai dan lorong pun terisi, saking overload-nya penumpang di kapal Port Link III ini. 


Kami bertiga mengitari kapal, luar dan dalam, sambil memanfaatkan momen photo berdua dengan sang Bundo. Si bontot masih belum mau ber-"kodak" bersama kami. 


Dan ketika sampai pada satu rungan ber AC dan bersofa banyak, memori kami berputar pada mudik lebaran bulan puasa yang lalu. Ruangan itu tempat kami rehat dan saya tertidur pulas di sofanya. Waktu itu kami pulang kampung berempat. Ada abang Imam. Kakak baru memulai kuliahnya di Islamabad Pakistan. Jadi nggak ikut bersama kami. 


Tak terasa sebagian penumpang sudah turun ke dek bawah, kami pun ikut menyusul. Di luar sudah mulai tampak pulau Sumatera. Bakauheni makin dekat. 


Dua bus Palala ternyata parkir berdekatan. Seri Al dan Seri B. Seri A menuju Payakumbuh dan seri B menuju Kota Padang. Dan yang saya ingat pasti bahwa bus yang kami tumpangi tadi berada bersisian dengan Executive Plus-nya Sembodo. 


Saya langsung masuk, diikuti oleh Dhifa dan Bundanya. Saya sempat bertanya kepada Bang Fadli Kumarang pilot-nya Belibis ini, dimana rehat dan berapa lama jaraknya ke sana. Alhamdulillah Palala punya supir yang ramah dan sigap menjawab tanya penumpangnya. Sekalian saya dapatkan nama FB beliau, yang akhirnya di-tag dalam trip report saya kali ini. Bang Fadli akan mengawaki Palala E03 ini hingga ke RM Bukit Indarung Bandar Jaya. 


Keluar dari kapal beriringan dengan bus NPM dan Bintang Permata Bunda. Menapaki tol Sumatra sepertinya sang Belibis tidak langsung tancap gas. Agak tersendat di tanjakan yang lumayan tinggi ini. Namun pasti, perlahan lahan kecepatan mulai meningkat selepas KM 33. Satu per satu kendaraan lain disalip oleng bang Fadli. 


Batas tipis antara siang dan malam mulai terlihat di ufuk barat. Masuknya waktu maghrib ternyata tampak jelas bagi saya di atas Palala ini. Gerimis sesekali menyirami tol yang kami tempuh hingga keluar di gerbang Toll Gunung Sugih. 


Jam 18.45 sang Belibis sampai di RM Bukit Indarung. Para penumpang sebagian besar menuju kamar mandi, berwudhuk dan sholat jamak qashar maghrib dan isya. RM ini sedang berbenah. Ada renovasi bagian depan rumah makan dan juga perluasan musholanya. 


Selesai kami sholat ternyata, Palala Seri B sudah sampai. Rumah makan rame. Kami tidak makan di sini, karena perut masih terasa kenyang. Dendeng lambok #dapurbundonova masih terasa nikmat. Warna merah sambelnya tadi menggoda untuk menambah porsi nasi dan kentang baladonya "lamak bana". Namun Dhifa minta dibelikan ea krim yang tadi sempat dia intip. Dan saya membeli sebungkus roti coklat kacang, buat ganjalan jika tengah malam nanti berasa lapar. 


Ketika naik ke bus, ternyata oh ternyata aroma pop mie menggoda "galang-galang". Ada beberapa anak anak menikmatinya. Maklum di bus Palala ini ada dispenser buat air panas. Jadi ortu tinggal siapkan pop mie nya saja. Begitu juga bagi yang mau ngopi atau bikin susu buat anaknya juga gampang. Semuanya siap seduh.


Tulisan ini saya tulis ketika sebagian penumpang sudah mulai lelap dalam impiannya masing-masing. Hanya musik dengan suasana sayup sayup sampai, menemani saya. Tol Sumatra yang gelap, dua bus Palala menikmati perjalanannya. Nyaris tak ada penerangan jalan. 


Bang Fadli, driver satu Belibis mungkin sudah tidur rehat sehabis makan di RM Bukit Indarung tadi. Kemudi diambil alih oleh bang Rony yang ditemani oleh bang Eri di depan. Ada satu lagi penumpang di bangku CC. 


Belibis ini akan tetap berjalan, merayap di sepanjang lintas Sumatra hingga nanti rehat subuh di RM Simpang Raya Bayung Lencir Sumsel. Semoga tak ada halangan, Allah lindungi kami dalam perjalanan malam ini. 


Tol Sumatra menuju Palembang

20.23 WIB


https://dandidinda.blogspot.com/2022/12/malala-jo-palala-part-4.html

TAM (4) Menuju Pijoan Jambi

Ada sekitar 45 lebih kurang rehat kami di RM Umega Dharmasraya ini. Harusnya di sini bisa lah mandi. Tapi saya, kali ini tidak. Dulu ketika ...